Anda di halaman 1dari 33

REFARAT

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DENGAN KOLESTEATOMA

Penyaji :
Arifin M. Siregar 140100196
Maruli L. Sebayang 140100215

Pembimbing :
dr. M. Pahala Hanafi Harahap, M.Ked (ORL–HNS), Sp. T.H.T.K.L (K)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA LEHER (THT-KL)
RSUP HAJI ADAM MALIK / RS USU
MEDAN
2019
i

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dibacakan tanggal :

Nilai :

PEMBIMBING

dr. M. Pahala Hanafi Harahap, M.Ked (ORL–HNS), Sp. T.H.T.K.L (K)


ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yng Maha Esa, yang telah memberikan
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan refarat dengan judul
“Otitis Media Supuratif Kronik dengan Kolesteatoma”.
Penulisan refarat ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan
Kepanitraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher, Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. M.
Pahala Hanafi Harahap, M.Ked (ORL–HNS), Sp. T.H.T.K.L (K) selaku dosen
pembimbing yang telah meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan
dalam penyusunan laporan kasus ini sehingga dapat selesai tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa penulisan refarat ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam penulisan
laporan kasus selanjutnya. Semoga dengan penulisan refarat ini dapat bermanfaat
bagi penulis dan juga pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Juni 2019

Penulis
iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI .....................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................... 2
1.3 Manfaat ............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 3
2.1 Anatomi Telinga Tengah .................................................................. 3
2.2 Otitis Media Supuratif Kronik .......................................................... 5
2.2.1 Defenisi ................................................................................... 5
2.2.2 Etiologi .................................................................................... 6
2.2.3 Klasifikasi................................................................................ 8
2.2.4 Letak Perforasi Membran Timpani pada OMSK .................... 9
2.2.5 Patogenesis ............................................................................ 10
2.3 Otitis Media Supuratif Kronik dengan Kolesteatoma ..................... 11
2.3.1 Kolesteatoma ......................................................................... 11
2.3.2 Gejala dan Tanda ................................................................... 13
2.3.3 Diagnosis ............................................................................... 16
2.3.4 Tatalaksana ............................................................................ 18
2.3.5 Komplikasi ............................................................................ 20
2.3.6 Prognosis ............................................................................... 26
BAB III KESIMPULAN ................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 28
iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Telinga .............................................................................. 3


Gambar 2.2 Membran Timpani dan Tulan Pendengaran .................................... 4
Gambar 2.3 Membran Timpani ........................................................................... 5
Gambar 2.4 Perforasi Sentral............................................................................... 9
Gambar 2.5 Perforasi Marginal ........................................................................... 9
Gambar 2.6 Perforasi Atik ................................................................................... 10
Gambar 2.7 Kolesteatoma ................................................................................... 11
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari
2 bulan dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga
tengah dapat terus menerus atau hilang timbul.1 Sekret bisa encer atau kental,
bening atau berupa nanah. Otitis media supuratif kronik (OMSK) didalam
masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah congek, teleran atau telinga berair.2
Kebanyakan penderita OMSK menganggap penyakit ini merupakan penyakit
yang biasa yang nantinya akan sembuh sendiri. Penyakit ini pada umumnya tidak
memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah terjadi komplikasi. Biasanya
komplikasi yang didapatkan seperti labirinitis, meningitis, abses otak yang dapat
menyebabkan kematian.3
Bakteri aerob penyebab OMSK antara lain: Pseudomonas aeruginosa,
Proteus mirabilis, Stafilokokus aureus, Stafilokokus epidermidis, Streptokokus b-
hemolitikus, Difteroid, Streptokokus viridan, Proteus dan Enterobakter sp. Bakteri
anaerob yang sering dijumpai antara lain: Bakteroides fragilis, Peptokokus,
Peptostreptokokus, Klosstridium sporogenes, Klostridium perfringens dan
Klostridium novyi.4
OMSK sendiri banyak terjadi dinegara berkembang. Di negara berkembang
dan negara maju prevalensi OMSK berkisar sekitar 1 % sampai 46 %. Berdasarkan
data WHO 2007, insidensi kejadian dari OMSK terjadi pada 65 -330 juta pasien di
dunia dan berakibat pada gangguan pendengaran pada 39-200 juta orang di dunia.5
Di Indonesia, berdasarkan data RISKESDAS 2013, terdapat prevalensi
berdasarkan gangguan pendengaran dan terjadinya ketulian. Namun, terdapat data
lain yang mengenai epidemiologi dari OMSK. Menurut survey yang dilakukan
pada 7 provinsi pada tahun 1996 ditemukan insidensi OMSK sebesar 3% dari
penduduk Indonesia (sekitar 6,6 juta penduduk) pada masa itu.1,2
2

1.2. Tujuan
Tujuan penulisan refarat ini adalah untuk memahami tinjauan ilmu teoritis
tentang otitis media supuratif kronik.

1.3. Manfaat
Hasil penulisan refarat ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah
wawasan, baik bagi penulis maupun pembaca mengenai otitis media supuratif
kronik, serta dapat menjadi sumber referensi untuk makalah selanjutmya.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Telinga Tengah6


Ruang telinga tengah disebut juga kavum timpani atau tympanic cavity.
Dilapisi oleh membran mukosa, topografinya di bagian medial dibatasi oleh
promontorium, lateral oleh membran timpani, anterior oleh muara tuba Eustachius,
posterior oleh aditus ad antrum dari mastoid, superior oleh tegmen timpani fossa
krani, inferior oleh bulbus vena jugularis. Batas superior dan inferior membran
timpani membagi kavum timpani menjadi epitimpanium atau atik, mesotimpanum
dan hipotimpanum.

Gambar 2.1 Anatomi Telinga7

Telinga tengah terdapat dua buah otot yaitu m. tensor timpani dan m.
stapedius. M tensor timpani berorigo di dinding semikanal tensor timpani dan
berinsersio di bagian atas tulang maleus, inervasi oleh cabang saraf trigeminus.
Otot ini menyebabkan membran timpani tertarik ke arah dalam sehingga menjadi
lebih tegang.dan meningkatkan frekuensi resonansi sistem penghantar suara dan
4

melemahkan suara dengan frekuensi rendah. M. stapedius berorigo di dalam


eminensia pyramid dan berinsersio di ujung posterior kolumna stapes, hal ini
menyebabkan stapes kaku, memperlemah transmini suara dan meningkatkan
resonansi tulang-tulang pendengaran. Kedua otot ini berfungsi mempertahankan,
memperkuat rantai osikula dan meredam bunyi yang terlalu keras sehingga dapat
mencegah kerusakan organ koklea.

Gambar 2.2 Membran Timpani dan Tulang Pendengaran7

Telinga tengah berhubungan dengan nasopharing melalui tuba Eustahcius.


Telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran, susunan dari luar ke dalam yaitu
maleus, incus dan stapes yang saling berikatan dan berhubungan membentuk
artikulasi.. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus
5

melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak tingkap lonjong
atau foramen ovale yang berhubungan dengan koklea.

Gambar 2.3 Membran Timpani7

Suplai darah untuk kavum timpani oleh arteri timpani anterior, arteri
stylomastoid, arteri petrosal superficial, arteri timpani inferior. Aliran darah vena
bersama dengan aliran arteri dan berjalan ke dalam sinus petrosal superior dan
pleksus pterygoideus

2.2. Otitis Media Supuratif Kronik


2.2.1. Defenisi
Otitis Media Supuratif Kronik merupakan drainase purulent kronik yang akan
berdampak pada telinga melalui perforasi dari membran timpani dengan
komplikasi kolesteatoma ataupun tanpa komplikasi.5,8 Otitis Media Supuratif
Kronik (OMSK) adalah stadium dari penyakit infeksi telinga tengah yang terjadi
peradangan kronis dari telinga tengah, mastoid, dan membran timpani tidak intak.
Serta, dapat ditemukan adanya sekret atau otorea, purulent yang hilang timbul.
OMSK dikatakan terjadi jika lebih dari 2 bulan. OMSK sendiri terdapat adanya
infeksi yang persisten di telinga tengah dengan adanya mukus dan perforasi dari
6

membran timpani. Hal tersebut yang menyebabkan perbedaan antara otitis media
kronik dan otitis media supuratif kronik.9
OMSK bisa disebut dengan Otitis Media Mukosa Aktif, Oto-Mastoiditis
Kronik dan Timpanomastoiditis Kronik. Oleh karena itu, Otitis Media Supuratif
Kronis dapat didefinisikan sebagai radang telinga tengah dengan perforasi
membrane timpani permanen disertai keluarnya sekret encer / kental /bening /nanah
yang intermitten atau persisten selama lebih dari 12 minggu. Radang yang
ditemukan bisa di daerah mukosa sel-sel mastoid. Radang yang terjadi seringkali
irreversible.8

2.2.2. Etiologi10
Kejadian OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor
predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan down’s syndrom.
Faktor host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah
defisiensi immun sistemik. Penyebab OMSK antara lain:
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi,
dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi.
Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara
umum, diet, tempat tinggal yang padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden
OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor
genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media,
tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.
7

3. Otitis media sebelumnya


Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis
media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa
yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi
kronis.
4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak
bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukkan bahwa metode
kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah
Gram- negatif, flora tipe-usus, dan beberapa organisme lainnya.
5. Infeksi saluran nafas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas
atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada
dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar
terhadap otitis media kronis.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian
penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-
toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustachius
Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema
tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum
diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk
mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba
tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
8

2.2.3. Klasifikasi8
Otitis Media Supuratif Kronik berdasarkan aktivitas sekret diantaranya adalah:
I. OMSK aktif, terjadi sekret yang terus menerus keluar dari lubang perforasi
II. OMSK tenang, yang terjadi pada OMSK tenang berupa kavum timpani
kering.
Otitis Media Supuratif Kronik berdasarkan perforasi yaitu:
I. OMSK tipe aman (tipe mukosa / benigna /tanpa kolesteatoma)
1. Terjadinya perforasi sentral, perforasi pada pars tensa dikelilingi sisa
membrane timpani ditepi perforasi,
2. Tanpa kolesteatoma.
3. Bisa disebut penyakit tubotimpani yang terjadi akibat perforasi
membrane timpani membuat mukosa telinga tengah dan tuba eustachius
terpapar namun tidak menyebabkan inflamasi pada mastoid.
4. Pada tipe aman , sekret mucoid dan bersifat intermitten
II. OMSK tipe bahaya (tipe tulang / dengan kolesteatoma)
1. Tahap awal
- Perforasi marginal terjadi pada sebagian tepi perforasi yang
langsung berhubungan dengan annulus ataupun sulkus timpanikum.
- Perforasi atik, terjadinya perforasi pada pars flaksida
2. Tahap lanjut
- Dapat disebut dengan penyakit atik-koantral karena dapat mengenai
tulang dinding liang telinga luar, antrum, atik dan sel mastoid.
- Dapat terjadi abses, fistula retroaurikuler, polip atau jaringan
granulasi di liang telinga.
- Kolesteatoma terjadi karena adanya kantong retraksi atau kista
epithelial gepeng yang berisi epitel deskuamasi ditelinga tengah dan
terus membesar apabila terjadi sumbatan pada liang telinga tengah.
Kolesteatoma terbagi menjadi kolesteatoma kongenital dan
kolesteatoma akuisita.
Pada tipe bahaya, sekret purulent, persisten, berbau khas, terkadang bercak darah.
9

2.2.4. Letak Perforasi Membran Timpani pada OMSK10


Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe/jenis
OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal,
dan atik.
1. Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-
superior, kadang-kadang sub total. Dan di seluruh tepi perforasi masih ada
sisa membran timpani.

Gambar 2.4 Perforasi Sentral

2. Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus
fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi
total. Perforasi pada pinggir postero- superior berhubungan dengan
kolesteatom.

Gambar 2.5 Perforasi Marginal


10

3. Perforasi atik
Perforasi yang terletak di pars flaksida.

Gambar 2.6 Perforasi Atik


2.2.5. Patogenesis10
Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini
merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang
sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Banyak
penelitian pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal menemukan
bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius, yaitu suatu saluran yang
menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah
(kavum timpani), merupakan penyebab utama terjadinya radang telinga tengah ini
(otitis media).
Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup
dan akan membuka bila kita menelan. Tuba Eustachius ini berfungsi untuk
menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar (tekanan
udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek, penampang
relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan mengapa suatu
infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke telinga tengah
sehingga lebih sering menimbulkan Otitis Media daripada dewasa
Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari
nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan terjadinya
infeksi dari telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah.
Mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel imun
infiltrat, seperti netrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan
sel mastosit akibat proses infeksi tersebut akan menambah permiabilitas pembuluh
11

darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga tengah. Selain itu, adanya
peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga
tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan terjadinya akumulasi sel-sel
peradangan pada telinga tengah.

2.3. Otitis Media Supuratif Kronik dengan Kolesteatoma


2.3.1. Kolesteatoma
Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel
(keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma
bertambah besar. 10
Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun
1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor, yang ternyata bukan.
Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah :
keratoma (Schucknecht), squamous epiteliosis, kolesteatosis, epidermoid
kolesteatoma, kista epidermoid, epidermosis. 10

Gambar 2.7. Kolesteatoma

Pathogenesis
Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang pathogenesis
kolesteatoma, antara lain adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasia,
12

dan teori implantasi. Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan
definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan, kolesteatoma adalah
epitel kulit yang berada pada tempat yang salah, atau menurut pemahaman penulis;
kolesteatoma dapat terjadi oleh karena adanya epitel kulit yang terperangkap. 10
Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified
squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke
dunia luar. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac
sehingga apabila terdapat serumen padat di telinga pada waktu yang lama maka
dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap
sehingga membentuk kolesteatoma. 10
Klasifikasi
Kolesteatoma dapat dibagi atas 2 jenis:
1. Kolesteatoma kongenital yang terbentuk pada masa embrionik dan
ditemukan pada telinga dengan membrane timpani utuh tanpa tanda tanda
infeksi. Lokasi kolesteatom biasanya di kavum timpani, daerah petrosus
mastoid atau di cerebellopontin angle. Kolesteatoma di cerebellopontin
angle sering ditemukan secara tidak sengaja oleh ahli bedah saraf.
2. Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir, jenis ini terbagi
atas 2 :
a. Kolesteatoma akuisital primer
Kolesteatoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi
membrane timpani. Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses
invaginasi dari membrane timpani pars flaksida karena adanya
tekanan negative di telinga tengah akibat gangguan tuba (teori
invaginasi)
b. Kolesteatoma akuisital sekunder
Kolesteatoma terbentuk setelah adanya perforasi membrane
timpani. Kolesteatoma terbentuk sebagai akibat dari masuknya
epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrane
timpani ke telinga tengah (Teori migrasi) atau terjadi akibat
13

metaplasia mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang


berlangsung lama (Teori metaplasia) 10

Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatoma terjadi akibat


implantasi epitel kulit secara iatrogenic ke dalam telinga tengah sewaktu operasi,
setelah blust injury, pemasangan pipa ventilasi atau setelah miringotomi. 10
Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat pertumbuhan
kuman (infeksi), yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas
Aeruginosa.Sebaliknya infeksi dapat memicu respons imun local yang
mengakibatkan produksi berbagai mediator inflamasi dan berbagai sitokin.Sitokin
yang diidentifikasi terdapat pada matriks kolesteatoma adalah interleukin (IL-1),
interleukin-6, tumor necrosis factor-α (TNF-α), dan transforming growth factor
(TGF). Zat-zat ini dapat menstimulasi sel sel keratinosit matriks kolesteatoma
bersifat hiperploferatif, destruktif, dan mampu berangiogenesis. 10
Massa kolesteatoma ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya
serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap
tulang diperhebat oleh karena pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri.
Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis,
meningitis dan abses otak. 10

2.3.2. Gejala dan tanda


1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan
encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe
jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering
kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran
timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul.
Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas
atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang.4
14

Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga.


Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan
kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping
kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid
dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan
mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan
adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya
kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri
mengarah kemungkinan tuberkulosis.4
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat
hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat
bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom,
tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang
pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang
pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db.4
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran
timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga
tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat
karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga
kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang
pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila
terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang
dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea.4
3. Otalgia ( nyeri telinga)
15

Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada


merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat
karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau
dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri
telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis,
subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.4
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius
lainnya. Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel
labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul
biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada
panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi
besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah
terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga
akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat
komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius, karena
infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga
dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi
meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat
vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada
membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga
telinga tengah.4

Tanda klinik OMSK tipe bahaya


Mengingat OMSK tipe bahaya seringkali menimbulkan komplikasi yang
berbahaya maka perlu ditegakkan diagnosis dini. Walaupun diagnosis pasti baru
dapat ditegakkan di kamar operasi, namun beberapa tanda klinik dapat menjadi
pedoman akan adanya OMSK tipe bahaya, yaitu perforasi pada marginal atau pada
atik. Tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari OMSK tipe bahaya, sedangkan
pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat abses atau fistel retroaurikuler
16

(belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal
dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah, (sering terlihat
di epitimanum), secret berbentuk nanah atau berbau khas (aroma kolesteatoma)
atau terlihat bayangan kolesteatoma pada foto rontgen mastoid. 10

2.3.3. Diagnosis
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT
terutama pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan
sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahui
jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri
nada murni, audiometri tutur (speech audiometry) dan pemeriksaan BERA
(brainsystem evoked response audiometry) bagi pasien/ anak yang tidak kooperatif
dengan pemeriksaan audiometri nada murni. 10
Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan
uji resistensi kuman dari secret telinga. 10
Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian
tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas
sistim penghantaran suara ditelinga tengah.4
Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran
Normal : -10 dB sampai 26 dB
Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB
Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB
Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB
Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB
Tuli total : lebih dari 90 dB.
Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang,
sedang berat, dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan (audiometri atau
test berbisik). Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata
kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO
17

1964 yang ekivalen dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang
pendengaran menurut ISO 1964 dan ANSI 1969.4
Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi
kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan
tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat
diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk
perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bisa
membantu4 :
1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20
dB
2. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif
30-50 dB apabila disertai perforasi.
3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang
masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
4. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun
keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.
Pemeriksaan Radiologi.
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,
lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya
atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberi kesan
kolesteatom4
Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah4 :
1. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari
arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena
memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang
skleritik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk
menghindari dura atau sinus lateral.
18

2. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah.
Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat
diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur.
3. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan
yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan
kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan
melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat
kolesteatom.
4. Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga
dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik.
Bakteriologi
Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa,
Stafilokokus aureus dan Proteus. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli,
Difteroid, Klebsiella, dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp.4
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus
parasanal, adenoid atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah
pneumokokus, streptokokus, atau hemofilius influenza. Tetapi pada OMSK
keadaan ini agak berbeda. Karena adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih
sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.4

2.3.4. Tatalaksana
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.Pengobatan
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses
sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.4
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan
pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain:
1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh.Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan
19

ruang mastoid dari jaringan patologik.Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan
telinga tidak berair lagi.Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. 10
2. Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau kolesteatoma
yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani
dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar
dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah
anatomi tersebut menjadi 1 ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang
semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intracranial.10
Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur
hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur untuk control supaya tidak terjadi
infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat menghambat
pendidikan atau karier pasien.10
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga
operasi serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga rongga operasi kering
permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang telinga luar menjadi
lebar. 10
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atikapi
belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding
posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah untuk membuang semua
jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang
masih ada. 10
4. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga
dengan nama timpanoplasti tipe I. rekonstruksi hanya dilakukan pada membrane
timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah
pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada
OMSK tipe aman yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan
oleh perforasi membrane timpani. 10
5. Timpanoplasti
20

Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang lebih
berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan
medika mentosa.Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit serta
memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini selain rekonstruksi membrane timpani
sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran.Berdasarkan
bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah
timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V. Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu
dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk
membersihkan jaringan patologis.Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan
2 tahap dengan jarak waktu 6-12 bulan. 10
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada
kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang
luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal ( tanpa meruntuhkan
dinding posterior liang telinga). Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi
di kavum timpani, dikerjakan melalui 2 jalan (combined approach) yaitu melalui
liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik
operasi ini pada OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli, oleh karena
sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali. 10

2.3.5. Komplikasi
Beberapa penulis mengemukakan klasifikasi komplikasi otitis media yang
supuratif dibagi menjadi : 10
1. Komplikasi di telinga tengah
Akibat infeksi telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada
membrane timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran
terputus, akan menyebabkan tuli konduktif yang berat. Biasanya derajat tuli
konduktif tidak selalu berhubungan dengan penyakitnya, sebab jaringan
patologis yang terdapat di kavum timpani pun, misalnya kolesteatoma dapat
menghantarkan suara ke telinga dalam.
21

a. Perforasi membrane timpani persisten


b. Kerusakan tulang pendengaran
c. Paresis nervus facialis

Nervus facialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke kanalis


facialis pada otitis media akut.Pada otitis media kronis kerusakan terjadi oleh
erosi tulang oleh kolesteatom atau oleh jaringan granulasi, disusul oleh infeksi
ke dalam kanalis facialis tersebut.10
Pada otitis media akut operasi dekompresi kanalis facialis tidak
diperlukan.Perlu diberikan antibiotika dosis tinggi dan terapi penunjang lainnya,
serta menghilangkan tekanan di dalam kavum timpani dengan drainase.Bila
dalam jangka waktu tertentu ternyata tidak ada perbaikan setelah diukur dengan
elektrodiagnostik (misalnya elektromiografi), barulah dipikirkan untuk
melakukan dekompresi. Pada otitis media supuratif kronis, tindakan dekompresi
harus sefera dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnostik. 10
2. Komplikasi di telinga dalam
Apabila terdapat peninggian tekanan di telinga tengah oleh produk infeksi,
ada kemungkinan produk infeksi itu akan menyebar ke telinga dalam melalui
tingkap bulat (fenestra rotundum). Selama kerusakan hanya sampai bagian
basalnya saja biasanya tidak menimbulkan keluhan pada pasien. Akan tetapi
apabila kerusakan telah menyebar ke koklea akan menjadi masalah. Hal ini
sering dipakai sebagai indikasi untuk melakukan miringotomi segera pada otitis
media akut yang tidak membaik dalam 48 jam dengan pengobatan medika
mentosa saja. 10
Penyebaran oleh proses destruksi seperti oleh kolesteatoma atu infeksi
langsung ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan
pendengaran. Misalnya vertigo, mual dan muntah, serta tuli saraf. 10
a. Fistula labirin dan labirinitis
Otitis media supuratif kronis terutama yang dengan kolesteatom, dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga
22

terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga terjadi
labirinitis dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau meningitis. 10
Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dengan
memberikan tekanan udara positif atau negative ke liang telinga melalui otoskop
Siegel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips
pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Balon karet dipencet
dan udara di dalamnya akan menyebabkan perubahan tekanan udara di liang
telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten, maka akan terjadi kompresi dan
ekspansi labirin membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan nistagmus atau
vertigo. Tes fistula bisa negative, bila fistulanya sudah tertutup oleh jaringan
granulasi atau bila labirin sudah mati atau paresis kanal. 10
Pemeriksaan radiologic tomografi atau CT Scan yang baik kadang kadang
dapat memperlihatkan fistula labirin yang iasanya ditemukan di kanalis
semisirkularis horizontal. 10
Pada fistula labirin atau labirinitis, operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat
pulih kembali.Tindakan bedah yang adekuat, untuk mengontrol penyakit
primer.Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula
sampai bersih dan daerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau
sekeping tulang tulang rawan. 10
b. Labirinitis
Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
(general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis
yang terbatas (sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf
saja. 10
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang
perilymph.Terdapat 2 bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan
supuratif.Labirinitis serosa dapat terbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis
serosa sirkumskripta.Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis
supuratif aku difus dan labirinitis supuratif kronik difus. 10
23

Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi serosa toksin


menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada
labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan
yang irreversible, seperti fibrosis dan osifikasi. 10
Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah.Kadang kadang diperlukan juga
drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis.Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujungan kepada pengobatan otitis media
kronik dengan atau tanpa kolesteatoma. 10
3. Komplikasi ke ekstradural
a. Petrositis
Kira kira sepertiga dari populasi manusia, tulang temporalnya mempunyai
sel sel udara sampai ke apeks os petrosum. Terdapat beberapa cara penyebaran
infeksi dari telinga tengah ke os petrosum. Yang sering ialah penyebaran
langsung ke sel sel udara tersebut. 10
Adanya petrositis sudah harus dicurigai apabila pada pasien otitis media
terdapat keluhan diplopia, karena kelemahan N VI. Seringkali disertai dengan
rasa nyeri di daerah parietal, temporal atau oksipital, oleh karena terkenanya N
V ditambah dengan terdapatnya otore yang persisten, terbentuklah suatu sindrom
yang disebut sindrom Gradenigo. 10
Kecurigaan terhadap petrositis terutama bila terdapat nanah yang keluar
terus menerus dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi. Pengobatan
petrositis ialah operasi serta pemberian antibiotika protocol komplikasi
intracranial.Pada waktu melakukan operasi telinga tengah dilakukan juga
eksplorasi sel sel udara tulang petrosum serta mengeluarkan jaringan pathogen.10
b. Tromboflebitis sinus lateralis
Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan
menyebabkan terjadinya thrombosis sinus lateralis. Komplikasi ini sering
ditemukan pada zaman pra-antibiotik, tetapi kini sudah jarang terjadi.
Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda pertama
dari infeksi pembuluh darah.Pada mulanya suhu tubuh turun naik, tetapi setelah
24

penyakit menjadi berat didapatkan kurva suhu yang naik turun dengan sangat
curam disertai dengan menggigil.Kurva suhu demikian menandakan adanya
sepsis. 10
Rasa nyeri biasanya tidak jelas, kecuali bila sudah terdapat abses
perisinus.Kultur darah biasanya positif, terutama bila darah diambil bila demam.
Pengobatan haruslah dengan jalan bedah, membuang sumber infeksi di sel sel
mastoid, membuang tulang yang berbatasan dengan sinus (sinus plate) yang
nekrotik, atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik.Jika sudah
terbentuk thrombus harus juga dilakukan drainase sinus dan mengeluarkan
thrombus. Sebelum itu dilakukan dulu ligase vena jugulare interna atau
mencegah thrombus terlepas ke paru dan ke dalam tubuh lain. 10
c. Abses ekstradural
Abses ekstradural adalah terkumpulnya nanah di antara durameter dan
tulang.Pada otitis media supuratif kronis keadaan ini berhubungan dengan
jaringan granulasi dan kolesteatoma yang menyebabkan erosi tegmen timpani
atau mastoid. 10
Gejala utamanya berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala.Dengan foto
rontgen mastoid yang baik, terutama posisi Schuller, dapat dilihat kerusakan di
lempeng tegmen yang menandakan tertembusnya tegmen.Pada umumnya abses
ini baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi. 10
d. Abses subdural
Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses
ekstradural biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena.
Gejalanya dapat berupa demam, nyeri kepala, dan penurunan kesardaran sampai
koma pada pasien OMSK.Gejala kelainan susunan saraf pusat bisa berupa
kejang, hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda kernig positif. 10
Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan meningitis.
Pada abses subdural pada pemeriksaan CSS kadar protein biasanya normal dan
tidak ditemukan normal. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar pada waktu
operasi mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus dikeluarkan secara
bedah saraf (neuro-surgical), sebelum dilakukan operasi mastoidektomi. 10
25

4. Komplikasi ke susunan saraf pusat


a. Meningitis
Komplikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering ialah
meningitis.Keadaan ini dapat terjadi oleh OMA, maupun kronis, serta dapat
terlokalisasi, atau umum (general).Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip,
pada pemeriksaan CSS terdapat bakteri pada bentuk yang umum (general),
sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri. 10
Gambaran klinik meningitis biasanya berupa kaku kuduk, kenaikan suhu
tubuh, mual, muntah, yang kadang kadang muntahnya muncrat (proyektif), serta
nyeri kepala hebat.Pada kasus yang berat biasanya kesadaran menurun (delirium
sampai koma).Pada pemeriksaan klinik terdapat kaku kuduk waktu difleksikan
dan terdapat tanda kernig positif. Biasanya kadar gula menurun dan kadar
protein meninggi di CSS. 10
Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan mengobati meningitisnya dulu
dengan antibiotic yang sesuai, kemudian infeksi di telinganya ditanggulangi
dengan operasi mastoidektomi. 10
b. Abses otak
Abses otak sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis dapat ditemukan
di serebelum, fosa kranial posterior atau di lobus temporal, di fosa kranial
media.Keadaan ini sering berhubungan tromboflebitis sinus lateralis, petrositis,
atau meningitis.Abses otak biasanya merupakan perluasan langsung dari infeksi
telinga dan mastoid atau trombofletbitis.Umumnya didahului oleh suatu abses
ekstradural. 10
Gejala abses serebelum biasanya lebih jelas daripada abses lobus
temporal.Abses serebelum dapat ditandai dengan ataksia, disdiadokokinesis,
tremor intensif dan tidak tepat menunjuk suatu objek.Afasia dapat terjadi pada
abses lobus temporal.Gejala lain yang menunjukkan adanya toksisitas, berupa
nyeri kepala, demam, muntah serta keadaan letargik.Selain itu sebagai tanda
yang nyata suatu abses otak ialah nadi yang lambat serta serangan kejang.
Pemeriksaan CSS memperlihatkan kadar protein yang meninggi serta kenaikan
tekanan liquor. Mungkin juga terdapat edema papil.Lokasi abses dapat
26

ditentukan dengan pemeriksaan angiografi, ventrikulografi atau dengan


tomografi computer. 10
Pengobatan abses otak ialah dengan antibiotika parenteral dosis tinggi
(protocol terapi komplikasi intracranial), dengan atau tanpa operasi untuk
melakukan drenasi dari lesi.Selain itu pengobatan dengan antibiotika harus
intensif.Mastoidektomi dilakukan untuk membuang sumber infeksi, pada waktu
keadaan umum lebih baik. 10
c. Hidrosefalus otitis
Hidrosefalus otitis ditandai dengan peninggian tekanan CSS yang hebat
tanpa adanya kelainan kimiawi dari liquor itu.Pada pemeriksaan terdapat edema
papil.Keadaan ini dapat menyertai OMA, maupun OMK.Gejala berupa nyeri
kepala yang menetap, diplopia, pandangan yang kabur, mual, dan
muntah.Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya sinus lateralis
yang mengakibatkan kegagalan absropsi liquor serebrospinal oleh lapisan
araknoid. 10

5. Mastoiditis

Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang
terletak pada tulang temporal yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga
tengah.Mastoiditis adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak
sembuh. 11

2.3.6. Prognosis
Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien dapat
menimbulkan kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK yang tidak
ditangani dengan segera. Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien karena
telah mengalami komplikasi intrakranial yaitu meningitis.12
27

BAB III
KESIMPULAN

Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari
2 bulan dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga
tengah dapat terus menerus atau hilang timbul. OMSK dapat digolongkan menjadi
dua jenis, yaitu dengan dan tanpa kolesteatoma. Kolesteatoma sendiri adalah suatu
kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus
lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT
terutama pemeriksaan otoskopi. Tanda klinik yang dapat menjadi pedoman akan
adanya OMSK dengan kolesteatoma adalah perforasi pada marginal atau pada atik.
Tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari OMSK dengan kolesteatoma,
sedangkan pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat abses atau fistel
retroaurikuler (belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar
yang berasal dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah,
(sering terlihat di epitimanum), sekret berbentuk nanah atau berbau khas (aroma
kolesteatoma) atau terlihat bayangan kolesteatoma pada foto rontgen mastoid.
Pengobatan yang tepat untuk OMSK dengan kolesteatoma adalah operasi.
Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi
sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka
insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan
mastoidektomi
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Farida Y,Sapto H. Oktaria D. Tatalaksana Terkini Otitis Media Supuratif


Kronis (OMSK). J Medula Unila. 2016.vol.6,no.1.
2. Pasra YW. Prevalensi dan Faktor risiko otitis media supuratif kronik di
Jakarta. Lib UI. [Internet]. 2012 Des. [cited 2016 Apr 5]. Available from:
http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=20348570&lokasi=lokal
3. Pangemanan D.M, Palandeng O.I, Pelealu O.C.P. Otitis Media Supuratif
Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Periode Januari 2014 – Desember 2016. Jurnal e-Clinic
(eCl).2018.vol.6,no.1.
4. Nursiah S. Pola kuman aerob penyebab OMSK dan kepekaan terhadap
beberapa antibiotika di bagian THT. Bagian Penerbit Library USU. 2003
5. Chole RA. Chronic Otitis Media, Mastoiditis and Petrositis. Ann Otol rhinol
Laryngol. 2013
6. Nugroho P S, Wiyadi HMS. Anatomi Dan Fisiologi Pendengaran Perifer.
Jurnal THT-KL. 2009 mei-agustus,vol,2.no,2,76-85.
7. Netter F, Atlas of Human Anatomy
8. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita Selekta
Kedokteran:Essential of Medicine. Edisi IV Jilid II. Media
Aesculapius;2014 Chapter Otitis Media Supuratif Kronik Hal.1021-1024
9. Acuin J. Chronic suppurative otitis media. BMJ Clin Evid.2007;2007:0507
10. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher.edisi ketujuh.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2012.
11. Braunwald E, et al. Harrison’s principles of internal medicine. Edisi ke-17.
Amerika Serikat: McGraw-Hill. 2009.
12. Lutan R, Wajdi F. Pemakaian Antibiotik Topikal Pada Otitis Media
Supuratif Kronik Jinak Aktif. Cermin Dunia Kedokteran No. 132. 2001.