Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN HIPERTENSI PADA KOMUNITAS

OLEH :
KELOMPOK 2

1. MAYA NOVIKA WULANDARI


2. NASRUL FUAD
3. NUR WAHIDAH SARMA NINGSIH
4. RIRIN KURNIA
5. WIDIA WATI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI JENJANG S1 KEPERAWATAN
T.A 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris hypertension yang berasal dari
bahasa Latin “hyper” dan “tension. “Hyper” berarti super atau luar biasa dan “tension”
berarti tekanan atau tegangan. Hypertension akhirnya menjadi istilah kedokteran yang
populer untuk menyebut penyakit tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah tenaga
yang dipakai oleh darah yang dipompakan dari jantung untuk melawan tahanan
pembuluh darah, jika tekanan darah seseorang meningkat dengan tajam dan kemudian
menetap tinggi, orang tersebut dapat dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau
hipertensi (Gunawan, 2001).
Hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian dari seluruh kalangan
masyarakat. Dampak yang ditimbulkan dapat berakibat jangka pendek maupun jangka
panjang bagi penderitannya, hal ini membutuhkan penanggulangan yang menyeluruh
dan terpadu. Hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas
(kematian) yang tinggi. Penyakit hipertensi menjadi penyebab kematian 7,1juta orang di
seluruh dunia, yaitu sekitar 13% dari total kematian, prevalensinya hamper sama besar
baik di negara berkembang maupun negara maju (Sani, 2008). Perkembangan penyakit
hipertensi berjalan perlahan tetapi secara potensial sangat berbahaya. Hipertensi
merupakan faktor risiko utama dari penyakit jantung dan stroke.
Pengendalian hipertensi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Rata-
rata,pengendalian hipertensi baru berhasil menurunkan prevalensi hingga 8% dari
jumlah keseluruhan. Berdasarkan data WHO dari 50% penderita hipertensi yang
diketahui ,25% yang mendapat pengobatan dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik.
Data Depkes (2007) menunjukkan, di Indonesia ada 21% penderita hipertensi dan
sebagian besar tidak terdeteksi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (2007) juga menunjukkan
cakupan tenaga kesehatan terhadap kasus hipertensi di masyarakat masih rendah, hanya
24,2% untuk prevalensi hipertensi di Indonesia yang berjumlah 32,2%.
Data Riskesdas 2007 juga menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia
berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada
perempuan (52%) dibandingkan laki-laki (48%). Data lain menunjukkan bahwa
prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke
atas. Dari jumlah itu, 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa definisi Hipertensi ?
1.2.2 Apa saja klasifikasi Hipertensi?
1.2.3 Apa saja etiologi Hipertensi?
1.2.4 Apa saja manifestasi klinis Hipertensi?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi Hipertensi?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan diagnostik Hipertensi?
1.2.7 Apa saja komplikasi Hipertensi?
1.2.8 Apa saja penatalaksanan Hipertensi?
1.2.9 Apa saja asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan pada Hipertensi?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Mengetahui definisi Hipertensi
1.3.2 Mengetahui klasifikasi Hipertensi
1.3.3 Mengetahui etiologi Hipertensi
1.3.4 Mengetahui manifestasi klinis Hipertensi
1.3.5 Mengetahui patofisiologi Hipertensi
1.3.6 Mengetahui pemeriksaan diagnostik Hipertensi
1.3.7 Mengetahui komplikasi Hipertensi
1.3.8 Mengetahui penatalaksanan Hipertensi
1.3.9 Mengetahui Asuhan komunitas yang diberikan pada pasien Hipertensi

1.4 Manfaat Penulisan


Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat
meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai asuhan keperawatan komunitas
pada hipertensi dan mendapat bahan masukan untuk melaksanakan asuhan keperawatan
dengan penanganan yang tepat terhadap pasien yang mengalami penyakit hipertensi.
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang informasi betapa pentingnya
penanganan terhadap pasien yang mengalami hipertensi dan perawatan lanjutannya.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg. (Smeltzer, 2001).
Hipertensididefinisikanoleh Joint National Committee on Detection (JIVC)
sebagaitekanan yang lebihtinggidari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat
keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai
hipertensi maligna.
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104
mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan
hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini
berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik (Smith Tom, 1995).

2.2 Kelasifikasi
Klasifikasihipertensimenurut WHO, yaitu:
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan
diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan
diastolik 91-94 mmHg
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160
mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.

Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and


Treatment of Hipertension, yaitu:
1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 – 99 mmHg : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 mmHg : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 mmHg : Hipertensi sedang
e. >115 mmHg : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 mmHg : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 mmHg : Hipertensi sistolik teriisolasi

Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan
darah, diantaranya yaitu:
1. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat
antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau
progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan
organ target yang progresif dan di perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam
kurun waktu menit/jam.
2. Hipertensi Urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan tekanan darah perlu
diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun
waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam
hitungan jam sampai hari).

2.3 Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik (idiopatik).
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan
perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na.
2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan
darah meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta pelebaran
pembuluh darah.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-
perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer.

2.4 Manifestasi Kelinis


Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001) manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing lemas, kelelahan, sesak nafas, gelisah,
mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah:
1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg.
2. Sakit kepala
3. Pusing / migraine
4. Rasa berat ditengkuk
5. Penyempitan pembuluh darah
6. Sukar tidur
7. Lemah dan lelah
8. Nokturia
9. Azotemia
10. Sulit bernafas saat beraktivitas

2.5 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis
ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang
akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai
faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh
darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup)
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer,
2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel
jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila
diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan
dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat
pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan
darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan
retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan
peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ
seperti jantung. (Suyono, Slamet. 1996).

2.6 Pemeriksaan Diaknostik


Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu:
1. Pemeriksaan yang segera seperti:
a. Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
b. Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi / fungsi
ginjal.
c. Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).
d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum: Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi.
f. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler).
g. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi.
h. Kadar aldosteron urin/serum: untuk mengkaji aldosteronisme primer
(penyebab).
i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
j. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k. Steroid urin: Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
l. EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel
kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana
luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.
m. Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
pembesaran jantung.
2. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama):
a. IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter.
b. CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
d. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab, CAT scan.
e. USG untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien

2.7 Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat muncul jika kondisi ini tidak ditangani dengan
baik adalah :
1. Otak, pada otak dapat terjadi pemekaran pembuluh darah, perdarahan, kematian sel
otak:dan troke.
2. Ginjal, pada ginjal dapat terjadi malambatnya kencing, kerusakan sel ginjal dan gagal
ginjal.
3. Jantung, pada jantung dapat mengakibatkan pembesaran otot jantung, sesak nafas,
cepat lelah dan gagal jantung.

2.8 Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas
akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi:


1. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai
tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi:
a. Diet destriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah
kolesterol dan rendah asam lemak jenuh.
b. Penurunan berat badan
c. Penurunan asupan etanol
d. Menghentikan merokok
e. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu:
Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari
kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona
latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan
Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu

2. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
a. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek
tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap
tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan
somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
b. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi
ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar
membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan
(Penyuluhan).
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien
tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

3. Terapi dengan Obat


Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga
mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita.
a. Farmakologis
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint
National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood
Pressure, Usa, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta,
antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal
pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada
padapenderita.

b. Non Farmakologis
Banyak tumbuhan obat yang telah lama digunakan oleh masyarakat secara
tradisional untuk mengatasi hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hal yang perlu
diinformasikan kepada masyarakat adalah cara penggunaannya, dosis, serta
kemungkinan adanya efek samping yang tidak diketahui. Obat – obat tradisional
tersebut diantaranya:
1) Buah Belimbing
Buah ini dapat mengontrol tekanan darah dalam keadaan normal dan juga
bisa menurunkan tekanan darah bagi mereka yang sudah mengalaminya.
Caranya yaitu buah belimbing yang sudah masak diparut halus. Kemudian
parutan belimbing diperas sehingga menjadi satu gelas sari belimbing. Air
perasan ini diminum setiap pagi, lakukan selama tiga minggu sampai satu
bulan. Setelah satu bulan sari belimbing ini dapat diminum dua hari sekali.
Tidak perlu menambahkan gula pasir atau sirup pada air perasan. Bagi
mereka yang sudah terlanjur menderita hipertensi, sebaiknya gunakan buah
belimbing yang besar sehingga air perasannya lebih banyak.
2) Daun Seledri
Cara penggunaannya dengan menumbuk segenggam daun seledri sampai
halus, saring dan peras deengan kain bersih dan halus. Air saringan usahakan
satu gelas diamkan selama satu jam, kemudian diminum pagi dan sore
dengan sedikit ampasnya yang ada di dasar gelas. Menurut penelitian daun
seledri bisa memperkecil fluktuasi kenaikan tekanan darah.
3) Bawang Putih
Caranya dengan memakan langsung tiga siung bawang putih mentah setiap
pagi dan sore hari. Pilih bawang putih yang kulitnya berwarna coklat
kehitaman karena mutunya lebih baik. Jika tidak mau memakannya dalam
keadaan mentah bisa direbus atau dikukus dulu. Namun karena banyak zatnya
yang bisa berkhasiat yang dapat ikut larut ddalam air rebusannya, sebaiknya
ditambaah menjadi 8 sampai 9 siung sekali makan.
4) Buah Mengkudu / Pace
Buah ini sebagai alternatif untuk menekan hipertensi. Caranya hampir sama
dengan buah belimbing, yaitu dengan cara memarut halus, kemudian diperas
memakai kain kassa yang bersih, diambil airnya. Minum sari mengkudu
setiap pagi dan sore hari secara teratur
5) Avokad
Caranya lima daun avokad dicuci bersih, kemudian direbus dengan 4 gelas air
putih. Tunggu air rebusan hingga menjaadi 2 gelas, saring. Satu gelas
diminum pagi hari, satu gelas lagi diminum sore hari.
6) Melon
7) Semangka
8) Mentimun
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Peran Perawat Komunitas


Sebagai salah satu bentuk penyakit degeneratif, saat ini hipertensi merupakan
salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang perlu segera dicarikan upaya-
upaya sistematis dalam pencegahannya. Hipertensi sebenarnya merupakan penyakit
yang lebih banyak dicetuskan karena gaya hidup. Banyak sekali faktor risiko hipertensi
yang berkaitan dengan perilaku manusia, seperti stres, merokok, hiperlipidemia,
diabetes mellitus, obesitas, dan lain sebagainya.
Dalam era moderen ini timbul pertanyaan “Mengapa keperawatan komunitas
dibutuhkan pada pengelolaan hipertensi di masyarakat ?”. Perawat sebagai tenaga
kesehatan dengan jumlah proporsi terbesar di Indonesia dapat berperan strategis dalam
upaya kesehatan, baik yang bersifat promotif maupun preventif, khususnya dalam
mempromosikan gaya hidup sehat dan melakukan deteksi dini hipertensi beserta
komplikasi yang mungkin menyertainya. Asuhan keperawatan komunitas memiliki
peranan untuk menghasilkan:
1. Intervensi layanan keperawatan yang profesional dalam mempromosikan gaya hidup
sehat kepada masyarakat terkait dengan hipertensi
2. Model pemberdayaan komunitas yang dapat digunakan untuk menjamin
keberlanjutan sistem deteksi dini hipertensi dan komplikasinya
3. Menghasilkan Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas program
pemberdayaan dimasyarakat

3.2 Kerangka Asuhan Keperawatan Komunitas


Asuhan keperawatan dibangun berdasarkan kerangka efektif dan efisiensi yang
melibatkan semua unsur yang terdapat di masyarakat; individu, keluarga, kelompok
khusus/ peduli dan masyarakat.
A. Pengkajian
Aspek yang dikaji menggunakan Community Assesment Wheel (Community
as a client model), Terdapat delapan elemen/komponen yang harus dikaji dalam
suatu masyarakat ditambah dengan data inti dari masyarakat itu sendiri yang berupa
Community core. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut
(Agusman,2011):
1. Community Core(Data Inti)
Ada aspek yang akan dikaji dalam komponen ini yaitu:
a. Historis dari komunitas
Dikaji sejarah perkembangan komunitas; karakter masyarakat yang menunjang
hipertensi
b. Demografi, yang meliputi:
1) Karakteristik umur dan jenis kelamin; usia, dan distribusinya pada risk maupun
aktual
2) Distribusi ras/etnis; budaya yang ada di masyarakat karena faktor ras; pola
konsumsi garam, makanan berlemak
3) Type keluarga ; mempengaruhi keputusan yang diambil keluarga thd.
Kesehatannya
4) Status perkawinan
c. Vital statistic yang meliputi:
1) Angka kelahiran
2) Morbiditas
3) Mortabilitas
d. Sistem nilai/norma/kepercayaan dan agama; perspektif masyarakat terhadap
hipertensi

2. “Physical Environment”
Pada komunitas sebagaimana mengkaji fisik pada individu terdapat beberapa
komponen dan sumber datanya yang dapat di kaji.
No Komponen Sumber Data
Individu Masyarakat
1 Inspeksi - Otoscop Survy : pola konsumsi
- Ophtalmoscope garam, merokok, obesitas,
konsumsi alkohol, malas
berolahraga
2 Auskultasi - Stetoscop Datang ke lingkungan
masyarakat yang
mengalami hipertensi atau
ada memiliki riwayat
3 Vital Sign - Termometer Dengarkan keluhan
- Tensi meter masyarakat/ tokoh/
pemerintah setempat/
kader
4 Sistem Review - Head – To – Toe Observasi keadaan iklim :
“head stroke”, sumber
daya, batas wilayah.
5 Laboratorium study - Bood tes Kegiatan masyarakat,
- CT scan pertemuan “sosial sistem”
yang terdiri dari :
perumahan, tempat
ibadah, dll

Pengkajian lingkungan fisik di komunitas dengan hipertensi dapat dilakukan


dengan metode Winshield Survey atau survey dengan berjalan mengelilingi wilayah
komunitas dengan melihat beberapa komponen.
3. Pelayanan kesehatan dan social di masyarakat yang berpengaruh terhadap
kejadian hipertensi
Untuk mengkaji pelayanan kesehatan dan social di masyarakat yang memberikan
pengaruh terhadap hipertensi di bedakan menjadi dua klasifikasi yakni fasilitas di
luar komuniti dan fasilitas di masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan baik didalam
maupun diluar komunitas adalah sebagai berikut:
a. Hospital
b. Praktik swasta
c. Puskesmas
d. Rumah perawatan
e. Pelayanan kesehatan khusus
f. Perawatan di rumah

Fasilitas pelayanan social baik di dalam maupun di luar communiti, antara lain
adalah sebagai berikut:
a. Counseling support services
b. Pelayanan khusus (social worker)

Dari kedua tempat pelayanan tersebut, aspek-aspek/data-data yang perlu


dikumpulkan adalah sebagai berikut:
a. Pelayanannya (waktu, ongkos, rencana kerja)
b. Sumber daya (tenaga, tempat, dana dan perencanaan)
c. Karakteristik pemakai (penyebaran, gaya hidup, sarana transportasi)
d. Statistik, jumlah pengunjung perhari/minggu/bulan.
e. Kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian pelayanan.

4. Aspek Ekonomi yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi di masyarakat


Menurut Ardiansyah (2012), Dua pertiga penderita hipertensi hidup di negara
miskin dan berkembang.
Aspek/komponen yang perlu dikaji:
a. Karakteristik pendapatan keluarga/rumah tangga
1) Rata-rata pendapatan keluarga/rumah tangga
% pendapatan kelas bawah
% keluarga mendapat bantuan social
% keluarga dengan kepala keluarga wanita
2) Rata-rata pendapatan perorangan

b. Karakteristik pekerjaan
1) Status ketergantungan
Jumlah populasi secara umum (umur > 18 tahun)
% yang menganggur
% yang bekerja
% yang menganggur terselubung
jumlah kelompok khusus
2) Kategori yang bekerja, jumlah, prosentasenya
- manager
- teknikal
- pelayan
- petani
- buruh

5. Aspek Keamanan dan transportasi yang mnedukung terhadap pengelolaan


hipertensi di masyarakat
a. Keamanan
1) Protection service:
2) Kualitas udara (polusi udara), kualitas air bersih (polusi air)
b. Transportasi
1) Milik pribadi
2) Milik umum: bus umum – angkotan kota

6. Aspek Politik dan government yang berpengaruh terhadap hipertensi di


masyarakat
a. Jenjang pemerintahan
b. Kebijaksanaan departemen kesehatan

7. Komunikasi yang di terima oleh masyarakat terkait hipertensi


a. Formal communication : mass media, TV, telepon, dll
b. Informal communication : papan pengumuman, selebaran, dll
8. Aspek Pendidikan
a. Status pendidikan:
- lama total sekolah
- jenis sekolah
- bahasa
b. Fasilitas pendidikan (SD, SMP, SLTA, PT) baik di dalam maupun di luar
community.

9. Recreation yang dilakukan di masyarakat


Yang menyangkut tempat-tempat rekreasi baik di dalam maupun di luar Community.
Yang berpengaruh terhadap hipertensi di masyarakat

B. Amalisa Data dan Diagnosa


Macam analisa data di komunitas dengan hipertensi
1. Analisis korelatif
Mengembangkan tingkat hubungan, pengaruh dari dua atau lebih sub-variabel yang
diteliti menggunakan perhitungan secara statistic.
Contoh:
Hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap penderita hipertensi dengan status
kesehatan fisik: sistem kardiovaskular
2. Analisis masalah berdasarkan kelompok data/data focus yang dianggap sebagai
masalah
Contoh:
a. Insiden penyakit terbanyak khususnya hipertensi
b. Keluhan yang paling banyak dirasakan
c. Pola/perilaku yang tidak sehat
d. Lingkungan yang tidak sehat
e. Pemanfaatan layanan kesehatan yang kurang efektif
f. Peran serta masyarakat yang kurang mendukung
g. Target/cakupan program kesehatan yang kurang mencapai.
3. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah atau lazimnya disebut
dengan etiologi. Untuk menetapkan etiologi dari masalah keperawatan di komunitas
terkait hipertensi di masyarakat dapat menggunakan beberapa pilihan di bawah ini:
a. Faktor budaya masyarakat
b. Pengetahuan yang kurang
c. Sikap masyarakat yang kurang mendukung
d. Dukungan yang kurang dari pemimpin formal atau informal
e. Kurangnya kader kesehatan di masyarakat.
f. Kurangnya fasilitas pendukung di masyarakat.
g. Kurangnya effektif pengorganisasian
h. Kondisi lingkungan dan geografis yang kurang kondusif.
i. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
j. Kurangnya keterampilan terhadap prosedur pencegahan penyakit
k. Kurangnya keterampilan terhadap prosedur perawatan kesehatan
l. Faktor financial
m. Komunikasi/koordinsi dengan sumber pelayanan kesehatan kurang efektif.

C. Metode Pelaksanaan yang sesuai untuk mengatasi hipertensi di masyarakat


Metode yang digunakan untuk mengatasi masalah hipertensi di masyarakat tetap
memperhatikan aspek 3 level preventif (WHO,2004) .

Setelah permasalahan dapat diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi


beberapa alternatif pemecahan masalah yang ditunjukkan dengan pelaksanaan
rangkaian beberapa kegiatan pengabdian masyarakat sebagaimana telah disebutkan di
atas. Kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat tersebut adalah:
1. Positif defiance
Melibatkan secara aktif terhadap penderita hipertensi yang mengalami perubahan
positif dari perubahan yang terjadi karena masukkan pendidikan kesehatan, support
system yang diberikan, sehingga menjadi agent perubahan yang posistif.

2. Pembentukan Posbindu/ Kelompok peduli


Posbindu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
(UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan
masyarakat itu sendiri, khususnya penduduk usia lanjut. Posbindu kependekan dari
Pos Pembinaan Terpadu, program ini berbeda dengan Posyandu, karena Posbindu
dikhususkan untuk pembinaan para orang tua baik yang akan memasuki masa lansia
maupun yang sudah memasuki lansia (Depkes, 2007). Yang dibangun dengan
Langkah-langkahnya meliputi:
a. Pertemuan tingkat desa
b. Survey mawas diri
c. Musyawarah Masyarakat Desa
d. Pelatihan kader
e. Pelaksanaan upaya kesehatan oleh masyarakat
f. Pembinaan dan pelestarian kegiatan

3. Rekrutmen dan Pelatihan Kader Posbindu atau peduli hipertensi


Kader sebaiknya berasal dari anggota kelompok Posbindu sendiri atau dapat saja
diambil dari anggota masyarakat lainnya yang bersedia menjadi kader. Adapun
persyaratan untuk menjadi kader Posbindu adalah:
a. Dipilih dari masyarakat dengan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi
setempat;
b. Mau dan mampu bekerja secara sukarela;
c. Bisa membaca dan menulis huruf latin;
d. Sabar dan memahamil usia lanjut. Mekanisme pelaksanaan:

Setelah melakukan Musyawarah Masyarakat Desa dan Musyawarah di tingkat RW,


maka panitia mengumumkan secara terbuka tentang rekrutmen kader Posbindu
sesuai dengan persyaratan di atas. Jika sampai pada waktu yang ditetapkan masih
sedikit, maka panitia bersama pengurus RW melakukan musyawarah kembali untuk
menentukan kader Posbindu berdasarkan pertimbangan tokoh masyarakat setempat.
Setelah rekrutmen kader Posbindu selesai, maka dilanjutkan dengan penyelenggaraan
pelatihan kader Posbindu dengan materi pelatihan meliputi:
a. Pengelolaan dan Pengorganisasian Posbindu
b. Surveilans hipertensi (survey mawas diri)
c. Prosedur deteksi dini hipertensi dan komplikasinya
d. Penatalaksanaan hipertensi dan komplikasinya
e. Pencegahan hipertensi
f. Pertolongan pertama kedaruratan penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler

4. Surveilans hipertensi
Setelah kader Posbindu dilatih, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan surveilans.
Yang dimaksud dengan surveilans adalah survey lapangan untuk mengumpulkan
data tentang prevalensi hipertensi di masyarakat. Surveilans dilakukan oleh kader
Posbindu yang telah diberikan pelatihan surveilans, dan data yang terkumpul diolah
dan dianalisis bersama oleh kader, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan.
Instrumen surveilans berupa angket/kuesioner yang terlebih dahulu telah disiapkan
oleh tim pengabdian masyarakat.

5. Pembuatan peta kewaspadaan hipertensi


Data hasil surveilans dijadikan dasar untuk menyusun peta kewaspadaan hipertensi
di komunitas. Peta ini sekaligus sebagai bukti dokumentasi hasil surveilans yang
telah dilakukan dan diberi kode-kode khusus berdasarkan kesepakatan tim tentang
kategori masyarakat dalam kaitannya dengan kewaspadaan hipertensi.

6. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin


Pemeriksaan tekanan darah secara rutin merupakan bagian dari pelayanan Posbindu.
Namun demikian dalam kasus tertentu, pemeriksaan tekanan darah tidak dilakukan
secara pasif (menunggu di Posbindu), tetapi justru dilakukan secara aktif dari rumah
ke rumah (door to door) pada kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko dan
kelompok lansia atau dikenal sebagai penemuan kasus hipertensi secara aktif ( active
case finding). Penemuan kasus secara aktif ini merupakan upaya penapisan
(screening) kasus hipertensi di masyarakat sebagai salah satu upaya deteksi dini
kasus hipertensi dan komplikasinya.

7. Pelaksanaan senam jantung sehat dan senam lansia secara rutin


Kegiatan senam jantung sehat dan senam lansia juga merupakan bagian dari
pelayanan Posbindu. Dalam konteks ini, pelaksanaan senam ini juga bukan saja
diikuti oleh kelompok masyarakat berisiko atau kelompok lansia saja, tetapi juga
bisa diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata
dari upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah serta pengendalian
salah faktor risiko hipertensi.

8. Promosi kesehatan yang berkaitan dengan bahaya hipertensi


Promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Program ini dirancang untuk
membawa perubahan (perbaikan), baik dalam masyarakat itu sendiri, maupun dalam
organisasi dan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut maka strategi promosi
kesehatan yang akan dikembangkan dalam rangka pencegahan hipertensi adalah:
a. Advokasi ( advocacy)
Kegiatan ini ditujukan untuk para pembuat keputusan dan penentu kebijakan di
tingkat kecamatan dan desa. Diharapkan melalui advokasi ini, semua aparatur
pemerintahan di Desa bisa memberikan dukungan, baik dukungan moral maupun
material, terhadap kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya.
b. Dukungan sosial (social support)
Kegiatan ini difokuskan bagi para tokoh masyarakat dan tokoh agama yang ada.
Diharapkan para tokoh masyarakat dan tokoh agama tersebut dapat menjembatani
komunikasi antara pengelola program kesehatan dan masyarakat khususnya
terkait hipertensi.
c. Pemberdayaan masyarakat (empowerment)
Kegiatan ini diarahkan pada masyarakat langsung sebagai sasaran primer promosi
kesehatan. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri (self reliance in
health). Bentuk kegiatannya lebih ditekankan pada penggerakkan masyarakat
untuk kesehatan, dalam hal ini adalah pengelolaan Posbindu.
Ruang lingkup promosi kesehatan sendiri meliputi tatanan keluarga (rumah tangga)
dan di fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan yang
diberikan, promosi kesehatan yang dilakukan hanya berada pada level promosi
kesehatan, perlindungan spesifik, serta diagnosis dini dan pengobatan segera.

Kegiatan promosi kesehatan pada setiap level tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Promosi kesehatan:
1) Senam jantung sehat dan senam lansia
2) Kampanye anti-rokok
3) Penyuluhan gizi lansia
4) Pelatihan pemeriksaan tekanan darah bagi keluarga lansia
b. Pencegahan spesifik:
1) Pemberian multivitamin bagi lansia
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera:
1) Pemeriksaan tekanan darah teratur bagi penderita hipertensi
2) Pemeriksaan tanda-tanda komplikasi hipertensi

9. Penyuluhan kesehatan tentang hipertensi & penatalaksanaan hipertensi


Penyuluhan kesehatan merupakan bagian dari strategi promosi kesehatan yang
tujuannya memampukan masyarakat untuk dapat menghindari perilaku-perilaku yang
berisiko meningkatkan kejadian hipertensi dan/atau melakukan tindakan yang tepat
untuk mengatasi masalah hipertensi pada masyarakat dan keluarga penderita
hipertensi.

10. Pelatihan pengukuran tekanan darah bagi keluarga lansia dan keluarga
penderita hipertensi
Kegiatan ini juga ditujukan sebagai salah satu upaya memperpendek akses pelayanan
kesehatan, khususnya bagi penderita hipertensi dalam melakukan pemantauan
(monitoring) terhadap kondisi kesehatannya. Pada akhirnya setiap keluarga dari
penderita hipertensi dapat melakukan pemantauan tekanan darah penderita hipertensi
secara teratur, tanpa harus pergi ke Puskesmas yang memakan waktu dan biaya
transportasi. Karena itu, ketersediaan tensimeter atau sphygmomanometer di
Posbindu harus cukup sebagai antisipasi bagi kebutuhan terhadap pemantauan
tekanan darah secara mandiri oleh keluarga penderita. Sudah barang tentu, anggota
keluarga yang dilatih adalah mereka yang memenuhi syarat tertentu sehingga
dimungkinkan mampu menguasai dalam mempraktikkan dan menginterpretasikan
hasil pengukuran tekanan darahnya.

11. Pengumpulan dana sosial Tanggap Hipertensi


Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari strategi gerakan masyarakat sebagai
salah satu strategi promosi kesehatan. Dalam hal pengumpulan dana sosial maka
dibutuhkan dukungan dari para pengambil keputusan di tingkat desa dan kecamatan,
serta kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Tentu dalam kondisi yang tidak mengikat,
kegiatan ini bersifat fleksibel terutama ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan
tingkat kemampuan ekonomi menengah ke atas. Dana sosial ini ditujukan untuk
membantu pembiayaan warga masyarakat yang mengalami komplikasi hipertensi
sehingga membutuhkan pengobatan lebih kompleks atau rujukan ke rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Muhamad. Medikal Bedah, Diva Press, Edisi I. 2012: 53-103 British
Hypertenson Society. Guidelines for management of hypertension: Report ol' the Fourth
Working Party lor the British Hypertension Society. J Hum Hypertension. 2004:18:139-85.

Evidence – Based Recommendation Task Force of the Canadian Hypertension Education


Program 2004. Canadian Hypertension Education Program Recommendation. January
2004. Laporan Riset Kesehatan Dasar Nasional, 2007

Udjiyanti,W. Keperawatan kardiovaskular, Salemba Medika. Edisi I. 2010:101-116

Yogiantoro, M. Hipertensi Esensial. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Editor: Aru W.
Sudoyo., Bambang Setiyohadi., Idrus Alwi., Marcellus Simadibrata K., Siti Setiati. Interna
Publishing. Jilid II Edisi V. 2010:169-183.