Anda di halaman 1dari 7

ULUL AZMI

Nabi Musa AS

OLEH :

Nama: Ghiena Sabryna

Kelas: X Mia 3

Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Palembang

Tahun Ajaran 2017/2018


Nabi Musa
Nabi Musa adalah seorang rasul dan nabi pilihan Allah yang diutus menghadap kepada kaum
Fir'aun, serta diutus membebaskan Bani Israel menghadapi penindasan bangsa Mesir.[1] Musa
dikenal sebagai perantara dalam hal pengajaran agama dan pengampunan dosa untuk Bani
Israel.[2] Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara dengan Allah).[3] Musa
merupakan figur yang paling sering disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta
termasuk golongan Ulul Azmi.

Musa dilahirkan di negeri Mesir sewaktu Bani Israel tinggal sebagai bangsa pendatang sejak
zaman Nabi Yusuf. Imran dan Yukhabad merupakan kedua orang tua Musa yang berasal dari
Suku Lawy. Musa merupakan adik kandung Nabi Harun dan Miryam.

Kelahiran
Sebelum Musa lahir, seluruh anggota keluarga Ya'qub tinggal sebagai masyarakat pendatang
di negeri Mesir. Selama masa kekuasaan nabi Yusuf, Bani Israel dilimpahi banyak
kemudahan hidup. Akan tetapi keadaan mulai berubah sepeninggal Yusuf, oleh sebab raja
yang menggantikan Yusuf tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman hidup dengan bangsa
Bani Israel. Bangsa ini diperbudak oleh Mesir lantaran Fir'aun pada zaman itu merupakan
raja yang zalim serta memecah belah rakyatnya melalui tindakan menindas kalangan yang
dipandang lemah.[4]

Tatkala Fir'aun mendapati sebuah mimpi yang mengguncangkan; seorang ahli tafsir mimpi
memahami makna mimpi tersebut sebagai pertanda buruk bagi kekuasaan Fir'aun; bahwa
akan ada seorang anak laki-laki dari Bani Israel yang menjadi seorang laki-laki gagah perkasa
yang kelak memimpin golongan pengikutnya melawan kekuasaan Mesir serta membawa
berbagai kehancuran hebat di negeri Mesir; juga para pengikut orang tersebut akan
mengangkut harta kekayaan yang berlimpah disertai bantuan kekuatan milik musuh Mesir
lalu menumpas seluruh kaum pemuka di bangsa Mesir pula. Fir'aun beserta seluruh pemuka
kaumnya merasa ketakutan bahwa penafsiran mimpi itu bermakna bahwa Bani Israel kelak
bersekutu dengan musuh Mesir untuk menghancurkan negeri Mesir.[5]

Kehidupan di Istana Mesir


Setelah beberapa waktu, Musa dijadikan sebagai anak angkat oleh istri Fir'aun serta Musa
bergelar seorang pangeran negeri Mesir. Ia belajar di istana Mesir untuk mewarisi Ilmu-Ilmu
khusus beserta Hikmah-Hikmah berharga yang ditinggalkan Nabi Yusuf, salah seorang putra
Nabi Ya'qub, yang sebelumnya menjadi penguasa di negeri Mesir. Musa secara mudah
menyerap berbagai Ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba pilihan Allah.[12] Musa tidak
seperti para pemuka kaum Fir'aun yang tidak mengimani Allah sehingga kaum pemuka
Fir'aun mengalami kesulitan untuk memahami peninggalan berharga ini. Mewarisi Hikmah-
Hikmah Yusuf, sosok Musa yang masih muda memiliki kebijaksanaan mengungguli kaum
tetua di Mesir.

Seisi istana Fir'aun merasa heran terhadap Musa yang sanggup menyingkapkan berbagai
perkara rumit sebagaimana kemampuan istimewa nabi Yusuf, sehingga kaum Fir'aun mulai
menduga bahwa Musa merupakan anak laki-laki yang pernah diramalkan. Akan tetapi salah
seorang pemuka dalam kaum Fir'aun menyatakan bahwa perlu ada pembuktian tentang
kebenaran dugaan ini. Tatkala Musa memilih bara api, kaum Fir'aun meyakini bahwa Musa
bukanlah orang yang diramalkan. Setelah itu, Musa tidak lagi dihadirkan di tengah-tengah
para pemuka kaum Fir'aun sebab mereka merasa malu apabila Fir'aun yang telah mengaku
dewa kemudian dipimpin oleh Musa, berbeda dengan Raja Mesir terdahulu yang bersedia
dipimpin oleh Yusuf.

Melarikan diri dari negeri Mesir


Sebagai seorang yang berkedudukan di negeri Mesir, Musa berhak pergi kemanapun ia
kehendaki di wilayah Mesir, termasuk ketika Musa mengunjungi wilayah Mesir yang
ditempati Bani Israel. Orang Mesir menjawab bahwa seluruh Bani Israel adalah kaum budak
sehingga boleh diperlakukan sekehendak hati; seketika Musa membantah dengan menyatakan
bahwa Bani Israel adalah golongan pewaris hamba-hamba pilihan Allah. Lalu orang Mesir itu
menertawakan Musa seraya menantang sebuah bukti kebenaran hukuman Allah akibat
pemukulan kepada seorang hamba Allah, jika benar bahwa Bani Israel memang golongan
hamba Allah.

Musa merasa bersalah karena telah menuruti hawa nafsu atas hal ini karena ia sebenarnya
tidak memiliki niat membunuh orang Mesir.[14] Ia menguburkan orang Mesir itu lalu berlari
sambil memohon pengampunan serta memohon perlindungan kepada Allah terhadap
persoalan ini. Keesokan harinya Musa kembali mendapati dua orang berkelahi; keduanya
sama-sama berasal dari Bani Israel. Musa menyalahkan kedua orang itu, namun salah seorang
dari keduanya menyatakan telah mengetahui tindakan Musa sehari sebelumnya,[15]

Panggilan Ilahi kepada Musa

Tatkala telah menyelesaikan persyaratan yang disepakati dengan Yitro; Musa bersama
keluarganya berangkat meninggalkan negeri Madyan. Pada sebuah malam, Musa berjalan
sambil membawa sebuah tongkat lalu ia mendapati sebuah perapian di lereng Gunung Sinai,
sedangkan anggota keluarga yang lain tidak mendapati apapun di lereng gunung itu. Musa
meminta keluarganya berhenti sejenak dalam perjalanan supaya ia dapat memastikan keadaan
api itu ataupun supaya ia dapat mengambil sesuluh api untuk penghangat tubuh.[23] maka
hendaklah kamu memperhatikan hal-hal yang akan diwahyukan: Bahwasanya Akulah Allah,
Tiada Tuhan selain Aku,[29] maka sembahlah Aku dan dirikan sembahyang untuk mengingat
Aku.[30] Sesungguhnya Hari Kiamat itu pasti akan terlaksana; Aku merahasiakan itu supaya
tiap-tiap diri dibalas sesuai yang ia usahakan;[31] maka sekali-kali janganlah kamu
dipalingkan mengenai perkara ini oleh orang yang tidak beriman maupun oleh orang yang
mengikuti hawa nafsunya sendiri, yang dapat menyebabkan dirimu ditimpa celaka.

Musa dan Harun menghadap kepada Fir'aun


Ketika hendak menghadap kepada Fir'aun, Musa memohon perlindungan kepada Allah, Musa
berdoa: "Wahai Tuhanku, lapangkan dadaku untuk diriku, dan mudahkan urusanku untuk
diriku, dan lepaskan kekakuan lidahku supaya mereka mengerti ucapanku serta jadikan untuk
diriku, seorang pengiring dari kalangan keluargaku yaitu Harun, saudaraku; teguhkan
kekuatanku bersama dirinya dan teguhkan ia sebagai rekan dalam perjuanganku supaya kami
banyak mengagungkan Engkau, dan banyak mengingat Engkau; sungguh Engkaulah Yang
Maha Mengawasi kami."[43] Allah berfirman: "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu,
wahai Musa."[44] Allah berfirman kepada keduanya: "Janganlah kalian berdua khawatir,
sesungguhnya Aku menyertai kalian, Akulah Yang Maha Mendengar dan Akulah Yang Maha
Mengawasi. Berangkatlah kamu beserta saudaramu membawa berbagai mukjizatKu, dan
janganlah kalian berdua melalaikan diri dalam mengingat Aku. Menghadaplah kalian berdua
kepada Firaun, sungguh ia telah melampaui batas; lalu berbicaralah kepada Fir'aun melalui
ucapan-ucapan yang lemah lembut, kiranya ia tersadar atau takut."[45]

Berdakwah kepada Bani Israel

Mendapati kubu kaum Fir'aun takluk dalam pertarungan melawan Musa, banyak penduduk
Mesir menghormati kedudukan Musa serta mengakui Musa sebagai Rasul Allah. Walaupun
semula kaum Fir'aun berniat untuk merendahkan Musa dan supaya menyamakannya sebagai
tukang sihir, mereka justru mendapati banyak orang meyakini bahwa Musa bukan seorang
manusia biasa bahkan penduduk Mesir itu sendiri ketakutan untuk bertindak sesuatu terhadap
Musa.[71] Tatkala Bani Israel merasa yakin bahwa Allah telah mengutus Musa untuk mereka,
maka banyak orang dari Bani Israel yang meminta perlindungan kepada Musa menghadapi
penindasan kaum Fir'aun; Musa pun menyatakan bahwa ia bukanlah yang sanggup dimintai
pertolongan melainkan ia memerintahkan Bani Israel supaya memohon perlindungan kepada
Allah Yang Maha Melindungi; serta Musa mengingatkan bahwa Bani Israel adalah kaum
keturunan pewaris Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub; ketiga hamba yang dipilih Allah,[72]

Kesombongan Fir'aun beserta para pengikutnya

Fir'aun mendapati banyak orang yang tidak mau lagi menyembah dirinya. Terlebih lagi para
pemuka dalam kaum Fir'aun juga menyampaikan kekhawatiran tentang Bani Israel yang
mulai menolak bekerja sebagai budak seraya mengatakan bahwa tuan Bani Israel bukanlah
orang-orang Mesir melainkan Allah, Tuhannya para leluhur mereka, serta mereka
menyatakan bahwa Allah akan menghadirkan hukuman-hukuman pedih kepada orang-orang
yang menyakiti hamba-hambaNya. Fir'aun berkeras diri seraya berkata: "Wahai kalangan
pemuka kaumku, aku tidak mengetahui ada dewa bagi kalian selain diriku"[78]

Hukuman-Hukuman terhadap kaum Fir'aun

Akibat kaum Fir'aun menolak menuruti perintah-perintah Allah melalui Musa dan Harun;
maupun menolak melepas golongan hamba Allah, yakni Bani Israel, maka Allah
menimpakan berbagai hukuman bencana kepada bangsa Mesir melalui musim kemarau yang
lama dan jumlah buah-buah yang sedikit supaya kaum Fir'aun tersadar atas kedurhakaan
mereka;[86] kemudian Allah timpakan kesembilan bencana dahsyat melalui perantaraan Musa,

Sewaktu kaum Fir'aun ditimpa bencana; mereka tuduhkan penyebab bencana itu kepada
Musa beserta orang-orang yang bersama dirinya.[89] Lalu mereka memohon seraya berjanji
kepada Musa: "Wahai Musa, mohonkan untuk kami kepada Tuhanmu mempergunakan
kenabian yang diakui Allah berada pada sisimu; sungguh jika kamu dapat menghilangkan
bencana itu dari tengah-tengah kami, pasti kami akan beriman kepada dirimu dan kami akan
melepaskan Bani Israel pergi bersama dirimu"
Hijrah dari negeri Mesir
Allah memerintah Musa supaya mengajak Bani Israel bergegas mempersiapkan perbekalan
lalu meninggalkan negeri Mesir. Musa menyampaikan pula kepada Bani Israel agar mereka
memuati perbekalan dari negeri Mesir serta mengambil segala barang yang diberikan oleh
orang-orang Mesir sebagai upah atas segala pekerjaan mereka di negeri Mesir.[98] Orang-
orang Mesir merasa ketakutan terhadap Bani Israel dan orang-orang Mesir menganggap harta
benda tidak lagi berguna sejak kematian anak-anak sekaligus kaum pewaris bangsa Mesir.
Setelah mendapati seluruh keturunan di istana Fir'aun telah mati, Fir'aun beserta para pemuka
kaumnya meratap serta berkabung atas musibah ini.

Pembelahan Laut Merah

Bani Israel meninggalkan negeri Mesir dalam keadaan terburu-buru sebab Allah telah
memerintahkan supaya bergegas berangkat pada malam tersebut.[100] Bani Israel mengangkut
banyak ternak serta muatan harta benda saat berangkat dari negeri Mesir. Allah juga
menghadirkan sebuah naungan yang melindungi Bani Israel dalam keberangkatan ini.
Sementara itu, ketika seisi istana Fir'aun sedang meratapi segala bencana yang telah melanda
mereka; Fir'aun masih tetap berkeras diri dan berusaha menyesatkan kaumnya. Akibat
menolak mengakui Bani Israel sebagai hamba-hamba Allah, Fir'aun maupun seluruh
pengikutnya berikrar untuk melenyapkan mereka dari muka bumi. Akan tetapi kaum Fir'aun
merasa sangat murka ketika mendapati tiada seorang pun dari Bani Israel masih berada di
negeri Mesir; Fir'aun berkata: "Sesungguhnya mereka benar-benar golongan kecil, dan
sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan kemurkaan kita dan
sesungguhnya tentulah kita golongan yang selalu berjaga-jaga."[101]

Perjalanan menuju negeri warisan


Melalui penyelamatan Bani Israel terhadap bala tentara Fir'aun; Allah telah menggenapi
Ketetapan yang baik untuk Bani Israel sebagai umat yang diselamatkan Allah oleh karena
kesabaran mereka, dan telah Allah hancurkan segala yang telah dirancang maupun yang telah
didirikan oleh kaum Fir'aun. Allah hendak memberi "negeri warisan" kepada kaum yang
telah ditindas itu, bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Allah berkahi.[109]

Setelah Bani Israel berada di seberang lautan itu, mereka sampai kepada suatu kaum
penyembah berhala, sebagian dari mereka berkata: "Wahai Musa, dirikan untuk kami sebuah
dewa sebagaimana mereka mempunyai beberapa dewa." Musa menjawab: "Sesungguhnya
kalian ini adalah golongan yang tidak mengetahui, sebab mereka itu akan dihancurkan
kepercayaan yang dianut oleh mereka sendiri dan akan sia-sia segala hal yang selalu mereka
kerjakan."[110] lalu Musa berkata : "Patutkah aku mencari sembahan untuk kalian selain Allah,
padahal Dialah yang telah mengistimewakan kalian melampaui semesta alam."[111]

Perjanjian Abadi antara Allah dengan Bani Israel

Setelah mengantarkan para pengikutnya menuju Gunung Sinai yang telah dijanjikan sebagai
tempat mengadakan Perjanjian antara Allah dengan Bani Israel; Musa terlebih dahulu
menghadap kepada Allah supaya mendapat perkenan Allah.[116] Kemudian Allah
memerintahkan melalui Musa supaya Bani Israel menguduskan diri serta membersihkan diri
selama beberapa hari sebelum mengadakan perjanjian kepada Allah. Pada Hari Perjanjian,
terdapat segolongan orang yang masih meragukan kerasulan Musa; golongan tersebut berkata
bahwa mereka tak akan beriman kepada Musa sebelum melihat Allah secara nyata.[117]

Kemudian Allah menghadirkan "KemuliaanNya" di atas Gunung Sinai seraya menyampaikan


Suara Ilahi diiringi gemuruh petir dan kilat menyambar; Suara Ilahi tersebut berisi berbagai
ikrar perintah kepada seluruh Bani Israel. Allah bahkan mengangkat Gunung Sinai diatas
kepala seluruh Bani Israel supaya umat itu berikrar teguh untuk berpedoman terhadap segala
yang diperintahkan oleh Allah;[118] dengan harapan Bani Israel senantiasa mengingat segala
perintah Allah sehingga mereka membuktikan diri sebagai hamba-hamba yang hanya tunduk
kepada Allah. Perjanjian Allah ini tidak hanya berlaku kepada Bani Israel semata melainkan
pula kepada seluruh umat manusia yang bersedia berserah diri dan menjadi milik Allah.[8]

Musa menghadap kepada Allah

Sebelum pergi untuk menghadap kepada Allah, Musa berpesan kepada Harun, saudaranya :
"Gantikan kedudukan diriku dalam kaumku, dan perbaikilah, serta jangan turuti perilaku
orang-orang yang mengadakan kekacauan." Kemudian Musa harus melewati tingkat-tingkat
langit hingga langit ketujuh sebelum menghadap kepada Allah. Setelah waktu tiga puluh
malam, Allah penuhkan jumlah malam itu dengan sepuluh hari lain, hingga sempurnalah
waktu yang telah ditentukan Allah yakni empat puluh malam.[121]

Tatkala Musa telah hadir untuk menghadap pada waktu yang telah ditetapkan dan Allah
berbicara secara langsung dengan dirinya, Musa berkata: "Wahai Tuhanku, nampakkan
DiriMu kepada diriku supaya aku dapat melihat Engkau." Allah berfirman: "kamu takkan
sanggup melihat Aku tetapi pandanglah ke arah bukit itu, sekiranya ia tetap berada di
tempatnya niscaya kamu dapat melihat Aku." Tatkala." Allah berfirman: "Wahai Musa,
bahwa Akulah yang memilih dirimu dibanding seluruh manusia yang lain supaya kamu
menerima risalahKu dan supaya kamu berbicara secara langsung dengan Aku, sebab itu
berpedomanlah terhadap yang Aku serahkan kepada dirimu dan hendaklah kamu termasuk
golongan yang bersyukur." dan telah Allah tuliskan untuk Musa pada loh-loh batu yang berisi
tentang pelajaran serta penjelasan segala sesuatu.[122]

Bani Israel setelah Kepergian Musa

Sewaktu Musa telah berangkat untuk menghadap kepada Allah, Bani Israel masih percaya
bahwa Musa akan kembali kepada mereka sebagaimana terdapat dua tokoh terhormat di
tengah-tengah mereka, Hur dan Harun, yang keduanya memerintahkan Bani Israel bersabar
terhadap Ketetapan Allah. Akan tetapi kesabaran mereka mulai goyah sewaktu mendapati
Musa tidak kunjung kembali. Oleh karena terdapat beberapa golongan yang mengabaikan
perintah-perintah Allah sewaktu Perjanjian;

Pewarisan kepemimpinan Bani Israel kepada Yusha

Sewaktu masa pengembaraan mendekati empat puluh tahun; hampir seluruh generasi Bani
Israel yang terlahir di Mesir telah mati; kecuali Yusha, Qolib dan sebagian besar orang di
suku Lawy. Musa pun harus ditinggalkan dua saudaranya, Harun dan Miryam, ketika
pengembaraan ini hendak berakhir. Ketika Musa memohon kepada Allah supaya diizinkan
mencapai negeri yang diberkahi, Allah berfirman bahwa Yusha, seorang dari keturunan
Yusuf, merupakan orang yang ditakdirkan sebagai pemimpin Bani Israel untuk menduduki
negeri warisan serta Allah memperingatkan Musa supaya taat terhadap Ketetapan Allah.
Kemudian Musa memberi berbagai pesan wasiat kepada Bani Israel serta menyampaikan
berbagai berkat kepada Bani Israel sebelum meninggalkan mereka. Musa juga mewariskan
tugas kepemimpinan kepada Yusha, seorang keturunan Yusuf.[8]

Kisah Teladan Nabi Musa AS


Masa kecil nabi Musa as
Pada masa itu Mesir adalah negeri yang makmur, dipimpin oleh raja Fir'aun yang memaksa
rakyatnya untuk menuhankanya. Kala itu ada dukun / peramal yang meramalkan bahwa kelak
ada anak dari bani Israil yang akan melengserkan Fir'aun. Karena ramalan itu, Firaun
memerintahkan agar semua bayi laki-laki dari bani Israil agar dibunuh.
Pada masa itu, Musa lahir dan ibunya khawatir dengan perintah raja yang akan membuat
anaknya terbunuh. Allah SWT memerintahkan agar ibu Musa menaruh anaknya di peti dan
menghanyutkan ke sungai Nil. Allah SWT menjaga Musa yang dihanyutkan ke sungai, dan
mengalirkannya ke dekat kerajaan sehingga ditemukan oleh istri raja Firaun.

Masa muda nabi Musa as


Musa as tumbuh di dalam kerajaan, beliau banyak belajar tentang berbagai ilmu hingga
tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan pandai. Suatu ketika musa keluar dari kerajaan dan
melihat bani Israil dan prajurit Mesir berkelahi, Musa hendak memisahkan keduanya namun
malah membunuh prajurit mesir itu. Musa as ketakutan dan memohon ampun kepada Allah
SWT yang tidak disengaja itu.
Dalam kebingungan itu, Musa as untuk mengembara di kota dan meninggalkan kerajaan
karena takut akan dihukum dan beliau akhirnya bertemu dengan 2 orang gadis. Musa as
membantu mereka mengambilkan air, dan setelah itu ayah dari kedua gadis itu memanggil
Musa as dan ingin menikahkannya dengan salah satu anaknya dengan syarat Musa as harus
membantunya menggembala kambing selama 8 tahun atau 10 tahun.

Nabi Musa as diangkat menjadi nabi & rasul langsung oleh Allah SWT
Setelah 10 tahun melarikan diri, Musa as rindu dengan Mesir dan beliau mengajak
keluarganya untuk pergi ke mesir. Di tengah perjalanan beliau tersesat dan tak menemukan
api untuk penerangan, kemudian beliau menemukan api yang setelah didekati kemudian
Allah SWT mengajak nabi Musa as untuk berdialog.
Allah SWT memberitahukan bahwa nabi Musa as dipilih oleh Allah SWT untuk mendakwahi
Fir'aun dengan lemah lembut (tidak seperti kelompok yang itu, yang sering mengkafir-
kafirkan dengan seenaknya sendiri, nabi Musa as saja diperintahkan untuk dakwah dengan
lemah lembut). Musa as gemetar saat diajak bicara secara langsung oleh Allah SWT, beliau
disuruh melepaskan sepatunya karena beliau ada di bukit Thuwa' yang suci, kemudian beliau
disuruh melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular besar, beliau diperintahkan
untuk memasukkan tangan ke saku bajunya yang kemudian menjadi terang seperti bulan, lalu
beliau menaruh telapaknya di dada yang membuatnya tenang, itu adalah beberapa mukjizat
yang diberikan Allah SWT kepada nabi Musa as.
Setelah diangkat menjadi nabi sekaligus rasul oleh Allah SWT, nabi Musa as diperintahkan
oleh Allah SWT untuk berdakwah bagi kaum mesir dan raja Fir'aun sekaligus membawa
keluar bani Israil dari tanah mesir, Musa as dibantu oleh saudara kandungnya, nabi Harun as.