Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HALUSINASI

Pokok bahasan : Halusinasi


Sub pokok bahasan : Pengertian, faktor pencetus,jenis halusinasi,penanggulangan
dan peran keluarga
Sasaran : Masyarakat/Posyandu
Waktu : 25 menit
Tempat : Posyandu

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum :

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan di Posyandu masyarakat mampu memahami apa


itu halusinasi,faktor pencetus, jenis jenis halusinasi penanggulangan dan peran keluarga
dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa di rumah dengan halusinasi.
2. Tujuan Khusus:

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan diharapkan masyarakat, mampu:


a. Menyebutkan pengertian halusinasi

b. Menyebutkan pencetus terjadinya halusinasi

c. Menyebutkan tanda dan gejala halusinasi

d. Menyebutkan tipe-tipe halusinasi

e. Menyebutkan proses terjadinya halusinasi

B. GARIS BESAR MATERI


a. Pengertian halusinasi

b. Menyebutkan pencetus terjadinya halusinasi

c. Tanda dan gejala halusinasi

d. Tipe-tipe halusinasi

e. Proses terjadinya halusinasi

f. Cara mengatasi pada pasien halusinasi


C. PELAKSANAAN KEGIATAN

NO KEGIATAN PENYULUH PESERTA WAKTU


1 Pembukaan dan Menyampaikan salam Menjawab salam 3 menit
salam Menjelaskan tujuan Mendengarkan
Apersepsi Memberi respon

2 Penyampaian Menyampaikan materi: Mendengarkan dan 15 menit


materi  Pengertian halusinasi memperhatikan
 Menyebutkan
pencetus terjadinya
halusinasi
 Tanda dan gejala
halusinasi
 Tipe-tipe halusinasi
 Proses terjadinya
halusinasi
 Cara mengatasi
pasien dengan
halusinasi
3 Penutup dan Tanya jawab Menjawab 7 menit
salam Menyimpulkan hasil
materi Mendengarkan
Menyampaikan salam
Menjawab salam

D. METODE
 Ceramah

 Tanya jawab

E. MEDIA
Leaflet
Lampiran materi
HALUSINASI

Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang
nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas,
substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya. Definisi ini dapat membedakan halusinasi
dengan mimpi, berkhayal, ilusi dan pseudohalusinasi (tidak sama dengan persepsi
sesungguhnya, namun tidak dalam keadaan terkendali). Contoh dari fenomena ini adalah
dimana seseorang mengalami gangguan penglihatan, dimana ia merasa melihat suatu objek,
namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.

Halusinasi juga harus dibedakan dengan delusi pada persepsi, dimana indera
menangkap rangsang nyata, namun persepsi nyata yang diterimanya itu diberikan makna
yang dan berbeda (bizzare). Sehingga orang yang mengalami delusi lebih percaya kepada
hal-hal yang atau tidak masuk logika.

Pencetus terjadinya halusinasi

1. Sakit dengan panas tinggi sehingga mengganggu keseimbangan tubuh.


2. Gangguan jiwa Skizofrenia
3. Pengkonsumsian narkoba atau narkotika tertentu seperti : ganja, morphin, kokain, dan
ltd
4. Mengkonsumsi alkohol berkadar diatas 35% : seperti vodka, gin diatas batas
kewajaran
5. Trauma yang berlebihan.

Faktor predisposisi dari halusinasi menuruut Stuart & Laraia (1998) adalah aspek
biologis, psikologis, genetik, sosial dan biokimia. Dari predisposisi tersebut pada klien Ny. Y
yang dominan adalah faktor sosial karena klien menikah dalam usia muda (belum siap fisik
dan psikis)dan orang tua klien bercerai pada saat klien berusia 11 tahun dan faktor psikologis
dimana klien mempunyai kepribadian tertutup. Jika tugas perkembangan terlambat atau
hubungan interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami stress atau kecemasan.
Beberapa faktor di masyarakat dapat membuat seseorang terisolasi dan kesepian sehingga
menyebabkan kurangnya rangsangan dari eksternal. Stress yang menggangggu sistem
metabolisme tubuh akan mengeluarkan suatu zat yang bersifat halusinogen.
Faktor presipitasi menurut Stuart & Sundeen (1998) adalah stresor sosial dimana stress
dan kecemasan akan meningkat bila terjadinya penurunan stabilitas, keluarga, perpisahan dari
orang yang sangat penting atau diasingkan oleh kelomppok/masyarakat; faktor biokimia
dapat meyebabkan partisipasi klien berinteraksi dengan kelompok kurang, suasana yang
terisolasi (sepi) sehingga dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang mengeluarkan
halusinogenik; faktor psikologis yang juga akan meningkatkan intensitas kecemasan yang
berkepanjangan disertai terbatasnya kemampuan dalam memecahkan masalah mungkin akan
mulai berkembangnya perubahan sensori persepsi klien, biasanya hal ini untuk
pengembangan koping menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan diganti dengan
hayalan yang menyenangkan.
Masalah keperawatan yang menjadi penyebab (sebagai Triger) munculnya halusinasi
adalah harga diri rendah dan isolasi sosial (Stuart & Laraia, 1998). Akibat rendah diri dan
kurangnya keterampilan mengakibatkan sosial klien menjadi menarik diri dari
lingkungan.selanjutnya klien akan lebih terfokus pada dirinya sendiri. Stimulus inernal akan
menjadi lebih dominan daripada stimulus eksternal. Klien lama kelamaan akan kehilangan
kemampuanmembedakan stimulus internal dengan stimulus eksternal. Ini memicu terjadinya
halusinasi. Selain itu akibat lanjut dari kondisi rendah diri dan kuranngnya kemampuan klien
berhubungan dengan orang lain yang membuat klien menarik diri dari lingkungan membuat
klien mengalami penurunan motivasi karena ia merasa tidak mampu melakukan apapun
sehingga akan memunculkan masalah kurangnya perawatan diri klien.
Masalah keperawatan rendah diri yang terjadi pada klien dapat didukung oleh koping
keluarga tidak efektif: kurang pengetahuan, ketidakmampuan merawat klien dan bahkan
menolak klien berada di rumahnya. Hal ini dapat membuat klien kurang mendapat penguatan
terhadap kemampuan yang ia miliki sehinggga klien menganggap dirinya makin tidak
berharga dan mengakibatkan keluarga kurang tepat dalam menanganni klien di rumah atau
regimen therapeutik tidak efektif
Tanda dan Gejala Halusinasi
Menurut Towsend & Mary (1995), tanda dan gejala halusinasi adalah sebagai berikut:

1. Berbicara, senyum dan tertawa sendirian.

2. Mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa sesuatu yang tidak
nyata.
3. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

4. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata, serta tidak mampu melakukan
asuhan keperawatan mandiri seperti mandi, sikat gigi, berganti pakaian dan berhias yang rapi.

5. Sikap curiga, bermusuhan , menarik diri, sulit membuat keputusan, ketakutan, mudah
tersinggung, jengkel , mudah marah, ekspresi wajah tegang, pembicaraan kacau dan tidak
masuk akal, banyak keringat.

Tipe-tipe Halusinasi
Dibawah ini beberapa tipe dari halusinasi (Cancro & Lehman, 2000):

1. Halusinasi Pendengaran

Mendengar suara-suara, sering mendengar suara-suara orang berbicara atau


membicarakannya, suara-suara tersebut biasanya familiar. Halusinasi ini paling sering
dialami klien dibandingkan dengan halusinasi yang lain.

2. Halusinasi Penglihatan

Melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada, seperti cahaya atau seseorang yang telah mati.

3. Halusinasi Penciuman

Mencium bau-bau padahal di tempat tersebut tidak ada bau. Tipe ini sering ditemukan pada
klien dengan dimensia seizure atau mengalami gangguan cerebrovaskuler.

4. Halusinasi Sentuhan

Perasaan nyeri, nikmat atau tidak nyaman padahal stimulus itu tidak ada.

5. Halusinasi Pengecapan

Termasuk rasa yang tidak hilang pada mulut, perasaan adanya rasa makanan dan berbagai zat
lainnya yang dirasakan oleh indra pengecapan klien

Proses terjadinya Halusinasi


Proses terjadinya halusinasi (Stuart & Laraia, 1998) dibagi menjadi empat fase yang terdiri
dari:

1. Fase Pertama
Klien mengalami kecemasan, stress, perasaan terpisah dan kesepian, klien mungkin
melamun, memfokuskan pikirannnya kedalam hal-hal menyenangkan untuk menghilangkan
stress dan kecemasannya. Tapi hal ini bersifat sementara, jika kecemasan datang klien dapat
mengontrol kesadaran dan mengenal pikirannya namun intesitas persepsi meningkat.
2. Fase Kedua
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, individu
berada pada tingkat listening pada halusinasinya. Pikiran internal menjadi menonjol, gambarn
suara dan sensori dan halusinasinya dapat berupa bisikan yang jelas. Klien membuat jarak
antara dirinya dan halusinasinya dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari
orang lain atau tempat lain.
3. Fase Ketiga
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol. Klien menjadi lebih terbiasa dan tidak
berdaya dengan halusinasinya. Kadang halusinasinya tersebut memberi kesenangan dan rasa
aman sementara.
4. Fase Keempat
Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya.
Halusinasi sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah, memarahi.
Klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya.
Klien hidup dalam dunia yang menakutkan yang berlangsung secara singkat atau bahkan
selamanya.
Penanggulangan Pasien dengan Halusinasi

Penanggulangan pada pasien halusinasi dengan cara :

1. Menciptakan lingkungan yang nyaman


Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi,
sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi
kontak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara
fisik atau emosional. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang
perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding,
gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.

2. Melaksanakan program terapi dokter

Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi
yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Keluarga harus
mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada.

Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, keluarga dapat menggali masalah pasien
yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang
ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain
yang dekat dengan pasien.

4. Memberi aktivitas pada pasien

Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga,
bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke
kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal
kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.