Anda di halaman 1dari 5

proses pembangunan ekonomi juga akan membawa dengan sendirinya suatu perubahan mendasar

dalam struktur ekonomi.

 Dari sisi permintaan agregat (AD), perubahan atau yang dimaksud dengan “pendalaman”
struktur ekonomi terjadi terutama didorong oleh peningkatan pendapatan masyarakat yang
membuat perubahan selera masyarakat yang terefleksi dalam perubahan pola konsumsinya.

 Dari sisi penawaran agregat (AS), faktor-faktor pendorong utama adalah perubahan teknologi
(technological progress), peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan penemuan material-
material baru untuk produksi. Faktor-faktor dari sisi suplai (produksi) ini juga merupakan sumber
penting pertumbuhan.

Jadi, secara hipotesis dapat diduga adanya suatu kolerasi positif antara pertumbuhan dan perubahan
struktur ekonomi, paling tidak dalam periode jangka panjang pertumbuhan yang berkesinambungan
mengakibatkan perubahan struktur ekonomi lewat demand side effect (peningkatan pendapatan
masyarakat) dan pada gilirannya perubahan tersebut menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi.

KESEIMBANGAN PERMINTAAN-PENAWARAN AGREGAT (AD-AS)

Perekonomian Indonesia bisa tumbuh apabila dilihat dari agregat demand dan agregat supply karena
keduanya merupakan sumber pertumbuhan ekonomi. Kurva pertumbuhan ekonomi bisa bertambah
/meningkat apabila permintaan dan penawaran meningkat. Pertumbuhan ekonomi akan meningkat
apabila :

1. Adanya pemerataan pembangunan

2. Kesejahteraan masyarakat

Permintaan Agregat (AD)

Permintaan agregat atau juga bisa di sebut dengan pengeluaran agregat (aggregate expenditure)
merupakan permintaan yang menunjukkan suatu hubungan di antara tingkat harga dengan nilai-nilai
pembelanjaan yang akan dilakukan dalam perekonomian.[1] Sedangkan yang dimaksud dengan kurva
permintaan agregat adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara jumlah output agregat yang
diminta dengan singkat harga, dengan asumsi hal-hal yang lainnya tetap, kurva permintaan agregat
tersebut memiliki slope negative yang menunjukkan bahwa antara jumlah output yang diminta dengan
tingkat harga hubungannya adalah negative atau berkorelasi negative.[2] Faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan agregat dalam suatu perekonomian adalah[3] :

1. Pendapatan Disposible atau pengeluaran konsumsi (C)

2. Tingat bunga (i)

3. Kepercayaan dunia bisnis atau investasi


4. Jumlah uang beredar riil atau Ms/P

5. Pengeluaran pemerintah (G)

6. Pajak (T)

7. Pendapatan luar negeri (Yf)

8. Harga luar negeri (Pf)

9. Nilai tukar riil (ER)

Penawaran Agregat (AS)

Kurva penawaran agregat (AS) adalah suatu kurva yang menggambarkan pendapatan nasional
(nilai barang dan jasa) yang akan di produksikan sector perusahaan pada berbagai tingkat harga. Kurva
AS menerangkan tentang pendapatan nasional yang akan diwujudkan perusahaan-perusahaan pada
berbagai tingkat harga. Bentuk kurva penawaran agregat yaitu menaik dengan makin tingginya
harga.[9] Menurut model ini, tingkat harga dan kuantitas output bergerak sedemikian rupa sehingga
menyesuaikan permintaan agregat dan penawaran agregat dan membawa keduanya pada kondisi
ekuilibrium atau keseimbangan. Penawaran agregat di dalam suatu perekonomian dipengaruhi oleh
beberapa factor sebagai berikut[10] :

1. Besarnya angkatan kerja

2. Besarnya stok capital

3. Keadaan atau tingkat teknologi

4. Tingkat pengangguran alamiah

5. Harga factor-faktor produksi

Selain pertumbuhan, proses pembangunan ekonomi juga akan membawa dengan sendirinya suatu
perubahan mendasar dalam struktur ekonomi. Dari sisi permintaan agregat (AD), perubahan atau yang
dimaksud dengan “pendalaman” struktur ekonomi terjadi terutama didorong oleh peningkatan
pendapatan masyarakat yang membuat perubahan selera masyarakat yang terefleksi dalam perubahan
pola konsumsinya. Sedangkan dari sisi penawaran agregat (AS), faktor-faktor pendorong utama adalah
perubahan teknologi (technological progress), peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan penemuan
material-material baru untuk produksi. Faktor-faktor dari sisi suplai (produksi) ini juga merupakan
sumber penting pertumbuhan. Jadi, secara hipotesis dapat diduga adanya suatu kolerasi positif antara
pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi, paling tidak dalam periode jangka panjang
pertumbuhan yang berkesinambungan mengakibatkan perubahan struktur ekonomi lewat demand side
effect (peningkatan pendapatan masyarakat) dan pada gilirannya perubahan tersebut menjadi faktor
pemicu pertumbuhan ekonomi.

A. Sisi Permintaan Agregat

Dari sisi permintaan agregat, pergeseran kurva AD ke kanan yang mencerminkan permintaan di dalam
ekonomi meningkat bisa terjadi karena pendapatan agregat (PN) yang terdiri dari atas permintaan
masyarakat (konsumen), perusahaan, dan pemerintah meningkat. Sisi permintaan agregat (penggunaan
PDB) terdiri atas empta komponen, yakni konsumsi rumah tangga (C), investasi domestik bruto
(pembentukan modal dan perubahan stok) dari sektor swasta dan pemerintah (Ib), konsumsi/
pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor neto, yaitu ekspor barang dan jasa (X) minue impor barang dan
jasa (M). Sisi permintaan agregat di dalam suatu ekonomi bisa digambarkan dalam suatu model ekonomi
makro sederhana sebagai berikut:

Persamaan (2.12) menggambarkan keseimbangan antara sisi penawaran agregat (total output/PDB) dan
isi permintaan agregat terdiri atas empat komponen tersebut. Persamaan (2.13) adalah konsumsi rumah
tangga yang jumlahnya ditentukan oleh tingkat pendapatan dan “c” merupakan koefisien konsumsi
(marginal propensity to consume) dengan nilai positif antara 0 dan 1, yang artinya semakin tinggi
pendapatan semakin besar pengeluaran konsumsi ruamah tangga. Persamaan (2.14) menunjukkan
bahwa nilai atau jumlah investasi (misalnya dalam jumlah proyek) sangat ditentukan oleh tingkat suku
bunga (i) di dalam negeri, selain juga oleh sejumlah faktor lain yang bersifat otonom (Ia). Semakin tinggi
tigkat suku bunga, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap (tidak berubah), semakin mahal biaya
(opportunity cost) investasi, semakin kecil jumah investai didalam ekonomi yang dicerminkan oleh tanda
negatif di depan koefisien “r” (positif).

Persamaan (2.15) adalah pengeluaran pemerintah yang sifatnya otonom, dalam arti besar kecilnya
pengeluaran pemerintah ditentukan oleh faktor-faktor lain (di antaranya faktor politik) di luar model
tersebut. Demikian juga halnya dengan persamaan (2.16), karena Indonesia adalah negara kecil dilihat
dari pangsa perdagangan luar negerinya di dalam total volume perdagangan dunia, maka pertumbuhan
ekspor Indonesia lebih ditentukan oleh faktor-faktor eksternal, seperti permintaan dari luar negeri, di
luar pengaruh dari kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia dan variabel-variabel ekonomi domestik
lainnya, seperti pendapatan nasional, tingkat suku bunga, dan inflasi. Persamaan (2.17) menggambarkan
bahwa impor ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat di Indonesia, semakin besar permintaan
pasar dalam negeri terhadap impor yang terdiri atas barang dan jasa untuk keperluan konsumsi dan
kegiatan proses produksi di dalam negeri.
B. Sisi Penawaran Agregat (AS)

Ada dua aliran pemikiran (teori) mengenai pertumbuhan ekonomi dilihat dari sisi penawaran agregat
(produksi), yakni teori neoklasik dan teori modern. Dalam kelompok teori neoklasik, faktor-faktro
produksi yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan output adalah jumlah tenaga kerja
dan kapital (modal). Kapital bisa dalam bentuk finance atau barang modal (seperti mesin). Penambahan
jumlah tenaga kerja dan kapital dengan faktor lain, seperti tingkat produktivitas dari masing-masing
faktor produksi tersebut atau secara keseluruhan tetap (tidak berubah), akan menambah output yang
dihasilkan. Presentase pertumbuhan output bisa lebih besar (increasing return to scale), lebih kecil
(decreasing return to scale), atau sama (constant return to scale) dibandingkan persentase
pertumbuhan jumlah dari kedua faktor produksi tersebut.

Dalam kelompok teori neoklasik, peranan teknologi terhadap pertumbuhan output tidak mendapat
perhatian secara eksplisit, walaupun pada dekade 1950-an dan 1960-an sudah mulai ada pembahasan
mengenai dampak positif dari progres teknologi. Kelompok teori neoklasik lebih memusatkan perhatian
terhadap efek positif dari akumulasi kapital (investasi) terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebagai suatu
kasus, pengalaman dari kelompok newly industrialized coutries (NICs), seperti taiwan, korea selatan,
hongkong, dan singapura, memang menunjukkan bahwa kontribusi kapital per pekerja terhadap
pertumbuhan ekonomi sangat dominan, yakni mencapai 50 % hingga 90 %, sedangkan the residual, yang
di dalam fungsi produksi Cobb Douglas dianggap sebagai efek dari pertumbuhan produktivitas dari
faktor+faktor produkksi secara total atau dari progre teknologi hanya menyumbang 10 % hingga 50 %
(nafziger, 1997).

Dalam kelompok teori modern, faktor-faktor produksi yang dianggap sama krusialnya tidak hanya
tenaga kerja dan modal, tetapi juga perubahan teknologi (yang terkandung di dalam barang modal),
energi, entrepreneurship, bahan baku, dan material. Selain itu, faktor-faktor lain yang oleh teori-teori
modern juga dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi adalah ketersediaan dan
kondisi infrastruktur hukum serta peraturan (the rule of law), stabilias politik, kebijakan pemerintah
(yang antara lain dicerminkan oleh besarnya pengeluaran pemerintah), birokrasi, dan dasar tukar
international (terms of trade). Pentingnya faktor-faktor ini terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat
pada kasus Afrika. Banyaknya negara terutama disubsahara Afrika, yang pembanguna ekonominya
mandek. Menurut studi-studi yang ada, terhentinya pembangunan ekonomi di negara-negara tersebut
disebabkan antara lain oleh kualitas sumber daya manusianya yang sangat rendah, politik yang tidak
stabil, defisit keuangan pemerintah, dan keterbatasan infrastruktur.

Dilihat dari kerangka pemikiran kelompok teori modern mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan, ada sejumlah perbedaan yang mendasar denga kelompok neoklasik. Diantaranya adalah
yang mencakup tenaga kerja, kapital (barang modal), dan kewirausahaan. Dalam hal tenaga kerja, dalam
kelompok teori modern aspek kualitasnya menjadi lebih penting daripada aspek kuantitasnya. Aspek
kualitas tenaga kerja tidak hanya dilihat dari tingkat pendidikan, tetapi juga kondisi kesehatannya.
Sekarang ini tingkat pendidikan dan kondisi kesehatan dua variabel bebas yang penting dalam analisis
empiris dengan pendekatan ekonometris mengenai pertumbuhan ekonomi. Tingkat pendidikan
biasanya diukur dengan persentase tenaga kerja yang berpendidikan tinggi terhadap jumlah tenaga
kerja atau penduduk yang terdaftar dalam suatu tingkat pendidikan tertentu, misalnya pendidikan dasar
(primary school enrollment), sedangkan tingkat kesehatan umumnya diukur dengan tingkat harapan
hidup (life expectancy). Demikian juga halnya dengan kapital, kualitasnya (yang mencerminkan progres
teknologi) lebih penting daripada kuantitasnya (akumulasi kapital). Juga kewirausahaan, termasuk
kemampian seseorang untuk melakukan inovasi, merupakan salah satu faktor krusial bagi pertumbuhan
ekonomi.

https://www.google.co.id/amp/s/agamns.wordpress.com/2017/06/12/pertumbuhan-ekonomi-dalam-
agregat-demand-dan-supply/amp/