Anda di halaman 1dari 2

1. a.

jenis perwalian anak menurut huss (2014) dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
1. perwalian tunggal (sole custody)  jenis perwalian ini memberikan
kewenangan kepada salah satu orang tua (pihak ayah/ibu) untuk menjadi
wali anak secara penuh.
2. perwalian terpisah (divided custody)  memberikan kewenangan kepada
kedua belah pihak untuk mengasuh anak pada kurun waktu yang berbeda,
missal 1 tahun pertama ersama ayah, tahun berikutnya bersama ibu dan
seterusnya.
3. perwalian terbagi (split custody)  memberikan kewenangan kepada
masing-masing pihak orang tua yang memiliki lebih dari satu anak untuk
mengasuh anak secara terbagi. Co: ibu jadi wali anak cewe ayah wali anak
cowo.
4. perwalian bersama (joint custody)  memberikan kewenangan kpd ortu
untuk bersamasama ngasuh anak
berdasarkan tanggung jawab :
1. perwalian fisik  mencakup tanggung jawab wali untuk memberi perawatan
fisik (makan minum, jaminan kesehatan)
2. perwalian legal  mencakup tanggung jawab legal anak yang berhubungan
dengan orang tua. (biaya sekolah/rumah sakit)
b. peran psikolog forensic dlm menangani kasus hak asuh anak
a. konselor pernikahan  berusaha mencari solusi dari permasalahan yang
dialami sehingga pasangan tidak memiliki niat perceraian kembali
b. mediator  upaya alternative sblm proses litigasi dimulai. Psikolog
memberikan gambaran mengenai kehidupan pasca perceraian dan
implikasinya pada keadaan psikologis masing-masing pihak dan pihak lain
yg terlibat khususnya anak.
c. terapis anak -> anak mengalami trauma, peran psikolog yaitu
menanggulangi dan membuat trauma yang anak miliki tidak terus
berkembang.
d. evaluator persidangan  psikolog yang terlibat dalam mediasi biasanya
diberikan kesempatan dalam hal evaluasi. Evaluasi persidangan ini
membantu hakim dalam membuat keputusan mengenai keputusan
bercerai hingga hak asuh anak.
e. saksi ahli  memberi kesaksian dan membela salah satu pihak dlm
persidangan. Memberikan kesaksian mengenai dampak2 psikologis dari
berbagai alternative keputusan yg diambil.
f. Peneliti  proses mental tiap pihak yang terlibat dicatat

2. a. autopsy psikologis  metode investigasi yang dilakukan oleh psikolog forensic


untuk menentukan modus kematian (mode of death) yang bersifat samar-samar.
Tiga pertanyaan mendasar yang harus terjawab dalam proses otopsi psikologis yaitu
mengapa seseorang melakukan hal tersebut? bagaimana dan kapan seseorang itu
mati? Apa modus kematian yang paling mungkin terjadi?
3 jenis situasi yang mejelaskan entingnya otopsi psikologis:
- kebutuhan utnuk menentukan bahwa seseorang yang telah meninggal
memiliki kapasitas yang tepat untuk membuat wasiat
- pada kasus kompensasi kerja, pekerja yang meninggal bisa saja ditengarai
oleh beban kerja yang terlalu berat dimana beban ini berkontribusi bagi
kematian pekerja tsb
- dalam kasus2 keiminal, kesaksian bahwa seorang pembunuh melakukan
pembunuhan sebagai upaya perlindungan diri sehingga mengorbankan
nyawa seseorang.
b. sumber yang dapat digunakan  Sumber yang paling umum adalah data
wawancara yang diperoleh dari keluarga dan teman-teman almarhum,
mengumpulan sejarah medis dan catatan medis, dan sejumlah data-data penting
dari kehidupan almarhum. Beberapa informasi yang dikumpulkan biasanya
meliputi: informasi biografis (umur, status perkawinan, pekerjaan); informasi
pribadi (hubungan, gaya hidup, penggunaan alkohol/narkoba, sumber stres); serta
informasi sekunder (riwayat keluarga, catatan polisi, buku harian).

3.