Anda di halaman 1dari 17

PRA RANCANGAN PABRIK SODIUM TRIPOLYPHOSPHATE

METODE DUA TAHAP DENGAN KAPASITAS


97000 TON/TAHUN

Disusun oleh:

RAFII IRFAN SUBARDI (3335150020)


RHOMA DHIANAH (3335150032)

JURUSAN TEKNIK KIMIA - FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dewasa ini tengah memasuki era globalisasi dalam segala bidang
yang menuntut tangguhnya sektor indurstri dan bidang-bidang lainnya yang saling
menunjang. Hal ini tentu memacu kita untuk meningkatkan daya tahan
perekonomian nasional serta harus melakukan terobosan-terobosan baru sehingga
produk yang dihasilkan mempunyai daya saing, efektif, dan efisien.
Produk yang dibutuhkan sekarang ini yaitu sodium tripolyphosphate
(STPP) yang merupakan salah satu produk turunan dari fosfat yang memiliki
rumus molekul Na5P3O10. Sodium tripolyphosphate (STPP) banyak digunakan
dalam skala besar sebagai komponen produk rumah tangga dan industri. STPP
juga digunakan sebagai builder dalam pembuatan detergen, dan dapat digunakan
secara aman sebagai bahan aditif yang banyak digunakan untuk meningkatkan
kualitas makanan, terutama produk daging dan ikan. Sebagai builder dalam
detergen dan bahan aktif makanan kebutuhan STPP diperkirakan akan terus
meningkat seiring tingginya pertumbuhan konsumsi perkapita maupun
pertambahan penduduk.
Tingginya kebutuhan sodium tripolyphosphate harus diimbangin dengan
produksinya, sehingga kebutuhan dapat terpenuhi. Banyaknya permintaan dari
dalam negeri belum diimbangi dengan ketersediaan sodium tripolyphosphate
sehingga Indonesia masih mengimpornya dari berbagai Negara. Hanya ada satu
pabrik yang membuat sodium tripolyphosphate di Indonesia yaitu PT.Petrocentral
yang terletak di Gresik, Jawa Timur dengan kapasitas produksi terpasang 50.000
ton/tahun (Nina Febriantina,2016). Sehingga, di Indonesia senyawa sodium
tripolyphosphate memiliki prospek fyang baik untuk dikembangkan, baik ditinjau
dari potensi bahan baku maupun pasarnya. Sehingga sangat tepat apabila di
Indonesia didirikan pabrik Sodium Tripolyphosphate (STPP).
1.2 Penentuan Kapasitas Pabrik
Tujuan dari pendirian pabrik ini adalah untuk mendapatkan produk yang
mampu bersaing di pasaran. Oleh karena itu, salah satu faktor yang harus
diperhatikan adalah kapasitas pabrik. Kapasitas produksi dapat diartikan sebagai
jumlah output yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu. Hal ini
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan Sodium Tripolyphosphate (STPP) dalam
negeri dan meningkatkan jumlah ekspor. Penentuan kapasitas produksi yang akan
dibangun ini ditinjau dari beberapa pertimbangan, yaitu :
1. Analisa pasar
2. Kapasitas perancangan
3. Ketersediaan bahan baku
1.2.1 Analisa Pasar
Analisis pasar merupakan langkah untuk mengetahui seberapa minat pasar
terhadap suatu produk. Adapun analisis pasar meliputi data impor, data ekspor,
data konsumsi, dan data produksi Sodium tripolyphosphate.
 Data Impor
Kebutuhan Sodium tripolyphosphate dalam negeri masih dicukupi melalui
impor dan produksi dalam negeri. Perancangan pabrik ini berorientasi pada
pemenuhan kebutuhan Sodium tripolyphosphate dalam negeri sehingga dapat
mengurangi nilai impor.
Berikut ini data impor Sodium tripolyphosphate di Indonesia pada beberapa
tahun terakhir.
Tabel 1. Data Impor Sodium tripolyphosphate di Indonesia
Tahun Kapasitas (Ton)

2010 24404.983
2011 23804.405
2012 15385.453
2013 9809.668
2014 1923.662
2015 15238.228
2016 32333.566
2017 7871.615
2018 11841.471
(Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 – 2018)

Data Impor
40000
y = -978.79x + 2E+06
Kapasitas (Ton)

30000 R² = 0.08

20000

10000

0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Tahun

Gambar 1. Grafik Impor Sodium tripolyphosphate di Indonesia


Berdasarkan Gambar 1 dari regresi diperoleh persamaan :
y = -978.79x + 2000000
Untuk pendirian pabrik pada tahun 2024 diperkirakan kebutuhan impor
Sodium tripolyphosphat mencapai :
y = -978.79x + 2000000
y = -978.79 (2024) + 2000000
y = 18929.04 Ton
Maka proyeksi impor pada tahun 2024 yaitu sebesar 18929.04 Ton/tahun.
 Data Ekspor
Data perkembangan ekspor Sodium Tripolyphosphate pada beberapa tahun
terakhir disajikan sebagai berikut :
Tabel 2. Data Ekspor Sodium tripolyphosphate di Indonesia
Tahun Kapasitas (Ton)

2010 1123.8
2011 3535.607
2012 274.385
2013 95.79
2014 4309.423
2015 444.335
2016 165.31
2017 1616.025
2018 4421.6005
(Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 – 2018)

Data Ekspor
5000 y = 126.05x - 252083
R² = 0.0361
Kapasitas (Ton)

4000
3000
2000
1000
0
2009 2011 2013 2015 2017 2019
Tahun

Gambar 2. Grafik Ekspor Sodium tripolyphosphate di Indonesia


Berdasarkan Gambar 2 dari regresi diperoleh persamaan :
y = 126.05x + 252083
Untuk pendirian pabrik pada tahun 2024 diperkirakan kebutuhan ekspor
Sodium tripolyphosphat mencapai :
y = 126.05x + 252083
y = 126.05 (2024) + 252083
y = 3042.2 Ton
Maka proyeksi ekspor pada tahun 2024 yaitu sebesar 3042.2 Ton/tahun.
 Data Produksi
Produsen tunggal Sodium Tripolyphosphate di Indonesia adalah PT. Petro
Central yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur. Pabrik ini mulai berproduksi pada
tahun 1990. Berikut disajikan data kapasitas produksi Sodium tripolyphosphat di
Indonesia :
Tabel 3. Data produksi Sodium tripolyphosphate di Indonesia
Nama Pabrik Kapasitas (Ton/tahun)

PT Petrocentral 50000
(Sumber : Kementrian Perindustrian,2018)
 Data Konsumsi
Seperti beberapa persenyawaan antara natrium dengan phosphate lainnya,
Sodium tripolyphosphate dapat digunakan antara lain sebagai bahan baku
detergen, zat tambahan dalam makanan seperti pelunak air, bahan disperse pada
keramik, emulsifier, dan deflokulan. Tabel berikut ini melampirkan kebutuhan
Sodium tripolyphosphate.
Tabel 4. Kebutuhan Sodium tripolyphosphate
Deterjen Pengawet Mie Bakso
Makanan Basah
60% 0.50% 0.25% 0.20%
(Sumber : Wiedy Paristya, 2013)
Sodium tripolyphosphate lebih dominan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan deterjen sehingga data konsumsi Sodium tripolyphosphate ditentukan
berdasarkan kapasitas pabrik deterjen di Indonesia.
Tabel 5. Pabrik Deterjen di Indonesia
No Nama Pabrik Kapasitas (Ton/Tahun)
1 PT Unggul Indah Cahaya 270.000
2 Wings Group 100.000
3 Unilever Indonesia 200.000
Total 570.000
(Sumber : Kementrian Perindustrian,2018)
Dari tabel di atas diketahui total produksi deterjen sebesar 570000 ton/tahun,
kebutuhan Sodium tripolyphosphate dalam deterjen adalah :
Kebutuhan = 60% x 570000 ton/tahun
= 342000 ton/tahun
1.2.2 Kapasitas Perancangan
Berdasarkan data impor, data ekspor, data produksi dan data konsumsi
yang ada di Indonesia, kemudian ditentukan besarnya kapasitas produksi. Peluang
pasar untuk Sodium tripolyphosphate dapat ditentukan kapasitas perancangan
pabrik sebagai berikut :
Peluang = Demand – Supply
= (Konsumsi + Ekspor) – (Produksi + Impor)
= (342000 + 3042.2) – (50000 + 18929.04)
= 276113.16 ton/tahun
Dari persamaan di atas, peluang pasar Sodium tripolyphosphate pada tahun
2024 didapat sebesar 276113.16 ton/tahun. Kapasitas pabrik Sodium
tripolyphosphate yang akan didirikan diambil 35% dari peluang kapasitas di
Indonesia sebesar : 35% x 276113.16 = 96639.606 ton/tahun.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka perancangan pabrik Sodium
tripolyphosphate (STPP) ini akan dibangun dengan kapasitas sebesar 97000
ton/tahun.
1.2.3 Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku utama yang digunakan untuk memproduksi Sodium
tripolyphosphate yaitu asam fosfat dan natrium karbonat. Bahan baku asam fosfat
(H3PO4) dapat diperoleh dari PT Petrokimia Gresik dengan kapasitas 400.000
ton/tahun. Sedangkan natrium karbonat (Na2CO3) diperoleh dari PT AKR
Coorporindo Surabaya dengan kapasitas 100.000 ton/tahun.
1.3 Spesifikasi Bahan Baku Dan Produk
1.3.1 Spesifikasi Bahan Baku
Tabel 6 Sifat Fisik dan Kimia Asam Fosfat dan Soda Abu
Sifat Bahan Asam Phosphate Soda Abu
(H3PO4) (Na2CO3)
a. Fisika
Thermofisika :
 Titik Lebur 42,35oC (100% H3PO4) 851oC
21,10 oC (85% H3PO4)
17,50 oC (75% H3PO4)

 Panas spesifik 1,56 Joule/gram 1,56 Joule/gram


Non thermofisika :
 Densitas
1,862 gram/cc (30oC) 2,533 gram/cc (20oC)
1,3274 gram/cc (30o)

 Surface Tension 3,25 dyne/cc (30oC) 2,65 dyne/cc (30oC)

 Viskositas 52,2 cp (25oC) 2,93 cp (25oC)

b. Kimia
 Berat Molekul 98,00 106.00
 Sifat lain  Larut dalam air dan alkohol  Larut dalam air
 pH larutan H3PO4 (1%) = 1,5 dan tidak larut
 Bersifat korosif terhadap logam dalam alkohol dan
besi dan paduannya eter
 Tidak mudah
terbakar dan tidak
beracun
Sumber : Kirk-Othomer, “Encyclopedia of Chemical Technology”, vol.18, 1986.
Perry R.H., & Green D., “Perry Chemical Engineering Handbook”, 6th
ed., 1984.
1.3.2 Spesifikasi Produk
Tabel 7 Sifat Fisik dan Kimia Sodium Tripolyphosphate
Sifat Bahan Sodium Tripolyphosphate (Na5P3O10)
1. Fisika
Thermofisika :
 Titik Lebur 622oC
Non Thermofisika:
 Kelarutan dalam air 14,5 gram pada 100 gram, 25oC
32,4 pada 100 gram, 100oC
 Sifat lain Berbentuk powder (bubuk) dan granular yang
berwarna putih
2. Kimia
 Struktur Molekul

 Berat Molekul 367,93

 pH 9,7 (1% larutan STPP murni)

 Sifat lain Mudah menyerap air untuk membentuk hexahidrat

Sumber : Kirk-Othomer, “Encyclopedia of Chemical Technology”, vol.18, 1986.


Perry R.H., & Green D., “Perry Chemical Engineering Handbook”, 6th
ed., 1984.
1.4 Pemilihan Lokasi Pabrik
Salah satu hal terpenting dalam perencanaan suatu pabrik adalah penentuan
lokasi pabrik (Plant site). Jika suatu pabrik tidak diletakkan pada lokasi yang tepat
secara ekonomis, maka perencanaan proses yang baik dan menguntungkan
sekalipun tidak dapat berjalan tanpa perkiraan yang hati-hati terhadap faktor-
faktor yang mempengaruhi lokasi pabrik yang optimum, suatu pabrik
kemungkinan tidak bisa di operasikan.
Pada dasarnya ada 2 faktor utama yang menentukan dalam pemilihan lokasi
pabrik yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Primer
a. Letak pabrik terhadap pasar
b. Letak pabrik terhadap bahan baku
c. Transportasi
d. Tenaga kerja
e. Sumber air dan tenaga
2. Faktor Sekunder
a. Harga tanah dan gedung
b. Kemungkinan perluasan pabrik
c. Peraturan daerah setempat
d. Keadaan masyarakat setempat
e. Iklim
f. Keadaan tanah
Dengan pertimbangan beberapa faktor tersebut, maka lokasi pabrik
direncanakan didirikan di Gresik, Jawa Timur. Beberapa alasan pemilihan Gresik
sebagai lokasi antara lain :
1. Lokasi di Gresik sangat tepat karena dekat dengan PT Petrokimia Gresik yang
menghasilkan asam phosphate dengan kapasitas 400.000 ton/tahun dan PT
AKR Coorporindo Surabaya yang menghasilkan soda abu (Na2CO3) dengan
kapasitas 100.000 ton/tahun.
2. Lokasi pabrik di Gresik sangat strategis karena dekat dengan pelabuhan
Internasional dan bandara sehingga memudahkan transportasi.
3. Kebutuhan air terpenuhi dari aliran sungai Bengawan Solo dan dekat dengan
tepi laut.
4. Listrik disuplai dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan bahan bakar disuplai
oleh PT Pertamina.
5. Kebutuhan tenaga kerja dapat terpenuhi dari penduduk sekitar.
6. Gresik ditetapkan sebagai kawasan industri sehingga utilitas pabrik serta
kelangsungan proses produksi pabrik tersedia.
7. Dekat dengan pasar yaitu pabrik-pabrik pembuatan detergen seperti Wings
Group dan Unilever.
1.5 Pemilihan Teknologi
Pada proses pembuatan Sodium Tripolyphosphate terdapat 2 teknologi yaitu,
proses satu tingkat dan proses dua tingkat. Bahan baku yang digunakan adalah
H3PO4 (Asam Fosfat) dan Na2CO3 (Soda Abu). Dari semua proses dan
pemilihan bahan baku tesebut untuk mendapatkan kualitas produk yang tinggi,
maka perlu dilakukan seleksi proses.
1.5.1 Macam-macam proses pembuatan Sodium Tripolyphosphate
a. Proses Satu Tingkat
Asam Fosfat CO2
Soda Abu
Reaksi
Larutan Ortofosfat

Gas panas Pengeringan &


Kalsinasi

Kristal STTP

Pendinginan

Penggilingan

Pengepakan

Gambar 3 Blok Diagram Proses Pembuatan STTP Satu Tingkat


Sumber : Efi Indah Sumantri,2010
Asam fosfat 75% direaksikan dengan soda abu yang sudah dilaruntukan di
dalam H2O pada suhu ± 80-90oC. Reaksi tersebut menghasilkan larutan
ortofosfat. Kemudian larutan ortofosfat dikeringkan dan dikalsinasi dalam satu
tahapan pada kalsiner. Dari proses pengeringan dan kalsinasi tersebut, dihasilkan
kristal STTP. Selanjutnya kristal STTP didinginkan, digiling dan kemudian
dilakukan pengepakan/pengemasan.
b. Proses Dua Tingkat
Asam Fosfat
Soda Abu CO2

Reaksi

Larutan Ortofosfat

Gas Panas Pengeringan

Gas Panas Kalsinasi

Kristasl STTP

Pendinginan

Penggilingan

Pengepakan

Gambar 4 Blok Diagram Proses Pembuatan STTP Dua Tingkat


Sumber : Efi Indah Sumantri,2010
Proses dua tingkat ini hampir sama dengan proses satu tingkat, hanya saja
proses pengeringan dan kalsinasi dilakukan dalam tahap yang berbeda. Sedangkan
proses lainnya sama dengan proses satu tingkat.
1.5.2 Analisa Pemilihan Proses
Untuk melakukan pemilihan proses pembuatan STTP yang optimal maka perlu
dilakukan perbandingan kedua proses pembuatan STTP , yaitu sebagai berikut :
Tabel 8 Perbandingan Proses Pembuatan STTP
Uraian Proses Satu Tingkat Proses Dua Tingkat
(Gabungan Dari Proses (Pengeringan
Pengeringan dan Kalsinasi) Dilanjuntukan Kalsinasi)
a. Proses
Konversi Reaksi ± 78% ± 80%
Kemurnian Produk 75-80% 90-95%
b. Operasi
Temperatur 380-500oC 380-500oC
Tekanan 1 atm 1 atm
c. Keuntungan dan Keuntungan Keuntungan
Kerugian  Biaya investasi lebih  Biaya investasi lebih
kecil dan butuh tenaga besar karena memakai
kerja lebih sedikit 2 alat yang berbeda
dan butuh tenaga kerja
Kerugian yang lebih banyak.
 Kontrol proses lebih
sulit, karena hasil Kerugian
pengeringan tidak  Kontrol proses lebih
dapat diamati mudah karena hasil
pengeringan dan
kalsinasi dilakukan
terpisah.
Sumber : Efi Indah Sumantri,2010
STPP dengan kemurnian tinggi dapat dihasilkan dengan pengeringan
ortofosfat dalam rotary dryer. Rotary drayer menguapkan air yang terdapat dalam
larutan ortofosfat sehingga memungkinkan terbentuknya kristal dengan baik,
tetapi kemurnian STPP yang dihasilkan tidak lebih dari 95%. Efisiensi koversi
yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan cara-cara sebagai berikut :
 Menghaluskan kristal ortofosfat yang sudah dikeringkan.
 Kalsinasi dalam kondisi tekanan parsial air yang tinggi.
 Perlakuan lanjut produk yang masih panas dalam uap air pada kondisi
atmosferik.
Proses kalsinasi sendiri dapat didefinisikan sebagai pemanasan padatan
atau slurry sampai temperatur dibawah titik leburnya menjadi bentuk yang terurai
karena panas. Kalsinasi biasanya dilakukan pada suhu antara 380-500oC.
Selain soda abu, soda kaustik juga dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan Sodium Triphosphate. Adapun perbandingan dari kedua bahan baku
tersebut dapat dilihat pada tabel 9 berikut :
Tabel 9 Perbandingan Bahan Baku Untuk Proses Pembuatan STPP
Bahan baku asam
Bahan baku asam
Kriteria phosphate dan soda
phosphate dan soda abu
kaustik.
1. Aspek teknis
a. Proses
 Konversi Reaksi 80% 60%
 Kemurnian Produk 90-95% 70-75%
b. Operasi
 Temperatur 80-90oC 80-90oC

 Tekanan 1 atm 1 atm

2. Aspek Ekonomi
 Hasil samping CO2 (dapat dijual) Tidak ada

 Harga bahan baku Relatif murah (Na2CO3) Lebih mahal (NaOH)


Sederhana Lebih Kompleks
 Peralatan
Sumber : Efi Indah Sumantri,2010
Salah satu cara melihat apakah suatu perancangan pabrik mengalami
keuntungan atau kerugian dapat dilihat dari gross profit margin (GPM). Berikut
ini perbandingan gross profit margin dari 2 teknologi dengan menggunakan bahan
baku yang berbeda :
 Teknologi 1
Bahan baku : H3PO4 dan Na2CO3
 Tahapan reaksi
Reaksi 1 :
3H3PO4 + 5Na2CO3 NaH2PO4 + 2Na2HPO4 + 5CO2 + 5H2O
Reaksi 2 :
NaH2PO4 + 2Na2HPO4 Na5P3O10 + 2H2O
 Harga bahan baku
Senyawa $ BM $/lb Purity Sumber
H3PO4 770/ton 97,99 0,349/lb 85% www.alibaba.com
Na2CO3 230/ton 105,98 0,104/lb - www.alibaba.com
CO2 4/ton 44 4/lb 99% www.stoodyind.com
Na5P3O10 1000/ton 367,864 0,167/lb 94% www.alibaba.com
 Produksi (+) konsumsi (-)
Rx H3PO4 Na2CO3 NaH2PO4 Na2HPO4 Na5P3O10 CO2 H2O
1 -3 -5 +1 +2 - +5 +5
2 - - -1 -2 +1 - +2
Total -3 -5 0 0 +1 +5 +7
 Reaksi Net :
3H3PO4 + 5Na2CO3 Na5P3O10 + 5CO2 + 7H2O
 GPM
Senyawa BM $/lb $/g mol g mol Jumlah ($)
H3PO4 97,99 0,349 34,198 -3 -102,594
Na2CO3 105,98 0,104 11,022 -5 -55,11
CO2 44 4 176 +5 +880
Na5P3O10 367,864 0,167 61,433 +1 +61,433
Jumlah $ 783,729
 Teknologi 2
Bahan baku : H3PO4 dan NaOH
 Tahapan Reaksi
Reaksi 1 :
3H3PO4 + 5NaOH NaH2PO4 + 2Na2HPO4 + 5H2O
Reaksi 2 :
NaH2PO4 + 2Na2HPO4 Na5P3O10 + 2H2O
 Harga NaOH : $500/ton = $0,227/lb (purity 99% ; www.alibaba.com)
 Tabel Produksi (+) Konsumsi (-)
Reaksi H3PO4 NaOH NaH2PO4 Na2HPO4 Na5P3O10 H2O
1 -3 -5 +1 +2 - +5
2 - - -1 -2 +1 +2
Total -3 -5 0 0 +1 +7
 Reaksi nett :
3H3PO4 + 5NaOH Na5P3O10 + 7H2O
 GPM
Senyawa BM $/lb $/gmol g mol Jumlah ($)
H3PO4 97,99 0,349 34,198 -3 -102,594
NaOH 39,99 0,227 9,077 -5 -45,385
Na5P3O10 367,864 0,167 61,433 +1 +61,433
Jumlah $ -86,549
Dari perbandingan antara proses, bahan baku, dan analisa gross profit
margin (GPM) dipilih proses dua tingkat dimana pengeringan dan kalsinasi
terpisah serta menggunakan bahan baku dari asam fosfat (H3PO4) dan soda abu
(Na2CO3).

1.5.3 Uraian Proses Yang Digunakan

Proses yang digunakan pada perancangan ini yaitu metode dua tahap.
Adapun uraiannya sebagai berikut. Abu Soda (Na2CO3) solid yang bersuhu
lingkungan (30oC) diangkut menuju ke bin hopper untuk penampungan
sementara dan menjaga agar aliran kontinyu, diangkut ke mixer dengan bucket
elevator dan di mixer abu soda dicampur dengan air agar jenuh lalu produk hasil
campuran ini meningkat suhunya sekitar 100oC dan dialirkan ke bin
penampung untuk menjaga aliran kontinyu dan dilanjuntukan lagi ke reaktor.
Sebelum masuk reaktor terjadi penyesuaian suhu sebelum masuk, oleh karena
itu larutan abu soda tsb dipompakan menggunakan rotary
pump menuju cooler untuk menurunkan suhunya sampai mendekati suhu
reaktor (90 oC). Cooler menggunakan media pendingin air dari utilitas dan
sesudah itu larutan menuju ke reaktor. Bersamaan dengan ini Asam Phospat
(H3PO4) cair yang bersuhu sekitar 30 oC dipompakan menggunakan centrifugal
pump menuju reaktor dan sebelum masuk reaktor suhu disetarakan terlebih
dahulu dan dibutuhkan heater sehingga suhu keluaran nantinya mendekati 90
o
C. Heater menggunakan media steam sebagai pemanas. Di reaktor keduanya
bereaksi dan eksotermis serta menghasilkan gas CO2. Produk yang terbentuk
disebut larutan ortofosfat. Ortofosfat keluar dari reaktor dan masuk ke bin
penampung kemudian ke clarifier untuk dihilangkan pengotornya seperti pasir.
Ortofosfat yang murni dipompa dg rotary pump ke spray dryer, spray dryer
menggunakan kompresi udara yang dipanaskan menggunakan heater untuk
media pemanas, disini ortofosfat agak mulai mengering, diatasnya
terdapat cyclone untuk memisahkan butiran yang terikut. Ortofosfat yang keluar
mendekati suhu 210 oC. Ortofosfat dikeringkan lebih lanjut di rotary kiln, rotary
kiln menggunakan furnace untuk media pemanas dan furnace menggunakan
propana dan butana sebagai bahan bakarnya, kemudian
menggunakan kompresor untuk membawanya menuju rotary kiln dengan suhu
keluaran 500 oC. Diatasnya juga terdapat cyclone untuk mengembalikan butiran
yg terikut. Disini sudah mulai terbentuk kristal dan suhu keluaran sekitar 450 C
dan untuk menjadikan kristal yang bagus maka didinginkan di grate cooler,
grate cooler menggunakan udara yang dikompresi untuk media pendingin.
Diatasnya juga terdapat cyclone untuk memisahkan butiran yg terikut, kristal
yang keluar bersuhu 40 oC. Kristal ortofosfat yang terbentuk ditampung di bin
penampung dan secara kontinyu masuk ke screw conveyor kemudian ke ball
mill untuk dilakukan penggilingan sesuai ukuran yang diharapkan yaitu 200
mesh. Hasil dari sini di pisahkan di vibrating screen, dimana ukuran yang
terlalu besar akan masuk lagi ke ball mill menggunakan bucket elevator dan
yang kecil masuk ke produk off spec sedangkan yang bagus masuk ke produk on
spec dan dilakukan packaging.