Anda di halaman 1dari 14

RINGKASAN

GENESA DAN POTENSI MINERALISASI EMAS 
 DI SEPANJANG SAYAP


BARAT PEGUNUNGAN BUKIT BARISAN; KASUS DAERAH KOTA
AGUNG DAN SEKITARNYA, LAMPUNG SELATAN

GEOLOGI UMUM

Pulau Sumatera terbentuk akibat tumbukan kerak benua Sundaland dengan kerak
Samudera India-Australia. Tumbukan tersebut berarah N 23° E (Hamilton, 1979).
Laju tumbukan membentuk arah miring 60° dengan jalur tepi Barat kerak Sundaland.
Tumbukan ini mengakibatkan terbentuknya cekungan sunda disebelah barat Pulau
Sumatera (Curray, et.al., 1979), dan cekungan-cekungan sedimentasi di daratan
Sumatera. Tumbukan atau subduksi ini juga memicu terjadinya aktivitas magmatisme
dan volkanisme di Pulau Sumatera sejak Tersier hingga kini. Gaya-gaya tektonik dari
subduksi antara Sundaland dengan India-Australia ini secara periodik telah
menyebabkan terjadinya sesar geser menganan yang membelah sejajar Pulau
Sumatera (Fitch, et.al., 1972). Sesar geser ini menerus hingga sesar transform di
Andaman. Sesar transform ini juga membentuk cekungan-cekungan tarikan (Pull
Apart Basin) di daratan Sumatera. Satuan Geologi daerah Lampung (berdasarkan peta
geologi lembar Lampung dan Tanjung Karang yang diterbitkan oleh P3G, Bandung)
dapat dikelompokkan ke dalam tiga satuan dari tua ke muda masig-masing berumur
Mesozoik, Tersier dan Kuarter. Batuan tertua berumur Pra-Kapur terdiri dari genes,
sekis, kuarsit dan marmer, yang penyebarannya diketahui di sekitar Kompleks
Gunung Kasih, di sebelah timur G. Rindingan, sekitar Talang Padang, Kalirejo dan
Padang Ratu. Singkapan dengan penyebaran yang terbatas ditemui di Panjang,
Pringsewu, Sukaharjo dan Gading Harjo. Batuan terobosan berumur Kapur Atas,
terdiri dari granit dan granodiorit tersingkap di Panjang dan Gunung Kasihan.
Singkapan dengan penyebaran yang terbatas di jumpai di barat Sakai antara
Sukoharjo dan Bumiagung.
Batuan tersier dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :

1. Batuan volkanik terdiri dari Formasi Hulusimpang yang tersebar di sebelah


barat sepanjang lereng pantai barat hingga tanjung di Teluk Semangka.
2. Sedimen Fluvio-marine terdiri dari Formasi Muara Enim yang tersebar di
sebelah timur dan menempati hampir seluruh daerah pengaliran sungai
Mesuji.

Batuan Kuarter terdiri dari tufa, basalt, piroklastik, dan sedimen fluviatil serta
endapan pantai. Tufa yang dijumpai di utara sekitar Tigeneneng, di sekitar
Tanjungkarang berbeda dengan tufa yang tersingkap lebih ke tenggara sepanjang
jalan dari Panjang ke Bakauheni. Tufa Tigeneneng yang penyebarannya menerus ke
utara adalah bagian dari Formasi Kasai. Tufa di Tanjungkarang-Pahoman memberi
kesan sebagai ignimbrit dan adanya flow structure serta terbentuknya kekar meniang
dengan sumbu yang hampir vertikal. Nishimura (1981) melakukan pentarikhan yang
menghasilkan umur 1 (lk. 0.22) juta tahun.

Di sekitar Sukadana ditemui sebaran plateau basalt yang sebagian tersingkap pada
tebing-tebing landai sekitar daerah itu. Hasil pemboran di desa Sribhawono,
Kecamatan Labuhan Maringgai memperlihatkan bahwa ketebalan maksimum basalt
adalah 33.7m dengan susunan yang berlapis-lapis. Perlapisan itu masing-masing pada
selang (4,5-16.4), (16.4-32.2) dan (32.2-33.7) m, dicirikan oleh perbedaan dalam
(lapisan) berongga-rongga, retakan, sisipan tufa dan lempung setebal 40 cm.

Endapan piroklastik berupa breksi, lahar dan tufa, serta lava tersebar di beberapa
kerucut antara lain G. Rajabasa dan Balirang (1281 m), G. Pesawaran (1582 m) dan
Ratai (1681 m), G. Tanggamus (2101 m), Bukit Rindingan (1608 m), G. Sekincau
(1718 m) dan Tangkitahiangan (914 m).
Gambar 1. Peta lokasi pengambilan contoh batuan daerah Kota Agung dan
sekitarnya, Lampung Selatan

Gambar 2. Peta lokasi pengambilan contoh batuan daerah Rajabasa, Lampung


Selatan
Gambar 4 Peta Geologi daerah Kota Agung dan sekitarnya, Lampung Selatan

Gambar 5. Interpretasi citra daerah Kotagung Lampung dan sekitarnya,


Selatan, Lampung
METODE PENELITIAN

1. Pengumpulan data sekunder: publikasi, literatur, peta dasar, peta geologi, dan
citra landsat
2. Membuat peta lokasi/lintasan pengamatan geologi terutama (litologi, alterasi,
mineralisasi, pengukuran arah dan penyebaran urat kuarsa, dan pengukuran
struktur geologi), pengambilan contoh batuan
3. Menganalisis contoh batuan di laboratorium, dan menginterpretasi hasil
penelitian lapangan dan laboratorium.

DATA PETROGRAFI

Batuan-batuan yang tersingkap di daerah penelitian, umumnya adalah anggota dari


Formasi Hulusimpang. Formasi Hulusimpang disusun oleh lava, breksi gunungapi
dan tuf, umumnya telah mengalami proses ubahan, bersusunan andesit-basal, dan
berumur Miosen Awal. 37 contoh batuan telah diambil dan dianalisis, contoh-contoh
batuan tersebut secara petrografi (R.B. Travis, 1955), dapat dibagi menjadi 12
kelompok batuan yaitu basal porfiri (12), andesit porfiri (4), andesit basaltis (4),
andesit hornblende (1), trakit porfiri (2), latit porfiri (1), tufa batuan (3), granit (6),
syenit porfiri (1), diabas (1), dasit porfiri (1) dan perlit (1).
Keterangan foto 2. sayatan tipis batuan basal porfiri :

1. Basal porfiri, porfiritik dan hipokristalin, menunjukan fenokris olivin,


piroksen dan plagioklas, lokasi Tamiyang.
2. Basal porfiri, menunjukan tekstur glomeroporfiritic, fenokris olivin, piroksen
dan plagioklas, lokasi Sukadana.

Andesit porfiri ditunjukkan oleh contoh LP 02A/KTP, LP 06 C/GR, LP 12B,


LP 13 F/WKR (Foto 3). Andesit porfiri bertekstur porfiritik dan hipokristalin, disusun
oleh fenokris plagioklas (20-34%), piroksen (2-4%), kfelspar (LP 13F/ WKR, 14%),
hornblende (LP 13F/ WKR, 5%), dan kuarsa (LP 13F/ WKR 2%). Fenokris-fenokris
tersebut tertanam dalam masadasar mikrolit plagioklas (10-48%) dan gelas (0-5%),
mikrogranular kuarsa (LP 13F/ WKR, 5%) dan mikrolit k-felspar (LP 13F/WKR,
4%) dan kristalit (LP 12B, 20%). Batuan telah mengalami proses ubahan yang
dicirikan oleh kehadiran kelompok mineral ubahan klorit (4-8%), karbonat (7-10%),
epidot (35%, LP 02 A/KTP), mineral lempung (5%, LP 13F/ WKR), silika (3-5%),
gelas/vitrifikasi (4%) dan bijih (2-8%).

Keterangan foto 3, Sayatan tipis batuan :

1. Andesit, porfiritik, hipokristalin, fenokris plagioklas


2. Granit, panaritik dan holokristalin, fenokris k felspar, biotit, hornblende
dan mineral bijih.
Lithic tuff ditunjukkan oleh contoh LP 04A/KTB, LP 07/SKP, dan LP 13A/SKP.
Batuan berbutir sedang-kasar, sedangkan untuk LP 04A/KTB batuan berbutir halus-
sedang; terpilah buruk dan kemas terbuka. Batuan disusun oleh fragmen plagioklas
(6-14%), kuarsa (1-2%), piroksen (1%, LP 04/KTB), fragmen batuan beku (32-58%)
dan tufa (9-11%) yang tertanam dalam matriks gelas (18%, LP 07/SKP) dan mineral
lempung (17-27%). Batuan telah mengalami proses alterasi yang dicirikan oleh
kelompok mineral ubahan epidot (0-15%), silika (0-8%), dan bijih (1-3%).

Keterangan foto 4. Sayatan tipis batuan :

1. Batuan diabas, diabasik, plagioklas intergroth dalam masadasar piroksen


2. Fragmen kristal dan batuan tertanam dalam masadasar gelas

KIMIA BATUAN

Tabel 1. Hasil analisis unsur utama sampel dari daerah penelitian Lampung.
Tabel diatas menunjukkan bahwa sampel batuan tersebut dikoleksi dari lokasi yang
berbeda-beda, terutama tersebar di kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan. Semua
sampel, kecuali sampel dari lokasi Sukadana dan Rajabasa, secara umum baik pada
peta geologi yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
(P3G) Bandung, maupun dari publikasi yang diterbitkan, diklasifikasikan sebagai
Formasi Hulusimpang. Formasi ini banyak disebut-sebut sebagai formasi yang
hampir selalu berasosiasi dengan mineralisasi emas di pulau Sumatera.

ALTERASI BATUAN

Gejala alterasi batuan di daerah Kab. Lampung Selatan dan sekitarnya dapat diamati
di desa Guring, Ketapang, Sekampung, Gisting, Way Kerap, Ulu Semung; Rajabasa.
Gejala-gejala alterasi tersebut ditunjukkan oleh batuan ubahan basal-andesit, andesit
hornblende, latit, trakit, granit porfiri, syenit, diabas, dasit, dan tufa batuan. Pada
umumnya secara megaskopis mineral ubahan yang dominan pada setiap batuan
adalah klorit, karbonat, epidot, serisit, silika dan mineral lempung.

ANALISIS GEOKIMIA

Dalam usaha mendapatkan karakter kimia batuan-batuan Formasi Hulusimpang ini


dan kaitannya dengan indikasi mineralisasi emas yang terdapat, maka sifat-sifat kimia
batuan ini akan dicoba didekati melalui unsur utama, jejak dan REE-nya.

1. Unsur Utama (major elements)


Berdasarkan kandungan SiO2-nya, batuan-batuan Formasi Hulusimpang ini
memiliki komposisi berkisar dari basalt hingga dasit dengan kisaran
kandungan silika dari 51%berat hingga 65%berat. Sementara itu, sampel dari
Sukadana jelas berkomposisi basalt dengan SiO2 sekitar 51%berat, sedangkan
sampel dari Gunung Rajabasa memiliki komposisi andesit dengan SiO2
sekitar 57% hingga 58%berat.
Secara umum, sampel yang dikoleksi dari Lampung ini masih dalam kondisi
baik atau segar, hanya 1 sampel dari desa Cukuh Pandan/Ketapang yang
memiliki kondisi relatif sudah terubah atau tidak segar lagi. Tingkat kesegaran
sampel ini ditunjukkan oleh nilai LOI (Lost On Ignition) yang bila semakin
tinggi akan menunjukkan tingkat ubahan yang semakin tinggi pula. Batuan
yang terubah ini bila di plot dalam diagram Harker akan memperlihatkan
penyimpangan dari trend yang ditunjukkan oleh batuan yang segar. Semua
sampel ini kemudian di plot dalam diagram Harker seperti Gambar dibawah
ini.
Gambar 7. Diagram Harker dari sampel batuan Lampung yang
memperlihatkan suatu trend fraksinasi terutama pada batuan Formasi
Hulusimpang dan Rajabasa, sedangkan batuan dari Sukadana jelas
menunjukkan trend yang berbeda.

Hasil plot semua sampel dalam diagram Harker memberikan distribusi titik seperti
pada Gambar 1. diatas. Batuan Formasi Hulusimpang menunjukkan suatu trend
fraksinasi yang cukup jelas terutama pada unsur-unsur oksida yang relatif stabil atau
relatif immobile seperti Al2O3, Fe2O3 dan TiO2. Tetapi pada unsur-unsur oksida
yang relatif rentan terhadap perubahan kimia seperti MgO dan CaO, ternyata trend
tersebut juga masih dapat dideteksi dengan jelas. Pada kelompok unsur alkali, Na2O
menunjukkan trend yang positif dimana terdapat kenaikan sodium dengan
meningkatnya SiO2. Pola ini juga terlihat pada unsur K atau potassium, kecuali untuk
satu sampel Formasi Hulusimpang yang berkomposisi dasit, yakni sampel LP-
13/WKR yang dikoleksi dari Way Kerap. Adanya penyimpangan ini agaknya terkait
dengan terjadinya pengayaan akan unsur P pada sampel tersebut. Fosfat termasuk
unsur kompatibel yang akan terpisah dari larutan dan masuk kedalam fasa padat pada
awal fraksinasi, sehingga dengan bertambahnya kandungan SiO2, unsur ini harusnya
mengalami penurunan konsentrasi, tetapi pada sampel tersebut kandungan fosfatnya
mencapai 0.32%berat, sama dengan batuan basalt dari Ulu Semung (LP11C-LP-12C).

2. Unsur Jarang (Rare Earth Elements)


Sebagai unsur yang terdapat dalam jumlah sangat sedikit di alam, unsurunsur
ini juga memiliki sifat kompatibel dan inkompatibel. Unsur yang terdapat
dalam jumlah relatif banyak, yakni unsur Light Rare Earth Elements (LREE)
dengan nomor atom kecil memiliki kompatibilitas yang lebih rendah
dibandingkan dengan unsur Heavy Rare Earth Elements (HREE) dengan
nomor atom besar. Karena itu, semakin besar nomor atomnya, maka unsur itu
akan semakin bersifat kompatibel. Unsur yang dipakai dalam karakterisasi
batuan berdasarkan unsur jarang ini adalah La, Ce, Pr, Nd, Sm, Eu, Gd, Tb,
Dy, Ho, Er, Tm, Yb dan Lu. Kandungan unsur-unsur ini di plot kedalam
diagram REE setelah dinormalisasikan dulu dengan menggunakan formula
dari Taylor dan McLennan (1985). Normalisasi ini menghasilkan angka yang
merepresentasikan rasio atau perbandingan kandungan unsur tersebut di
dalam batuan dengan chondrite. Setiap batuan yang berasal dari sumber
magma yang sama akan menunjukkan pola diagram REE yang sama. Walau
terjadi perbedaan dalam konsentrasi unsur-unsur yang dikandungnya, namun
rasio antara La/Lu akan relatif sama. Sebaliknya bila pola diagram REE ini
berbeda atau bahkan saling memotong maka dapat dipastikan bahwa batuan-
batuan tersebut berasal dari sumber magma yang berbeda. Hasil plot batuan
dari daerah penelitian Lampung ini dalam diagram REE diberikan pada
Gambar dibawah ini.
Gambar 8 Diagram REE dari sampel batuan daerah penelitian Lampung yang
menunjukkan adanya 2 pola diagram yang berbeda pada Formasi Hulusimpang
dan pola tersendiri untuk sampel Sukadana dan Tamiyang.

Pola diagram REE sampel dari Sukadana dan Tamiyang menunjukkan pola yang
sama dengan tingkat atau derajat fraksinasi yang sama. Ini mengungkapkan bahwa
basalt dari daerah Tamiyang merupakan produk yang berasal dari magma yang sama
dengan basalt di Sukadana. Pola diagram batuan ini mengindikasikan bahwa sumber
magmanya mengalami pemiskinan (depleted) akan unsur kompatibel (HREE) dan
sedikit mengalami pengayaan akan unsur inkompatibelnya (LREE). Tetapi pola ini
berbeda dengan batuan atau sampel dari Lebong Tambang Bengkulu yang membawa
mineralisasi emas dimana pola diagram REE-nya memperlihatkan pemiskinan yang
signifikan dalam HREE mulai dari unsur Eu. Sedangkan batuan Sukadana dan
Tamiyang menunjukkan pemiskinan akan unsur HREE mulai dari unsur Tb.
Gambar 9. Hasil plot batuan volkanik daerah Lampung dalam diagram Y
versus Nb/Zr*100 yang menunjukkan bahwa semua batuan tersebut
diklasifikasikan sebagai produk volkanik lingkungan busur belakang (backarc-
side).

Tabel diatas memperlihatkan bahwa batuan Formasi Hulusimpang dan Rajabasa yang
berasal dari tipe magma kaya LREE, cenderung memiliki konsentrasi Cu (lebih kecil
dari 27 ppm) dan Co (lebih kecil dari 19 ppm) yang relatif rendah. Tetapi apakah pola
ini sesuatu yang unix atau hanya sebuah kebetulan, masih perlu dibuktikan dengan uji
statistik lebih jauh. Sementara itu, tidak terlihat adanya korelasi yang jelas antara
konsentrasi Zn dan Pb dengan jenis magma asal. Batuan basalt dari Sukadana dan
Tamiyang menunjukkan pola yang konsisten dimana mereka relatif kaya akan Cu, Zn
dan Co, tetapi sangat miskin akan logam Pb.
Tabel 3. Konsentrasi logam dasar dari sampel daerah Lampung

KESIMPULAN

Batuan daerah Kota Agung, Pekondoh, Kab. Lampung Selatan terbagi menjadi 3
kelompok besar yaitu :

1. Batuan asam terdiri dari granit, dasit dan perlit


2. menengah terdiri dari andesit, latit, trakit
3. Batuan basa terdiri dari basal, diabas. Selain itu ditemukan batuan tufa.

Mineral ubahan yang terbentuk pada batuan volkanik dan intrusiv adalah klorit,
karbonat, epidot, serisit, silika, dan mineral lempung dengan intensitas yang
bervariasi Tipe mineralisasi yang terbentuk adalah Epithermal bersulfida rendah.
Batuan volkanik yang dapat membawa mineralisasi emas adalah batuan yang
berasal dari magma yang mengalami pengayaan akan Light Rare Earth Elements
(LREE > 40). Hal ini berbeda dengan hasil tahun 2003 yang menunjukkan bahwa
batuan volkanik yang membawa mineralisasi memperlihatkan pemiskinan (depleted)
akan HREE. Pola diagram REE khususnya batuan Fomasi Hulusimpang yang
dianggap membawa mineralisasi emas dan logam dasar berasal dari dua sumber
magma yang berbeda. Batuan volkanik tersebut dalam posisi tektonik terletak pada
sisi busur belakang (Back arc side).