Anda di halaman 1dari 34

REFARAT

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK TIPE BENIGNA

Penyaji :
Nanda Reza Javanda 140100145
Febriana Rahmadani 140100162

Pembimbing :
dr. M. Pahala Hanafi Harahap, M.Ked (ORL–HNS), Sp. T.H.T.K.L (K)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA LEHER (THT-KL)
RSUP HAJI ADAM MALIK / RS USU
MEDAN
2019
ii

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dibacakan tanggal :

Nilai :

PEMBIMBING

dr. M. Pahala Hanafi Harahap, M.Ked (ORL–HNS), Sp. T.H.T.K.L (K)


iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yng Maha Esa, yang telah memberikan
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan refarat dengan
judul “Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna”.
Penulisan refarat ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan
Kepanitraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher, Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan
dalam penyusunan laporan kasus ini sehingga dapat selesai tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa penulisan refarat ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam penulisan
laporan kasus selanjutnya. Semoga dengan penulisan refarat ini dapat bermanfaat
bagi penulis dan juga pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 19 Juni 2019

Penulis
iv

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ii


KATA PENGANTAR ......................................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vi
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................... 2
1.3 Manfaat ............................................................................................. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 3
2.1 Anatomi Telinga Tengah .................................................................. 3
2.2 Fisiologi Pendengaran ..................................................................... 18
2.3 Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) ......................................... 18
2.3.1 Defenisi dan Klasifikasi ........................................................ 18
2.3.2 Etiologi ................................................................................. 18
2.3.3 Patogenesis ............................................................................ 21
2.3.4 Gejala Klinis .......................................................................... 21
2.3.5 Diagnosis ................................................................................. x
2.3.6 Diagnosis Banding .................................................................. x
2.3.7 Tatalaksana .............................................................................. x
2.3.8 Komplikasi .............................................................................. x
2.3.9 Prognosis ................................................................................. x
BAB 3 KESIMPULAN ..................................................................................... x
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... x
v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Telinga .............................................................................. 3


Gambar 2.2 Anatomi Membran Timpani ............................................................ 4
Gambar 2.3 Proses Pendengaran ......................................................................... 18
Gambar 2.4 Tipe-tipe Perforasi pada OMSK Benigna ........................................ 19
Gambar 2.5 Tipe-tipe Perforasi pada OMSK Malignan ...................................... 20
vi

DAFTAR TABEL

Gambar 2.1 Tipe-tipe Perforasi pada OMSK Malignan ...................................... 20


1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari
2 bulan dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga
tengah dapat terus menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer atau kental,
bening atau berupa nanah.1 Otitis media supuratif kronik di dalam masyarakat
Indonesia dikenal dengan istilah congek atau telinga berair. Kebanyakan penderita
OMSK menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang biasa dan nantinya
akan sembuh sendiri.2

Penyakit ini dianggap sebagai penyebab tersering dari gangguan


pendengaran persisten ringan hingga sedang diantara anak-anak dan orang muda.
Sekitar 164 juta kasus gangguan pendengaran diakibatkan oleh otitis media
supuratif kronik dan 90% diantaranya terjadi di negara berkembang5. Prevalensi
otitis media supuratif kronis di seluruh dunia sekitar 65 sampai dengan 330 juta
orang, terutama di negara berkembang, dimana 39 sampai dengan 200 juta orang
(60%) menderita penurunan fungsi pendengaran secara signifikan.3

Insiden otitis media supuratif kronik bervariasi di setiap negara


berkembang. Secara umum, insiden dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ras
dan faktor sosioekonomi. Kehidupan sosioekonomi yang rendah, lingkungan
kumuh dan status kesehatan serta gizi yang buruk merupakan faktor resiko yang
mendasari peningkatan prevalensi OMSK di negara berkembang.4,5

Otitis media supuratif kronik terbagi atas dua bagian berdasarkan ada
tidaknya kolesteatom yaitu OMSK benigna dan maligna. OMSK benigna
merupakan proses peradangan yang terbatas pada mukosa, tidak mengenai tulang,
peforasi terletak di sentral, dan tidak terdapat kolesteatom. Umumnya tipe ini
jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. OMSK maligna merupakan
peradangan disertai kolesteatom dan perforasi membran timpani biasanya terletak
2

di marginal atau atik. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya dapat timbul
pada tipe ini.2

Otitis media supuratif kronik dapat terjadi dari otitis media akut yang
terlambat dalam pemberian terapinya, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman
yang tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau higiene yang
buruk.1

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan refarat yang berjudul “Otitis Media Supuratif Kronis
Tipe Benigna” ini antara lain:
1. Tujuan penulisan refarat ini adalah untuk memahami tinjauan ilmu teoritis
tentang otitis media supuratif kronik tipe benigna
2. Menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik senior di Departemen Telinga
Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher RSUP H. Adam Malik Medan.

1.3 Manfaat
Refarat ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan, baik
bagi penulis maupun pembaca terkait dengan otitis media supuratif kronis tipe
benigna, serta dapat menjadi sumber referensi untuk makalah selanjutnya.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah terdiri dari, Membran timpani, Kavum timpani, Prosesus
mastoideus, dan Tuba eustachius.6

Gambar 2.1 Anatomi Telinga Tengah7

2.1.1.Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang vertikal
rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm, ketebalannya
rata-rata 0,1 mm.6
4

Gambar 2.2 Anatomi Membran Timpani7

Letak membrana timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan
tetapi miring yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut
450 dari dataran sagital dan horizontal. Membrana timpani merupakan kerucut,
dimana bagian puncak dari kerucut menonjol kearah kavum timpani, puncak ini
dinamakan umbo. Dari umbo kemuka bawah tampak refleks cahaya (none of
light).5
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu:6
1. Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
2. Stratum mukosum (lapisan mukoss) berasal dari kavum timpani.
3. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum
dan mukosum.

Lamina propria yang terdiri dari dua lapisan anyaman penyabung elastis
yaitu:6
1. Bagian dalam sirkuler
2. Bagian luar radier
5

Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian :


1. Pars tensa
Merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang
tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada
sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.6

2. Pars flasida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih
tipis dari pars tensa dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu:6
 Plika maleolaris anterior ( lipatan muka).
 Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang).
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang
dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus
ini dan bagian ini disebut insisura timpanika ( Rivini). Permukaan luar dari
membrana timpani disarafi oleh cabang n. aurikulo temporalis dari nervus
mandibula dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh n. timpani cabang
dari nervus glosofaringeal.6
Aliran darah membrana timpani berasal dari permukaan luar dan dalam.
Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang dalam cabang dari
arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh timpani
anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh stylomastoid cabang dari
arteri aurikula posterior.6

2.1.2.Kavum Timpani
Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal,
bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau
vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm.6
Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding
lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding posterior.6
6

2.1.2.1.Atap kavum timpani


Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani.
Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus
temporalis dari otak. Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang temporal
dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama. Dinding ini hanya
dibatasi oleh tulang yang tipis atau ada kalanya tidak ada tulang sama sekali
(dehisensi).6
Pada anak-anak, penulangan dari sutura petroskuamosa belum terbentuk
pada daerah tegmen timpani, sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran
infeksi dari kavum timpani ke meningen dari fosa kranial media. Pada orang
dewasa bahkan vena-vena dari telinga tengah menembus sutura ini dan berakhir
pada sinus petroskuamosa dan sinus petrosal superior dimana hal ini dapat
menyebabkan penyebaran infeksi dari telinga tengah secara langsung ke sinus-
sinus venosus kranial.6

2.1.2.2.Lantai kavum timpani


Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari
bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum
timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis.6

2.1.2.3.Dinding medial kavum timpani


Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam, ini
juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam. Dinding ini pada
mesotimpanum menonjol kearah kavum timpani, yang disebut promontorium
Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea. Didalam promontorium
terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi saraf-saraf yang membentuk pleksus
timpanikus. Dibelakang dan atas promontorium terdapat fenestra vestibuli atau
foramen ovale (oval windows), bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada
kavum timpani dengan vestibulum, dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan
diperkuat oleh ligamentum anularis. Foramen ovale berukuran 3,25 mm x 1,75
7

mm. Diatas fenestra vestibuli, sebagai tempat jalannya nervus fasialis. Kanalis ini
didalam kavum timpani tipis sekali atau tidak ada tulang sama sekali (dehisensi).6
Fenestra koklea atau foramen rotundum ( round windows), ditutupi oleh
suatu membran yang tipis yaitu membran timpani sekunder, terletak dibelakang
bawah. Foramen rotundum ini berukuran 1,5 mm x 1,3 mm pada bagian anterior
dan posterior 1,6 mm.6
Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum berhubungan satu sama
lain pada batas posterior mesotimpanum melalui suatu fosa yang dalam yaitu
sinus timpanikus. Suatu ruang secara klinis sangat penting ialah sinus posterior
atau resesus fasial yang didapat disebelah lateral kanalis fasial dan prosesus
piramidal. Dibatasi sebelah lateral oleh anulus timpanikus posterosuperior,
sebelah superior oleh prosesus brevis inkus yang melekat kefosa inkudis. Lebar
resesus fasialis 4,01 mm dan tidak bertambah semenjak lahir. Resesus fasialis
penting karena sebagai pembatas antara kavum timpani dengan kavum mastoid
sehingga bila aditus as antrum tertutup karena suatu sebab maka resesus fasialis
bisa dibuka untuk menghubungkan kavum timpani dengan kavum mastoid.6

2.1.2.4.Dinding posterior kavum timpani


Dinding posterior dekat keatap, mempunyai satu saluran disebut aditus,
yang menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui
epitimpanum. Dibawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa inkudis
yang merupakan suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan melekat pada serat-
serat ligamen. Dibawah fosa inkudis dan dimedial dari korda timpani adalah
piramid, tempat terdapatnya tendon muskulus stapedius, tendon yang berjalan
keatas dan masuk kedalam stapes. Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah
resesus fasialis. Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii
posterior dan sinus sigmoid.6
Disebelah dalam dari piramid dan nervus fasialis merupakan perluasan
kearah posterior dari mesotimpani adalah sinus timpani. Perluasan sel-sel udara
kearah dinding posterior dapat meluas seperti yang dilaporkan Anson dan
Donaldson (1981), bahwa apabila diukur dari ujung piramid, sinus dapat meluas
8

sepanjang 9 mm kearah tulang mastoid. Dinding medial dari sinus timpani


kemudian berlanjut ke bagian posterior dari dinding medial kavum timpani
dimana berhubungan dengan dua fenestra dan promontorium.6

2.1.2.5.Dinding anterior kavum timpani


Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya dinding
medial dan dinding lateral kavum timpani. Dinding anterior bawah adalah lebih
besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri
karotis pada saat memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior.
Dinding ini ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior yang
membawa serabut-serabut saraf simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau
lebih cabang timpani dari arteri karotis interna.6
Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.
Tuba ini berhubungan dengan nasofaring dan mempunyai dua fungsi. Pertama
menyeimbangkan tekanan membran timpani pada sisi sebelah dalam, kedua
sebagai drainase sekresi dari telinga tengah, termasuk sel-sel udara mastoid.
Diatas tuba terdapat sebeuah saluran yang berisi otot tensor timpani. Dibawah
tuba, dinding anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari
saluran karotis.6

2.1.2.6.Dinding lateral kavum timpani


Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran. Bagian
tulang berada diatas dan bawah membran timpani.6
Kavum timpani dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Epitimpanum.
Berada dibagian atas membran timpani. Merupakan bagian superior
kavum timpani, disebut juga atik karena terletak diatas membran timpani.
sebagian besar atik diisi oleh maleus inkus. Dibagian superior epitimpanum
dibatasi oleh suatu penonjolan tipis os posterior. Dinding medial atik dibentuk
oleh kapsul atik yang ditandai oleh penonjolan kanalis semisirkularis lateral. Pada
bagian anterior terdapat ampula kanalis superior, dan lebih anterior ada ganglion
9

genikulatum, yang merupakan tanda ujung anterior ruang atik. Dinding anterior
terpisah dari maleus oleh suatu ruang yang sempit, disini dapat dijumpai muara
sel-sel udara yang membuat pneumatisasi pangkal tulang pipi (zygoma). Dinding
lateral atik dibentuk oleh os skuama yang berlanjut kearah lateral sebagai dinding
liang telinga luar bagian tulang sebelah atas. Diposterior, atik menyempit menjadi
jalan masuk ke antrum mastoid, yaitu aditus ad antrum.6

b. Mesotimpanum
Terletak kearah medial dari membran timpani. Disebelah medial dibatasi
oleh kapsul otik, yang terletaknya lebih rendah dari pada nervus fasialis pars
timpani. Dinding anterior mesotimpani terdapat orifisium timpani tuba eustachius
pada bagian superior dan membentuk bagian tulang dinding saluran karotis
asendens pada bagian inferior. Dinding ini biasanya mengalami pneumatisasi
yang baik dan dapat dijumpai bagian-bagian tulang lemah.6

c. Hipotimpanum atau resesus hipotimpanikus


Terletak dibawah membrana timpani, berhubungan dengan bulbus jugulare.
Kavum timpani terdiri dari :
1. Tulang-tulang pendengaran (maleus, inkus, stapes).
2. Dua otot.
3. Saraf korda timpani.
4. Saraf pleksus timpanikus.

Tulang-tulang pendengaran terdiri dari :


1. Malleus (hammer / martil).
2. Inkus (anvil/landasan)
3. Stapes (stirrup / pelana)

Malleus
Malleus adalah tulang yang paling besar diantara semua tulang-tulang
pendengaran dan terletak paling lateral, leher, prosesus brevis (lateral), prosesus
10

anterior, lengan (manubrium). panjangnya kira-kira 7,5 sampai 9,0 mm. kepala
terletak pada epitimpanum atau didalam rongga atik, sedangkan leher terletak
dibelakang pars flaksida membran timpani. Manubrium terdapat didalam
membran timpani, bertindak sebagai tempat perlekatan serabut-serabut tunika
propria. Ruang antara kepala dari maleus dan membran Shrapnell dinamakan
Ruang Prussak. Maleus ditahan oleh ligamentum maleus anterior yang melekat ke
tegmen dan juga oleh ligamentum lateral yang terdapat diantara basis prosesus
brevis dan pinggir lekuk Rivinus.6

Inkus
Inkus terdiri dari badan inkus ( corpus) dan 2 kaki yaitu : prosesus brevis
dan prosesus longus. Sudut antara prosesus brevis dan longus membentuk sudut
lebih kurang 100 derajat. Inkus berukuran 4,8 mm x 5,5 mm pada pinggir dari
corpus, prosesus longus panjangnya 4,3 mm-5,5 mm.6
Inkus terletak pada epitimpanum, dimana prosesus brevis menuju antrum,
prosesus longus jalannya sejajar dengan manubrium dan menuju ke bawah. Ujung
prosesus longus membengkok kemedial merupakan suatu prosesus yaitu prosesus
lentikularis. Prosesus ini berhubungan dengan kepala dari stapes.6
Maleus dan inkus bekerja sebagai satu unit, memberikan respon rotasi
terhadap gerakan membran timpani melalui suatu aksis yang merupakan suatu
garis antara ligamentum maleus anterior dan ligamentum inkus pada ujung
prosesus brevis.6
Gerakan-gerakan tersebut tetap dipelihara berkesinambungan oleh
inkudomaleus. Gerakan rotasi tersebut diubah menjadi gerakan seperti piston pada
stapes melalui sendi inkudostapedius.6

Stapes
Merupakan tulang pendengaran yang teringan, bentuknya seperti sanggurdi
beratnya hanya 2,5 mg, tingginya 4mm-4,5 mm. Stapes terdiri dari kepala, leher,
krura anterior dan posterior dan telapak kaki (foot plate), yang melekat pada
foramen ovale dengan perantara ligamentum anulare.6
11

Tendon stapedius berinsersi pada suatu penonjolan kecil pada permukaan


posterior dari leher stapes. Kedua krura terdapat pada bagian leher bawah yang
lebar dan krura anterior lebih tipis dan kurang melengkung dari pada posterior.
Kedua berhubungan dengan foot plate yang biasanya mempunyai tepi superior
yang melengkung, hampir lurus pada tepi posterior dan melengkung di anterior
dan ujung posterior. panjang foot plate 3 mm dan lebarnya 1,4 mm, dan terletak
pada fenestra vestibuli dimana ini melekat pada tepi tulang dari kapsul labirin oleh
ligamentum anulare Tinggi stapes kira-kira 3,25 mm.6

Otot-otot pada kavum timpani.


Terdiri dari : otot tensor timpani ( muskulus tensor timpani) dan otot
stapedius (muskulus stapedius).6
Otot tensor timpani adalah otot kecil panjang yang berada 12 mm diatas
tuba eustachius. Otot ini melekat pada dinding semikanal tensor timpani. Kanal
ini terletak diatas liang telinga bagian tulang dan terbuka kearah liang telinga
sehingga disebut semikanal. Serabut-serabut otot bergabung dan menjadi tendon
pada ujung timpanisemikanal yang ditandai oleh prosesus kohleoform. Prosesus
ini membuat tendon tersebut membelok kearah lateral kedalam telinga tengah.
Tendon berinsersi pada bagian atas leher maleus. Muskulus tensor timpani
disarafi oleh cabang saraf kranial ke 5. kerja otot ini menyebabkan membran
timpani tertarik kearah dalam sehingga menjadi lebih tegang dan meningkatkan
frekuensi resonansi sistem penghantar suara serta melemahkan suara dengan
freksuensi rendah.6
Otot stapedius adalah otot yang relatif pendek. Bermula dari dalam
kanalnya didalam eminensia piramid, serabut ototnya melekat ke perios kanal
tersebut. Serabut-serabutnya bergabung membentuk tendon stapedius yang
berinsersi pada apek posterior leher stapes. M. Stapedius disarafi oleh salah satu
cabang saraf kranial ke 7 yang timbul ketika saraf tersebut melewati m. stapedius
tersebut pada perputarannya yang kedua. Kerja m.stapedius menarik stapes ke
posterior mengelilingi suatu pasak pada tepi posterior basis stapes. Keadaan ini
12

stapes kaku, memperlemah transmisi suara dan meningkatkan frekuensi resonansi


tulang-tulang pendengaran.6

Saraf Korda timpani


Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari
kanalikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior. Korda
timpani memasuki telinga tengah bawah pinggir posterosuperior sulkus timpani
dan berjalan keatas depan lateral keprosesus longus dari inkus dan kemudian ke
bagian bawah leher maleus tepatnya diperlekatan tendon tensor timpani. Setelah
berjalan kearah medial menuju ligamentum maleus anterior, saraf ini keluar
melalui fisura petrotimpani.6
Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang
berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui
ganglion submandibular. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3
depan lidah bagian anterior.6

Pleksus timpanikus
Adalah berasal dari n. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan
dengan nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik disekitar
arteri karotis interna. Saraf dari pleksus ini dan kemudian berlanjut pada :
1. Cabang-cabang pada membrana mukosa yamg melapisi kavum timpani, tuba
eustachius, antrum mastiod dan sel-sel mastoid.
2. Sebuah cabang yang berhubungan dengan nervus petrosus superfisial mayor.
3. Pada nervus petrosus superfisial minor, yang mengandung serabut-serabut
parasimpatis dari N. IX. Saraf ini meninggalkan telinga tengah melalui suatu
saluran yang kecil dibawah m. tensor timpani kemudian menerima serabut
saraf parasimpatik dari N. VII dengan melalui cabang dari ganglion
genikulatum.
Secara sempurna saraf berjalan melalui tulang temporal, dilateral sampai
nervus petrosus superfisial mayor, diatas dasar fosa kranial media, diluar
durameter. Kemudian berjalan melalui foramen ovale dengan nervus mandibula
13

dan arteri meningeal assesori sampai ganglion otik. Kadang-kadang saraf ini tidak
berjalan pada foramen ovale tetapi melalui foramen yang kecil sampai foramen
spinosum.6
Serabut post ganglion dari ganglion otik menyuplai serabut-serabut
sekremotor pada kelenjar parotis melalui nervus aurikulotemporalis.6

Saraf fasial
Meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal melalui
meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama terdiri
dari dua komponen yang berbeda, yaitu:6
1. Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial kedua
(faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid, posterior belly m. digastrik
dan m. stapedius.
2. Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor
parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah kecuali
parotis.
Saraf kranial VII mencapai dinding medial kavum timpani melalui auditori
meatus diatas vestibula labirin tulang. Kemudian membelok kearah posterior
dalam tulang diatas feromen ovale terus ke dinding posterior kavum timpani.
Belokan kedua terjadi dinding posterior mengarah ke tulang petrosa melewati
kanal fasial keluar dari dasar tengkorak melewati foramen stilomastoidea. Pada
belokan pertama di dinding medial dari kavum timpani terdapat ganglion
genikulatum, yang mengandung sel unipolar palsu. Sel ini adalah bagian dari
jaringan perasa dari 2/3 lidah dan palatum. Saraf petrosa superfisial yang besar
bercabang dari saraf kranial VII pada ganglion genikulatum, masuk ke dinding
anterior kavum timpani, terus ke fosa kranial tengah. Saraf ini mengandung
jaringan perasa dari palatum dan jaringan sekremotor dari glandula atap rongga
mulut, kavum nasi dan orbita. Bagian lain dari saraf kranial VII membentuk
percabangan motor ke otot stapedius dan korda timpani. Korda timpani keluar ke
fosa intra temporal melalui handle malleus, bergerak secara vertikal ke inkus dan
terus ke fisura petrotimpanik. Korda timpani mengandung jaringan perasa dari 2/3
14

anterior lidah dan jaringan sekretorimotor dari ganglion submandibula. Sel


jaringan perasanya terdapat di ganglion genikulatum.6

Perdarahan Kavum Timpani


Pembuluh-pembuluh darah yang memberikan vaskularisasi kavum timpani
adalah arteri-arteri kecil yang melewati tulang yang tebal. Sebagian besar
pembuluh darah yang menuju kavum timpani berasal dari cabang arteri karotis
eksterna.6
Pada daerah anterior mendapat vaskularisasi dari a. timpanika anterior,
yang merupakan cabang dari a. maksilaris interna yang masuk ke telinga tengah
melalui fisura petrotimpanika.6
Pada daerah posterior mendapat vaskularisasi dari a. timpanika psoterior,
yang merupakan cabang dari a. mastoidea yaitu a. stilomastoidea.6
Pada daerah superior mendapat perdarahan dari cabang a. meningea media
juga a. petrosa superior, a. timpanika superior dan ramus inkudomalei.6
Pembuluh vena kavum timpani berjalan bersama-sama dengan pembuluh
arteri menuju pleksus venosus pterigoid atau sinus petrosus superior.6
Pembuluh getah bening kavum timpani masuk ke dalam pembuluh getah
bening retrofaring atau ke nodulus limfatikus parotis.6

2.1.3 Tuba Eustachius5


Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.
bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan
kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36
mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak
dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.6
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu:6
1. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).
2. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian).
15

Bagian tulang sebelah lateral berasal dari dinding depan kavum timpani, dan
bagian tulang rawan medial masuk ke nasofaring. Bagian tulang rawan ini
berjalan kearah posterior, superior dan medial sepanjang 2/3 bagian keseluruhan
panjang tuba (4 cm), kemudian bersatu dengan bagian tulang atau timpani.
Tempat pertemuan itu merupakan bagian yang sempit yang disebut ismus. Bagian
tulang tetap terbuka, sedangkan bagian tulang rawan selalu tertutup dan berakhir
pada dinding lateral nasofaring. Pada orang dewasa muara tuba pada bagian
timpani terletak kira-kira 2-2,5 cm, lebih tinggi dibanding dengan ujungnya
nasofaring. Pada anak-anak, tuba pendek, lebar dan letaknya mendatar maka
infeksi mudah menjalar dari nasofaring ke telinga tengah. Tuba dilapisi oleh
mukosa saluran nafas yang berisi sel-sel goblet dan kelenjar mukus dan memiliki
lapisan epitel bersilia didasarnya. Epitel tuba terdiri dari epitel selinder berlapis
dengan sel selinder. Disini terdapat silia dengan pergerakannya ke arah faring.
Sekitar ostium tuba terdapat jaringan limfosit yang dinamakan tonsil tuba.6

Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu:6


1. M. tensor veli palatini
2. M. elevator veli palatini
3. M. tensor timpani
4. M. salpingofaringeus

Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan


keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan udara luar,
drenase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya
sekret dari nasofaring ke kavum timpani.6

2.1.4.Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada
daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.6
16

Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular berasal dari
epitisssmpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara, sering disebut
sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis
semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke medial dari promontorium terdapat
kanalis bagian tulang dari n. fasialis. Prosesus brevis inkus sangat berdekatan
dengan kedua struktur ini dan jarak rata-rata diantara organ : n. VII ke kanalis
semisirkularis 1,77 mm; n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm : dan prosesus
brevis inkus ke kanalis semisirkularis 1,25 mm.6
Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang
temporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai sel-
sel udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya. Antrum sudah
berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml,
panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm, daria atas kebawah 9mm dan dari
sisi lateral ke medial 7 mm. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan
kanalis semisirkularis posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus
endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior.Atapnya membentuk bagian
dati lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak lobus
temporalis. Dinding posterior terutama dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus.
Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan
meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga
12-15 mm pada dewasa. Dinding lateral pada orang dewasa berhubungan dengan
trigonum suprameatal pada permukaan luar tengkorak. Lantai antrum mastoid
berhubungan dengan otot digastrik dilateral dan sinus sigmoid di medial,
meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek, struktur ini bisa berjarak 1 cm
dari dinding antrum inferior. Dinding anterior antrum memiliki aditus pada bagian
atas, sedangkan bagian bawah dilalui n.fasialis dalam perjalanan menuju ke
foramen stilomastoid.6
Prosesus mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga.
Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan atau perkembangan
rongga-rongga udara didalam tulang temporal, dan sel-sel udara yang terdapat
didalam mastoid adalah sebagian dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak
17

bagian dari tulang temporal. Sel-sel prosesus mastoid yang mengandung udara
berhubungan dengan udara didalam telinga tengah. Bila prosesus mastoid tetap
berisi tulang-tulang kompakta dikatakan sebagai pneumatisasi jelek dan sel-sel
yang berpneumatisasi terbatas pada daerah sekitar antrum. Prosesus mastoid
berkembang setelah lahir sebagai tuberositas kecil yang berpneumatisasi secara
sinkron dengan pertumbuhan antrum mastoid. Pada tahun pertama kehidupan
prosesus ini terdiri dari tulang-tulang seperti spon sehingga mastoiditis murni
tidak dapat terjadi. Diantara usia 2 dan 5 tahun pada saat terjadi pneumatisasi
prosesus terdiri atas campuran tulang-tulang spon dan pneumatik.6
Pneumatisasi sempurna terjadi antara usia 6 – 12 tahun. Luasnya
pneumatisasi tergantung faktor herediter konstitusional dan faktor peradangan
pada waktu umur muda. Bila ada sifat biologis mukosa tidak baik maka daya
pneumatisasi hilang atau kurang. Ini juga terjadi bila ada radang pada telinga yang
tidak menyembuh. Maka nanti dapat dilihat pneumatisasi yang
terhenti(pneumatisationshemung arrested pneumatisation) atau pneumatisasi yang
tidak ada sama sekali.6
Menurut derajatnya, pneumatisasi prosesus mastoideus dapat dibagi atas:6
1. Proesesus Mastoideus Kompakta (sklerotik), diomana tidak ditemui sel-sel.
2. Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja.
3. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel disini
besar.
Sellulae mastoideus seluruhnya berhubungan dengan kavum timpani. Dekat
antrum sel-selnya kecil tambah keperifer sel-selnya bertambah besar. Oleh karena
itu bila ada radang pada sel-sel mastoid, drainase tidak begitu baik hingga mudah
terjadi radang pada mastoid (mastoiditis). Menurut tempatnya sel-sel ini dapat
dibedakan:6
1. Terminal 5. Zygomatic
2. Perisinus 6. Facial
3. Sudut petrosal 7. Periantral
4. Sub dural 8. Perilabirinter
18

2.2. Fisiologi Pendengaran


Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga
dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini
diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga
menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui
membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah,
perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum)
terdorong ke arah luar.7

Gambar 2.3 Proses pendengaran7

Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong


membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf
pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok, dan
dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi lurus. Rangsangan
fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi
aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n.VII, yang kemudian meneruskan
rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39-40) melalui saraf
pusat yang ada dilobus temporalis.7
19

2.3 Otitis Media Supuratif Kronis


2.3.1 Definisi dan Klasifikasi
Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari
2 bulan dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari telinga
tengah dapat terus menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer atau kental,
bening atau berupa nanah.1

OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:8


1. Tipe Benigna (Tipe tubotimpani/ Tipe jinak/ Tipe aman/ Tipe rhinogen)
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa
dan terbatas pada mukosa saja, biasanya tidak terkena tulang.8

Gambar 2.4 Tipe-tipe Perforasi pada OMSK Tubotimpani

2. Tipe Malignan (Tipe Atikoantral/ Tipe ganas/ Tipe tidak aman/ Tipe tulang)
Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya sampai
terbentuk kolesteatom.8
20

Gambar 2.5 Tipe-tipe Perforasi pada OMSK Malignan

Tabel 2.1 Perbedaan OMSK Tipe Benigna dan Malignan8


Karakteristik OMSK Tubotimpani OMSK Atikoantral
Secara umum Benigna dan aman Berbahaya dan tidak aman
Otorrhea
 Bau Tidak berbau Bau busuk
 Jumlah Banyak Sedikit
 Tipe Mukoid Purulen
 Periode Intermitten Kontinu
Perforasi Sentral Atik / marginal
Granulasi Tidak ada Ada
Polip Pucat Kemerehan
Kolesteatom Tidak ada Ada
Komplikasi Jarang Sering
Audiometri Tuli Konduktif ringan-sedang Tuli konduktif atau campuran
21

2.3.2 Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor
predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom.
Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor
insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat.6
Faktor Host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi
adalah defisiensi immun sistemik. Faktor penyebab OMSK antara lain:9
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi,
dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi.
Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara
umum, diet, tempat tinggal yang padat.9

2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai
faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis
media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.9

3. Otitis media sebelumnya


Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis
media akut dan / atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa
yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi
keadaan kronis.9
22

4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir
tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukan bahwa metode
kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah
Gram-negatif, flora tipe-usus, dan beberapa organisme lainnya.9

5. Infeksi saluran nafas atas


Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara
normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan
bakteri.9

6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar
terhadap otitis media kronis.9

7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian
penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-
toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.9

8. Gangguan fungsi tuba eustachius


Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema
tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum
diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk
mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak
mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.9
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani
menetap pada OMSK:6
23

• Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan


produksi sekret telinga purulen berlanjut.
• Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan
spontan pada perforasi.
• Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui
mekanisme migrasi epitel.
• Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan
yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah
penutupan spontan dari perforasi.

Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif


menjadi kronis majemuk, antara lain:6
1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang.
a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang.
b. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap.
3. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada
telinga tengah.
4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Hal ini dapat
disebabkan oleh jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan granulasi
atau timpanosklerosis.
5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di
mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan
mekanisme pertahanan tubuh.

2.3.3 Patogenesis
Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap, tatapi dalam hal ini
merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang
sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Perforasi
24

sekunder pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga
tengah misal perforasi kering.6
Ada dua mekanisme perforasi kronis yang dapat menyebabkan infeksi
telinga tengah yang berlanjut atau berulang: (1) bakteri dapat mengkontaminasi
telinga tengah secara langsung dari telinga luar karena efek proteksi barier fisikal
membran timpani telah hilang. (2) membran timpani yang utuh secara normal
menghasilkan bantalan gas, yang menolong untuk mencegah refluks sekresi
nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius. Hilangnya
mekanisme protektif ini menyebabkan terpaparnya telinga tengah terhadap bakteri
patogen dari nasofaring.6

2.3.4 Gejala Klinis


1. Telinga berair (Otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas
kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan
yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi
iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi.
Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat
disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar
setelah mandi atau berenang.6
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret
yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma
dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah
berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang
bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga
dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang
encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.6
25

2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif
ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20
db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan
fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih
dari 30 db.6
Beratnya gangguan pendengaran tergantung dari besar dan letak perforasi
membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke
telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat
karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom
bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat
harus diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya
labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat
menggambarkan sisa fungsi kohlea.6

3. Otalgia (Nyeri telinga)


Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya
drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau
ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin
oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang
komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus
lateralis.6
26

4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat
erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat
perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif
keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang
akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu.
Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo.
Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan
yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan
mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin
berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK
dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif
pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga
tengah.6

2.3.5 Diagnosis
2.3.6 Diagnosis Banding
2.3.7 Tatalaksana
2.3.8 Komplikasi
2.3.9 Prognosis
27

BAB 3
KESIMPULAN
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Djaafar ZA, Helmi, Restuti R D. Kelainan Telinga Tengah. Dalam :


Soepardi EA, Iskandar HN editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Edisi ketujuh. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2012, hal 49-62, 64-77.
2. Pangemanan D.M, Palandeng O.I, Pelealu O.C.P. Otitis Media Supuratif
Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Periode Januari 2014 – Desember 2016. Jurnal e-Clinic
(eCl).2018.vol.6,no.1.
3. Farida Y,Sapto H. Oktaria D. Tatalaksana Terkini Otitis Media Supuratif
Kronis (OMSK). J Medula Unila. 2016.vol.6,no.1
4. Aboet A. Radang telinga tengah menahun.pidato Pengukuhan Jabatan Guru
Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala
Leher. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 2007.
5. Bhat KV, Naseeruddin K, Nagalothimath US, Kumar PR, Hedge JS. Cortical
mastoidectomy in quiescent, tubo- tympanic, chronic otitis media: Is it
routinely necessary? J Laryngol Otol. 2009,vol.123,383-90
6. Nursiah, Siti. Pola Kuman Aerob Penyebab Omsk Dan Kepekaan Terhadap
Beberapa Antibiotika Di Bagian Tht Fk Usu / Rsup.H. Adam Malik Medan.
Universitas Sumatera Utara.
7. Martini, FH. Nath, Jl. Bartholomew, EF. Fundamental of Anatomy &
Physiology Ed 9th. San Fransisco: Pearson Education. 2012.h.568
8. Dhingra P.L., Dhringra S. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and
Neck Surgery 6th Edition. Elsevier. New Delhi, India. 2014. Pg. 67-74.
9. Hayati R, Tesis Perubahan Ambang Dengar Pada Penderita Otitis Media
Supuratif Kronis Setelah Timpanoplasti, FK USU, 2017;h.4-6