Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Otitis media supuratif kronik di dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan
istilah congek atau telinga berair. Kebanyakan penderita OMSK menganggap
penyakit ini merupakan penyakit yang biasa dan nantinya akan sembuh sendiri1.
Otitis media supuratif kronik adalah peradangan kronik telinga tengah dengan
perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga lebih dari
dua bulan, baik terus-menerus maupun hilang timbul2. Otitis media supuratif
kronis merupakan salah satu penyakit terbanyak di dunia terutama di negara
berkembang3,4.
Penyakit ini dianggap sebagai penyebab tersering dari gangguan pendengaran
persisten ringan hingga sedang diantara anak-anak dan orang muda. Sekitar 164
juta kasus gangguan pendengaran diakibatkan oleh otitis media supuratif kronik
dan 90% diantaranya terjadi di negara berkembang5. Prevalensi otitis media
supuratif kronis di seluruh dunia sekitar 65 sampai dengan 330 juta orang,
terutama di negara berkembang, dimana 39 sampai dengan 200 juta orang (60%)
menderita penurunan fungsi pendengaran secara signifikan2.
Insiden otitis media supuratif kronik bervariasi di setiap negara berkembang.
Secara umum, insiden dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ras dan faktor
sosioekonomi. Kehidupan sosioekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan
status kesehatan serta gizi yang buruk merupakan faktor resiko yang mendasari
peningkatan prevalensi OMSK di negara berkembang6,7.

Otitis media supuratif kronik terbagi atas dua bagian berdasarkan ada
tidaknya kolesteatom yaitu OMSK benigna dan maligna. OMSK benigna
merupakan proses peradangan yang terbatas pada mukosa, tidak mengenai tulang,
peforasi terletak di sentral, dan tidak terdapat kolesteatom. Umumnya tipe ini
jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. OMSK maligna merupakan
peradangan disertai kolesteatom dan perforasi membran timpani biasanya terletak
di marginal atau atik. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya dapat timbul
pada tipe ini1.
Komplikasi terjadi karena adanya infeksi, inflamasi, jaringan granulasi dan
pembentukan kolesteatom yang terus menerus8. Keterlambatan dalam diagnosis
dan penatalaksanaan OMSK akan mengakibatkan munculnya komplikasi yang
dapat meningkatkan angka kematian3,9,10.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan refarat ini adalah untuk memahami tinjauan ilmu teoritis
tentang otitis media supuratif kronik.

1.3 Manfaat
Hasil penulisan refarat ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah
wawasan, baik bagi penulis maupun pembaca mengenai otitis media supuratif
kronik, serta dapat menjadi sumber referensi untuk makalah selanjutmya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga Tengah

Ruang telinga tengah disebut juga kavum timpani atau tympanic cavity.

Dilapisi oleh membran mukosa, topografinya di bagian medial dibatasi oleh

promontorium, lateral oleh membran timpani, anterior oleh muara tuba

Eustachius, posterior oleh aditus ad antrum dari mastoid, superior oleh tegmen

timpani fossa kranii, inferior oleh bulbus vena jugularis. Batas superior dan

inferior membran timpani membagi kavum timpani menjadi epitimpanium atau

atik, mesotimpanum dan hipotimpanum.

Gambar 2.1 Anatomi telinga


Telinga tengah terdapat dua buah otot yaitu m. tensor timpani dan m.
stapedius. M tensor timpani berorigo di dinding semikanal tensor timpani dan
berinsersio di bagian atas tulang maleus, inervasi oleh cabang saraf trigeminus.
Otot ini menyebabkan membran timpani tertarik ke arah dalam sehingga menjadi
lebih tegang.dan meningkatkan frekuensi resonansi sistem penghantar suara dan
melemahkan suara dengan frekuensi rendah. M. stapedius berorigo di dalam
eminensia pyramid dan berinsersio di ujung posterior kolumna stapes, hal ini
menyebabkan stapes kaku, memperlemah transmini suara dan meningkatkan
resonansi tulang-tulang pendengaran. Kedua otot ini berfungsi mempertahankan,
memperkuat rantai osikula dan meredam bunyi yang terlalu keras sehingga dapat
mencegah kerusakan organ koklea.
Telinga tengah berhubungan dengan nasopharing melalui tuba Eustahcius.
Telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran, susunan dari luar ke dalam yaitu
maleus, incus dan stapes yang saling berikatan dan berhubungan membentuk
artikulasi.. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus
melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak tingkap lonjong
atau foramen ovale yang berhubungan dengan koklea.

Gambar 2.2 Membran timpani dan tulang pendengaran

Suplai darah untuk kavum timpani oleh arteri timpani anterior, arteri
stylomastoid, arteri petrosal superficial, arteri timpani inferior. Aliran darah vena
bersama dengan aliran arteri dan berjalan ke dalam sinus petrosal superior dan
pleksus pterygoideus11.

2.2 Otitis Media Supuratif Kronik


2.2.1 Definisi
Otitis media supuratif kronis adalah infeksi kronik telinga tengah yang
ditandai dengan keluarnya cairan purulen melalui membran timpani yang
perforasi selama lebih dari 2 bulan baik intermiten ataupun persisten. Sekret dapat
encer atau kental, bening atau berupa nanah12.

2.2.2 Etiologi
OMSK biasanya merupakan komplikasi dari otitis media akut yang persisten,
tetapi faktor risiko yang mempengaruhi sangat bervariasi. Infeksi saluran
pernafasan atas yang sering, kondisi sosial ekonomi yang buruk (misalnya
perumahan yang penuh sesak, kebersihan yang buruk dan nutrisi) sering dikaitkan
dengan perkembangan terjadinya OMSK13.
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak,jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring(adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah
melalui tubaEustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor
predisposisiyang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom.
Adanya tubapatulous menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor
insiden OMSKyang tinggi di Amerika Serikat. Faktor host yang berkaitan dengan
insiden OMSKyang relatif tinggi adalah defisiensi immun sistemik14.
Mikroorganisme yang paling sering didapatkan pada isolasi biakan kuman
yang terkait dengan OMSK adalah Pseudomonas Aeruginosa dan Staphylococcus
aureus. Pseudomonas Aeruginosamerupakan penyebab utama nekrosis tulang dan
kerusakan mukosa13.
2.2.3 Epidemiologi

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2004,


prevalensi OMSK di seluruh dunia ± sebanyak 330 juta orang, lebih dari 90%
terdapat di Asia Tenggara, Afrika dan beberapa etnis minoritas di pasifik.
Menurut data tersebut, 60% diantaranya mengalami gangguan pendengaran.

Di Indonesia, diperkirakan dari 220 juta penduduk terdapat 6,6 juta penderita
OMSK. Prevalensi OMSK di RSUD dr. Pirngadi Medan pada tahun 2010
sebanyak 301 orang15. Sedangkan di Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala dan Leher (THT-KL) RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010
sampai Desember 2012 didapatkan 704 kasus OMSK tipe aman dan 82 kasus
OMSK tipe bahaya11. Prevalensi OMSK di RSUP Haji Adam Malik Medan dari
tahun 2006 sampai 2010 diperoleh 119 penderita OMSK tipe bahaya. Sekitar
31,93% terjadi pada usia 11-20 tahun, dengan 53,78% jenis kelamin laki-laki, dan
sekitar 38,66% terjadi pada telinga kanan16.

2.2.4 Letak Perforasi


Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe/jenis
OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal,
dan atik17.
a) Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-
superior, kadang-kadang sub total. Dan di seluruh tepi perforasi masih ada
sisa membran timpani14,17.

Gambar 2.3 Perforasi sentral


b) Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus
fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai
perforasi total. Perforasi pada pinggir postero- superior berhubungan
dengan kolesteatom14.

Gambar 2.4 Perforasi marginal

c) Perforasi atik
Perforasi yang terletak di pars flaksida17.

Gambar 2.5 Perforasi atik

2.2.5 Klasifikasi
Otitis media supuratif kronis dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
1. Tipe tubotimpani / tipe jinak / tipe aman / tipe rhinogen.
Pada tipe ini peradangan terbatas pada mukosa, tidak mengenai tulang,
peforasi terletak di sentral, dan tidak terdapat kolesteatom. Umumnya OMSK tipe
ini jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya1.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba
eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang
gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran
bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi
sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan
hiperplasia sel goblet, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi
dan mukosiliar yang jelek14.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
a. Penyakit aktif
Terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana
kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai
mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi
subtotal pada pars tensa. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga
luar. Perluasan infeksi ke sel- sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas
dan penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif
gagal untuk mengontrol infeksi, atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan
atau tanpa migrasi sekunder dari kulit, dimana kadang- kadang adanya sekret yang
berpulsasi diatas kuadran posterosuperior14.
b. Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa
telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan.
Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam
telinga.
Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani :
a) Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis kronis.
b) Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis.
c) Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat
yang terkontaminasi.
d) Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia.
e) Otitis media supuratif akut yang berulang14.
2. Tipe atikoantral / tipe ganas / tipe tidak aman / tipe tulang
Pada tipe ini peradangan yang disertai kolesteatom dan perforasi membran
timpani biasanya terletak di marginal atau atik. Sebagian besar komplikasi yang
berbahaya dapat timbul pada tipe ini1.

Kolesteatoma
Kolesteatoma adalah suatu kista epitel yang berisi deskuamasi dari epitel.
Deskuamasi ini terbentuk terus-menerus sehingga menumpuk dan bertambah
besar. Kolesteatoma ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman,
dan yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas. Masa kolesteatoma
akan menekan dan mendesak organ yang berada disekitarnya serta menimbulkan
nekrosis terhadap tulang. Proses nekrosis terhadap tulang yang akan
mempermudah terjadinya komplikasi berupa labirinitis, meningitis dan abses
otak17,18.

2.2.6 Patogenesis
Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini
merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang
sudahterbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus19.
Banyak penelitian pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal
menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius, yaitu suatu saluran
yang menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan
telinga tengah (kavum timpani), merupakan penyebab utama terjadinya radang
telinga tengah ini (otitis media) 19.
Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup
dan akan membuka bila kita menelan. Tuba Eustachius ini berfungsi untuk
menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar
(tekanan udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek,
penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan
mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke
telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan Otitis Media daripada
dewasa19.
Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari nasofaring
melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan terjadinya infeksi
dari telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah. Mediator
peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel imun infiltrat, seperti
netrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit
akibat proses infeksi tersebut akan menambah permiabilitas pembuluh darah dan
menambah pengeluaran sekret di telinga tengah. Selain itu, adanya
peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga
tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan terjadinya akumulasi sel-sel
peradangan pada telinga tengah19.

2.2.7 Gejala Klinis

1. Telinga Berair (otorrhea)


Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas
kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Keluarnya sekret biasanya hilang
timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga. Sekret
yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan
produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas, sekret telinga tengah bisa berkurang atau
hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah
berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan
tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair
tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis20.

2. Gangguan Pendengaran
Hal ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanyadijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif
ke fenestra ovalis.Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi
membran timpaniserta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga
tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena
putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak
sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus
diinterpretasikan secara hati-hati20.

3. Nyeri Telinga (Otalgia)


Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya
drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau
ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh
adanya otitis eksterna sekunder20.

2.2.8 Diagnosis
Anamnesis
Anamnesis yang berhubungan seperti keluhan nyeri telinga, sekret telinga,
mengorek telinga atau menangis ketika telinga disentuh, semuanya sangat
membantudalam menegakkan masalah telinga21.
Riwayat keluarsekret telinga sebelumnya terutama jika disertai dengan
episodepilek, sakit tenggorokan, batuk atau gejala lain infeksi saluran pernapasan
atasakan meningkatkan kecurigaan pada OMSK. Riwayat pembersihan telinga
yang kuat, gatal atauberenang yang dapat membuat trauma saluran telinga luar
menunjukkan otitis eksterna akut, dan jarang pada OMSK. Riwayat nyeri telinga
menunjukkan otitis eksterna akut (OE) atau otitis media akut (OMA). Pada kasus
OMA, telinga hanya terasa sakit sampai gendang telinga mengalami perforasi
yang mengurangi tekanan21.
Durasi otorrhoea akan membantu membedakan OMA dari OMSK. OMA
dengan perforasi membran timpani menjadi OMSK apabila prosesnya sudah lebih
dari 2 bulan19.
Pemeriksaan Fisik
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT
terutama pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan
sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahui
jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri
nada murni atau BERA ( brainstem evoked response audiometry) bagi pasien anak
yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni19.
Pada pemeriksaan otoskopi ditemukan :21
 Perforasi membran timpani : dapat berupa perforasi sentral atau subtotal
 Dapat disertai atau tanpa disertai sekret
 Bila disertai sekret dapat berupa:
o Warna : jernih, mukopurulen atau bercampur darah
o Bau : tidak berbau atau berbau ( karena adanya kuman anaerob)

Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian
tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan
mobilitas.19
Derajat ketulian : 19
o Normal : -10 dB sampai 26 dB
o Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB
o Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB
o Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB
o Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB
o Tuli total : lebih dari 90 dB
 Kultur Bakteri
Walapun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya
infeksiakut, bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan
yangditemukan pada otitis media supuratif akut (OMSA) . Bakteri yang sering
dijumpai pada OMSKadalah Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan
Proteus. Sedangkanbakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie, H. influensa,
dan Morexella kataralis.Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK adalah E. Coli,
Difteroid, Klebsiella, dan bakterianaerob adalah Bacteriodes sp14.
2.2.9. Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronik
A. OMSK Benigna Tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan di nasehatkan
untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ketelinga sewaktu
mandi, dilarag berenang dan segera berobat bila menderita infeksi
saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan
operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah
infeksi berulang serta gangguan pendengaran.
B. OMSK Benigna Aktif
Prinsip pengobatan OMSK adalah :
1. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani
2. Pemberian antibiotika
1. Pembersian liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga)
Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak
sesuai untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga
merupakan media yang baikbagi perkembangan mikroorganisme.
1. Toilet telinga secara kering ( dry mopping ).
Telilinga kering dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah
dibersihkan dapat diberi antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini
sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh
anggota keluarga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan
setiap hari sampai telinga kering.
2. Toilet telinga secara basah ( syringing ).
Telinga disemprot dengan cairan untuk membuat debris dan nanah,
kemudian dengan kapas lidi steri dan diberi serbuk antibiotik.
Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga
tengah, tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke
bagian lain dan kemastoid. Pemberian serbu antibiotik dalam
jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada
kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik,
misalnya asam boric dengan iodine.
3. Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet )
Pembersihan dengan suction pada nanah, dengan bantuan
mikroskopi operasi adalah metode yang paling populer saat
ini. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang
berpoliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat
dihilangkan.
2. Pemberian antibiotik
- Antibiotik topical
- Antibiotik sistemik
a. Antibiotik topical
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret
yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak
efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi
diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan
kortikosteroid. Mengingat pemberian obat topikal
dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka
tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya
neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara
pemilihan antibiotik yang paling baik dengan
berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi.
Bubuk telinga yang digunakan seperti :
- Acidum boricum
- Terramycin.
- Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan
khloromicetin 250 mg
Menurut panduan pengobatan OMSK dari WHO
tahun 2004, disebutkan bahwa antibiotik tetes telinga
lebih efektif dari antibiotik oral. Selain itu, juga
didapatkan rekomendasi WHO bahwa antibiotik
quinolone lebih baik dari antibiotik non-quinolone.
b. Antibiotik sistemik
Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1
minggu dan harus disertai pembersihan sekret
profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu
diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada
pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi
menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya
tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin
banyak kuman terbunuh, misalnya golongan
aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua
adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu
daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak
menambah daya bunuh antimikroba golongan ini,
misalnya golongan beta laktam.
C. OMSK Maligna
Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi.
Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah
merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila
terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya
dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat
dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benign
atau maligna, antara lain:
1.Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
2.Mastoidektomi radikal
3.Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
4.Miringoplasti
5.Timpanoplasti
6.Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach tympanoplasty)
Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara
permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang
lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.
D. Jenis Pembedahan OMSK
1. Mastoidektomi sederhana
Mastoidektomi dilakukan untuk menghilangkan sel-sel udara
mastoid yang sakit. Sel-sel ini berada di suatu rongga di
tengkorak, di belakang telinga. Operasi ini dilakukan pada OMSK
tipe aman yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh.
Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid
dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan
telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran
tidak diperbaiki.
2. Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau
kolesteatoma yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid
dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik.
Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan
rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi
tersebut menjadi satu ruangan.
Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan
patologik dan men- cegah komplikasi ke intrakranial. Fungsi
pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini adalah
pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Pasien
harus datang dengan teratur untuk control, supaya tidak terjadi
infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat
menghambat pendidikan dan karier pasien.

3. Mastoidektomi Radikal dengan Modifikasi (operasi Bondy)


Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di
daerah atik, tetap belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga
mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga
direndahkan. Ini adalah bentuk kurang parah dari mastoidektomi
radikal. Tidak semua tulang telinga tengah dikeluarkan dan
gendang telinga tersebut dibangun.
Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan
patologik dari rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran
yag masih ada.
4. Miringoplasti
Miringoplasti adalah operasi khusus dirancang untuk menutup
membran tim- pani yang rusak. Pendekatan untuk telinga dapat
dilakukan dengan transkanal, endaural, atau retroauricular.
Pendekatan transkanal membutuhkan pencahayaan yang lebih
sedikit bedah dan menyebabkan penyembuhan lebih cepat.
Kerugiannya adalah keterbatasan potensi eksposur. Pendekatan
endaural dapat meningkatkan eksposur di telinga dengan jaringan
lunak lateral atau tulang rawan tumbuh dengan cepat, tapi sekali
lagi, ia cenderung untuk membatasi pandangan bedah.
Pendekatan retroauricular memungkinkan untuk eksposur maksimal
tetapi membutuhkan sayatan kulit eksternal.
5. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan
kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa
ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi
ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran.
6. Timpanoplasti dengan Pendekatan Ganda (Combine
Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang
dikerjakan pada kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman
dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk
menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa
melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding
posterior liang telinga). Membersihkan kolesteatoma dari jaringan
granulasi di kavum timpani, dikerjakan melalui dua jalan (combined
approach) yaitu melalui liang telinga dari rongga mastoid dengan
melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe
bahaya belum disepakati para ahli. Oleh karena sering terjadi
kambuhnya kolesteatoma kembali.
2.2.10. Komplikasi
Komplikasi otitis media supuratif kronik di klasifikasikan berdasarkan
bagian mana yang mengalami komplikasi, klasifikasinya sebagai berikut14,17 :
A. Komplikasi di telinga tengah :
1. Perforasi membran timpani persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasialis
B. Komplikasi di telinga dalam :
1. Fistula labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf ( sensorineural )
C. Komplikasi ekstradural :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat :
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus otitis

2.2.11. Prognosis
Pasien dengan OMSK memiliki prognosis yang baik apabila dilakukan
kontrol yang baik terhadap proses infeksinya. Pemulihan dari fungsi pendengaran
bervariasi dan tergnatung dari penyebab. Hilangnya fungsi pendengaran oleh
gangguan konduksi dapat dipulihkan melalui prosedur pembedahan, walaupun
hasilnya tidak sempurna17.
Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien dapat
menimbulkan kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK yang tidak
ditangani dengan segera. Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien yang
telah mengalami komplikasi intrakranial yaitu meningitis17.
BAB 3
KESIMPULAN
Otitis Media Supuratif Kronik adalah penyakit peradangan telinga bagian
tengah yang kronik dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya
sekret dari telinga lebuh dari dua bulan. Otitis Media Supuratif Kronik juga
dianggap menjadi salah satu penyebab tersering terjadinya gangguan pendengaran
pada anak-anak.
Otitis media supuratif kronik terbagi atas dua bagian berdasarkan ada
tidaknya kolesteatom yaitu OMSK benigna dan maligna. Pengobatan pada
penyakit ini juga ditentukan sesuai jenis OMSK dan ada atau tidaknya komplikasi
yang dialami pasien, pengobatan yang dilakukan bisa berupa pencucian telinga,
pemberian antibiotika topikal maupun oral, sampai dengan pembedahan.
Komplikasi yang bisa terjadi pada penyakit ini karena adanya infeksi,
inflamasi, jaringan granulasi dan pembentukan kolesteatom yang terus menerus.
Keterlambatan dalam diagnosis dan penatalaksanaan OMSK akan mengakibatkan
munculnya komplikasi yang dapat meningkatkan angka kematian
DAFTAR PUSTAKA

1. Pangemanan D.M, Palandeng O.I, Pelealu O.C.P. Otitis Media Supuratif


Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Periode Januari 2014 – Desember 2016. Jurnal e-Clinic
(eCl).2018.vol.6,no.1.
2. Farida Y,Sapto H. Oktaria D. Tatalaksana Terkini Otitis Media Supuratif
Kronis (OMSK). J Medula Unila. 2016.vol.6,no.1.
3. Sun J, Sun J. Intracranial complications of chronic otitis media. Eur Arch
Otorhinolaryngol. 2013.vol.271,no.11,2923–6.
4. Tyagi S, Srivastava M, Singh V, Kumar L. Chronic Suppurative Otitis
Media : Clinical Presentation of Intracranial Complication in a Rural Area.
J Evidance Based Med Healthc. 2015,vol.2,no.40,6639–44.
5. Acuin J. Chronic suppurative otitis media: burden of illness and
management options. Geneva, Switzerland: WHO Library Cataloguing in
Publication Data. 2004.
6. Aboet A. Radang telinga tengah menahun.pidato Pengukuhan Jabatan Guru
Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala Leher. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara;
2007.
7. Bhat KV, Naseeruddin K, Nagalothimath US, Kumar PR, Hedge JS. Cortical
mastoidectomy in quiescent, tubo- tympanic, chronic otitis media: Is it
routinely necessary? J Laryngol Otol. 2009,vol.123,383-90.
8. Sari JTY, Edward Y, Rosalinda R. Otitis Media Supuratif Kronis Tipe
Kolesteatom dengan Komplikasi Meningitis dan Paresis Nervus Fasialis
Perifer.Jurnal Kesehatan Andalas.2018.
9. Baysal E, Erkutlu I, Mete A, Alptekin M, Oz A. Complications and
Treatment of Chronic Otitis Media. J Craniofac Surg.
2013,vol.24,no.2,464–7.

21
10. Sharma N, Ashok A. Complications of Chronic Suppurative Otitis Media
and Their Management : A Single Institution 12 Years Experience. Indian
J Otolaryngol Head Neck Surg. 2015,vol.67,no.4,353–60.
11. Nugroho P S, Wiyadi HMS. Anatomi Dan Fisiologi Pendengaran Perifer.
Jurnal THT-KL. 2009 mei-agustus,vol,2.no,2,76-85.
12. Edward Y, Novianti D. Biofilm Pada Otitis Media Supuratif Kronik.
JMJ.2015 mei,vol.3,no.1,68-78.
13. Morris P, Territory N. Chronic Suppurative Otitis Media. American
Academy of Family Physician. 2013;88.
14. Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan Terhadap
Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU / RSUP.H. Adam Malik
Medan. USU Digital Library. 2003.
15. Malirmasele M. Limmon R. Manuputty AG. Karakteristik penderita Otitis
Media Supuratif Kronis di Klinik Telinga Hidung Tenggorokan Rumah
Sakit Umum Daerah dr. M. Haulussy Ambon Tahun 2012. Molucca
Medica, 2014,vol.4,no.2,142-149.
16. Asroel HA, Siregar DR, Aboet A. Profil Penderita Otitis Media Supuratiof
Kronis. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013 Juli,vol.7,no.12,567-571.
17. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher.edisi ketujuh.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2012.
18. Adam GL, Boies LC, Hilger PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6(Boies
Fundamentals of Otolaryngology). Jakarta : Buku Ajar Kedokteran EGC.2009.
19. Djaafar ZA. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 49-62.
20. Levine, S. 1997, Infeksi Kronik pada Telinga Tengah dan Mastoid.
dalam: BOEIS: Buku Ajar Penyakit THT, Ed ke-6, EGC, Jakarta.
21. Chronic Suppurative Otitis Media : Burden of Illness and Management
Options. World Health Organization. Switzerland: 2004.

22