Anda di halaman 1dari 200

GAMBARAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN

BERDASARKAN KARAKTERISTIK PERAWAT, ORGANISASI,


DAN SIFAT DASAR PEKERJAAN DI UNIT RAWAT INAP
RUMAH SAKIT AL-ISLAM BANDUNG PADA PERIODE 2012-2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar


Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M)

OLEH:

FITRI HANDAYANI

1112101000002

PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017 M / 1438 H
i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Skripsi, April 2017

Fitri Handayani, NIM: 1112101000002

Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat,


Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-
Islam Bandung pada Periode 2012-2016
(xxii + 150 halaman, 22 tabel, 1 grafik, 1 bagan, 3 gambar, 3 lampiran)

ABSTRAK
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. Penerapan program keselamatan pasien di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah dilaksanakan sejak tahun 2010. Namun,
berdasarkan laporan insiden keselamatan pasien (IKP) Komite Keselamatan
Pasien tercatat pada tahun 2013 terdapat sebanyak 108 insiden yang di antaranya
terdiri dari 18 kasus KTD, 16 kasus KNC, dan 72 kasus KTC. Tahun 2014 tercatat
sebanyak 129 insiden yang di antaranya terdiri dari 9 kasus KTD, 23 kasus KNC,
dan 96 kasus KTC. Tahun 2015 tercatat sebanyak 105 insiden yang di antaranya
terdiri dari 28 kasus KTD, 8 kasus KNC, dan 66 kasus KTC.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran IKP pada perawat
berdasarkan umur, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi SOP,
kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-
Islam Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross
sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung. Pengambilan sampel menggunakan
purposive sampling dengan sampel sebanyak 76 perawat dan pengumpulan data
dilakukan melalui kuesioner.
Berdasarkan hasil penelitian, perawat yang pernah melakukan IKP sebesar
39,5%. Perawat berusia ≤ 30 tahun sebesar 51,2%, pengetahuan kurang sebesar
89,5%, stres tinggi sebesar 78,6%, kelelahan tinggi 55,2%, persepsi kurang
terhadap implementasi SOP sebesar 65,2%, kerjasama tim kurang baik sebesar
68,4% cenderung pernah melakukan IKP. Sedangkan, perawat yang memiliki
komunikasi efektif sebesar 71,7% dan gangguan atau interupsi rendah sebesar
70,8% cenderung tidak pernah melakukan IKP.
Untuk mengantisipasi terjadinya IKP pada perawat, rumah sakit sebaiknya
dapat meningkatkan faktor – faktor yang berperan dalam insiden keselamatan
pasien terutama pada perawat yang berusia ≤ 30 tahun, pengetahuan, stres,
kelelahan, persepsi terhadap implementasi SOP, dan kerjasama tim.

Kata kunci : Insiden Keselamatan Pasien, Perawat, Karakteritik Individu,


Karakteristik Organisasi, Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan
Daftar Bacaan: 65 (2000 – 2015)

ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM
HEALTH SERVICE MANAGEMENT
Undergraduated Thesis, April 2017

Fitri Handayani, ID Number: 1112101000002

Description of Patient Safety Incidents Based on The Characteristics of


Nurses, Organizations, and The Nature of Work in Inpatient Unit of Al-
Islam Bandung Hospital in The Periode 2012-2016
(xxii + 150 pages, 22 tables, 2 charts, 3 images, 3 attachments)

ABSTRACT
Hospital patient safety is a system where hospitals make patient care safer.
Application of patient safety programs in the hospital Al-Islam Bandung has been
ongoing since 2010. However, patient safety incidents reported by Patients Safety
Committe recorded in 2013 were 108 incidents of which 72 cases KTC, 18 cases
KTD, and 16 cases of KNC. In 2014, there were 129 incidents of which 96 cases
KTC, 23 cases of KNC, and 9 cases KTD. In 2015, there were 105 incidents of
which 66 cases KTC, 28 cases KTD, and 8 cases KNC.
This study aims to description of patient safety incidents by nurses based
of individual characteristics which include age, knowledge, stress and fatigue,
organizational characteristics which consists of communication and
implementation of SOP, teamwork, and disturbance/interruptions at Unit Inpatient
of Al-Islam Bandung Hospital. The study design used in this research is
descriptive research with cross sectional approach. The study population was all
nurses in Inpatient Unit of Al-Islam Bandung Hospital. How sampling collected
using purposive sampling with a sample of 76 nurses and data collected through
questionnaires.
The results showed that were as much as 39,5% of nurses who had
conducted patient safety incidents in Inpatient Unit of Al-Islam Bandung
Hospital. Nurses age of < 30 years 51,2%, lack of knowledge 89,5%, high stress
78,6%, high fatigue 55,2%, lack of perception of the SOP 65,2%, lack of
teamwork 71,7% of nurses who had conducted patient safety incidents. While
nurses have effevtive communication 71,7% and low disturbance/interruptions
70,8% of nurses who hadn’t conducted patient safety incidents.
To prevent the occurrence of patient safety incidents, the hospital should
be able to improve determinan of patient safety incidents, specifially to nurses
age of < 30 years, knowledge, stress, fatigue, lack of perception of the SOP, and
teamwork.

Keywords : Patient Safety Incidents, Nurse, Individual Characteristics,


Organizational Characteristics, The Nature of Work Characteristics
Reading List :65 (2000 – 2015)

iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Identitias Pribadi

Nama Lengkap : Fitri Handayani

Tempat / Tanggal : Sukabumi, 02 April 1994


Lahir

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jalan R. A. Kosasih Ciaul Gang Mahmud RT. 003 RW. 005
No. 52, Kelurahan Citamiang, Kecamatan Cikole, Kota
Sukabumi, Jawa Barat

Agama : Islam

Telepon : 085720008912

Email : kesmas.fitri@gmail.com

Riwayat Pendidikan

2012 – 2017 : Peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Program


Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta

2009 – 2012 : SMA Negeri 5 Kota Sukabumi

2006 – 2009 : SMP Negeri 15 Kota Sukabumi

2000 – 2006 : SD Negeri Cijangkar 1 Kota Sukabumi

1999 – 2000 : TK Islam Assalam

vi
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang Maha

Pengasih dan Maha Penyayang atas limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya

sehingga skripsi yang berjudul “Gambaran Insiden Keselamatan Pasien

Berdasarkan Karakteristik Perawat, Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan

di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-

2016” dapat diselesaikan. Sholawat dan salam tidak lupa penulis sampaikan pada

baginda Rasulullah Muhammad SAW yang membawa umatnya ke jalan yang

diridhoi oleh Allah SWT.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk

menyelesaikan program Strata Satu (S1) pada Program Studi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Keluarga tercinta, terutama Ayahanda Suhendi Sadeli, Ibunda Juju, dan

Saudara – Saudariku, Moch. Iskandar dan Keluarga, Lina Nurhayati, S. Hut.

dan Keluarga, Nurdin Sayid Firdaus, untuk segala do’a, dorongan semangat,

dukungan moril dan materil, perhatian, serta kasih sayang yang tiada henti

kepada penulis.

2. Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

vii
3. Ibu Fajar Ariyanti, SKM, M.Kes, Ph. D., selaku Kepala Program Studi

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pembimbing

Skripsi yang telah memberikan arahan serta bimbingannya.

4. Ibu Lilis Muchlisoh, SKM, MKM., selaku Pembimbing Skripsi yang telah

memberikan arahan serta bimbingannya.

5. Ibu Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM., selaku Penanggung Jawab

Peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan.

6. Ibu Ratri Ciptaningtyas, MHS., Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK., dan Ibu

Puput Oktamianti, SKM, MM., selaku Penguji Sidang Skripsi yang telah

memberikan arahan dan bimbingannya.

7. Direktur Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang telah memberikan kesempatan

kepada peneliti untuk melakukan penelitian skripsi di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung.

8. dr. Rita Herawati, Sp. PK, M. Kes. selaku Kepala Komite Mutu dan

Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

9. Bapak Ujang Hidayatullah, SKM. selaku Staf Komite Keselamatan Pasien

Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada

peneliti untuk dapat melaksanakan penelitian skripsi dan juga bersedia

memberikan bimbingan serta arahan selama pelaksanaan kegiatan penelitian

skripsi.

10. Seluruh perawat di unit rawat inap yang telah bersedia untuk bekerja sama

dan menjadi responden dalam penelitian skripsi di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung.

viii
11. Sahabat terbaik, Eka Putri Hanifah, S. Pd. yang selalu mendengarkan keluh

kesah penulis, memberikan semangat, dan motivasinya untuk penulis dapat

menyelesaikan skripsi.

12. Hipni Solehudin, S. Ked., dan Keluarga “REKISHI”, Rizki Ananda Prawira

Marpaung, S. Ked., Fitria Nurannisa, S. Ked., Putri Auliya Hilfa Lubis, S.

Ked., dan Muthiah Miftahul Husnayain, S. Ked. yang selalu memberikan

motivasi serta semangatnya kepada penulis.

13. Teman – teman seperjuangan Kesehatan Masyarakat Angkatan 2012

khususnya Peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan yang telah

memberikan dorongan semangat dan kebersamaannya selama menyelesaikan

perkuliahan.

14. Bi Ade dan Keluarga Bandung, Mbak Laily Rachmayanti, dan Keluarga

Tante Dessy yang telah membantu peneliti selama melakukan penelitian.

15. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu penulis dalam

menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

Dengan mengirimkan doa kepada Allah SWT, penulis berharap semua

kebaikan yang telah diberikan mendapat pahala dari Allah SWT. Terakhir penulis

berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Aamiin ya

rabal ‘alamin.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Jakarta, April 2017

Peneliti

ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ......................................................................................... i

ABSTRAK ................................................................................................................... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN............................................................................ iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................................. vi

KATA PENGANTAR ............................................................................................... vii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ x

DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiv

DAFTAR BAGAN................................................................................................... xvii

DAFTAR GRAFIK ................................................................................................ xviii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xx

DAFTAR ISTILAH ................................................................................................. xxi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ......................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................................... 6

C. Pertanyaan Penelitian ............................................................................................... 7

D. Tujuan Penelitian...................................................................................................... 8

1. Tujuan Umum....................................................................................................... 8

2. Tujuan Khusus ...................................................................................................... 8

E. Manfaat Penelitian .................................................................................................... 8

1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung .................................................................. 8

2. Bagi Peneliti selanjutnya ...................................................................................... 9

F. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................................ 9

x
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... 10

A. Konsep Keselamatan Pasien di Rumah Sakit......................................................... 10

1. Definisi Keselamatan Pasien .............................................................................. 10

2. Tujuan Program Keselamatan Pasien ................................................................. 11

3. Standar Keselamatan Pasien ............................................................................... 11

4. Tujuh Langkah Keselamatan Pasien .................................................................. 13

5. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS) .............................................. 14

6. Sasaran Keselamatan Pasien .............................................................................. 15

B. Insiden Keselamatan Pasien ................................................................................... 24

C. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien ...................................................... 28

D. Faktor – Faktor yang Berkontribusi dalam Insiden Keselamatan Pasien............... 33

E. Kerangka Teori Penelitian ...................................................................................... 54

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .................. 56

A. Kerangka Konsep ................................................................................................... 56

B. Definisi Operasional ............................................................................................... 59

BAB IV METODE PENELITIAN .......................................................................... 62

A. Desain Penelitian .................................................................................................... 62

B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................. 62

C. Populasi dan Sampel .............................................................................................. 62

1. Populasi .............................................................................................................. 62

2. Sampel ................................................................................................................ 63

3. Kriteria Sampel................................................................................................... 65

D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................................... 65

1. Sumber Data ....................................................................................................... 65

xi
2. Instrumen Penelitian ........................................................................................... 66

E. Uji Validitas dan Realibilitas .................................................................................. 71

1. Uji Validitas ....................................................................................................... 71

2. Uji Realibilitas .................................................................................................... 72

F. Pengolahan Data ..................................................................................................... 73

G. Analisis Data .......................................................................................................... 75

BAB V HASIL PENELITIAN ................................................................................. 76

A. Gambaran Umum Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................................... 76

B. Gambaran Umum Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung . 77

C. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah

Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016 ................................................. 88

D. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik

Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung... ............................ 90

1. Usia ..................................................................................................................... 90

2. Pengetahuan ........................................................................................................ 91

3. Stres.. ................................................................................................................... 93

4. Kelelahan............................................................................................................. 95

E. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik

Organisasidi Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................ 96

1. Komunikasi ......................................................................................................... 96

2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) ........................................... 99

F. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik

Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ....... 101

1. Kerjasama Tim .................................................................................................. 101

xii
2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat ....................................... 103

BAB VI PEMBAHASAN........................................................................................ 105

A. Keterbatasan Penelitian ........................................................................................ 106

B. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung pada Periode 2012-2016.............................................................. 107

C. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat di

Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................................... 115

1. Usia ................................................................................................................... 115

2. Pengetahuan ...................................................................................................... 117

3. Stres.. ................................................................................................................. 124

4. Kelelahan........................................................................................................... 129

D. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Organisasi

di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ........................................... 134

1. Komunikasi ....................................................................................................... 134

2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) ......................................... 138

E. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Sifat Dasar

Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung .......................... 141

1. Kerjasama Tim ................................................................................................. 141

2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat.. .................................... 144

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 147

A. Simpulan .............................................................................................................. 147

B. Saran ..................................................................................................................... 148

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. xxii

LAMPIRAN ...................................................................................................................

xiii
DAFTAR TABEL

No. Nama Tabel Halaman

Tabel

2.1 Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden Keselamatan 34

Pasien (WHO, 2009)

2.2 Faktor Model Sistem yang Berkontribusi dalam Insiden 35

Keselamatan Pasien (Henriksen et al., 2008)

3.1 Definisi Operasional 59

4.1 Perhitungan Jumlah Sampel 64

4.2 Nilai Cronbach Alpha pada Instrumen Penelitian 73

4.3 Skor Likert pada Pernyataan Positif dan Negatif 74

5.1 Distribusi Pernyataan Perawat terkait Insiden Keselamatan 88

Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

pada Periode 2012-2016

5.2 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Usia 90

Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.3 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan 91

Pengetahuan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung

5.4 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Pengetahuan di Unit 92

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.5 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Stres 93

Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

xiv
No. Nama Tabel Halaman

Tabel

5.6 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Stres di Unit Rawat Inap 94

Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.7 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Kelelahan 95

Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.8 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kelelahan di Unit Rawat 96

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.9 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan 97

Komunikasi Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung

5.10 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Komunikasi di Unit 98

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.11 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan 99

Implementasi SOP di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

5.12 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Implementasi SOP di Unit 100

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

5.13 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan 101

Kerjasama Tim Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung

5.14 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kerjasama Tim di Unit 102

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

xv
No. Nama Tabel Halaman

Tabel

5.15 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Gangguan 103

atau Interupsi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

5.16 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Gangguan atau Interupsi 104

yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit

Al-Islam Bandung

xvi
DAFTAR BAGAN

No.
Nama Bagan Halaman
Bagan

5.1 Struktur Organisasi Komite Mutu dan Keseelamatan Pasien 79

Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016

xvii
DAFTAR GRAFIK

No.
Nama Grafik Halaman
Grafik

5.1 Distribusi Pernyataan Perawat Berdasarkan KTD, KNC, KTC 89

di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada

Periode 2012-2016

xviii
DAFTAR GAMBAR

No.
Nama Gambar Halaman
Gambar

2.1 Faktor – Faktor yang Berkontribusi terhadap Insiden 38

Keselamatan Pasien pada Pelayanan Kesehatan (Henriksen

et al., 2008)

2.2 Kerangka Teori Penelitian 55

2.3 Kerangka Teori Penelitian 58

xix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit Al-Islam Bandung

Lampiran 2. Kuesioner Penelitian

Lampiran 3. Output SPSS

xx
DAFTAR ISTILAH
Nama Singkatan Kepanjangan

AHRQ = Agency For Healthcare Research and Quality

Depkes = Departemen Kesehatan

GKPRS = Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit

IKP = Insiden Keselamatan Pasien

IOM = Institute of Medicine

IPSG = International Patient Safety Goals

JCAHO = Joint Commission on Acreditation of Healthcare Organization

JCI = Joint Commission International


KKPRS = Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit

KNC = Kejadian Nyaris Cedera

KPC = Kejadian Potensial Cedera

KTC = Kejadian Tidak Cedera

KTD = Kejadian Tidak Diharapkan

LASA = Look Alike Sound Alike

NIOSH = National Institute for Occupational Safety and Health

NORUM = Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip

PERSI = Persatuan Rumah Sakit Indonesia

PPNI = Persatuan Perawat Nasional Indonesia

SBAR = Situation, Background, Asessment, Recommendation


SOP = Standar Operasional Prosedur

TBAK = Tulis, Baca, Konfirmasi Kembali

TKPRS = Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit

SPM = Standar Pelayanan Minimal


WHO = World Health Organization

xxi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat

yang di dalamnya terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur,

banyak alat dengan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non

profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien selama 24 jam terus

menerus. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola

dengan baik dapat menimbulkan peluang terjadinya kejadian yang tidak

diharapkan sehingga dapat mengancam keselamatan pasien (Depkes, 2006).

Keselamatan pasien adalah sistem pelayanan dalam rumah sakit yang

memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman. Resiko pasien tidak aman di

rumah sakit bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan terhadap siapa saja. Hal

tersebut tergantung pada lamanya kontraktual pelayanan, keadaan pasien,

kecakapan petugas kesehatan, serta prosedur dan kelengkapan fasilitas rumah

sakit (Sofyan, 2010).

Terjadinya insiden keselamatan pasien di suatu rumah sakit akan

memberikan dampak yang merugikan bagi pihak rumah sakit, staf, dan pasien

sebagai penerima pelayanan. Adapun dampak yang ditimbulkan adalah

semakin meningkatnya perasaan tidak puas hingga maraknya tuntutan pasien

atau keluarganya. Dengan demikian keselamatan pasien merupakan hal yang

sangat penting dalam bidang kesehatan terutama dalam pelayanan rumah sakit

(Sofyan, 2010).

1
Dampak lain yang dapat terjadi menurut Apriningsih (2013) adalah

memperpanjang masa rawat, meningkatkan cedera, kematian, perilaku saling

menyalahkan, konflik antara petugas dan pasien, tuntutan dan proses hukum,

blow up media massa, dapat menurunkan citra dari sebuah rumah sakit, serta

dapat mengindikasikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit masih kurang

baik. Kondisi ini harus mampu diantisipasi oleh penyelenggara layanan

kesehatan agar keselamatan pasien terjamin, kontinuitas pelayanan, dan

organisasi tetap berjalan.

Keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan di

rumah sakit dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan

(Depkes, 2006). Rumah sakit perlu meningkatkan mutu pelayanan untuk

mengembalikan kepercayaan masyarakat di antaranya melalui Program

Keselamatan Pasien, dimana World Health Organization (WHO) telah

memulainya pada tahun 2004. Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit

(GKPRS) di Indonesia dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Republik

Indonesia pada 21 Agustus 2005.

Pada tahun 2000 Institute of Medicine (IOM) di Amerika Serikat

menerbitkan laporan “To Err Is Human, Building a Safer Health System”.

Laporan tersebut mengemukakan penelitian di rumah sakit yakni di Utah dan

Colorado, serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan Kejadian Tidak

Diharapkan (KTD) sebesar 2,9%, dimana 6,6% di antaranya meninggal. Di

New York ditemukan KTD sebesar 3,7% dengan angka kematian 13,6%.

Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang

berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.000 - 98.000 per tahun. Publikasi

2
WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka – angka penelitian di rumah

sakit berbagai Negara, yakni: Amerika, Inggris, Denmark, dan Australia,

ditemukan KTD dengan rentang 3,2% - 16,6%. Dengan data – data tersebut,

berbagai negara melakukan penelitian dan mengembangkan keselamatan

pasien (Depkes, 2006).

Berdasarkan data insiden keselamatan pasien yang diterbitkan oleh

KKPRS tahun 2006 – 2007, di Indonesia ditemukan sebanyak 145 laporan,

tahun 2008 sebanyak 61 laporan, tahun 2009 sebanyak 114 laporan, tahun 2010

sebanyak 103 laporan, dan tahun 2011 sebanyak 34 laporan. Total keseluruhan

laporan dari tahun 2007 – triwulan I tahun 2011 sebanyak 457 laporan insiden

keselamatan pasien yang terjadi di rumah sakit yang ada di Indonesia (KKPRS,

2012). Pelaporan Kejadian Nyaris Cidera (KNC) lebih banyak dilaporkan,

yakni sebesar 47,6%. Angka tersebut jelas lebih tinggi jika dibandingkan

dengan KTD yang hanya sebesar 46,2% (KKPRS, 2008). Data – data yang

dilaporkan tersebut menunjukkan bahwa jumlah insiden keselamatan pasien di

Indonesia sangatlah tinggi.

Berdasarkan laporan KKPRS tahun 2011 Triwulan I, jumlah laporan

insiden keselamatan pasien sebesar 11,23% terjadi di unit keperawatan, 6,17%

di unit farmasi, dan 4,12% oleh dokter. Hal tersebut disebabkan karena ruang

perawatan di rumah sakit merupakan tempat yang berkontribusi paling besar

dalam perawatan pasien. Sebagai tempat yang langsung berhubungan dengan

pasien, maka risiko untuk terjadi kesalahan ataupun insiden keselamatan pasien

sangat besar.

3
Menurut Cahyono (2015), tenaga perawat merupakan tenaga profesional

yang berperan penting dalam fungsi rumah sakit. Hal tersebut didasarkan atas

jumlah tenaga perawat yang memiliki porsi terbesar, yakni 40% - 60% di

dalam pelayanan rumah sakit karena perawat merupakan staf yang memiliki

kontak terbanyak dengan pasien selama 24 jam. Perawat juga merupakan

bagian dari suatu tim yang didalamnya terdapat profesional lain, salah satunya

yakni dokter. Luasnya peran perawat memungkinkan lebih besar terjadi risiko

kesalahan pelayanan yang mengancam keselamatan pasien. Untuk itu, perawat

harus menyadari perannya dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu

pelayanan di rumah sakit dan harus dapat berpartisipasi aktif dalam

mewujudkan keselamatan pasien.

Masalah terkait keselamatan pasien harus segera ditangani oleh pihak

rumah sakit. Menurut Mustikawati (2011), keselamatan pasien dapat diperoleh

bila faktor yang berkontribusi terhadap insiden keselamatan pasien dapat

diminimalisir bahkan dihindari. Faktor – faktor yang berkontribusi terhadap

insiden keselamatan pasien menurut Henriksen et al. tahun 2008 adalah

karakteristik individu, organisasi, sifat dasar pekerjaan, manajemen,

lingkungan eksternal, dan lingkungan fisik. Adapun menurut WHO tahun

2009, empat faktor yang sangat berpengaruh dalam insiden keselamatan

pasien, yakni karakteristik individu, organisasi dan manajerial, kerjasama tim,

dan lingkungan.

Selain penyebab insiden yang dikemukakan sebelumnya, penyebab lain

terjadinya insiden keselamatan pasien dikemukakan pula oleh Cooper & Clarke

pada tahun 2003 yakni stres di tempat kerja (WHO, 2009). Mattox (2012) juga

4
berpendapat bahwa kelelahan perawat merupakan faktor yang dapat

berkontribusi terjadinya insiden keselamatan pasien.

Penelitian Schaefer et al. (1994) dalam WHO (2009) mengemukakan

bahwa 70% - 80% dari kesalahan terkait insiden keselamatan pasien

disebabkan karena komunikasi dan kerjasama tim yang buruk. Begitu pula

laporan insiden keselamatan oleh KKPRS tahun 2011 menyebutkan bahwa

penyebab insiden keselamatan pasien sebesar 19,58% berasal dari tim kerja

yang kurang.

Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) tahun 2003 juga

mengungkapkan bahwa faktor yang dapat menimbulkan insiden keselamatan

pasien adalah masalah sumber daya manusia dalam pelaksanaan alur kerja atau

prosedur yang tidak adekuat. Begitu pula laporan KKPRS tahun 2011

menyebutkan bahwa kesalahan terkait insiden keselamatan pasien sebesar

9,26% disebabkan pada proses atau prosedur klinik.

Menurut Kuncoro (2012) dalam menerapkan keselamatan pasien di

rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya adalah

aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien sangat

penting untuk mendorong pelaksanaan program keselamatan pasien.

Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan salah satu rumah sakit

swasta tipe B yang telah menerapkan program keselamatan pasien sejak tahun

2010. Dalam PMK No. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal

Rumah Sakit bahwa terjadinya insiden keselamatan pasien standarnya adalah

0% atau 100% tidak terjadi di rumah sakit. Namun, insiden keselamatan pasien

di Rumah Sakit Al-Islam Bandung masih terjadi. Hal ini didasarkan atas

5
laporan Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung, yakni

pada tahun 2013 terdapat sebanyak 108 insiden yang terdiri dari 18 KTD, 16

KNC, dan 72 Kejadian Tidak Cidera (KTC). Tahun 2014 terdapat sebanyak

129 insiden yang terdiri dari 9 KTD, 23 KNC, dan 96 KTC. Tahun 2015

terdapat sebanyak 105 insiden yang terdiri dari 28 KTD, 8 KNC, dan 66 KTC.

Sebagian besar insiden keselamatan pasien yang dilaporkan terjadi di ruang

rawat inap.

Adanya kejadian terkait insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-

Islam Bandung menunjukkan bahwa standar yang ditetapkan belum dapat

terpenuhi, serta mengindikasikan bahwa terdapat banyak kejadian yang

berpotensi menimbulkan kerugian bahkan mengancam keselamatan pasien.

Atas dasar tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang

“Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat,

Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung pada Periode 2012-2016”.

B. Rumusan Masalah

Keselamatan pasien merupakan suatu sistem yang difokuskan untuk

meningkatkan mutu dan citra rumah sakit. Fokus tentang keselamatan pasien

tersebut didorong karena masih tingginya angka insiden keselamatan pasien di

rumah sakit baik secara nasional maupun global.

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini

adalah adanya kejadian terkait insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-

Islam Bandung sehingga standar yang ditetapkan dalam Permenkes No. 129

tahun 2008 belum dapat terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa perawat dalam

6
memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien di unit rawat inap

belum mengutamakan aspek keselamatan pasien secara optimal dan

mengindikasikan bahwa terdapat banyak kejadian yang berpotensi

menimbulkan kerugian bahkan mengancam keselamatan pasien. Keadaan ini

dapat disebabkan karena belum diketahuinya gambaran faktor yang

berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien di Unit Rawat Inap Rumah

Sakit Al-Islam Bandung.

C. Pertanyaan Penelitian

Adapun beberapa pertanyaan penelitian yang selanjutnya hendak diteliti

dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016?

2. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan

karakteristik perawat (usia, pengetahuan, stres, dan kelelahan) di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung?

3. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan

karakteristik organisasi (komunikasi dan implementasi SOP) di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung?

4. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan

karakteristik sifat dasar pekerjaan (kerjasama tim dan gangguan atau

interupsi yang dialami oleh perawat) di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung?

7
D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilaksanakan antara lain:

1. Tujuan Umum

Diketahuinya gambaran insiden keselamatan pasien berdasarkan

karakteristik perawat, organisasi, dan sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien di Unit

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016.

b. Diketahuinya distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien

berdasarkan karakteristik perawat (usia, pengetahuan, stres, dan

kelelahan) di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

c. Diketahuinya distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien

berdasarkan karakteristik organisasi (komunikasi dan implementasi SOP)

di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

d. Diketahuinya distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien

berdasarkan karakteristik sifat dasar pekerjaan (kerjasama tim dan

gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat) di Unit Rawat Inap

Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak

manajemen rumah sakit dalam rangka memberikan pelayanan kepada pasien

yang aman, nyaman, dan bermutu tinggi. Dengan meningkatnya

8
keselamatan pasien diharapkan pula dapat meningkatkan kepercayaan

masyarakat terhadap rumah sakit.

2. Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau

gambaran untuk pengembangan penelitian selanjutnya yang berkaitan

dengan insiden keselamatan pasien dan dapat menjadi bahan – bahan

referensi untuk melakukan penelitian lain atau serupa.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh Mahasiswa Peminatan Manajemen

Pelayanan Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran

insiden keselamatan pasien berdasarkan karakteristik perawat, organisasi, dan

sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada

periode 2012-2016. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kejadian terkait

insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang

menunjukkan tidak tercapainya salah satu target SPM Rumah Sakit dalam

PMK No. 129 tahun 2008 pada poin keselamatan pasien. Penelitian ini

menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

1. Definisi Keselamatan Pasien

World Health Organization (WHO) (2007) mengungkapkan bahwa

pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien bukan sebuah pilihan akan

tetapi merupakan hak pasien untuk pecaya pada pelayanan yang diberikan

oleh suatu sistem pelayanan kesehatan.

Menurut Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS)

Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) (2008), keselamatan (safety)

adalah bebas dari bahaya atau risiko (hazard). Keselamatan pasien adalah

pasien bebas dari cedera (harm) yang tidak seharusnya terjadi atau bebas

dari cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera fisik, sosial,

psikologi, cacat, kematian, dan lain – lain) terkait dengan pelayanan

kesehatan.

Dalam PMK RI No. 1691 tahun 2011, keselamatan pasien rumah sakit

adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.

Sistem tersebut meliputi: assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal

yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,

kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi

solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut diharapkan

dapat mencegah tejadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat

melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang

seharusnya dilakukan.

10
2. Tujuan Program Keselamatan Pasien

Dalam KKPRS (2008), tujuan dari program keselamatan pasien di

rumah sakit antara lain:

a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

b. Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.

c. Menurunnya kejadian yang tidak diharapkan di rumah sakit.

d. Terlaksananya program – program pencegahan sehingga tidak terjadi

pengulangan kejadian tidak diharapkan.

3. Standar Keselamatan Pasien

Setiap rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.

Standar ini disusun dengan mengacu pada “Hospital Patient Safety

Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Acreditation of

Health Organization (JCAHO), Illinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan

situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia (Depkes, 2006). Standar

keselamatan pasien di rumah sakit terdiri dari:

a. Standar 1: Hak pasien

Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi

tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya

kejadian tidak diharapkan.

b. Standar II: Mendidik pasien dan keluarga

Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban

dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

11
c. Standar III: Jaminan keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.

Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin

koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.

d. Standar IV: Penggunaan metoda – metoda peningkatan kinerja untuk

melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.

Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang

ada, memonitor, dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,

menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan, dan melakukan

perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

e. Standar V: Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan

pasien

1) Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program

keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui

penerapan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.

2) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk

identifikasi risiko keselamatan pasien dan program menekan atau

mengurangi kejadian tidak diharapkan.

3) Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi

antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan

tentang keselamatan pasien.

4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk

mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit, serta

meningkatkan keselamatan pasien.

12
5) Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam

meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

f. Standar VI: Mendidik staf tentang keselamatan pasien

1) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi

untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan

keselamatan pasien secara jelas.

2) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf

serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

g. Standar VII : Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai

keselamatan pasien

1) Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen

informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi

internal dan eksternal.

2) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

4. Tujuh Langkah Keselamatan Pasien

Mengacu kepada standar keselamatan pasien, rumah sakit harus

merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan

mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara

intensif terhadap insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan

kinerja serta keselamatan pasien. Proses perancangan tersebut harus

mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas

pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan

faktor – faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan tujuh

13
langkah keselamatan pasien rumah sakit. Menurut Depkes (2006), tujuh

langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit terdiri dari:

a. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. Ciptakan

kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.

b. Pimpin dan dukung staf. Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan

jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit.

c. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Kembangkan sistem dan proses

pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan asessmen hal yang

potensial bermasalah.

d. Kembangkan sistem pelaporan. Pastikan staf di rumah sakit agar dengan

mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden, serta rumah sakit

mengatur pelaporan kepada KKPRS.

e. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara – cara

komunikasi yang terbuka dengan pasien.

f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Dorong staf

melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa

kejadian itu timbul.

g. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien. Gunakan

informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan

perubahan pada sistem pelayanan.

5. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS)

Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, rumah sakit dan tenaga kesehatan

yang bekerja di rumah sakit wajib melaksanakan program dengan mengacu

pada Kebijakan Nasional KKPRS PERSI. Setiap rumah sakit wajib

14
membentuk TKPRS yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai

pelaksana kegiatan keselamatan pasien. TKPRS yang dimaksud

bertanggung jawab kepada kepala rumah sakit. Keanggotaan TKPRS terdiri

dari manajemen rumah sakit dan unsur dari profesi kesehatan di rumah

sakit. Menurut Depkes (2008), tugas dari TKPRS sebagai berikut:

a. Mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit sesuai

dengan kekhususan rumah sakit tersebut.

b. Menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program keselamatan

pasien rumah sakit.

c. Menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi, konsultasi,

pemantauan (monitoring), dan penilaian (evaluasi) tentang penerapan

(implementasi) program keselamatan pasien rumah sakit.

d. Bekerjasama dengan bagian pendidikan dan pelatihan rumah sakit untuk

melakukan pelatihan internal keselamatan pasien rumah sakit.

e. Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden, serta

mengembangkan solusi untuk pembelajaran.

f. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah sakit

dalam rangka pengambilan kebijakan keselamatan pasien rumah sakit.

g. Membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah sakit.

6. Sasaran Keselamatan Pasien

Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, pelaksanaan sasaran keselamatan

pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang

terakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Penyusunan

sasaran ini mengacu kepada Nine Life – Saving Patient Safety Solutions dari

15
WHO (2007) yang digunakan juga oleh KKPRS PERSI, dan dari The Joint

Comission International (JCI).

Tujuan dari sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan

spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian – bagian yang

bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti, serta solusi

dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Enam

sasaran keselamatan pasien terdiri dari:

a. Ketepatan Identifikasi Pasien

Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat

terjadi di hampir semua aspek atau tahapan diagnosis dan pengobatan.

Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam

keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar

tempat tidur/kamar/lokasi di rumah sakit, adanya kelainan sensori, atau

akibat situasi lain. Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali

pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu

yang akan menerima pelayanan dan pengobatan; dan kedua, untuk

kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif

dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada

proses untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah atau

produk darah, pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan

klinis, atau pemberian pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau

prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi

seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir,

16
gelang identitas pasien dengan barcode, dan lain – lain. Nomor kamar

pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan

dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di

lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit

gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma

tanpa identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk

mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar dapat memastikan

semua kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi.

Elemen Penilaian Sasaran I:

1) Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien misalnya

nama dan tanggal lahir pasien. Tidak boleh menggunakan nomor

kamar atau lokasi pasien.

2) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk

darah.

3) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain

untuk pemeriksaan klinis.

4) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan

tindakan/prosedur.

5) Kebijakan dan/atau prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi

yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.

b. Peningkatan Komunikasi yang Efektif

Komunikasi efektif merupakan komunikasi yang tepat waktu,

akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien sehingga akan

mengurangi kesalahan dan menghasilkan peningkatan keselamatan

17
pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis.

Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat

perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang

mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil

pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laporan laboratorium klinik

cito melalui telepon ke unit pelayanan.

Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan

dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk mencatat

(atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil

pemeriksaan oleh penerima perintah, kemudian penerima perintah

membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan, dan

mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang

adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga

menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali

(read back) bila tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi

gawat darurat di instalasi gawat darurat atau intensive care unit.

Elemen Penilaian Sasaran II:

1) Perintah lengkap secara lisan dan melalui telepon atau hasil

pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah.

2) Perintah lengkap lisan dan telepon atau hasil pemeriksaan dibacakan

kembali secara lengkap oleh penerima perintah.

3) Perintah atau pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau

yang menyampaikan hasil pemeriksaan.

18
4) Kebijakan dan/atau prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi

keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten.

c. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High Alert

Medications)

Bila obat – obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien

manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan

pasien. Obat – obatan yang perlu diwaspadai adalah obat yang sering

menyebabkan terjadi kesalahan – kesalahan serius (sentinel event), obat

yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan

(adverse outcome), seperti obat – obat yang terlihat mirip dan

kedengarannya mirip (Nama Obat, Rupa, dan Ucapan Mirip/ NORUM,

atau Look Alike Sound Alike/ LASA). Obat – obatan yang sering

disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit

konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2 meq/ml atau

yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%,

dan magnesium sulfat sama dengan 50% atau lebih pekat). Kesalahan ini

bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit

pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih

dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang

paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut

adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat –obat yang perlu

diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit

pelayanan pasien ke farmasi.

19
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan

dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat – obat yang perlu

diwaspadai berdasarkan data yang ada dirumah sakit. Kebijakan dan/atau

prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan

elektrolit konsentrat, seperti di instalasi gawat darurat atau kamar operasi,

serta pemberian label secara benar pada elektrolit yang benar dan

bagaimana penyimpanannya di area tersebut sehingga membatasi akses

untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja atau kurang hati – hati.

Elemen Penilaian Sasaran III:

1) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses

identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan

elektrolit konsentrat.

2) Implementasi kebijakan dan prosedur.

3) Elekrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien, kecuali jika

dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah

pemberian yang kurang hati – hati diarea tersebut sesuai kebijakan.

4) Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus

diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang dibatasi ketat

(restricted).

d. Kepastian Tepat – Lokasi, Tepat – Prosedur, Tepat – Pasien Operasi

Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu

kebijakan dan/atau prosedur yang efektif didalam mengeliminasi masalah

yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti,

seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient

20
Safety (2009), juga The Joint Commitions Universal Protocol for

Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Persont Surgary.

Salah lokasi, salah prosedur, dan salah pasien pada operasi adalah

sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit.

Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang

tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien

di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur

verifikasi lokasi operasi. Disamping itu, asessmen pasien yang tidak

adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang

tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,

permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak

terbaca (illegible hand writing), dan pemakaian singkatan adalah faktor –

faktor kontribusi yang sering terjadi.

Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan

atas satu tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara

konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator atau orang yang

melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika

memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan

lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),

multiple struktur (jari tangan, jari kaki lesi), atau multiple level (tulang

belakang). Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk:

1) Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar.

21
2) Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil

pemeriksaan yang relevan yang tersedia, diberi label dengan baik dan

dipampang.

3) Melakukan verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau inplant –

inplant yang dibutuhkan.

Tahap “sebelum insisi” (time out) memungkinkan semua

pertanyaan atau kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan ditempat

dimana tindakan akan dilakukan tepat sebelum tindakan dimulai dan

melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana

proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan

checklist.

Elemen Penilaian Sasaran IV:

1) Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti

untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien didalam proses

penandaan.

2) Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk

memverifikasi saat praoperasi tepat – lokasi, tepat – prosedur, tepat –

pasien operasi dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan

tersedia tepat dan fungsional.

3) Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur

“sebelum insisi” (time out). Tepat sebelum dimulainya suatu prosedur

atau tindakan pembedahan.

4) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mendukung proses

yang seragam untuk memastikan tepat-lokasi, tepat – lokasi, tepat –

22
prosedur, tepat – pasien operasi, termasuk prosedur medis dan dental

yang dilaksanakan diluar kamar operasi.

e. Pengurangan Risiko Infeksi terkait Pelayanan Kesehatan

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan tantangan

terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan dan peningkatan biaya untuk

mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan

merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional

pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk

pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran

darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan

dengan ventilasi mekanis).

Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi – infeksi lain adalah

cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Rumah sakit mempunyai proses

kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang

menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima

secara umum dan untuk implementasi sebagai petunjuk di rumah sakit.

Elemen Penilaian Sasaran V:

1) Rumah sakit mengadopsi dan mengadaptasi pedoman hand hygiene

terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (antara lain

dari WHO Patient Safety).

2) Rumah sakit menerapkan hand hygiene yang efektif.

3) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan

pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait

pelayanan kesehatan.

23
f. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh

Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi

pasien rawat inap. Dalam konteks populasi atau masyarakat yang

dilayani, pelayanan yang disediakan fasilitasnya, rumah sakit perlu

mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk

mengurangi risiko cedera bila pasien jatuh. Evaluasi bisa termasuk

riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi obat, gaya jalan dan

keseimbangan, serta alat bantu yang digunakan oleh pasien.

Elemen Penilaian Sasaran VI:

1) Rumah sakit melakukan proses assesmen awal atas pasien terhadap

risiko jatuh dan melakukan asessmen ulang pasien bila diindikasikan

terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain – lain.

2) Langkah – langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi

mereka yang pada hasil asessmen berisiko jatuh.

3) Langkah – langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan

pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian yang tidak

diharapkan.

4) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan

pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh dirumah

sakit.

B. Insiden Keselamatan Pasien

Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, insiden keselamatan pasien adalah

setiap kejadian atau situasi yang tidak disengaja dan kondisi yang

mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada

24
pasien. Menurut Depkes (2008), insiden keselamatan pasien juga merupakan

akibat dari melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil

tindakan yang seharusnya diambil (omission).

Adapun jenis – jenis kejadian yang terkait insiden keselamatan pasien

dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) atau Adverse Event

Reason (2000) mengungkapkan bahwa KTD dapat terjadi di semua

tahapan dalam pemberi pelayanan kesehatan mulai dari diagnosis,

pengobatan, dan pencegahan. Cahyono (2008) berpendapat bahwa KTD ada

yang dapat dicegah (preventable adverse event) dan ada yang tidak dapat

dicegah (unpreventable adverse event). KTD yang dapat dicegah berasal

dari kesalahan proses asuhan pasien. KTD sebagai dampak dari kesalahan

proses asuhan sudah banyak dilaporkan terutama di negara maju. KTD yang

tidak dapat dicegah adalah suatu kesalahan akibat komplikasi yang tidak

dapat dicegah.

Menurut KKPRS (2008), KTD merupakan suatu kejadian yang tidak

diharapkan yang mengakibatkan cedera pada pasien akibat melaksanakan

suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya

diambil (omission), dan bukan karena penyakit dasarnya (underlying

disease) atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis

atau bukan kesalahan medis.

Bentuk KTD yang dilaporkan oleh Ballard (2003) meliputi: 28%

reaksi dari pengobatan atau obat – obat yang diberikan, 42% adalah kejadian

yang mengancam kehidupan tetapi dapat dicegah, 20% pelayanan yang

25
didapat di poliklinik, 10% - 30% merupakan kesalahan hasil laboratorium.

Yahya (2006) memaparkan di Indonesia sepanjang tahun 2004 – 2005

laporan dari berbagai sumber tentang dugaaan malpraktek didapatkan data

47 insiden meliputi: pasien meninggal karena operasi, meninggal saat

melahirkan, operasi yang mengakibatkan luka dan cacat, keracunan obat,

salah pemberian obat, dan kelalaian yang mengakibatkan kematian.

2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) atau Near Miss

Aspden (2004) mengungkapkan bahwa KNC lebih sering terjadi

dibandingkan dengan KTD, frekuensi kejadian ini tujuh sampai seratus kali

dibandingkan dengan KTD. Bentuk KNC yang dilaporkan oleh Shaw et al.

tahun 2005 dari total insiden sebanyak 28.998 kasus yang dilaporkan

sebanyak (41%) pasien tergelincir, tersandung dan jatuh, (9%) insiden

terkait manajemen obat, (8%) insiden terkait sumber dan fasilitas, dan (7%)

terkait pengobatan sebanyak 138 laporan merupakan masalah besar

(katastropik) dan 260 laporan KTD. Kejadian tergelincir, tersandung, dan

jatuh dilaporkan merupakan hal yang paling besar (n = 11.766).

Data KNC harus dianalisis agar pencegahan dan pembentukan sistem

dapat dibuat sehingga cedera aktual tidak terjadi. Pada sebagian besar kasus

KNC dapat memberi dampak pada pembuatan model penyebab dari insiden

(incident causation model) atau proses hingga KNC terjadi. Model

penyebab terjadinya insiden, KNC berperan sebagai pelopor awal sebelum

terjadinya KTD. KNC menyediakan dua tipe informasi terkait dengan

keamanan pasien: 1) kelemahan dari sistem pelayanan kesehatan (kesalahan

dan kegagalan termasuk tidak adekuatnya sistem pertahanan), dan 2)

26
kekuatan dari sistem pelayanan kesehatan, yaitu tidak ada perencanaan atau

tindakan pemulihan secara informal (Robert, 2002 dalam Aspden, 2004).

Berdasarkan KKPRS (2008), KNC adalah suatu kejadian akibat

melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil tindakan

yang seharusnya diambil (omission) yang dapat mencederai pasien, tetapi

cedera serius tidak terjadi karena:

a) “keberuntungan” (misalnya: pasien yang menerima suatu obat kontra

indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat).

b) “pencegahan” (misalnya: secara tidak sengaja pasien akan diberikan

suatu obat dengan dosis lethal, tetapi staf lain mengetahui dan

membatalkannya sebelum obat diberikan).

c) “peringatan” (misalnya: pasien secara tidak sengaja telah diberikan suatu

obat dengan dosis lethal, segera diketahui secara dini lalu diberikan

antidotumnya, sehingga tidak menimbulkan cidera yang berarti).

Menurut Cahyono (2008), terciptanya keselamatan pasien sangat

didukung oleh sistem pelaporan yang baik setiap kali insiden terjadi. Faktor

penyebab KNC sulit didapatkan jika tidak didukung oleh dokumentasi yang

baik (sistem pelaporan). Hal ini dapat mengakibatkan langkah pencegahan

dan implementasi untuk perbaikan sulit dilakukan.

Menurut Kaplan (2002), tujuan sistem pelaporan KNC terdiri dari: 1)

pemodelan: bertujuan melihat lebih mendalam bagaimana kegagalan atau

kesalahan berkembang menjadi KNC. Mengidentifikasi faktor – faktor apa

saja yang mempengaruhi terjadinya kejadian diawal, bagaimana

meningkatkan keamanan pasien, bagaimana mencegah hal tersebut tidak

27
terjadi, dan memberi penguatan pada model pemecahan masalah yang

diambil pada kasus sebelumnya, 2) arah atau kecenderungan: bertujuan

melihat kecenderungan terjadinya masalah (masalah apa yang sering terjadi,

faktor apa saja yang berkontribusi terhadap terjadinya masalah,

menyediakan cara pemecahan masalah yang paling efektif, dan prioritas

untuk dijalankan, 3) meningkatkan kesadaran dan kehati – hatian.

3. Kejadian Tidak Cedera (KTC)

KTC adalah suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi

tidak mengakibatkan cedera.

C. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien

Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut pelaporan

insiden adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden

keselamatan pasien, analisis, dan solusi untuk pembelajaran (PMK No. 1691

tahun 2011).

Menurut KKPRS (2008), KTD dan KNC sangat rentan terjadi di rumah

sakit. Pada tahun 2005, WHO menyebutkan kecelakaan yang terjadi di rumah

sakit adalah 1 : 3000 lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan

kecelakaan di penerbangan sebesar 1 : 3.000.000. Hal tersebut menunjukkan

bahwa kemungkinan kecelakaan di rumah sakit lebih besar dibandingkan

dengan kemungkinan kecelakaan akibat penerbangan. Oleh karena itu, untuk

mengevaluasi keberhasilan dari prosedur pengendalian insiden keselamatan

pasien membutuhkan sebuah metode untuk mengidentifikasi risiko, salah satu

cara yang dilakukan dengan mengembangkan sistem pelaporan dan sistem

analisis. Sistem pelaporan ini dipastikan akan mengajak semua orang dalam

28
organisasi kesehatan untuk peduli akan bahaya atau potensi bahaya yang dapat

terjadi kepada pasien. Pelaporan juga penting digunakan untuk memonitor

upaya pencegahan terjadinya error, sehingga diharapkan dapat mendorong

dilakukannya investigasi selanjutnya. Beberapa ketentuan terkait pelaporan

insiden sesuai dengan Panduan Nasional KKPRS (2008) sebagai berikut:

1. Insiden sangat penting dilaporkan karena akan menjadi awal proses

pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

2. Memulai pelaporan insiden dilakukan dengan membuat suatu sistem

pelaporan insiden di rumah sakit meliputi kebijakan, alur pelaporan,

formulir pelaporan dan prosedur pelaporan yang harus disosialisasikan pada

seluruh karyawan.

3. Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi

ataupun yang nyaris terjadi.

4. Pelapor adalah siapa saja atau semua staf rumah sakit yang pertama

menemukan kejadian atau yang terlibat dalam kejadian.

5. Karyawan diberikan pelatihan mengenai sistem pelaporan insiden mulai dari

maksud, tujuan dan manfaat laporan, alur pelaporan, bagaimana cara

mengisi formulir laporan insiden, kapan harus melaporkan, pengertian-

pengertian yang digunakan dalam sistem pelaporan dan cara menganalisa

laporan.

KKPRS menganalisis semua insiden keselamatan pasien yang telah

dilaporkan oleh pihak rumah sakit setelah mendapatkan rekomendasi dan

solusi dari TKPRS. Sistem pelaporan ini akan mendokumentasikan laporan

insiden keselamatan pasien, menganalisis dan mencari solusi untuk dijadikan

29
pembelajaran, sistem pelaporan yang bersifat rahasia, dijamin keamanannya,

dibuat anonim, dan tidak mudah diakses oleh yang tidak berhak.

Pelaporan insiden keselamatan pasien mempunyai beberapa tujuan

sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Pelaporan insiden keselamatan pasien bertujuan untuk menurunkan

angka insiden keselamatan pasien (KTD dan KNC), meningkatkan mutu

pelayanan, dan keselamatan pasien.

2. Tujuan Khusus

a. Rumah Sakit (Internal)

1) Terlaksananya sistem pelaporan dan pencatatan insiden keselamatan

pasien di rumah sakit.

2) Diketahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada akar

masalah.

3) Didapatkannya pembelajaran untuk perbaikan asuhan kepada pasien

agar dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian hari.

b. KKPRS (Ekternal)

1) Diperolehnya data atau peta nasional angka insiden keselamatan

pasien (KTD dan KNC).

2) Diperolehnya pembelajaran untuk meningkatkan mutu pelayanan dan

keselamatan pasien bagi rumah sakit lain.

3) Ditetapkannya langkah – langkah praktis keselamatan pasien untuk

rumah sakit di Indonesia.

30
Berdasarkan buku Pedoman Penyelenggaraan Keselamatan Pasien di

Rumah Sakit Al-Islam Bandung, adapun alur pelaporan insiden keselamatan

pasien secara internal dan eksternal sebagai berikut:

1. Pelaporan Internal

a. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) di rumah sakit, wajib segera

ditindaklanjuti (dicegah/ditangani) untuk mengurangi dampak/akibat

yang tidak diharapkan oleh pihak yang terkait.

b. Setelah ditindak lanjuti, segera dibuat laporan insiden dengan mengisi

laporan insiden pada akhir jam kerja/shift yang ditujukan kepada atasan

langsung (paling lambat 2 x 24 jam). Pelaporan insiden tidak boleh

ditunda terlalu lama.

c. Setelah selesai mengisi format laporan, segera serahkan kepada atasan

langsung pelapor. Atasan langsung disepakati sesuai keputusan

manajemen, yaitu: supervisor/kepala unit/kepala instalasi/kepala

bagian/Kepala SMF/ketua komite medis.

d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading resiko

terhadap insiden yang dilaporkan.

e. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan

dilakukan sebagai berikut:

1) Grade biru: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu

maksimal 1 minggu.

2) Grade hijau: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu

maksimal 2 minggu.

31
3) Grade kuning: Investigasi komprehensif/ analisis akar masalah /RCA

oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari.

4) Grade merah: Investigasi komprehensif/ analisis akar masalah / RCA

oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari.

f. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi

dan laporan insiden dilaporkan ke Tim KP di RS.

g. Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil Investigasi dan Laporan

insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan

(RCA) dengan melakukan re-grading.

h. Untuk grade kuning/merah, Tim KP di RS akan melakukan analisis akar

masalah/ RCA.

i. Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan dan

rekomendasi untuk perbaikan serta “pembelajaran” berupa petunjuk

”safety alert” untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

j. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada Direksi.

k. Rekomendasi untuk “perbaikan dan pembelajaran” diberikan umpan

balik kepada unit kerja terkait.

l. Unit Kerja membuat analisis dan trend kejadian di satuan kerjanya

masing - masing.

m. Monitoring dan evaluasi perbaikan oleh tim KP di RS.

2. Pelaporan Eksternal

a. Laporan hasil investigasi sederhana/ analisis akar masalah/ RCA yang

terjadi pada pasien dilaporkan oleh Tim KP di RS (Internal)/ Pimpinan

32
RS ke KKP-RS nasional dengan mengisi formulir laporan insiden

keselamatan pasien.

b. Laporan dikirim ke KKP-RS lewat POS atau KURIR ke alamat:

Sekretariat KPP-RS d/a Kantor Persatuan Rumah Sakit Indonesia

(PERSI) Jalan Boulevard Artha Gading Blok A-7A No 28, Kelapa

Gading – Jakarta Utara 14240, Telp.(021) 45845303/304.

D. Faktor - Faktor yang Berkontribusi dalam Insiden Keselamatan Pasien

IOM melalui laporannya yang berjudul “To Err is Human: Building a

Safety Health System” pada tahun 2000 menekankan bahwa yang

meningkatkan pencegahan terhadap insiden (adverse event) adalah berupa

faktor yang sistemik, artinya tidak hanya berasal dari kinerja seorang perawat,

dokter, atau tenaga kesehatan lain menurut Sanders, 1993 dalam Kohn (2000).

Laporan tersebut juga memberi perhatian pada faktor komunitas manusia yang

terlibat pada masalah pelayanan kesehatan. Insiden keselamatan pasien

dihasilkan dari interaksi atau kecenderungan dari beberapa faktor yang

diperlukan kecuali beberapa faktor yang tidak sesuai. Kekurangan pada faktor

– faktor tersebut terlihat pada sistem, telah lama ada sebelum terjadi suatu

insiden. Yang menjadi poin penting adalah pada pemahaman bahwa, ada

kebutuhan untuk menyadari dan memahami fungsi dari banyaknya sistem yang

masing – masing berkaitan dengan setiap penyedia layanan kesehatan dan

bagaimana kebijakan, serta tindakan yang diambil pada suatu bagian (dalam

sistem tersebut) akan berdampak pada keamanan, kualitas, dan efisiensi pada

sistem bagian lainnya (Kohn, 2000). Adanya laporan tersebut berdampak pada

gerakan untuk melakukan program keselamatan pasien di setiap rumah sakit di

33
seluruh dunia untuk mengatasi masalah insiden keselamatan pasien yang sering

terjadi di berbagai rumah sakit yang ada di dunia.

Beberapa peneliti telah mengusulkan beberapa model sistem dengan

faktor. salah satunya yakni WHO tahun 2009 mengembangkan empat kategori

faktor dengan sepuluh topik yang sangat berhubungan dengan penyebab

insiden keselamatan pasien.

Tabel 2.1 Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden Keselamatan Pasien


(WHO, 2009)
No Kategori Topik
1 Individu 1. Stres
2. Kelelahan
3. Kewaspadaan Situasi
4. Pengambilan Keputusan
2 Organisasi 5. Komunikasi
6. Budaya Keselamatan
7. Kepemimpinan Manajer
3 Kerjasama Tim 8. Kerjasama tim
9. Supervisor
4 Lingkungan 10. Lingkungan Kerja dan Budaya

Sebuah istilah yang dikenal dalam bidang keselamatan pasien adalah

bahwa setiap sistem secara sempurna dirancang untuk meraih hasil yang

didapatkan (Henriksen et al., 2008). Beberapa peneliti telah mengusulkan

beberapa model sistem dengan faktor. Perbandingan elemen – elemen model

pada sistem sosioteknikal sebagai berikut:

34
Tabel 2.2 Faktor Model Sistem yang Berkontribusi dalam Insiden
Keselamatan Pasien (Henriksen et al., 2008)
No Penulis Faktor Pada Model Sistem
1 Henriksen et al., 1993 1. Karakteristik individu
2. Sifat dasar pekerjaan
3. Interaksi antara sistem dan manusia
4. Lingkungan fisik
5. Lingkungan sosial/organisasi
6. Manajemen
7. Lingkungan Eksternal
2 Vincent, 1998 1. Karakteristik pasien
2. Faktor pekerjaan
3. Faktor individu
4. Lingkungan kerja
5. Faktor manajemen dan organisasi
3 Carayon, 2000 1. Manusia (disiplin ilmu)
2. Teknologi dan perangkat
3. Lingkungan fisik
4. Target organisasi
5. Proses pelayanan

Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari sebuah sistem yang kompleks.

Terdiri dari berbagai bagian sistem yang saling bertautan. Pendekatan sistem

memberikan perspektif yang luas untuk mencari solusi dalam lingkungan

secara fisik dan budaya. Sebagai contoh, yakni bagaimana pengaturan unit,

prosedur pelayanan kesehatan, transfer pengetahuan oleh organisasi, kesalahan

teknis, kurangnya kebijakan dan prosedur, komunikasi antar tim, dan isu dalam

ketenagaan mempengaruhi seorang individu dalam memberikan layanan yang

aman dan berkualitas. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan

menghasilkan error atau kesalahan (Carayon, 2003).

35
Menurut Carayon (2003), tipe error dan bahaya dapat terklarifikasi

menurut domain atau kejadian dalam spectrum pelayanan kesehatan. Akar

permasalahan dari bahaya teridentifikasi menurut definisi berikut:

1. Latent Failure, yaitu melibatkan pengambilan keputusan yang

mempengaruhi kebijakan, prosedur organisasi, dan alokasi sumber daya.

2. Active Failure, yaitu kontak langsung dengan pasien.

3. Organizational failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung yang

melibatkan manajemen, budaya, organisasi, proses atau protokol, transfer

pengetahuan, dan faktor eksternal.

4. Technical failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung dari fasilitas atau

sumberdaya eksternal.

Menurut AHRQ (2003), faktor yang dapat menimbulkan insiden

keselamatan pasien adalah komunikasi, arus informasi yang tidak adekuat,

masalah SDM, hal – hal yang berhubungan dengan pasien, transfer

pengetahuan di rumah sakit, alur kerja, kegagalan teknis, serta kebijakan dan

prosedur yang tidak adekuat.

Adapun menurut Depkes (2008), faktor yang berkontribusi terhadap

terjadinya insiden keselamatan pasien adalah faktor eksternal atau luar rumah

sakit, faktor organisasi dan manajemen, faktor lingkungan kerja, faktor

kerjasama tim, faktor petugas dan kinerja, faktor tugas, faktor pasien, dan

faktor komunikasi.

Pada gambar 2.1, menunjukkan bahwa komponen – komponen yang

terdapat dalam sebuah sistem perlu dipahami tentang dasar terjadinya insiden

keselamatan pasien. Setiap faktor saling berinteraksi satu sama lain. Ketika

36
komponen – komponen tersebut berfungsi secara bersamaan akan terbentuk

barrier atau sistem pertahanan terhadap insiden keselamatan pasien yang

sebenarnya dapat dicegah. Namun, apabila terdapat kekuarangan atau

ketidaksesuaian pada komponen – komponen tersebut dan satu sama lain

bergerak terpisah, maka hal itulah yang menjadi kekurangan sistem sehingga

adanya insiden keselamatan pasien (Henriksen et al, 2008). Gambar 2.1 juga

menunjukkan akar permasalahan sampai penyebab langsung terjadinya insiden

keselamatan pasien. Meski tersusun secara bertingkat, setiap faktor tersebut

tetap memiliki pengaruh terhadap insiden keselamatan pasien.

37
Eksternal Environment
Knowledge Base New Technology Economic Pressure Public Awareness
Demographics Government intiatives Healthcare Policy Political climate

Management
Patient load Organizational Accessibility of Personnel
Staffing Empluyee Development
Structure
Leadership Involvement
Latent Condition

Resource Availability Safety Culture

Phisical Environment Human System Org/Social


Lighting Interfaces Environment
Notice Medical Devices Authority Gradients
Temperature Equipment Location Group Norms
Workplace Layout Controls & Displays Communication
Ventilation Software Control Local Procedures
Paper/Electronic Work Life Quality

Nature of the Work


Treatment Complexity Competing task
Workflow Interupption
Individual vs Teamwork Physical/Cognitive

Individual Characteristics
Knowlwdgw/Skill Fatique
Experience Motivation
Sensory Capability Cultural Competency
Active Errors

Acceptable
Performance
Sub-Standard
Performance

Preventable Adverse Event

Gambar 2.1 Faktor – Faktor yang Berkontribusi Pada Insiden


Keselamatan Pasien di Pelayanan Kesehatan (Henriksen et al, 2008)

38
Faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien yang

disampaikan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009) dapat disimpulkan

sebagai berikut:

1. Karakteristik Perawat

a. Usia

Menurut Depkes (2002) dalam Hasmoko (2002), kemampuan dan

keterampilan seseorang seringkali dihubungkan dengan usia, sehingga

semakin lama usia seseorang, maka pemahaman terhadap masalah akan

lebih dewasa dalam bertindak dan berpengaruh terhadap produktivitas

dalam bekerja.

Teori Robbins (2003) mengemukakan bahwa usia dapat

mempengaruhi kondisi fisik, mental, kemampuan kerja, dan tanggung

jawab seseorang. Hal tersebut berarti bahwa semakin dewasa usia

perawat, maka semakin baik kinerjanya dalam memberikan asuhan

keperawatan yang aman atau tidak menyebabkan insiden keselamatan

pasien. Staf dengan usia muda umumnya memiliki kekurangan karena

cepat bosan, kurang tanggung jawab, dan turn over tinggi. Staf dengan

usia lebih tua kondisi fisiknya kurang tetapi bekerja lebih ulet, tanggung

jawab besar, dan turn over rendah.

Menurut Mulyana (2013), perawat yang berusia kurang dari 30

tahun memiliki risiko asuhan keperawatan yang tidak aman, sehingga hal

ini dapat menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien. Semakin

muda usia perawat kecenderungan terjadinya insiden keselamatan pasien

semakin besar, sementara semakin meningkatnya usia perawat maka

39
terjadinya insiden keselamatan pasien semakin kecil. Perawat dengan

usia yang lebih dewasa atau tua memiliki kematangan dalam berpikir dan

bertindak serta memiliki kemampuan untuk mengenali dan mencegah

bahaya yang didapatkannya seiring dengan perkembangan usia dan

kematangannya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh

Suhartati (2002) bahwa terdapat kecenderungan semakin tua usia perawat

semakin etik dalam melakukan asuhan keperawatan, sehingga hal ini

akan membuat perawat lebih berhati – hati dalam memperhatikan secara

seksama terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

Menurut Amstrong dan Giffin (1987) dalam Mustikawati (2011),

usia petugas tidak mempengaruhi jumlah konsultasi dan jumlah

kunjungan rawat yang dilakukan pada klien. Usia berkaitan erat dengan

tingkat kedewasaan perawat, semakin bertambah usia akan menunjukkan

kemampuan membuat keputusan yang baik, bijaksana, dapat

mengendalikan emosi, taat prosedur, dan memiliki komitmen yang tinggi

terhadap pekerjaan. Hal tersebut dapat pula berpengaruh pada

menurunnya angka insiden keselamatan pasien.

b. Pengetahuan

Menurut Kuncoro (2012), dalam menerapkan keselamatan pasien

di rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya

yakni aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan

pasien sangat penting untuk mendorong pelaksanaan program

keselamatan pasien.

40
Berdasarkan Laporan FDA Safety tahun pada 2001

mengungkapkan bahwa yang menjadi kesalahan yang berhubungan

dengan faktor manusia antara lain berhubungan dengan kurangnya

pengetahuan sebesar 12,3%. Hal yang sama disampaikan oleh Carayon

tahun 2003 bahwa tipe error dan bahaya diklarifikasikan menjadi tiga,

salah satunya yakni organizational failure. Kegagalan secara tidak

langsung yang melibatkan salah satunya yaitu transfer pengetahuan.

AHRQ tahun 2003 menyatakan bahwa faktor yang dapat menimbulkan

insiden keselamatan pasien, salah satunya yakni transfer pengetahuan di

rumah sakit (WHO, 2009).

Menurut Gunibala (2015), pengetahuan merupakan faktor penting

dalam seseorang mengambil keputusan, namun tidak selamanya

pengetahuan seseorang bisa menghindarkan dirinya dari kejadian yang

tidak diinginkannya. Misalnya, perawat yang tingkat pengetahuannya

baik, tidak selamanya menerapkan keselamatan pasien dengan baik

karena segala tindakan yang dilakukan berisiko menimbulkan terjadinya

kesalahan. Faktor lainnya adalah kurangnya minat belajar perawat, yakni

perawat yang tidak mempunyai keinginan untuk mengakses teori – teori

baru dalam bidang keperawatan khususnya mengenai keselamatan

pasien.

Meliono (2007) berpendapat bahwa seseorang yang kurang

memahami sesuatu tidak dapat melakukan tindakan dengan baik. Perawat

yang memiliki pengetahuan kurang dalam memahami tentang

keselamatan pasien tidak mampu menerapkan keselamatan pasien dengan

41
baik sehingga melakukan kesalahan yang dapat menyebabkan insiden

keselamatan pasien.

Upaya meningkatkan pengetahuan yang bersifat tetap merupakan

suatu hal yang penting khususnya dalam konteks keselamatan pasien. Hal

tersebut didukung oleh pendapat Notoadmodjo (2009) yang menyatakan

bahwa pengetahuan yang menunjang keterampilan perlu diberikan agar

staf dapat melakukan tugasnya berdasarkan teori – teori yang dapat

dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan hal tersebut Henriksen et al.

(2008) juga menyatakan bahwa keterbatasan pengetahuan sumber daya

manusia memiliki peran penting dalam menyebabkan keterbatasan

institusi pelayanan untuk mengelola pelayanan yang berorientasi pada

keselamatan pasien. Hal tersebut berarti bahwa keterbatasan pengetahuan

merupakan hal penting yang sangat perlu dipertimbangkan demi

keamanan asuhan yang diberikan oleh tenaga kesehatan termasuk

perawat. Pada intinya, pengetahuan yang baik dapat menjadi tolak ukur

dari suatu pelaksanaan, maka pelaksanaan yang baik dan benar harus

didasari oleh pengetahuan dan pengalaman. Semakin baik pengetahuan

perawat tentang keselamatan pasien, maka akan baik pula penerapan

keselamatan pasien sehingga kesalahan – kesalahan yang mengancam

keselamatan pasien dapat dihindari atau diminimalisir.

Menurut Rivai dan Sagala (2009), pelatihan memiliki peranan yang

sangat penting dalam mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien.

Pelatihan sebagai bagian dari pendidikan yang menyangkut proses

belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem

42
pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat. Lubis (2007)

berpendapat bahwa perawat yang tidak mendapat pelatihan atau

pembelajaran mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan

tindakan tidak aman yang menjadi salah satu pemicu terjadinya insiden

keselamatan pasien.

Berdasarkan KPPRS (2008), terdapat standar untuk mendidik staf

tentang keselamatan pasien yaitu:

1) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi

untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan

keselamatan pasien secara jelas.

2) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf,

serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien

dengan kriteria sebagai berikut:

a) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat

topik keselamatan pasien.

b) Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan

in service training dan memberikan pedoman yang jelas tentang

pelaporan insiden.

3) Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)

guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam

rangka melayani pasien.

43
c. Stres

Pada titik tertentu dalam dunia pekerjaan banyak orang akan

mengalami stres terkait pekerjaan. Stres dipengaruhi oleh keseimbangan

antara persepsi terhadap tuntutan seseorang (misalnya: dengan beban

kerja yang ad, bagaimana menilai sumberdaya untuk memenuhi tuntutan

tersebut). Ketika tuntutan dirasa lebih utama dari kemampuan, seseorang

akan mengalami efek tidak menyenangkan, seperti kelelahan atau

perasaan lelah, konsentrasi kurang, dan mudah tersinggung (Arfan,

2014).

Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan dapat bekerja secara

profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Menurut Houtman (2005), stres umumnya lebih banyak dikeluhkan oleh

petugas kesehatan seperti perawat. Kesiagaan setiap saat dari seorang

perawat dalam menangani pasien, serta situasi pekerjaan dan beban kerja

yang ada membuat perawat mengalami tekanan yang membuat stres.

Adapun menurut Widyasari (2010), profesi perawat merupakan profesi

yang membutuhkan ketrampilan tingkat tinggi dan juga membutuhkan

kerjasama tim dalam berbagai situasi sehingga profesi perawat di dalam

tempat kerja memiliki banyak stresor.

Hasil penelitian National Institute for Occupational Safety and

Health (NIOSH) dalam Widyasari (2010) mengungkapkan bahwa profesi

perawat merupakan profesi yang memiliki resiko tinggi terhadap stres,

kondisi ini terjadi karena perawat memiliki tugas dan tanggung jawab

yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu,

44
penelitiannya mengungkapkan bahwa pekerjaan perawat memiliki

karakteristik cukup sulit karena tekanan dan tuntutan kerja yang tinggi.

Karakteristik tersebut terdiri dari: 1) otoritas bertingkat ganda, 2)

heterogenitas personalia, 3) ketergantungan dalam pekerjaan dan

spesialisasi, 4) budaya kompetitif di rumah sakit, 5) jadwal kerja yang

ketat dan harus siap kerja setiap saat, serta 6) tekanan – tekanan dari

teman sejawat. Begitu pula hasil survei Persatuan Perawat Nasional

Indonesia (PPNI) pada tahun 2006, sekitar 50,9% perawat rumah sakit

yang bekerja di empat provinsi mengalami stres kerja, sering pusing,

lelah, tidak bisa beristirahat karena beban kerja terlalu tinggi dan menyita

waktu, serta gaji rendah tanpa insentif memadai.

Menurut Manojlovich (2007), stres kerja memiliki efek yang

negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan fisik perawat. Perawat

yang mengalami stres kerja yang tinggi tidak dapat menunjukkan kinerja

yang optimal. Hasil penelitian Olaleye (2002) juga mengungkapkan

bahwa stres pekerjaan berpengaruh sigifikan terhadap kondisi kesehatan

dan kemampuan perawat dalam melayani pasien. Pengaruh stres pada

kesehatan fisik muncul dalam bentuk, yakni sakit kepala, sakit punggung

atau leher, nyeri otot, tekanan darah tinggi, sedangkan pengaruhnya

terhadap kondisi psikis adalah munculnya perasaan cemas, merasa

tertekan, kurang konsentrasi, dan kesulitan dalam membuat keputusan.

Dari gambaran tersebut diketahui bahwa, kesehatan fisik dan mental

dipengaruhi oleh stres kerja yang secara tidak langsung akan

45
mempengaruhi konsentrasi dan kinerja dari perawat itu sendiri sehingga

berpengaruh ketika melayani pasien.

Oleh karena itu, manajemen stres penting untuk diterapkan di unit

kerja dimana responden mengalami stres kerja demi mengurangi angka

insiden keselamatan pasien. Adapun beberapa cara yang

direkomendasikan oleh para ahli berdasarkan kebutuhan dan tingkat stres

yang dialami. WHO tahun 2009 menyatakan bahwa stres dapat dicegah

dengan tiga cara, yakni secara primer, sekunder (meliputi: mendeteksi

dan mengelola gejala), dan tersier (meliputi: efek stres yang dapat

diobati). Berdasarkan penelitian oleh Everly & Mitchell tahun 1999

menyarankan melakukan Insiden Kritis Manajemen Stres (CISM) untuk

tim atau individu yang mungkin terkena situasi stres tinggi (WHO,

2009).

Menurut Sauter et al. (1990), identifikasi risiko dapat dikelola

dengan berbagai cara, misalnya dengan memastikan jumlah staf yang

memadai dan memberikan pelatihan yang tepat. Selain itu, organisasi

dapat mengurangi stres kerja, misalnya dengan memungkinkan periode

pemulihan setelah periode beban kerja yang tinggi, memberikan peran

atau tugas yang jelas, serta meningkatkan kesempatan untuk

mendapatkan promosi jabatan.

d. Kelelahan

Menurut Budiono (2003), kelelahan merupakan suatu kondisi yang

disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja. AHRQ (2003)

mengungkapkan bahwa dampak kelelahan yang dialami perawat

46
mengakibatkan medical error. Lingkungan kerja dan pekerjaan perawat

dapat menjadi sumber kelelahan perawat. Sumber kelelahan tersebut

dapat ditimbulkan dari pengaturan shif kerja, jam kerja, rotasi, lama

kerja, karakteristik pekerjaan, pengaturan waktu istirahat, beban kerja,

kondisi kerja, dan iklim kerja.

Menurut Peters and Peters (2008), salah satu penyebab medical

error disebabkan faktor manusia akibat kelelahan yang dialami. Jam

kerja yang lama dan kelebihan beban kerja dapat memungkinkan

menghasilkan gejala fisik dan mental seperti: merasakan kelelahan dan

kecerobohan kognitif. Perasaan subjektif dari kelelahan mengacu pada

rasa kelelahan, kekurangan energi, dan mengurangi motivasi yang

disertai dengan kewaspadaan mental menurun, gangguan prestasi kerja,

meningkatnya rasa kantuk, tertidur pada saat bekerja, dan pada tingkat

yang lebih tinggi dapat menyebabkan kecelakaan.

Drake et al. (2005) dalam Mulyana (2013) menyatakan bahwa

pengaturan dinas dapat menimbulkan gangguan tidur pada perawat, tidur

yang tidak adekuat menyebabkan perawat mengalami rasa mengantuk

saat bekerja, menurunnya kemampuan bekerja dengan efisien, aman, dan

menurunnya tingkat kewaspadaan. Hal tersebut sangat beresiko

menimbulkan insiden keselamatan pasien.

2. Karakteristik Organisasi

a. Komunikasi

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang pada prosesnya dapat

menghasilkan persepsi, perilaku, dan pemahaman yang berubah menjadi

47
sama antara pemberi informasi dan penerima informasi. Menurut

Jalaluddin (2008), komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya

pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap,

meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya

menimbulkan suatu tindakan.

Menurut Salim (2006) dan Hamdani (2007), komunikasi harus

terjadi dalam pola dua arah, dari pimpinan ke personel garis depan dan

sebaliknya. Demikin juga, tindakan diam terhadap kesalahan harus

diganti dengan keterbukaan, serta kejujuran mengenai kejadian yang

menyangkut dengan keselamatan pasien. Pelaporan dan kepatuhan

terhadap prosedur keselamatan pasien merupakan parameter yang

dijadikan tolak ukur berjalannya komunikasi keselamatan yang efektif

dan menjadi elemen penting untuk mewujudkan pelayanan yang aman,

serta menuju keselamatan pasien.

Dalam komunikasi, efektifitas merupakan hal yang paling penting

karena komunikasi efektif merupakan salah satu strategi untuk

membangun budaya keselamatan pasien. Komunikasi efektif sangat

berperan menurunkan insiden keselamatan pasien dalam sebuah asuhan

medis pasien. Strategi tersebut ditetapkan oleh The Joint Comission on

Acreditation of Healthcare Organization (JCAHO) sejak tahun 2010

sebagai tujuan nasional keselamatan pasien. Strategi yang diterapkan

JCAHO bertujuan untuk menciptakan proses komunikasi efektif melalui

pendekatan standarisasi komunikasi yakni pada saat serah terima pasien

(hand over). Hal tersebut dikarenakan komunikasi saat proses transisi

48
perawatan pasien dapat berisiko terjadinya kesalahan ketika informasi

yang diberikan tidak akurat.

Menurut Nurmalia (2012), keterbukaan pada komunikasi juga

melibatkan pasien. Pasien mendapatkan penjelasan akan tindakan dan

juga kejadian yang telah terjadi. Pasien mendapatkan informasi tentang

kondisi yang akan menyebabkan risiko terjadinya kesalahan. Perawat

memberi motivasi untuk memberikan setiap hal yang berhubungan

dengan keselamatan pasien.

Komunikasi terhadap berbagai informasi mengenai perkembangan

pasien antar profesi kesehatan di rumah sakit merupakan komponen yang

fundamental dalam perawatan pasien (Riesenberg, 2010 dalam Marjani

2015). Menurut Alvarado, et al. (2006) dalam Marjani (2015)

mengungkapkan bahwa ketidakakuratan informasi dapat menimbulkan

dampak yang serius pada pasien, hampir 70% kejadian sentinel yaitu

kejadian yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius di rumah

sakit disebabkan karena komunikasi yang buruk. Adapun Angood (2007)

dalam Marjani (2015) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil kajian

data terhadap adanya insiden keselamatan pasien di rumah sakit, masalah

yang menjadi penyebab utama adalah komunikasi.

WHO (2009) menyatakan bahwa beberapa masalah yang

berhubungan dengan kegagalan komunikasi diantaranya yaitu: efek status

yang menghambat staf junior untuk berbicara kepada atasan dan

kesulitan transmisi informasi antara organisasi atau unit, sehingga

kemungkinan kurangnya umpan balik positif dan diskusi disebabkan

49
karena masih ada perawat ataupun petugas kesehatan junior yang segan

untuk berbicara langsung kepada atasannya, serta masih ada sekat status

yang menghalangi proses komunikasi yang berlangsung diantara

keduanya.

b. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP)

Menurut Setyarini (2013), Standar Operasional Prosedur (SOP)

merupakan suatu standar atau pedoman tertulis yang dipergunakan untuk

mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan

organisasi. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan

yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.

Adapun menurut Musdalifah (2013), pelaporan kejadian dan

feedback yang baik harus terus ditingkatkan dengan rasa saling percaya

dan no blame culture, artinya bila staf melakukan kesalahan staf lainnya

tidak menilai sebelah mata atas kesalahan yang telah dilakukan oleh staf

tersebut dan memberikan umpan balik kepada staf yang telah melapor.

Apabila staf melaporkan setiap kesalahan, maka tidak berarti staf tersebut

harus dipersalahkan (di blame) ataupun dihukum atas kesalahan yang

telah dilakukan. Setiap anggota organisasi memiliki peran dalam

melindungi staf atau rekan yang telah melaporkan kesalahan dengan

tidak mengecilkan hati rekan yang telah melakukan kesalahan. Bila

keadaan ini mampu dibangun dan dipertahankan, tentu akan dapat

meningkatkan frekuensi pelaporan kejadian. Hamdani (2007)

berpendapat bahwa organisasi kesehatan harus mampu menciptakan

lingkungan yang nonpunitive yang tujuannya adalah supaya setiap

50
elemen staf tidak takut untuk melaporkan kejadian. Ketika sistem

punishment dijalankan, maka staf akan enggan melaporkan insiden.

Kejadian yang tidak dilaporkan tersebut membuat organisasi tidak belajar

dari kesalahan dan kurang peduli terhadap pelayanan.

Melalui pelaksanaan SOP yang sudah ditetapkan di rumah sakit

diharapkan terjadinya insiden keselamatan pasien menurun. Menurut

Cahyono (2008), pengembangan dan ketersediaan standar, pedoman, dan

protokol mendukung program keselamatan pasien. Standarisasi memiliki

tujuan menetapkan tingkat tampilan minimal yang harus dipenuhi

seseorang dalam setiap proses, tindakan, keterampilan klinis,

penampilan, lingkungan kerja, serta kondisi alat yang harus

terstandarisasi.

Hal tersebut ditunjang oleh teori Wood dalam Cahyono (2008)

yang mengembangkan teori “blunt and sharp end” yang menjelaskan

bagaimana interaksi manusia dengan sistem yang dapat menyebabkan

terjadinya insiden keselamatan pasien. Blunt and (sisi tumpul)

menggambarkan penampilan organisasi, dalam hal ini SOP atau alur

kerja yang berfungsi sebagai pelindung atau pencegah kesalahan. Sharp

end (sisi tajam) menggambarkan petugas kesehatan, dalam hal ini

perawat yang bertugas. Interaksi antara blunt and sharp end seharusnya

seimbang sehingga insiden keselamatan pasien dapat dihindari. Dengan

demikian, peran perawat sebagai sisi tajam dari pelayanan sangat besar,

perawat diharapkan mampu memegang teguh pedoman, kebijakan dan

51
standar praktik keperawatan. Jika hal ini dilanggar, cedera pada pasien

tidak dapat dihindarkan.

Adapun IOM (2000) yang mengemukakan dua peran perawat

dalam keselamatan pasien, yakni memelihara keselamatan melalui

transformasi lingkungan keperawatan yang lebih mendukung

keselamatan pasien, dan peran perawat dalam keselamatan pasien melalui

penerapan standar keperawatan.

Menurut WHO (2007), untuk mengurangi kesenjangan dalam

pemberian pelayanan keselamatan kepada pasien, maka setiap rumah

sakit membentuk SOP. SOP dibentuk, dikeluarkan, dan dibakukan

dengan bertujuan untuk menjamin mutu di setiap rumah sakit, serta

menjamin mutu tenaga kesehatan demi menunjang keselamatan pasien.

3. Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan

a. Kerjasama Tim

Menurut Katzenbach & Douglas dalam Cahyono (2008), kerjasama

tim merupakan suatu kelompok kecil dengan keterampilan yang saling

melengkapi dan berkomitmen pada tujuan bersama, serta sasaran –

sasaran kinerja dan pendekatan yang dijadikan tanggung jawab bersama.

Kerjasama merupakan bentuk attitude dari perawat dalam bekerja di

dalam tim karena membuat individu saling mengingat, mengoreksi, dan

berkomunikasi sehingga peluang terjadinya kesalahan dapat dihindari.

Menurut Canadian Nurse Association pada tahun 2004 dalam

Setiowati (2010), faktor – faktor yang menjadi tantangan bagi perawat

dalam memberikan keperawatan yang aman dan memberikan kontribusi

52
dalam keselamatan pasien salah satunya yakni kerjasama tim. Cahyono

(2008) mengungkapkan bahwa kinerja kerjasama tim yang terganggu

juga merupakan salah satu penyebab insiden keselamatan pasien yang

merupakan kombinasi dari kegagalan sistem. Peluang insiden terjadi

akibat dari kondisi – kondisi tertentu. Kondisi yang memudahkan

terjadinya kesalahan, misalnya: gangguan lingkungan dan kerjasama tim

yang tidak berjalan.

Menurut Vincent (2003) dalam Setiowati (2010), hambatan

komunikasi dan pembagian tugas yang tidak seimbang menjadi penyebab

tidak berjalannya kerjasama tim yang efektif. Efektifitas kerjasama tim

sangat tergantung pada komunikasi dalam tim, kerjasama, adanya

supervisi, dan pembagian tugas. Sebuah studi observasional dan analisis

retrospektif terhadap insiden keselamatan pasien menunjukkan bahwa

faktor kerjasama tim yang kurang berkontribusi lebih banyak

dibandingkan dengan kamampuan klinis yang lemah.

Darmanelly (2000) dalam WHO (2009) mengungkapkan bahwa

kerjasama tim dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni: kesesuaian

memercayai anggota tim, kesediaan untuk mengalah, kemampuan

menyampaikan kritik, kesediaan memperbaiki diri, solidaritas kelompok,

tanggung jawab, dan pemantaun secara berkala.

Menurut Bower et al. (2003) dalam WHO (2009), kerja tim yang

baik dapat membantu mengurangi masalah keselamatan pasien,

meningkatkan semangat anggota, dan kesejahteraan tim sehingga tim

akan berfungsi dari waktu ke waktu. Baker et al. (2005) pun

53
mengungkapkan bahwa kerjasama tim sangat dibutuhkan antar tim medis

untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui pengurangan kesalahan

– kesalahan akibat adanya kerjasama tim antar petugas medis.

b. Gangguan atau Interupsi

Persepsi pemberi pelayanan kesehatan terhadap gangguan atau

interupsi tinggi yaitu apabila petugas kesehatan merasakan adanya

aktivitas atau kegiatan lain diluar tugas dan tanggung jawabnya yang

harus dilakukan pada saat sedang memberikan pelayanan kesehatan

kepada pasien atau keluarga pasien lebih banyak dibandingkan kegiatan

yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.

Menurut Henrikson et al. tahun 1993 dalam Henriksen et al.,

(2008), penyebab insiden keselamatan pasien salah satunya disebabkan

oleh faktor sifat dasar pekerjaan yang meliputi: gangguan atau interupsi

selama bekerja, beban kerja, dan alur kerja atau proses kerja.

E. Kerangka Teori Penelitian

Kerangka teori yang digunakan pada penelitian ini, peneliti mengacu

pada teori yang dikemukakan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009)

terkait faktor yang berkontribusi dalam terjadinya insiden keselamatan pasien

di rumah sakit. Adapun kerangka teori pada penelitian ini yaitu:

54
Faktor – faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan
pasien:
Karakteristik Individu:
Usia1, Pengetahuan1, Kelelahan1,2, Keterampilan1, Kapabilitas
Sensori dan Memori1, Training dan Edukasi1, Tingkat
Pendidikan1, Pengalaman Kerja1, Motivasi1, Stres2, Kewaspadaan
Situasi2, Pengambilan Keputusan2
Karakteristik Organisasi:
Lingkungan Organisasi1, Komunikasi1,2, SOP1, Kekuasaan dan
Kepemimpinan1,2, Insiden Keselamatan
Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan:
Pasien
Gangguan atau Interupsi1, Kerjasama1,2, Alur Kerja1, Beban
Kerja1, Kompleksitas Kerja1
Karakteristik Manajemen:
Struktur Organisasi1, Budaya Safety1,2, Staffing1, Supervisor2
Karakteristik Lingkungan Eksternal:
Kebijakan Kesehatan1, Demografi1
Karakteristik Lingkungan Fisik:
Desain Tempat dan Peralatan Kerja1, Suhu1, Kebisingan1,
Pencahayaan1, Lingkungan Kerja dan Bahaya2
Karakteristik Interaksi Sistem dan Manusia:
Sistem1, Peralatan1, Teknologi Informasi1.

Sumber: 1Henriksen et al. (2008), 2WHO (2009)

Gambar 2.2 Kerangka Teori Penelitian

55
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

gambaran insiden keselamatan pasien berdasarkan karakteristik perawat,

karakteristik organisasi, dan karakteristik sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016. Berdasarkan

tinjauan pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya, pada penelitian ini peneliti

mengacu pada Teori Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009). Dalam

penelitian ini, peneliti membatasi variabel yang diteliti yakni difokuskan pada

karakteristik organisasi yang terdiri dari usia, pengetahuan, stres, dan

kelelahan, karakteristik organisasi yang terdiri dari komunikasi dan

implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP), serta karakteristik sifat

dasar pekerjaan yang terdiri dari kerjasa tim dan gangguan atau interupsi yang

dialami oleh perawat di Unit Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yakni berdasarkan teori yang

dikemukan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009) mengenai faktor –

faktor yang memiliki peranan yang sangat besar terhadap insiden keselamatan

pasien pada pelayanan kesehatan.

Berdasarkan WHO (2009) yang mengembangkan empat kategori

karakteristik dengan sepuluh topik yang berkontribusi terhadap penyebab

terjadinya insiden keselamatan pasien yaitu karakteristik individu, karakteristik

organisasi, karakteristik kerja tim, dan karakteristik manajerial. Masing –

masing keempat faktor tersebut memiliki sub faktor yang terdiri atas sepuluh

56
sub faktor. Sedangkan berdasarkan Henriksen et al. (2008) mengemukakan

faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien dimulai dari akar

permasalahan hingga penyebab langsung terjadinya insiden keselamatan pasien

yang tersusun secara bertahap, yaitu dari karakteristik individu, karakteristik

organisasi, karakteristik sifat dasar pekerjaan, karakteristik manajemen,

karakteristik lingkungan ekternal, karakteristik lingkungan fisik, serta

karakteristik hubungan interaksi sistem dan manusia.

Pemilihan ketiga variabel utama yakni karakteristik individu,

karakteristik organisasi, dan karakteristik sifat dasar pekerjaan dalam penelitian

ini berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mulyana (2013) dan

Afran (2014) bahwa beberapa variabel dalam penelitian tersebut memiliki

hubungan dengan insiden keselamatan pasien, serta karakteristik yang

difokuskan dalam penelitian ini yang telah peneliti jelaskan sebelumnya

memiliki determinan terhadap terjadinya inbsiden keselamatan pasien. Adapun

variabel yang termasuk kedalam penelitian ini yakni insiden keselamatan

pasien, usia, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi Standar

Operasional Prosedur (SOP), kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi.

Sedangkan untuk variabel yang tidak diteliti dalam penelitian ini yakni

karakteristik terkait lingkungan, dan karakteristik hubungan interaksi sistem

dan manusia dikarenakan lingkup penelitian menjadi sangat luas dan

keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti pada saat melakukan

pengambilan data.

57
Karakteritik Individu Perawat:

- Usia

- Pengetahuan

- Stres

- Kelelahan

Karakteristik Organisasi:
Insiden Keselamatan Pasien
- Komunikasi
(KTD, KNC, KTC)
- Implementasi SOP

Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan:

- Kerjasama Tim

- Gangguan atau Interupsi yang

Dialami oleh Perawat

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

58
B. Definisi Operasional

Adapun definisi operasional dari variabel – variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Cara Ukur Skala
1. Insiden Setiap kejadian atau situasi yang tidak Kuesioner 0. Pernah melakukan insiden Pengisian Ordinal
Keselamatan disengaja dan kondisi yang mengakibatkan keselamatan pasien baik Kuesioner
Pasien atau berpotensi mengakibatkan cedera yang KTD, KNC, dan KTC, jika
dapat dicegah pada pasien meliputi: perawat memilih jawaban
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yaitu “Jarang”, “Sering”, dan
kejadian yang berakibat cedera, Kejadian “Selalu” pada kueioner.
Nyaris Cidera (KNC) yaitu kejadian yang 1. Tidak pernah melakukan
berpotensi menimbulkan cedera, dan insiden keselamatan pasien
Kejadian Tidak Cidera (KTC) yaitu kejadian baik KTD, KNC, dan KTC,
yang tidak menimbulkan cedera. jika perawat memilih
jawaban “Tidak Pernah”
pada kuesioner.
2. Usia Masa hidup perawat dihitung sejak tanggal Kuesioner 0. ≤ 30 tahun Pengisian Ordinal
kelahiran hingga ulang tahun terakhir pada 1. > 30 tahun Kuesioner

59
saat mengisi kuesioner. (Mulyana, 2013)
3. Pengetahuan Tingkat pengetahuan perawat terhadap Kuesioner 0. Pengetahuan kurang Pengisian Ordinal
konsep keselamatan pasien, pengertian, cara (apabila nilai median < 7) Kuesioner
pelaporan, dan tindakan yang bertujuan pada 1. Pengetahuan baik (apabila
keselamatan pasien. nilai median ≥ 7)
4. Stres Suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan Kuesioner 0. Stres tinggi (apabila nilai Pengisian Ordinal
fisik atau psikis perawat karena adanya median < 9) Kuesioner
tekanan dari dalam ataupun dari luar 1. Stres rendah (apabila nilai
sehingga dapat mengganggu pelaksanaan median ≥ 9)
kerja.
5. Kelelahan Suatu kondisi yang dialami oleh perawat Kuesioner 0. Kelelahan tinggi (apabila Pengisian Ordinal
yang disebabkan karena adanya beban kerja nilai median < 9 ) Kuesioner
berlebih dan jadwal kerja yang padat. 1. Kelelahan rendah (apabila
nilai median ≥ 9)
6. Komunikasi Suatu proses penyampaian pesan (informasi, Kuesioner 0. Komunikasi kurang efektif Pengisian Ordinal
ide, gagasan, pernyataan) dari staf (perawat) (apabila nilai median < 16) Kuesioner
tanpa rasa takut atau bebas mengungkapkan 1. Komunikasi efektif (apabila
pendapat, baik mengenai tindakan yang nilai median ≥ 16)
diputuskan maupun jika melihat sesuatu

60
yang berdampak negatif yang dapat
mempengaruhi pasien pada perawat di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
7. Implementasi Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur Kuesioner 0. Implementasi SOP kurang Pengisian Ordinal
SOP (SOP) oleh perawat terkait dengan baik (apabila nilai median < Kuesioner
pelaporan insiden keselamatan pasien di 16)
Rumah Sakit Al-Islam Bandung. 1. Implementasi SOP baik
(apabila nilai median) ≥ 16)
8. Kerjasama Tim Kondisi dimana individu dalam satu unit Kuesioner 0. Kerjasama tim kurang baik Pengisian Ordinal
saling mendukung satu sama lain dan saling (apabila nilai median < 22) Kuesioner
membantu untuk memberikan perawatan 1. Kerjasama tim baik (apabila
terbaik bagi pasien pada perawat di RSAI nilai median ≥ 22)
Bandung.
9. Gangguan atau Adanya aktivitas atau kegiatan lain yang Kuesioner 0. Gangguan/interupsi tinggi Pengisian Ordinal
Interupsi dialami oleh perawat di unit kerja diluar (apabila nilai median < 9) Kuesioner
tugas dan tanggung jawab yang harus 1. Gangguan/interupsi rendah
dilakukan pada saat sedang memberikan (apabila nilai median ≥ 9)
pelayanan kesehatan kepada pasien atau
keluarga pasien.

61
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross

sectional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross

sectional karena peneliti ingin mengukur semua variabel pada waktu yang

bersamaan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Menurut

Notoatmodjo (2005), metode penelitian deskriptif adalah suatu metode

penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau

deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung yang beralamat di Jalan Soekarno – Hatta No. 644, Kelurahan

Sekejati, Kecamatan Margacinta Kota Bandung, Jawa Barat, pada bulan

Oktober – November tahun 2016.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan dari

perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

berjumlah 243 perawat.

62
2. Sampel

Sampel penelitian merupakan bagian dari keseluruhan objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi dalam peneliitian tersebut

(Sugiyono, 2012). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini

menggunakan non probability sampling. Non probability sampling adalah

teknik pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan yang sama bagi

setiap anggota populasi untuk dapat dipilih menjadi sampel. Cara

pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive

sampling. Menurut Setiadi (2007), purposive sampling yaitu teknik

penentuan pengambilan sampel dengan pertimbangan dan penilaian tertentu

sesuai yang diinginkan oleh peneliti.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus estimasi

proporsi pada populasi terbatas sebagai berikut:

Z21-α/2 P(1-P)N
n =
d2(N-1)+ Z21-α/2 P(1-P)
Keterangan : PQ
n = jumlah sampel yang dibutuhkan
N = jumlah populasi
Z 1-α/2 = tingkat kepercayaan sebesar 95% = 1,96
P = proporsi insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung sebesar 50% (0,5)
d = sampling error sebesar 10%

Berdasarkan rumus di atas, dari jumlah populasi sejumlah 243 perawat

dilakukan perhitungan besar sampelnya sebagai berikut:

. (1,96) 2. (0,5). (1-0,5).243


n =
(0,1) 2. (243-1) + (1,96) 2. (0,5). (1-0,5)

63
233,3772
= = 69,03 dibulatkan menjadi 69
2,42 + 0,9604

Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus di atas dari jumlah

populasi sebesar 243 perawat, maka jumlah sampel yang diperlukan dalam

penelitian ini adalah 69 perawat dan untuk menghindari adanya drop out,

maka peneliti menambah jumlah sampel sebanyak 10% sehingga jumlah

sampel keseluruhan menjadi 76 orang.

Pengambilan sampel dari setiap unit dilakukan secara proporsional

dengan cara meminta persetujuan dari pihak rumah sakit. Kemudian peneliti

menyebarkan kuesioner kepada unit – unit terkait yakni perawat yang

sedang bertugas pada saat shif pagi dan sift malam yang memenuhi kriteria

inklusi dan kriteria eksklusi dengan meminta persetujuan kepala ruangan.

Perhitungan jumlah sampel di setiap unit sebagai berikut:

Tabel 4.1 Perhitungan Jumlah Sampel


Jumlah
No Unit Perhitungan Hasil Sampel
Populasi
1 Darussalam 5 30 30/243 x 76 9,38 10
2 Darussalam 4 30 30/243 x 76 9,38 10
3 Firdaus 3 30 30/243 x 76 9,38 10
4 Darussalam 3 22 22/243 x 76 6,88 7
5 Darussalam 3 A 26 26/243 x 76 8,13 8
6 Raudhah 26 26/243 x 76 8,13 8
7 Nifas 8 8/243 x 76 2,50 3
8 Perina 22 22/243 x 76 6,88 7
9 ICU 20 20/243 x 76 6,25 6
10 HCU 29 29/243 x 76 9,06 9
Total 243 76
Sumber : Data Keperawatan, Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016

64
3. Kriteria Sampel

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria yang dijadikan karakteristik umum

subjek penelitian pada populasi target atau populasi aktual sehingga

subjek dapat diikutkan dalam penelitian, yaitu:

1) Perawat pelaksana di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

2) Perawat tidak dalam masa cuti

3) Bersedia menjadi responden

b. Kriteria Ekslusi

Kriteri eksklusi adalah kriteria yang memungkinkan sebagian

subjek yang memenuhi kriteria inklusi yang tidak dijadikan responden

dalam penelitian oleh karena berbagai sebab, yaitu perawat yang

memiliki jabatan sebagai kepala ruangan atau penanggung jawab

ruangan, perawat sukarela, dan mahasiswa perawat.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer pada penelitian ini adalah data yang berasal dari

pengisian kuesioner oleh responden. Data yang dicari dalam penelitian

ini adalah jumlah respon dari setiap pertanyaan atau pernyataan pada

kuesioner. Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner penelitian ini

berjumlah 49 yang terdiri dari 9 pertanyaan dan 40 pernyataan, serta

sampel pada penelitian ini berjumlah 76 responden, sehingga jumlah

65
respon yang didapatkan adalah 49 dikali 76 responden yaitu 3.724 respon

apabila semua responden menjawab semua pertanyaan dan pernyataan

kuesioner.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang

berupa profil Rumah Sakit Al-Islam Bandung, jumlah perawat di Unit

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung, data laporan insiden

keselamatan pasien, dan data – data yang berkaitan dengan Sistem

Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat – alat yang akan digunakan untuk

pengumpulan data (Notoadmodjo, 2005). Instrumen penelitian yang

digunakan pada penelitian ini berupa kuesioner yang diisi oleh responden.

Seluruh instrumen penelitian dibuat berdasarkan kerangka konsep dan

definisi operasional penelitian.

a. Kuesioner digunakan untuk mendapatkan gambaran insiden keselamatan

pasien, usia, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi

SOP, kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi yang dialami oleh

perawat. Kuesioner diadopsi dari penelitian sebelumnya yang

berhubungan dengan insiden keselamatan pasien dan dimodifikasi atau

disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan

skala likert yang ditujukan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2009).

Pada skala likert, pernyataan yang disajikan dalam bentuk pernyataan

66
favorable dan pernyataan unfavorable. Untuk menjawab pernyataan

tersebut responden diberikan beberapa pilihan jawaban dari tingkatan

yang positif sampai dengan yang negatif.

b. Kuesioner untuk melakukan uji validitas dan realibilitas data dilakukan

kepada 30 perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung, yakni Unit Rawat Inap Darussalam 5, Darussalam 4,

Firdaus, dan HCU. Uji validitas data bertujuan untuk mengetahui sejauh

mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi

ukurnya (Hastono, 2007). Validitas suatu instrumen kuesioner dalam

penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai r hasil dengan nilai

r tabel, dikatakan valid apabila nilai r hasil yang dilihat pada tabel

Corrected Item – Total Correlation lebih besar daripada nilai r tabel.

Kemudian untuk pernyataan yang tidak valid dapat segera dihilangkan

dan dilakukan uji validitas kembali tanpa menyertakan pernyataan yang

tidak valid sebelumnya. Uji realibitas data dilakukan untuk menunjukkan

tingkat konsistensi hasil pengukuran bila dilakukan pengukuran dua kali

(Sugiyono, 2009). Uji realibilitas dilakukan dengan cara membandingkan

nilai Cronbach Alpha dengan nilai standar yaitu 0,6. Suatu variabel

dikatakan realibel atau dapat dipercaya apabila hasil yang dapat dilihat

pada tabel Cronbach Alpha ≥ 0,6, dikatakan tidak realibel apabila

Cronbach Alpha < 0,6.

67
c. Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi variabel penelitian

sebagai berikut:

1) Insiden Keselamatan Pasien

Variabel insiden keselamatan pasien diukur dengan

menggunakan kuesioner yang terdiri dari 14 pernyataan pada

kuesioner bagian G meliputi pernyataan Kejadian Tidak Diharapkan

(KTD), Kejadian Nyaris Cidera (KNC), dan Kejadian Tidak Cidera

(KTC). Instrumen ini diadopsi dari penelitian Mulyana (2013) yang

disesuaikan dengan PMK No. 1691 tahun 2011 tentang keselamatan

pasien di rumah sakit. Adapun untuk menggolongkan kedalam

kategori perawat yang pernah dan tidak pernah melakukan kesalahan

yang menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien dalam

penelitian ini sebagai berikut:

0. Pernah melakukan insiden keselamatan pasien baik KTD, KNC,

dan KTC, jika perawat memilih jawaban “Jarang”, “Sering”, dan

“Selalu” pada kueioner.

1. Tidak pernah melakukan insiden keselamatan pasien baik KTD,

KNC, dan KTC, jika perawat memilih jawaban “Tidak Pernah”

pada kuesioner.

2) Usia

Variabel usia dari setiap perawat diukur dengan menggunakan

instrumen kuesioner yang akan langsung dijawab oleh perawat dengan

mengisi kuesioner sesuai lama hidup perawat dihitung sejak tanggal

kelahiran hingga ulang tahun terakhir pada saat mengisi kuesioner.

68
Jawaban usia perawat kemudian dikategorikan menurut Mulyana

(2013), bahwa kategori usia kurang dari 30 tahun memiliki

kecenderungan melakukan kesalahan yang menyebabkan terjadinya

insiden keselamatan pasien.

3) Pengetahuan

Variabel pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner

yang terdiri dari 9 pertanyaan pada kuesioner bagian A. Kuesioner

tentang pengetahuan mengacu pada KKPRS (2008) meliputi: konsep

keselamatan pasien, pengertian, cara pelaporan, dan tindakan yang

bertujuan pada keselamatan pasien. Kuesioner ini dikembangkan oleh

peneliti berdasarkan KKPRS (2008) yang didukung oleh kepustakaan.

Peneliti mengadopsi kuesioner pengetahuan perawat berdasarkan

KKPRS (2008) ini karena aplikatif dan sesuai dengan kondisi rumah

sakit tempat penelitian dilakukan dan hal ini merupakan standar yang

harus diterapkan pelaksanaannya di setiap rumah sakit.

4) Stres

Variabel stres diukur dengan menggunakan kuesioner yang

terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian B. Pengukuran yang

digunakan untuk mengukur variabel stres kerja pada penelitian ini

hanya terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat

bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari

indikator stres kerja Health and Safety Executive (HSE), tidak

berdasarkan pada kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)

yang mengembangkan tiga gejala stres yaitu gejala psikologis,

69
fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat stres kerja yang

dialami oleh responden.

5) Kelelahan

Variabel kelelahan diukur dengan menggunakan kuesioner yang

terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian B. Pada variabel

kelelahan pengukuran yang dilakukan hanya terkait jumlah perawat di

unit tempat bekerja, adanya beban kerja, dan jadwal kerja perawat,

tidak berdasarkan pada Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan

Kerja (KAUPK2) yang terdiri dari 17 item pertanyaan untuk

mengukur tingkat perasaan kelelahan kerja yang dialami oleh

responden.

6) Komunikasi

Variabel komunikasi diukur dengan menggunakan kuesioner

yang terdiri dari 5 pernyataan pada kuesioner bagian E. Instrumen

untuk mengukur faktor komunikasi ini diambil dari kuesioner yang

dikeluarkan oleh AHRQ pada Hospital Survey on Patient Safety

Culture.

7) Implementasi SOP

Variabel implementasi SOP diukur dengan menggunakan

kuesioner yang terdiri dari 5 pernyataan pada kuesioner bagian C.

Instrumen ini disesuaikan dengan pelaporan insiden kelamatan pasien

di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

70
8) Kerjasama Tim

Variabel kerjasama tim diukur dengan menggunakan kuesioner

yang terdiri dari 7 pernyataan pada kuesioner bagian D. Instrumen

untuk mengukur faktor kerjasama tim ini diambil dari kuesioner yang

dikeluarkan oleh AHRQ pada Hospital Survey on Patient Safety

Culture.

9) Gangguan atau Interupsi

Variabel gangguan atau interupsi diukur dengan menggunakan

kuesioner yang terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian F.

Instrumen ini diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Arfan

(2014).

E. Uji Validitas dan Realibilitas

1. Uji Validitas

Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu

benar – benar mengukur apa yang diukur. Menurut Hastono (2007), uji

validitas dilakukan guna mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan

alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu kuesioner dikatakan valid

jika pernyataan pada kuesioner mampu untuk mengungkap sesuatu yang

akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dalam hal ini digunakan beberapa item

pernyataan yang dapat secara tepat mengungkapkan variabel yang diukur

tersebut. Uji ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing –

masing skor item pernyataan dari setiap variabel dengan total skor variabel

tersebut. Uji validitas menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson.

71
Suatu instrumen dikatakan valid atau sahih apabila korelasi tiap butiran

memiliki nilai positif dan nilai t hitung > t tabel.

Notoatmodjo (2010) berpendapat sebaiknya jumlah responden untuk

uji validitas berjumlah paling sedikit 20 orang agar diperoleh distribusi nilai

hasil pengukuran mendekati normal. Uji validitas pada penelitian ini

dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 30 perawat yang bertugas

di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang bukan merupakan

sampel penelitian. Kuesioner yang diuji validitas adalah kuesioner yang

digunakan untuk mengetahui pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi,

implementasi SOP, kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi yang

dialami oleh perawat.

Penelitian ini merupakan penelitian yang ditujukan untuk menilai

sikap, pendapat, dan persepsi responden terkait beberapa variabel yang

diteliti,uji validitas suatu instrumen kuesioner dalam penelitian ini dilakukan

dengan membandingkan nilai r hasil dengan nilai r tabel. Dengan sampel 30

perawat, maka didapat df = n – 2 = 28. Pada tingkat kemaknaan 5% dengan

df = 28% didapat angka r tabel = 0,361. Suatu pernyataan kuesioner

dinyatakan valid apabila nilai r hasil yang dilihat pada tabel Corrected item

– Total Correlaltion dalam software pengolahan data di perangkat lunak

komputer lebih besar daripada nilai r tabel. Dari total 56 pernyataan atau

pertanyaan kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan dan 46 pernyataan

yang di uji validitas kepada perawat, sebanyak 7 kuesioner tidak valid dan

dikeluarkan dari kuesioner.

72
2. Uji Realibilitas

Uji Realibilitas dilakukan setelah setiap pernyataan yang terdapat

didalam alat ukur dinyatakan valid dan setelah menghilangkan pernyataan

yang tidak valid. Uji realibilitas bertujuan untuk menunjukkan tingkat

konsistensi hasil pengukuran bila dilakukan pengukuran dua kali (Sugiyono,

2009). Uji realibilitas dilakukan dengan cara membandingkan nilai

Chronbach Alpha dalam software analisis data di perangkat lunak komputer

dengan nilai standar yaitu 0,6. Suatu variabel dikatakan realibel atau dapat

dipercaya apabila hasil yang dapat dilihat pada tabel Chronbach Alpha ≥

0,6, dan dikatakan tidak realibel apabila Chronbach Alpha < 0,6 (Hastono,

2007). Berikut hasil perhitungan uji reabilitas:

Tabel 4.2 Nilai Cronbach Alpha pada Instrumen Penelitian


No Variabel Nilai Cronbach Alpha
1 Pengetahuan 0,712
2 Stres dan Kelelahan 0,655
3 Komunikasi 0,754
4 Implementasi SOP 0,852
5 Kerjasama Tim 0,769
6 Gangguan atau Interupsi 0,697
7 Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) 0,647
8 Kejadian Nyaris Cedera (KNC) 0,832
9 Kejadian Tidak Cedera (KTC) 0,867
Sumber : Data Primer

F. Pengolahan Data

Pelaksanaan pengolahan data bertujuan untuk menghasilkan informasi

yang benar dan sesuai dengan tujuan penelitian. Pengolahan data dilakukan

73
setelah seluruh data yang diperlukan selesai dikumpulkan. Tahapan yang

dilakukan dalam pengolahan data primer dari kuesioner sebagai berikut:

1. Mengkode data (data coding), yaitu membuat klasifikasi data dan memberi

kode atau nilai pada jawaban dari setiap pernyataan dalam kuesioner.

Pemberian nilai tergantung pada pernyataan positif atau pernyataan negatif

pada kuesioner.

Tabel 4.3 Skor Likert pada Pernyataan Positif dan Negatif

Skor Pernyataan Skor Pernyataan


No Katagori Skala
Positif Negatif
1 Sangat Setuju (SS)/ Selalu 4 1
2 Setuju (S)/ Sering 3 2
3 Tidak Setuju (TS)/ Jarang 2 3
4 Sangat Tidak Setuju 1 4
(STS)/ Tidak Pernah

2. Menyunting data (data editing), yaitu kuesioner yang telah diisi dilihat

kelengkapan jawabannya sebelum dilakukan proses pemasukan data ke

dalam komputer, sehingga ketika terdapat data yang salah atau meragukan

dapat ditelusuri kembali ke responden yang bersangkutan.

3. Membuat struktur data (data structure) dan file data (data file), yaitu

membuat template sesuai format kuesioner yang digunakan pada software.

4. Memasukkan data (data entry), yaitu dilakukan pemasukan data ke dalam

templete yang telah dibuat pada program software computer. Adapun

software computer yang digunakan dalam penelitian ini adalah program

SPSS versi 16.

74
5. Membersihkan data (data cleaning), yaitu data yang telah diinput kemudian

dicek kembali untuk memastikan bahwa data tersebut bersih dari kesalahan,

baik kesalahan pengkodean maupun kesalahan dalam membaca kode.

Dengan demikian diharapkan data tersebut benar – benar siap untuk

dianalisis.

G. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini berupa analisis data univariat. Analisis

univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk menggambarankan distribusi

frekuensi masing – masing variabel penelitian menggunakan uji statistik

deskripstif pada software analisis data.

75
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit Al-Islam Bandung

Rumah Sakit Al-Islam berada di Kota Bandung bagian timur tepatnya di

Jalan Soekarno – Hatta No. 644, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Margacinta

Kota Bandung, Jawa Barat. Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan

Rumah Sakit Swasta Tipe B yang bernuansakan islam dalam setiap

pelayanannya.

Rumah Sakit Al-Islam Bandung mengalami perkembangan yang pesat

dalam pelayanan maupun fasilitasnya. Awal berdirinya Rumah Sakit Al-Islam

Bandung merupakan salah satu amal usaha Ibu – Ibu Badan Kerja Sama

Wanita Islam (BKSWI) Jawa Barat dengan membentuk Badan Hukum

Yayasan Rumah Sakit Islam BKSWI Jawa Barat yang dibantu oleh berbagai

pihak sehingga dapat berkembang seperti sekarang.

1. Visi:

“Menjadi Rumah Sakit yang Unggul, Terpercaya, dan Islami”.

2. Misi:

a. Melaksanakan dan menerapkan nilai – nilai islam ke dalam seluruh aspek

pelayanan maupun pengelolaan rumah sakit.

b. Mendukung dan membantu program pemerintah dalam bidang kesehatan.

c. Melakukan kerjasama lintas sektoral dan ikut berperan aktif dalam upaya

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

d. Melaksanakan pelayanan kesehatan dengan memberi kepuasan kepada

konsumen sehingga melebihi apa yang diharapkan.

76
e. Mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kesejahteraan sumber

daya manusia yang dimiliki.

3. Falsafah:

Beriman kepada Allah SWT dengan berpegang kepada Al-Quran dan

Al-Hadist sebagai landasan utama, bekerja profesional (wa’amilu

shoolihaati) dalam suatu “team work” (wa tawaa shaubilhaqi wa tawaa

shaubishabri).

4. Motto:

Internal : “Cepat, Ramah, Profesional dan Islami.”

Eksternal : “Sahabat Anda Menuju Sehat Bermanfaat.”

B. Gambaran Umum Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

Meningkatnya keadaan sosial ekonomi masyarakat dan kesadaran

masyarakat akan hukum, membuat rumah sakit dituntut untuk memberikan

pelayanan yang bermutu tinggi, aman, dan selalu menggunakan teknologi

mutakhir. Pelayanan di rumah sakit sangat kompleks dan multidisiplin dengan

ratusan bahkan ribuan prosedur, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan atau

insiden sangat besar. Oleh karena itu, Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah

melakukan berbagai upaya pengendalian mutu agar dapat memberikan mutu

pelayanan terbaik, namun demikian masih tetap ada komplain/ketidakpuasaan

dari pihak pengguna pelayanan. Demikian pula laporan insiden masih terjadi

baik yang dilaporkan oleh staf rumah sakit sendiri maupun laporan yang

didapat dari pihak pengguna pelayanan, serta tidak sedikit berujung pada

tuntutan penggantian secara materil.

77
Budaya saling menyalahkan apabila terjadi insiden masih sering terjadi

dan dirasakan masih kurangnya komunikasi serta transparansi dari pihak

pemberi pelayanan kepada masyarakat walaupun sudah terdapat wadah profesi

baik medis, keperawatan, profesi lain, maupun non medis sebagai advisory

board dalam menjaga mutu pelayanan. Hal – hal tersebut dirasakan perlu

upaya lain dalam peningkatan mutu pelayanan yang lebih terstruktur dan

bersifat proaktif. Tujuannya agar insiden di rumah sakit dapat diminimalisir

dan pada akhirnya akan berkembang suatu budaya karyawan yang memberikan

pelayanan bermutu tinggi, aman, transparan, dan responsive menjadi bagian

dari kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan profesi sehari – hari.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, salah satu upaya yang

dilakukan yaitu melalui penerapkan program keselamatan pasien sesuai standar

yang telah ditetapkan oleh Komite Keselatamatan Pasien Rumah Sakit

(KKPRS) PERSI dan The Joint Comission International (JCI). Pada tahun

2011, Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah terakreditasi lulus tingkat lengkap

(16 pelayanan). Kemudian pada tahun 2016, telah lulus paripurna dalam

penilaian Akreditasi Rumah Sakit Nasional Versi 2012. Hal tersebut dilakukan

sesuai dengan visinya untuk menjadi rumah sakit yang unggul, islami, dan

terpercaya dalam pelayanan dan pengelolaan, serta misinya yaitu

melaksanakan pelayanan kesehatan dengan memberi kepuasan kepada

konsumen sehingga melebihi apa yang diharapkan.

Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah memiliki komite khusus yang

menangani keselamatan pasien rumah sakit. Komite tersebut yakni Sub Komite

Keselamatan Pasien yang berada dalam Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

78
(KMKP) yang telah ditetapkan oleh keputusan Direktur Rumah Sakit AI-Islam

Bandung pada tahun 2008. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit

merupakan unit fungsional yang dipimpin seorang ketua yang diangkat oleh

direktur, memiliki ruang lingkup membantu direktur dalam menjalankan

program peningkatan mutu, sasaran keselamatan pasien, dan manajemen risiko

rumah sakit. Pada bagan 5.1 merupakan struktur organisasi Komite Mjutu dan

Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016.

STRUKTUR ORGANISASI KOMITE MUTU DAN KESELAMATAN


PASIEN RUMAH SAKIT AL ISLAM BANDUNG

DIREKTUR

KETUA
KOMITE MUTU DAN
KESELAMATAN PASIEN

SUB KOMITE SUB KOMITE SUB KOMITE


KESELAMATAN MANAJEMEN RISIKO MANAJEMEN MUTU
PASIEN

PENANGGUNG JAWAB MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN UNIT PELAYANAN

Sumber: Profil Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016

Bagan 5.1 Struktur Organisasi Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016

79
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah menerapkan sasaran keselamatan

pasien sejak tahun 2010 sebagai program kerja yang dilaksanakan oleh Sub

Komite Keselamatan Pasien. Adapun pelaksanaan sasaran keselamatan pasien

di Rumah Sakit Al-Islam Bandung sebagai berikut:

a. Ketepatan Identifikasi Pasien

Pada sasaran keselamatan pasien pertama, pelaksanaan ketepatan

identifikasi pasien ditetapkan berdasarkan kebijakan SK Direktur Rumah

Sakit Al-Islam Bandung No.4020/RSAI/UM/VIII/2014 tentang Identifikasi

Pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan telah terbentuknya

panduan identifikasi pasien dan Standar Operasional Prosedur (SOP)

identifikasi pasien yang mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang

konsisten pada semua situasi dan lokasi. Identifikasi pasien adalah proses

pengumpulan data, pencatatan dan konfirmasi segala keterangan tentang

bukti – bukti dari pasien agar sesuai dengan rekam medik pasien, sehingga

dapat menetapkan dan menyamakan keterangan tersebut.

Untuk melakukan identifikasi pasien, Rumah Sakit Al-Islam Bandung

telah menggunakan minimal dua identitas pasien yaitu nama, tanggal lahir

dan nomor rekam medis. Petugas melakukan identifikasi pasien dengan cara

menanyakan langsung kepada pasien. Pelaksanaan identifikasi pasien

dilakukan sejak dari awal pasien masuk rumah sakit yaitu di perawatan IGD

(Instalasi Gawat Darurat) dan akan selalu dikonfirmasi dalam segala proses

di rumah sakit. Proses verifikasi identifikasi pasien dilakukan pada saat

sebelum pemberian obat, sebelum pemberian transfusi darah atau produk

darah, sebelum pengambilan spesimen untuk pemeriksaan klinis (seperti:

80
darah, urin, dan cairan tubuh lainnya) dan sebelum pemberian tindakan atau

prosedur.

Sarana identifikasi pasien yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung terdiri dari gelang identitas pasien, label identitas pasien, berkas

rekam medis dan formulir pelayanan (lembar bukti pendaftaran pelayanan,

surat pengantar dirawat, formulir pemeriksaan penunjang, surat rujukan

pelayanan, dan lembar resep pasien). Pada gelang identitas pasien dibedakan

antara jenis kelamin perempuan dan laki – laki. Gelang identitas pasien

warna merah muda untuk pasien perempuan dan warna biru untuk pasien

laki – laki. Pemberian gelang identitas tersebut bertujuan untuk

memudahkan proses identifikasi pasien.

b. Peningkatan Komunikasi yang Efektif

Pada sasaran keselamatan pasien kedua, pelaksanaan peningkatan

komunikasi yang efektif ditetapkan berdasarkan panduan komunikasi efektif

dan SOP komunikasi efektif yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung. Pada Pelaksanaan konsul ke dokter, petugas menggunakan

metode ISBAR (Introduction, Situation, Backgroud, Assessment,

Recommendation) dalam melakukan pengulangan untuk perintah yang

diberikan oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP).

Untuk prosedur yang digunakan pada perintah lisan dan/atau melalui

telepon menggunakan metode Tbak (Tulis Baca Kembali). Metode Tbak

berlaku untuk semua petugas kesehatan yang melakukan dan menerima

perintah verbal (lisan dan/atau telepon). Komunikasi verbal dengan metode

Tbak melalui telepon untuk staf yang menerima pesan harus menuliskan dan

81
membacakannya kembali kepada pemberi pesan (konfirmasi dan verifikasi

dilakukan langsung saat itu juga).

c. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai

Pada sasaran keselamatan pasien ketiga, pelaksanaan peningkatan

keamanan obat yang perlu diwaspadai ditetapkan berdasarkan kebijakan SK

Direktur Rumah Sakit Al-Islam Bandung No. 712A/RSAI/SK/UM/II/2015

tentang Pengelolaan Obat High Alert di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

Untuk meningkatkan kewaspadaan akan keamanan obat high alert

dilakukan upaya – upaya untuk meminimalisir terjadinya kesalahan serta

menurunkan potensi resiko terhadap pasien sehingga dapat lebih

meningkatkan kepercayaan masyarakat dan meningkatkan mutu pelayanan

di rumah sakit. Bagian Instalasi Farmasi Rumah Sakit Al-Islam Bandung

telah memiliki daftar obat NORUM (Nama Obat, Rupa, dan Ucapan Mirip)

yang ditetapkan berdasarkan kebijakan dan pedoman khusus untuk

NORUM. Obat high alert tidak berada diruang perawatan dan harus

dibawah pengawasan apoteker sehingga disimpan di gudang pusat, satelit

farmasi, dan di beberapa nurse station. Untuk obat narkotika disimpan

dengan tempat terpisah dan dilakukan double kunci. Adapun obat high alert

yang disimpan di nurse station ditempatkan pada lemari secara terpisah dan

lemari dalam keadaan terkunci serta diberi label “Peringatan: High Alert

Medications” pada tutup luar tempat penyimpanan.

d. Ketepatan Tepat Lokasi Tepat Prosedur dan Tepat Pasien

Pada pelaksanaan sasaran keselamatan pasien keempat, Rumah Sakit

Al-Islam Bandung berupaya memberikan pelayanan pembedahan yang

82
aman untuk mengurangi kejadian salah lokasi, prosedur dan pasien yang

akan menjalani suatu tindakan operasi. Upaya yang dilakukan yaitu dengan

melakukan asessment (pengkajian) dan identifikasi pasien, komunikasi

efektif, dan site marking. Penerapan site marking dengan menuliskan “YA”

pada daerah yang akan dilakukan operasi dan mengisi lembar formulir

penandaan lokasi operasi dengan dilengkapi pembubuhan tanda tangan oleh

pasien sebagai persetujuan atau konfirmasi ulang. Penandaan ini dilakukan

pada organ yang bilateral atau lebih dari dua.

Untuk menjamin sisi operasi yang tepat, prosedur yang tepat, serta

pasien yang tepat baik sebelum, saat dan setelah menjalani operasi

dilakukan penerapan formulir checklist keselamatan operasi/tindakan

berisiko, maka sebelum pasien dilakukan tindakan akan melalui prosedur

Check – In (tempat penerimaan pasien), Sign – In (sebelum tindakan

anestesi/induksi), Time-Out (sebelum tindakan insisi), Sign – Out (sebelum

menutup luka operasi dan meninggalkan kamar operasi) dan Check – Out

(serah terima perawat anestesi dengan perawat ruangan).

e. Pengurangan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan

Pada sasaran keselamatan pasien kelima, pelaksanaan pengurangan

risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan ditetapkan berdasarkan kebijakan

Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Al-Islam Bandung

No.657A/RSAI/SK/UM/II/2015 tentang Kebersihan Tangan dengan

menerapkan panduan kebersihan tangan dan Standar Operasional Prosedur

(SOP) mencuci tangan yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyebaran infeksi dengan

83
program kebersihan tangan (hand hygiene) yang menekankan pada

ketepatan cara, waktu, dan langkah dalam melakukan cuci tangan.

Penerapan cuci tangan merupakan program yang dilakukan oleh Sub

Komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) yang berada dalam

Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

Penerapan cuci tangan pada petugas kesehatan disesuaikan dengan

standar yang ditetapkan oleh WHO dengan five moments for hand hygiene.

Five Moments for Hand Hygiene adalah 5 momen krusial mencuci tangan

pada petugas kesehatan untuk mengoptimalkan kebersihan tangan dengan

mencuci tangan pada waktu yakni 1) sebelum kontak dengan pasien, 2)

sebelum melakukan tindakan aseptis, 3) setelah terkena cairan tubuh pasien,

3) setelah kontak dengan pasien, dan 4) setelah kontak dengan lingkungan

pasien.

Fasilitas kebersihan tangan, seperti cairan alcohol – based hand – rubs

telah disediakan di area perawatan yaitu tempat dimana terdapat pasien,

petugas pelayanan kesehatan, dan perawatan atau pengobatan yang

melibatkan kontak dengan pasien atau kontak dengan lingkungan pasien

sehingga untuk melakukan cuci tangan dapat dengan mudahnya untuk

diakses. Sedangkan untuk fasilitas kebersihan tangan, seperti handwash

tersedia di setiap westafel yang berada di area perawatan pasien dan area

yang memungkinkan terjadinya kontak dengan cairan tubuh pasien, bahan

atau alat yang terkontaminasi. Hal ini menunjukkan kepedulian yang tinggi

untuk mencegah infeksi yang berada di rumah sakit.

84
Petugas kesehatan telah diberikan sosialisai melalui klasikal

mentoring karyawan Rumah Sakit Al-Islam Bandung mengenai cara

mencuci tangan yang terdiri dari 2 (dua) yaitu cuci tangan dengan

menggunakan cairan hand-rubs (dengan waktu 20 – 30 detik) untuk

dekontaminasi tangan jika tangan tidak terlihat noda dan cuci tangan dengan

menggunakan sabun antiseptik serta air yang mengalir (dengan waktu 40 –

60 detik) bila tangan terlihat kotor atau cairan tubuh pasien. Adapun langkah

mencuci tangan yang terdiri dari 6 (enam) langkah yang dikenalkan di

Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan singkatan TEPUNG–SELA–

CIPUPUT yang artinya telapak tangan, punggung tangan, sela – sela jari

kemudian diputar putar. Berikut ini 6 (enam) langkah mencuci tangan yang

baik dan benar sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO, yaitu:

1) Ratakan dengan kedua telapak tangan;

2) Gosok punggung dan sela – sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan

sebaliknya;

3) Gosok kedua telapak dan sela – sela jari;

4) Jari – jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci;

5) Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan

sebaliknya; dan

6) Gosok dengan memutar ujung jari – jari ditelapak tangan kiri dan

sebaliknya.

f. Pencegahan Risiko Pasien Jatuh

Rumah Sakit Al-Islam Bandung melakukan upaya pengurangan risiko

pasien jatuh dengan melakukan asessment (pengkajian) dan pengadaan

85
fasilitas pendukung keselamatan pasien, seperti: menggunakan tempat tidur

yang memiliki penghalang sisi kanan dan kiri/bed plang, bel pasien,

penempatan furniture kamar pasien dan peralatan yang rapi dengan tidak

mengganggu mobilitas pasien, serta penanda pasien risiko jatuh yang terdiri

dari: label penanda risiko jatuh (warna kuning) pada gelang identitas pasien,

pemasangan sign net peringatan risiko jatuh pada tempat tidur pasien bagi

keluarga dan pengunjung serta tanda segitiga berwarna kuning pada pintu

kamar pasien sebagai peringatan bagi perawat bahwa di kamar tersebut ada

pasien yang berisiko jatuh.

Proses penatalaksanaan keselamatan pasien risiko jatuh diawali

dengan melakukan asessment awal. Pelaksanaan asessment awal telah

ditetapkan dalam kebijakan dan pedoman mengenai asessment awal pasien

resiko jatuh. Asessment awal ini dilakukan melalui formulir pengkajian

risiko jatuh baik pada pasien dewasa, pasien anak dan pasien ganggung

jiwa. Perawat yang bertugas akan melakukan pengkajian pada pasien risiko

jatuh saat awal pasien masuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan rawat

inap nantinya, dengan menggunakan metode pengkajian risiko jatuh yang

telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Al-Islam Bandung yaitu pada pasien

dewasa dengan menggunakan Skala Morse/Morse Fall Scale (MFS), pada

pasien anak dengan menggunakan Skala Humpty Dumpty Score dan pada

pasien lansia menggunakan Skala Hendrich. Hasil pengkajian tersebut

kemudian didokumentasikan pada formulir pengkajian resiko jatuh dengan

melingkari score.

86
Pada metode dengan menggunakan Skala Morse/Morse Fall Scale

(MFS) untuk pasien dewasa terbagi menjadi kategori risiko tinggi (skor

≥45), kategori risiko sedang (skor 25-44) dan kategori rendah (skore 0-24).

Pada metode dengan menggunakan Skala Humpty Dumpty Score untuk

pasien anak terbagi menjadi kategori risiko tinggi (skore ≥12) dan kategori

risiko rendah (skor 7-11). Sedangkan pada metode dengan Skala Hendrich

untuk pasien lansia memiliki risiko jatuh apabila skor total ≥ 20). Bila

pasien berdasarkan skala tersebut masuk dalam kategori resiko rendah-

sedang diberikan penanda risiko jatuh pada gelang identitas, dan apabila

pasien masuk dalam kategori resiko tinggi selain diberikan penanda risiko

jatuh pada gelang identitas juga diberikan penanda khusus pada tempat tidur

maupun penanda di depan pintu kamar perawatan.

Pada tahap selanjutnya, perawat akan melakukan asessment ulang

resiko jatuh secara berkala sesuai hasil pengkajian risiko jatuh yang

dilaksanakan pada saat terjadi perubahan kondisi pasien atau pengobatan,

dapat juga dilakukan pada pasien yang mengalami perubahan kondisi fisik

atau status mental. Hasil asesssment ulang tersebut dituliskan pada formulir

asessment ulang yang dilengkapi dengan tanggal pengkajian dan identitas

perawat. Kemudian perawat akan menempelkan tanda kuning pada gelang

identitas pasien dengan risiko jatuh sedang atau tinggi, pemasangan sign net

sebagai tanda risiko jatuh pada tempat tidur dan pemasangan tanda segitiga

di pintu kamar perawatan pasien.

87
C. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap

Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016

Insiden keselamatan pasien yang dilakukan oleh perawat dalam

penelitian ini meliputi: Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris

Cedera (KNC), dan Kejadian Tidak Cedera (KTC). Distribusi frekuensi insiden

keselamatan pasien dapat dilihat pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Distribusi Pernyataan Perawat Terkait Insiden Keselamatan


Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
pada Periode 2012-2016
Pernyataan Perawat Terkait Frekuensi Persentase
Insiden Keselamatann Pasien (n) (%)
Pernah 30 39,5%
Tidak Pernah 46 60,5%
Total 76 100%

Dari tabel 5.1 diatas, didapatkan dari 76 responden penelitian yang tidak

pernah melakukan insiden keselamatan pasien adalah sebanyak 46 perawat

atau sebesar 60,5%, dan perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan

pasien adalah sebanyak 30 perawat atau sebesar 39,5%.

88
Grfaik 5.1 Distribusi Pernyataan Perawat Berdasarkan KTD, KNC, KTC
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-
2016

Keterangan:

KTD KNC KTC

Dari grafik 5.1 di atas, didapatkan dari 30 perawat yang pernah

melakukan insiden keselamatan pasien, sebanyak 20 perawat atau sebesar

26,3% pernah melakukan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), 23 perawat atau

sebesar 30,3% pernah melakukan Kejadian Nyaris Cedera (KNC), dan 28

perawat atau sebesar 36,8% pernah melakukan Kejadian Tidak Cidera (KTC).

Hasil penelitian menunjukkan jenis insiden KTC lebih banyak pernah

dilakukan oleh perawat dibandingkan dengan perawat yang pernah melakukan

insiden KNC dan KTD.

89
D. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan

Karakteristik Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

1. Usia

Peneliti mengategorikan variabel usia menjadi dua kategori yaitu usia

≤ 30 tahun dan usia > 30 tahun. Distribusi frekuensi insiden keselamatan

pasien pada perawat berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.2 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Usia


Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Usia Pernah Tidak Pernah
n %
n % n %
≤ 30 tahun 25 53,2% 22 46,8% 47 100%
> 30 tahun 5 17,2% 24 82,8% 29 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.2, didapatkan dari 76 responden penelitian yang berusia ≤

30 adalah sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%. Sedangkan responden

yang berusia > 30 tahun adalah sebanyak 29 perawat atau sebesar 38,2%.

Sedangkan untuk gambaran distribusi numerik dari variabel usia dapat

diketahui usia termuda di unit rawat inap adalah berusia 22 tahun dan

perawat tertua adalah berusia 45 tahun. Hasil tabulasi silang diketahui

perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak

adalah perawat yang termasuk dalam kategori usia ≤ 30 tahun yaitu

sebanyak 25 perawat atau sebesar 53,2%.

90
2. Pengetahuan

Pengetahuan perawat digolongkan kedalam dua kategori yaitu

pengetahuan kurang dan pengetahuan baik. Distribusi frekuensi insiden

keselamatan pasien pada perawat berdasarkan pengetahuan dapat dilihat

pada tabel 5.3

Tabel 5.3 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Pengetahuan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Pengetahuan Pernah Tidak Pernah
n %
n % n %
Kurang 17 89,5% 2 10,5% 19 100%
Baik 13 22,8% 44 77,2% 57 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.3, didapatkan dari 76 responden penelitian yang memiliki

pengetahuan baik adalah sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%.

Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang adalah sebanyak

19 perawat atau sebesar 25%. Hasil tabulasi silang diketahui perawat yang

pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak adalah

perawat yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 17 perawat atau

sebesar 89,5%.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait pengetahuan di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.4

91
Tabel 5.4 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Pengetahuan di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pertanyaan Total
Salah Benar
1 Sistem keselamatan pasien di rumah sakit 25 51 76
(32,9%) (67,1%) (100%)
2 Pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah 39 37 76
Sakit Al-Islam Bandung (51,3%) (48,7%) (100%)
3 Jenis insiden keselamatan pasien 10 66 76
(13,2%) (86,8%) (100%)
4 Waktu pelaporan setiap terjadi insiden harus 25 51 76
dilaporkan secara internal kepada TKPRS (Tim (32,9%) (67,1%) (100%)
Keselamatan Pasien Rumah Sakit)
5 Dua cara untuk mengidentifikasi seorang 13 63 76
pasien (17,1%) (82,9%) (100%)
6 Prinsip pemberian obat kepada pasien 17 59 76
(22,4%) (77,6%) (100%)
7 Prosedur mencuci tangan yang baik benar 6 70 76
sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO (7,9%) (92,1%) (100%)
8 Five moments for hand hygiene atau 5 moment 0 76 76
krusial mencuci tangan pada petugas kesehatan (100%) (100%)
untuk mengoptimalkan kebersihan tangan
disaat
9 Pengkajian resiko pasien jatuh 2 74 76
(2,6%) (97,4%) (100%)

Dari tabel 5.4 diketahui dari 9 pertanyaan kuesioner tentang

pengetahuan, terdapat 1 item pertanyaan yang dijawab benar oleh seluruh

perawat yang menjadi responden sebanyak 76 perawat atau sebesar 100%

dan 1 item pertanyaan yang dijawab benar oleh hampir seluruh perawat

yang menjadi responden sebanyak 74 perawat atau sebesar 97,4%, yaitu

pertanyaan nomor 8 tentang pelaksanaan Five Moments for Hand Hygiene

atau 5 moment krusial mencuci tangan pada petugas kesehatan untuk

mengoptimalkan kebersihan tangan dan pertanyaan nomor 9 tentang

92
pengkajian resiko pasien jatuh dengan form dilakukan pada saat pasien

masuk rawat inap.

Adapun beberapa perawat yang masih menjawab salah dari

pertanyaan sehingga perlu mendapatkan perhatian tentang pengetahuan

yaitu informasi terkait dimulainya pelaksanaan keselamatan pasien di

Rumah Sakit Al-Islam Bandung sebanyak 39 perawat atau sebesar 51,3%,

sistem keselamatan pasien di rumah sakit sebanyak 25 perawat atau sebesar

32,9%, dan setiap terjadi insiden harus dilaporkan secara internal kepada

TKPRS (Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit) dalam waktu paling lambat

2 kali 24 jam sebanyak 25 perawat atau sebesar 32,9%.

3. Stres

Stres perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

digolongkan kedalam dua kategori yaitu stres tinggi dan stres rendah.

Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien pada perawat berdasarkan

stres di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada

tabel 5.5

Tabel 5.5 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Stres


Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Stres Pernah Tidak Pernah
n %
n % n %
Tinggi 11 78,6% 3 21,4% 14 100%
Rendah 19 30,6% 43 69,4% 62 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76% 100%

93
Dari tabel 5.5, didapatkan dari 76 responden penelitian yang

mengalami stres rendah adalah sebanyak 62 perawat atau sebesar 81,6%.

Sedangkan responden yang mengalami stres tinggi adalah sebanyak 14

perawat atau sebesar 18,4%. Hasil tabulasi silang diketahui perawat yang

pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak adalah

perawat yang mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 11 perawat atau sebesar

78,6%.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait stres di Unit Rawat Inap

Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.6

Tabel 5.6 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Stres di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
STS TS S SS
1 Pimpinan dan rekan kerja saya 0 0 44 32 76
saling mendukung satu sama (57,9%) (42,1%) (100%)
lain sehingga tercipta situasi
yang kondusif ditempat kerja
2 Saya mampu menjaga 0 5 60 11 76
konsentrasi kerja saat sedang (6,6%) (78,9%) (14,5%) (100%)
sibuk
3 Jadwal kerja dan peraturan di 20 36 19 1 76
rumah sakit tidak (26,3) (47,4%) (25%) (1,3%) (100%)
memungkinkan saya untuk
memulihkan semangat kerja

Dari tabel 5.6 diketahui sebagian besar menyetujui pada saat bekerja

mampu menjaga konsentrasi kerja ketika sedang sibuk sebanyak 60 perawat

atau sebesar 78,9%, pimpinan dan rekan kerja saling mendukung satu sama

lain sehingga tercipta situasi yang kondusif ditempat kerja sebanyak 44

perawat atau sebesar 57,9%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang

94
perlu mendapatkan perhatian tentang stres yaitu sebanyak 19 perawat atau

sebesar 25% menyetujui terhadap jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit

yang tidak memungkinkan untuk memulihkan semangat kerja.

4. Kelelahan

Kelelahan perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung digolongkan kedalam dua kategori yaitu kelelahan tinggi dan

kelelahan rendah. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien pada

perawat berdasarkan kelelahan dapat dilihat pada tabel 5.7

Tabel 5.7 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Kelelahan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Kelalahan Pernah Tidak Pernah
n %
n % n %
Tinggi 16 55,2% 13 44,8% 29 100%
Rendah 14 29,8% 33 70,2% 47 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.7 didapatkan dari 76 responden penelitian yang

mengalami kelelahan rendah adalah sebanyak 47 perawat atau sebesar

61,8%. Sedangkan responden yang mengalami kelelahan tinggi adalah

sebanyak 29 perawat atau sebesar 38,2%. Hasil tabulasi silang diketahui

perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak

adalah perawat yang mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 16 perawat

atau sebesar 55,2%.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait kelelahan di Unit Rawat Inap

Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.8

95
Tabel 5.8 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kelelahan di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
STS TS S SS
1 Jumlah perawat di unit tempat 0 7 58 11 76
bekerja sudah sesuai dengan (9,2%) (76,3%) (14,5%) (100%)
beban kerja perawat
2 Perawat melakukan kesalahan 13 37 26 0 76
dalam pelayanan pasien karena (17,1%) (48,7%) (34,2%) (100%)
bekerja melebihi dari ketentuan
yang ada dan terlalu banyak
tugas yang harus dikerjakan
3 Merasakan kenyamanan dengan 0 3 68 5 76
jadwal kerja yang sudah (3,9%) (89,5%) (6,6%) (100%)
ditetapkan

Dari tabel 5.8 diketahui sebagian besar menyetujui merasakan

kenyamanan dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan sebanyak 68

perawat atau sebesar 89,5% dan jumlah perawat di unit tempat bekerja

sudah sesuai dengan beban kerja perawat sebanyak 58 perawat atau sebesar

76,3%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang perlu mendapatkan

perhatian tentang kelelahan yaitu sebanyak 26 perawat atau sebesar 34,2%

menyetujui perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan pasien karena

bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak tugas yang

harus dikerjakan.

E. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan

Karakteristik Organisasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung

1. Komunikasi

Komunikasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

digolongkan kedalam dua kategori yaitu komunikasi kurang efektif dan

96
komunikasi efektif. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien

berdasarkan komunikasi perawat dapat dilihat pada tabel 5.9

Tabel 5.9 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Komunikasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Komunikasi Pernah Tidak Pernah
n %
n % n %
Kurang Efektif 17 47,2% 19 52,8% 36 100%
Efektif 13 32,5% 27 67,5% 40 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.9, didapatkan dari 76 responden penelitian yang memiliki

komunikasi efektif adalah sebanyak 40 perawat atau sebesar 52,6%.

Sedangkan responden yang memiliki komunikasi kurang efektif adalah

sebanyak 36 perawat atau sebesar 47,4%. Hasil tabulasi silang diketahui

sebanyak 15 perawat atau sebesar 52,8% yang memiliki komunikasi kurang

efektif lebih banyak yang tidak pernah melakukan insiden keselamatan

pasien, sedangkan sebanyak 17 perawat atau sebesar 47,2% yang memiliki

komunikasi kurang efektif lebih sedikit yang pernah melakukan insiden

keselamatan pasien.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait komunikasi di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.10

97
Tabel 5.10 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Komunikasi di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
STS TS S SS
1 Manajer saya memberikan 0 1 39 36 76
umpan balik ke arah perbaikan (1,3%) (51,3%) (47,4%) (100%)
berdasarkan laporan kejadian
insiden
2 Kami bebas mengungkapkan 0 1 56 19 76
pendapat jika melihat sesuatu (1,3%) (73,7%) (25%) (100%)
yang bisa berdampak negatif
terhadap pelayanan pasien
3 Kami diberi tahu mengenai 0 2 50 24 76
kesalahan – kesalahan yang (2,6%) (65,8%) (31,6%) (100%)
terjadi di unit kami
4 Kami merasa bebas untuk 0 4 54 18 76
bertanya kepada sesama (5,3%) (71,1,%) (23,7%) (100%)
perawat lain/dokter tentang
keputusan maupun tindakan
yang diambil di unit ini
5 Di unit ini kami mendiskusikan 1 11 38 26 76
dengan sesama perawat/dokter (1,3%) (14,5%) (50%) (34,2%) (100%)
bagaimana cara untuk
mencegah insiden supaya tidak
terjadi kembali

Dari tabel 5.10 diketahui sebagian besar menyetujui perawat bebas

mengungkapkan pendapat jika melihat sesuatu yang bisa berdampak negatif

terhadap pelayanan pasien sebanyak 56 perawat atau sebesar 73,7% dan

perawat merasa bebas untuk bertanya kepada sesama perawat lain/dokter

tentang keputusan maupun tindakan yang diambil di unit tempat bekerja

sebanyak 54 perawat atau seebsar 71,1,%. Namun, ada beberapa jawaban

perawat yang perlu mendapatkan perhatian tentang komunikasi yaitu

sebanyak 11 atau sebesar 14,5% tidak menyetujui di unit tempat bekerja

98
mendiskusikan dengan sesama perawat/dokter bagaimana cara untuk

mencegah insiden supaya tidak terjadi kembali.

2. Implementasi SOP (Standar Operasional Prosedur)

Implementasi SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien oleh

perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung digolongkan

kedalam dua kategori yaitu implementasi SOP kurang baik dan

implementasi SOP baik. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien

berdasarkan implementasi SOP dapat dilihat pada tabel 5.11

Tabel 5.11 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Implementasi SOP di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Implementasi
Pernah Tidak Pernah
SOP n %
n % n %
Kurang Baik 15 65,2% 8 34,5% 23 100%
Baik 15 28,3% 38 71,7% 53 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.11, didapatkan dari 76 responden penelitian yang

memiliki persepsi baik terhadap implementasi SOP terkait pelaporan insiden

keselamatan pasien adalah sebanyak 53 perawat atau sebesar 69,7%.

Sedangkan responden yang memiliki persepsi kurang baik terhadap

implementasi SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien adalah

sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3%. Hasil tabulasi silang diketahui

perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak

adalah perawat yang memiliki persepsi kurang baik terhadap implementasi

99
SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 15

perawat atau sebesar 65,2%.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait implementasi SOP di Unit

Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.12

Tabel 5.12 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Implementasi SOP di


Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
STS TS S SS
1 Ketika terjadi insiden keselamatan 0 0 29 47 76
pasien diharuskan untuk melaporkan (38,2%) (61,8%) (100%)
insiden tersebut kepada Kepala unit
terkait untuk mendapatkan tindak lanjut.
2 Setelah ditindaklanjuti kejadian insiden 1 0 45 30 76
keselamatan pasien, menyegerakan (1,3%) (59,2%) (39,5%) (100%)
untuk membuat laporan insiden dengan
mengisi formulir laporan insiden pada
akhir jam kerja/shift kepada kepala unit
terkait
3 Ketika terjadi suatu insiden keselamatan 0 7 45 24 76
pasien paling lambat dilaporkan selama (9,2%) (59,2%) (31,6%) (100%)
2 x 24 jam setelah terjadinya insiden
keselamatan pasien
4 Pelaporan insiden keselamatan pasien 0 0 48 28 76
bertujuan untuk mengetahui penyebab (63,2%) (36,8%) (100%)
insiden keselamatan pasien sampai pada
akar masalahnya
5 Setiap terjadi suatu insiden keselamatan 0 5 45 26 76
pasien mendapatkan tindaklanjut dari (6,6%) (59,2%) (34,2%) (100%)
Komite Keselamatan Pasien

Dari tabel 5.12 diketahui sebagian besar menyetujui bahwa pelaporan

insiden keselamatan pasien bertujuan untuk mengetahui penyebab insiden

keselamatan pasien sampai pada akar masalahnya sebanyak 48 perawat atau

sebesar 63,2%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang perlu

mendapatkan perhatian tentang implementasi SOP yaitu sebanyak 7 perawat

100
atau sebesar 9,2% tidak menyetujui ketika terjadi suatu insiden keselamatan

pasien paling lambat dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya

insiden keselamatan pasien dan setiap terjadi suatu insiden keselamatan

pasien mendapatkan tindaklanjut dari Komite Keselamatan Pasien dan

sebanyak 5 perawat atau sebesar 6,6%.

F. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan

Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-

Islam Bandung

1. Kerjasama Tim

Kerjasama tim perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam

Bandung digolongkan kedalam dua kategori yaitu kerjasama tim kurang

baik dan kerjasama tim baik. Distribusi frekuensi insiden keselamatan

pasien pada perawat berdasarkan kerjasama tim dapat dilihat pada tabel 5.13

Tabel 5.13 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Kerjasama Tim Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Kerjasama
Pernah Tidak Pernah
Tim n %
n % n %
Kurang Baik 13 68,4% 6 31,6% 19 100%
Baik 17 29,8% 40 70,2% 57 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.13, didapatkan dari 76 responden penelitian yang

memiliki kerjasama tim baik adalah sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%.

Sedangkan responden yang memiliki kerjasama tim kurang baik adalah

101
sebanyak 19 perawat atau sebesar 25%. Hasil tabulasi silang diketahui

perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak

adalah perawat yang memiliki kerjasama tim kurang baik yaitu sebanyak 13

perawat atau sebesar 68,4%.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait kerjasama tim di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.14

Tabel 5.14 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kerjasama Tim di Unit


Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
STS TS S SS
1 Kami sesama staf di unit ini saling 0 0 39 37 76
mendukung satu sama lain (51,3%) (48,7%) (100%)
2 Jika banyak pekerjaan yang harus 0 1 45 30 76
diselesaikan dengan cepat, kami saling (1,3%) (59,2%) (39,5%) (100%)
bekerja sama sebagai tim
3 Saya merasa setiap orang di unit ini 0 0 44 32 76
saling menghargai satu sama lain (57,9%) (42,1%) (100%)
4 Bila suatu area di unit ini sibuk, maka 3 8 43 22 76
perawat di area lain akan membantu (3,9%) (10,5%) (56,6%) (28,9%) (100%)
5 Kami merasa ada kerja sama yang baik 1 3 47 25 76
antar unit di rumah sakit saat (1,3%) (3,9%) (61,8%) (32,9%) (100%)
menyelesaikan pekerjaan bersama
6 Unit satu dengan unit lain di rumah 26 33 7 10 76
sakit ini tidak berkoordinasi dengan (34,2%) (43,4%) (9,2%) (13,2%) (100%)
baik
7 Saya sering kali merasa tidak nyaman 26 37 7 6 76
bila harus bekerja sama dengan staf (34,2) (48,7%) (9,2%) (7,9%) (100%)
unit lain di rumah sakit ini

Dari tabel 5.14 diketahui sebagian besar menyetujui bahwa perawat

merasa ada kerja sama yang baik antar unit di rumah sakit saat

menyelesaikan pekerjaan bersama sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%,

jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat, kami saling

102
bekerja sama sebagai tim sebanyak 45 perawat atau sebesar 59,2%, dan

perawat merasa setiap orang di unit ini saling menghargai satu sama lain

sebanyak 44 perawat atau sebesar 57,9%. Namun, ada beberapa jawaban

perawat yang perlu mendapatkan perhatian tentang kerjsama tim yaitu

sebanyak 17 perawat atau sebesar 22,4% menyetujui bahwa unit satu

dengan unit lain di rumah sakit ini tidak berkoordinasi dengan baik.

2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat

Gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung digolongkan kedalam dua kategori

yaitu gangguan atau interupsi rendah dan gangguan atau interupsi tinggi.

Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan gangguan atau

interupsi yang dialami oleh perawat dapat dilihat pada tabel 5.15

Tabel 5.15 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan


Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien Total
Gangguan/
Pernah Tidak Pernah
Interupsi n %
N % n %
Tinggi 12 42,9% 16 57,1% 28 100%
Rendah 14 29,2% 34 70,8% 48 100%
Total 30 39,5% 46 60,5% 76 100%

Dari tabel 5.15, didapatkan dari 76 responden penelitian yang

mengalami gangguan atau interupsi rendah adalah sebanyak 48 perawat atau

sebesar 63,2%, Sedangkan responden yang mengalami gangguan atau

interupsi tinggi adalah sebanyak 28 perawat atau sebesar 36,8%. Hasil

103
tabulasi silang diketahui sebanyak 16 perawat atau sebesar 57,1% yang

mengalami gangguan atau interupsi tinggi tidak pernah melakukan insiden

keselamatan pasien, sedangkan sebanyak 12 perawat atau sebesar 42,9%

yang mengalami gangguan atau interupsi tinggi lebih sedikit yang pernah

melakukan insiden keselamatan pasien.

Hasil distribusi jawaban perawat terkait gangguan atau interuspi yang

dialami oleh perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

dapat dilihat pada tabel 5.16

Tabel 5.16 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Gangguan atau


Interupsi yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Al-Islam Bandung
Jawaban
No Pernyataan Total
TP J SE SL
1 Anda mendapatkan pekerjaan 30 33 12 1 76
lain di luar tugas dan tanggung (39,5%) (43,4%) (43,4%) (1,3%) (100%)
jawab sebagai perawat pelaksana
2 Pada saat bekerja melakukan 25 26 22 3 76
lebih dari satu pekerjaan dalam (32,9%) (34,2%) (28,9%) (3,9%) (100%)
waktu yang sama
3 Saya mendapatkan pekerjaan 30 33 12 1 76
lain yang harus dilakukan ketika (39,5%) (43,3%) (15,8%) (1,3%) (100%)
sedang melaksanakan tugas

Berdasarkan tabel 5.16 diketahui sebagian besar perawat jarang

mengalami gangguan atau interupsi pada saat melaksanakan tugas yang

menjadi tanggung jawabnya. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang

perlu mendapatkan perhatian tentang gangguan atau interupsi yaitu sebesar

28,9% pada saat bekerja selalu melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam

waktu yang sama.

104
BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan antara lain:

1. Pengambilan data yang dilakukan kepada responden yang bertugas secara

shift membuat peneliti harus meninggalkan atau menitipkan kuesioner

kepada kepala unit untuk diberikan kepada perawat yang menjadi

responden. Hal tersebut dapat memberi kesempatan kepada responden untuk

menanyakan kepada rekannya dengan jawaban yang sama persis tanpa

menjawab sesuai dengan pengalaman atau penilaian pribadi sehingga

menimbulkan ketidaksesuaian atau bias antara data dengan kondisi keadaan

di lapangan.

2. Pada penelitian ini tidak dilakukan validasi data laporan insiden

keselamatan pasien terkait perawat yang pernah mekakukan insiden

keselamatan pasien.

3. Instrumen penelitian pada item pertanyaan terkait pengetahuan perawat

yakni berupa kuesioner yang diadopsi dan dimodifikasi oleh peneliti sendiri

dari penelitian sebelumnya yang terkait dengan insiden keselamatan pasien

dan bukan merupakan kuesioner standar, dimana seluruh pertanyaan dibuat

berdasarkan tinjauan pustaka. Sehingga pertanyaan yang ditanyakan kepada

responden memiliki kemungkinan belum mencakup secara detail dari aspek

yang menyangkut pengetahuan perawat. Peneliti sudah berusaha

menimimalisir keterbatasan ini dengan cara membuat pertanyaan

berdasarkan teori – teori yang ada, sehingga untuk menghindari bias maka

105
sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti melakukan uji

validitas dan uji reabilitas.

4. Untuk mengukur variabel stres perawat pada penelitian ini hanya terdiri dari

3 pernyataan terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat

bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari indikator

stres Health and Safety Executive (HSE), tidak berdasarkan pada kuesioner

Hamilton Rtaing Scale Anxiety (HRS – A) yang mengembangkan tiga gejala

stres yaitu gejala psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat

stres kerja yang dialami oleh responden.

5. Untuk mengukur variabel kelelahan perawat pada penelitian ini terdiri dari 3

pernyataan terkait jumlah perawat di unit tempat bekerja, adanya beban

kerja, dan jadwal kerja perawat, tidak berdasarkan pada Kuesioner Alat

Ukur Perasaan Kelelahan kerja (KAUPK2) yang terdiri dari 17 item

pertanyaan untuk mengukur tingkat perasaan kelelahan kerja yang dialami

oleh responden.

B. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit

Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016

Pasien yang dirawat di rumah sakit mempunyai hak untuk mendapatkan

asuhan pasien yang aman melalui suatu sistem yang dapat mencegah terjadinya

insiden keselamatan pasien. Berdasarkan PMK No. 1691 tahun 2011,

keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit

membuat asuhan pasien menjadi lebih aman. Sedangkan insiden keselamatan

pasien merupakan suatu kejadian atau situasi yang tidak disengaja dan kondisi

106
yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien yang

sebenarnya dapat dicegah.

Hasil penelitian pada 76 perawat pelaksana yang bertugas di unit rawat

inap, peneliti menemukan bahwa sebagian besar perawat tidak pernah

melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 46 perawat atau sebesar

60,5%. Meskipun sebagian besar perawat tidak pernah melakukan insiden

keselamatan pasien, akan tetapi masih ditemukan perawat yang pernah

melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 30 perawat atau sebesar

39,5%. Hal ini berarti insiden keselamatan pasien masih terjadi di ruang

perawatan. Dalam PMK No. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan

Minimal Rumah Sakit bahwa, insiden keselamatan pasien standarnya adalah

0% kasus atau 100% tidak terjadi di rumah sakit. Sehingga hal tersebut

menunjukkan belum dapat memenuhi standar yang ditetapkan dan

menggambarkan bahwa sebagian perawat dalam memberikan pelayanan

asuhan perawatan kepada pasien di unit rawat inap belum mengutamakan

aspek keselamatan pasien secara optimal dan mengindikasikan bahwa terdapat

banyak kejadian yang potensi menimbulkan kerugian bahkan mengancam

keselamatan pasien.

Hasil penelitian ini diperkuat dari laporan insiden keselamatan pasien

oleh Komite Keselamatan Rumah Sakit Al-Islam Bandung, yakni pada tahun

2013 terdapat sebanyak 108 insiden, tahun 2014 terdapat sebanyak 129 insiden,

dan tahun 2015 terdapat sebanyak 105 insiden. Sebagian besar insiden

keselamatan pasien yang dilaporkan terjadi di ruang rawat inap.

107
Didalam pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti yang tertuang dalam

UU No.44 tahun 2009 pasal 29 menyatakan bahwa rumah sakit berkewajiban

memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi, dan

efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar

pelayanan minimal rumah sakit. Sehingga semua insiden yang terjadi di rumah

sakit merupakan tanggung jawab dari rumah sakit khususnya perawat dalam

melakukan proses pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien sebagai

penerima pelayanan kesehatan. Terjadinya insiden keselamatan pasien di

rumah sakit sekecil apapun kejadiannya haruslah segera ditangani, jika tidak

hal ini akan memberikan dampak yang merugikan bagi pihak rumah sakit, staf,

dan pasien sebagai penerima pelayanan. Adapun dampak yang ditimbulkan

menurut Flynn (2002) dalam (Cahyono, 2008) adalah menurunnya tingkat

kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan karena rendahnya

kualitas atau mutu asuhan yang diberikan kepada pasien.

Dampak lain yang dapat terjadi menurut Apriningsih (2013) adalah

memperpanjang masa rawat, meningkatkan cidera, kematian, perilaku saling

menyalahkan, konflik antara petugas dan pasien, tuntutan dan proses hukum,

blow up media massa, dapat menurunkan citra dari sebuah rumah sakit, serta

dapat mengindikasikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit masih kurang

baik. Kondisi ini harus mampu diantisipasi oleh penyelenggara layanan

kesehatan agar keselamatan pasien terjamin, kontinuitas pelayanan, dan

organisasi tetap berjalan.

Menurut Elrifda (2011), adanya insiden keselamatan pasien di rumah

sakit memerlukan perhatian pihak manajemen dan petugas sendiri agar di masa

108
yang akan datang keselamatan pasien lebih ditingkatkan karena keselamatan

pasien bukan hanya penting bagi pasien atau keluarganya, tetapi juga

mempengaruhi eksistensi institusi dalam jangka panjang. Bila keselamatan

pasien kurang diperhatikan sehingga menyebabkan kejadian tidak diinginkan

dan merugikan pasien maka reputasi mutu rumah sakit akan berkurang di mata

masyarakat. Efek domino dari permasalahan ini adalah promosi dari mulut ke

mulut tentang kurangnya mutu pelayanan dikalangan masyarakat yang akan

memperburuk reputasi rumah sakit hingga akhirnya masyarakat akan memilih

rumah sakit lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Insiden keselamatan pasien pada penelitian ini meliputi: Kejadian Tidak

Diharapkan (KTD) yaitu kejadian yang berakibat cidera, Kejadian Nyaris

Cidera (KNC) yaitu kejadian yang berpotensial menimbulkan cidera, dan

Kejadian Tidak Cidera (KTC) yaitu kejadian yang tidak menimbulkan cidera.

Hasil penelitian pada 76 perawat pelaksana yang bertugas di unit rawat inap,

peneliti menemukan bahwa dari 30 perawat atau sebesar 39,5% yang pernah

melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 20 perawat atau sebesar

26,3% pernah melakukan KTD yang disebabkan karena pasien yang dirawat

terjatuh dari tempat tidur sehingga pasien mengalami cedera karena tidak

melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien sebanyak 17,1% dan

komunikasi yang tidak efektif sehingga terjadi insiden yang merugikan pasien

sebanyak 13,1%.

Hasil analisis distribusi pernyataan perawat terkait KNC diketahui

sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3% pernah melakukan KNC yang

disebabkan karena pasien yang dirawat terjatuh dari tempat tidur tetapi pasien

109
tidak mengalami cedera sebanyak 18,7% dan terjadi kesalahan dalam

pengisisan data rekam medik pasien sehingga melakukan kesalahan dalam

pemberian tindakan tetapi pasien tidak mengalami cedera sebanyak 13,1%.

Hasil analisis distribusi pernyataan perawat terkait KTC diketahui

sebanyak 28 perawat atau sebesar 36,8% pernah melakukan KTC yang

disebabkan karena terjadi kesalahan tindakan akibat pengisian rekam medik

pasien sebanyak 32,9%% dan pasien yang dirawat hampir terjatuh dari tempat

tidur tetapi tidak terjadi karena segera diketahui oleh petugas yang sedang

berjaga sebanyak 30,3%.

Berdasarkan jenisnya, insiden keselamatan pasien yang paling banyak

terjadi adalah insiden KTC dibandingkan dengan insiden KNC dan insiden

KTD. Hasil ini diperkuat pula dari data laporan insiden keselamatan pasien

oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada tahun

2013, yakni terdapat sebanyak 72 KTC, 16 KNC, dan 18 KTD. Tahun 2014

terdapat sebanyak 96 KTC, 23 KNC, dan 9 KTD. Tahun 2015 terdapat

sebanyak 66 KTC, 8 KNC, dan 28 KTD.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mustikawati (2011) bahwa

KTD lebih jarang terjadi dibandingkan dengan KNC sebesar 26,3% di Unit

Perawatan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Tahun 2009 – 2010. Bentuk

KTD dan KNC yang terjadi adalah 1) ketidaksesuaian identifikasi pasien

seperti salah penulisan nomor medical record, penulisan nama pasien yang

kurang tepat, penempelan stiker nama pasien tidak sama dengan penulisan

manual, dan penulisan nomor kamar pasien yang salah, 2) kesalahan dalam

110
pemberian obat seperti salah pasien, salah dosis, dan salah jenis obat, 3) sampel

darah pasien tertukar, dan 4) pasien jatuh.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, dari keseluruhan insiden

keselamatan pasien yang pernah dilakukan oleh perawat yang paling banyak

terjadi adalah insiden jatuh di ruang perawatan. Hal tersebut disebabkan

perawat tidak melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien. Hasil ini

didukung pula oleh data laporan insiden keselamatan pasien, bahwa jumlah

insiden jatuh pada tahun 2013 terdapat 13 kasus, tahun 2014 terdapat 21 kasus,

dan tahun 2015 terdapat 22 kasus. Hal ini berarti dari tahun 2013 sampai

dengan tahun 2015, insiden jatuh mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat penelitian, perawat pelaksana

yang bertugas di unit rawat inap masih ditemukan belum melakukan asessment

ulang atau pengkajian secara berkala sesuai dengan penilaian pada pasien yang

memiliki risiko jatuh dan jika terjadi perubahan kondisi atau pengobatan. Hal

tersebut belum sesuai dengan prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung yang seharusnya perawat harus melakukan assesment ulang atau

pengkajian secara berkala. Selain itu, pada pengisian formulir pengkajian ulang

untuk pasien yang memiliki resiko jatuh, perawat tidak melakukan penilaian

yang dilengkapi dengan waktu pelaksanaan pengkajian. Hal tersebut

dikhawatirkan dapat menimbulkan insiden jatuh karena terjadinya perubahan

kondisi pasien atau pengobatan.

Selanjutnya, berdasarkan hasil investigasi sederhana yang dilakukan oleh

staf Sub Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung

ditemukan pula bahwa terjadinya insiden jatuh disebabkan pasien atau keluarga

111
pasien tidak memberitahu perawat yang sedang berjaga ketika pasien akan

meninggalkan tempat tidur untuk meminta bantuan mendampingi pasien. Hal

ini dikarenakan perawat belum melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga

pasien mengenai faktor risiko jatuh di lingkungan rumah sakit dan meminta

persetujuan keikutsertaan untuk mengikuti strategi pencegahan jatuh sepanjang

keperawatan pasien melalui pengisian formulir yang telah ditetapkan. Edukasi

tersebut meliputi pemberian informasi kepada pasien dan keluarga pasien

dalam semua aktifitas sebelum memulai penggunaan alat bantu dan

mengajarkan pasien untuk menggunakan pegangan dinding baik di kamar

mandi atau pegangan pasien di dinding koridor bangsal.

Dampak terburuk dari terjadinya insiden jatuh menurut Stanley (2006),

yakni beberapa kasus di antaranya berakibat pada kematian dan luka berat.

Insiden jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik, dan

psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari insiden jatuh adalah patah

tulang panggul. Jenis patah tulang lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah

patah tulang pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis, serta kerusakan

jaringan lunak. Dampak psikologis selain cedera fisik, yakni syok pasca jatuh

dan rasa takut akan terjatuh lagi yang dapat memiliki banyak konsekuensi

termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam aktivitas

sehari-hari, dan falafobia atau fobia jatuh.

Menurut Potter dan Perry (2009), beberapa intervensi yang dapat

dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden jatuh pada pasien antara lain: 1)

mengorientasikan pasien pada saat masuk rumah sakit dan menjelaskan sistem

komunikasi yang ada, 2) bersikap hati – hati saat mengkaji pasien dengan

112
keterbatasan gerak, 3) melakukan supervisi ketat pada awal pasien dirawat

terutama malam hari, 4) menganjurkan menggunakan bed bila membutuhkan

bantuan, 5) memberikan alas kaki yang tidak licin, 6) memberikan

pencahayaan yang adekuat, 7) memasang pengaman tempat tidur terutama

pada pasien dengan penurunan kesadaran dan gangguan mobilitas, dan (8)

menjaga lantai kamar mandi agar tidak licin.

Dalam penilaian Akreditasi versi 2012, sebuah rumah sakit memerlukan

elemen penilaian untuk mengurangi risiko jatuh. Elemen penilaian

pengurangan risiko jatuh meliputi: 1) rumah sakit melakukan proses assesmen

awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan melakukan asessmen ulang pasien

bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain – lain, 2)

langkah – langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang

pada hasil asessmen berisiko jatuh, 3) langkah – langkah dimonitor hasilnya,

baik keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian

yang tidak diharapkan, dan 4) kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan

untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat

jatuh dirumah sakit.

Upaya yang dilakukan oleh rumah sakit untuk mencegah dan mengurangi

terjadinya insiden keselamatan pasien di rumah sakit yaitu melalui penerapan

program keselamatan pasien. Sistem dalam keselamatan pasien dalam PMK

No. 1691 tahun 2011 meliputi: assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan

hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,

serta kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi

solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko.

113
Selain itu, dalam Permenkes No. 1691 tahun 2011 disebutkan bahwa

setiap rumah sakit wajib mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan

pasien. Sasaran keselamatan pasien rumah sakit yang saat ini digunakan

mengacu pada “Nine Life Saving Patient Safety Solutions” dari WHO Patient

Safety tahun 2007 yang juga digunakan oleh Komite Keselamatan Pasien

Rumah Sakit (KKPRS) Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), terdiri dari:

1) ketepatan identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi secara efektif, 3)

peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokasi

tepat prosedur dan tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait

pelayanan kesehatan, dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh.

Sistem tersebut diharapkan dapat meminimalisir atau mencegah risiko

terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu

tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan, sehingga

dapat belajar dari persitiwa yang tidak diharapkan, nyaris terjadi, dan akan

terjadi. Menurut Kohn (2000), inti dari sistem keselamatan pasien adalah

belajar. Proses belajar dan perbaikan yang berkelanjutan mengacu pada

pembelajaran dari kesalahan (error). Bagaimana terjadi dan bagaimana

tindakan pencegahan yang harus dilakukan supaya kesalahan tidak terulang

kembali. Organisasi kesehatan harus membuat dan memelihara lingkungan dan

sistem untuk menganalisa kesalahan yang terjadi.

114
C. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik

Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

1. Usia

Usia menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam terjadinya

insiden keselamatan pasien. Semakin muda usia perawat memiliki

kecenderungan menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien

dibandingkan dengan usia perawat yang lebih tua. Perawat yang berusia >

30 tahun biasanya jauh lebih terampil karena cenderung berhati – hati dan

sangat memperhatikan pelayanan yang diberikan kepada pasien sebagai

penerima pelayanan (Mulyana, 2013).

Dalam penelitian ini, responden dengan usia termuda di Unit Rawat

Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung adalah 22 tahun dan perawat tertua

berusia 45 tahun. Rata – rata responden dalam tahap usia dewasa muda yaitu

20 sampai 40 tahun yang merupakan usia dimana perkembangan puncak

dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki

serta kebiasaan berfikir rasionalnya akan meningkat (Potter, 2005). Kondisi

ini akan memengaruhi perawat dalam meengaplikasikan ilmu pengetahuan,

keterampilan, dan kreativitas yang dimiliki termasuk dalam menerapkan

keselamatan pasien sehingga dapat mencegah terjadinya insiden

keselamatan pasien di rumah sakit pada saat memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien. Sehingga usia perawat di Unit Rawat Inap

Rumah Sakit Al-Islam Bandung saat ini sebagian besar termasuk usia yang

ideal dalam bekerja.

115
Hasil penelitian didapatkan pula bahwa perawat yang berusia ≤ 30

tahun cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebanyak 25

perawat atau sebesar 53,2% dibandingkan perawat yang berusia > 30 tahun.

Perawat yang berusia ≤ 30 tahun tersebut masih dikategorikan dewasa muda

yang kemungkinan lebih besar memberikan sumbangsi terhadap terjadinya

insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan semakin muda usia

perawat, maka semakin berisiko menimbulkan terjadinya insiden

keselamatan pasien.

Menurut Teori Robbins (2003), usia dapat memengaruhi kondisi fisik,

mental, kemampuan kerja, dan tanggung jawab seseorang. Hal tersebut

berarti bahwa semakin dewasa usia perawat, maka semakin baik kinerjanya

dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman atau tidak melakukan

kesalahan yang menyebabkan insiden keselamatan pasien pada saat

memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Staf dengan usia muda

umumnya memiliki kekurangan karena cepat bosan, kurang tanggung

jawab, dan turn over tinggi. Staf dengan usia lebih tua kondisi fisiknya

kurang tetapi bekerja lebih ulet, tanggang jawab besar, dan turn over rendah.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit Al-

Islam Bandung yaitu memberikan perhatian khusus pada perawat yang

berusia muda (< 30 tahun), misalnya dengan diberikan pengawasan dan

bimbingan langsung oleh supervisor. Supervisi adalah melakukan

pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan

yang dilakukan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah

segera diberikan petunjuk dan bimbingan atau bantuan yang bersifat

116
langsung guna mengatasinya (Gibson, 1996 dalam Aprilia 2016).

Supervisor menginformasikan kepada staf hasil monitoring yang telah

dilakukan. Bila terjadi penyimpangan, supervisor akan mendiskusikan

masalah tersebut bersama dengan pihak terkait dan hasilnya dilaporkan

kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan

keputusan dan tindak lanjut.

2. Pengetahuan

Menurut Kuncoro (2012), dalam menerapkan keselamatan pasien di

rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya yakni

aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien sangat

penting untuk mendorong pelaksanaan program keselamatan pasien.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki

pengetahuan baik yaitu sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%. Meskipun

dalam penelitian ini pengetahuan perawat hanya diukur dengan

menggunakan kuesioner terdiri dari 9 pertanyaan yang meliputi: konsep

keselamatan pasien, pengetian keselamatan pasien, cara pelaporan insiden

keselamatan pasien, dan tindakan yang betujuan pada keselamatan pasien

yang memiliki kemungkinan belum mencakup secara detail dari aspek yang

menyangkut pengetahuan perawat. Namun, ditemukan beberapa responden

yang masih salah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan yakni sebesar

51,3% belum mengetahui sejak kapan pelaksanaan keselamatan pasien di

Rumah Sakit Al-Islam Bandung, 32,9% salah dalam menjawab sistem

keselamatan pasien, dan 32,9% salah dalam menjawab waktu paling lambat

117
pelaporan setiap terjadi insiden keselamatan pasien di rumah sakit selama 2

x 24 jam.

Menurut Gunibala (2015), pengetahuan merupakan faktor penting

dalam seseorang mengambil keputusan, namun tidak selamanya

pengetahuan seseorang bisa menghindarkan dirinya dari kejadian yang tidak

diinginkannya. Misalnya, perawat yang tingkat pengetahuannya baik, tidak

selamanya menerapkan keselamatan pasien dengan baik karena segala

tindakan yang dilakukan berisiko menimbulkan terjadinya kesalahan. Faktor

lainnya adalah kurangnya minat belajar perawat, yakni perawat yang tidak

mempunyai keinginan untuk mengakses teori – teori baru dalam bidang

keperawatan khususnya mengenai keselamatan pasien.

Adapun Meliono (2007) berpendapat bahwa seseorang yang kurang

memahami sesuatu tidak dapat melakukan tindakan dengan baik. Hasil

penelitian ini menunjukkan hal serupa, bahwa perawat yang memiliki

pengetahuan kurang baik cenderung pernah melakukan insiden keselamatan

pasien sebanyak 17 perawat atau sebesar 89,5% dibandingkan perawat yang

memiliki pengetahuan baik. Asumsi pertama peneliti mencoba meninjau

dari usia perawat. Pada penelitian ini, proporsi responden paling banyak

pada perawat yang berusia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 47 perawat

atau sebesar 61,8% dan 25 perawat atau sebesar 53,2% diantaranya pernah

melakukan insiden keselamatan pasien. Dari hal tersebut, peneliti berasumsi

bahwa perawat yang masih memiliki pengetahuan kurang dapat disebabkan

karena masa kerja yang masih singkat sehingga perawat belum dapat

menerapkan pengetahuan mengenai keselamatan pasien dengan baik.

118
Perawat dengan masa kerja lebih lama cenderung memiliki pengalaman

kerja lebih banyak dibandingkan perawat yang baru bekerja. Lama kerja di

unit keperawatan menentukan banyaknya pengalaman perawat mengenail

keselamatan pasien yang telah atau hampir dialami. Pengalaman bekerja

banyak memberikan keahlian dan keterampilan kerja. Hal ini sejalan dengan

penelitian Aprilia (2011), perawat dengan masa kerja lebih lama akan lebih

memahami pentingnya penerapan IPSG agar terhindar dari kejadian –

kejadian tidak diharapkan yang dapat membahayakan pasien.

Penelitian yang dilakukan oleh Sofyan (2010), pada umumnya

ditemukan bahwa pengetahuan seseorang yang sangat baik dipengaruhi oleh

meningkatnya usia seseorang, akan tetapi dari hasil penelitiannya diketahui

bahwa tingkat pengetahuan yang sangat baik lebih didominasi oleh perawat

yang berusia 20 – 40 tahun. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor

yang mempengaruhi perubahan pengetahuan seseorang diantaranya:

lingkungan sekitar seseorang, pergaulan sehari – hari, dan kemampuan

belajar seseorang. Selain itu, dalam penelitiannnya memaparkan bahwa

sumber informasi yang didapat mempengaruhi pengetahuan petugas

kesehatan mengenai keselamatan pasien. Tingkat pengetahuan yang kurang

disebabkan karena petugas kesehatan tidak pernah mendengar tentang

keselamatan pasien dan tidak mendapatkan sumber informasi tentang

keselamatan pasien. Dengan semakin banyaknya seseorang mendapatkan

informasi dari berbagai sumber maka pengetahuan akan semakin baik. Hal

tersebut sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa ketersediaan fasilitas

merupakan faktor yang memudahkan untuk mempengaruhi tingkat

119
pengetahuan seseorang. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ketersediaan

fasilitas adalah sumber informasi.

Selain itu, adanya perawat yang masih memiliki pengetahuan yang

kurang mengenai keselamatan pasien dalam penelitian ini dapat disebabkan

oleh kurangnya pelatihan sehingga belum mampu untuk menerapkan

pengetahuan yang ada. Menurut Lubis (2007), perawat yang tidak mendapat

pelatihan/pembelajaran mempunyai kecenderungan lebih besar untuk

melakukan tindakan tidak aman yang menjadi salah satu pemicu terjadinya

insiden keselamatan pasien. Hal tersebut diperkuat dari pelatihan yang

dilaksanakan oleh Sub Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam

Bandung ditemukan belum semua perawat mendapatkan pelatihan terkait

keselamatan pasien, sehingga pelatihan yang telah dilaksanakan belum

maksimal disampaikan kepada seluruh perawat. Adapun perawat yang telah

mendapatkan 1 kali pelatihan tentang keselamatan pasien karena rumah

sakit sedang mempersiapkan untuk Akreditasi Rumah Sakit Nasional Versi

2012.

Upaya dalam meningkatkan pengetahuan yang bersifat tetap

merupakan suatu hal yang penting khususnya dalam konteks keselamatan

pasien. Hal tersebut didukung oleh pendapat Notoatmodjo (2009) bahwa,

pengetahuan yang menunjang keterampilan perlu diberikan agar staf dapat

melakukan tugasnya berdasarkan teori – teori yang dapat

dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan hal tersebut Henriksen (2008) juga

menyatakan bahwa, keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia

memiliki peran penting dalam menyebabkan keterbatasan institusi

120
pelayanan untuk mengelola pelayanan yang berorientasi pada keselamatan

pasien. Hal ini berarti bahwa keterbatasan pengetahuan merupakan hal

penting yang sangat perlu dipertimbangkan demi keamanan asuhan yang

diberikan oleh tenaga kesehatan termasuk perawat. Pada intinya,

pengetahuan yang baik dapat menjadi tolak ukur dari suatu pelaksanaan,

maka pelaksanaan yang baik dan benar harus didasari oleh pengetahuan dan

pengalaman. Semakin baik pengetahuan perawat tentang keselamatan

pasien, maka akan baik pula penerapan keselamatan pasien sehingga

kesalahan – kesalahan yang mengancam keselamatan pasien dapat dihindari

atau diminimalisir.

Dalam KPPRS (2008), terdapat suatu standar untuk mendidik staf

tentang keselamatan pasien yaitu:

a. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi untuk

setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien

secara jelas.

b. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf, serta

mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien dengan

kriteria sebagai berikut:

1) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat

topik keselamatan pasien.

2) Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in

service training dan memberikan pedoman yang jelas tentang

pelaporan insiden.

121
c. Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)

guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka

melayani pasien.

Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan oleh Sub Komite

Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung yaitu melalui

pelatihan. Pelatihan diberikan kepada perawat di unit rawat inap terutama

perawat yang masih memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai

keselamatan pasien dan perawat yang termasuk dalam dewasa muda

didorong agar lebih memiliki kemampuan mengenai keselamatan pasien

dengan cara diberikan pelatihan secara berkala agar keselamatan pasien

diterapkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai

keselamatan pasien dalam memberikan asuhan keperawatan yang

berkualitas kepada pasien, sehingga meningkatkan profesionalisme pada

perawat yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada

masyarakat dalam pelayanan yang diberikan menjadi lebih aman kepada

pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Setiap kali ada pelatihan

tentang keselamatan pasien harus dilakukan pretest dan post test agar dapat

dimonitor seberapa jauh perkembangan pengetahuan perawat tentang

keselamatan pasien.

Hal ini pun disampaikan oleh Rivai dan Sagala (2009), pelatihan

memiliki peranan yang sangat penting dalam mencegah terjadinya insiden

keselamatan pasien. Pelatihan sebagai bagian dari pendidikan yang

menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan

122
keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang

relatif singkat.

Pelatihan terkait keselamatan pasien merupakan suatu upaya untuk

mencegah atau meminimalisir kesalahan – kesalahan yang mengancam

keselamatan pasien. Pelatihan yang diberikan tersebut meliputi standar

keselamatan pasien rumah sakit dan pelaksanaan sasaran keselamatan

pasien. Menurut PMK No. 1691 tahun 2011, sasaran keselamatan pasien

merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi

oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) terdiri dari: 1) ketepatan

identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi yang efektif, 3) peningkatan

keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokasi, tepat

prosedur, dan tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait

pelayanan kesehatan, dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh. Tujuan dari

sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam

keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian – bagian yang bermasalah

dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari

konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini.

Untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran pada variabel

pengetahuan perawat maka peneliti menyarankan kepada peneliti

selanjutnya, untuk mengukur pengetahuan perawat mencakup secara detail

yang meliputi: manfaat keselamatan pasien, standar keselamatan pasien,

jenis insiden keselamatan pasien, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan

6 sasaran keselamatan pasien yang terdiri dari: 1) ketepatan identifikasi

pasien, 2) peningkatan komunikasi yang efektif, 3) peningkatan keamaman

123
obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokai tepat prosedur dan tepat

pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan,

dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh.

3. Stres

Pada titik tertentu dalam dunia pekerjaan banyak orang yang akan

mengalami stres terkait pekerjaan. Stres dipengaruhi oleh keseimbangan

antara persepsi terhadap tuntutan seseorang misalnya dengan beban kerja

yang ada dengan bagaimana menilai sumberdaya untuk memenuhi tuntutan

tersebut. Ketika tuntutan dirasa lebih utama dari kemampuan, seseorang

akan mengalami efek tidak menyenangkan, seperti kelelahan atau perasaan

lelah, konsentrasi kurang, dan mudah tersinggung (Arfan, 2014).

Menurut Houtman (2005), stres kerja umumnya lebih banyak

dikeluhkan oleh petugas kesehatan seperti perawat. Kesiagaan setiap saat

dari seorang perawat dalam menangani pasien, serta situasi pekerjaan dan

beban kerja yang ada membuat perawat mengalami tekanan yang membuat

stres. Profesi perawat merupakan profesi yang membutuhkan keterampilan

tingkat tinggi dan juga membutuhkan kerjasama tim dalam berbagai situasi,

sehingga profesi ini di dalam tempat kerja memiliki banyak stresor.

Stres perawat yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu keadaan

yang dapat memicu reaksi psikologis pemberi pelayanan kesehatan. Untuk

mengukur variabel stres perawat, pada penelitian ini hanya terdiri dari 3

pernyataan terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat

bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari indikator

stres Health and Safety Executive (HSE).

124
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat

mengalami stres rendah yaitu sebanyak 62 perawat atau sebesar 81,6%.

Sedangkan perawat yang mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 14 perawat

atau sebesar 18,4% dan sebanyak 11 perawat atau sebesar 78,6%

diantaranya cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hal

ini menunjukkan semakin perawat mengalami stres, maka semakin berisiko

menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.

Hasil distribusi jawaban perawat bahwa penyebab stres yang dialami

perawat disebabkan karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk

memulihkan semangat kerjanya sebesar 25%. Hal tersebut diduga

disebabkan oleh jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit yang menuntut

perawat bekerja lebih lama dari waktu yang seharusnya dan perawat juga

melakukan pekerjaan yang kompleks dengan ketersediaan waktu yang

cukup singkat, namun hal tersebut tetap menjadikan setiap pelayanan yang

diberikan oleh perawat harus berwaspada dalam mengutamakan

keselamatan pasien.

Stres merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap

setiap tuntutan atau beban atasnya. Stres terjadi apabila seseorang

mengalami beban atau tugas yang berat orang tersebut tidak dapat mengatasi

tugas yang dibebankan, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu

terhadap tugas tersebut sehingga mengalami stres. Penyebab suatu stres

dapat berasal dari lingkungan baik secara fisik, psikososial, maupun

spiritual. Sumber stres yang lain adalah berasal dari 1) di dalam diri sendiri,

yakni dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan

125
berbeda, dalam hal ini permasalahan yang terjadi tidak sesuai dengan

dirinya dan tidak mampu diatasi maka dapat menimbulkan suatu stres, dan

2) di dalam masyarakat, sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau

masyarakat pada umumnya seperti lingkungan pekerjaan karena beban

kerja, tanggung jawab kerja, dan keamanan kerja (Bart Smet, 1993 dalam

Tobing, 2007).

Penelitian National Institute for Occupational Safety and Health

(NIOSH) dalam Widyasari (2010) mengungkapkan bahwa profesi perawat

merupakan profesi yang memiliki resiko tinggi terhadap stres, kondisi ini

terjadi karena perawat memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat

tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu, penelitiannya juga

mengungkapkan bahwa pekerjaan perawat memiliki karakteristik yang

cukup sulit karena tekanan dan tuntutan kerja yang tinggi. Karakteristik

tersebut terdiri dari: 1) otoritas bertingkat ganda, 2) heterogenitas

personalia, 3) ketergantungan dalam pekerjaan dan spesialisasi, 4) budaya

kompetitif di rumah sakit, 5) jadwal kerja yang ketat dan harus siap kerja

setiap saat, dan 6) tekanan – tekanan dari teman sejawat.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2004) yang

melakukan penelitian di bagian ruang bedah RSU Santa Elisabeth Medan

bahwa perawat mengalami stres kerja disebabkan komunikasi dengan atasan

dan teman kerja tidak baik, mudah bosan, merasa tidak puas terhadap

sesuatu yang salah dan beban kerja untuk gaji, merasa tidak seefisien

sebagaimana mestinya, merasa tidak mempunyai perasaan secara emosional

terhadap masalah dan kebutuhan orang lain, frustasi dalam melaksanakan

126
pekerjaaan, dan faktor individu yakni umur, lama kerja, serta lingkungan

psikososial yakni hubungan personal.

Hasil survei dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) tahun

2006, sekitar 50,9% perawat yang bekerja di 4 provinsi di Indonesia

mengalami stres kerja, sering pusing, lelah, tidak bisa beristirahat karena

beban kerja terlalu tinggi dan menyita waktu. Stres kerja pada perawat

merupakan salah satu permasalahan dalam manajemen sumber daya

manusia di Rumah Sakit. Stress kerja adalah suatu tekanan yang tidak dapat

ditoleransi oleh individu baik yang bersumber dari dirinya sendiri mapun

dari luar dirinya. Penyebab stres bersumber dari biologis, psikologik, sosial,

dan spritual. Stres kerja adalah perasaan tertekan yang dialami karyawan

dalam menghadapi pekerjaan, yang disebabkan oleh stresor yang datang dari

lingkungan kerja seperti faktor lingkungan, organisasi dan individu

(Widyasari, 2010).

Menurut Manojlovich (2007), stres di tempat kerja memiliki efek yang

negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan fisik perawat. Perawat

yang mengalami stres kerja yang tinggi, tidak dapat menunjukkan kinerja

yang optimal. Hasil penelitian Olaleye (2002) mengungkapkan bahwa stres

pekerjaan berpengaruh sigifikan terhadap kondisi kesehatan dan

kemampuan perawat dalam melayani pasien. Pengaruh stres pada kesehatan

fisik muncul dalam bentuk, yakni sakit kepala, sakit punggung atau leher,

nyeri otot, tekanan darah tinggi, sedangkan pengaruhnya terhadap kondisi

psikis adalah munculnya perasaan cemas, merasa tertekan, kurang

konsentrasi, dan kesulitan dalam membuat keputusan. Dari gambaran

127
tersebut diketahui bahwa, kesehatan fisik dan mental dipengaruhi oleh stres

kerja yang secara tidak langsung akan mempengaruhi konsentrasi dan

kinerja dari perawat itu sendiri sehingga berpengaruh ketika melayani

pasien.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres kerja, yakni

dengan melakukan manajemen stres. Manejemen stres penting untuk

diterapkan di unit kerja dimana perawat mengalami stres kerja demi

mengurangi angka insiden keselamatan pasien. Guna mengelola stres

dengan baik ada beberapa cara yang direkomendasikan oleh para ahli

berdasarkan kebutuhan dan tingkat stres yang dialami. Salah satunya, WHO

(2009) menyatakan bahwa stres dapat dicegah dengan tiga cara, yakni

secara primer, sekunder (mendeteksi dan mengelola gejala), dan tersier

(efek stres yang dapat diobati). Untuk melakukan identifikasi risiko dapat

dikelola dengan berbagai cara, misalnya dengan memastikan tingkat staf

yang memadai dan memberikan pelatihan yang tepat. Selain itu, organisasi

dapat mengurangi stres di tempat kerja, misalnya dengan memungkinkan

periode pemulihan setelah periode beban kerja yang tinggi dan memberikan

peran atau tugas yang jelas atau meningkatkan kesempatan untuk

mendapatkan promosi jabatan.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen Rumah Sakit Al-

Islam Bandung untuk menurunkan stres yang dialami oleh perawat yaitu

mendesain kembali beban kerja dengan melihat kuantitas Sumber Daya

Manusia (SDM) yang tersedia dengan memperhatikan shift atau jadwal

kerja pada perawat. Hal ini direkomendasikan dari penelitian Jones &

128
Johnston (dalam McVicar, 2003) program yang dapat dilakukan untuk

mengurangi stres yakni 1) meninjau ulang mendesain kembali beban kerja

dengan melihat kuantitas SDM yang tersedia, 2) perlu diperhatikan shift

atau jadwal kerja, 3) model kepemimpinan atau manajemen yang berlaku

pada organisasi, dan 4) manajemen konflik yang kondusif.

Selain itu, untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran

pada variabel stres perawat, maka peneliti menyarankan kepada peneliti

selanjutnya untuk mengukur stres perawat dengan menggunakan kuesioner

HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) yang mengembangkan tiga gejala

stres yaitu gejala psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat

stres kerja yang dialami oleh responden. Menurut Suparyanto (2011),

tingkat stres dapat dikelompokkan dengan menggunakan kriteria HARS

(Hamilton Anxiety Rating Scale). Unsur yang dinilai antara lain: perasaan

ansietas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan,

perasaan depresi, gejala somatik, gejala respirasi, gejala gejala

kardiovaskuler, gejala respirasi, gejala gastrointestinal, gejala urinaria,

gejala otonom, gejala tingkah laku.

4. Kelelahan

Menurut Budiono (2003), kelelahan merupakan suatu kondisi yang

disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja. AHRQ (2003)

mengungkapkan bahwa dampak kelelahan yang dialami perawat

mengakibatkan medical error. Lingkungan kerja dan pekerjaan perawat

dapat menjadi sumber kelelahan perawat.

129
Kelelahan perawat yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu

keadaan yang dapat memicu reaksi psikologis pemberi pelayanan kesehatan.

Untuk mengukur variabel stres perawat, pada penelitian ini hanya terdiri

dari 3 pernyataan terkait jumlah perawat di unit tempat bekerja, adanya

beban kerja, dan jadwal kerja perawat.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat

mengalami kelelahan rendah yaitu sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%.

Sedangkan perawat yang mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 29

perawat atau sebesar 38,3% dan sebanyak 16 perawat atau sebesar 55,2%

diantaranya cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hal

ini menunjukkan semakin perawat mengalami kelelahan, maka semakin

berisiko menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.

Hasil distribusi jawaban perawat bahwa penyebab kelelahan yang

dialami disebabkan karena perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan

pasien karena bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak

tugas yang harus dikerjakan sebesar 48,7%, sehingga hal tersebut dapat

menurunkan kewaspadaan yang pada akhirnya perawat mengalami

kelelahan. Selain itu, asumsi peneliti mencoba meninjau dari stres yang

dialami oleh perawat. Pada penelitian ini, proporsi responden yang

mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 14 perawat atau sebesar 18,4% dan

sebanyak 11 perawat atau sebesar 78,6% diantaranya cenderung pernah

melakukan insiden keselamatan pasien. Dari hal tersebut, peneliti berasumsi

bahwa adanya perawat yang mengalami kelelahan dapat dipengaruhi stres

yang dialami oleh perawat. Menurut Widyananti (2010), salah satu

130
hambatan yang akan timbul oleh karena adanya stres yang dialami perawat

adalah kelelahan. Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi

menurunnya efisiensi, performasi kerja, dan berkurangnya kekuatan atau

ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus

dilakukan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu

prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang

menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun.

Perasaan kelelahan di tempat kerja cenderung meningkatkan terjadinya

kesalahan, sehingga dapat merugikan diri perawat maupun rumah sakit

karena adanya penurunan produktivitas kerja. Kelelahan kerja memiliki

gejala-gejala seperti, menguap, mengantuk, susah berfikir, cenderung untuk

lupa, merasa nyeri di punggung, dan lain-lain. Selain itu kelelahan kerja

memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti usia, jenis kelamin,

penyakit, keadaan psikis tenaga kerja, dan beban kerja.

Adapun menurut AHRQ (2003), sumber kelelahan dapat ditimbulkan

dari pengaturan shift kerja, jam kerja, rotasi, lama kerja, karakteristik

pekerjaan, pengaturan waktu istirahat, beban kerja, kondisi kerja, dan iklim

kerja. Adapun Sochalski (2004) berpendapat bahwa perawat yang

mengemban beban kerja lebih tinggi dilaporkan lebih sering melakukan

kesalahan dan mengalami kejadian pasien jatuh pada saat mereka berdinas.

Kelelahan yang dialami perawat karena bekerja dengan waktu yang terlalu

lama dan pengaruh stres yang dapat menurunkan kewaspadaan (Henriksen

et al., 2008).

131
Peters and Peter (2008) menyatakan bahwa salah satu penyebab

medical error disebabkan faktor manusia akibat kelelahan yang dialami.

Jam kerja yang lama dan kelebihan beban kerja dapat memungkinkan

menimbulkan gejala fisik dan mental seperti merakan kelelahan dan

kecerobohan kognitif. Perasaan subjektif dari kelelahan mengacu pada rasa

kelelahan, kekurangan energi, dan mengurangi motivasi yang disertai

dengan kewaspadaan mental yang menurun, gangguan prestasi kerja,

meningkatnya rasa kantuk, tertidur pada saat bekerja, dan pada tingkat yang

lebih tinggi dapat menyebabkan kecelakaan. Adapun AHRQ (2003)

menyatakan bahwa sumber kelelahan dapat ditimbulkan dari pengaturan shif

kerja, jam kerja, rotasi, lama kerja, karakteristik pekerjaan, pengaturan

waktu istirahat, beban kerja, kondisi kerja, dan iklim kerja.

Menurut Haryanti (2013), dampak negatif dari beban kerja yang

berlebihan adalah kemungkinan timbulnya emosi perawat yang tidak sesuai

dengan yang diharapkan pasien. Bila beban kerja seorang perawat tinggi,

maka sangat berpengaruh besar dalam memberikan pelayanan keperawatan

di unit rawat inap karena berpotensi besar perawat melakukan kesalahan

terkait keselamatan pasien. Jika seorang perawat salah dalam menentukan

prioritas utama pasien, maka pasien akan beresiko tinggi mengalami

kecacatan bahkan kematian. Dampak beban kerja yang dirasakan perawat

adalah sering merasa lelah, tidak dapat rileks, otot tengkuk, dan punggung

tegang. Kadang – kadang perawat mudah marah, sulit tidur, dan sulit

berkonsentrasi, selain itu konsekuensi dari beban kerja yang dialami perawat

132
yakni kurang responsif dan kurang memperhatikan aspek psikologis, serta

emosi pasien.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit Al-

Islam Bandung untuk memotivasi perawat dalam upaya meningkatkan

semangat kerja perawat sehingga memberikan asuhan keperawatan kepada

pasien menjadi lebih aman yaitu mengupayakan pendidikan lanjut

keperawatan minimal sampai S1 Keperawatan sebagai bentuk suatu reward

atas kinerja yang telah diberikan selama bekerja.

Selain itu, untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran

pada variabel kelelahan perawat, maka peneliti menyarankan kepada

peneliti selanjutnya untuk mengukur kelelahan perawat dengan

menggunakan Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2).

KAUPK2 merupakan parameter untuk mengukur perasaan kelelahan kerja

sebagai gejala subjektif yang dialami pekerja dengan perasaan yang tidak

menyenangkan. Keluhan yang dialami pekerja setiap harinya membuat

mereka mengalami kelelahan kronis. KAUPK2 terdiri dari 17 item

pertanyaan (3 aspek keluhan subjektif yang diderita oleh tenaga kerja yang

mengalami kelelahan, yaitu aspek pelemahan aktivitas sebanyak 7 butir,

aspek pelemahan motivasi sebanyak 3 butir, dan aspek gejala fisk sebanyak

7 butir).

133
D. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik

Organisasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

1. Komunikasi

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang pada prosesnya dapat

menghasilkan persepsi, perilaku, dan pemahaman yang berubah menjadi

sama antara pemberi informasi dan penerima informasi. Dalam PMK No.

1691 tahun 2011, peningkatan komunikasi yang efektif merupakan sasaran

keselamatan pasien kedua. Komunikasi efektif, tepat waktu, akurat, lengkap,

jelas, dan dipahami oleh pasien akan mengurangi kesalahan, dan

meningkatkan keselamatan pasien.

Pada komunikasi dalam penelitian ini yaitu adanya keaktifan interaksi

yang dilakukan oleh perawat dengan sesama petugas kesehatan yang

berkaitan dengan keselamatan pasien. Komunikasi dikatakan efektif jika

komunikasi yang terjalin diantara perawat sebagai pemberi pelayanan

kesehatan saling mengerti dan memperlihatkan adanya keterbukaan, saling

mendukung, bersikap positif, dan kesetaraan.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat telah

melakukan komunikasi efektif antara petugas kesehatan di unit rawat inap

yaitu sebanyak 40 perawat atau sebesar 52,6%. Sedangkan perawat yang

masih kurang efektif yaitu sebanyak 36 perawat atau 47,4% dan sebanyak

19 perawat atau sebesar 52,8% diantaranya cenderung lebih banyak tidak

pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hasil distribusi jawaban

perawat bahwa kurangnya komunikasi efektif pada penelitian ini disebabkan

karena perawat jarang mendiskusikan dengan sesama perawat atau dokter

134
bagaimana cara untuk mencegah insiden supaya tidak terjadi kembali

sebesar 15,8% dan perawat belum merasa bebas untuk bertanya kepasa

sesama perawat lain atau dokter tentang keputusan maupun tindakan yang

harus diambil sebesar 5,3%.

Komunikasi dalam keselamatan pasien telah menjadi standar dalam

The Joint Comission on Acreditation of Healthcare Organization (JCAHO)

sejak tahun 2010. Menurut Salim (2006) dan Hamdani (2007), komunikasi

harus terjadi dalam pola dua arah, dari pimpinan ke personel garis depan

dan sebaliknya. Demikian juga, tindakan diam terhadap kesalahan harus

diganti dengan keterbukaan, serta kejujuran mengenai kejadian yang

menyangkut dengan keselamatan pasien. Pelaporan dan kepatuhan terhadap

prosedur keselamatan pasien merupakan parameter yang dijadikan tolak

ukur berjalannya komunikasi keselamatan yang efektif dan menjadi elemen

penting untuk mewujudkan pelayanan yang aman, serta menuju keselamatan

pasien. Adapun menurut Jalaluddin (2008), komunikasi yang efektif

ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan,

mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada

akhirnya menimbulkan suatu tindakan.

Dalam komunikasi, efektifitas merupakan hal yang paling penting

karena komunikasi efektif merupakan salah satu strategi untuk membangun

budaya keselamatan pasien. Komunikasi efektif sangat berperan dalam

menurunkan insiden keselamatan pasien dalam sebuah asuhan medis pasien.

Strategi tersebut ditetapkan oleh JCAHO sejak tahun 2010 sebagai tujuan

nasional keselamatan pasien. Strategi tersebut bertujuan untuk menciptakan

135
proses komunikasi efektif melalui pendekatan standarisasi komunikasi yakni

pada saat serah terima pasien (hand over). Hal tersebut dikarenakan

komunikasi saat proses transisi perawatan pasien dapat memiliki risiko

terjadinya kesalahan ketika informasi yang diberikan tidak akurat. Menurut

Nazhar (2009) dalam Hamdani (2007) komunikasi dapat diwujudkan pada

saat serah terima, briefing, dan ronde keperawatan. Perawat menggunakan

komunikasi terbuka pada saat serah terima dengan mengkomunikasikannya

kepada perawat lain tentang risiko terjadinya insiden, melibatkan pasien

pada saat serah terima. Briefing digunakan untuk berbagi informasi seputar

isu – isu keselamatan pasien, perawat dapat secara bebas bertanya seputar

keselamatan pasien yang potensial terjadi dalam kegiatan sehari – hari.

Ronde keperawatan dapat dilakuakn setiap minggu dan fokus hanya pada

keselamatan pasien.

Komunikasi pada saat serah terima pasien di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung biasanya tidak hanya secara lisan tetapi juga dalam bentuk tulisan.

Briefing atau “operan” menjadi sarana untuk berkomunikasi secara lisan

perihal asuhan keperawatan yang perlu dilakukan perawat pelaksana yang

menjalankan shift selanjutnya. Adapun komunikasi lisan melalui telepon

oleh perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan

menggunakan metode ISBAR (introduction, situation, background,

asessment, recommendation) dan teknik TBAK (Tulis, Baca, Konfirmasi

Kembali). Namun hasil pengamatan di lapangan pada saat penelitian,

pelaksanaan peningkatan komunikasi efektif dengan menggunakan metode

TBAK masih ditemukan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) belum

136
melengkapi dokumentasi verifikasi secara tertulis berupa pembubuhan tanda

tangan/paraf pada berkas rekam medis pasien. Hal tersebut belum sesuai

dengan prosedur komunikasi efektif yang berlaku, bahwa seharusnya

pemberi pesan harus segera melengkapi dokumentasi verifikasi secara

tertulis berupa pembubuhan tanda tangan atau paraf verifikasi komunikasi

efektif dalam catatan berkas rekam medis pasien. Ada pula komunikasi yang

di dokumentasikan dalam bentuk tulisan di Rumah Sakit Al-Islam Bandung,

antara lain: 1) buku operan shift, 2) catatan perawat yang dipegang sendiri

sebagai Perawat Penanggung Jawab Pelayanan (PPJP), dan 3) lembar

catatan medik harian pada berkas rekam medis.

Selain komunikasi lisan dan komunikasi tulisan, adapula kegiatan

ronde kelapangan terkait keselamatan pasien yang telah dilaksanakan di

Rumah Sakit Al-Islam Bandung, namun belum berjalan dengan maksimal.

Pelaksanaan ronde keselamatan pasien ini sudah dilaksanakan sejak tahun

2013 yang dilakukan 2 kali selama 1 bulan, namun pada pelaksanaannya

terdapat kendala karena berbagai kegiatan dan tugas yang padat dari bagian

komite sehingga kegiatan ronde keselamatan pasien hanya dilaksanakan

sesuai sesuai kondisi. Kegiatan ronde keselamatan pasien bertujuan untuk

memonitoring sejauh mana pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah Sakit

Al-Islam Bandung. Hasil dari ronde kelapangan tersebut kemudian menjadi

evaluasi dan menjadikan rekomendasi kepada unit terkait. Pelaksanakan

ronde keselamatan pasien merupakan suatu bentuk dukungan yang diberikan

dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan atau supervisi ke setiap untuk

pelayanan untuk memonitoring atau mengetahui kesulitan/permasalahan/

137
kendala yang dihadapi dalam melaksanakan keselamatan pasien dan

memastikan bahwa seluruh personil rumah sakit mendukung pelaksanaan

keselamatan pasien.

Menurut O’Daniel (2008), komunikasi yang baik mendorong

kolaborasi dan membantu mencegah kesalahan. Oleh karena itu, sebaiknya

komunikasi yang kurang efektif lebih diperhatikan lagi oleh pihak rumah

sakit sehingga insiden – insiden yang berhubungan dengan keselamatan

pasien dapat dikurangi atau bahkan dapat dihindari.

2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP)

Menurut Setyarini (2013), Standar Operasional Prosedur (SOP)

merupakan suatu standar atau pedoman tertulis yang dipergunakan untuk

mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan

organisasi. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang

harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Menurut IOM

(2000), peran perawat dalam keselamatan pasien yaitu memelihara

keselamatan pasien melalui transformasi lingkungan keperawatan yang

lebih mendukung keselamatan pasien dan peran perawat dalam keselamatan

pasien melalui penerapan standar keperawatan. Yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah implementasi SOP terkait pelaporan insiden

keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah memiliki SOP yang mengatur

tentang pelaporan insiden keselamatan pasien secara tertulis dan detail.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat memiliki

persepsi baik terhadap implementasi SOP terkait pelaporan insden

138
keselamatan pasien yaitu sebanyak 53 perawat atau sebesar 69,7%.

Sedangkan perawat yang memiliki persepsi kurang baik terhadap

implementasi SOP terkait pelaporan insden keselamatan pasien yaitu

sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3% dan sebanyak 15 perawat atau

sebesar 65,2% diantaranya cenderung lebih banyak pernah melakukan

insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan semakin perawat memiliki

persepsi kurang baik terhadap implementasi SOP, maka semakin berisiko

menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.

Hasil distribusi jawaban perawat yang memiliki persepsi kurang

terhadap implementasi SOP disebabkan karena sebesar 9,2% tidak

menyetujui bahwa ketika terjadi suatu insiden keselamatan pasien paling

lambat dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya insiden keselamatan

pasien dan sebesar 6,6% belum mendapatkan tindak lanjut dari komite

keselamatan pasien ketika terjadi insiden keselamatan pasien.

Pelaporan insiden keselamatan pasien di rumah sakit dilakukan untuk

menilai jenis insiden yang terjadi dan dapat diketahui kesalahan yang biasa

dilakukan oleh perawat, serta dapat diambil tindakan sebagai bahan

pembelajaran organisasi. Organisasi belajar dari pengalaman sebelumnya

dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi faktor risiko terjadinya

insiden, sehingga dapat mengurangi atau mencegah insiden yang akan

terjadi karena telah belajar dan terinformasi dengan jelas dari insiden yang

sudah pernah terjadi melalui pelaporan kejadian dan investigasi.

Menurut Musdalifah (2013), pelaporan kejadian dan feedback yang

baik harus terus ditingkatkan dengan rasa saling percaya dan no blame

139
culture, artinya bila staf melakukan kesalahan, staf lainnya tidak menilai

sebelah mata atas kesalahan yang telah dilakukan oleh staf tersebut dan

memberikan umpan balik kepada staf yang telah melapor. Apabila staf

melaporkan setiap kesalahan, maka tidak berarti staf tersebut harus

dipersalahkan (di blame) ataupun dihukum atas kesalahan yang telah

dilakukan. Setiap anggota organisasi memiliki peran dalam melindungi staf

atau rekan yang telah melaporkan kesalahan dengan tidak mengecilkan hati

rekan yang telah melakukan kesalahan. Bila keadaan ini mampu dibangun

dan dipertahankan, tentu akan dapat meningkatkan frekuensi pelaporan

kejadian. Hamdani (2007) berpendapat bahwa organisasi kesehatan harus

mampu menciptakan lingkungan yang nonpunitive yang tujuannya adalah

supaya setiap elemen staf tidak takut untuk melaporkan kejadian. Ketika

sistem punishment dijalankan, maka staf akan enggan melaporkan insiden.

Kejadian yang tidak dilaporkan tersebut membuat organisasi tidak belajar

dari kesalahan dan kurang peduli terhadap pelayanan.

Melalui pelaksanaan SOP yang sudah ditetapkan di rumah sakit

diharapkan terjadinya insiden keselamatan pasien menurun. Menurut

Cahyono (2008), pengembangan dan ketersediaan standar, pedoman, dan

protokol mendukung program keselamatan pasien. Standarisasi memiliki

tujuan menetapkan tingkat tampilan minimal yang harus dipenuhi

seseorang, setiap proses, tindakan, keterampilan klinis, penampilan,

lingkungan kerja, serta kondisi alat yang harus terstandarisasi.

Hal ini ditunjang oleh teori Wood dalam Cahyono (2008) yang

mengembangkan teori “blunt and sharp end” yang menjelaskan bagaimana

140
interaksi manusia dengan sistem yang dapat menyebabkan terjadinya

insiden keselamatan pasien. Blunt and (sisi tumpul) menggambarkan

penampilan organisasi, dalam hal ini SOP atau alur kerja yang berfungsi

sebagai pelindung atau pencegah kesalahan. Sharp end (sisi tajam)

menggambarkan petugas kesehatan, dalam hal ini perawat yang bertugas.

Interaksi antara blunt and sharp end seharusnya seimbang sehingga insiden

keselamatan pasien dapat dihindari. Dengan demikian, peran perawat

sebagai sisi tajam dari pelayanan sangat besar, perawat diharapkan mampu

memegang teguh pedoman, kebijakan dan standar praktik keperawatan. Jika

hal ini dilanggar cedera pada pasien tidak dapat dihindarkan.

Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen

Rumah Sakit Al-Islam Bandung perlu melakukan sosialisasi dan

pengawasan yang lebih intensif terhadap pelaksanaan SOP terkait pelaporan

insiden keselamatan pasien di setiap unit kerja sehingga perawat dapat

melaksanakan tugasnya sesuai dengan pelaksanaan SOP terkait pelaporan

insiden keselamatan pasien yang berlaku di rumah sakit untuk memberikan

asuhan keperawatan yang lebih aman bagi pasien.

E. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Sifat

Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung

1. Kerjasama Tim

Menurut Katzenbach & Douglas dalam Cahyono (2008), kerjasama

tim merupakan suatu kelompok kecil dengan keterampilan yang saling

melengkapi dan berkomitmen pada tujuan bersama, serta sasaran – sasaran

kinerja dan pendekatan yang mereka jadikan tanggung jawab bersama.

141
Kerjasama merupakan bentuk attitude dari perawat dalam bekerja di dalam

tim karena membuat individu saling mengingat, mengoreksi, dan

berkomunikasi, sehingga peluang terjadinya kesalahan dapat dihindari.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat

memiliki kerjasama tim yang baik yaitu sebanyak 57 perawat atau sebesar

75%. Sedangkan perawat yang memiliki kerjasama tim kurang baik yaitu

sebanyak 19 perawat atau sebesar 25% dan 13 perawat atau sebesar 68,4%

cenderung melakukan insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan

semakin perawat memiliki kerjasama tim yang kurang baik, maka semakin

berisiko menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.

Hail distribusi jawaban perawat bahwa perawat yang masih kurang

dalam kerjasama tim disebabkan karena perawat merasa sulit untuk

berkoordinasi dengan unit lain sebesar 22,4% dan perawat lebih nyaman

bekerja sendiri dibanding bekerja dalam tim sebesar 16,1%. Hal tersebut

bisa jadi ada hubungannya dengan komunikasi yang terjalin di unitnya.

Kurangnya komunikasi yang tejalin antar perawat disebabkan adanya status

jawaban dan kurangnya keterbukaan sesama tim dapat menyebabkan

kerjasama dalam tim tidak terkoordinasi dengan baik. Dalam melakukan

asuhan keperawatan kepada pasien, perawat melakukannya hanya kepada

pasien yang menjadi tanggung jawabnya saja dari pada bekerja di dalam

tim. Setiap perawat memiliki tanggung jawab dan tugasnya masing –

masing terhadap pasien sehingga perawat lain tidak saling mengetahui

pekerjaan rekannya. Hal tersebut yang kemudian membuat perawat menjadi

tidak saling meng-crosscheck pekerjaan satu sama lain, hal ini dapat

142
semakin besar menimbulkan potensi terjadinya kesalahan dalam

memberikan asuhanan perawatan kepada pasien. Dengan demikian, peneliti

memberikan masukan kepada pihak manajemen rumah sakit untuk

meningkatkan kerjasama tim antar perawat. Tidak hanya untuk

meningkatkan kinerja dalam asuhan keperawatan tetapi juga untuk

meningkatkan keselamatan pasien selama melakukan perawatan di rumah

sakit.

Menurut Manser (2009) dalam Lestari (2013), hambatan komunikasi

dan pembagian tugas yang tidak seimbang menjadi penyebab kurang

efektifnya kerjasama tim. Efektifitas kerjasama tim sangat tergantung pada

komunikasi dalam tim, adanya supervisi, dan pembagian tugas. Menurut

Vincent (2003) dalam (Setiowati, 2010) mengemukaan sebuah studi

observasional dan analisis retrospektif oleh terhadap insiden keselamatan

pasien menunjukkan bahwa faktor kerjasama tim yang kurang, berkontribusi

lebih banyak dibandingkan dengan kemampuan klinis yang lemah.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh

Mulyana (2013) yakni faktor kerjasama menjadi indikator bahwa perawat

dengan kerjasama kurang memiliki kecenderungan menyebabkan insiden

keselamatan pasien tiga kali lebih besar dari perawat yang memiliki persepsi

sebaliknya. Darmanelly (2000) dalam WHO (2009) berpendapat bahwa

kerjasama tim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni kesesuaian

mempercayai anggota tim, kesediaan untuk mengalah, kemampuan

menyampaikan kritik, ketersediaan memperbaiki diri, solidaritas kelompok,

tanggung jawab, dan pemantauan secara berkala.

143
Kerjasama tim dalam pelayanan dapat mempengaruhi kualitas dan

keselamatan pasien di rumah sakit. Potensi konflik yang mungkin terjadi

dalam interaksi tim dapat berakibat pada pelaksanaan kerjasama tim dalam

pelayanan. Bekerja secara tim merupakan sebuah nilai yang harus dibangun

sebagai budaya dalam penerapan keselamatan pasien. Konflik yang muncul

dapat menurunkan persepsi individu atas kerjasama tim yang mengganggu

proses pelayanan dan berujung pada kemungkinan terjadinya insiden

keselamatan pasien. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bower et al.

(2003) dalam WHO (2009) bahwa kerja tim yang baik dapat membantu

mengurangi masalah keselamatan pasien, meningkatkan semangat anggota,

dan kesejahteraan tim sehingga tim akan berfungsi dari waktu ke waktu.

Adapun menurut Baker et al. (2005), kerja tim sangat dibutuhkan antar tim

medis untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui pengurangan

kesalahan – kesalahan akibat adanya kerjasama tim antar petugas medis.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit Al-

Islam Bandung yaitu melaksanakan rapat rutin dengan mengundang setiap

kepala instalasi atau atasan langsung beserta beberapa anggotanya untuk

rutin membahas masalah – masalah internal terkait dengan kerjasama,

koordinasi antar unit, dan koordinasi antar tim terkait dengan keselamatan

pasien dan melaksanakan outbond bersama – sama antar perawat dan profesi

kesehatan lainnya untuk meningkatkan kerjasam tim.

2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat

Adanya gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat memiliki

kemungkinan untuk menimbulkan kesalahan – kesalahan yang dapat

144
berakibat fatal bagi pasien. Menurut teori Henrikson et al. (1993) dalam

Henriksen et al (2008) bahwa penyebab insiden keselamatan pasien salah

satunya disebabkan oleh faktor sifat dasar pekerjaan yang meliputi adanya

gangguan atau interupsi selama bekerja.

Persepsi perawat terhadap gangguan atau interupsi tinggi yaitu apabila

perawat merasakan adanya aktivitas atau kegiatan lain di luar tugas dan

tanggung jawabnya yang harus dilakukan pada saat sedang memberikan

pelayanan kesehatan kepada pasien atau keluarga pasien lebih banyak

dibandingkan kegiatan yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab

pekerjaannya.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat

mengalami gangguan atau interupsi rendah yaitu sebanyak 48 perawat atau

sebesar 63,2%. Sedangkan perawat yang mengalami gangguan atau

interupsi tinggi yaitu seabnyak 28 perawat atau sebesar 36,8% dan sebanyak

16 perawat atau sebesar 57,1% diantaranya cenderung lebih banyak tidak

pernah melakukan inisiden keselamatan pasien. Hasil distribusi jawaban

perawat yang merasakan gangguan atau interupsi tinggi disebabkan karena

ketika sedang melaksanakan tugas yang dirasakan oleh perawat paling

banyak disebabkan karena sering melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam

waktu yang sama sebesar 28,9%. Namun, secara keseluruhan perawat yang

mengalami gangguan atau interupsi rendah lebih banyak dibandingkan

dengan perawat yang mengalami gangguan atau interupsi tinggi. Sehingga,

adanya gangguan yang dialami oleh perawat ketika sedang melaksanakan

tugas yang menjadi tanggung jawabnya tidak memberatkan maupun

145
menyulitkan perawat untuk melakukan aktifitas atau kegiatan lain di luar

tugas dan tanggung jawabnya. Hal tersebut dapat tejadi dikarenakan

gangguan atau interupsi sudah membudaya di Rumah Sakit Al-Islam

Bandung. Tugas perawat di ruang perawatan tidak hanya melakukan asuhan

keperawatan tetapi juga melakukan pekerjaan administrasi seperti pengisian

rekam medis, memfasilitasi pasien makan, berpakaian, mengantar dan

menjemput pasien saat konsul ke unit atau rumah sakit lain, serta mengisi

formulir lain yang terkait dengan asuhan keperawatan. Di luar itu, perawat

juga dilibatkan dalam kegiatan rumah sakit yang menyebabkan terjadinya

interaksi dengan banyak pihak dan terlibat dalam pekerjaan lain di luar

asuhan keperawatan.

146
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian “Gambaran Insiden Keselamatan Pasien

Berdasarkan Karakteristik Perawat, Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di

Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016”

yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 hingga November 2016,

menghasilkan simpulan sebagai berikut:

1. Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode

2012-2016 lebih banyak perawat yang tidak pernah melakukan insiden

keselamatan pasien sebanyak 46 perawat (60,5%) dibandingkan dengan

perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebanyak 30

perawat (39,5%) dalam satu tahun terakhir. Berdasarkan jenis insiden

keselamatan pasien yakni KTC lebih banyak pernah dilakukan oleh perawat

dibandingkan dengan jumlah perawat yang pernah melakukan KNC dan

KTD. Perawat yang pernah melakukan KTC sebanyak 28 perawat (36,8%),

perawat yang pernah melakukan KNC sebanyak 23 perawat (30,3%), dan

perawat yang pernah melakukan KTD sebanyak 20 perawat (26,3%).

2. Berdasarkan karakteristik perawat, perawat yang berusia ≤ 30 tahun

cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebesar 53,2%,

perawat yang memiliki pengetahuan kurang cenderung pernah melakukan

insiden keselamatan pasien sebesar 89,5%, perawat yang mengalami stres

tinggi cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebesar

147
78,6%, dan perawat yang mengalami kelelahan tinggi cenderung pernah

melakukan insiden kselamatan pasien sebesar 55,2%.

3. Berdasarkan karakteristik organisasi, perawat yang memiliki komunikasi

kurang efektif cenderung tidak pernah melakukan insiden keselamatan

pasien sebesar 52,8% dan perawat yang memiliki persepsi kurang baik

terhadap implementasi SOP cenderung pernah melakukan insiden

keselamatan pasien sebesar 65,2%.

4. Berdasarkan karakteristik sifat dasar pekerjaan, perawat yang memiliki

kerjasama tim kurang cenderung pernah melakukan insiden keselamatan

pasien sebesar 68,4% dan perawat yang mengalami gangguan atau interupsi

tinggi cenderung tidak pernah melakukan insiden keselamatan pasien

sebesar 57,1%.

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung

a. Rumah sakit diharapkan dapat meneruskan dan meningkatkan

pelaksanaan program – program keselamatan pasien yang telah

dilaksanakan.

b. Sebaiknya pihak rumah sakit memberikan perhatian khusus pada perawat

yang berusia muda (< 30 tahun), misalnya dengan diberikan pengawasan

dan bimbingan langsung oleh supervisor.

c. Sebaiknya rumah sakit melakukan peningkatan pengetahuan perawat di

unit rawat inap terutama perawat yang masih memiliki tingkat

pengetahuan kurang dengan mengadakan upgrading pelatihan secara

rutin dan berkesinambungan. Setiap kali ada pelatihan tentang

148
keselamatan pasien harus dilakukan pretest dan post test agar dapat

dimonitor seberapa jauh perkembangan pengetahuan perawat tentang

keselamatan pasien.

d. Sebaiknya rumah sakit melakukan desain kembali beban kerja perawat

dengan melihat kuantitas SDM yang tersedia dengan memperhatikan

shift atau jadwal kerja pada perawat.

e. Sebaiknya rumah sakit dapat mengupayakan pendidikan lanjut

keperawatan minimal sampai dengan S1 Keperawatan sebagai suatu

bentuk reward untuk memotivasi perawat dalam upaya meningkatkan

semangat kerja perawat sehingga memberikan asuhan kepada pasien

menjadi lebih aman.

f. Sebaiknya kepala ruangan agar memberikan sosialisasi tentang SOP

terkait pelaporan insiden keselamatan pasien pada setiap akan memulai

pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien.

g. Sebaiknya pihak manajemen rumah sakit melaksanakan rapat rutin

dengan mengundang setiap kepala instalasi atau atasan langsung beserta

beberapa anggotanya untuk rutin membahas masalah – masalah internal

terkait dengan kerjasama, koordinasi antar unit, dan koordinasi antar tim

terkait dengan keselamatan pasien dan melaksanakan outbond bersama –

sama antar perawat dan profesi kesehatan lainnya untuk meningkatkan

kerjasam tim.

149
2. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang terkait dengan

menggunakan metode kualitatif agar hasil yang didapatkan lebih lengkap

dan lebih tergali secara mendalam.

b. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian mengenai

insiden keselamatan pasien dengan mengukur karakteristik lain yang

belum diteliti.

c. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengukur pengetahuan perawat

mencakup secara detail yang meliputi manfaat keselamatan pasien,

standar keselamatan pasien, jenis insiden keselamatan pasien, pelaporan

insiden keselamatan pasien, dan 6 sasaran keselamatan pasien yang

terdiri dari: 1) ketepatan identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi

yang efektif, 3) peningkatan keamaman obat yang perlu diwaspadai, 4)

kepastian tepat lokai tepat prosedur dan tepat pasien operasi, 5)

pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan 6)

pengurangan risiko pasien jatuh.

d. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan kuesioner HRS – A (Hamilton

Rtaing Scale Anxiety) yang mengembangkan tiga gejala stres yaitu gejala

psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat stres kerja

yang dialami oleh responden.

e. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan kuesioner KAUPK2 (Kuesioner

Alat Ukur Perasaan Kelelahan kerja) untuk mengukur tingkat perasaan

kelelahan kerja yang dialami oleh responden.

150
DAFTAR PUSTAKA

Agency For Healthcare Research and Quality (AHRQ). 2003. Diakses dari
https://www.ahrq.gov/ pada tanggal 27 Mei 2016.

Aprilia, S. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawat dalam Penerapan


IPSG (Internasional Patient Safety Goal) Pada Akreditasi JCI (Joint
Commission International) di Instalasi Rawat Inap RS Swasta X Tahun 2011.
FKM UI.

Apriningsih, Desmawati., & Joesro, Mohamad. 2013. Kerjasama Tim dalam Budaya
Keselamatan Pasien di RS X (Studi Kualitatif di Suatu RSUD di Provinsi Jawa
Barat). Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3).

Arfan, A. N. 2014. Gambaran Determinan Insiden Keselamatan Pasien Pada


Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Tahun 2014. FKM
Universitas Hasanuddin Makasar.

Aspden, Philip., Corrigan, Janet M., Wolcott, Julie., and Erickson, Shari M. 2004.
Patient Safety: Achieving A New Standard For Care. Washington, D.C.: The
National Academies Press.

Baker, et al. 2005. The Role of Teamwork in the Professional Education of


Physicians: Current Status and Assessment Recommendations. Diakses dari
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.473.8079&rep=re&t
ype=pdf pada tanggal 29 Juli 2016.

Ballard, K. A. 2003. Patient Safety: A Share Responsibility. Online Journal of Issues


in Nursing. Volume 8 No.3. Diakses dari
http://www.nursingworld.org/MainMenuCategories/ANAMarketplace/ANAPer
iodicals/OJIN/TableofContents/Volume82003/No3Sept2003/PatientSafety.html
pada tanggal 29 Juli 2016.

xxii
Bawelle, dkk. 2013. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan
Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safety) di Ruang Rawat Inap RSUD
Liun Kendage Tahuna. Ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 1. Nomor 1.
Universitas Sam Ratulangi Manado.

Cahyono, A. 2015. Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Perawat


Terhadap Pengelolaan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Jurnal Ilmiah
WIDYA, Volume 2 No. 2.

Cahyono, J. B. 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktik


Kedokteran.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Carayon, Pascale. & Ayse, P. Gurses. 2008. Nursing Workload and Patient Safety – A
Human Factors Enginnering Perspektive. Patient Safety and Quality: An
Advance – Based Handbook for Nurses. Chapter 30 Vol.2. Diakses dari
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://www.ahrq.gov/p
rofessionals/cliniciansproviders/resources/nursing/resources/nurseshdbk/Carayo
nP_NWPS.pdf pada tanggal 17 Mei 2016.

Data Keperawatan Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016.

Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia. 2006. Panduan Nasional


Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety): Utamakan Keselamatan
Pasien. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

2008. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient


Safety): Utamakan Keselamatan Pasien. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Elrifda. 2011. Budaya Patient Safety dan Karakteistik Kesalahan Pelayanan:


Implikasi Kebijakan di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Jambi. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6 No.2.

xxiii
Gunibala, Moch. T. 2015. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan
Penerapan Patient Safety di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Fakultas Ilmu – Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan Universitas Negeri
Gorontalo.

Hamdani, Siva. 2007. Analisis Budaya Keselamatan Pasien (Patient Safety Culture)
di Rumah Sakit Islam Jakarta Tahun 2007. FKM UI.

Hapsari, Raditya Wahyu. 2013. Hubungan Peran Perawat Sebagai Edukator dengan
Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Paisen di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Umum dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso. Universitas Jember.

Hastono, Sutanto Priyo. 2007. Analisis Data Kesehatan. Depok: FKM UI.

Hastono, Sutanto Priyo., & Sabri, Luknis. 2010. Statistik Kesehatan. Jakarta:
Rajawali Pres.

Henriksen, K., et. al. 2008. Patient Safety and Quality: An Evidence Base Handbook
for Nurses. Rockville MD: Agency for Healthcare Research and Quality
Publications. Diakses dari http://www.ahrq.gov/QUAL/nurseshdbk/ pada
tanggal 17 Mei 2016.

2008. Understanding Adverse Events: A Human Factors Framework.


Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2666/pdf/ch5.pdf pada
tanggal 17 Mei 2016.

Institute of Medicine (IOM). 2000. To Err is Human: Building a Safer Health System.
Washington D.C.: The National Academies Press.

Jalaluddin, Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi [e-book]. Bandung: Remaja


Rosdakarya. Diakses dari http://www.e-bookspdf.org/download/jalaludin
rakhmat-psikologi-komunikasi-rosdakarya.html pada tanggal 29 Juli 2016.

xxiv
Joint Commission International (JCI). 2007. Meeting the International Patient Safety
Goals. ISBN: 978-1-59940-158-4.

2011. Standar Akreditasi Rumah Sakit, Enam Sasaran Keselamatan


Pasien. Edisi ke-4.

Kaplan, H. 2002. Alertness to Danger When Rates of Injury are Low. Institute od
Medicine Committee.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

.2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kertadikara, P. 2008. Patient Safety: Paradigma Baru Layanan Medis. Diakses dari
http://kertadikara.blogspot.com/ pada tanggal 23 Februari 2017.

Kohn, Linda T., Corrigan, Janet M., and Donaldson, Molla S. 2000. To Err Is
Human: Building a Safer Health System. Wahington, D.C.: The National
Academies Press.

Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2012. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit
Standar Akreditasi Versi 2012. Edisi-1.

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). 2008. Pedoman Pelaporan


Insiden Keselamatan Pasien (Patient Safety Incident Report). Jakarta: KKPRS
PERSI.

2010. Laporan Insiden Keselamatan Pasien. Diakses dari


www.inapatsafety-persi.or.id/umpanbalik Laporan_ikp1.pdf pada tanggal 24
Mei 2016.

xxv
2011. Laporan Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.

Komite Keselamatan Paisen Rumah Sakit Al-Islam Bandung. Tahun 2013 – 2015.
Laporan Insiden Keselamatan Pasien Komite Keselamatan Paisen Rumah Sakit
Al-Islam Bandung Tahun 2013 – 2015.

Kuncoro. 2012. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Kualitas Kerja dengan Kinerja
Perawat dalam Penerapan Sistem Keselamatan Pasien.

Lestari, dkk. 2013. Konsep Manajemen Keselamatan Pasien Berbasis Program di


RSUD Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. FKG. Universitas Padjajaran.

Lim, A. 2010. New Course Tackles Patient Safety. Australian Nursing Journal. North
Fitzroy.

Manojlovich, M., et.al. 2007. Healthy Work Environment, Nurses- Physician


Communication, and Patinent’s Outcomes. American Journal of Critical Care
Vol. 16.

Marjani, Farida. 2015. Pengaruh Dokumentasi Timbang Terima Paisen dengan


Metode Situation Background Assessment Recomendation (SBAR) terhadap
Insiden Keselamatan Pasien di Ruang Medical Bedah RS. Panti Waluyo. Stikes
Kusuma Husada Surakarta.

Mattox, E. A. 2012. Strategies for improving patient safety: Linkingt ask type to error
type. Critical Care Nurse. Vol. 32/No.1. Diakses pada
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=25&hid=118&sid=b9117e5d-bab1-
4cae-9010-559f1406d321%40sessionmgr1 pada tanggal 1 Juni 2016.

Mulyana, Dede Sri. 2013. Analisis Penyebab Insiden Kesehatan Pasien oleh Perawat
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit X Jakarta. Tesis: FKM UI.

xxvi
Mustikawati, Y. H. 2011. Analisis Determinan Kejadian Nyaris Cedera dan Kejaidna
Tidak Diharapkan di Unit Perawatan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta.
Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan UI.

Nurmalia. 2012. Pengaruh Program Mnetoring Keperawatan terhadap Penerapan


Budaya Keselamatan Paisen di Ruang Rawat Inap RS Sultan Agung Semarang.
Tesis. FKM UI.

Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

2010. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Rineka


Cipta.

O’Daniel and Roseinsten. 2008. Professional Communication and Team


Collaboration. Patient Safety and Quality: An Evidence-Based Handbook for
Nurses. Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2637/pdf/ch33.
pdf pada tanggal 29 Juli 2016.

Peters and Peters. 2008. Medical Error and Patient Safety; Human Factors in
Medicine [e-book]. London, New York: CRC Press. Diakses dari
http://www.freebookspot.es/Comments.aspx?Element_ID=364411 pada tanggal
17 Mei 2016.

Potter, P. A & Perry, A.G. 2009. Fundamental of Nursing: Concepts, Prosess &
Practice. St Louis: Mosby Year Book. Inc. Jakarta: ECG.

Reason, J. 2000. Human Error: modes and management. BMJ: 320( 7237): 768-770.
Diakses dari http://www.bmj.com/content/320/7237/768 pada tanggal 29 Juli
2016.

xxvii
Reader, et al. 2006. Communication skills and error in the intensive care unit.
Wolters Kluwer Health. Diakses dari http://www.pdfio.com/k-6647985.html
pada tanggal 29 Juli 2016.

Robbins, S. P. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi ke-10. Jakarta: PT. Indeks Gramedia.

Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Setiowati, Dwi. 2010. Hubungan Kepemimpinan Efektif Head Nurse dengan


Penerapan Budaya Keselamatan Pasien oleh Perawat Pelaksana di RSUPN
Dr. Cipto Mangkusumo Jakarta. Tesis, Universitas Indonesia.

Setyarini, dkk. 2013. Kepatuhan Perawat Melaksanakan Standar Prosedur


Operasional Pencegahan Pasien Resiko Jatuh di Gedung Yosep 3 Dago dan
Surya Kencana Rumah Sakit Borromeus. Jurnal Kesehatan. STIKes Santo
Borromeus.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan


R&D). Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sutriningsih, Ani., & Harus, Bernadeta Dece. 2015. Pengetahuan Perawat tentang
Keselamatan Paisen dengan Pelaksanaan Prosedur keselamatan Pasien Rumah
Sakit (KPRS) di Rumah Sakit Panti Walyu Sawahan Malang. Jurnal CARE,
Vol. 3, No.1.

Stanley. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Tobing, Erida R. L. 2007. Gambaran Stres Kerja pada Perawat di Ruang TB Paru di
Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang Kecamatan Sidikalang Kabupaten
Dairi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.

xxviii
World Health Organization (WHO). 2005. World Allience For Patient Safety: WHO
Draft Guidelines For Adverse Events Reporting and Learning System. WHO:
Geneva. Diakses dari http://osp.od.nih.gov/sites/default/files/resources/Reportin
g_Guidelines.pdf pada tanggal 24 Mei 2016.

2007. Nine Life Saving Patient Safety Solution. Diakses dari


http://www.who.int pada tanggal 12 Desember 2016.

2009. Human Factors in Patient Safety Review of Topics and Tools. Diakses
dari http://www.who.int/patientsafety/research/methods_measures/human_facto
rs/human_factors_review.pdf pada tanggal 24 Mei 2016.

Yahya, A. A. 2006. Konsep dan Program Patient Safety. Bandung: Konvensi


Nasional Mutu Rumah Sakit.

xxix
xxx
No.Responden

KUESTIONER PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INSIDEN


KESELAMATAN PASIEN DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT AL-ISLAM
BANDUNG TAHUN 2016

Kepada Yth
Bapak/Ibu/Saudara/i Perawat Unit Rawat Inap
di Rumah Sakit Al-Islam Bandung

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Salam Hormat

Saya Fitri Handayani Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan


Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta akan mengadakan penelitian mengenai
“Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Insiden Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
Al-Islam Bandung Tahun 2016”.
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan Bapak/Ibu/Saudara/i
sebagai responden. Informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiaannya dan hanya
digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Oleh karena itu saya mohon kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menjawab kuestioner ini dengan sejujur-jujurnya dan
memberikan penilaian yang objektif sesuai fakta yang ada.
Pernyataan dalam kuestioner ini merupakan pernyataan yang menggambarkan
kondisi umum pekerjaan Bapak/Ibu/Saudara/i selama bekerja di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung. Bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i akan sangat membantu dan besar manfaatnya
dalam penelitiaan ini. Atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i dalam mengisi kuestioner
ini, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
A. Latar Belakang Responden

Nama Responden :....................................................................

Ruang :....................................................................

Usia (*wajib diisi) :....................................................................

Bandung, November 2016

Tanda Tangan Responden Peneliti

Fitri Handayani

B. Petunjuk Pengisian
1. Survei ini bertujuan untuk meminta Bapak/Ibu/Saudara/i memberikan pendapat
mengenai keselamatan pasien di rumah sakit Bapak/Ibu/Saudara/i. Survei ini kira-
kira memerlukan 10 – 15 menit untuk mengisi keseluruhan pernyataan.
2. Kuesioner ini bukan tes dengan jawaban benar atau salah, yang terpenting adalah
menjawab pernyataan dengan jujur sesuai pendapat dan keadaan yang sebenarnya.
3. Kuestioner ini dapat digunakan secara optimal bila semua pertanyaan dijawab,
oleh karena itu mohon teliti kembali apakah semua pernyataan semua telah
terjawab sebelum dikembalikan kepada peneliti.
C. Kuestioner Penelitian
Pengetahuan
A. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i benar pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda
(√) pada kolom yang tersedia.
Kode Pertanyaan
[A1] Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem di mana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih
aman. Sistem tersebut meliputi, kecuali.....
A. asessmen implementasi solusi pelaporan dan terciptanya budaya
resiko untuk meminimalkan analisis insiden keselamatan pasien di
timbulkan resiko rumah sakit
[A2] Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah menerapkan keselamatan pasien sejak tahun?
2010 2009 2008 2007
[A3] Kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah..........
suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak mengakibatkan cidera.
suatu kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cidera, tetapi belum terjadi insiden.
suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan cidera pada pasien akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit
dasarnya atau kondisi pasien.
terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
[A4] Setiap terjadi insiden harus dilaporkan secara internal kepada TKPRS (Tim Keselamatan Pasien Rumah
Sakit) dalam waktu paling lambat, adalah...........
1 x 24 jam 2 x 24 jam 3 x 24 jam 4 x 24 jam
[A5] Diperlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, yaitu dengan......
nomor rekam medik nama pasien dan nomor rekam medik semua jawaban
dan nomor kamar nomor kamar dan nama pasien benar
[A6] Pemberian obat kepada pasien dilakukan dengan prinsip............
7 benar 1 dok 6 benar 1 dok 5 benar 1 dok 4 benar 1 dok
[A7] Prosedur mencuci tangan yang baik benar sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO, terdiri dari.........
5 langkah 6 langkah 7 langkah 8 langkah
[A8] Berikut ini yang bukan termasuk kedalam Five moments for hand hygiene atau 5 moment krusial
mencuci tangan pada petugas kesehatan untuk mengoptimalkan kebersihan tangan disaat, yaitu....
sebelum setelah melakukan setelah menyentuh sebelum menyentuh
menyentuh tindakan – tindakan daerah sekitas keluarga pasien
pasien invasive pasien
[A9] Pengkajian resiko pasien jatuh dengan form dilakukan saat...........
Pasien mengalami angka kejadian tak pasien ada instruksi dari
cedera akibat jatuh diharapkan (KTD) meningkat masuk dokter
rawat inap
B. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i sesuai pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda
ceklis (√) pada kolom yang tersedia.
Pilihan Jawaban :
STS = Sangat Tidak Setuju
TS = Tidak Setuju
S = Setuju
SS = Sangat Setuju
STS TS S SS
Kode Pernyataan
1 2 3 4
Stress Perawat
[B1] Pimpinan dan rekan kerja saya saling mendukung satu sama
lain sehingga tercipta situasi yang kondusif ditempat kerja
[B2] Saya mampu menjaga kosentrasi kerja saat sedang sibuk
[B3] Jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit tidak
memungkinkan saya untuk memulihkan semangat kerja
Kelelahan Perawat
[B4] Jumlah perawat di unit tempat bekerja sudah sesuai dengan
beban kerja perawat
[B5] Perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan pasien karena
bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak
tugas yang harus dikerjakan
[B6] Merasakan kenyamanan dengan jadwal kerja yang sudah
ditetapkan
Implementasi SOP (Standar Operasional Prosedur)
[C1] Ketika terjadi insiden keselamatan pasien diharuskan untuk
melaporkan insiden tersebut kepada Kepala unit terkait untuk
mendapatkan tindak lanjut.
[C2] Setelah ditindaklanjuti kejadian insiden keselamatan pasien,
menyegerakan untuk membuat laporan insiden dengan mengisi
formulir laporan insiden pada akhir jam kerja/shift kepada
kepala unit terkait
[C3] Ketika terjadi suatu insiden keselamatan pasien paling lambat
dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya insiden
keselamatan pasien
[C4] Pelaporan insiden keselamatan pasien bertujuan untuk
mengetahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada
akar masalahnya
[C5] Setiap terjadi suatu insiden keselamatan pasien mendapatkan
tindaklanjut dari Komite Keselamatan Pasien
Kerjasama Tim
[D1] Kami sesama staf di unit ini saling mendukung satu sama lain
[D2] Jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat,
kami saling bekerja sama sebagai tim
[D3] Saya merasa setiap orang di unit ini saling menghargai satu
sama lain
[D4] Bila suatu area di unit ini sibuk, maka perawat di area lain
akan membantu
[D5] Kami merasa ada kerja sama yang baik antar unit di rumah
sakit saat menyelesaikan pekerjaan bersama
[D6] Unit satu dengan unit lain di rumah sakit ini tidak
berkoordinasi dengan baik
[D7] Saya sering kali merasa tidak nyaman bila harus bekerja sama
dengan staf unit lain di rumah sakit ini
Tidak
Kode Pernyataan Pernah Jarang Sering Selalu
1 2 3 4
Komunikasi
[E1] Manajer saya memberikan umpan balik ke arah perbaikan
berdasarkan laporan kejadian insiden
[E2] Kami bebas mengungkapkan pendapat jika melihat sesuatu
yang bisa berdampak negatif terhadap pelayanan pasien
[E3] Kami diberi tahu mengenai kesalahan – kesalahan yang terjadi
di unit kami
[E4] Kami merasa bebas untuk bertanya kepada sesama perawat
lain/dokter tentang keputusan maupun tindakan yang diambil
di unit ini
[E5] Di unit ini kami mendiskusikan dengan sesama perawat/dokter
bagaimana cara untuk mencegah insiden supaya tidak terjadi
kembali
Gangguan/Interupsi
[F1] Anda mendapatkan pekerjaan lain di luar tugas dan tanggung
jawab sebagai perawat pelaksana
[F2] Pada saat bekerja melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam
waktu yang sama
[F3] Saya mendapatkan pekerjaan lain yang harus dilakukan ketika
sedang melaksanakan tugas
C. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i sesuai pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi
tanda ceklis (√) pada kolom yang tersedia.
Pilihan Jawaban :
Kuesioner Tentang Insiden Keselamatan Pasien
Pilihan jawaban :
1. Tidak Pernah : (>5 tahun sekali)
2. Jarang : (>2-5 tahun sekali)
3. Sering : (beberapa kali/tahun)
4. Selalu : (Tiap minggu/bulan)
Seberapa sering kejadian di bawah ini terjadi di area kerja/unit kerja Anda?
Tidak
Kode Pernyataan Pernah Jarang Sering Selalu
1 2 3 4
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
[G1] Melaksanakan tindakan kepada pasien yang mengakibatkan
cedera pada pasien
[G2] Salah memberikan tindakan kepada pasien sehingga
menyebabkan pasien mengalami gangguan kesehatan lain di
luar penyakitnya
[G3] Pasien yang dirawat ditempat saya bekerja terjatuh dari
tempat tidur sehingga pasien mengalami cedera karena tidak
melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien
[G4] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
sehingga saya melakukan kesalahan dalam pemberian
tindakan kepada pasien yang mengakibatkan pasien cedera
[G5] Komunikasi antara petugas tidak efektif sehingga terjadi
insiden yang merugikan pasien
Kejadian Nyaris Cedera (KNC)
[G6] Memberikan tindakan kepada pasien yang mengakibatkan
insiden yang telah terpapar ke pasien tetapi tidak
mengakibatkan cedera pada pasien
[G7] Salah memberikan tindakan kepada pasien tetapi tidak
mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan lain
[G8] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
sehingga saya melakukan kesalahan dalam pemberian
tindakan tetapi pasien tidak mengalami cedera
[G9] Pasien yang dirawat ditempat Anda bekerja terjatuh dari
tempat tidur tetapi pasien tidak mengalami cedera
[G10] Komunikasi antara petugas tidak efektif sehingga terjadi
insiden tetapi tidak mengakibatkan cedera pada pasien
Kejadian Tidak Cedera (KTC)
[G11] Pasien saya hampir mengalami insiden tetapi tidak jadi
karena segera diketahui oleh petugas yang lain
[G12] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
tetapi segera diketahui dan dilakukan perbaikan
[G13] Pasien yang dirawat ditempat Anda bekerja hampir terjatuh
dari tempat tidur tetapi tidak jadi karena segera diketahui
oleh petugas
[G14] Komunikasi antara petugas tidak efektif tetapi tidak terjadi
insiden pada pasien

Terima Kasih Atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mengisi kuesioner ini.


Mohon untuk diperiksa kembali jawaban Anda dan pastikan sudah lengkap tersisi
semua.
LAMPIRAN HASIL OUTPUT SPSS
Kategori_IKP
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Pernah 30 39.5 39.5 39.5
Tidak Pernah 46 60.5 60.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_KTD
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Pernah 20 26.3 26.3 26.3
Tidak Pernah 56 73.7 73.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_KNC
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Pernah 23 30.3 30.3 30.3
Tidak Pernah 53 69.7 69.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_KTC
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Pernah 28 36.8 36.8 36.8
Tidak Pernah 48 63.2 63.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

UJI NORMALITAS
Descriptives
Statistic Std. Error
Skor_PengetahuanPerawat Mean 7.20 .128
95% Confidence Interval for Lower Bound 6.94
Mean
Upper Bound 7.45
5% Trimmed Mean 7.22
Median 7.00
Variance 1.254
Std. Deviation 1.120
Minimum 5
Maximum 9
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness -.168 .276
Kurtosis -.546 .545
Skor_Komunikasi Mean 16.34 .224
95% Confidence Interval for Lower Bound 15.90
Mean Upper Bound 16.79
5% Trimmed Mean 16.28
Median 16.00
Variance 3.828
Std. Deviation 1.957
Minimum 13
Maximum 20
Range 7
Interquartile Range 3
Skewness .556 .276
Kurtosis -.935 .545
Skor_GangguanInterupsi Mean 9.24 .244
95% Confidence Interval for Lower Bound 8.75
Mean
Upper Bound 9.72
5% Trimmed Mean 9.31
Median 9.00
Variance 4.530
Std. Deviation 2.128
Minimum 3
Maximum 12
Range 9
Interquartile Range 3
Skewness -.276 .276
Kurtosis -.544 .545
Skor_StresPerawat Mean 9.49 .144
95% Confidence Interval for Lower Bound 9.20
Mean
Upper Bound 9.77
5% Trimmed Mean 9.47
Median 9.00
Variance 1.586
Std. Deviation 1.260
Minimum 7
Maximum 12
Range 5
Interquartile Range 1
Skewness .442 .276
Kurtosis -.128 .545
Skor_KelelahanPerawat Mean 8.91 .113
95% Confidence Interval for Lower Bound 8.68
Mean
Upper Bound 9.13
5% Trimmed Mean 8.88
Median 9.00
Variance .965
Std. Deviation .982
Minimum 7
Maximum 12
Range 5
Interquartile Range 2
Skewness .449 .276
Kurtosis .178 .545
Skor_ImplementasiSOP Mean 16.86 .221
95% Confidence Interval for Lower Bound 16.41
Mean
Upper Bound 17.30
5% Trimmed Mean 16.83
Median 16.00
Variance 3.725
Std. Deviation 1.930
Minimum 14
Maximum 20
Range 6
Interquartile Range 4
Skewness .496 .276
Kurtosis -1.225 .545
Skor_KerjasamaTim Mean 22.74 .296
95% Confidence Interval for Lower Bound 22.15
Mean
Upper Bound 23.33
5% Trimmed Mean 22.71
Median 22.00
Variance 6.676
Std. Deviation 2.584
Minimum 16
Maximum 28
Range 12
Interquartile Range 3
Skewness .470 .276
Kurtosis .480 .545

DISTRIBUSI FREKUENSI
Kategori_UsiaPerawat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid < 30 Tahun 47 61.8 61.8 61.8
> 30 Tahun 29 38.2 38.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_PengetahuanPerawat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Pengetahuan Kurang 19 25.0 25.0 25.0
Pengetahuan Baik 57 75.0 75.0 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_StresPerawat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Stres Tinggi 14 18.4 18.4 18.4
Stres Rendah 62 81.6 81.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_KelelahanPerawat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Kelelahan Tinggi 29 38.2 38.2 38.2
Kelelahan Rendah 47 61.8 61.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_Komunikasi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Komunikasi Tidak Efektif 36 47.4 47.4 47.4
Komunikasi Efektif 40 52.6 52.6 100.0
Total 76 100.0 100.0
Kategori_ImplementasiSOP
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Implementasi SOP Kurang 23 30.3 30.3 30.3
Implementasi SOP Baik 53 69.7 69.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_KerjasamaTim
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Kerjasama Tim Kurang 19 25.0 25.0 25.0
Kerjasama Tim Baik 57 75.0 75.0 100.0
Total 76 100.0 100.0

Kategori_GangguanInterupsi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Gangguan/Interupsi Tinggi 28 36.8 36.8 36.8
Gangguan/Interupsi Rendah 48 63.2 63.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

OUTPUT TABULASI SILANG


Kategori_UsiaPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_UsiaPerawat < 30 Tahun Count 25 22 47
% within Kategori_UsiaPerawat 53.2% 46.8% 100.0%
> 30 Tahun Count 5 24 29
% within Kategori_UsiaPerawat 17.2% 82.8% 100.0%
Total Count 30 46 76
% within Kategori_UsiaPerawat 39.5% 60.5% 100.0%

Kategori_PengetahuanPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_PengetahuanPer Pengetahuan Count 17 2 19
awat Kurang
% within
89.5% 10.5% 100.0%
Kategori_PengetahuanPerawat
Pengetahuan Count 13 44 57
Baik
% within
22.8% 77.2% 100.0%
Kategori_PengetahuanPerawat
Total Count 30 46 76
% within
39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_PengetahuanPerawat

Kategori_StresPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_StresPerawat Stres Tinggi Count 11 3 14
% within Kategori_StresPerawat 78.6% 21.4% 100.0%
Stres Rendah Count 19 43 62
% within Kategori_StresPerawat 30.6% 69.4% 100.0%
Total Count 30 46 76
Kategori_StresPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_StresPerawat Stres Tinggi Count 11 3 14
% within Kategori_StresPerawat 78.6% 21.4% 100.0%
Stres Rendah Count 19 43 62
% within Kategori_StresPerawat 30.6% 69.4% 100.0%
Total Count 30 46 76
% within Kategori_StresPerawat 39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_KelelahanPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_KelelahanPe Kelelahan Tinggi Count 16 13 29
rawat
% within
55.2% 44.8% 100.0%
Kategori_KelelahanPerawat
Kelelahan Rendah Count 14 33 47
% within
29.8% 70.2% 100.0%
Kategori_KelelahanPerawat
Total Count 30 46 76
% within
39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_KelelahanPerawat

Kategori_Komunikasi * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_Komunikasi Komunikasi Tidak Count 17 19 36
Efektif
% within Kategori_Komunikasi 47.2% 52.8% 100.0%
Komunikasi Efektif Count 13 27 40
% within Kategori_Komunikasi 32.5% 67.5% 100.0%
Total Count 30 46 76
% within Kategori_Komunikasi 39.5% 60.5% 100.0%

Kategori_ImplementasiSOP * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_ImplementasiSO Implementasi SOP Count 15 8 23
P Kurang
% within
65.2% 34.8% 100.0%
Kategori_ImplementasiSOP
Implementasi SOP Count 15 38 53
Baik
% within
28.3% 71.7% 100.0%
Kategori_ImplementasiSOP
Total Count 30 46 76
% within
39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_ImplementasiSOP

Kategori_KerjasamaTim * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_KerjasamaTim Kerjasama Tim Kurang Count 13 6 19
% within
68.4% 31.6% 100.0%
Kategori_KerjasamaTim
Kerjasama Tim Baik Count 17 40 57
% within
29.8% 70.2% 100.0%
Kategori_KerjasamaTim
Total Count 30 46 76
% within
39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_KerjasamaTim

Kategori_GangguanInterupsi * Kategori_IKP Crosstabulation


Kategori_IKP
Pernah Tidak Pernah Total
Kategori_GangguanInt Gangguan/Interupsi Count 16 12 28
erupsi Tinggi
% within
57.1% 42.9% 100.0%
Kategori_GangguanInterupsi
Gangguan/Interupsi Count 14 34 48
Rendah
% within
29.2% 70.8% 100.0%
Kategori_GangguanInterupsi
Total Count 30 46 76
% within
39.5% 60.5% 100.0%
Kategori_GangguanInterupsi

DISTRIBUSI ITEM PERTANYAAN


A1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 25 32.9 32.9 32.9
1 51 67.1 67.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

A2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 39 51.3 51.3 51.3
1 37 48.7 48.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

A3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 10 13.2 13.2 13.2
1 66 86.8 86.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

A4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 25 32.9 32.9 32.9
1 51 67.1 67.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

A5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 13 17.1 17.1 17.1
1 63 82.9 82.9 100.0
Total 76 100.0 100.0

A6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 17 22.4 22.4 22.4
1 59 77.6 77.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

A7
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 6 7.9 7.9 7.9
1 70 92.1 92.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

A8
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 76 100.0 100.0 100.0

A9
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 0 2 2.6 2.6 2.6
1 74 97.4 97.4 100.0
Total 76 100.0 100.0

D1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 44 57.9 57.9 57.9
4 32 42.1 42.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

D2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 5 6.6 6.6 6.6
3 60 78.9 78.9 85.5
4 11 14.5 14.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

D3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
2 19 25.0 25.0 26.3
3 36 47.4 47.4 73.7
4 20 26.3 26.3 100.0
Total 76 100.0 100.0

D4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 7 9.2 9.2 9.2
3 58 76.3 76.3 85.5
4 11 14.5 14.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

D5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 26 34.2 34.2 34.2
3 37 48.7 48.7 82.9
4 13 17.1 17.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

D6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 3 3.9 3.9 3.9
3 68 89.5 89.5 93.4
4 5 6.6 6.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

E1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 29 38.2 38.2 38.2
4 47 61.8 61.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

E2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
3 45 59.2 59.2 60.5
4 30 39.5 39.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

E3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 7 9.2 9.2 9.2
3 45 59.2 59.2 68.4
4 24 31.6 31.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

E4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 48 63.2 63.2 63.2
4 28 36.8 36.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

E5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 5 6.6 6.6 6.6
3 45 59.2 59.2 65.8
4 26 34.2 34.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

F1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 39 51.3 51.3 51.3
4 37 48.7 48.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

F2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 45 59.2 59.2 60.5
4 30 39.5 39.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

F3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 44 57.9 57.9 57.9
4 32 42.1 42.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

F4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 3 3.9 3.9 3.9
2 8 10.5 10.5 14.5
3 43 56.6 56.6 71.1
4 22 28.9 28.9 100.0
Total 76 100.0 100.0

F5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
2 3 3.9 3.9 5.3
3 47 61.8 61.8 67.1
4 25 32.9 32.9 100.0
Total 76 100.0 100.0

F6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 10 13.2 13.2 13.2
2 7 9.2 9.2 22.4
3 33 43.4 43.4 65.8
4 26 34.2 34.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

F7
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 6 7.9 7.9 7.9
2 7 9.2 9.2 17.1
3 37 48.7 48.7 65.8
4 26 34.2 34.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

B1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 39 51.3 51.3 52.6
4 36 47.4 47.4 100.0
Total 76 100.0 100.0

B2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 56 73.7 73.7 75.0
4 19 25.0 25.0 100.0
Total 76 100.0 100.0
B3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 2 2.6 2.6 2.6
3 50 65.8 65.8 68.4
4 24 31.6 31.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

B4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 4 5.3 5.3 5.3
3 54 71.1 71.1 76.3
4 18 23.7 23.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

B5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
2 11 14.5 14.5 15.8
3 38 50.0 50.0 65.8
4 26 34.2 34.2 100.0
Total 76 100.0 100.0

C1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
2 12 15.8 15.8 17.1
3 33 43.4 43.4 60.5
4 30 39.5 39.5 100.0
Total 76 100.0 100.0

C2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 3 3.9 3.9 3.9
2 22 28.9 28.9 32.9
3 26 34.2 34.2 67.1
4 25 32.9 32.9 100.0
Total 76 100.0 100.0
C3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 2 2.6 2.6 2.6
2 17 22.4 22.4 25.0
3 31 40.8 40.8 65.8
4 26 34.2 34.2 100.0
Total 76 100.0 100.0
G1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 4 5.3 5.3 5.3
4 72 94.7 94.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

G2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 5 6.6 6.6 6.6
4 71 93.4 93.4 100.0
Total 76 100.0 100.0

G3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 13 17.1 17.1 17.1
4 63 82.9 82.9 100.0
Total 76 100.0 100.0

G4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 4 5.3 5.3 6.6
4 71 93.4 93.4 100.0
Total 76 100.0 100.0

G5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 9 11.8 11.8 13.2
4 66 86.8 86.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

G6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 5 6.6 6.6 6.6
4 71 93.4 93.4 100.0
Total 76 100.0 100.0

G7
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 3 6 7.9 7.9 7.9
4 70 92.1 92.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

G8
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 9 11.8 11.8 13.2
4 66 86.8 86.8 100.0
Total 76 100.0 100.0

G9
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 2 2.6 2.6 2.6
3 13 17.1 17.1 19.7
4 61 80.3 80.3 100.0
Total 76 100.0 100.0
G10
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 13 17.1 17.1 18.4
4 62 81.6 81.6 100.0
Total 76 100.0 100.0

G11
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 1 1.3 1.3 1.3
2 5 6.6 6.6 7.9
3 16 21.1 21.1 28.9
4 54 71.1 71.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

G12
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 4 5.3 5.3 5.3
3 21 27.6 27.6 32.9
4 51 67.1 67.1 100.0
Total 76 100.0 100.0

G13
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 10 13.2 13.2 13.2
3 13 17.1 17.1 30.3
4 53 69.7 69.7 100.0
Total 76 100.0 100.0

G14
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 1 1.3 1.3 1.3
3 17 22.4 22.4 23.7
4 58 76.3 76.3 100.0
Total 76 100.0 100.0