Anda di halaman 1dari 49

BAB I

BENDUNGAN

1.1 Macam – Macam Bendungan


Bendungan (Dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga
digunakan untuk mengalirkan air kesebuah pembangkit listrik tenaga air.
Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang
air yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan.

Gambar 1.1 Bendungan (Sumber: benuanta.id)

Bendungan dapat dibedakan menjadi beberapa macam tergantung pada


tujuan pengelompokannya. Didalam kriteria ini, bendungan dikelompokkan
berdasarkan tiga hal yaitu fungsi, desain hidrolik dan material yang digunakan.
1. Pembagian Tipe Bendungan Berdasarkan Fungsi
Berdasarkan fungsinya, tipe bendungan dapat dibedakan menjadi bendungan
sebagai berikut:
a. Bendungan Penampung Air
Dibangun untuk menampung air pada saat kelebihan dan digunkan
pada saat kekurangan. Pada umumnya penampung dilakukan pada musim
hujan kemudian digunakan pada musim kemarau. Lebih rinci lagi
bendungan penampung air dapat dibedakan berdasarkan tujuan
penampungan airnya yaitu untuk air baku, pembangkit listrik, perikanan,
rekreasi dan lain sebagainya. Berikut ini adalah contoh bendungan
penampung air yang dibangun di Kabupaten daerah Provinsi Jawa Timur.
Tujuan awal pembuatan bendungan ini sebenarnya untuk keperluan
warga sekitar untuk membuat pembangit tenaga listrik dan untuk
keperluan penampungan air hujan ketika musim hujan datang, untuk
cadangan ketika musim kemarau datang. Karena dulu sebelum adanya
waduk bening di daerah tersebut sering terajdi kekeringan ketika musim
kemarau datang.

Gambar 1.2 Bendungan Penampung Air (Sumber: kompasiana.com)

b. Bendungan Pengalihan Air (diversion dams)


Dibangun untuk meninggikan muka air agar diperoleh tinggi jatuh
yang cukup atau agar dapat dialihkan aliran sungainya masuk kesaluran
atau sistem pembawa lainnya. Beberapa bendungan tipe ini digunakan
untuk pengembangan irigasi, pengalihan air dari sungai ke waduk diluar
sungai yang bersangkutan, untuk air baku dan industri, atau untuk
kombinasi berbagai keperluan. Berikut ini adalah contoh bendungan
pengaihan air sebagai pengaliran irigasi yang dibangun di sungai
cikawung cimanggu jawa tengah dimana bendungan ini dibuat untuk
tujuan mengaliri area pertanian.

Gambar 1.3 Bendungan Pengalihan Air (Sumber: kompasiana.com)

c. Bendungan Pengendali Banjir


Bendungan tipe ini disebut juga bendungan detensi atau retensi
banjir, dibangun untuk memperlambat atau menyimpan sementara aliran
banjir dan mengurangi terjadinya banjir besar. Bendungan ini dapat
dibedakan lagi menjadi dua tipe yaitu tipe yang umum adalah untuk
menyimpan sementara dan melepas aliran banjir dengan debit yang tidak
melampaui kapasitas sungai di hilir. Tipe yang lain adalah untuk
menahan air selama mungkin agar air meresap ke tebing-tebing atau
pondasi yang lulus air. Bendungan tipe ini kadang-kadang juga dibangun
untuk menangkap sedimen, sehingga disebut juga sebagai bendungan
penangkap sedimen (debris dams). Berikut ini contoh bendungan yang
dibangun untuk mengatasi banjir.
Gambar 1.4 Bendungan Mengatasi Banjir (Sumber: wikipedia.org)

d. Bendungan Serbaguna
Pada umumnya pembangunan bendungan tidak hanya bertujuan
memperoleh manfaat tunggal, tapi untuk lebih dari satu manfaat seperti
untuk penyedia air irigasi, tenaga listrik, air baku, pengendali banjir,
perikanan, rekreasi dan lain sebagainya, bendungan ini lazim disebut
bendungan serbaguna. Berikut ini salah satu contoh bendungan
serbaguna yaitu pembangunan bendungan serba guna waduk gajah yang
berada di daerah wonogiri.

Gambar 1.5 Bendungan Waduk serbaguna Waduk Gajah Mangkur Wonogiri


(Sumber: menzanusantara.com)
2. Pembagian Tipe Bendungan Berdasarkan Materialnya
Pengelompokan bendungan yang paling lazim digunakan didalam
diskusi desain adalah berdasarkan material pembentuk bendungan. Tipe
bendungan berdasarakan material pembentuk bendungan ini dikenal
sebagai tipe dasar didalam pembuatan desain bendungan. Bendungan tipe
berdasarkan materialnya sebagai berikut:
a. Bendungan Urugan Tanah
Adalah bendungan yang paling lazim dibangun, karena
kontruksinya menggunakan material galian setempat yang tersedia yang
tidak perlu banyak pemrosesan. Berikut ini adalah contoh gambar
bangunan bendungan urugan tanah

Gambar 1.6 Pembangunan Bendungan Urugan Tanah


(Sumber: menzanusantara.com)

Dibanding dengan tipe lain, tipe ini dapat dibangun hampir pada
segala jenis tanah pondasi dan pada topografi yang kurang baik, dan
umumnya lebih sering dibangun untuk tujuan penapung air. Secara garis
besar potongan tipe bendungan dikelompokan menjadi dua tipe, yakni:
 Bendungan urugan tanah homogen
 Bendungan urugan tanah berzona (dengan inti tegak atau inti miring)
Pembuatan zona-zona pada tubuh bendungan adalah bertujuan untuk
meningkatkan keamanan bendungan, yaitu dalam rangka mendapatkan
kekuatan (strength) yang cukup, serta pengendalian rembesan dan
retakan. Untuk mendapatkan desain yang aman, dapat dibuat berbagai
kemungkinan tipe zona, bila material yang digunakan memiliki tingkat
lulus air yang rendah atau diperlukan adanya ketahanan terhadap retakan,
dihilir bendungan perlu dipasang lapisan drainasev horizontal yang
dikombinasikan dengan drainase tegak atau miring. Bendungan urugan
tanah harus dielengkapi dengan bangunan pelimpah dengan kapsitas
yang memadai. Kelemahan utama bendungan tipe ini adalah rawan
terhadap erosi yang dapat berakibat kerusakan atau keruntuhan
bendungan.

b. Bendungan Urugan Batu


Adalah bendungan urugan yang sebagian besar material
timbunannya berupa batu, yang berfungsi sebagai pendukung utama
stabilitas bendungan. Berikut ini contoh bendungan urugan batu.

Gambar 1.7 Bendungan Urugan Batu (Sumber: magetan.go.id)

Agar bendungan kedap air, dipasang lapisan kedap air berupa


membran kedap air dimuka lereng hulu (dikenal sebagai bendungan sekat
atau facing dams) atau didalam tubuh bendungan berupa inti. Lapisan
kedap air atau membran dapat berupa zona kedap air dari tanah, beton,
paving beton aspal, geomembran, plat baja, atau didalam tubuh
bendungan dapat berupa lapisan kedap air tipis dari tanah,beton, beton
aspal, dan geomembran. Bendungan urugan batu dengan zona kedap air
tanah harus dilengkapi dengan filter dan atau transisi untuk mencegah
perpindahan material dari zona berbutir halus ke zona berbutir lebih
kasar. Secara gris besar bendungan urugan batu dapat dikelompokkan
menjadi dua tipe yaitu:
 Bendungan urugan batu dengan lapis kedap air dimuka (bendungan
sekat/facing dams)
 Bendungan urugan batu berzona (dengan inti tegak atu inti miring)
Seperti bendungan urugan tanah, bendungan batu juga dapat rusak
atau runtuh akibat meluapnya air waduk, oleh karena itu bendungan
harus dilengkapi bangunan pelimpah dengan kapasitas yang cukup.
Terkecuali berlaku bagi bendungan pengalih aliran, bendungan detensi
banjir atau penangkap sedimen yang secara khusus didesain tahan
terhadap meluapnya air waduk, dimana permukaan lerengnya
dilengkapi dengan batu-batu besar yang didesain khusus tahan
terhadap erosi dari luapan air. Bendungan urugan batu membutuhkan
pondasi yang penurunannya (settlement) kecil agar tidak merusak
membran. Jenis pondasi yang cocok adalah batuan atau pasir kerikil
yang sangat kompak. Tipe urugan batu cocok untuk dipilih bila
persediaan material batu cukup banyak, pondasi batuan berada atau
didekat permukan tanah, material tanah yang cocok untuk urugan
tanah tidak tersedia, musim hujan yang panjang mengakibatkan
pelaksanaan konstruksi urugan tanah menjadi tidak praktis atau bila
pembanguna bendungan beton kurang ekonomis.

3. Pembagian Tipe Bendungan Berdasarkan Aspek Hidraulik


Ada dua tipe yaitu:
a. Bendungan yang boleh dilimpasi air (overflow dams)
Adalah bendungan yang didesain boleh dilimpasi air di puncaknya.
Bendungan seperti ini umumnya hanya memiliki tinggi beberapa meter,
bendungan dibuat dari material yang tahan terhadap erosi seperti beton,
pasangan batu, baja, kayu dan lain-lain.
b. Bendungan yang tidak boleh dilimpasi air (noneverflow dams)
Adalah bendungan yang didesain tidak boleh meluap. Tipe ini
lazimnya dibuat dari material urugan tanah dan urugan batu, dan sering
pula berupa bendungan beton yang dikombinasikan dengan pelimpah
serta urugan tanah atau batu disisi-sisiya sehingga memebentuk
komposit.

1.2 Investigasi Geologi Teknik (Geotechnical Investigation)


Investigasi ini dilakukan untuk mengumpulkan semua data yang berkaitan
dengan kondisi pondasi dan cadangan bahan alamiah yang tersedia dan diperlukan
untuk mendukung desain bendungan. Investigasi harus dilakukan dilokasi
bendungan dan bangunan pelengkapnya, cekungan waduk dan daerah
sekelilingnya serta pada sumber bahan galian.
Kegiatan yang perlu dilakukan, antara lain:
a. Pengumpulan dan pengkajian data dari hasil studi yang telah ada
b. Invetigasi geologi permukaan
c. Investigasi bawah permukaan
d. Uji insitu geoteknik
e. Uji laboratorium
f. Pengolahan hasil investigasi

Jenis, metode dan tingkat akurasi investigasi geologi harus dilakukan sesuai
dengan tahapan pelaksanaan. Pelaksanaan investigasi (investigator) harus
memiliki kemampuan yaitu menghasilkan tanah dan batuan, memahami sifat
teknik dan geologi berbgai bentuk rupa bumi (landforms), terbiasa dengan
metode-metode sampling, logging, serta uji lapangan dan laboratorium untuk
bendungan.

1.2.1 Investigasi Geologi Permukaan


Investigasi geologi permukaan, perlu dilakukan pada tahap desain awal
maupun desain rinci yang kegiatannya mencakup pengkajian data yang telah ada,
pengenalan lapangan, pengamatan terhadap singkapan-singkapan dan pembuatan
peta geologi yang dilakukan dengan cara analogi terhadap kondisi bawah
permukaan. Data yang perlu dikaji antara yaitu topografi, stratigafi, struktural
geologi, sifat batuan, material endapan, hidrogeologi dan sejarah geologi
(geohistory).
Penyebaran dan ketebalan endapan permukaan, jenis dan sifat bahan, derajat
pelapukan, pola dan penyebaran bidang-bidang diskontinyuitas dikaji lewat
pengamatan terhadap singkapan-singkapan yang ada dengan bantuan peta
topografi. Tebal, derajat pelapukan dan sifat tanah penutup, diamati dengan
membuat paritan dan sumur uji. Peta dasar yang digunakan berupa foto udara atau
peta topografi:
 Peta wilayah dengan skala 1:50.000 sampai 1:100.000
 Peta semi detail lapangan skala 1:100.000 sampai 1:25.000
 Peta detail dengan skala 1:500 sampai 1:5.000
Data yang diperoleh dari investigasi ini harus mampu memberi informasi
mengenai stratigafi, struktur geologi, oientasi bidang diskontinyuitas seperti
struktur sesar, kekar, jurus, kemiringan lapisan, jenis dan siafat batuan,
hidrogeologi, daerah longsoran, lokasi sumber material timbunan dan agregat
beton.
Hasil investigasi ini bersama dengan hasil kegiatan investigasi yang lain,
selanjutnya dituangkan didalam peta geologi skala detil yang harus mampu
menggambarkan hasil investigasi geologi permukaan dengan jelas dan dibuat
berdasarkan klasifikasi geologi sesuai dengan tujuan investigasi. Investigasi untuk
mengkaji pondasi, klasifikasi geologi terutama didasarkan pada kekuatan dan
permeabilitas batuan pondasi, sedang untuk investigasi cadangan material lebih
diutamakan pada faktor gradasi serta hal-hal yang berkaitan dengan
penggaliannya. Lokasi singkapan, batas formasi batuan dan lokasi struktur sesar,
kekar, bidang geser harus dinampakkan dengan jelas didlam peta. Formasi batuan
sebaiknya diklasifikasi berdasar sifat mekaniknya.
Peta geologi perlu disiapkan, pada lokasi-lokasi berikut:
 Cekungan waduk dan daerah sekitarnya, dengan skala 1:500 – 1:5.000
 Lokasi bendungan utama dan pelan, bangunan pelengkap, degan skala 1:500
– 1:1.000
 Lokasi sumber galian dengan skala 1:500 – 1:1.000
 Lokasi lain yang dianggap perlu

1.2.2 Investigasi Geologi Bawah Permukaan


Investigasi ini dimaksudkan untuk mengklasifikasi batuan pondasi
berdasarkan sifat-sifat teknisnya antara lain kondisi geologi yang mencakup jenis
dan sifat batuan baik fisik, mekanik, dan sifat hidrauliknya, serta mengumpulkan
data lengkap guna menentukan tipe bendungan, batas galian serta perbaikan
pondasi. Kondisi diatas dapat diketahui dari hasil pemboran inti. Selain pemboran
inti metode lain yang lazim digunakan adalah pendugaan geofisik dengan survey
seismik, dan terowongan uji. Secara umum lokasi dan kuantitas investigasi ini
ditetapkan dengan mempertimbangkan tipe dan ukuran bendungan serta kondisi
geologi setempat.
a. Survei Seismik
Pada desain awal : survei seismik diperlukan untuk memperkirakan
kedalaman lapisan tanah dan batuan, lokasi rekahan, struktur sesar, kondisi
dan tingkat pelapukan batuan. Jalur survei paling tidak dilakukan pada
sepanjang tapak bendungan sejajar poros bendungan, palung sungai,
tumpuan kanan dan kiri, serta sepanjang bangunan pelimpah. Pada desain
rinci: survey seismic diperlukan untuk melengkapi data yang diperoleh pada
tahap desain awal.
b. Pemboran
Pemboran diperlukan untuk mengetahui secara langsung kondisi
geologi lokasi bendungan, bangunan pelengkap dan sumber galian.
Pemboran dilakukan menggunakan ‘’rotary core drilling’’ dengan diameter
mata bor >56 mm. Kedalaman pemboran dilokasi bendungan pada
prinsipnya harus sampai menembus batuan dasar lebih dari 5 meter, atau
secara umum paling tidak 2/3 kali tinggi bendungan. Kedalaman yang pasti
ditetapkan berdasarkan hasil uju seismik dan geologi setempat.
Selama pemboran harus dilakukan berbagai uji, antara lain:
 Uji penetrasi standar (SPT) pada setiap interval kedalaman 2 meter atau
setiap pergantian lapisan
 Uji permeabilitas pada setiap interval kedalaman 1,5 – 3 meter. Metode
uji permeabilitas (uji packer bertekanan, atau open end test) disesuaikan
dengan karakteristik formasi.

 Pada tahap desain awal : paling tidak diperlukan 2 lobang bor pada
poros bendungan masing-masing ditumpukan kanan dan kiri, 2 atau
3 lubang bor dipalung sungai kecuali bila terlihat adanya singkapan
batuan segar jumlah lobang bor dapat dikurangi 1 lobang bor
dibawah mercu pelimpah, dan ditempat-tempat lain yang
memerlukan. Bila lembah sungai sempit dan diduga merupakan jalur
strktur sesar, perlu dilakukan pemboran miring pada sisi tebing
sungai menembus formasi batuan dibawah sungai.
 Pada desain rinci : Jumlah dan lokasi pemboran tergantung pada
kondisi geologi setempat, dengan mempertimbangkan titik-titik
pemboran yang telah dilaksankan pada tahap desain awal. Secara
umum lokasi pemboran sama dengan jalur pemboran sama dengan
jalur pemboran pada desain awal, namun jarak titik pemboran perlu
dirapatkan dengan jarak antara masing-masing titik pemboran
disarankan berkisar antara 20 sampai 30 m.
Inti hasil pemboran, harus disimpan dengan baik didalam peti kayu, disusun
sesuai kemajuan pemboran. Deskripsi sample inti pemboran harus dicatatdalam
kolom-kolom format laporan (log bor) yang antara lain memuat nama pelaksana,
tanggal, elevasi, deskripsi, satuan batuan, perolehan inti, RQD, koefesien
permeabilitas, SPT, air pembilas, dan lain-lain yang perlu.
Dari hasil pemboran bersama hasil kegiatan investigasi geologi yang lain
setelah diolah kemudian dibuat peta geologi teknik rinci, termasuk peta-peta
kontur batuan dasar, penampang atau profil geologi, serta peta lugeon untuk
menentukan kedalaman dan kerapatan injeksi. Pada tahap konstruksi nanti, peta
geologi rinci harus diperbaiki kembali sesuai hasil investigasi pada galian pondasi
dan investigasi tambahan. Profil geologi setidaknya mencakup sepanjang poros
bendungan digambarkan dari arah hulu, dengan skala 1:500 – 1:1000, setidaknya
mencakup sepanjang poros bendungan sampai batas galian pada bukit tumpuan,
bangunan pelimpah, terowongan pengelak dan terowongan pengambilan.
c. Terowong Uji
Metode ini disarankan untuk dilakukan bagi bendungan besar tinggi
diatas 30 meter, dimana kekuatan pondasi sangat penting untuk diketahui.
Terowong uji dibuat 1 atau 2 buah pada tumpuan kiri atau kanan tergantung
kondisi geologi setempat.

1.2.3 Uji Insitu Geoteknik


Ada dua faktor kekuatan penting yang harus diketahui pada batuan pondasi,
yaitu kuat desak atau kuat tarik dan kuat geser. Uji kuat desak atau kuat tarik
dapat dilakukan deilaboratorium terhadap sample inti pemboran dan galian uji,
namun evaluasi terhadap pondasi tidak daopat hanya berdasar pada uji
laboratorium karena pengaruh dari retakan dan kelembaban alamiah batuan tidak
tercermin didalam hasil uji. Oleh karena itu disamping uji laboratorium juga perlu
dilakukan uji insitu pada tanah batuan asli yang langsung dilakukan pada lobang
bor seperti yang telah diuraikan diatas, dan atau pada galian uji. Jenis uji insitu
yang dilakukan pada terowong atau sumuran uji antara lain:
 Uji pembebanan / uji deformasi
 Uji insitu geseran
 Uji cepat rambat gelombang elastis
Disamping itu perlu dikaji ketahanan batuan terhadap proses pelapukan
(slaking) untuk mengetahui stabilitasnya jangka panjang.

1.2.4 Uji Laboratorium


Uji laboratorium diperlukan untuk:
 Melakukan analisis sifat teknik batuan (fragmen pembentuk batuan) dan
melengkapi data untuk mengklasifikasi batuan dengan membandingkan
sifat fisik dan sifat kimiawi fragmen batuan.
 Mengetahui sifat teknik batuan ata fragmen batuan sebagai bahan
timbunan, agregat beton dan lain sebagainya serta untuk mengevaluasi
mutu bahan.
Semua jenis material yang diuji pekerjaan laboratorium dapat dikelompokan
menjadi dua macam, yaitu uji labiratorium mekanika tanah dan mekanika batuan
seperti berikut:
1. Uji laboratorium mekanika tanah
Sample tanah yang akan diuji untuk investigasi pondasi adalah tanah asli
yaitu:
a. Sifat fisik, antar lain : berat spesifik (Gs), berat isi (lamda n), kadar air
(Wn), analisis butiran (m%), batas-batas afterberg, hidrometer.
b. Sifat mekanik / teknik antara lain: uji geser (CD), terkonsolidasi (Cc,Cv,
Es), uji triaksial: tak terdrainase dan terkonsolidasi (consolidatet
undrained, CU) , Tak terdrainase dan tak terkonsolidasi (unconsolidated
undrained, UU) , (Consolidated Drained, cd). Uji permeabilitas dan bila
perlu uji erodibility atau slake durability test.
2. Uji laboratorium mekanika batuan
a. Sifat fisik:
 Selalu : berat spesifik, berat satuan, porositas, serap lembab,
permeabilitas.
 Sering kali: modulus elastisitas dinamis, nilai poison dinamis,
stabilitas terhadap pembahasan dan penyerapan air, besarnya
pengembangan ( swelling) dan tekanan akibat peremdaman dll.
b. Sifat mekanik:
 Selalu : kuat tekan bebas ( unconfined compressive strength), modulus
deformasi (elastis) nilai poison
 Sering kali : triaksial-konstanta kekuatan bahan (c,0) modulus
deformasi, nilai poison, geseran langsung kekuatan geser, konstanta
batuan, tegangan tarik brasilian.
 Bila perlu : tegangan tarik satu dimensi, bengkokan, daya dukung
kekerasan (shore hardness), koefesien restitusi.
1.3 Pemilihan Macam Bendungan
1.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Macam Bendungan
Pemilihan macam-macam bendungan harus mempertimbangkan
beberapa faktor diantaranya
1. Tujuan Pembangunan
Tujuan pembangunan biasanya akan berpengaruh pada operasi waduk
yang kemudian akan berakibat pada fluktasi muka air waduk. Untuk muka
air waduk yang sangat fluktuatif dan fluktuasi yang besar kurang cocok
untuk bendungan urugan tanah. Adapun beberapa jenis bendungan yang
dapat dipilih berdasarkan tujuan pembangunanya yaitu
a. Mengurangi Erosi dan Menurunkan Kecepatan Air
Bendungan yang dapat dipilih untuk mengurangi erosi dan
menurunkan kecepatan air yaitu bendungan chek dam. Bentuk bendungan
ini kecil dan bersifat sementara atau permanen yang dibangun melintasi
saluran kecil atau drainase.
b. Pengendalian Banjir
Bendungan yang dapat digunakan untuk pengendalian banjir yaitu
bendungan dry dam. Bendungan ini biasanya tidak terdapat gerbang atau
turbin untuk mengalirkan air keluar dari bendungan.
c. Pengalihan Aliran Air
Pengalihan aliran air dapat menggunakan bendungan divertionary
dam. Aliran air dapat dialihkan semua atau sebagian dari aliran sungai
dari aliran aslinya. Bendungan pengalihan umumnya tidak menahan air
di dalam reservoir. Sebaliknya air dialihkan ke saluran –saluran lain yang
bisa digunakan untuk irigasi, pembangkit listrik, mengalirkan air ke
sungai yang berbeda atau membuat waduk yang dibendung.
2. Topografi
Topografi yang perlu dipertimbangkan antara lain termasuk bentuk
permukaan lokasi bendungan dan daerah genangan serta kemudahan
akses ke lokasi dan akses material.

Gambar 1.8 Topografi Bendungan (Sumber Debidudebi.com)

3. Kondisi Pondasi dan Geologi


Pertimbangan geologi mencakup menilai kecocokan jenis tanah
dan batuan sebagai fondasi dan kesesuaian dengan material tubuh
bendungan. Geologi pondasi lokasi bendungan sering menjadi penentu di
dalam menetapkan tipe bendungan yang cocok dengan lokasi tersebut.
Kondisi pondasi dan geologi yang harus dipertimbangkan antara lain
mencakup kekuatan, ketebalan, arah dan kemiringan lapisan, tingkat
lulus air/permeabelitas, kekar, retakan dan struktur sesar.

4. Hidrologi
Keadaan hidrologi akan berpengaruh pada operasi waduk yang
kemudian berakibat pada fluktasi air waduk. Disamping itu ada
hubungan erat antara fsktor ekonomi dengan hidrologi yang juga menjadi
pertimbangan seperti karakteristik aliran dan curah hujan dapat
berpengaruh terhadap biaya konstruksi yaitu terkait pekerjaan pengelakan
sungai dan lamanya waktu pelaksanaan konstruksi bendungan urug tanah

5. Tersedianya Bahan Bangunan


Bendungan harus menggunakan material yang mutunya memnuhi
syarat dan secara ekonomis tersedia dekat dengan lokasi bendungan. Tipe
bendungan yang paling ekonomis biasanya adalah bendungan yang
paling ekonomis biaya adalah bendungan yang menggunakan material
yang tersedia dalam jumlah yang memadai dan jarak angkut yang layak.
Jumlah mterial yang memadai berkisar antara dua sampai 3 kali volume
yang dibutuhkan.
6. Kegempaan
Kondisi kegempaan di lokasi bendungan akan berpengaruh pada
pemilihan tipe bendungan. Bendungan tipe urugan batu lebih tahan
gempa dibandingkan urugan tanah. Bagi bendungan yang terletak di
daerah gempa, harus dibuat desain bendungan yang tahan terhadap
tambahan beban gempa dan tegangan.
7. Kesulitan-kesulitan yang Dihadapi pada Waktu Pengalihan Aliran Sungai
Ada tiga alternatif yang dapat dipilih bagi saluran pengelak yaitu
terowong, konduit dan saluran terbuka. Konduit dan saluran terbuka
mempunyai kelemahan pada bidang kontak antara pasangan beton
dengan urugan tanah yaitu rawan terhadap terjadinya aliran buluh.
Berdasarkan pertimbangan keamanan bendungan, terowongan adalahn
pilihan yang terbaik.
Gambar 1.9 Terowongan (Sumber Cnnindonesia.com)

1.4 Bendungan Timbunan/Urugan (Embankment Dam)


1.4.1 Bendungan Urugan
Suatu bendungan yang dibangun dengan cara menimbunkan bahan-
bahan seperti batu,krakal,kerikil,pasir dan tanah pada komposisi tertentu
dengan fungsi sebagai pengempang atau pengangkat permukaan air yang
terdapat didalam waduk di udiknya disebut bendungan type urugan atau
(bendungan urugan).Didasarkan pada ukuran dari bahan timbunan yang
digunakan secara umum dapat dibedakan 2 type bendungan urugan yaitu:
 Bendungan urugan batu (rock fill dam) disingkat dengan istilah
“Bendungan Batu’’
 Bendungan urugan tanah (earth fill dam) disingkat dengan istilah
“Bendungan Tanah’’
Selain keduan jenis tersebut,terdpat pula bendungan urugan campuran
yaitu terdiri dari timbunan batu dibagian hilirnya yang berfungsi sebagai
penyanggah dan bagian udiknya terdiri dari timbunan tanah yang disamping
berfungsi sebagai penyanggah tambahan, terutama berfungsi sebagai tirai
kedap air.
1.4.2 Klasifikasi Bendungan Urugan
Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengempng air atau
pengangkat permukaan air didalam suatu waduk, maka secara garis
besarnya tubuh bendung merupakan penahan rembesan air kearah hilir serta
penyanggah tandonan air tersebut.Ditinjau dari penempatan serta susunan
bahan yang membentuk tubuh bendung untuk dapat memenuhi fungsinya
dengan baik, maka bendungan urugan dapat digolongkan dalam 3(tiga) type
utama yaitu:
 Bendungan Urugan Homogen (Bendungan Homogen)
 Bendungan Urugan Zonal (Bendungan Zonal)
 Bendungan Urugan Bersekat (Bendungan Sekat)

1. Bendungan Homogen
Suatu Bendungan urugan digolongkan dalam type homogen apabila
bahan yang membentuk tubuh bendungan tersebut terdiri dari tanah yang
hampir sejenis dan gradasinya (Susunan ukuran butirannya) hampir
seragam.Tubuh bendungan secara keseluruhannya berfungsi ganda, yaitu
sebagai bangunan penyanggah dan sekaligus sebagai penahan rembesan air.

2. Bendungan Zonal
Bendungan urugan digolongkan dalam type zonal apabila timbunan
yang membentuk tubuh bendungan terdiri dari batuan dengan gradasi
(susunan ukuran butiran) yang berbeda-beda dalam urutan-urutan pelapisan
tertentu.

3. Bendungan Urugan Bersekat (Bendungan Sekat)


Bendungan Urugan digolongkan dalam type sekat (facing) apabila
dilereng udik tubuh bendungan dilapisi dengan sekat tidak lulus air (dengan
kekedapan yang tinggi) seperti lembaran baja tahan karat , beton aspal,
lembaran beton betulang, hamparan plastik, susunan beton blok dan lain-
lain.
1.4.3 Beberapa Keistiweaan Bendungan Urugan
1. Karakteristika Bendungan Urugan
Dibandingkan dengan Jenis-jenis lainya, maka bendungan urugan
mempunyai keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut :
 Pembangunanya dapat dilaksanakan pada hampir semua kondisi geologi
dan geografi yang dijumpai.
 Bahan untuk tubuh bendungan dapat digunakan batuan yang terdapat
disekitar calon bendungan.
Akan tetapi tipe ini mempunyai kelemahan yang cukup berarti, yaitu
tidak mampu menahan limpasan-limpasan yang terjadi dapat
menyebabkan longsoran-longsoran pada lereng hilir yang dapat
mengakibatkan jebolnya bendungan tersebut.
Adapun beberapa karakteristika utama dari bendungan urugan adalah
sebagai berikut:
a. Bendungan urugan mempunyai alas yang luas, sehingga beban yang
harus didukung oleh pondasi bendungan per satuan unit luas biasanya
kecil. Beban utama yang harus didukung oleh pondasi terdiri dari berat
tubuh bendungan dan tekanan hydrostatis dari air dalam waduk.Karena
hal tersebut, maka bendungan urugan dapat dibangun di atas batuan yang
sudah lapuk atau di atas alur sungai yang tersusun dari batuan sedimen
dengan kemampuan daya dukung yang rendah asalkan kekedapannya
dapat diperbaiki pada tingkat yang dikehendaki.

b. Bendungan urugan selalu dapat dibangun dengan menggunakan bahan


batuan yang terdapat di sekitar calon bendungan. Dibandingkan dengan
jenis bendungan beton, yang memerlukan bahan-bahan fabrikat seperti
semen dalam jumlah besar dengan harga yang tinggi dan didatangkan
dari tempat yang jauh.maka bendungan urugan dalam hal ini
menunjukkan tendensi yang positip.

c. Dalam pembangunannya, bendungan urugan dapat dilaksanakan secara


mekanis dengan intensitas yang tinggi (full mechanized) dan karena
banyaknya type-type peralatan yang sudah diprodusir, maka dapat
dipilihkan peralatan yang paling cocok, sesuai dengan sifat-sifat bahan
yang akan digunakan serta kondisi lapangan pelaksanaannya.

d. Akan tetapi karna tubuh bendungan terdiri dari timbunan tanah atau
timbunan batu yang berkomposisi lepas. maka bahaya jebolnya
bendungan umumnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
 Longsoran yang terjadi baik pada lereng udik,maupun lereng hilir
tubuh bendungan.
 Terjadinya sufosi (erosi dalam atau piping) oleh gaya-gaya yang
timbul dalam aliran filtrasi yang terjadi di dalam tubuh bendungan.
 Suatu kontruksi yang kaku tidak diinginkan di dalam tubuh
bendungan karena konstruksi tersebut tak dapat mengikuti gerakan
konsolidasi dari tubuh bendungan tersebut.
 Proses pelaksanaan pembangunannya biasanya sangat peka terhadap
pengaruh iklim Lebih-lebih pada bendungan tanah, dimana
kelembaban optimum tertentu perlu dipertahankan terutama pada saat
pelaksanaan penimbunan dan pemadatannya.

1.5 Filter dan Zona Transisi Bendungan


Filter (yang lebih tepat disebut sebagai urugan filter) merupakan bagian
penting dari bendungan tipe urugan. Filter yang dibuat dengan tata cara atau
bahan yang tidak tepat akan membahayakan tubuh bendungan. Tentu saja dapat
membahayakan keamanan bendungan secara keseluruhan (dapat menimbulkan
korban jiwa ataupun kerugian materiil dan moril yang cukup banyak). Tata cara
penentuan gradasi pasir dan kerikil sebagai filter pada bendungan tipe urugan ini
disusun untuk menjadi standar dalam tata cara penentuan gradasi pasir dan kerikil
untuk pembuatan filter secara tepat (termasuk pemilihan bahan filternya), yang
merupakan bagian vital dari bendungan tipe urugan (fill type dam). Acuan-acuan
yang tersebut dalam daftar acuan walaupun bukan acuan utama tetapi merupakan
sumber masukan yang penting bagi kelengkapan standar tentang bendungan tipe
urugan.

Gambar 1.11 Filter Bendungan

1.5.1 Fungsi Urugan Filter Pelindung pada Bendungan Urugan


Fungsi urugan filter pelindung pada bendungan urugan, sebagai
berikut :
a) Sebagai sarana untuk mengarahkan dan mengendalikan aliran air
rembesan ke luar dari dalam urugan tanah melalui media berpori;
b) Untuk mencegah terjadinya erosi buluh di antara zone-zone urugan dan
fondasi bendungan urugan;
c) Untuk mengendalikan tingkat kejenuhan air dan tekanan rembesan pada
urugan tanah ataupun inti kedap air, agar berada pada tingkat yang aman
bagi bendungan urugan itu.
1.5.2 Kriteria Bahan Urugan Filter Pelindung
a) Pasir kerikilan yang tergradasi dengan baik (well graded) dapat dijadikan
urugan filter pelindung yang sangat bagus untuk melindungi lanau yang
betul-betul seragam atau pasir halus yang seragam, apabila segregasi
dapat dihindari pada saat penempatannya;
b) Untuk menjamin tercapainya kelulusan air yang memadai dalam urugan
filter pelindung, persentase material halus atau lolos saringan no. 200
(ASTM) terhadap material yang disaring harus tidak lebih dari 5% berat
(setelah dilakukannya pemadatan);
c) Koefisien kelulusan air (= k) bahan filter pelindung harus berkisar antara
(20 - 100) x koefisien kelulusan air dari material yang dilindungi.
d) Koefisien kelulusan air (= k) filter pelindung yang terbuat dari pasir &
kerikil bergradasi seragam sampai sedang ( Cu = D 60 : D 10 umumnya
= 1,5 - 8 ), dapat diperkirakan dengan persamaan empiris: k = 0,35 x (D
15 F)2 [k dalam cm/detik dan D15 F dalam mm]
e) Kurva ukuran butir bahan filter pelindung tak harus sejajar atau tak harus
serupa bentuknya dengan kurva ukuran butir dari tanah dasar (tanah atau
material yang dilindungi = B).

1.5.3 Syarat Keamanan Hidraulik Bahan Urugan Filter Pelindung


1. Syarat keamanan hidraulik terhadap erosi buluh
Pori-pori dalam filter (yang letaknya bersinggungan dengan urugan
tanah dan batuan yang mudah tererosi) dan drainase harus cukup kecil,
sehingga dapat mencegah terangkutnya butir padat urugan yang halus
masuk ke dalam (melewati) pori-pori tersebut.
2. Syarat keamanan hidraulik yang berkaitan dengan kelulusan air
Pori-pori dalam filter dan drainase harus cukup besar, sehingga
kelulusan air yang terjadi akan memadai (kelulusan airnya minimum 25 x
kelulusan air dari material yang dilindungi), dan air rembesan dapat ke luar
dengan bebas, dengan demikian gaya rembesan dan tekanan hidrostatik
dapat dikendalikan dengan baik. Pemadatan tidak boleh dilakukan secara
berlebihan, apabila dikhawatirkan akan terjadi kehancuran bahan urugan
filter pelindung sehingga dapat mengurangi kelulusan airnya.

1.5.4 Syarat Keamanan Struktural Urugan Filter Pelindung


1. Keamanan terhadap Retakan
Filter pelindung perlu dipelihara keamanan strukturalnya terhadap
kemungkinan terjadinya rekahan (retakan) pada tubuh urugan filter tersebut.
2. Keamanan terhadap Likuifaksi
Filter pelindung perlu dipelihara keamanan strukturalnya terhadap
kemungkinan terjadinya likuifaksi akibat terjadinya gempa bumi tektonik.
3. Keamanan terhadap Terjadinya Penurunan
Filter pelindung perlu dipelihara keamanan strukturalnya terhadap
kemungkinan terjadinya penurunan pada tubuh bendungan termasuk
penurunan pada filter pelindung tersebut.

1.6 Ukuran dan Dimensi Bendungan


Ukuran dan dimensi bendungan merupakan salah satu hal yang penting untuk
menentukan perencanaan suatu bendungan. Berikut ini akan dijelaskan uraian
mengenai apa saja yang terkait dengan ukuran dan dimensi bendungan.

1.6.1 Lebar Bendungan


Lebar maksimum bendungan hendaknya tidak lebih dari 1,2 kali lebar rata-
rata sungai pada ruas yang stabil. Lebar efektif mercu (Be) dihubungkan dengan
lebar mercu yang sebenarnya (B), yakni jarak antara pangkal-pangkal bendungan
dan/atau tiang pancang, dengan persamaan berikut:

Be = B – 2 (nKp + K a) H1
.................................................................. Pers I

Keterangan :
n : jumlah pilar
Kp : koefisien kontraksi pilar
Ka : koefisien kontraksi pangkal bendung
H1 : tinggi energi, m

1.6.2 Perencanaan Mercu


Di Indonesia pada umumnya digunakan dua tipe mercu untuk bendungan
pelimpah yaitu tipe Ogee dan tipe bulat. Dalam hal ini kavitasi dan aerasi tirai
luapan harus diperhitungkan dengan baik. Tinggi mercu bendungan P,dianjurkan
tidak lebih dari 4,00 m dan minimum 0,5H.

1.6.3 Pangkal Bendungan


Pangkal-pangkal bendungan (abutment) menghubungkan bendungan dengan
tanggul-tanggul sungai dan tanggul-tanggul banjir. Pangkal bendungan harus
mengarahkan aliran air dengan tenang di sepanjang permukaannya dan tidak
menimbulkan turbulensi.
Elevasi pangkal bendungan di sisi hulu bendungan sebaiknya lebih tinggi
daripada elevasi air (yang terbendung) selama terjadi debit rencana. Tinggi jagaan
yang harus diberikan adalah 0,75 m sampai 1,50 m, bergantung kepada kurve
debit sungai di tempat itu; untuk kurve debit datar 0,75 m akan cukup; sedang
untuk kurva yang curam akan diperlukan 1,50 m untuk memberikan tingkat
keamanan yang sama.

1.6.4 Bangunan Pengambilan Dan Pembilas


Bangunan pengambilan berfungsi untuk mengelakkan air dari sungai dalam
jumlah yang diinginkan dan bangunan pembilas berfungsi untuk mengurangi
sebanyak mungkin benda-benda terapung dan fraksi-fraksi sedimen kasar yang
masuk ke jaringan saluran irigasi.Kapasitas pengambilan harus sekurang-
kurangnya 120% dari kebu-tuhan pengambilan (dimension requirement) guna
menambah fleksibilitas dan agar dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi
selama umur proyek.
Lebar pembilas ditambah tebal pilar pembagi sebaiknya sama dengan 1/6 –
1/10 dari lebar bersih bendung (jarak antara pangkal-pangkalnya), untuk sungai-
sungai yang lebarnya kurang dari 100 m. Lebar pembilas sebaiknya diambil 60%
dari lebar total pengambilan termasuk pilar-pilarnya.

1.6.5 Peredam energi


1) Untuk Fr ≤ 1,70 tidak diperlukan kolam olak, pada saluran hilir harus
dilindungi dari bahaya erosi. Untuk pasangan batu atau beton tidak
memerlukan lindungan khusus
2) Bila 1,70 ≤ Fr ≤ 2,50 kolam olak diperlukan untuk meredam energi
secara efektif. Pada umumnya kolam olak olak dengan ambang ujung
mampu bekerja dengan baik. Untuk penurunan muka air ΔZ < 1,5 m
dapat dipakai bangunan terjunan tegak
3) Jika 2,50 ≤ Fr ≤ 4,50 maka akan timbul situasi yang sulit dalam memilih
kolam olak yang tepat. Loncatan air tidak terbentuk dengan baik dan
menimbulkan gelombang sampai jarak yang jauh di saluran. Kolam olak
harus mampu menim-bulkan olakan (turbulensi tinggi) dengan blok
muka. Kolam olak yang sesuai adalah USBR tipe IV.
4) Kalau Fr ≥ 4,5 mulai dapat memper-pendek panjang kolam olak dengan
menggunakan blok-blok halang dan blok-blok muka. Tipe ini termasuk
kolam olak USBR tipe III.

1.6.6 Desain Tubuh Bendungan


1. Lebar Bendung
B = 1,2 x 33 = 39,6 m  40 m
2. Lebar Efektif Mercu Bendung
Beff = 40,00 – 2(2 x 0,01 + 0,2) H1 .......................................... Pers 2
= 40,00 – 0,44 H1
3. Analisa Tinggi Muka Air diatas mercu bendung :
Q = Cd x 1,7 x Beff x H1 1,5 ................................................ Pers 3
218,34 =1,48 x 1,7 x (40–0,44H1) x H11,5
218,34 =2,52 x (40–0,44H1) x H1 1,5
Tabel 1.1 Hubungan Tinggi Muka Air dengan Debit diatas Mercu Bendung
hd V H1 Bef H1/r Cd Q
0.00 0.00 0.00 38.00 0.00 0.00 0.00
0.01 2.20 0.26 39.89 0.51 1.48 13.11
0.16 2.08 0.38 39.83 0.76 1.48 23.63
0.31 1.97 0.51 39.78 1.02 1.48 36.42
0.46 1.88 0.64 39.72 1.28 1.48 51.28
0.61 1.79 0.77 39.66 1.55 1.48 68.05
0.76 1.71 0.91 39.60 1.82 1.48 86.60
0.91 1.64 1.05 39.54 2.09 1.48 106.82
1.06 1.57 1.19 39.48 2.37 1.48 128.60
1.21 1.51 1.33 39.42 2.65 1.48 151.85
1.36 1.45 1.47 39.35 2.93 1.48 176.50
1.51 1.40 1.61 39.29 3.22 1.48 202.46
1.60 1.37 1.69 39.25 3.39 1.48 218.34

Sumber : Hasil Perhitungan Penulis


Grafik Hubungan H dan Q Bendung Potanga

1.80
1.60
1.40
1.20
H (m)

1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00
Debit (m3/dtk)

Gambar 1.12 Hubungan Tinggi Muka Air dengan Debit diatas Mercu Bendung
Sumber : Hasil Perhitungan Penulis

4. Analisa Tinggi Muka Air di Hilir Bendung


Dari hasil pengukuran topografi didapatkan lebar rata-rata sungai bagian
hilir sebesar 33,0 m dengan slope sungai sebesar 0,0143819. Analisa muka air
banjir di hilir bendung dilakukan dengan coba-coba yang hasilnya harus sama
dengan debit banjir rencana Q100 tahun = 218,40m³/dt, dari hasil coba-coba
didapat tinggi air banjir di hilir bendung sebesar 1,54 m, dengan tinggi jagaan
1,0 m dan elevasi dasar sungai di hilir bendung sebesar + 78,00 maka didapat
elevasi tembok pangkal hilir bendung sebesar + 80,54 untuk ambil keamanan
diambil elevasi + 83,00.
Analisa selanjutnya adalah dengan cara coba-coba harga H1, sampai
didapat nilai sebesar 218,34, dan dari coba-coba tersebut didapatkan harga H1
sebesar 1,60 m. Hasil coba-coba tiap ketinggian dapat ditabelkan dan digambar
sebagai berikut.
Q = Cd x 1,7 x Beff x H1 1,5
218,34 = 1,48 x1,7 x (40–0,44H1) x H11,5
218,34 = 2,52 x (40–0,44H1) x H1 1,5
Elevasi muka air banjir di hulu bendung dapat dihitung sebagai berikut :
a) Elevasi mercu bendung = 82,60
b) Tinggi MAB diatas mercu = 1,60 +
c) Elevasi MAB = 84,20
d) Tinggi Jagaan = 1,00 +
e) Elevasi tembok bendung = 85,20 diambil pada elevasi + 85,50

5. Bangunan Pengambilan (Intake)


Qn = A x NFR / 0,65 ....................................................................... Pers 4
= 523,23 x 1,46 / 0,65
= 1176,33 lt/dt = 1,176 m³/dt
Qs = 1,2 x 1,176 = 1,41 m³/dt
Lebar bersih bukaan pintu direncanakan 1,0 m, maka ;
F = Q / (u x (2.g.z) )
= 1,41 / (0,80 x 2 x 9,81 x 0,20 )
= 0,89
Jadi : a = F/b
= 0,89/1,00
= 0,89  1,0 m
Dan elevasi dasar intake = +82,60 – 0,20 – 1,00 = +81,40
Tinggi pintu diambil = a + 0,30 = 1,0 + 0,30 = 1,3 m
6. Bangunan Pembilas
Bp = 1/10 x B = 1/10 x 40 = 4,0 m
Direncanakan pintu pembilas 2 pintu selebar 2 m dan 2 pilar lebar 1 m.
a. Kolam Olak
- Tinggi kritis
hc = (q^2/g)^0,5
= 1,83 m
- Radius lengkungan, Rmin;
Rmin/hc = 1,55
untuk h1/hc  2
h1/hc = 1,60/1,83 = 0,87; 0,87  2 maka
Rmin = 1,55 x 1,83 = 2,84 m di ambil = 4,00 m
- Kedalaman air minimum, Tmin ;
Tmin/hc =1,88 x (h1/hc)0,215
Tmin =1,88 x (1,60/1,83)0,215 x 1,83 = 3,35 m  4,54 m
- Dasar cekungan (bucket invert) ; = + 80,89 - 4,00 = + 75,00

b. Lantai Muka
LV = 3,0+2,0+(8x1,0)+(2,0x4)+3,0 + (1,0 x2) + 5,17 = 31,17 m
LH = (8x1,0)+3,0+(3x4,0)+4,5 + (3x1,5)+3,90+(2x2,0) = 39,90 m
CL = 31,17 + 1/3 x 39,90 = 44,47 = 9,67 > 4  Aman
46 56

7. Perkuatan Dasar
V3 = Kecepatan rata-rata diatas ambang didapat = 1,73 m/dt.
Dari grafik (KP04 pada gambar 6.7 hal. 107) didapatkan d40 = 0,10 m,
diameter stabil terhadap kecepatan yang ada.
Dengan Dm = 0,50 m, maka
F = 1,76 x 0,500,5 = 39,35
R = 0,47 (218,34/39,35)1/3 = 0,83 m, sehingga diambil = 1,50 m
Panjang lindungan = 4 x 0,83 = 3,33 m, diambil = 5,0 m
1.7 Perlidungan Lereng Urugan (Slope Protection)
1.7.1 Cara-Cara Menstabilkan Lereng
Penanggulangan longsor yang dilakukan bersifat pencegahan sebelum
longsor terjadi pada daerah potensial dan stabilisasi, setelah longsor terjadi
jika belum runtuh total. Penanggulangan yang tepat pada kedua kondisi
diatas dengan memperhatikan penyebab utama longsor, kondisi pelapisan
tanah dan juga aspek geologinya. Sedhfkhang langkah yang umum dalam
menangani longsor antara lain: pemetaan geologi topografi daerah yang
longsor, pemboran untuk mengetahui bentuk pelapisan tanah/batuan dan
bidang gelincirnya, pemasangan piezometer untuk mengetahui muka air
atau tekanan air porinya, dan pemasangan slope indicator untuk mencari
bidang geser yang terjadi.
Selain itu dilakukan pula pengambilan tanah tidak terganggu, terutama
pada bidang geser untuk dipelajari besar kekuatan tahanan gesernya. Ada
beberapa cara untuk menstabilkan lereng yang berpotensi terjadi
kelongsoran. Pada prinsipnya ada dua cara yang dapat digunakan untuk
menstabilkan suatu lereng, yaitu:
1. Memperkecil gaya penggerak atau momen penyebab longsor. Gaya atau
momen penyebab longsor dapat diperkecil dengan cara merubah bentuk
lereng, yaitu dengan cara:
a. Merubah lereng lebih datar atau memperkecil sudut kemiringan
b. Memperkecil ketinggian lereng
c. Merubah lereng menjadi lereng bertingkat (multi slope)
3. Memperbesar gaya lawan atau momen penahan longsor. Gaya lawan atau
momen penahan longsor dapat diperbesar dengan beberapa cara yaitu:
a. Menggunakan counter weight yaitu tanah timbunan pada kaki lereng.
Cara ini mudah dilaksanakan asalkan terdapat tempat dikaki lereng
untuk tanah timbunan tersebut.
b. Dengan mengurangi air pori di dalam lereng
c. Dengan cara mekanis yaitu dengan memasang tiang pancang atau
tembok penahan tanah.
1.7.2 Metode Irisan (Method of Slice)
Bila tanah tidak homogen dan aliran rembesan terjadi di dalam
tanahnya memberikan bentuk aliran dan berat volume tanah yang tidak
menentu, cara yang lebih cocok adalah dengan metode irisan (method of
slice). Gaya normal yang bekerja pada suatu titik di lingkaran bidang
longsor, terutama dipengaruhi oleh berat tanah di atas titik tersebut. Dengan
metode irisan, massa tanah yang longsor dipecah–pecah menjadi beberapa
irisan vertical. Kemudian, keseimbangan dari tiap–tiap irisan diperhatikan.
memperlihatkan satu irisan dengan gaya–gaya yang bekerja padanya. Gaya–
gaya ini terdiri dari gaya geser (Xr dan X1) dan gaya normal efektif (Er
danE1) di sepanjang sisi irisannya, dan juga resultan gaya geser efektif (Ti)
dan resultan gaya normal efektif (Ni) yang bekerja di sepanjang dasar
irisannya. Pada irisannya, tekanan air pori U1 dan Ur bekerja di kedua
sisinya, dan tekanan air pori Ui bekerja pada dasarnya. Dianggap tekana air
pori sudah diketahui sebelumnya.

Gambar 1.13 Gaya-Gaya yang Bekerja Pada Irisan

1.7.3 K. Metode Fellenius


Analisis stabilitas lereng cara Fellenius (1927) mengganggap gaya–
gaya yang bekerja pada sisi kanan–kiri dari sembarang irisan mempunyai
resultan nol pada arah tegak lurus bidang longsornya. Dengan anggapan ini,
keseimbangan arah vertical dari gaya–gaya yang bekerja dengan
memperhatikan tekanan air pori adalah :
Ni+Ui=Wicos Øi............................................................................... Pers 5
Atau
Ni = Wi cos Øi – Ui= Wi cos Øi – iai…………………................... Pers 6
Faktor aman didefinisikan sebagai,
F=F= Σ………………………………………………………….......Pers 7
Dengan :
FK > 1,5 menunjukkan lereng stabil
FK = 1,5 kemungkinan lereng kurang stabil 29
FK < 1,5 menunjukkan lereng tidak stabil

Lengan momen dari berat massa tanah tiap irisan adalah R sin Ø, maka
ΣMr = RΣ Ø ……………………………………………….............Pers 8
Dimana :
R = jari – jari lingkaran bidang longsor
N = jumlah irisan
Wi = berat massa tanah irisan ke – i
Øi = sudut

Dengan cara yang sama, momen yang menahan tanah yang akan longsor,
ΣMr = RΣ ( + Ø)…………………………………………… .........Pers 9

Karena itu, persamaan untuk faktor amannya menjadi,


F = Σ ( Ø)…………………………………………………… .......Pers 10

Bila terdapat air pada lerengnya, tekana air pori pada bidang longsor tidak
berpengaruh pada Md, karena resultan gaya akibat tekanan air pori lewat
titik pusat lingkaran. Maka :
F = Σ ( Ø ) ……………………………………………..................Pers 11
Dimana :
F = faktor aman
C = kohesi tanah
Ø = sudut gesek dalam tanah
ai = panjang bagian lingkaran pada irisan ke – i
Wi = berat irisan tanah ke – i
ui = tekanan air pori pada irisan ke – i

Jika terdapat gaya–gaya selain berat lereng tanahnya sendiri, seperti


beban bangunan di atas lereng, maka momen akibat beban ini
diperhitungkan sebagai Md. Metode Fellenius memberikan faktor aman
yang relatif lebih rendah dari cara hitungan yang lebih teliti. Batas–batas
nilai kesalahan dapat mencapai kira–kira 5 sampai 40% tergantung dari
faktor aman, sudut pusat lingkaran yang dipilih, dan besarnya tekanan air
pori. Walaupun analisisnya ditinjau dalam tinjauan tegangan total, kesalahan
masih merupakan fungsi dari faktor aman dan sudut pusat dari lingkarannya
(Whitman dan Baily,1967). Cara ini telah banyak digunakan dalam
prakteknya.

1.7.4 Dinding Penahan Tanah


Dinding penahan tanah (DPT) adalah suatu bangunan yang dibangun
untuk mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng yang dibangun di
tempat di mana kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu
sendiri, dipengaruhi oleh kondisi gambaran topografi tempat itu, bila
dilakukan pekerjaan tanah seperti penanggulan atau pemotongan tanah.
Secara umum fungsi dari DPT (Dinding Penahan Tanah) adalah untuk
menahan besarnya tekanan tanah akibat parameter tanah yang buruk
sehingga longsor bisa dicegah, serta untuk melindungi kemiringan tanah dan
melengkapi kemiringan dengan pondasi yang kokoh . DPT terbuat dari 2
jenis bahan, antara lain :
• Beton (cantilever walls)
• Batu kali (gravity walls)
1.7.5 Kriteria Dinding Penahan Tanah
Dalam perencanaan dinding penahan tanah ada 3 kriteria yang harus
diperhatikan, yaitu:
a. Safety Factor Terhadap Guling
Safety factor terhadap guling berkaitan dengan momen yang terjadi
pada struktur gravity wall. Momen tersebut terjadi karena adanya
gayagaya lateral tanah terhadap gravity wall, baik tekanan tanah aktif
maupun pasif terhadap titik guling struktur dinding penahan tanah. Selain
itu akan terjadi momen resistensi dikarenakan berat sendiri struktur
terhadap titik guling, yang akan berfungsi untuk menahan momen guling
akibat gaya aktif tanah. Tekanan tanah lateral yang diakibatkan oleh tanah
di belakang dinding penahan, cenderung menggulingkan dinding, dengan
pusat rotasi terletak pada ujung kaki depan dinding penahan tanah.
SF = > 1,5 …..Aman!...………………………………………. ........Pers 12
Dimana :
SF = Safety Factor
MAtot = Momen struktur
MPtot = Momen tanah

b. Safety Factor Terhadap Geser


Safety factor terhadap geser berkaitan dengan gaya transversal yang
dapat menggeser struktur dinding penahan tanah. Akan tetapi gaya tersebut
akan ditahan oleh gaya gesek yang terjadi antara bidang dasar dinding
penahan tanah dengan tanah yang ada di bawahnya.
SF = . . ( Ф ) > 1,5…….Aman! …...…………………...................Pers 13
Dimana :
SF = Safety factor
C = Kohesi (nilai kohesi tanah yang berhimpit dengan
lapisan bawah struktur)
B = Lebar alas struktur
W = Berat struktur
Ф = Sudut geser dalam (nilai sudut geser dalam tanah yang
berhimpit dengan lapisan bawah struktur)
Ptot = Tekanan tanah total

c. Safety Factor terhadap Ambles


Safety factor terhadap ambles berkaitan dengan kemampuan tanah
untuk menahan beban struktur agar tanah tidak mengalami penurunan
(ambles). Perhitungan menggunakan tabel Terzaghi.
Qult = 1,3 x c2 x Nc + γ2 x Nq x DF + 0,5 x γ2 x B x Nγ……………….............Pers 14
Dimana :
Qult = Beban ultimit
C = kohesi (nilai kohesi tanah yang berada di bawah struktur)
γ = Berat volume tanah (nilai berat volume tanah yang berada
di bawah struktur)
DF = lebar pondasi struktur
B = lebar alas struktur
Q all = Beban izin

Beban dinding penahan tanah yang ditanggung tanah :


Q terjadi = Beban dinding penahan tanah yang ditanggung tanah
Safety Factor Terhadap Ambles (settlement) :
SF = Q terjadi < Q all…….Aman

1.8 Akibat Gelombang


Gelombang air dapat menyebabkan Erosi yang dapat merusak bagian hulu
lereng timbunan bendungan. Untuk melidungi terhadap kerusakan karena
gelombang, dipergunakan lapisan riprap. Ombak ditimbulkan karena tiupan angin
di atas permukaan air waduk. Jarak angin bertiup diatas muka air waduk disebut
fetch. Kecepatan angin yang dipakai untuk menghitung tinggi gelombang harus
ditentukan berdasarkan pengalaman (engineering judgement). Kecepatan angin di
arah maksimum fetch perlu diketahui, kemudian perlu ditentukan kecepatan angin
100 tahun yang akan terjadi dan kecepatan angin maksimum.
Ombak yang terjadi karena tiupan angin tingginya tidak uniform (sama)
tetapi merupakan suatu spektrum frekuensi tinggi gelombang. Apabila tinggi dari
33 1/3 % spektrum dari gelombang merupakan tinggi rata-rata, maka tinggi
gelombang rata-rat tersebut disebut tinggi gelombang penting. Hanya 0,4 % dari
semua gelombang akan mempunyai tinggi gelombang lebih besar 1,67 kali dari
significant wave height. Gelombang tersebut disebut gelombang maksimum.
 Untuk menentukan gelombang freeboard dan riprap pada bendungan besar
maka gelombang rencananya = 1,67 a
 Untuk bendungan kecil : Gelombang rencana – significant wave
Apabila ombak air dalam menghantam permukaan bendungan , maka
tinggi gelombang akan meningkat sejalan dengan berkurangnya kedalaman air
dan apabila kedalaman air < 0,78 a maka ombak akan pecah.

1.9 Desain dari Riprap (Riprap Design)


Gradasi dari rock rip-rap terdiri dari well grade drock dengan ukuran lebih, dari
30 cm dan kurang dari 75 cm. Distribusi material sama dengan rock fill
Penempatan di site dengan bucket excavator atau hand placing.

Berikut ini macam-macam tipe bendungan :


1. Bendungan Urugan Homogen
Bendungan Urugan Homogen adalah Apabila 80% seluruh bahan
pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang bergradasi sama dan
bersifat kedap air.

Gambar 1.14 Bendungan Urugan Homogen


2. Bendungan Urugan zonal
Tipe bendungan ini terbagi lagi sebagai berikut:
a) Tirai
Bendungan tipe Tirai adalah Apabila bahan pembentuk tubuh
bendungn terdiri dari bahan yang lolos air tetapi dilengkapi dengan
tirai kedap air di udiknya.

Gambar 1.15 Bendungan Tirai

b) Inti Miring
Bendungan tipe inti miring adalah apabila bahan pembentuk tubuh
bendungn terdiri dari bahan yang lolos air tetapi dilengkapi dengan
inti kedap air yang berkedudukan vertikal.

Gambar 1.16 Bendungan Inti Miring


c) Inti Vertikal
Bendungan Tipe InTI Vertikal adalah apabila bahan pembentuk
tubuh bendungn terdiri dari bahan yang lolos air tetapi
dilengkapi dengan inti kedap air yang berkedudukan vertikal.

Gambar 1.17 Bendungan Inti Vertikal

3. Bendungan Urugan Batu dengan Membran


Apabila bahan pembentuk tubuh bendungn terdiri dari bahan yang lolos
air tetapi dilengkapi dengan membran yang kedap air dilereng uduknya
yang biasanya terbuat dari lembaran baja tahan karat, lembaran beton
bertulang, aspal beton, lembaran plastik dan lainy-lainya.

Gambar 1.16 Bendungan Inti Vertikal


Tabel 1.18 Bendungan Urugan Batu Membran
1.10 Analisis Stabilitas Bendungan
Stabilitas bendungan merupakan perhitungan kontruksi untuk menentukan
ukuran bendungan agar mampu menahan muatan-muatan dan gaya-gaya yang
bekerja pada bendungan dalam segala keadaan.
Adapun syarat-syarat stabilitas bendungan sebagai berikut :
1. Pada konstruksi batu kali dengan selimut beton, tidak boleh terjadi
tegangan tarik.
2. Momen tahan lebih besar dari pada momen guling.
3. Konstruksi tidak boleh menggeser.
4. Tegangan tanah yang terjadi tidak boleh melebihi tegangan tanah yang
diijinkan.
5. Setiap titik pada seluruh konstruksi harus tidak boleh terangkat oleh gaya
ke atas (balance antara tekanan ke atas dan tekanan ke bawah).

Berikut ini contoh Perhitungan Stabilitas pada Perencanaan yaitu Modifikasi


Bendungan Kali gending. Bendungan ini hanya pada bangunan yang mengalami
modifikasi atau perbaikan saja, yaitu pada bangunan Pintu Pengambilan
1. Perhitungan Kestablilan Tembok penahan tanah pada bangunan
pengambilan bendungan Kaligending

Gambar 1.19 Gaya yang Bekerja pada Tembok Penahan Tanah Pintu Pengambilan
a. Gaya-gaya yang Bekerja
 Data tanah pondasi di pintu pengambilan Bendung Kaligending Dari
hasil pengeboran di titik BM-4 dihasilkan data tanah pondasi sebagai
berikut:
- Sudut geser dalam = 22,80
- Saturated density (γsat) = 1,753 t/m3
- Kohesi (c) = 0,033 kg/cm2
- Specific Gravity (Gs) = 2,766 t/m3
- SPT = 40 N
- Skema gaya-gaya yang bekerja pada tembok penahan tersebut seperti
terlihat pada gambar diatas.

• Besarnya tekanan tanah aktif dihitung berdasarkan rumus Coulomb


sebagai berikut:
Ea = ½*γsat*h2*tan2 (450 - φ/2) – 2*C*h* tan2 (450 - φ/2)
Ea = ½*1,753*7,282* tan2 (450 – 22,8/2) – 2*0,033*7,28* tan (450
– 22,8/2)
= 20,506 – 0,319
= 20,187 ton

• Terlihat bahwa faktor kohesi tanah (C) sangat kecil, karena nilai kohesi
(C) = 0,033kg/cm2 sangat kecil dan untuk selanjutnya pengaruh kohesi (C)
diabaikan sehingga :
Ea = ½ x γsat x h2 x tan2 (450 - φ/2)
Ea = 20,506 ton

• Besarnya gaya akibat berat sendiri tembok penahan :

G1 = *2,35= 17,108 ton


G2 = 1,20 x 7,28 x 2,35 = 20,530 ton

• Besarnya berat urugan tanah dibelakang tembok penahan


G3 = *1,753= 12,762 ton

b. Peninjauan Kestabilan Tembok Penahan Tanaha terhadap Guling


Tembok penahan tanah terbuat dari beton cyclope, untuk menahan susut dan
perubahan suhu, disyaratkan didalam PBI-1971 harus dipasang tulangan susut
minimal 0,25 % dari luas beton cyclope yang ada.

Luas beton cyclope rata-rata = *100cm2 = 22000 cm2

Sehingga luas tulangan susut yang diperlukan :


Fy = 0,25% x 22000 = 55 cm2
Digunakan 12 batang Ø 25 mm = 12 x (1/4 x 3.14 x 2,52)
= 58,875 cm2> 55 cm2.
Dari 12 batang besi tulangan, 6 batang terpasang sebagai tulangan tarik seperti
terlihat pada gambar.
Luas besi tulangan 6 batang Ø 25 mm = 6 x (1/4 x 3.14 x 2,52) = 29,438 cm2.
Besarnya tulangan pembagi diambil sama besar dengan tulangan vertikal dan
tidak boleh kurang dari 0,25% luas beton yang ada. Untuk tulangan pembagi
ini dipakai Ø 25 – 20 cm.

Gambar 1.20 Penulangan Tembok Penahan Tanah Bangunan


Pengambilan.
Gambar 1.21 Potongan A – A

Untuk menghitung jarak titik tangkap gaya yang ditahan oleh tulangan tarik
terhadap titik A adalah sebagai berikut:

Gambar 1.22 Tulangan Tarik

Panjang sisi miring tembok penahan tanah (m) = 22 + 7,282 = 7,55 m


Sin α = 2/7,55 = 0,265 → α = 15,360
Jarak tulangan tarik 6 φ 25 terhadap titik A (S) = 3,15 x Cos α
= 3,15 x 0,9642
= 3,04 m
Besarnya momen yang bekerja pada tembok penahan tanah adalah :
MG1 = G1 x L1 = 17,108 x 1,867 = 31,9406 tm (-)
MG2 = G2 x L2 = 20,530 x 0,60 = 12,3178 tm (-)
MG3 = G3 x L3 = 12,762 x 2,533 = 32,3257 tm (-)
My = tulangan tarik*S = 53,02 x 3,04 = 165,18 tm (-)
ME a= Ea x a = 20,506 x 2,427 = 49,7681 tm (+)
ΣMA = 191,996 tm (-)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tembok aman terhadap guling karena momen
tahan lebih besar dari momen guling.

c. Penulangan Slab Beton Pondasi


Slab beton pondasi setebal 150 cm terbuat dari beton cyclope diberi tulangan
susut seperti pada tembok penahan tanah.
Luas tulangan susut pada slab beton diambil sesuai dengan PBI 71, minimum
0,25% luas beton yang ada.
Fy = 0,25% x 150 x 100 = 37,5 cm2
Dipakai tulangan 12 Ø 20 mm = 12 x (1/4 x 3.14 x 202)
= 37,704 cm2 > 37,5 cm2

Tulangan pembagi juga dipakai 12 Ø 20 mm dengan pemasangan tulanga susut


seperti gambar dibawah ini:

Gambar 1.23 Penulangan Slab Beton Pondasi Bangunan Pengambilan


Gambar 1.24 Potongan B- B

2. Perhitungan Kestablilan Pilar B pada bangunan pengambilan Bendungan


Pilar B ini mendapat tekanan dari gaya-gaya yang simetris dari kanan dan
kirinya, sehingga pilar ini tidak akan terguling oleh adanya gaya-gaya
yang bekerja padanya. Sesuai PBI 1971, pilar yang terbuat dari beton
cyclope ini diharuskan untuk dipasang tulangan susut seperti dilakukan
pada tembok penahan tanah bangunan pengambilan ini.

Luas tulangan yang diperlukan :


Fy = 0,25% x 110 x 100
= 27,5 cm2.
Dipakai 12 Ø 18 = 12 x (1/4 x 3.14 x 1,82)
= 30,54 cm2
Sehingga Dipakai tulangan pembagi 12 Ø 18 – 20 cm.
Gambar 1.25 Potongan C – C Gambar1.26 Penulangan Pilar B

a. Pemeriksaan kestabilan bangunan pengambilan terhadap daya dukung


tanah pondasi
Beban yang ditahan oleh tanah pondasi bangunan pintu pengambilan
- Bendung Kaligending adalah :
- Berat sendiri tembok A = 2 x 38,606 = 77,212 ton
- Berat pilar B = 2 x 1,1 x 1 x 7,28 x 2,35 = 37,638 ton
- Berat beton slab pondasi = 1,50 x 14,3 x 1,00 x 2,35 = 50,408 ton
- Berat pintu air :
Berat stang = 2 x Fstang x hstang x berat jenis baja
= 2 x 0,0007065 x 7,5 x 7800 = 82,66 kg
Berat daun pintu = h pintu x b pintu x t pintu x berat jenis kayu
= 1,55 x 1,95 x 0,06 x 800 = 145,08 kg
Berat sambungan = 20% x 145,08 = 29,02 kg
Berat total pintu = 3 x 256,76 kg = 701,58 kg
Berat atap = 11,1 x 2,5 x 0,2 x 2,4 = 13,32 ton

Sehingga Total berat bangunan = 179,28 ton


1789280𝑘𝑔2
Beban terhadap tanah pondasi = = 1,254 𝑘𝑔/𝑐𝑚
100 ∗ 1430𝑐𝑚2
Kontrol kestabilan daya dukung tanah pondasi menurut formula Terzaghi :
Data hasil penyelidikan tanah di BM.4:
- Sudut geser dalam (Ø) = 22,80
- Saturated density (γsat) = 1,753 t/m3
- Kohesi (c) = 0,033 kg/cm2
- SPT = 40 N
- Pasir padat

Dari tabel koefisien daya dukung didapat :


Nc = 21,844
Nq = 10,381
Nγ = 7,176 Sehingga :
qult=0,033*21,844+1,753*8,58*10,381+½*1,753*14,3*7,16
= 246,8024 t/m2
= 24,68 kg/cm2> 1,254 kg/cm2....aman.
Dengan demikian tanah pondasi yang ada di lapangan cukup kuat menahan
beban bangunan pintu pengambilan.
b. Perhitungan kestabilan bangunan pengambilan terhadap geser

Gambar 1.26 Kestabilan Bangunan Pengambilan terhadap Geser

Gaya-gaya dari luar yang bekerja pada bangunan pengambilan ini berupa
tekanan tanah yang berkerja simetris dari arah kanan dan kiri dengan arah
berlawanan seperti terlihat pada sketsa diatas, sehingga bangunan ini tidak
akan bergeser.
1.11 Metoda Analisa (Methods of Analysis) Rembesan
Secara umum, metoda analisa digunakan untuk desain bendungan, ketika
bendungan dikonstruksi, pengamatan menjadi sangat penting dan dapat
memberikan informasi penting bila terjadi masalah. Pengamatan lapangan
merupakan kondisi sebenarnya dibandingkan asumsi desain yang mungkin saja
salah. Untuk mengatasi permasalahan maka dalam pemilihan metoda pengamatan
atau metoda analitis harus berdasarakan masukan-masukan dari hasil pengamatan.
Rembesan merupakan Proses mengalirnya air dalam pori- pori tanah
sedangkan kemampuan tanah untuk dapat dirembesi disebut daya rembes
atau permeabilitas (permeability).
Tujuan analisis rembesan adalah untuk menentukan apakah
rembesan berpengaruh terhadap keamanan bendungan, sehingga dapat diperoleh
suatu bentuk geometri bendungan dan pengendalian rembesan yang aman dan
ekonomis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi rembesan antara lain:
a. Ukuran partikel
b. Kadar pori
c. Susunan tanah
d. Struktur tanah
e. Derajat kejenuhan
Masalah rembesan yang dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan
pada konstruksi khususnya Bendungan adalah akibat ;
a. Tekanan angkat berlebihan,
b. Piping,
c. Erosi internal,
d. Teruraikannya (solutioning) material batu yang mudah melarut,
e. Tekanan rembesan berlebihan atau penjenuhan yang
menyebabkan terjadinya pembasahan lereng hilir (sloughing)
Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk pengendalian rembesan:
a. Filter untuk mencegah terbawanya butiran tanah.
b. Pembatasan terhadap debit rembesan.
c. Metoda drainasi untuk mengurangi tekanan rembesan dan
mengumpulkannya melalui konstruk si pembuang yang aman.
d. Kombinasi antara ketiga cara di atas.

Pengendalian rembesan yang efektif adalah dengan memperhatikan


kondisi bendungan dan fondasinya. Meskipun desain bendungan telah
memperhatikan hal-hal di atas, beberapa bendungan tetap mengalami
kegagalan akibat rembesan. Kegagalan-kegalan tersebut telah memberikan
pemahaman-pemahaman baru dalam pengendalian rembesan.
Analisa rembesan sebaiknya dimulai dengan metoda yang paling
sederhana dan murah dan berlanjut ke metoda yang lebih kompleks dan
mahal, namun lebih teliti sesuai dengan masalah yang dihadapi. Ketelitian yang
tepat jarang diperoleh dan konsekuensinya kebanyakan tindak perbaikannya
didesain konservatif.

Metoda analisa rembesan dapat dilakukan dengan cara:


a. Grafis yaitu dengan menggambarkan jaringan aliran atau flownet
Flownet menggambarkan distribusi tekanan-tekanan dan arah aliran,
memberikan informasi mengenai stabilitas, debit, tekanan-tekanan angkat
yang bekerja didasar bangunan dan lain sebgainya.
b. Analitis dengan menggunakan persamaan empiris dan matematik
c. Numerik menggunakan Komputer
Penggunaan metoda numerikal komputer dapat mempercepat perhitungan
dan saat ini banyak digunakan di banyak negara. Validitas hasil komputer
tergantung dari ketelitian dan kualitas data masukan dan pengetahuan dari
pengguna komputer sendiri. Model numerikal harus dikalibrasi terhadap
kondisi lapangan untuk memastikan sesuai dengan kondisi aktual
lapangan. Saat proses kalibrasi, parameter permeabilitas diperlukan untuk
memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi lapangan. Pengaturan nilai
permeabilitas ini harus reasonable atau model akan salah. Pemeriksaan lain
terhadap ketelitian model adalah dengan keseimbangan massa (mass
balance), yakni massa aliran dalam kondisi batas model versus aliran
keluar.
Hal yang harus di pertimbangkan dalam metode analisis adalah:
a. Masalah penting dalam sejarah bendungan

b. Seberapa kompleks masalah yang dihadapi.

c. Informasi yang tersedia.

d. Informasi lain yang diperlukan dan pengaruh biayanya.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.ilmutekniksipil.com/bangunan-air/pengertian-bendungan
(PENGERTIAN BENDUNGAN)
https://repository.widyatama.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/8412/
Bab%202.pdf?sequence=9
(jenis dan macam bendungan)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bendungan
(gambar contoh bendungan mengatasi banjir)

https://menzanusantara.com/waduk-gajah-mungkur-wonogiri-riwayatmu-
dulu/
(Gambar bendungan serbaguna)

http://janggan.magetan.go.id/data-teknis-bendungan-gonggang/
(bendungan urugan batu)

http://konstruksibesar.blogspot.com/2015/11/bendungan.html?m=1
(bendungan penampung air)

https://www.kompasiana.com/arifin.faal/552858e9f17e61b03b8b4665/
wisata-waduk-buatan-yang-tidak-kalah-dengan-wisata-lain
(gambar bendungan penampung air)