Anda di halaman 1dari 12

3.

1 Kerangka Pikir
Kajian Kelayakan ini sebagai tindak lanjut komitmen bersama antara Pemerintah RI
dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin untuk
mengembangkan Kawasan Strategis Tanjung Api-api sebagai simpul kegiatan ekonomi
regional, wilayah Sumatera Timur Bagian Selatan. Untuk itulah terlebih dahulu perlu didisain
kerangka pikir yang disajikan pada Gambar 3.1, sebagai respon terhadap Kerangka Acuan
Kegiatan (KAK) dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera
Selatan sebagai pihak pengguna studi kelayakan Kawasan Strategis Tanjung Api-api sebagai
dasar perencanaan bagi pengembangan kawasan industri dan pelabuhan.
Tahap awal kajan ini dimulai dengan melakukan review terhadap dokumen kebijakan
yang merupakan kehendak dari pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka
pengembangan Kawasan Strategis Tanjung Api-api yang dituangkan dalam RPJP, RPJM,
RTRW Nasional dan Daerah Provinsi Sumatera Selatan maupun Pemerintah Kabupaten
Banyuasin. Dalam dokumen kebijakan yang lebih operasional, seperti MP3EI, Pengembangan
KEK Tanjung Api-Api, SSECD dan dokumen perencanaan teknis lainnya terdapat indikasi bahwa
untuk pengembangan kawasan industri nasional strategis yang merupakan dasar untuk
pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), di Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api akan dilakukan analisis kelayakan yang memenuhi kelayakan teknis finansial
dan lingkungan. Selanjutnya terdapat pula dokumen perencanaan instansi sektoral yang
dapat diintegrasikan untuk menelaah kelayakan tersebut.
Untuk mengkaji kelayakan tersebut, diperlukan pemahaman tentang kondisi eksisting
kawasan perencanaan dari berbagai aspek, yaitu: (1) aspek fisik dasar dan biologi antara lain
seperti posisi geografi, topografi geologi, karakter perairan, kondisi flora dan fauna pesisir,
kelautan dan daratan (2) aspek sumberdaya alam seperti perikanan, kehutanan, tambang dan

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 1


mineral, (3) aspek ekonomi regional, antara lain pendapatan wilayah dan investasi
pembangunan, keterkaitan ekonomi wilayah (4) aspek sosial ekonomi dan budaya lokal, antara
lain seperti kependudukan, mata pencaharian dan pendapatan, kesehatan dan adat istiadat
masyarakat.
Dari dokumen perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api
selanjutnya dilakukan review terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur dan
mengendalikan pembangunan wilayah dan kawasan industri berbasis yang menjadi dasar
perencanaan teknis serta peraturan perundang-undangan terkait dengan aspek pengelolaan
lingkungan yang menjadi dasar operasionalisasi pembangunan kawasan agar selalu dalam
koridor keberlanjutan ekosistem lingkungan. Review juga dilakukan terhadap potensi dan
kendala kondisi eksisting wilayah dan lokasi setempat sebagai dasar perencanaan untuk
pembangunan kawasan industri dan pelabuhan yang berdampak makro kewilayahan (off-site)
dan mikro lokasional (on-site). Untuk lebih jelasnya mengenai kerangka berpikir, dapat dilihat
pada gambar 3.1.

Dari kedua bahasan tersebut, selanjutnya difokuskan pada dua permasalahan kajian
yaitu penyusunan perencanaan dan kajian kelayakan. Mengingat Kawasan Ekonomi Khusus
Tri Patria Tanjung Api-api mempunyai kharakter tertentu yaitu sebagai wilayah dataran pasang
surut yang berpotensi kandungan sedimentasi cukup tinggi, dan merupakan daerah
mangrove yang perlu dilindungi maka diperlukan beberapa skenario yang memuat kandungan
perencanaan teknis seperti lokasi, besaran, alokasi pemanfaatan ruang, sistem pengaman
serta perencanaan teknik pengurugan seperti jenis dan sumber material urug,
pengangkutannya. Berbagai skenario itu akan berimplikasi terhadap biaya yang diperhitungkan
dalam jangka pendek dan jangka panjang. Demikian pula akan berimplikasi terhadap kondisi
lingkungan di masa mendatang. Oleh karena itu perlu dikaji pula prakiraan dampak
lingkungannya.
Melalui penelaahan ‘trade-off” berbagai skenario perencanaan teknis dengan aspek
finasial dan dampak lingkungan dapat diperoleh skenario yang paling layak untuk pelaksanaan
Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api untuk Kawasan Industri dan Pelabuhan.
Perlu dikemukakan bahwa secara umum tidak satupun pembangunan yang tidak berdampak
terhadap perubahan lingkungan. Namun melalui pendekatan makro regional dan mikro
lokal dapat digunakan integrasi pendekatan metode ilmiah menurut konsep teoritis akademis,
metode kebijakan publik menurut peraturan perundang-undang yang berlaku serta metode
praktis berdasarkan pengalaman konsultan maupun stakeholder yang kesemuanya diarahkan
kepada pengambilan keputusan “win-win solution” yang didasarkan fakta dan pemahaman
perubahan lingkungan yang terpantau dan terkendali. Dengan demikian dapat disusun
rekomendasi perencanaan teknis dan kelayakannya sebagai dasar pengambilan keputusan
pihak pengguna dan stakeholder.

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 2


Rencana
Kawasan Industri

Skenario Kawasan
Review Kebijkan Pengembangan :  Perencanaan Teknis (Lokasi, Besaran
 Peraturan Perundangan konstruksi pengaman jenis dan sumber
material, transportasi)
 Kawasan Strategis
 Prakiraan Dampak Lokal Regional (Fisik,
 Kawasan Sensitif Biologi, Eonomi, Sosekbud)

Rekomendasi Alternatif Pengembangan


Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Kajian Kelayakan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 3


3.2 Metodologi
3.2.1 Pendekatan Metoda Integrasi
Berdasarkan kerangka pikir sebagai dasar pendekatan kajian kelayakan, maka
metodologi yang digunakan adalah bauran antara metode ilmiah menurut konsep teoritis
akademis, metode kebijakan publik menurut peraturan perundang-undang yang berlaku
serta metode praktis berdasarkan pengalaman konsultan maupun stakeholder.

1. Konsep Perencanaan
Permasalahan yang dihadapi kota-kota besar yang berada di pinggir pantai adalah
penyediaan lahan secara fisik dan yuridis dengan mempertimbangkan: (a) di luar
kawasan lindung (b) bebas dari penguasaan masyarakat serta (c) berpotensi untuk
pembangunan kawasan permukiman, industri dan perdagangan serta
infrastruktur pendukungnya. Kegiatan di tepi pantai yang dilakukan oleh orang
dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut
lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan, atau
drainase.
Dengan mengacu pada konsep tersebut, penyediaan lahan di Kawasan Ekonomi
Khusus Tri Patria Tanjung Api-api dilakukan dengan memanfaatkan lahan atau
habitat yang sudah ada, yaitu muara pantai berlumpur yang memenuhi
pertimbangan di atas sehingga dibentuk menjadi areal yang dapat memberikan
keuntungan secara ekonomi dan lingkungan atau yang diperuntukkan kawasan
industri dan pelabuhan. Mengingat tipologi Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api yang merupakan daerah pasang surut dengan sedimentasi yang
cukup tinggi serta kondisi lahan kurang stabil, yang dalam perkembangan
dipengaruhi oleh badan air laut maka dilakukan secara terintegrasi antara kelayakan
teknis, finansial dan lingkungan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api.

2. Kelayakan teknis lokasi


Alferd weber seorang ahli ekonomi Jerman menulis buku berjudul Uber der Standort
der Industrien pada tahun 1990. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada
tahun 1929 oleh C.J. Friedrich dengan judul Alferd Weber’s Theory of Location of
Industries. Weber menganalisis lokasi kegiatan industri. Weber berdasarkan
teorinya bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan
tenaga kerja dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total
biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat
keuntungan yang maksimum. Dalam perumusan modelnya, Weber bertitik tolak
pada asumsi :
 Unit telaahan adalah suatu wilayah yang terisolasi, iklim yang homogen,
konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat, dan kondisi pasar adalah
persaingan sempurna.
 Beberapa sumber daya alam seperti air, pasir, dan batu bata tersedia di
mana-mana (equitous) dalam jumlah yang memadai.

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 4


 Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara
sporadic dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas.
 Tenaga kerja tidak ubiquitous (tidak menyebar secara merata) tetapi
berkelompok pada beberapa lokasi dengan mobilitas yang terbatas.
Penggunaan teknik lokasi yang dipilih untuk Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api akan ditentukan oleh berbagai kondisi setempat, terutama faktor
topohidrogeloginya.

3. Kelayakan Lingkungan
Sesuai Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 22 ayat 1 menyebutkan bahwa “Setiap usaha
dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib
memiliki Amdal“. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) adalah
kajian mengenai dampak penting suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan. Amdal memliki
berbagai fungsi diantaranya sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah,
membantu proses dalam pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari
rencana usaha/dan atau kegiatan, memberikan masukan dalam penyusunan
rancangan rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan, dan memberikan
informasi terhadap masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan.
Bagi usaha atau industri yang tidak termasuk pada kriteria wajib Amdal maka
wajib memiliki UKL UPL. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) adalah pengelolaan dan pemantauan
terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan Sedangkan usaha atau industri yang
tidak termasuk kriteria wajib UKL UPL maka hanya perlu memiliki surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL). Sehubungan
dengan kondisi yang semakin kompleks dalam hal penanganan dokumen maka
permasalahan yang sering dihadapi oleh komisi pengarah UKL-UPL adalah sebagai
berikut :
1. Masih kurangnya pemahaman pemrakarsa kegiatan yang tidak peduli terhadap
lingkungan sehingga walaupun mengetahui kegiatannya wajib UKL-UPL
mereka enggan memenuhi kewajibannya.
2. Bagi pemrakarsa dokumen UKL-UPL lebih dipandang sebagai instrumen
perijinan daripada instrumen pencegahan dampak lingkungan akibat dari usaha
dan/atau kegiatan yang dilakukan sehingga kontribusi di dalam pengelolaan
lingkungan hidup masih rendah.
3. Kualitas dokumen yang dihasilkan masih rendah sehingga tujuan ideal
pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak lingkungan
masih sebagai harapan bagi berbagai pihak.

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 5


4. Kurangnya kepedulian dari pemrakarsa untuk melaporkan kegiatan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan sebagaimana yang tercantum dalam dokumen
UKL-UPL.
Dari aspek lingkungan, kegiatan Kawasan Strategis Tanjung Api-api/ Tanjung
Api-api perlu untuk dilakukan analisis lingkungan (AMDAL atau UKL/UPL) terhadap
Dokumen Perencanaannya, Lokasi pembangunan kawasan industri sudah relevan
dengan RTRW Kabupaten Banyuasin. Dalam Dokumen AMDAL atau UKL/UPL,
akan dikaji resiko permasalahan lingkungan pembangunan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.1 Penanganan Dampak Lingkungan Pembangunan Kawasan Strategis

Jenis Kegiatan Resiko Dampak Penanganan Dampak


Tahap Pra Konstruksi
Sosialisasi Proses sosial Komunikasi yang baik
Penyediaan lahan Proses sosial Komunikasi yang baik Penetapan harga
pembebasan lahan yang bersifat win-win
solution (ganti untung)
Tahap Konstruksi
Penerimaan tenaga kerja Proses sosial Prioritas penggunaan tenaga kerja lokal.
Mobilisasi peralatan dan bahan Peningkatan Mobilisasi peralatan dan bahan
kebisingan menggunakan sarana transportasi yang
Pencemaran udara terstandar Mobilisasi peralatan dan bahan
dilakukan bukan di waktu puncak kesibukan
masyarakat, dan aktivitas istirahat malam
dari masyarakat.
Pembangunan di darat Peningkatan Proses konstruksi menggunakan peralatan
kebisingan dan proses yang terstandar Proses
Pencemaran udara konstruksi dilakukan bukan pada saat
aktivitas istirahat malam dari masyarakat.

Tahap Operasi
Penerimaan tenaga kerja Proses sosial Prioritas penggunaan tenaga kerja lokal.

Lalu lintas manusia dan barang Peningkatan aktivitas Pelebaran akses jalan Penyediaan rambu-
transportasi rambu transportasi Sosialisasi aturan lalu
lintas
Operasi genset Peningkatan kebisingan Perawatan genset Pemeliharaan kebersihan
Pencemaran
udara
Penanganan limbah padat Pencemaran limbah Manajemen pengelolaan sampah
padat
Penanganan limbah cair Pencemaran limbah Air sisa dari kegiatan operasi penangkapan
padat di proses melalui IPAL
Sumber : Tim Penyusun, Tahun 2018

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 6


4. Kelayakan Finansial
Analisa kelayakan finansial adalah landasan untuk menentukan sumber daya
finansial yang diperlukan untuk tingkat kegiatan tertentu dan laba yang bisa
diharapkan. Kebutuhan finansial dan pengembalian (return) bisa sangat berbeda,
tergantung pada pemilihan alternatif yang ada bagi sebagian besar usaha baru.
Faktor lain yang bisa mengubah kelayakan finansial dari usaha baru yang
dimaksudkan adalah jangkauan operasi. Produksi secara besar-besaran dari produk
baru mungkin membutuhkan investasi aset tetap yang besar dan mungkin biaya
unit yang relatif tinggi. Operasi skala kecil akan memerlukan investasi aset tetap
yang rendah. Walaupun biaya unit dari operasi skala kecil mungkin lebih tinggi,
konsentrasi usaha pemasaran pada pelanggan yang mau membayar harga yang
lebih tinggi juga akan memberikan tingkat pengembangan investasi (rate of return
on investment) yang memuaskan, tingkat pengembalian investasi dari operasi skala
besar mungkin kurang dari pada yang bisa diterima. Contoh-contoh tersebut
menunjukkan bahwa kelayakan usaha baru bergantung pada alternatif yang dipilih
untuk memulai usaha tersebut. Analisis kelayakan finansial dari usaha baru
memerlukan pemilihan alternatif untuk diterapkan. Pendekatan aanalitis bagi malah
ini dipusatkan pada empat langkah dasar:
 Penentuan kebutuhan finansial total dengan dana-dana yang diperlukan
untuk operasional.
 Penentuan sumber daya finansial yang tersedi serta biaya-biayanya, yaitu
berupa pencapaian sumber dan dana biaya modal.
 Penentuan aliran kas di masa depan yang bisa diharapkan dari operasi
dengan cara analisa aliran kas pada selang waktu yang relatif singkat,
biasanya bulanan.
 Penentuan pengembalian yang diharapkan melalui analisa pengembalian
dari investasi.

5. Kebijakan Publik Untuk Pengambilan Keputusan


Salah satu aspek penting dalam pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api adalah pengambilan keputusan untuk perencanaan ke depan.
Walaupun dari kebijakan publik pembangunan kawasan tersebut secara substansi
normatif telah ditetapkan dalam dokumen peraturan perundang-undangan,
pembangunan kawasan industri dan pelabuhan, penataan ruang serta peraturan
perundangan terkait, namun diperlukan pengambilan keputusan oleh lembaga
perencana yang mendasarkan pada realita dan sosial budaya setempat,
Tindakan untuk pengambilan keputusan dilakukan karena adanya berbagai
alternatif pilihan dalam kegiatan pengmbangan kawasan industri yang harus
diputuskan oleh pengambil keputusan (policy maker), dengan cara memaksimalkan
nilai manfaat yang akan diperoleh atas pertimbangan kendala dan resiko yang telah
diketahui. Dalam kajian ini proses pengambilan keputusan Kawasan Ekonomi
Khusus Tri Patria Tanjung Api-api, didekati dengan rangkaian tahapan, yaitu: (1)
mengidentifikasi manfaat dan resiko, (2) menetapkan kriteria dan bobot faktor
dan indikator untuk pengambilan keputusan, (3) menganalisis berbagai
PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 7
penilaian faktor dan indikator (4) melakukan satu pilihan dari berbagai alternatif
yang tersedia, (5) mengimplementasikan pilihan yang telah ditetapkan termasuk
memonitor dan mengevaluasi efektifitas pelaksanaan pengambilan keputusan.
Indikator manfaat dan resiko pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria
Tanjung Api-api menggunakan pendekatan 10 faktor kunci prospek keberhasilan
peruntukan lahan untuk pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Utama
yang merupakan model untuk membangun kawasan industri yang di masa depan
dapat berkembang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Faktor kunci tersebut
adalah: (1) demand analysis, (2) possibility of investment, (3) existing resources,
(4) availability of land and space, (5) infrastructure, (6) manpower intensive, (7)
security/social condition, (8) environmental aspect, (9) connectivity, dan (10)
regulation.
Terdapat berbagai metoda untuk menetapkan kriteria dan bobot indikator untuk
pengambilan keputusan, salah satunya adalah menggunakan metoda Trees
Expected Value (TEV) yang merupakan modifikasi dari Analysis Hirarky Process
(AHP). Metoda ini adalah bersifat kualitatif yang dikuantifikasi dengan
menggunakan nilai skor.
Melalui metoda “Dephy” oleh pakar yang tergabung dalam kajian ini dapat
ditetapkan kriteria dan pembobotan terhadap 10 faktor kelayakan pengembangan
Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api. Nilai skore berkisar antara 1
s/d 5, dengan kriteria: Skor 1 = tidak layak, Skor 2 =kurang layak, Skor 3 = layak,
Skor 4 = cukup layak dan Skor 5 = sangat layak. Hasil penilaian pada tahap ini
merupakan bobot nilai pada level kesatu. Selanjutnya pada masing-masing faktor
dilakukan penilaian dengan nilai skor dan kriteria yang sama pada level kesatu.
Hasil penilaian pada tahap ni merupakan bobot nilai pada level kedua yang
penilaiannya telah memperhitungkan hasil pembobotan pada level kesatu.

6. Lembaga Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api


Kegiatan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api adalah
diperuntukkan mendukung kawasan industri dan pelabuhan sebagai bagian
pengembangan KEK Kawasan Tanjung-Api-Api. Dengan demikian untuk Kawasan
Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api dapat dipertimbangkan dalam bentuk
Badan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api atau dalam
bentuk Kawasan Industri Tanjung Api-api (TCID-Tanjung Api-api Industrial
Development). Kelembagaan ini berfungsi untuk: (a) memberikan kepastian
perencanaan investasi untuk kegiatan kawasan industri dan pembangunan kawasan
industri dan pelabuhan (b) mengintegrasikan berbagai program kegiatan
pemerintah pusat dan daerah untuk saling mendukung terhadap prioritas
pembangunan kawasan (c) menyiapkan pola pengelolaan kawasan yang
mempunyai kewenangan dalam mengkoordinasi perencanaan, pelaksanaan
konstruksi dan pemanfaatan kawasan (d) menyiapkan bentuk kerjasama
pembiayaan yang bersumber dari anggaran pemerintah pusat dan daerah dengan
sektor swasta (KPS) serta (e) melidungi hak-hak masyarakat lokal dalam

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 8


memperoleh keadilan atas pemanfataan sumberdaya alam setmpat serta nilai
tambah pembangunan kawasan.

3.2.2 Satuan Unit Kajian


Dalam kajian kelayakan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung
Api-api digunakan dua satuan unit kajian, yang merupakan delineasi wilayah perencanaan FS.
Pertama, satuan wilayah Pembangunan Kawasan yang ditentukan oleh kelayakan
berdasarkan skenario perencanaan teknis Pembangunan Kawasan. Bersifat on- site, dengan
batas teknis relatif jelas ukuran dan dimensinya.
Kedua, satuan wilayah perencanaan FS yang ditentukan oleh kelayakan berdasarkan
pengaruh lingkungan makro dan mikro kewilayahan. Bersifat on-site dan off-site dengan
batas relatif dinamis tergantung cakupan kegiatan dalam perencanaan teknis Pembangunan
Kawasan dan wilayah yang dapat dipengaruhinya.

3.2.3 Kebutuhan Data dan Teknik Pengumpulan


Data dan informasi untuk penyusunan dokumen perencanaan FS Kawasan Ekonomi
Khusus Tri Patria Tanjung Api-api secara umum disesuaikan dengan pengelompokan pada
kerangka pikir yaitu :

1. Data dokumen kebijakan nasional dan daerah, terkait pengembangan Kawasan


Strategis Tanjung Api-api yang dituangkan dalam RPJP, RPJM, RTRW Nasional dan
Daerah Provinsi Sumatera Selatan maupun Pemerintah Kabupaten Banyuasin.
Dalam dokumen kebijakan yang lebih operasional, seperti MP3EI, Pengembangan
KEK Tanjung Api-Api, SSECD dan dokumen perencanaan teknis program sektoral
terkait pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api. Data
dan informasi ini merupakan data sekunder dalam bentuk tekstual, tabel dan peta
yang dapat diperoleh dari pihak pengguna dan instansi terkait maupun dari publikasi
resmi di internet.
2. Data kebijakan publik yang berupa peraturan perundang-undangan yang mengatur
dan mengendalikan pembangunan wilayah dan kawasan industri berat dan
pelabuhan yang menjadi dasar perencanaan teknis serta peraturan perundang-
undangan terkait dengan aspek pengelolaan lingkungan. Data dan informasi ini juga
merupakan data sekunder dalam bentuk tekstual yang dapat diperoleh dari pihak
pengguna maupun instansi terkait dari publikasi resmi di internet.
3. Data tentang kondisi eksisting kawasan perencanaan dari aspek:
a. Kondisi fisik dasar kawasan perencanaan seperti geografis, Iklim dan morfologi,
topografi, geologi, hidrologi, hidrogeologi, bathimetri, biologi, ekologi pantai,
aspek lingkungan, terumbu karang
b. Kondisi sumberdaya alam dan lingkungan
c. Kondisi Ekonomi regional seperti pertumbuhan sektor sub sektor ekonomi,
komoditas potensial dan unggulan, produk domestik regional bruto, potensi
pengembangan industri dan pasar

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 9


d. Kondisi sosial ekonomi dan budaya lokal, seperti jumlah dan
perkembangan penduduk, struktur kependudukan, usia, l/p, pendidikan,
lapangan kerja, budaya setempat, potensi budaya, adat istiadat terkait
pengembangan kawasan
e. Kondisi Infrastruktur, seperti jaringan jalan dan infrastruktur lainnya, pelayanan
utilitas listrik, telekomunikasi, air bersih, drainase
f. Kondisi transportasi wilayah dan kawasan, seperti moda transportasi, pola
pergerakan, ketersediaan fasilitas transportasi

Data dan informasi ini selain merupakan data sekunder juga merupakan data primer
hasil konsultasi, wawancara dan pengamatan di lapangan. Disajikan dalam bentuk tekstual,
tabel dan peta yang dapat diperoleh dari pihak pengguna dan instansi terkait maupun dari
publikasi resmi di internet.
Mengenai data primer yang berfungsi untuk melengkapi data sekunder dilakukan
dengan mencermati kondisi faktual fisik prasarana, biologi dan sosial ekonomi serta sosial
budaya masyarakat yang dilakukan dengan metoda “rapid apraisal survey” yaitu pengamatan
cepat secara langsung di lapangan dan menelaah potensi kelayakan dan kendala yang
mungkin timbul dalam kegiatan. Dalam pelaksanaan survey cepat tersebut dilakukan
wawancara informal dengan beberapa responden yang mempunyai informasi mengenai
kondisi sosial ekonomi dan sosial budaya masyarakat. Responden tersebut merupakan titik-
titik kunci yang merupakan jaringan kehidupan dalam bermasyarakat antara lain tokoh
masyarakat, manajer lembaga keuangan setempat, nelayan, operator/pemilik perahu untuk
transportasi, pemilik warung makanan dan minuman, pedagang ikan, pejabat pelabuhan yang
bertugas di kawasan tersebut serta penduduk lokal yang mengetahui perkembangan nilai
tanah. Tujuan wawancara adalah untuk menggali seberapa besar masyarakat mengetahui
tentang rencana kegiatan, bagaimana persepsi masyarakat setelah mengetahui kepastian
rencana serta menggali masukan dan keinginan masyarakat dalam pelaksanaan.

3.2.4 Teknik Pengolahan dan Analisis


Teknik pengolahan dan analisis data disesuaikan dengan kebutuhan sebagaimana
telah ditetapkan dalam tujuan pada KAK, yaitu: (1) tersusunnya dokumen perencanaan
dan hasil analisa studi kelayakan Tanjung Api-api (2) teridentifikasinya lokasi Tanjung Api-api
yang layak untuk kawasan pengembangan industri dan pelabuhan serta (3) adanya
rekomendasi layak atau tidak layak Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api.
Sesuai dengan tujuan tersebut, teknik pengolahan dan analisis yang dipergunakan
disesuaikan dengan aspek yang akan dibahas serta kepentingannya, di antaranya adalah: (1)
deskriptif-normatif untuk menganalisis kondisi kebijakan dan keadaan wilayah dengan
uraian-uraian kaidah, norma, pengertian, penafsiran serta penjelasan terhadap
karakteristik kawasan beserta kecenderungannya (2) keruangan/spasial. untuk menganalisis
gejala-gejala yang sifatnya meruang, perkembangan tata ruang, penyebaran, dan
interaksinya. (3) prediksi-extrapolatif: untuk menganalisis keadaan pada saat ini ke arah masa
datang menggunakan proyeksi dengan melihat perkembangan dan kecenderungan dari
komponen-komponen analisis yang sifatnya lebih terukur. Perlu dikemukakan bahwa
dalam penyusunan perencanaa kelayakan tersebut tidak terlepas dari asumsi sebagai dasar

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 10


untuk memberikan anggapan- anggapan atas kondisi yang berlaku maupun yang diperkirakan
akan berlangsung di kemudian hari. Analisis ini terutama mendasarkan pada kondisi yang
dipersepsikan akan terwujudnya Kawasan Industri dan Pelabuhan Tanjung Api-api. Secara
lengkap, analisis yang dibutuhkan, meliputi:

1. Analisis Ketentuan Hukum Pengembangan Kawasan


a. Arahan peruntukan ruang (RTRW Provinsi dan Kabupaten) yang
memberikan arahan pengembangan Tanjung Api-api.
b. Ketentuan dan syarat alokasi lahan untuk kawasan industri dan pelabuhan
c. Arahan program sektoral terkait pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tri
Patria Tanjung Api-api

2. Analisis Kelayakan Fisik dan Tata Ruang


a. Daya dukung tanah kawasan dari jenis dan sedimentasi
b. Kondisi topohidrologi kelautan (kedalaman laut, terumbu karang, pola aliran,
arah dan kekuatan Arus)
c. Dampak fisik terhadap kawasan sekitar

3. Analisis Kelayakan Lingkungan


a. Prakiraan kegiatan pantai yang berpotensi menimlukan dampak terhadap
komponen lingkungan kawasan setempat dan sekitarnya
b. Keberadaan kawasan sensitif hutan mangrove, biota laut dan potensi perikanan
yang menjadi sumber pokok kehidupan nelayan
c. Jenis dampak, lokasi, besaran dan kharakteristik dampak d. Arahan dalam
mengurangi dan mengatasi dampak

4. Analisis Kelayakan Sosial Budaya


a. Ketersediaan tenaga kerja skill/ unskilled dalam bidang industri daan pelabuhan
b. Tingkat pendidikan masyarakat
c. Sumber kehidupan pokok masyarakat
d. Persepsi masyarakat terhadap rencana kawasan industri
e. Potensi dan kendala sosial budaya dalam pelaksanaan
f. Peluang keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan serta kegiatan
kawasan industri dan pelabuhan

5. Analisis Kelayakan Finansial dan Ekonomi


a. Sektor-sektor potensial dan unggulan yang ada
b. BCR, IRR, NPV untuk memperkirakan prospek investasi.
c. Dampak terhadap pembangunan wilayah.

6. Analisis Kebutuhan Pengembangan Infrastruktur dan Transportasi


a. Pergerakan angkutan barang dan orang dalam wilayah dan keluar wilayah
b. Aksesibilitas kawasan terhadap wilayah sekitar
c. Ketersediaan/ pelayanan sarana & prasarana transportasi

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 11


d. Kebutuhan pengembangan infratruktur pendukung kawasan pelabuhan
e. Kebutuhan pengembangan infrastruktur pendukung kawasan industri

3.2.5 Kelayakan dan Konsep Pengembangan


Kajian ini diharapkan memberi output sebagai berikut:
1. Kesimpulan dan Rekomendasi Kelayakan Pengembangan Kawasan
a. Kelayakan fisik dan teknologi dalam pengembangan kawasan
b. Tanjung Api-api
c. Kelayakan lingkungan dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tri
Patria Tanjung Api-api
d. Kelayakan ekonomi & finansial
e. Pengambilan keputusan Kawasan Ekonomi Khusus Tri Patria Tanjung Api-api
f. Penataan kelembagaan pengembangan kawasan
Untuk memperkuat dasar penarikan kesimpulan, dilakukan Focused group discussion
(FGD), untuk membahas seluruh hasil pekerjaan dan menjaring masukan untuk rekomendasi
dan mkoknsep pengembangan kawasan.
2. Penyusunan Rekomendasi
a. Apabila kesimpulan yang dihasilkan menuhi Syarat Kelayakan
Pengembangan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun konsep rencana
pengembangan kawasan.Tanjung Api-api.
b. Apabila kesimpulan yang dihasilkan tidak Memenuhi Syarat Kelayakan
Pengembangan, maka akan disusun rekomendasi fungsi yang sesuai bagi
pengembangan kawasan.

PENDEKATAN DAN METODOLOGI|3 - 12