Anda di halaman 1dari 40

ALUR PASIEN ICU

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr.Nurul Mufti, MARS

ALUR PASIEN MASUK DAN KELUAR ICU

RS LAIN

UGD
EVALUASI OLEH
DOKTER ICU INSTALASI
RAWAT JALAN

INSTALASI
RAWAT INAP

Diantar Indikasi ( - ) DITOLAK


MASUK ICU
MASUK ICU KELOLA INTENSIF :
 Pengobatan dan Perawatan Baik Dijemput PINDAH RUANGAN
Intensif
 Dokter ICU ( Intensifis ) Indikasi Keluar (+) TETAP DIRAWAT /
 Perawat Mahir Status Quo/Vegetatif RUJUK / PULANG
 Konsultan ( Konsultantif ke APS
SMF lain)
Meningal Dijemput KAMAR JENAZAH

Catatan :
 Diantar / dijemput s/d Pintu Keluar / masuk ICU
 Pasien dari luar mengikuti ketentuan dari Rumah Sakit
PENERIMAAN PASIEN ICU

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di ICU yang


PENGERTIAN mengalami kegawatan.
Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu –
waktu agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan
TUJUAN
pemantauan intensif sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.

1. Pasien dirawat di ICU harus memenuhi persyaratan / indikasi


yang telah ditentukan.
2. Dokter jaga ICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi
KEBIJAKAN tersebut.
3. Penolakan pasien masuk ICU hanya oleh konsulen ICU yang
bertanggung jawab saat itu.

PROSEDUR
1. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD,
IMC, RR ) memberi tahu terlebih dahulu ke ICU bahwa akan
ada pasien masuk dan dokter ICU sendiri memberipersetujuan.
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed ICU
dilengkapi dengan status pasien dan trolley emergency.
3. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang
lengkap.
4. Memasang oksigen, bed side monitor, ventilator ( jika diperlukan )
5. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian ICU
6. Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan
dan suhu.
7. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil,
fungsi motorik, dll.
8. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang sebelumnya.
9. Memasang dan atau mengalirkan dower khateter, NGT, drain,dll.
10. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
11. Melaporkan dokter ICU jika terjadi perubahan.
12. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata
tertib ICU.
13. Membuat Renpra.
14. Memasukkan data pasien ke register rakam medik ( RM ).
15. Memberi terapi sesuai program.
16. Mengadakan komunikasi dengan keluarga pasien minimal
sekali dalam sehari ( terutama pada waktu kunjungan keluarga ).

1. UGD
UNIT TERKAIT
2. Rawat Inap
3. Rawat Jalan
PEMINDAHAN PASIEN DARI ICU KE RAWAT INAP

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu prosedur memindahkan pasien dari ICU pada pasien yang


PENGERTIAN kondisinya sudah terbebas dari kegawatan.
1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah
tidak memerlukan lagi fasilitas ICU dapat dilanjutkan di
ruang rawat inap biasa.
TUJUAN 2. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan
perawatan di rawat inap berkesinambungan dengan pengobatan
dan perawatan di ICU, agar dapat dicegah berulangnya
kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.
Pemindahan pasien dari ICU ke rawat inap dilakukan oleh petugas
KEBIJAKAN
ruang dan dilakukan timbang terima di ICU
1. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari
ICU dan meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut.
2. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk
menjemput pasien dari ICU.
3. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan sarat –
sarat tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap,
yang di serah terimakan adalah :
a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.
b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
PROSEDUR
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan
deteksi dini apabila timbul kegawatan kembali.
c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik
yang sudah selesai maupun yang belum.
6. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai dengan pengantar dari
dokter ICU.
7. Memberikan pesan agar menghubungi ICU kembali apabila
terdapat hal – hal yang belum jelas atau atau terjadi
kegawatan ulang.
8. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung
jawab perawat dan dokter ruang rawat inap.
Unit Rawat Inap
UNIT TERKAIT
RESUSITASI JANTUNG PARU

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu tindakan emergensi untuk mengatasi keadaan henti jantung


PENGERTIAN dan atau henti nafas.
Menyelamatkan kehidupan :
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau respirasi melalui pengenalan
dan intervensi segera.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi
TUJUAN
melalui RJP.
3. Memberikan oksigenasi kepada otak, jantung dan organ –
organ vital lainnya serta mengembalikan fungsi jantung dan
ventilasi yang normal.
KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan oksigenasi
1. Pastikan adanya henti nafas dan atau henti jantung.
2. Mintalah pertolongan.
3. Posisikan pasien terlentang.
4. Pasang pengalas keras.
5. Atur posisi penolong :
a. Penanganan airway ( posisi pada bagian atas kepala )
b. Penanganan sirkulasi ( posisi bagian samping bahu kanan pasien)
c. Penyedia obat ( posisi dekat dengan emergensi troli )
PROSEDUR
d. Leader
6. Beri bantuan nafas dengan ambubag
7. Lakukan kompresi jantung ( 30 : 2 )
8. Berikan obat – obat emergensi sesuai ketentuan.
9. Lakukan tindakan sesuai algoritm.
10. Jika berhasil siapkan untuk penanganan lebih lanjut.
11. Dokumentasikan tiap langkah kegiatan.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. UGD
3. Sijangmed
TERAPI OKSIGEN

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Terapi O2 merupakan salah satu terapi pernafasan dalam


PENGERTIAN mempertahankan oksigenasi.
1. Mengatasi keadaan hipoksia
2. Menurunkan kerja pernafasan
3. Menurunkan beban kerja otot jantung ( miocard )
Indikasi :
1. Pasien dengan kadar O2 yang diketahui melalui hasil AGD / BGA.
2. Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh berrespon
terhadap keadaan hipoksia melalui peningkatan laju dan dalamnya
pernapasan, serta adanya kerja otot – otot
tambahan pernapasan.
TUJUAN
3. Pasien dengan peningkatan kerja jantung dimana jantung berusaha
untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa
jantung yang lebih kuat.
4. Pada pasien selama dan sesudah pembedahan.
Kontra Indikasi :
1. Mutlak tidak ada.
2. Untuk PPOM berat pemberian O2 dimulai dengan 2 LPM
dinaikkan secara bertahap.

KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan oksigen


Persiapan alat :
1. Sentral oksigen, tabung O2, manometer set, flow meter,
humidifier.
2. Catheter nasal / kanul nasal / sungkup muka sederhana /
sungkup muka dengan kantong udara / sungkup muka dengan
parsial rebreathing.
Langkah – langkah :
1. Kateter nasal / Kanul nasal :
PROSEDUR a. Cuci tangan.
b. Memberi tahu pasien.
c. Isi tabung humufider dengan water for irigation batas yang
tertera.
d. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen /
sentral oksigen.
e. Cek fungsi flow meter dan humufider dengan memutar
pangatur konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya
gelembung udara dalam tabung flow meter.
f. Menghubungkan kateter nasal / kanul nasal dengan flow meter.
g. Alirkan oksigen ke :
Kateter nasal dengan aliran antara 1 – 6 lt/mnt.
Kanul nasal dengan aliran antara 1 – 6 lt/mnt.
h. Cek aliran kateter nasal / kanul nasal dengan menggunakan
panggung tangan untuk mengetahui ada tidaknya aliran oksigen.
i. Pasang alat kateter nasal / kanul nasal pada klien.
j. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir sesuai yang
diinginkan.
k. Cuci tangan.
l. Rapikan peralatan kembali.
m. Dokumentasikan pada status klien.
2. Sungkup muka partial rebreathing.
a. Cuci tangan.
b. Memberi tahu pasien.
c. Isi tabung humidifier dengan water for irigation setinggi
batas yang tertera.
d. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen /
sentral oksigen.
e. Cek fungsi flow meter dan humidifier dengan memutar
konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara
dalam tabung flow meter.
f. Menghubungkan sungkup muka partial rebreathing
dengan flow meter.
g. Alirkan oksigen ke sungkup muka partial rebreathing
dengan aliran udara 8 – 12 lt/mnt.
h. Cek aliran oksigen ke sungkup dengan cara menutup
sungkup dengan salah satu tangan dan amati aliran
oksigen yang masuk ke dalam kantong.
i. Pasang alat sungkup muka partial rebreathing pada
klien.
j. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir
sesuai dengan yang diinginkan.
k. Cuci tangan.
l. Rapikan peralatan kembali.
m. Dokumentasikan pada status klien.
3. Hal – hal yang harus diperhatikan :
a. Bandingkan hasil PaO2, SaO2, SpO2 klien sebelum dan
sesudah pemberian O2.
b. Kaji dan bandingkan status pernapasan sebelum dan
sesudah pemberian O2.
c. Cek kulit dan membran mukosa klien.
d. Cek kepatenan alat.
e. Observasi adanya keluhan terutama mual dan muntah.
f. Tanyakan kenyamanan terhadap terapi O2

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Intalasi Farmasi
MONITOR SATURASI OKSIGEN

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Monitor saturasi oksigen merupakan tekhnik monitoring non


PENGERTIAN invasive untuk mengukur saturasi oksigen arteri dan fungsi
hemoglobin, nilai normal 97 – 99 %
Diagnostik :
1. Menilai data dasar saturasi oksigen yang merupakan bagian
pengakajian oksigenasi.
2. Deteksi dini terhadap perubahan saturasi yang sering berubah
TUJUAN
terutama pada keadaan kritis.
3. Mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas oksigenasi
pasien seperti suction, reposisi, merubah konsentrasi O2.

KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan oksigen


1. Persiapan alat : Pulse oximeter beserta sensornya.
2. Cara kerja :
a. Cuci tangan.
b. Lokasi tempat sensor dibersihkan dari darah / kotoran lain.
c. Pilih sensor yang tepat sesuai lokasi tempat sensor.
d. Sambungkan oximeter dengan menekan tombol power on / off.
e. Set alarm secara tepat dan cek fungsi lainnya.
PROSEDUR
f. Untuk mematikan tekan kembali tombol power on / off.
g. Sambungkan sensor lempeng / klip pada tangan / kaki /telinga.
3. Hal – hal yang harus diperhatikan :
Lokasi tempat penempatan sensor.
a. Sensor klip ditempatkan pada jari telunjuk tangan atau telinga
b. Sensor lempeng di tempatkan pada jari – jari, ibu jari kaki,
hidung

UNIT TERKAIT Unit Rawat Intensif


ASISTENSI INTUBASI

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

PENGERTIAN Suatu tindakan memasukkan pipa endotrachea ke dalam trachea

1.Membebaskan jalan nafas.


TUJUAN 2. Untuk pemberian pernafasan mekanik.
3. Untuk mempermudah penghisapan sekresi.
KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan oksigen
PROSEDUR Persiapan alat :
1. Laringoscope dengan bilah yang sesuai.
2. Magills untuk membantu memasukkan pipa.
3. Maudrin ( bila ada kesulitan saat memasukkan tube )
4. OTT / NTT sesuai dengan kebutuhan pasien
5. Xylocain jelly
6. Sarung tangan
7. Obat – obatan untuk persiapan intubasi antara lain :
Sedasi : midazolam, propofol, pentotal
Muscle relaxan : Succinyl cholin, rocuronium,atracurium,
vecuronium.
8. Xylocain spray / semprot.
9. Pressure cuff / spuit cuff.
10. Guedell / mayo.
11. Stetoscope.
12. Suction catheter untuk menghisap sekresi.
13. Emergency trolly yang berisi obat – obat emergency.
14. Air viva, face mask untuk oxigenasi.
15. Plester / pita untuk fiksasi.
16. Suction dinding / sentral / manual.

Cara Kerja :
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur pada pasien.
3. Cek suction sentral dan atur tekanan antara 100 – 200 mmHg
atau suction manual dan sambungkan selang catheter steril.
4. Nilai kesadaran pasien, bila sadar diberitahu.
5. Bersihkan jalan nafas dengan cara suctioning.
6. Sambungkan pasien ke EKG monitor dan ukut tensi, nadi dan
pernafasan ulang, saturasi oksigen.
7. Posisi pasien terlentang / flat dan ekstensikan leher pasien
( sesuaikan dengan kondisi pasien ).
8. Bantu tindakan intubasi sesuai dengan tahapannya.
9. Ikat selang trakea / trakeostomi dengan tali / plester.
10. Bereskan peralatan dan dokumentasikan tindakan.
Hal – hal yang perlu di perhatikan :
1. Keadaan umum pasien, terutama tensi, nadi dan pernafasan,
saturasi, oksigen.
2. Monitoring EKG
3. Pengisian cuff ( balon )
4. Fiksasi
5. Penghisapan sekresi dengan tehnik yang semestinya.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Farmasi
3. Sijangmed
EXTUBASI

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Pengangkatan pipa endotrachea dari trachea


PENGERTIAN

1. Sebagai tahap akhir proses penyapihan dari ventilator.


2. Pasien sudah tidak mengalami sumbatan ( potensial sumbatan
jalan nafas )
3. Supaya pasien dapat bernafas seperti semula.
4. Dapat berbicara dan menelan seperti biasa.
5. Supaya pasien dapat batuk dengan efektif dan dapat
mengeluarkan sputum sendiri.
Indikasi :
1. Pasien sudah kompos mentis dan kooperatif.
TUJUAN 2. Tensi nadi dan pernafasan normal.
3. Suhu badan tidak panas karena bila sebelum panas kebutuhan
oksigen meningkat dan metabolisme naik.
4. Bisa batuk secara efektif.
5. Hasil thorax foto terakhir keadaannya bersih, tidak ada retensi
sputum.
6. Tidak ada gejala hypoxia, hiperkarbi dan tachikardi.
7. Tidal volume cukup.
8. Hasil AGD normal individual.

Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses


KEBIJAKAN
penyembuhan.
PROSEDUR Persiapan alat :
1. Laringoscope
2. Peralatan suction yang lengkap
3. Spuit cuff.
4. Pinset, spirometer
5. Alat – alat untuk memberikan pelembaban dan oksigen.
misal = O2 + NRM
O2 + binasal
6. Peralatan lengkap untuk intubasi

Cara kerja :
1. Pertama ukur nadi, tensi, suhu dan pernafasan, kesadaran.
2. Ukur TV pasien
3. Periksa AGD
4. Bila ada instruksi dokter ( misal : dexametason )
5. Beritahu pasien untuk pengangkatan pipa pernafasan.
6. Lakukan penghisapan sekresi sampai bersih dan cuff dikempeskan.
7. Lepaskan fikasasi tube
8. Waktu pengangkatan tube, suction katheter yang baru harus
berada di dalam sambil tube diangkat ( jangan dipakai suction
katheter bekas untuk membersihkan mulut )
9. Selesai pengangkatan tube pasang NRM.
10. Satu jam kemudian periksa AGD ulang.

Hal – hal yang harus diperhatikan :


1. Terutama keadaan umum pasien.
2. Ukur tensi, nadi dan pernafasan, kesadaran.
3. Perhatikan apakan ada stridor dan kelainan pernafasan lain.

1.Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2.Instalasi Farmasi
3.Sijangmed
PERAWATAN BALON ( CUFF )
DI ENDOTRACHEA ( ETT )

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Pengertian balon pipa trachea merupakan cara untuk


PENGERTIAN mempertahankan tekanan pada balon ETT tetap normal ( 15 – 25
mmHg )
1. Mempertahankan posisi tube dan oksigenasi jaringan.
2. Mencegah aspirasi dan kerusakan jaringan mukosa sekitar cuff.

TUJUAN Indikasi :
Dilakukan pada pasien yang terpasang pipa trachea atau pipa
tracheostomy dengan cuff

1. Pemenuhan kebutuhan oksigen


KEBIJAKAN 2. Pemenuhan kebutuhan keamanan.

PROSEDUR 1. Persiapan :
Persiapan alat :
a. Personalia : 1 orang perawat.
b. Perlengkapan :
o Cuff inflator ( portex )
o Selang konektor ( dipakai untuk monitoring
tekanan cuff secara kontinyu )
2. Cara kerja :
Pengisian balon ETT :
a. Cuci tangan
b. Suctioning pasien dan suruh pasien untuk batuk
c. Sambungkan katup pilot balon dengan alat cuff inflator,
kempeskan cuff dengan menekan tombol merah sampai
mencapai nilai nol.
d. Untuk pengisian balon ETT, pompakan alat cuff inflator
dengan memijat balon karret inflator sampai mencapai
angka dibawah tanda merah ( 30 mmHg ) kemudian
turun sedikit sampai pada angka normal ( tekanan
normal 15 – 25 mmHg )
3. Monitoring tekanan balon ETT ( Cuff ) secara terus menerus:
a. Cuci tangan.
b. Sambungkan katup pilot balon dari pipa tracheostomy
atau endotracheal ke slang konektor.
c. Sambungkan ujung slang konektor lainnya ke alat cuff inflator.
d. Pompakan cuff inflator secara cepat sampai batas nilai
normal ( tanda hijau 15 – 25 mmHg ) kemudian lepaskan.
e. Gunakan pengait belakang cuff inflator untuk
menempatkan cuff inflator pada tempat yang aman dan
untuk dimonitor.

Perhatian :
1. Untuk mengempeskan balon ETT, tekan tombol merah untuk
menurunkan tekanan.
2. Pada tekanan cuff diatas 25 mmHg dapat menyebabkan
iskhemik jaringan sekitar cuff.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Bagian Anastesi
3. Sijangmed
INHALASI

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ / 1 1/2
2019
Tanggal Terbit Di Tetapkan
Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Terapi inhalasi adalah terapi penghirupan partikel udara yang


PENGERTIAN mengandung obat selama inspirasi.
1. Hidrasi, dan pembersihan jalan nafas.
2. Mengencerkan sekret.
TUJUAN
3. Pemberian obat.

1. Memenuhi kebutuhan oksigen


KEBIJAKAN 2. Ada instruksi medis tentang program pemberian terapi inhalasi.

PROSEDUR Persiapan :
1. Persiapan alat :
a. Hansel mask ( masker inhalasi )
b. Oksigen sentral / tabung
c. Flow meter yang berisi air
d. Obat bronkodilator ( misal : ventolin, bisolvon, solution,
alupent )
e. Aqua for injection
2. Persiapan pasien :
a. Jelaskan tujuan dan langkah prosedur kepada pasien /
keluarga.
b. Posisikan pasien semi fowler.
Langkah – langkah :
1. Cuci tangan
2. Tempatkan obat bronkodilator pada reservoar masker ( pada
obat tertentu memerlukan pengenceran dengan aqua for injection )
3. Sambungkan selang oksigen ke flow meter, alirkan oksigen
6 – 8 lt/menit.
4. Cek adanya penguapan obat, bila ada letakkan masker
menutupi mulut dan hidung pasien.
5. Instruksikan pasien untuk nafas dalam – dalam, lambat sambil
menghirup partikel uap obat sampai obat habis.
6. Observasikan pengembangan dada pasien, lakukan auskultasi.
7. Setelah obat habis, lepaskan masker dan anjurkan pasien
untuk membatukkan sekret yang ada atau dilakukan
penghisapan dengan lembut.
8. Monitoring adanya sesak napas dan perubahan tanda vital
selama terapi.

Hal – hal yang perlu di perhatikan :


Perubahan tanda vital pasien.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Laboratorium
3. Instalasi Farmasi
SUCTIONING

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suctioning merupakan tindakan mengangkat sekresi yang terdapat


PENGERTIAN pada dinding bronchus atau trachea. Tindakan ini dilakukan pada
pasien yang terpasang ET, TT.
1. Mengangkat secret yang tidak bisa dikeluarkan sendiri atatu
dibatukkan oleh pasien.
2. Mengurangi penumpukan CO2 di paru – paru.
TUJUAN
3. Mencegah terjadinya bronchopneumonia.
4. Memperlancar sirkulasi dan perfusi ke seluruh jaringan.

KEBIJAKAN Pemenuhan kebutuhan oksigen.


PROSEDUR Persiapan alat :
1. Peralatan oksigenasi : air viva, oksigen + selang.
2. Peralatan suction yang lengkap : suction dinding, selang
suction, tubing / kateter suction steril yang sesuai dengan
usia dan nomor.
3. Sarung tangan steril atau pinset steril.
4. Ember yang berisi larutan savlon untuk tempat suction kathbekas.
5. Handuk untuk alas dada.
Cara kerja :
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur pada pasien.
3. Observasi saturasi, nadi, pernapasan, tekanan darah, dan
irama EKG.
4. Berikan oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui air viva
atau ventilador.
5. Atur tekanan pada suction, bayi = 60 – 100 mmHg,
Dewasa = 120 – 200 mmHg.
6. Gunakan sarung tangan atau pinset steril.
7. Pilih kateter suction yang sesuai dengan umur pasien dan
ukur ETT / TT ( 1/3 diameter ERR / TT ).
8. Sambungkan kateter suctioning pada selang suction.
9. Lakukan ventilasi dengan air viva 3 x, dengan oksigen
12 – 15 lt / menit.
10. Masukkan kateter dalam keadaan terbuka, jika ada reflek
trachea angkat katheter 1 – 2 cm kemudian tutup kateter dan
angkat kateter dengan gerakan memutar ( lama tindakan 5 –
15 detik )
11. Berikan kembali oksigen dengan konsentrasi tinggi
12 – 15 lt/menit melalui air viva.
12. Perasat ini boleh diulangi sampai bersih / banyak berkurang.
13. Monitor kembali hemodinamik dan tana vital pasien.
14. Jika akan suction hidung dan mulut lakukan suctioning ETT
/ TT dahulu sampai selesai, kemudian suctioning hidung
dan yang terakhir adalah mulut.
15. Bilas selang kateter dengan air yang asa diember, matikan
suction dan buang suction pada ember penampung tersebut.
16. Alat – alat dirapikan kembali dan dokumentasikan.

1. Unit Rawat Intensif


2. Instalasi Farmasi
UNIT TERKAIT
3. Laboratorium
4. Sijangmed
PENGAMBILAN DARAH ARTERI

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

PENGERTIAN Suatu tindakan pengambilan darah arteri untuk pemeriksaan AGD.


Diagnostik
2. Mengetahui oksigenasi dan CO2
3. Membedakan status keseimbangan asam basa tubuh pasien.

Indikasi :
Pemeriksaan AGD diambil pada pasien yang mengalami gangguan
TUJUAN pernapasan dan keseimbangan asam basa.

Kontra indikasi :
1. Pasien dengan terapi antikoagulan
2. Riwayat gangguan pembekuan darah
3. Penyakit pembuluh darah perifer yang berat

KEBIJAKAN Pemenuhan kebutuhan oksigen


PROSEDUR Persiapan :
1. Persiapan etiket :
a. Nama pasien
b. Tanggal dan jam pengambilan
c. Pemakaian O2 pada waktu pengambilan AGD
2. Persiapan alat :
a. Spuit ukuran 2 ½ cc ( untuk dewasa ), jarum ukuran 23 G
b. Karet atau jenis lainnya
c. Desinfektan : kapas alkohol 70 % steril
d. Heparin

Cara kerja :
1. Cuci tangan
2. Spuit terlebih dahulu dibasahi dengan heparin, kemudian
heparin dikeluarkan dari spuit.
3. Lakukan Allen test
4. Tentukan tempat penusukan / pengambilan darah arteri
5. Desinfektan daerah tusukan dengan alkohol 70 % steril
6. Darah arteri yang diambil cukup ½ - 1 cc
7. Kemudian setelah cukup, jarum langsung di cabut,
dikeluarkan udara yang ada didalam spuit, posisi jarum diatas
tegak lurus ( cara mengeluarkan harus hati – hati, jangna
tercampur dengan udara luar atau memasukkan udara luar ke
spuit dapat mempengaruhi hasil, terutama PCO2 ), langsung di
tutup dengan karet.
8. Pada arteri bekas tusukan pengambilan langsung di tekan
dengan kapas alkohol 70 % steril dalam waktu lebih kurang
lima menit dan tekan yang lebih kuat, sampai darah berhenti keluar.
9. Beri etiket kuat, spuit yang berisi darah arteri tersebut
kemudian periksa.

Hal – hal yang perlu diperhatikan :


1. Lokasi :
Arteri radialis ( diutamakan ), arteri brakhialis, arteri
femoralis, arteri dorsopedis.
2. Bila darah baru bisa diperiksa setelah lebih dari 15 menit
maka darah harus di simpan dulu di lemari es atau termos es,
agar komponen darah tidak rusak dan mencapai hasil yang aktual.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Farmasi
3. Laboratorium
PENGAMBILAN BAHAN PEMERIKSAAN
KULTUR DAN SENSITIVITAS

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu cara pengambilan baik berupa urin, darah, sputum ataupun


PENGERTIAN ujung kateter vena sentral, guna pemeriksaan biakan kuman dan
uji sensitivitas antibiotik dari bahan tersebut.
Diagnostik : Mencari data pengkajian guna menegakkan diagnosa
medis keperawatan.
Terapi : Mengevaluasi efisiensi tindakan atau terapi kedokteran /
keperawatan.
Indikasi :
1. Pasien yang dirawat di ICU selama 3 hari atau lebih.
TUJUAN
2. Pasien yang terpasang kateter CVC, peralatan invasif dan non
invasif lainnya.
3. Pasien dengan infeksi sistemik atau lokal.
4. Penggunaan antibiotik sebelumnya tidak adekuat.
5. Ada instruksi medis tentang pemeriksaan kultur dan sensitivitas.

Pemenuhan kebutuhan pengobatan dan membantu proses


KEBIJAKAN
penyembuhan.
PROSEDUR KULTUR DAN SENSITIVITAS DARAH
1. Persiapan alat dan bahan :
a. Spuit 5 cc
b. Alkohol 70 % steril
c. Botol kultur / batek
d. Kapas / kassa steril
e. Torniquet / karet pembendung
2. Cara kerja :
a. Cuci tangan dan persiapkan alat.
b. Instruksikan pasien untuk meletakkan tangan dan pilih
vena yang baik untuk ditusuk.
c. Letakkan torniquet diatas tempat penusukkan.
d. Lihat dan palpasi vena dan bersihkan daerah tersebut
dengan alkohol 70 % kemudian keringkan.
e. Tekan vena yang akan ditusuk dengan jari., kemudian
tusuk dibawahnya dengan ketinggin 5 – 350, masukkan
jarum kedalam vena.
f. Lepaskan torniquet.
g. Arsipkan spuit sampai didapat darah minimal 5 cc.
h. Tarik jarum dan tekan daerah tusukan dengan kassa
steril selama 2 – 4 menit.
i. Masukkan darah tersebut sebanyak 5 cc kedalam botol
kultur / batek.
Catatan :
Tindakan ini dilakukan dengan tehnik steril.

KULTUR DAN SENSITIVITAS SPUTUM


1. Persiapan alat :
a. Sarung tangan steril
b. Mucus extractor steril ( selang suction dengan
kontainer ) atau jika tidak tersedia dengan selang suction
steril dan spuit steril 10 cc.
c. Peralatan suction.
d. Personal : 2 orang perawat.
e. Lokasi : suctioning melalui endotrakeal tube,
tracheostomy tube, hidung.
f. NaCL 0,9 % steril, 2 – 6 cc.
2. Cara kerja :
a. Cuci tangan
b. Hidupkan mesin suction
c. Beri oksigen 100 %
d. Gunakan sarung tangan steril, tangan kiri memegang
selang dari alat suction.
e. Instruksikan perawat lain untuk memegang selang dari
alat suction.
f. Instruksikan perawat lain untuk membuka mucus
extractor dan pegang dengan tangan dan jaga tetap steril.
g. Instruksikan perawat lain untuk memegang ET / ETT
dan membuka jalan nafas pasien ( jika menggunakan
ventilator atau oksigen, dilepas terlebih dahulu )
h. Masukkan selang mucus refractor ke dalam jalan nafas
dalam keadaan menghisap dan setelah sampai diatas
karina sedot sputum secara perlahan dengan arah memutar.
i. Jika sputum sulit diangkat karena sputum sangat kental
atau sedikit, terlebih dahulu beri NaCL 0,9 % 2 cc,
kemudian di bagging dengan O2 100 %, baru dilakukan
penghisapan.
j. Jika selang mikus refractor tidak cukup panjang atau
terlalu besar, dapat dilakukan penghisapan dengan
selang suction steril yang sesuai kemudian selang
dipotong dengan gunting steril dan dimasukkan ke
dalam spuit 10 cc steril.
k. Jika sudah didapat sputum dalam extractor, ikat kedua
selangnya dan siap dikirimkan.
l. Turunkan konsentrasi oksigen sesuai dosis semula.
3. Hal – hal yang harus diperhatikan :
Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril.

KULTUR DAN SENSITIVITAS URINE :


1. Persiapan alat : bahan
a. Spuit steril 10 cc → 2 buah
b. Alkohol 70 % atau betadin
c. Kassa steril
d. Sarung tangan steril
e. Klem
f. Bengkok
2. Cara kerja :
a. Klem kateter urine 1 jam
b. Cuci tangan dan persiapan alat
c. Gunakan sarung tangan
d. Bersihkan ujung kateter dengan alkohol 70 % atau
betadine
e. Aspirasi urine sebanyak 10 cc dengan spuit steril untuk
bahan kultur
f. Alat – alat dibereskan dan tangan
3. Hal – hal yang harus diperhatikan :
Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril

KULTUR DAN SENTIVITAS KATETER CVP


1. Persiapan alat :
a. Sarung tangan steril
b. Alkohol 70 %
c. Spuit steril 10 cc
d. Forceps steril
e. Gunting steril
f. Bengkok
2. Cara Kerja :
a. Cuci tangan, alat disiapkan
b. Bersihkan kulit disekitar tusukan dan daerah tusukan
dengan alkohol 70 % tidak dengan betadine
c. Tarik kateter dengan forceps steril, hindari ujung kateter
mengenai kulit.
d. Kateter bagian distal ( ujung ) dipotong sepanjang 5 cm
dengan gunting steril dan dimasukkan ke dalam spuit
dan dikirim ke mikrobiologi.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Laboratorium
3. Instalasi Farmasi
CHALLENGE TEST

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Penambahan cairan extra untuk meningkatkan volume cairan


PENGERTIAN tubuh / preload yang tidak identik dengan tekanan atrium kanan
sebagai testing atas keadaan hemodinamik.
Untuk mengukur kekurangan / deficit cairan melalui tekanan vena
sentral.
Indikasi :
Hypovolemik oleh karena kehilangan banyak cairan atau darah
atau juga oleh karena pemberian obat – obatan vasodilator.
TUJUAN
Kontra indikasi :
Dekompensasi jantung
Edema paru ( relatif )
Ada instruksi medis untuk melakukan challenge test.

KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit


1. Persiapan alat : cairan koloid / kristaloid
2. Cara kerja :
a. Memberikan cairan melalui infus selama 10 menit
b. Bila : CVP < 8 cm H2O → guyur cairan ( RL ) 200 cc
c. Bila : CVP 8 – 14 cm H2O → guyur cairan ( RL )100 cc
d. Bila : CVP > 14 cm H2O → guyur cairan ( RL ) 50 cc
PROSEDUR
3. Hal – hal yang harus diperhatikan :
a. Bila CVP naik 0 – 2 cm H2O → coba guyur sebanyak
jumlah semula
b. Bila CVP naik 2 – 5 cm H2O → guyur ½ dosis
c . Bila CVP naik 5 cm H2O → tidak perlu

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Instalasi Farmasi
KOREKSI ALBUMIN

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Menambahkan sejumlah albumin ke dalam tubuh untuk mencapai


PENGERTIAN kadar normal albumin ke dalam darah ( nilai normal : > 2,5 gr % )
Untuk mengikat dan membawa sari makanan dan kompertemen
TUJUAN yang lain dalam tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan
fungsi tubuh / faal tubuh.
Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
KEBIJAKAN penyembuhan.
Ada instruksi medis tentang pemberian therapy albumin.
1. Persiapan
a. Pasien dipasang infus
b. Cairan albumin
c. Jarum udara
2. Cara kerja
a. Cuci tangan kemudian beritahu pasien
b. Cek kondisi dan tanggal kadaluarsa albumin
c. Cairan albumin dipasang dan dihubungkan ke infus set
d. Pasang jarum udara pada tutup botol albumin
e. Atur tetesan infus, kecepatan infus max 2 cc/mnt atau
PROSEDUR
4 jam/btl.
f. Monitor pasien adanya reaksi alergi pada albumin
g. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.
3. Hal – hal yang harus diperhatikan
Perhitungan kebutuhan albumin :
( D – A ) ( BW x 40 ) x 2 = x gr alb
100
D : Desired Albumin Level ( Level albumin yang diinginkan )
A : Actual Albumin Level ( Level albumin yang ada )

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi farmasi
3. laboratorium
KOREKSI KALIUM

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Memberikan sejumlah kalium ke dalam tubuh untuk mencapai


PENGERTIAN kadar normal kalium dalam darah ( nilai normal : 3,5 – 5,5
mEq/ml )
Untuk mencegah terjadinya gangguan listrik jantung dan
TUJUAN
gangguan sistemik lain.
1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
penyembuhan
KEBIJAKAN
2. Ada Instruksi medis tentang pemberian therapy.

1. Hitung kekurangan kalium dengan rumus = Delta K x BB x ⅓


2. Encerkan KCl dalam D5% ( Pengenceran disesuaikan ) atau
jika memakai syringe pump tidak perlu diencerkan.
3. Biarkan KCl dalam cairan D5% drip / dalam syringe pump.
4. Sambungkan selang infus / perfusor yang berisi KCl pada
CVC atau vena besar, hindari pemberian pada vena kecil.
5. Atur kecepatan pemberian max 20 mEq kcl/jam, pemberian
PROSEDUR konstan.
6. Apabila defisit > 30 mEq KCl, berikan dalam cairan 150 cc
D5 % selama 2 jam.
7. Monitor nadi, tekanan darah dan cek adanya phlebitis /
terbakarnya vena.
8. Labeling KCl pada infus set / perfusor.
9. Dokumentasikan pemberian dan rapihkan peralatan.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Instalasi farmasi
3. laboratorium

PEMAKAIAN SYRINGE DAN INFUS PUMP


No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Merupakan alat pengontrol pemberian infuse secara volume yang


PENGERTIAN menggunakan tekanan positif dalam mengalirkan cairan ke tubuh
pasien ( Non Gravitasi )
Untuk dapat memberikan volume cairan dan dosis obat pada
pasien dengan tepat.
Indikasi :
1. Pemberian cairan atau obat – obatan secara infus dengan
TUJUAN kecepatan yang konstan dan akurat.
2. Memfiltrasi obat – obat / cairan.
3. Pemberian cairan atau obat – obat dalam jumlah yang sangat kecil.
4. Pemberian infus jangka lama.

KEBIJAKAN Pemenuhan kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit.


PROSEDUR Cara kerja pemakaian syringe pump :
1. Cek instruksi dokter tentang cairan atau obat – obatan yang
akan diberikan.
2. Cuci tangan.
3. Oplos obat dan tempatkan obat atau cairan pada syringe
ukuran 20, 30, 50 ml sesuai dengan kebutuhan khusus untuk
perfusor Braun gunakan syringe Braun 50 cc.
4. Sambungkan syringe ke tube / selang syringe.
5. Sambungkan perfusor ke sumber listrik.
6. Tekan tombol ON / OFF pada bagian belakang perfusor untuk
menghidupkan alat ( pada layar akan tampak pengaman FT
syringe type printer setelah alat berfungsi )
7. Lepaskan knop putar, letakkan syringe dan kunci knop putar.
8. Sambungkan selang syringe ke jalur intra vena.
9. Tentukan kecepatan pemberian obat / cairan dengan menekan
tombol angka sesuai nilai yang diinginkan, kemudian tekan
tombol START / STOP, kemudian tekan tombol C sampai
tampak nilai 00,0 di layar. Tekan tombol angka untuk
menentukan volume yang akan diberikan kemudian tekan
tombol START / STOP.
10. Untuk mematikan alat tekan tombol ON / OFF.
11. Fungsi – fungsi spesial :
Suara alarm yang akan berbunyi selama 2 menit.
Pakai untuk pengguna external
Gambaran / memberi informasi mengenai cairan
yang telah masuk
Cara kerja pemakaian infus pump :
1. Cek instruksi dokter tentang obat / cairan yang akan diberikan.
2. Cuci tangan
3. Sambungkan infus set kebotol infus dan isi infus set dengan
cairan tersebut untuk menghilangkan udara kemudian klem
infus set ( gunakan infus set / intravix khusus untuk infus
pump jika menggunakan infusomat Braun ).
4. Buka infus pump, masukkan chamber drop ( bilik tetesan dari
infus set ) kedalam sensor tetesan dari infus pump ( khusus
untuk infusomat braun ).
5. Sambungkan infus pump ke sumber listrik.
6. Gunakan tombol ON / OFF untuk menyalakan alat.
7. Sambungkan set infus ke pasien.
8. Tetapkan kecepatan pemberian tetesan dengan menekan
tombol angka ( lihat nilainya pada layar infus pump )
9. Gunakan tombol start / stop untuk memulai pemberian infus.
10. Jika alarm berbunyi tekan tombol alarm ( ♫ ) yang dapat
berbunyi selama 2 menit.
11. Jika ingin merubah / membatalkan cairan yang akan diberikan
tekan tombol start / stop kemudian tekan tombol C sampai
tampak angka 0000 pada layar atas. Kemudian tekan tombol
untuk menentukan kecepatan pe,berian cairan yang baru.
12. Untuk mematikan alat ini tekan dan tahan tombol ON / OFF.
Fungsi Khusus :
1. Layar bawah yang akan menginformasikan data jika tombol
dibawah ini difungsikan.
2. Tombol ml ( volume ) digunakan untuk memasukkan data
volume cairan yang akan diberikan.
3. Tombol time, digunakan untuk memasukkan data waktu yang
dibutuhkan untuk pemberian cairan, caranya : tekan tombol
time, kemudian tekan tombol angka untuk menentukan waktu
yang dibutuhkan ( Jika waktu yang dibutuhkan 3 jam, 30
menit maka tekan angka 330 sedangkan jika waktu yang
dibutuhkan 1 jam 7 menit maka tekan angka 107 ).
4. Tombol ml/h, digunakan untuk memastikan volume cairan
yang diberikan perjamnya.
5. Tombol fungsi / model khusus, digunakan untuk fungsi :
a. Stand By
b. Seleksi obat
c. Model CC
d. Adanya tekanan karena sumbatan
e. Kontrol tetesan
f. Kapasitas akumulator
g. Mengunci data

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Sijangmed

PEREKAMAN EKG
No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/2

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu tindakan merekam perubahan potensial listrik jantung


PENGERTIAN dengan menggunakan alat elektrokardiograf.
Dengan EKG dapat diketahui :
1. Penyakit jantung koroner.
2. Gangguan irama jantung / aritmia.
TUJUAN 3. Hipertropy dari atrium dan ventrikel
4. Gangguan elektrolit ( hipokalemia dan hiperkalemia )
5. Efek obat jantung ( digitalis )

Pemenuhan kebutuhan pengobatan dan membantu proses


KEBIJAKAN
penyembuhan.
PROSEDUR Persiapan penderita :
1. Penerangan tujuan pemeriksaan.
2. Reaksi selama pemeriksaan :
a. Hindari gerakan – gerakan anggota tubuh.
b. Tidak diajak bicara.
3. Persiapan sebelum pencatatan.
Kulit dibersihkan dari lemak dan rambut.
Persiapan alat :
1. Mesin EKG.
2. Kertas Grafik / Kertas EKG.
3. Plat ekstremitas elektrode
4. Jelly
5. Tissue
6. Tempat tidur
7. Pena / spidol
Cara kerja :
1. Cuci tangan
2. Siapkan peralatan dan lingkungan, jaga privasi pasien.
3. Jelaskan prosedur pada pasien
4. Instruksikan pasien tidur refleks ( tangan, tungkai tidak
bersentuhan )
5. Instruksikan pasien tidak menyentuh tepi tempat tidur.
6. Pasang flat dan elektroda pada dada pasien dengan ketentuan :
a. Kabel merah ( R ) : Pasang di tangan kanan ( RA )
b. Kabel kuning ( K ) : Pasang di tangan kiri ( LA )
c. Kabel hijau ( F ) : Pasang di tungkai kiri ( RL ), kabel
dapat dipasang lain bila ada petunjuk khusus dari alat
EKG yang di pakai.
d. Kabel hitam ( G ) : Pasang ditungkai kanan (Grounding)
e. V1 : Ruang Intercostal IV garis sternal kanan.
f. V2 : Ruang Intercostal IV garis sternal kiri.
g. V3 : Di tengah antara V2 dan V4
h. V4 : Ruang Intercostal V garis mid clavícula.
i. V5 : Setinggi V4 garis axila depan kiri.
j. V6 : Setinggi V4 garis axila tengah kiri.
k. V7 : Setinggi V4 axila belakang kiri.
l. V8 : Setinggi V4 garis spacula kiri
m. V9 : Setinggi V4 garis columna vertebra kiri.
n. V3R : Sama seperti V3 tapi sebelah kanan.
7. Mesin di ON kan : untuk pemanasan
8. Mulai kalibrasi.
9. Pilih lead selector diputar pada hantaran : I, II, III, Arf, Avf,
VI sampai V6 min direkam 3 – 4 QRS kompleks.
10. Setelah selesai kalibrasi kembali.
11. Lepaskan kabel dan electrode dari tubuh pasien bersihkan
tubuh pasien dari jeli / air.
12. Jika perlu : voltage diperkecil atau diperbesar ( beri tanda
sebelum dan sesudahnya dengan kalibrasi )
13. Beri :
a. Nama lead masing – masing.
b. Nama pasien
c. Tanggal dan jam pembuatan.
d. Nama pembuat perekaman.
14. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Farmasi
3. sijangmed

PEMBERIAN DOPAMIN
No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu pemberian obat dopamine dengan dosis tertentu dengan


PENGERTIAN menggunakan syringe pump
1. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitit otot jantung
TUJUAN ( inotropik jantung )
2. Memperbaiki fungsi ginjal.
KEBIJAKAN Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dopamine.
Persiapan alat :
1. Obat dopamine 200 mg
2. Spuit 50 cc : 2
3. Extention tube 1
4. D5% RL atau Nacl
5. Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml/jam
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /
perfusor.
PROSEDUR 4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : ............................. Nama Pasien : .............................
BB : .......................Kg BB : .......................Kg
DOPAMIN 200 mg / 50 cc DOPAMIN 400 mg / 50 cc
1 cc = 200 mg/50 = 4 mg = 4000 mcg 1 cc = 400 mg/50 = 8 mg = 8000 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam 1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam
4000 8000
2 meg = ............cc / jam 2 meg = ............cc / jam
3 meg = ............cc / jam 3 meg = ............cc / jam
4 meg = ............cc / jam 4 meg = ............cc / jam
5 meg = ............cc / jam 5 meg = ............cc / jam
6 meg = ............cc / jam 6 meg = ............cc / jam
7 meg = ............cc / jam 7 meg = ............cc / jam
8 meg = ............cc / jam 8 meg = ............cc / jam
9 meg = ............cc / jam 9 meg = ............cc / jam
10 meg = ............cc / jam 10 meg = ............cc / jam
TTD TT

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Instalasi Farmasi

PEMBERIAN DOBUTAMIN
No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu pemberian obat dobutamine dengan dosis tertentu dengan


PENGERTIAN menggunakan syringe pump.
1. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitas otot jantung
TUJUAN ( inotropik jantung )
2. Memperbaiki fungsi ginjal.
1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
KEBIJAKAN penyembuhan.
2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dobutamin.
Persiapan alat :
1. Obat dobutamin 250 mg
2. Spuit 50 cc : 2
3. Extention tube 1
4. D5% RL atau Nacl
5. Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml atau tetesan.
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /perfusor.
4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
PROSEDUR Nama Pasien : .............................
Nama Pasien : .............................
BB : .......................Kg
BB : .......................Kg
DOBUTAMIN 500 mg / 50 cc
DOBUTAMIN 250 mg / 50 cc
1 cc = 500 mg/50 = 10 mg = 10000
1 cc = 250 mg/50 = 5 mg = 5000 mcg
mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc /
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc /
jam
jam
4000
8000
2 meg = ............cc / jam
2 meg = ............cc / jam
3 meg = ............cc / jam
3 meg = ............cc / jam
4 meg = ............cc / jam
4 meg = ............cc / jam
5 meg = ............cc / jam
5 meg = ............cc / jam
6 meg = ............cc / jam
6 meg = ............cc / jam
7 meg = ............cc / jam
7 meg = ............cc / jam
8 meg = ............cc / jam
8 meg = ............cc / jam
9 meg = ............cc / jam
9 meg = ............cc / jam
10 meg = ............cc / jam
10 meg = ............cc / jam
TTD
TTD
1. Unit Rawat Intensif
UNIT TERKAIT 2. Instalasi Farmasi

PEMBERIAN ADRENALIN
No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


STANDAR Direktur RS. Permata Hati
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

Suatu pemberian obat adrenalin dengan dosis tertentu dengan


PENGERTIAN menggunakan syringe pump
1. Untuk meningkatkan retensi vascular.
TUJUAN
2. Untuk meningkatkan kontraktilitas jantung
1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
KEBIJAKAN penyembuhan.
2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy adrenalin.
Persiapan alat :
1. Obat adrenalin 1 mg / ampul, diperlukan 4 ampul.
2. Spuit 50 cc : 2
3. Extention tube 1
4. D5% RL atau Nacl
5. Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml /jam.
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /
perfusor.
4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : ............................. Nama Pasien : .............................
PROSEDUR BB : .......................Kg BB : .......................Kg
ADRENALIN 4 mg / 50 cc ADRENALIN 8 mg / 50 cc
1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg 1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Dosis = ............. Meg / KgBB /
Menit Menit
0,1 meg = 0,1 x BB X 60 = ....... 0,1 meg = 0,1 x BB X 60 = .......
cc / jam cc / jam
80 160
0,2 meg = ............cc / jam 0,2 meg = ............cc / jam
0,3 meg = ............cc / jam 0,3 meg = ............cc / jam
0,4 meg = ............cc / jam 0,4 meg = ............cc / jam
0,5 meg = ............cc / jam 0,5 meg = ............cc / jam
0,6 meg = ............cc / jam 0,6 meg = ............cc / jam
0,7 meg = ............cc / jam 0,7 meg = ............cc / jam
0,8 meg = ............cc / jam 0,8 meg = ............cc / jam
0,9 meg = ............cc / jam 0,9 meg = ............cc / jam
1 meg = ............cc / jam 1 meg = ............cc / jam
TTD TTD

1. Instalasi Farmasi
UNIT TERKAIT
2. sijangmed
UJI AIR

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Nurul Mufti, MARS

PENGERTIAN Uji air adalah suatu test absorbsi terhadap gastro intestinal

Untuk mengetahui fungsi absorbsi dan peristaltik usus, indikasi :


1. Pada penderita dengan penurunan kesadaran.
2. Pada penderita setelah di puasakan pada waktu tertentu.
TUJUAN
3. Pada penderita yang sesudah dilakukan tindakan operasi.
4. Pada penderita yang terpasang ventilasi mekanik invasif

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektolit


KEBIJAKAN

Persiapan :
1. NGT
2. Spuit 50 cc
3. Air putih ( Dextrose 5 % )
4. Lap Makan
Langkah – langkah :
1. Cek posisi NGT
2. Aspirasi isi lambung
3. Berikan pada :
a. Jam I → 30 ml air putih ( Dextrose 5 % )
PROSEDUR b. Jam II → 30 ml air putih ( Dextrose 5 % )
c. Jam III → 30 ml air putih ( Dextrose 5 % )
d. Jam IV → 30 ml air putih ( Dextrose 5 % )
4. - Klem NGT, tunggu 1 jam – aspirasi, bila jumlah residu
> 60 ml, tunda enteral, jika Jumlah residu < 60 ml coba
enteral 25 ml / jam selama 4 jam.
- Klem NGT, tunggu 1 jam – aspirasi, bila = cairan aspirasi
> 50 ml, stop enteral. Jika cairan aspirasi < 50 ml, teruskan
enteral.
5. Tingkatkan enteral sesuai kebutuhan.

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi gizi
3. Instalasi farmasi
ASISTENSI PEMASANGAN CVC dan
PEMANTAUAN CVP

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 1/3

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr.Nurul Mufti, MARS

Suatu tindakan pemasangan kateter vena sentral dan pengukuran


tekanan darah di atrium kanan atau vena kava dengan
menggunakan kateter vena. Tekanan vena sentra diukur dalam cm
H2O dengan menggunakan manometer air atau dalam mmHg
PENGERTIAN
dengan memakai tranduser tekanan.
Nilai normal CVP ( nafas spontan ) :
- 4 s/d 15 cm H2O
- 3 s/d 11 mmHg
Untuk mengetahui secara tidak langsung keadaan :
1. Hypovolemik
2. Hypervolemik
3. Gagal jantung
4. Tamponade jantung
TUJUAN Indikasi :
1. Mengukur tekanan darah di atrium kanan / vena kava.
2. Parameter volume darah / cairan.
3. Efektivitas jantung sebagai pompa.
4. Keadaan tonus pembuluh darah.

KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit


PROSEDUR Persiapan
Daerah pemasangan :
1. Vena jugularis
2. Vena subklavia
3. Vena femoralis
4. Vena antekubital / brakhialis

Persiapan alat Untuk pemasangan :


1. Kateter ukuran sesuai daerah pemasangan.
2. Cairan Nacl 0,9 %
3. Infus set
4. Xylocain 2 %
5. Spuit 2,5 cc, 20 cc
6. Cairan antiseptik
7. Kapas alkohol
8. Kassa steril
9. Duk steril
10. Gunting
11. Standar cairan
12. CVP monometer
13. Three way stopcock
14. Masker, sarung tangan
15. Benang steril dan jarum
16. Bila memakai sistem tranduser siapkan : monitor, tranduser,
manometer line, pressure bag
17. Bengkok

Untuk pencabutan :
1. Gunting
2. Pinset anatomi
3. Pinset chirrugi
4. Kassa steril
5. Kassa alkohol
6. Plester
7. Sarung tangan steril
8. Bak instrumen
9. Bengkok

Langkah – langkah pemasangan CVC :


1. Prosedur dikerjakan dengan tekhnik aseptic setelah dokter
memakai sarung tangan, bersihkan lokasi penusukan dengan
cairan antiseptic.
2. Lakukan lokal anestesi, pasang duk lubang steril.
3. Kepala pasien dimiringkan ke arah yang berlawanan.
4. Dokter melakukan pungsi vena.
5. Jarum intraduser dicabut dan hubungkan kateter dengan
cairan dan infus set.
6. Perhatikan tanda perdarahan selama pemasangan.
7. Fikasasi, tutup kassa steril dan salep → tutup dengan plester
hypavik.
8. Foto thorak untuk mengetahui posisi kateter.

Langkah – langkah pemantauan CVP :


1. Posisi pasien terlentang, tentukan titik nol dengan membuat
garis setinggi atrium kanan yaitu garis mid axillaries daerah
intercosta ke – 5 atau kurang lebih 5 cm dibawah sternum,
kemudian samakan garis atrium kanan dengan titik nol pada
manometer dengan water ring.
2. Isi manometer dengan cairan Nacl 0,9 % sambil membuka
three way stopcock ke pasien dibuka.
3. Nilai CVP diambil pada keadaan cairan dalam manometer
stabil, sambil memperhatikan fluktuasi cairan manometer.
4. Undulasi fluktuasi cairan dalam manometer dipengaruhi
irama penafasan.
5. Perubahan nilai CVP harus di interprestasikan sesuai dengan
gambaran klinis pasien.
6. Kalibrasi setiap 4 jam atau setiap perubahan posisi pasien.

Hal – hal yang harus diperhatikan :


1. Pneumothoraks / hemathoraks
2. Dysritmia
3. Infeksi
4. Emboli udara
5. Thrombophlebitis
6. Tamponade pericard
7. Lesi saraf

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Farmasi
3. Radiologi
PENGISIAN DOKUMENTASI MONITORING HARIAN
( FLOW SHEET )

No.Dokumen No.Revisi Halaman

/SPO-ICU/RSPH/ /2019 1 ½

Tanggal Terbit Di Tetapkan


Direktur RS. Permata Hati
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr.Nurul Mufti, MARS

Bagian dari clinical record ( rekam medis ), merupakan kumpulan


data komprehensif yang menggambarkan kondisi pasien,
PENGERTIAN
kebutuhan perawatan, pelayanan kesehatan yang diberikan dan
respon terhadap perawatan.
1. Sarana komunikasi bagi semua staf di ICU
2. Legal proteksi bagi rumah sakit
3. Media pembelajaran bagi staf dan peserta didik di ICU
TUJUAN 4. Dasar pemberi asuhan dan pendidikan bagi pasien dan keluarga.
5. Salah satu data kendali mutu dan penelitian.
6. Sebagai dasar perhitungan biaya.

KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan keamanan.


PROSEDUR 1. a. Masuk : di isi tanggal pasien masuk ke ICU
b. Dari : di isi bangsal / instalasi asal pasien sebelum masuk
ke ICU
c. Keluar : di isi tanggal pasien keluar dari ICU
d. Ke : di isi bangsal / instalasi dipasien dipindah dari ICU

2. Identitas
a. No. Dok. Med : di isi rekam medik pasien ( No. RM )
b. Tanggal : di isi tanggal saat instruksi harian dibuat.
c. Nama : di isi nama pasien.
d. Umur : di isi umur pasien dalam tahun / bulan atau hari.
e. Diagnosa : di isi diagnosa medis saat masuk dan selama di
ICU.
f. Hari ke : di isi hari keberapa pasien di rawat di ICU
dihitung mulai pasien masuk ICU.
g. Dr. ICU : di isi dokter yang merawat dan bertanggung
jawab di ICU.

3. Intake
a. Enternal : di isi jenis makanan, jumlah dan cara pemberian
/ 24 jam
b. Volume : di isi volume enteral ( cc ) dalam 24 jam
c. Kalori : di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang
terkandung dalam diit enteral.
d. Protein : di isi jumlah protein yang terkandung dalam diit enteral.
e. Parenteral : di isi jenis, jumlah dan cara pemberian nutrisi
parenteral dalam 24 jam.
f. Volume : di isi volume parenteral ( cc ) dalam 24 jam.
g. Kalori : di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang
terkandung dalam nutrisi parenteral.
h. Protein : di isi jumlah gram protein yang terkandung
dalam nutrisi parenteral.

4. Pola ventilasi, di isi jenis ventilasi pasien, yaitu :


a. Spontan tanpa / dengan oksigen binasal / NRM / RM
beserta alirannya.
b. Alat bantu ( ventilasi mekanik ) : jika menggunakan
ventilasi mekanik ( ventilator ) harus dituliskan mode
yang digunakan dan FiO2.
c. Ventilator : di isi merk dan seri ventilator yang digunakan,
misalkan : Servo 900 C.

5. Obat
a. Enteral / lain – lain : di isi nama, dosis, cara dan jadwal
pemberian obat dalam 24 jam.
b. Parenteral : di isi nama, dosis, cara dan jadwal pemberian
obat dalam 24 jam.
6. Laboratorium dan foto thorax : di isi jenis pemeriksaan
laboratorium dan rontgen thorax yang di programkan pada
hari tersebut.
7. Lain – lain : di isi instruksi dokter yang tidak terprogram
sebelumnya, misalkan fisiotherapi, brain protection, drassing,
balance cairan negatif atau positif.
8. Jam : jelas
9. SSP ( Susunan Saraf Pusat )
a. Kes : di isi kesadaran pasien secara kualitatif ( compos
mentis / cm, somnolen, apatis, soporous coma, coma )
b. Pupil : kolom ini diganti menjadi pengisian kesadaran
GCS ( Kualitatif ).
c. Ref : di isi ukuran pupil dalam bentuk gambar lingkaran
atau besar pupil dalam cm serta refleksi pupil terhadap
cahaya ( - / + / ± - / lambat / cepat ).
d. GCS :
NILAI
1) Buka mata ( E )
a) Spontan 4
b) Respon perintah lisan 3
c) Respon rangsang sakit 2
d) Tidak ada respon 1
2) Respon motorik terbaik ( M )
a) Sesuai perintah 6
b) Terlokasi pada sakit 5
c) Menarik terhadap rangsang sakit 4
d) Fleksi abnormal 3
e) Respon ekstensor 2
f) Tidak respon

1. Unit Rawat Intensif


UNIT TERKAIT
2. Rekamedis