Anda di halaman 1dari 3

SEBELUM KISAH DIMULAI

Terakhir yang kusadari, adalah air hujan yang


menusuk kulit-kulit mukaku. Asap putih mengepul di
udara, pekat melewati tubuhku lalu terbang ke angkasa.
Telingaku berdenging ngilu. Setelah mencoba
menggerak-gerakkan jemari tangan dan kakiku, rasa yang
akhirnya timbul dengan menggebu-gebu mulai
menyesakkan dada, perih, ngilu dan sakit disekujur
tubuhku.
Aku berusaha bangkit. Orang-orang nampak
panik dengan mulut komat-kamit yang sayangnya tak
dapat kudengar apa yang mereka katakan. Manusia-
manusia lemah bertebaran penuh luka dengan darah yang
akan segera membanjiri jalanan ditengah hujan lebat yang
bersahutan dengan tangisan pilu, sepertinya.
Kakiku, sakit.
Ah. Aku ingat sekarang. Aku sedang dalam
perjalanan pulang untuk libur akhir semester. Didalam
bus merah besar, aku menyamankan diri sembari
memutar lagu-lagu lama. Tapi sekarang, apa yang sudah
terjadi disini, kenapa aku begitu kesakitan.
Perih sekali. Ku tatap kedua telapak tanganku,
masih berdiri ditempat yang sama.
Ah. Aku melihat banyak luka sayat disana. Aku
mengernyitkan dahi, semakin perih rasanya begitu air
hujan mendarat tepat diatas luka-lukaku. Apa yang salah
denganku?
Aku ingat kalau aku tertidur sebelum bangun
dengan keadaan ini. Aku ingat kalau aku menelfon ibuku
untuk memberitahukan kepulanganku. Aku ingat kalau
aku membawa hadiah ulang tahun ayahku. Ah. Dimana
hadiah itu? Aku refleks mencari disekitar tempatku
berdiri. Jam tangan Rolex bekas yang kubeli dari uang
hasil menabung selama setengah tahun itu berada tak jauh
dariku. Kemilau emasnya berada diatas aspal basah yang
berwarna gelap. Jam itu nampaknya terlempar dari tasku,
dia sudah tak berbungkus lagi. Sudah tergelatak di atas
aspal.
Kesal rasanya memikirkan itu.
Aku berjalan gontai dengan menundukkan bagian
atas tubuhku. Hendak meraih jam tangan Rolex itu.
Semakin dekat, senyumku semakin lebar.
Yap. Jam itu sekarang aman ditanganku, fikirku
senang. Rasa lega itu sedikit mengobati sakit ditubuhku.