Anda di halaman 1dari 3

Jenis dan bentuk nyeri

Ada tiga klasifikasi nyeri, yaitu sebagai berikut :

1. Nyeri perifer. Nyeri ini ada tiga macam, yaitu (1) nyeri superfisial,yakni rasa nyeri yang
muncul akibat rangsangan pada kulit dan mukosa (2) nyeri viseral, yakni rasa nyeri yang
muncul akibat stimulasi pada respon nyeri di rongga abdomen, kranium, dan toraks (3) nyeri
alih, yakni nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh dari jaringan penyebab nyeri.
2. Nyeri sentral. Nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medula spinalis, batang otak, dan
talamus.
3. Nyeri psikogenik. Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata lain, nyeri ini
timbul akibat pikiran penderita sendiri. Seringkali, nyeri ini muncul karena faktor psikologis,
bukan fisiologis.

Bentuk nyeri

Secara umum, bentuk nyeri terbagi atas nyeri akut dan nyeri kronis.

1. Nyeri akut. Nyeri ini biyasanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan. Awitan
gejalanya mendadak dan biyasanya penyebab serta lokasi nyeri sudah diketahui. Nyeri
ini ditandai dengan peningkatan tegangan otot dan kecemasan dan meningkatkan
persepsi nyeri.
2. Nyeri kronis. Nyeri ini berlangsung lebih dari enam bulan. Sumber nyeri bisa diketahui
atau tidak. Nyeri cenderung hilang timbul dan biyasanya tidak dapat disembuhkan.
Selain itu, pengindraan nyeri menjadi lebih dalam sehingga penderita sukar untuk
menunjukkan lokasinya. Dampak dari nyeri ini antara lain penderita menjadi mudah
tersinggung dan sering mengalami insomnia.

Faktor yang mempengaruhi nyeri

1. Etnik dan nilai budaya


Latar belakang etnik dan budaya merupakan faktor yang mempengaruhi reaksi terhadap
nyeri dan ekspresi nyeri. Sebagai contoh : individu dari budaya tertentu cenderung
ekspresif dalam mengungkapkan nyeri, sedangkan individu dari budaya lain justru lebih
memilih menahan perasaan mereka dan tidak ingin merepotkan orang lain.
2. Tahap perkembangan
Usia dan tahap perkembangan seseorang merupakan variabel penting yang akan
mempengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri. Dalam hal ini, anak-anak cenderung
kurang mampu mengungkapkan nyeri yang mereka rasakan dibandingkan orang dewasa,
dan kondisi ini dapat menghambat penanganan nyeri untuk mereka.
3. Lingkungan dan individu pendukung
Lingkungan yang asing, tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan, dan aktivitas yang
tinggi dilingkungan tersebut dapat memperberat nyeri. Selain itu, dukungan dari
keluarga dan orang terdekat menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi
persepsi nyeri individu.
4. Pengalaman nyeri sebelumnya
Pengalaman masa lalu juga berpengaruh terhadap persepsi nyeri individu dan
kepekaannya terhadap nyeri. Individu yang pernah mengalami nyeri atau menyaksikan
penderitaan orang terdekatnya saat mengalami nyeri cenderung merasa terancam
dengan peristiwa nyeri yang akan terjadi dibandingkan individu lain yang belum pernah
mengalaminya. Meinhart dan Mc. Caffery mendeskripsikan tiga fase pengalaman nyeri
senagai berikut.
a. Fase antisipasi ( terjadi sebelum nyeri diterima )
b. Fase sensasi ( terjadi saat nyeri terasa )
c. Fase akibat ( terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti )
5. Ansientasi dan stres
Ansietas sering kali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi. Ancaman yang tidak jelas
asalnya dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau peristiwa di sekelilingnya dapat
memperberat persepsi nyeri.
6. Jenis kelamin
Beberapa kebudayaan yang memengaruhi jenis kelamin misalnya menganggap bahwa
seorang anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis, sedangkan anak
perempuan boleh menangis dalam situasi yang sama.
7. Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri tersebut memberi
kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan ancamcan.
8. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat memengaruhi
persepsi nyeri.
9. Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan
kemampuan koping sehingga meningkatkan persepsi nyeri.
10. Gaya koping
Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri mereka sebagai
individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka dan hasil akhir suatu peristiwa
seperti nyeri.
11. Dukungan keluarg dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat klien dn bagaimana sikap mereka terhadap klien
memengaruhi respons nyeri.

Cara Mengukur Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran
intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, serta kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama
dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda

skala Keterangan
0 Tidak nyeri
1-3 Nyeri ringan
4-6 Nyeri sedang
7-9 Sangat nyeri tapi masih dapat dikontrol oleh pasien dengan aktivitas yang
biasa dilakukan
10 Sangat nyeri dan tidak terkontrol

PENANGANAN NYERI

FARMAKOLOGI

1. Analgesik narkotik
Terdiri atas berbagai derivat opium seperti morfin dan kodein. Narkotik dapat memberikan
efek penurunan nyeri dan kegembiraan karena obat ini membuat ikatan dengan reseptor
opiat dan mengaktifkan penekan nyeri endogen pada susunan saraf pusat. Namun
penggunaan obat ini menimbulkan efek menekan pusat pernapasan dimedula batang otak
sehingga perlu pengkajian secara teratur terhadap perubahan dalam status pernapasan jika
menggunakan analgesik jenis ini.
2. Analgesik nok anargotik
Seperti aspirin, asetaminofen, dan ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki
efek anti inflamasi dan antipiretik. Obat golongan ini menyebabkkan penurunan nyeri
dengan memnghambat produksi prostaglandin dari jaringan yang mengalami trauma atau
inflamasi (menurut smeltzer dan bare,2001). Efek samping yang paling umum terjadi adalah
gangguan pencernaan seperti adanya ulkus gaster dan perdarahan gaster.

NONFARRMAKOLOGI

1. Relaksasi progesif
Merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan stress. Teknik relaksasi memberikan
individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stres fisik, dan emosi pada
nyeri.
2. Stimulasi kutaneus klasebo
Merupakan zat tanpa kegiatan farmakologis dalam bentuk yang dikenal oleh klien sehingga
obat seperti kapsul, cairan injeksi, dan sebagainya. Klasebo umumnya terdiri atas larutan
gula, larutan salin normal, atau air biasa.
3. Teknik distraksi
Merupakan metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian klien
paada hal-hal yang lain sehingga klien akan lupa terhadap nyeri yang dialami.