Anda di halaman 1dari 35

PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN

SEBARAN FASILITAS KESEHATAN


PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.1 Letak dan Administrasi Kota Bandung


BAB

3
Kota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa
Barat. Secara astronomis, Kota Bandung terletak di antara 107o36’ Bujur Timur-6o55’
Lintang Selatan dapat dilihat administrasi Kota Bandung pada Gambar 3.1. Berdasarkan
posisi geografisnya, Kota Bandung memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut:
 Sebelah Utara : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat;
 Sebelah Selatan : Kabupaten Bandung;
 Sebelah Barat : Kota Cimahi; dan
 Sebelah Timur : Kabupaten Bandung.
Kota Bandung terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Titik
tertinggi di Kelurahan Ledeng Kecamatan Cidadap dengan ketinggian 892 meter dpl dan
titik terendah di Kelurahan Rancanumpang Kecamatan Gedebage dengan ketinggian 666
meter dpl. Luas wilayah Kota Bandung sebesar 167,31 km2 yang terbagi menjadi 30
kecamatan yang mencakup 151 kelurahan. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Gedebage
dengan luas 9,58 km2, sedangkan kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan
Astanaanyar yang memiliki luas wilayah 2,89 km2. Nantinya luasan wilayah yang ada di
Kota Bandung akan dimanfaatkan menjadi fasilitas kesehatan karena memiliki peran yang
sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. untuk
Data luas wilayah menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2016 dapat dilihat pada
Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1
Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2016

NO. KECAMATAN LUAS (KM2) PERSENTASI (%)


1. Bandung Kulon 6,46 3,86
2. Babakan Ciparay 7,45 4,45
3. Bojongloa Kaler 3,03 1,81
4. Bojongloa Kidul 6,26 3,74
5. Astanaanyar 2,89 1,73

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-1
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

NO. KECAMATAN LUAS (KM2) PERSENTASI (%)


6. Regol 4,30 2,57
7. Lengkong 5,90 3,53
8. Bandung Kidul 6,06 3,62
9. Buah Batu 7,93 4,74
10. Rancasari 7,33 4,38
11. Gedebage 9,58 5,73
12. Cibiru 6,32 3,78
13. Panyileukan 5,10 3,05
14. Ujungberung 6,40 3,83
15. Cinambo 3,68 2,20
16. Arcamanik 5,87 3,51
17. Antapani 3,79 2,27
18. Mandalajati 6,67 3,99
19. Kiaracondong 6,12 3,66
20. Batununggal 5,03 3,01
21. Sumur Bandung 3,4 2,03
22. Andir 3,71 2,22
23. Cicendo 6,86 4,10
24. Bandung Wetan 3,39 2,03
25. Cibeunying Kidul 5,25 3,14
26. Cibeunying Kaler 4,50 2,69
27. Coblong 7,35 4,39
28. Sukajadi 4,30 2,57
29. Sukasari 6,27 3,75
30. Cidadap 6,11 3,65
KOTA BANDUNG 167,31 100
Sumber: Kota Bandung Dalam Angka, 2017

Selain dalam bentuk tabel, luas wilayah berdasarkan kecamatan dibuat dalam
bentuk pie chart yang dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

12.00
9.58
10.00
7.93
8.00 7.45 7.33 7.35
6.46 6.67 6.86
6.26 6.32 6.40, 6.40 6.12 6.276.11
5.906.06 5.87
6.00 5.10 5.03 5.25
4.30 4.50 4.30
3.68 3.79 3.403.71 3.39
4.00 3.03 2.89

2.00

0.00
Bojongloa Kaler

Lengkong

Arcamanik

Cibeunying Kidul
Regol

Antapani
Mandalajati

Bandung Wetan
Bandung Kidul
Buah Batu
Rancasari

Cibiru

Cidadap
Bandung Kulon
Babakan Ciparay

Cinambo

Sumur Bandung
Gedebage

Ujungberung

Coblong

Sukasari
Bojongloa Kidul

Panyileukan

Kiaracondong
Batununggal

Cicendo

Cibeunying Kaler

Sukajadi
Astanaanyar

Andir

Gambar 3.2
Diagram Luas Wilayah (Km ) Per Kecamatan Kota Bandung Tahun 2016 2

Sumber: BPS Kota Bandung dalam Angka 2017

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-2
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Berdasarkan grafik dan tabel di atas, Kecamatan Gedebage merupakan kecamatan


terluas di Kota Bandung. Adapun luas Kecamatan Gedebage adalah 9,58 km² atau 5,73%
dari total luas wilayah Kota Bandung. Kecamatan terluas kedua adalah Kecamatan Buah
Batu dengan luas 7,93 km² atau 4,74% dari total luas Kota Bandung. Adapun kecamatan
terkecil adalah Kecamatan Bandung Wetan dengan luas 3,39 km² atau 2,03% dari total
luas Kota Bandung.

3.2 Kondisi Lahan Kota Bandung


Kondisi penggunaan lahan Tahun 2016 Kota Bandung didominasi oleh lahan
permukiman dengan persentase luas wilayah sebesar 11.767,42 Ha atau 70,33% dari total
penggunaan lahan yang terdapat di Kota Bandung. Untuk lebih jelas dan lebih rinci
mengenai persentase luas penggunaan lahan di Kota Bandung dapat dilihat pada Tabel
3.2.

Tabel 3.2
Penggunaan Lahan Tahun 2016 di Kota Bandung

KLASIFIKASI LUAS PERSENTASE


NO KLASIFIKASI KHUSUS
UMUM (HA) (%)
Kawasan Terbangun 14.296,97 85,45
Permukiman 11.767,42 70,33
Komersial Dagang 489,99 2,93
I
Komersial Jasa 230,26 1,38
Fasilitas Umum dan Sosial 954,98 5,71
Industri 854,32 5,11
Kawasan Tidak Terbangun 2.434,04 14,55
RTH 2.320,21 13,87
II
Sungai 112,83 0,67
Tanah Kosong 1,00 0,01
TOTAL 16.731,00 100,00
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung, 2017

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat 2 klasifikasi umum kawasan
untuk penggunaan lahan yaitu kawasan terbangun dan kawasan tidak terbangun. Kawasan
terbangun meliputi klasifikasi khusus yang terdiri dari permukiman, komersial dagang,
komersial jasa, fasilitas umum dan sosial, dan industri. Pada kawasan terbangun sebesar
11.767,42 Ha digunakan sebagai kawasan permukiman yang menjadi penggunaan lahan
terbesar, serta penggunaan lahan terkecil yaitu komersial jasa sebesar 230,26 Ha.
Untuk klasifikasi kawasan tidak terbangun meliputi Ruang Terbuka Hijau (RTH),
sungai, dan tanah kosong yang merupakan klasifikasi khusus. Pada klasifikasi kawasan
terbangun, sebesar 2.320,21 Ha digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau yang merupakan
penggunaan lahan terbesar pada kawasan tidak terbangun, serta penggunaan lahan
terkecil yaitu tanah kosong sebesar 1,00 Ha. Kondisi penggunaan lahan di Kota Bandung
berdasarkan data tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-3
KOTA BANDUNG
3-4

3.1 3-4
3-5

3.3 3-5
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.2.1 Nilai Lahan Kota Bandung


Nilai lahan atau land value adalah pengukuran nilai lahan yang didasarkan kepada
kemampuan lahan secara ekonomis dalam hubungannya produktivitas dan strategi
ekonomis. Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi nilai suatu lahan atau tanah di
suatu daerah yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi sangat berhubungan dengan keadaan umum ekonomi lokal, regional,
nasional, dan internasional yang terdapat di daerah atau kawasan lahan tersebut.
Variabel permintaan (demand) meliputi tingkat pekerjaan, upah rata-rata, tingkat
pendapatan, dan kekuatan pembelian, ketersediaan keuangan, ketertarikan dan biaya
transaksi menentukan nilai tanah.
2. Faktor Sosial
Faktor sosial membantu menerangkan pola penggunaan lahan dan juga permintaan
serta harga tanah. Gengsi digunakan sebagai salah satu alasan untuk memilih suatu
lokasi mendirikan permukiman, tempat usaha, pabrik, dan lain-lain. Hal tersebut dapat
menyebabkan pelanggaran perubahan bahkan pelanggaran penggunaan lahan yang
pada akhirnya mempengaruhi nilai lahan.
3. Faktor Peraturan
Faktor pemerintah dan politik berupa kebijaksanaan peraturan dan kebijakan
pemerintah dan politik yang dapat meningkatkan atau menurunkan nilai lahan suatu
kawasan. Kebijaksanaan yang baik dari pemerintah cenderung mendukung efisiensi
perkembangan dan penggunaan lahan di kawasan tersebut serta dapat membantu
perekonomian dari kawasan itu.
4. Faktor Fisik, Lingkungan, dan Lokasi
Faktor fisik dari suatu lahan juga dapat mempengaruhi nilai harga dari lahan tersebut.
Hal itu disebabkan fisik dari lahan menunjukkan biaya dan kegunaan lahan tersebut.
Dari faktor-faktor yang mempengaruhi nilai lahan tersebut diatas berlaku di Kota Bandung,
yaitu nilai lahan yang ada di Kota Bandung memiliki harga yang berbeda-beda bergantung
pada faktor-faktor yang terjadi di dalam masing-masing kawasannya. Peta nilai lahan lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Pada Gambar 3.4 Peta Nilai Lahan Kota Bandung dapat dilihat bahwa level nilai
lahan ditunjukan dengan menggunakan warna dari tingkatan yang paling terang sampai
yang paling gelap. Semakin pekat dan gelap warna yang ada pada peta maka nilai lahan
semakin tinggi. Daerah-daerah yang memiliki nilai lahan yang tinggi yaitu Kecamatan Regol,
Bandung Wetan, Sumur Bandung, dan Cicendo yang menjadi kawasan pusat perkotaan di
Kota Bandung dan yang memiliki aktivitas tinggi dalam kegiatan ekonomi, sosial, dan lain
sebagainya pada rata-rata nilai lahan Rp. 2.000.000-Rp. 20.000.000 sedangkan, daerah
yang memiliki tingkat nilai lahan yang cukup rendah seperti Kecamatan Rancasari,
Gedebage, Bandung Kidul, Bojongloa Kidul Cinambo, dan beberapa daerah lain pada peta
dengan tingkat nilai lahan Rp. 200.000 – Rp. 2.000.000. Secara keseluruhan, Kota Bandung
memiliki nilai lahan yang tinggi karena termasuk daerah yang memiliki tingkat aktivitas yang
tinggi pada kegiatan ekonomi, sosial, budaya, pemerintah, dan lain sebagainya.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-6
KOTA BANDUNG
3.4 3-7
3-7
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.2.2 Persil Berdasarkan Jenis Hak Kota Bandung


Penggunaan lahan terjadi pada berbagai skala pemetaan. Pemanfaatan lahan
dengan melihat hak perorangan dilakukan pada lahan dalam satuan persil. Menurut RUU
tentang pokok-pokok bina kota pasal 1 tahun 1970, persil merupakan sebidang tanah yang
dibebani sesuatu hak perorangan atau badan hukum (Soedjono, 1978). Dalam hal ini lahan
dipandang berdasar pada hak pemilikan seseorang atas lahan. Atribut pokok yang melekat
pada lahan tersebut adalah siapa yang berhak atas lahan tersebut.
Pada lahan-lahan dalam satuan persil, penggunaan lahan oleh masyarakat terkait
dengan adanya ha katas lahan tersebut. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria disebutkan
beberapa jenis hak yang berlaku atas suatu lahan. Hak-hak atas lahan yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
a. Hak milik;
b. Hak guna usaha;
c. Hak guna bangunan;
d. Hak pakai;
e. Hak sewa;
f. Hak membuka tanah; dan
g. Hak memungut hasil hutan.
Bidang lahan yang memiliki status hak yang dipegang oleh individu, keluaran atau
sekelompok masyarakat. Suatu lahan tidak memiliki status hak ganda. Masing-masing lahan
hanya memiliki satu jenis status. Selanjutnya untuk mengukur hak-hak tersebut diatas perlu
ditentukan mengenai batas-batas luas penguasaan lahan pada suatu wilayah tertentu.
Batas-batas tersebut berupa batas maksimal atau batas minimal penguasaan lahan. Batas-
batas maksimal atau minimal tersebut merupakan batas-batas luas lahan yang boleh
dikuasai oleh individu atau kelompok masyarakat di wilayah tersebut. Batas maksimal
merupakan batas terluas dari suatu lahan yang boleh dikuasai oleh satu individu, keluarga
atau kelompok masyarakat. Jika satu individu, keluarga atau kelompok masyarakat memiliki
dengan luas lebih dari batas maksimal yang ditentukan maka lahan tersebut harus dipecah
dan kuasakan kepada individu, keluarga atau kelompok masyarakat lain. Batas minimal
adalah batas terkecil dari luas lahan yang boleh dikuasai oleh individu, keluarga atau
kelompok masyarakat yang memiliki hak penguasaan tersebut haruslah dilakukan
penggabungan dengan lahan lain. Penggabungan lahan ini dilakukan sesuai dengan
peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Kota Bandung salah satu wilayah
yang memiliki persil berdasarkan jenis hak yang dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Pada Gambar 3.5 Peta Persil Berdasarkan Jenis Hak di Kota Bandung secara keseluruhan
bahwa hak milik lahan didominasi oleh hak guna bangunan yang ditunjukkan oleh warna
abu-abu muda sedangkan, untuk hak pakai dan hak pengelolaah jumlahnya sangat sedikit
yang masing-masing ditunjukkan dengan warna hijau dan ungu.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-8
KOTA BANDUNG
3.5 3-9
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.3 Kondisi Kependudukan Kota Bandung


Profil kondisi kependudukan di Kota Bandung yang akan dibahas adalah jumlah dan
komposisi penduduk, kepadatan penduduk, laju penduduk, dan proyeksi penduduk di Kota
Bandung yang nantinya kondisi kependudukan ini menjadi acuan untuk melakukan analisis
jumlah kebutuhan fasilitas kesehatan.

3.3.1 Jumlah dan Komposisi Kependudukan Kota Bandung


Berdasarkan data statistik Kota Bandung Tahun 2017, jumlah penduduk Kota
Bandung tahun 2016 sebanyak 2.490.622 jiwa yang terdiri atas 1.257.176 jiwa penduduk
laki-laki, dan sebanyak 1.233.446 jiwa penduduk perempuan. Laju pertumbuhan penduduk
mengalami pertumbuhan sebesar 0,37 persen dibandingkan dengan tahun 2015. Jumlah
penduduk berdasarkan rasio jenis kelamin menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun
2015 dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3
Jumlah Penduduk Kota Bandung menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2016

PEREMPUAN
KELOMPOK UMUR LAKI-LAKI (JIWA) JUMLAH (JIWA)
(JIWA)
0-4 104.902 100.864 205.766
5-9 98.508 93.126 191.634
10-14 88.699 85.562 174.261
15-19 110.047 112.442 222.489
20-24 133.694 125.767 259.461
25-29 119.981 110.133 230.114
30-34 110.668 103.220 213.888
35-39 99.556 97.814 197.370
40-44 92.623 92.183 184.806
45-49 80.276 82.214 162.490
50-54 69.264 70.530 139.794
55-59 56.285 57.289 113.574
60-64 37.156 35.864 73.020
65-69 25.307 27.163 52.470
70-74 16.271 17.599 33.870
75+ 13.939 21.676 35.615
JUMLAH 1.257.176 1.233.446 2.490.622
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035

Berdasarkan tabel di atas, terdapat kelompok umur dari 0-75, jenis kelamin yang
terdiri dari laki-laki dan perempuan serta jumlah kelompok umur. Pada tahun 2016, jumlah
penduduk Kota Bandung adalah 2.490.622 jiwa. Dengan masing-masing jumlah penduduk
berjenis kelamin laki-laki adalah 1.257.176 jiwa dan jumlah penduduk berjenis kelamin
perempuan adalah 1.233.446 jiwa. Hal itu berarti, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-10
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

150,000
100,000
50,000
0
50,000
100,000
150,000

Laki-Laki Perempuan

Gambar 3.6
Grafik Jumlah Penduduk Kota Bandung menurut Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2016
Sumber: BPS Kota Bandung Dalam Angka 2017

Berdasarkan grafik di atas, Kota Bandung memiliki jumlah usia produktif yang
banyak. Terutama usia 20-24 tahun dengan jumlah 259.461 jiwa yang terdiri dari 133.694
jiwa yang berjenis kelamin laki-laki dan 125.767 jiwa yang berjenis kelamin perempuan.
Selanjutnya di urutan kedua diisi oleh penduduk dengan usia 25-29 tahun. Artinya, Kota
Bandung memiliki potensi penduduk dengan jumlah usia produktif lebih tinggi dibandingkan
dengan usia non-produktif. Adapun jumlah penduduk Kota Bandung dari tahun 2011-2015
dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Kota Bandung Tahun 2011-2015

TAHUN
NO KECAMATAN
2011 2012 2013 2014 2015
1 Bandung Kulon 139.708 140.780 142.411 142.697 143.313
2 Babakan Ciparay 144.303 145.411 147.096 147.388 148.025
3 Bojongloa Kaler 118.118 119.025 120.405 120.644 121.165
4 Bojongloa Kidul 84.141 84.686 85.668 85.992 86.363
5 Astanayar 67.346 68.042 68.830 68.694 68.991
6 Regol 79.923 80.534 81.467 81.635 81.987
7 Lengkong 69.837 70.371 71.187 71.333 71.637
8 Bandung Kidul 57.838 58.282 58.957 59.075 59.331
9 Buah Batu 93.074 94.018 95.108 94.946 95.356
10 Rancasari 74.188 76.014 76.895 75.144 75.469
11 Gedebage 35.458 36.657 37.082 35.757 35.910
12 Cibiru 69.276 71.191 72.016 70.066 70.370
13 Panyileukan 38.725 39.787 40.248 39.169 39.339
14 Ujung Berung 74.196 76.021 76.902 75.151 75.477
15 Cinambo 24.345 24.942 25.231 24.663 24.766
16 Arcamanik 67.047 68.519 69.313 67.999 68.293
17 Antapani 72.803 73.608 74.461 74.234 74.557

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-11
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

TAHUN
NO KECAMATAN
2011 2012 2013 2014 2015
18 Mandalajati 61.829 62.849 63.578 62.875 63.147
19 Kiaracondong 129.030 130.460 131.972 131.566 132.135
20 Batununggal 118.231 119.541 120.927 120.555 121.076
21 Sumur Bandung 35.293 36.160 36.579 35.749 35.903
22 Andir 95.392 96.435 97.553 97.278 97.693
23 Cicendo 97.544 98.609 99.752 99.468 99.898
24 Bandung Wetan 30.283 30.767 31.124 30.805 30.939
25 Cibeunying Kidul 105.568 106.571 107.806 107.727 108.193
26 Cibeunying Kaler 69.456 70.111 70.924 70.878 71.184
27 Coblong 128.800 130.023 131.530 131.435 132.002
28 Sukajadi 105.963 107.133 108.375 108.045 108.152
29 Sukasari 80.086 80.971 81.908 81.659 82.012
30 Cidadap 57.156 57.999 58.672 58.175 58.426
JUMLAH 2.424.957 2.455.517 2.483.977 2.470.802 2.481.109
Sumber : Kota Bandung Dalam Angka

Berdasarkan dari tabel di atas, menunjukkan bahwa jumlah penduduk dari tahun
2011-2015 mengalami kenaikan, namun pada tahun 2014 mengalami penurunan dan tahun
berikutnya mengalami kenaikan. Adapun jumlah penduduk dengan jumlah tertinggi di Kota
Bandung yaitu di Kecamatan Babakan Ciparay dan jumlah penduduk terendah berada di
Kecamatan Cinambo. Jumlah penduduk Kota Bandung dari Tahun 2011-2015 akan
dilakukan proyeksi penduduk untuk mengetahui peningkatan jumlah penduduk hingga 20
tahun kedepan. Proyeksi tersebut dilakukan karena penduduk merupakan dasar dalam
penyediaan sarana kesehatan dan untuk mengetahui jumlah sarana kesehatan yang harus
disediakan oleh pemerintah Kota Bandung.

3.3.2 Kepadatan Penduduk Kota Bandung


Berdasarkan data statistik Kota Bandung Tahun 2016, diperoleh kepadatan
penduduk pada masing-masing kecamatan. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk
terbesar yaitu Kecamatan Bojongloa Kaler sebesar 39.988 jiwa/km2, sedangkan kecamatan
yang memiliki kepadatan terendah yaitu Kecamatan Gedebage sebesar 3.748 jiwa/km2,
data kepadatan penduduk berdasarkan kecamatan dapat dilihat pada Tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5
Luas dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2016

KEPADATAN
PERSENTASE
LUAS PERSENTASE PENDUDUK PER
NO KECAMATAN PENDUDUK
(KM²) (%) KM²
(%)
(JIWA/KM2)
1 Bandung Kulon 6,46 3,86 22.185 5,78
2 Babakan Ciparay 7,45 4,45 19.869 5,97
3 Bojongloa Kaler 3,03 1,81 39.988 4,88
4 Bojongloa Kidul 6,26 3,74 13.796 3,48
5 Astanaanyar 2,89 1,73 23.872 2,78
6 Regol 4,30 2,57 19.067 3,30

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-12
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

KEPADATAN
PERSENTASE
LUAS PERSENTASE PENDUDUK PER
NO KECAMATAN PENDUDUK
(KM²) (%) KM²
(%)
(JIWA/KM2)
7 Lengkong 5,90 3,53 12.142 2,89
8 Bandung Kidul 6,06 3,62 9.791 2,39
9 Buah Batu 7,93 4,74 12.025 3,84
10 Rancasari 7,33 4,38 10.296 3,04
11 Gedebage 9,58 5,73 3.748 1,45
12 Cibiru 6,32 3,78 11.135 2,84
13 Panyileukan 5,10 3,05 7.714 1,59
14 Ujungberung 6,40 3,83 11.793 3,04
15 Cinambo 3,68 2,20 6.730 1,00
16 Arcamanik 5,87 3,51 11.634 2,75
17 Antapani 3,79 2,27 19.672 3,00
18 Mandalajati 6,67 3,99 9.467 2,54
19 Kiaracondong 6,12 3,66 21.591 5,32
20 Batununggal 5,03 3,01 24.071 4,88
21 Sumur Bandung 3,40 2,03 10.560 1,45
22 Andir 3,71 2,22 26.332 3,94
23 Cicendo 6,86 4,10 14.562 4,03
24 Bandung Wetan 3,39 2,03 9.127 1,25
25 Cibeunying Kidul 5,25 3,14 20.608 4,36
26 Cibeunying Kaler 4,50 2,69 15.819 2,87
27 Coblong 7,35 4,39 17.959 5,32
28 Sukajadi 4,30 2,57 25.235 4,37
29 Sukasari 6,27 3,75 13.080 3,30
30 Cidadap 6,11 3,65 9.562 2,25
KOTA BANDUNG 167,31 100 14.832 100
Sumber : BPS Kota Bandung, 2017

Berdasarkan tabel di atas, pada tahun 2017 Kota Bandung memiliki luas wilayah
sebesar 167,31 km2 yang terbagi menjadi 30 kecamatan dengan luas wilayah tertentu.
Masing-masing kecamatan telah memanfaatkan lahannya sebagai aktivitas sosial-ekonomi.
Hal tersebut dapat dilihat dari adanya kepadatan penduduk setiap kecamatan dan
persentase total penggunaan lahan Kota Bandung. Peta kepadatan penduduk Kota Bandung
tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 3.7 berikut.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-13
KOTA BANDUNG
PEDOMAN KITA

3.7 3-14
3-14
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

45000
39988
40000

35000

30000
26332
25235
23872 24071
25000 22185 21591
19869 19672 20608
19067
20000 17959
15819
13796 14562
15000 12142 12025 13080
11135 11793 11634 10560
9791 10296 9467 9127 9562
10000 7714
6730

5000 3748

Bandung Kulon Babakan Ciparay Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Astanaanyar


Regol Lengkong Bandung Kidul Buah Batu Rancasari
Gedebage Cibiru Panyileukan Ujungberung Cinambo
Arcamanik Antapani Mandalajati Kiaracondong Batununggal
Sumur Bandung Andir Cicendo Bandung Wetan Cibeunying Kidul
Cibeunying Kaler Coblong Sukajadi Sukasari Cidadap

Gambar 3.8
Grafik Kepadatan Penduduk per Kecamatan Kota Bandung Tahun 2016
Sumber: BPS Kota Bandung dalam Angka 2017

Gambar di atas menunjukkan peta kepadatan penduduk di Kota Bandung, di mana


telah dibuat klasifikasi tingkat kepadatan penduduk berdasarkan angka kepadatan
penduduk di setiap kecamatan di Kota Bandung. Terdapat 3 kelas kepadatan penduduk
yaitu kepadatan tinggi, kepadatan sedang, dan kepadatan rendah. Sementara itu
berdasarkan gambar di atas terlihat perbedaan kepadatan penduduk di setiap kecamatan.
Adapun kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Bojongloa Kaler sebesar
39.988 jiwa/km². Sedangkan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan
Gedebage sebesar 3.748 jiwa/km².

3.3.3 Laju Penduduk Kota Bandung


Laju pertumbuhan penduduk digunakan untuk dapat memproyeksikan jumlah
penduduk 5-10 tahun yang akan datang. Data yang digunakan untuk mendapatkan
persentase laju pertumbuhan yaitu dengan jumlah penduduk dibagi dengan kepadatan
penduduknya. Laju pertumbuhan Kota Bandung tahun 2011-2016 dapat dilihat pada Tabel
3.5 berikut.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-15
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Tabel 3.6
Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Bandung Tahun 2011-2016

LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK


TAHUN JUMLAH PENDUDUK
PER TAHUN (%)
2011 2.429.176 0,71
2012 2.444.617 0,64
2013 2.458.503 0,57
2014 2.470.802 0,50
2015 2.481.469 0,43
2016 2.490.622 0,37
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035

Tabel di atas berisi jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk per tahun
dari tahun 2011 hingga 2016. Berdasarkan tabel di atas, Kota Bandung selalu mengalami
kenaikan jumlah penduduk setiap tahunnya. Pada tahun 2011 jumlah penduduk Kota
Bandung sebesar 2.429.176 jiwa menjadi 2.490.622 jiwa pada tahun 2016. Artinya, dari
tahun 2011-2016 telah terjadi penambahan penduduk sebesar 61.446 jiwa.

0.8

0.6

0.4

0.2
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016

Gambar 3.9
Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Bandung Tahun 2011-2016
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035

Berdasarkan grafik dan tabel di atas, Kota Bandung selalu mengalami pertambahan
jumlah penduduk. Tetapi dari tahun 2011-2016 laju pertumbuhan penduduk cenderung
menurun. Dengan rata-rata penurunan setiap tahunnya sebesar 0,07 %.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-16
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA DI KOTA BANDUNG

3.4 Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kota Bandung


Pada Penyusunan Pedoman Ketentuan Sebaran Fasilitas Kesehatan di Kota Bandung
dilakukan pengamatan kajian untuk mengetahui jumlah dan sebaran fasilitas kesehatan
eksisting di Kota Bandung berdasarkan jenis fasilitas kesehatan yang terdiri dari rumah sakit
yang meliputi Rumah Sakit Kelas A, Rumah Sakit Kelas B, Rumah Sakit Kelas C dan Rumah
Sakit Kelas D, Rumah Sakit Khusus. Selain itu terdapat Klinik, Puskesmas, Laboratorium
Kesehatan, dan Apotek. Data sebaran fasilitas kesehatan di Kota Bandung diperoleh dari
Dinas Kesehtan Kota Bandung dari data sebaran yang berizin. Jumlah fasilitas pelayanan
kesehatan tersebut dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

Tabel 3.7
Jumlah Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Skala Pelayanan di Kota Bandung
Tahun 2018

NO. SKALA PELAYANAN JENIS FASILITAS KESEHATAN JUMLAH


Rumah Sakit Kelas A 2
1 PPK Rumah Sakit Kelas B 6
Rumah Sakit Khusus 15
Rumah Sakit Kelas C 9
2 SPK Rumah Sakit Kelas D 3
Klinik Utama 89
3 Kecamatan Puskesmas 80
Laboraturium Kesehatan 30
4 Kelurahan Klinik Pratama 156
Apotek 684
TOTAL 1.074
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

Berdasarkan data tabel di atas dapat dilihat bahwa Rumah Sakit Kelas A, Rumah Sakit
Kelas B, dan Rumah Sakit Khusus berada pada skala pelayanan regional (PPK), Rumah Sakit
Kelas C, Rumah Sakit Kelas D, dan Klinik Utama tersedia pada skala pelayanan Subpusat
Pelayanan Kota (SPK), pada skala pelayanan kecamatan tersedia jenis fasilitas puskesmas,
sedangkan pada skala kelurahan tersedia fasilitas kesehatan laboratorium kesehatan, klinik
pratama, dan apotek. Jenis fasilitas kesehatan yang masuk pada masing-masing tingkat
pelayanan di sesuaikan dengan cakupan pelayanan yang diberikan pada masing-masing
jenis fasilitas dari kapasitas jumlah penduduk. Jumlah fasilitas kesehatan yang paling
banyak di Kota Bandung adalah apotek, dan klinik pratama yang masing-masing berjumlah
684 apotek, dan 156 klinik pratama yang tersebar di berbagai titik kawasan di Kota
Bandung.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-17
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

JE NI S FA SI LI TA S K ESE HATA N BE RDA SA RK A N JE NI S


PE LAYA NA N
Rumah Sakit Kelas A Rumah Sakit Kelas B Rumah Sakit Khusus
Rumah Sakit Kelas C Rumah Sakit Kelas D Klinik Utama
Puskesmas Klinik Pratama Laboratorium Kesehatan
Apotek

684
156
89

80

30
15

9
6

3
2

JUMLAH

Gambar 3.10
Grafik Jumlah Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Jenis Pelayanan
di Kota Bandung
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

3.5 Persebaran Eksisting Fasilitas Kesehatan Di Kota Bandung


Ketersediaan fasilitas kesehatan di Kota Bandung secara eksisting berdasarkan skala
pelayanan yang meliputi skala regional (PPK), skala Subpusat Pelayanan Kota (SPK), skala
kecamatan, dan skala kelurahan. Berdasarkan jenis fasilitas kesehatan yaitu terdiri dari
Rumah Sakit (RS), Puskesmas, Laboratorium Kesehatan, Klinik utama, Klinik pratama, dan
Apotek dalam penyediaannya perlu memperhatikan titik persebarannya agar seluruh
lapisan masyarakat dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang tersedia. Pada bab ini
dilakukan untuk memenuhi sasaran ke dua yaitu teridentifikasinya kondisi eksisting sebaran
fasilitas kesehatan (meliputi type/jenis, luasan lahan & bangunan, kelengkapan sarana dan
prasarananya) dengan berbagai dinamika pembangunanya di Wilayah Kota Bandung.

3.5.1 Persebaran Fasilitas Kesehatan Skala PPK (Pusat Pelayanan Kota)


Kota Bandung memiliki jumlah Rumah Sakit (RS) dengan skala PPK sebagai salah
satu jenis fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan yang lebih lengkap dibandingkan
dengan fasilitas kesehatan lainnya dan dilihat dari cakupannya tidak hanya melayani
wilayahnya tetapi juga melayani dari berbagai wilayah atau sebagai tempat pelayanan
rujukan tertinggi/pusat. Berdasarkan undang-undang no. 44 tahun 2009 tentang rumah
sakit, rumah sakit skala PPK adalah rumah sakit kelas A dan rumah sakit kelas B. Jumlah
rumah sakit kelas A yang ada di Kota Bandung berjumlah 2 rumah sakit yang berada di
Kecamatan Sukajadi dan Andir. Adapun persebaran rumah sakit kelas A di Kota Bandung,
dapat dilihat pada Tabel 3.8 dan Gambar 3.11.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-18
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Tabel 3.8
Persebaran Rumah Sakit Kelas A Skala PPK di Kota Bandung

JARAK
TERDEKAT
NAMA FASILITAS KESEHATAN KECAMATAN KELAS JALAN
DARI
PUSKESMAS
Jalan Arteri
RSUP Dr. Hasan Sadikin Sukajadi 210
Primer
Rumah Sakit Umum Santosa Hospital Jalan Arteri
Andir 600
Bandung Central Sekundrer
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018
Jumlah rumah sakit kelas B yang ada di Kota Bandung berjumlah 6 rumah sakit yang
berada di Kecamatan Sumur Bandung, Coblong, Cidadap, Rancasari, Babakan Ciparay, dan
Bojongloa Kidul. Adapun persebaran rumah sakit kelas B di Kota Bandung, dapat dilihat
pada Tabel 3.9 dan Gambar 3.11.

Tabel 3.9
Persebaran Rumah Sakit Kelas B Skala PPK di Kota Bandung

JARAK
NAMA
NOMOR TERDEKAT
RUMAH ALAMAT KECAMATAN KELAS JALAN
TITIK DARI
SAKIT
PUSKESMAS
JL. Cihampelas Jalan Kolektor
RSU-003 RS Advent Coblong 598,34
No.161 Sekunder
Jl. Soekarno- Jalan Arteri
RSU-004 RS Al-Islam Rancasari 776,44
Hatta No.644 Primer
RS Dr. Moh. Jl. Ciumbuleuit Jalan Kolektor
RSU-005 Cidadap 1390,73
Salamun No.203 Sekunder
Bojongloa Jalan Kolektor
RSU-006 RS Immanuel Jl. Kopo No.161 398,44
Kidul Primer
RS Santo Jl. Ir.H. Juanda Jalan Kolektor
RSU-007 Coblong 776,11
Borromeus No.100 Sekunder
Jl.K.H Wahid
Santosa Kopo Babakan Jalan Kolektor
RSU-008 Hasyim No. 461- 503,22
Bandung Ciparay Primer
463
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

Jumlah rumah sakit khusus yang ada di Kota Bandung berjumlah 15 rumah sakit
yang berada di Kecamatan Cidadap, Coblong, Sukajadi, Bandung Wetan, Kiaracondong,
Rancasari, Buahbatu, Astanaanyar, Cicendo, dan Lengkong. Adapun persebaran rumah
sakit khusus di Kota Bandung, dapat dilihat pada Tabel 3.10 dan Gambar 3.11.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-19
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Tabel 3.10
Persebaran Rumah Sakit Khusus Skala PPK di Kota Bandung

JARAK
NOMOR NAMA RUMAH KELAS TERDEKAT
ALAMAT KECAMATAN
TITIK SAKIT JALAN DARI
PUSKESMAS
Jalan
RS. Mata Sumur
RSU-021 Jl. Cicendo No.4 Kolektor 446,48
Cicendo Bandung
Sekunder
RS Dr. H.A. Jl. Bukit Jarian
RSU-022 Cidadap Jalan Lokal 798,00
Rotinsulu No.40
RS Gigi dan Jl. Sekeloa
RSU-023 Coblong Jalan Lokal 743,31
Mulut UNPAD Selatan No.1
Jl. PROF.Drg.
RSGM Jalan Arteri
RSU-028 Surya Sumantri Sukajadi 349,95
Maranatha Sekunder
No. 65
Jl. R.E. Jalan
Bandung
RSU-031 RSIA Limijati Martadinata Kolektor 769,48
Wetan
No.39 Primer
Jl. Terusan Jalan
RSIA Grha
RSU-024 Jakarta No.15- Kiaracondong Kolektor 923,21
Bunda
17 Sekunder
Jl. R.E. Jalan
RS Halmahera Bandung
RSU-025 Martadinata Kolektor 754,87
Siaga Wetan
No.28 Primer
RSIA Humana Jl. Rancabolang Jalan Arteri
RSU-026 Rancasari 617,93
Prima No. 21 Sekunder
RSIA Harapan Jl. Pluto Raya
RSU-027 Buah Batu Jalan Lokal 338,68
Bunda Bandung Blok C,
Jl. R.E. Jalan
RSKGM Kota Bandung
RSU-029 Martadinata Kolektor 819,32
Bandung Wetan
No.45 Primer
Jalan
RSKIA Kota Jl. Astanaanyar
RSU-030 Astana Anyar Kolektor 234,83
Bandung No.224
Sekunder
Jalan
RSIA Melinda Jl. Padjdjaran
RSU-032 Cicendo Kolektor 545,60
Hospital No.46
Primer
RSK Ny.R.A. Jl. Tubagus
RSU-033 Coblong Jalan Lokal 675,40
Habibie Ismail No.46
Jalan
Bandung Eye Jl. Buah Batu
RSU-034 Lengkong Kolektor 562,77
Center No. 147
Primer
Jl. Awibitung Cibeunying
RSU-035 RSIA AL-Islam Jalan Lokal 870,41
No. 29-31 Kidul
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-20
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.5.2 Persebaran Fasilitas Kesehatan Skala SPK (Subpusat Pelayanan


Kota)
Kota Bandung memiliki jumlah Rumah Sakit (RS) dengan skala SPK sebagai salah
satu jenis fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kedokteran subspesialis terbatas
yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas/poliklinik. Jenis fasilitas rumah sakit
skala SPK yang ada di Kota Bandung adalah rumah sakit kelas C, rumah sakit kelas D dan
klinik utama. Rumah sakit kelas C berjumlah 9 rumah sakit, jumlah rumah sakit kelas D 3
rumah sakit dan jumlah klinik utama berjumlah 89 klinik. Adapun persebaran rumah sakit
kelas C, rumah sakit kelas D, dan klinik utama di Kota Bandung, dapat dilihat pada Tabel
3.11. dan Gambar 3.11 dan Gambar 3.12.

Tabel 3.11
Persebaran Rumah Sakit Kelas C, Rumah Sakit Kelas D dan Klinik Utama Skala
SPK di Kota Bandung
RUMAH RUMAH
KLINIK
NO SWK KECAMATAN SAKIT SAKIT
UTAMA
KELAS C KELAS D
1 Sukajadi - - 4
2 Sukasari - - 2
Bojonegara
3 Andir 2 - 2
4 Cicendo 2 - 3
5 Cibeunying Kidul 1 - 1
6 Cibeunying Kaler - - 4
7 Coblong - - 4
Cibeunying
8 Cidadap - - 2
9 Bandung Wetan - 1 11
10 Sumur Bandung - 1 10
11 Bandung Kulon - - 4
12 Babakan Ciparay - - -
13 Tegalega Bojongloa Kaler - - 1
14 Bojongloa Kidul - - -
15 Astanaanyar - - 5
16 Kiaracondong - 1 2
17 Regol 1 - 3
Karees
18 Lengkong 1 - 11
19 Batununggal - - 2
20 Bandung Kidul - - 3
Kordon
21 Buahbatu - - 3
22 Arcamanik - - 2
23 Arcamanik Antapani 1 - 3
24 Mandalajati - - -
25 Rancasari - - 1
Gedebage
26 Gedebage - - -
27 Cibiru - - 2
28 Panyileukan - - 2
Ujungberung
29 Ujungberung - - 2
30 Cinambo 1 - -
TOTAL 9 3 89
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-21
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.5.3 Persebaran Fasilitas Kesehatan Skala Kecamatan


Kota Bandung memiliki jumlah Rumah Sakit (RS) dengan skala Kecamatan sebagai
salah satu jenis fasilitas kesehatan yang bersifat transisi dan suatu saat akan ditingkatkan
menjadi rumah sakit kelas C. Rumah sakit skala Kecamatan adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi sama dengan rumah sakit
skala SPK yang dapat menampung pelayanan yang berasal dari puskesmas. Jenis fasilitas
kesehatan rumah sakit skala kecamatan yang ada di Kota Bandung yaitu puskesmas dan
optik.
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas kesehatan yang dapat
dijangkau oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Puskesmas yang tersedia di Kota
Bandung sebanyak 80 unit yang tersebar di berbagai titik kawasan di Kota Bandung.
Persebaran Puskesmas di Kota Bandung dapat dilihat pada Gambar 3.13. Persebaran
fasilitas kesehatan Puskesmas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.12
Persebaran Puskesmas Skala Kecamatan di Kota Bandung

NO KECAMATAN PUSKESMAS
1 Sukajadi 3
2 Sukasari 5
3 Andir 2
4 Cicendo 1
5 Cibeunying Kidul 3
6 Cibeunying Kaler 2
7 Coblong 4
8 Cidadap 1
9 Bandung Wetan 3
10 Sumur Bandung 4
11 Bandung Kulon 3
12 Babakan Ciparay 3
13 Bojongloa Kaler 2
14 Bojongloa Kidul 1
15 Astanaanyar 2
16 Kiaracondong 3
17 Regol 2
18 Lengkong 5
19 Batununggal 3
20 Bandung Kidul 1
21 Buahbatu 2
22 Arcamanik 2
23 Antapani 3
24 Mandalajati 5
25 Rancasari 2
26 Gedebage 4
27 Cibiru 4

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-22
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

NO KECAMATAN PUSKESMAS
28 Panyileukan 2
29 Ujungberung 2
30 Cinambo 1
TOTAL 80
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

3.5.4 Persebaran Fasilitas Kesehatan Skala Kelurahan


Kota Bandung memiliki jumlah Rumah Sakit (RS) dengan skala kelurahan sebagai
salah satu jenis fasilitas kesehatan yang hanya menyelenggarakan hanya satu macam
pelayanan kedokteran saja. Jenis fasilitas kesehatan rumah sakit skala kelurahan di Kota
Bandung yaitu laboratorium kesehatan, klinik pratama, dan apotek. Laboratorium
kesehatan adalah tempat yang memiliki pelayanan untuk berbagai jenis tes yang dilakukan
pada specimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. Di Kota
Bandung, jumlah fasilitas laboratorium kesehatan yang tersedia berjumlah 30 unit yang
tersebar di berbagai titik wilayah Kota Bandung yang dapat dilihat pada Gambar 3.14.
Klinik pratama adalah klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar. Jumlah klinik
pratama di Kota Bandung secara berurutan sebanyak 156 unit yang persebarannya dapat
dilihat pada Gambar 3.15.
Apotek adalah tempat menjual dan kadang membuat atau meramu obat. Apotek
juga merupakan tempat apoteker melakukan praktek profesi farmasi sekaligus menjadi
peritel. Di Kota Bandung, jumlah apotek sebanyak 684 unit yang tersebar di berbagai titik
wilayah di Kota Bandung yang dapat dilihat pada Tabel 3.13. dan Gambar 3.16-3.17.

Tabel 3.13
Persebaran Lab. Kesehatan, Klinik Pratama, dan Apotek Skala Kelurahan
di Kota Bandung

JENIS FASILITAS KESEHATAN


KECAMATAN
LAB. KESEHATAN KLINIK PRATAMA APOTEK
Sukajadi 2 5 28
Sukasari - 8 27
Andir 1 5 31
Cicendo 2 7 36
Cibeunying Kidul 1 10 32
Cibeunying Kaler 1 10 20
Coblong 3 6 31
Cidadap - 3 7
Bandung Wetan 3 7 18
Sumur Bandung 2 6 21
Bandung Kulon - 5 28
Babakan Ciparay - 5 21
Bojongloa Kaler - 6 16
Bojongloa Kidul - 2 23
Astanaanyar 2 2 35
Kiaracondong 1 6 21

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-23
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

JENIS FASILITAS KESEHATAN


KECAMATAN
LAB. KESEHATAN KLINIK PRATAMA APOTEK
Regol 1 2 35
Lengkong 5 7 50
Batununggal - 8 26
Bandung Kidul 1 4 20
Buahbatu 2 9 32
Arcamanik - 5 14
Antapani - 8 25
Mandalajati - 2 10
Rancasari - 4 27
Gedebage - 2 8
Cibiru 1 4 5
Panyileukan 1 3 10
Ujungberung 1 4 17
Cinambo - 1 10
TOTAL 30 156 684
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2018

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-24
KOTA BANDUNG
3.11 3-25

3-25
3.12 3-26

3-26
3.13 3-27

3-27
3.14 3-28

3-28
3.15 3-29

3-29
3.16 3-30

3-30
3.17 3-31

3-31
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

3.6 Kondisi Sarana dan Prasarana Fasilitas Kesehatan di Kota


Bandung
Kondisi sarana dan prasaran fasilitas kesehatan perlu diperhatikan baik di dalam
gedung bangunan fasilitas kesehatan maupun diluar bangunan, salah satunya lahan parkir
yang penting untuk disediakan agar dapat memfasilitas pengunjung baik itu rumah sakit,
klinik, laboratorium kesehatan, puskesmas, sampai apotek untuk menghindari dampak
kemacetan lalu lintas. Berikut ini merupakan gambaran kondisi sarana dan prasarana fasilitas
kesehatan yang tersedia berdasarkan hasil survei lapangan.

Gambar 3.18
Kondisi Sarana dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Skala Pelayanan PPK

Sumber: Hasil Survei, 2018

Berdasarkan gambar merupakan fasilitas kesehatan di Kota Bandung dengan skala


pelayanan PPK (Pusat Pelayanan Kota) yang meliputi Rumah Sakit Kelas A, Rumah Sakit Kelas
B, dan Rumah Sakit Khusus. Pada gambar menunjukkan kondisi bangunan dan lahan parkir
yang tersedia. Selain itu terdapat rincian ruangan yang terdapat di Rumah Sakit Santosa
Hospital yang merupakan Rumah Sakit Kelas A.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-32
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Gambar 3.19
Kondisi Sarana dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Skala Pelayanan SPK

Sumber: Hasil Survei, 2018

Berdasarkan gambar diatas merupakan fasilitas kesehatan dengan skala pelayanan


SPK (Subpusat Pelayanan Kota) yang meliputi Rumah Sakit Kelas C, Rumah Sakit Kelas D, da
Klinik Utama. Secara eksisting memiliki kondisi lahan parkir yang tidak cukup luas bahkan
terdapat klinik utama yang memiliki minim fasilitas kesehatan.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-33
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Gambar 3.20
Kondisi Sarana dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Skala Pelayanan Kecamatan
Sumber: Hasil Survei, 2018

Gambar diatas merupakan fasilitas kesehatan di Kota Bandung dengan skala pelayanan
Kecamatan yang meliputi Puskesmas. Beberapa dokumentasi Puskesmas yang ada di Kota
Bandung dapat dilihat kondisi bangunan dan sarana tempat parkir yang masih minim akibat
keterbatasan lahan.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-34
KOTA BANDUNG
PENYUSUNAN PEDOMAN KETENTUAN
SEBARAN FASILITAS KESEHATAN
PEDOMAN KITA
DI KOTA BANDUNG

Gambar 3.21
Kondisi Sarana dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Skala Pelayanan Kelurahan
Sumber: Hasil Survei, 2018

Gambar diatas menunjukkan fasilitas kesehatan di Kota Bandung dengan skala


pelayanan Kelurahan yang meliputi Laboratorium Kesehatan, Klinik Pratama, dan Apotek. Dari
hasil survei, kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki masing-masing fasilitas kesehatan
dengan skala pelayanan kelurahan memiliki lahan parkir yang minim sehingga dapat
memberikan dampak kemacetan lalu lintas akibat kendaraan-kendaraan yang terparkir di
bahu jalan karena lahan parkir tidak cukup menampung kendaraan pengunjung yang datang.

September 2018 PEMERINTAH KOTA BANDUNG


DINAS PENATAAN RUANG 3-35
KOTA BANDUNG