Anda di halaman 1dari 3

2.

klasifikasi qiyas ustisna’ dan hukum-hukumnya

Perlu diketahu bersama bahwa yang dimaksud dengan qiyas istisna’i (silogisme hipotetis)
adalah tendensi dan konsekuensi, sebab premis pertama dalamqiyas istisna’ itu selalu terdiri
dari kalimat syartiah (baik yang muttasil maupun yang mungfasil) dan premis keduanya
adalah istisna’/ eksepsi atau pengecualian.

Dari realitas itulah, terjadilah suatu istisna’ itu, selalu melalui 4 bentuk

1. Menetapkan tendensi
2. Meniadakan tendensi
3. Menetapkan konsekuensi
4. Meniadakan konsekuensi

a). Istisna’ muttashil dan hukum-hukumnya

Istisna’ muttashil adalah qiyas yang premis mayornya terdiri dari susunan kalimat syartiah
muttashilah.

Contoh:

Jika semua sopir itu hati-hati (tendensi) maka perjalanan akan selamat (konsekuensi)

Tetapi semua sopir memang berhati-hati

Jadi: perjalanan selamat

Rumus:

Jika B, maka C

Tetapi B

Jadi C

Jika ternyata tendensi itu ditetapkan pada kesimpulannya, maka ia pasti menetapkan
konsekuensinya dan jika konsekuensi yang ditiadakan maka kesimpulannya pasti meniadakan
tendensi

Contoh:

1). Menetapkan tendensi

Tendensi, seperti: jika matahari terbenam,

Konsekuensi, seperti: maka malam hari ada.

Lalu dikecualikan (diistisna’kan) dengan menggunakan kata tetapi, seperti:

Tetapi ternyata matahari terbenam

Jadi: malam hari ada.

2). Meniadakan konsekuensi seperti:

Tendensi, seperti: jika aku kentut, wuduku batal

Kosekuensi, seperti: tetapi aku tidak kentut


Jadi: wuduku tidak batal

Hukum istisna’ muttasilah

Adapun hukum yang dapat diambil dari susunan kalimat dari istisna’ muttasil itu, dapat
dilihat dari adanya dua segi, yaitu:

1). Qiyas yang berpotensi kuat bisa memunculkan natijah.

Jika demikian maka hukum yang dapat diambil ada dua, yaitu:

a. Hukum mengecualikan subtansi tendensi, berpotensi kuat memunculkan subtansi


konsekuensi sebagai kesimpulannya.
Contoh:
Jika benda itu adalah apel, maka ia termasuk buah.
Tetapi benda itu memang apel
Jadi: benda itu buah
RUMUS:
jika B,maka C
Tetapi B
Jadi C
b. Hukum mengecualikan lawan subtansi konsekuensi, berpotensi kuat akan akan
memunculkan lawan subtansi tendensi menjadi kesimpulannya
Contoh:
Jika benda itu adalah apel, maka ia termasuk buah
Tetapi benda itu bukan buah
Jadi: benda itu bukan buah
2). Qiyas yang tidak berpotensi mengeluarkan natijah
Jika demikian hukum yang dapat diambil ada dua, yaitu:
a. Hukum mengecualikan subtansi konsekuensi yang berpotensi tidak memunculkan subtansi
tendensi sebagai kesimpulannya.
Contoh:
Jika benda itu adalah apel, maka ia termasuk buah
Tetapi benda itu bukan bahan bangunan
Jadi benda itu apel (ini salah)
RUMUS:
Jika B, maka C
Tetapi C
Jadi B (ini salah)
b. Hukum mengecualikan subtansi tendensi yang berpotensi tidak memunculkan subtansi
konsekuensi sebagai kesimpulannya.
jika benda itu adalah apel, maka ia adalah buah
tetapi benda itu bukan apel
jadi: benda itu adalah buah
RUMUS:
Jika B, maka C
Tetapi B
Jadi C salah
Istisna’ munfashil dan hukum-hukumnya
1). DEFINISI ISTISNA’ MUNFASHIL
Munfashilah secara bahasa artinya pisah, jadi qiyas istisna’ munfashil ialah qiyas yang
premis mayornya dari susunan kalimat syartiah munfashilah.
Contoh:
Gelombang laut itu adakalanya tenang dan adakalanya bergelombang
Tetapi laut tenang
Jadi: laut tidak bergelombang
RUMUS:
B itu adakalanya C, dan adakalanya D
Tetapi C
Jadi: tidak D
Dengan demikian, yang dimaksud dengan istisna’ munfashil adalah terjadinya hubungan
antara tendensi dan kosekuensi pada premis mayor, yang berpotensi memunculkan
hukum yang berbeda, sehingga hukum yang terdapat didalamnya, sangat ditentukan oleh
adanya 3 bentuk relasinya yang saling terkait antara tendensi dan kosekuensi pada premis
mayor dan masing-masing keterkaitan hubungan itu, memiliki ketentuan hukum sendiri
yang berbeda