Anda di halaman 1dari 34

TASYAHUD AWAL

DALAM SALAT TARAWIH EMPAT RAKAAT

Muhammad Rofiq Muzakkir


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pendahuluan
Dalam beberapa dokumen resmi yang menjelaskan sikap persyarikatan
tentang masalah-masalah keagamaan, disebutkan bahwa Muhammadiyah mengakui
prinsip tanawwu‘ (keragaman) dalam pelaksanaan salat tarawih.1 Prinsip tanawwu‘
diambil sebagai jalan untuk mengkompromikan sejumlah riwayat yang menjelaskan
secara berbeda-beda tentang tatacara salat tarawih dan salat lail yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw. Dalam Putusan Tarjih yang dihasilkan dalam Muktamar Khususi
Tarjih tahun 1972 di Wiradesa dijelaskan delapan ragam cara pelaksanaan salat
tarawih menurut Muhammadiyah, yaitu: (a) 4 + 4 + 3; (b) 2 + 2 + 2 + 2 + 2 +
1; (c) 4 + 3/ 6 + 3/ 8 + 3/ 10 + 3; (d) 8 + 2 + 1; (e) 8 + 5; (f) 8 + 1 + 2; (g) 7
+ 2; (h) 9 + 2.

1.  Prinsip tanawwu‘ dalam masalah ibadah artinya adalah mengakui bahwa Rasul melakukan
satu ibadah tertentu dengan cara yang bermacam-macam. Lebih lanjut baca: Ibnu Taimiyah, Majmū‘
al-Fatāwā, “faṣl fi al-‘ibādāt allatī jā’at ‘alā wujūhin muta‘addidah”, vol. XXII (Kairo: al-Maktabah
al-Taufīqiyyah, tt), hlm. 200-6.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
64 Muhammad Rofiq Muzakkir

Putusan Wiradesa tersebut sudah sering mendengarnya,4 tetapi


kemudian dipertegas kembali dan yang muncul akhir-akhir ini adalah
dijelaskan secara lebih rinci oleh Buku kritik mengenai teknis pelaksanaan salat
Tanya Jawab Agama Jilid 3.2 Namun tarawih yang berjumlah empat-empat
demikian, sekalipun Muhammadiyah rakaat itu. Muncul kecenderungan
mengakui prinsip tanawwu‘, pada baru yang menyatakan bahwa tarawih
umumnya di lapangan warga empat-empat rakaat harus dilakukan
Muhammadiyah lebih banyak yang dengan tasyahud awal pada rakaat
memilih untuk mempraktikkan salat kedua. Dus, praktik salat tarawih tanpa
tarawih dengan cara empat-empat-tiga.3 tasyahud awal seperti yang selama ini
Cara salat tarawih seperti demikian diamalkan oleh warga Muhammadiyah
barangkali dapat dikatakan telah menjadi dianggap praktik yang tidak berdasar
identitas tersendiri bagi masjid-masjid sama sekali. Sebuah artikel yang penulis
Muhammadiyah yang membedakannya baca di internet dengan percaya diri
dari masjid-masjid lainnya. menyatakan bahwa praktik yang
Belakangan ini kemudian muncul meninggalkan tasyahud awal dalam
pendapat yang mempertanyakan salat tarawih adalah praktik yang
keabsahan praktik salat tarawih empat- muncul dari “reka-reka akal” semata
empat-tiga yang biasa dilakukan oleh alias tidak memiliki dalil.5 Pandangan
warga Muhammadiyah. Pertanyaan seperti demikian ternyata mulai banyak
yang muncul bukan lagi sekedar dianut.6 Di dunia maya, dengan mudah
masalah bilangan tarawih 11 rakaat atau
4.  Untuk merespon pertanyaan terse-
pelaksanaannya yang menggunakan but, dalam beberapa fatwa Tarjih sendiri juga
cara empat-empat, karena terkait sudah berulang kali dijelaskan dalil mengapa
masalah tersebut Muhammadiyah Muhammadiyah salat tarawih 11 rakaat de­
ngan cara empat-empat-tiga. Lebih lanjut baca:
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah,
Tanya Jawab Agama 1 (Yogyakarta: Suara Mu-
2.  Pimpinan Pusat Muhammadiyah hammadiyah, 2003), cet. VII, hlm. 90 dan Tanya
Majelis Tarjih, Himpunan Putusan Tarjih, hlm. Jawab Agama 6, cet. I, 2010, hlm. 64.
342 & 352-355; Majelis Tarjih dan Tajdid 5.  http://www.arrahmah.com/read/
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanya Jawab 2010/08/12/8698-bilangan-rakaat-shalat-
Agama Jilid 3 (Yogyakarta: Suara Muhammadi- tarawih-dan-cara-melaksanakannya.html (akses
yah, 2004), hlm. 107-114. tanggal 3 Oktober 2013, pukul 15:21).
3.  Menarik untuk diperhatikan, asal 6.  Penulis ingat pada bulan Ramadan
muasal munculnya penegasan kembali kera­ tahun 2013, di sebuah stasiun televisi milik
gamaan bilangan rakaat tarawih dalam Buku kelompok salafi, seorang ustaz dalam cera-
Tanya Jawab Agama Jilid 3 adalah kebingungan mahnya tentang salat tarawih menyatakan
dari seorang penanya beserta jamaah di suatu bahwa cara yang benar dalam melaksanakan
masjid di Medan ketika mereka salat dipimpin tarawih 4 rakaat adalah dengan duduk tasyahud
oleh imam yang melaksanakan tarawih dengan awal pada rakaat kedua. Sang ustaz kemudian
cara 8 rakaat satu kali salam. mengatakan bahwa salat tarawih 4 rakaat tanpa

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 65

dapat dijumpai pandangan-pandangan Ber-istidlāl dengan Dalil Salat Umum


seperti itu. Dalil pertama yang dijadikan
Berangkat dari munculnya dasar bahwa Rasulullah melakukan
sejumlah kritik dan tuduhan tidak tasyahud awal dalam salat tarawih
ada dalil dalam praktik tarawih tanpa adalah hadis yang diriwayatkan oleh
tasyahud awal dalam salat empat- Aisyah tentang tatacara Rasulullah
empat rakaat, Majelis Tarjih dan melakukan salat. Disebutkan dalam
Tajdid kemudian memutuskan untuk hadis tersebut bahwa Rasulullah saw
mengangkat permasalahan ini dalam membaca taḥiyyāt setiap dua rakaat (nas
Munas Tarjih ke-28. Tulisan ini no 2). Menurut yang menggunakannya,
disusun untuk menguraikan landasan hadis ini dipahami sebagai nas yang
argumentasi (dalil naqli) dari praktik menjelaskan bahwa tasyahud awal
yang telah menjadi putusan dan adalah bagian dari ketentuan umum
praktik mengakar di tengah warga yang berlaku dalam seluruh salat.7 Nas
Muhammadiyah. Tulisan ini menguji, tersebut kemudian diposisikan sebagai
secara kritis dengan kacamata ilmu mukhaṣṣiṣ bagi riwayat Aisyah yang
kritik hadis dan ilmu Usul Fikih, dalil berasal dari Abu Salamah (nas no 1)
yang dianggap mendasari adanya yang bersifat mujmal. Pertanyaannya,
praktik tasyahud awal pada salat tarawih apakah nas di atas memang dapat
yang berjumlah empat-empat rakaat. dijadikan mukhaṣṣiṣ bagi hadis Aisyah
Setelah itu tulisan ini merekonstruksi tentang salat tarawih empat-empat
dalil-dalil yang menerangkan bahwa rakaat?
salat tarawih empat-empat rakaat Untuk dapat dibawa sebagai hadis
dilakukan tanpa adanya tasyahud awal. yang men-takhsis hadis Aisyah tentang
salat tarawih (nas no 1), hadis di atas
Tasyahud Awal pada Salat Tarawih perlu dibandingkan dengan riwayat-
4 Rakaat, Adakah Dalilnya? riwayat Aisyah lainnya, khususnya
Ada dua model istidlāl (peng- yang secara ṣarīḥ (eksplisit) berkaitan
gunaan dalil) yang umumnya digunakan dengan salat lail. Riwayat-riwayat
dalam tulisan-tulisan yang menyebutkan yang berisi tentang penjelasan Aisyah
kehar usan tasyahud awal dalam mengenai salat lail atau salat tarawih,
salat tarawih empat rakaat. Pertama, umumnya selalu menyebutkan secara
menggunakan nas umum, berupa tekstual dan eksplisit frasa “salat
hadis Nabi yang tidak secara langsung lail”, baik penjelasan Aisyah tersebut
terkait dengan salat tarawih, dan kedua, berasal dari pertanyaan sahabat yang
menggunakan nas yang dianggap 7.  Dadang Syaripuddin, “Tasyahhud
khusus berbicara tentang salat tarawih. Awal pada Setiap Dua Rakaat dalam Shalat yang
Empat Rakaat”, makalah disampaikan dalam
tasyahud adalah praktek yang tidak ada dalilnya forum Halaqah Pra Munas Tarjih, 5 Oktober
sama sekali. 2013 di UM Purwerejo, hlm. 2.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
66 Muhammad Rofiq Muzakkir

diajukan pada Aisyah [nas no 1, 23, Yang menggunakan hadis di atas


24, 25, 26] atau tidak berasal dari (nas no 2) sebagai penjelas (mukhaṣṣiṣ)
pertanyaan sahabat [nas no 29 dan 30]. hadis Aisyah tentang salat tarawih
Sementara pada hadis di atas (nas no 2) (nas no 1) mungkin kurang menyadari
tidak didapati penyebutan frasa “salat bahwa hadis tersebut adalah dalil untuk
tarawih” atau “salat lail”. Bahkan dalam salat dua rakaat. Ketidaksadaran inilah
hadis tersebut tidak disebutkan salat apa yang perlu untuk diluruskan. Dalam
yang dilakukan Rasulullah. Oleh karena masalah ibadah mahḍah, kita tidak cukup
itu, untuk dapat dipahami bahwa hadis ber-istidlāl dengan dalil-dalil umum
tersebut menjelaskan salat tarawih yang atau bahkan dengan dalil untuk ibadah
berjumlah empat rakaat tampaknya lainnya. Jika untuk salat tarawih empat
agak sulit dan terlalu dipaksakan, karena rakaat kita ber-istidlāl dengan dalil
hal tersebut menyelisihi riwayat-riwayat salat dua rakaat, maka akan terjadilah
Aisyah lainnya yang selalu menyebutkan kekacauan dalil. Konsekuensi yang
“salat lail” atau “salat tarawih” secara akan terjadi jika pola ini masih tetap
eksplisit dalam seluruh riwayatnya. diterapkan, orang bisa pula ber-istidlāl
Lebih dari itu, hadis Aisyah untuk masalah puasa sunah dengan
tersebut menurut penulis justru lebih dalil puasa wajib, atau sebaliknya ber-
tepat untuk dimaknai sebagai dalil istidlāl untuk puasa wajib dengan dalil
yang menjelaskan salat yang dua rakaat. puasa sunah. Dengan ber-istidlāl secara
Sebab, sangat terang bahwa Aisyah silang, orang bisa membuat ibadah
tidak sedang menjelaskan salat yang yang tadinya tidak ada menjadi ada dan
empat rakaat. Sejak semula dalam hadis membuat ibadah yang tadinya batal
tersebut tidak disebutkan ada rakaat menjadi sah.
ketiga dan keempat yang dilakukan Penulis berpendapat, jika sese-
oleh Nabi. Setelah mengatakan: “‫َوكَا َن‬ orang dibolehkan ber-istidlāl dalam
ُ ‫[ يَق‬beliau membaca
‫ُول ىِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي التَّ ِحيَّ َة‬ masalah ibadah secara suka-suka tanpa
taḥiyyat pada setiap dua rakaat],” Aisyah harus memperhatikan kesesuaian
lalu mengakhiri pernyataannya dengan antara dalil dan konteks ibadahnya,
kalimat: “ ِ‫الصالَ َة بِالتَّ ْسلِيم‬ َّ ‫[ َوكَا َن يَ ْخ ِت ُم‬beliau maka maknanya orang tersebut sudah
menutup salat dengan salam]”. Itu melibatkan diri untuk masuk dalam
artinya laporan Aisyah dalam riwayat otoritas yang dapat membuat dan
di atas adalah tentang salat Nabi yang menentukan syariat, yaitu otoritas
dua rakaat, bukan yang empat rakaat. Syāri‘. Oleh karena itu, agar kita tidak
Sehingga dengan demikian bacaan melakukan pelanggaran otoritas, maka
taḥiyyat atau tasyahud dalam hadis setiap ibadah mahḍah tidak boleh
tersebut juga harus dimaknai sebagai dilakukan kecuali setelah ada dalil yang
bacaan yang dilafalkan Nabi pada salat bersifat khusus, bukan sekedar dalil
yang dua rakaat, bukan empat rakaat. yang dicari-cari atau dipas-paskan,

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 67

yang terkadang tak jarang redaksinya namun mengandung common element


tidak bersifat manṭūq (eksplisit), bahkan (al-ma‘nā al-musytarak) antara masing-
mengandung banyak kejang galan masing versi. Pada hadis Abdullah
internal di dalamnya. Selain itu, dalam ibn Mas‘ūd di atas, permasalahan
masalah ibadah kita tidak diperkenankan sesungguhnya tidak terletak pada aspek
memiliki prakonsepsi terlebih dahulu, otentisitasnya, namun lebih pada aspek
kemudian setelah itu mencari-cari dalil dalālah al-lafẓ ‘alā al-ḥukm (penunjukan
agar mendapatkan legitimasinya dari lafal terhadap hukumnya). Pertanyaan
syariah. yang perlu dijawab terkait dengan hal ini
Inilah esensi dari kaedah popular adalah tepatkah hadis di atas dipahami
yang berbunyi: sebagai perintah untuk melakukan
duduk taḥiyyat (tasyahud) setiap dua
‫اْألَ ْص ُل ىِف الْ ِعبَا َد ِة التَ ْو ِقيْ ُف َو ا ْ ِإلت ِّباَ ُع‬ rakaat?
[Asas pokok dalam masalah ibadah adalah Jika diperhatikan dengan
mengikuti petunjuk]. seksama, sejak awal sesungguhnya
Untuk menguatkan kaedah hadis di atas hendak menginformasikan
tersebut, asy-Syāṭibi dalam kitabnya kepada kita tentang bacaan yang
al-Muwāfaqāt menyatakan: dilafalkan ketika duduk pada rakaat
kedua, bukan keharusan melakukan
‫الْ ِعبَادَاتُ لاَ َم َج َال لِلْ ُع ُق ْو ِل يِف أَ ْصلِ َها فَضْ اًل َع ْن‬ rakaat kedua itu sendiri. Hal tersebut
‫كَيْ ِفيَاتِ َها‬ dapat dipahami dari siyāq (konteks)
[Masalah ibadah, tidak ada ruang bagi akal kalimat yang menjadi pembuka hadis.
dalam pengadaannya, apalagi dalam hal Ibn Mas‘ūd mengatakan:
tatacaranya].8
ُ ‫كُ َّنا اَل نَ ْدرِي َما نَق‬
‫ُول يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي‬
Dalil kedua yang digunakan
Dahulu kami tidak tahu apa yang kami baca
sebagian kalangan untuk menunjukkan setiap rakaat kedua).
adanya tasyahud awal dalam salat
tarawih empat rakaat adalah hadis Ibn Mas‘ūd kemudian mencerita-
riwayat Abdullah ibn Mas‘ūd (nas no 3). kan bahwa ketika duduk dua rakaat,
Berdasarkan penelusuran penulis, dirinya dan para sahabat lainnya
hadis di atas di-takhrīj setidaknya hanya membaca tasbih, takbir, dan
oleh sembilan orang mukharrij. Pada tahmid (nas no 4). Dalam riwayat
tingkatan sahabat, hadis tersebut yang lain (yang diceritakan kepada
bersumber dari satu orang perawi, tabi‘in bernama Syaqīq [nas no 5], Ibn
yaitu Abdullah ibn Mas‘ūd. Setiap versi Mas‘ūd menceritakan bahwa ada pula
matan walaupun berbeda pelafalannya, di kalangan sahabat yang membaca
kalimat keselamatan atas Allah selain
8.  Ibrāhim ibn Mūsā asy-Syāṭibi, al- bacaan di atas. Laporan Ibn Mas‘ūd
Muwāfaqāt (Kairo: al-Maktabah al-Taufīqiyyah, bahwa para sahabat tidak tahu tentang
tt), III:36.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
68 Muhammad Rofiq Muzakkir

bacaan pada saat duduk di rakaat kedua dengan format kondisional dengan
menunjukkan bahwa pesan yang ingin partikel iżā. Matan tersebut adalah
disampaikan dalam hadis tersebut versi Abu Dawud aṭ-Ṭayālisī (w. 204H/
adalah tentang bacaan atau doa itu 819M) yang berbunyi:
sendiri, bukan tentang kewajiban duduk
tasyahud awal setiap dua rakaat.
‫فَأ َم َرناَ أَ ْن نَ ُق ْو َل يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي التَ ِحيَّاتُ لِلّٰ ِه‬
Dalam riwayatnya di atas Ibn maka beliau menyuruh kami untuk membaca
Mas‘ūd mengatakan bahwa Rasulullah pada setiap dua rakaat at-taḥiyyāt lillāh);
bersabda: [nas no. 4).
Namun setelah direkonstruksi
... ُ‫إِذَا قَ َع ْدتُ ْم يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي فَقُولُوا التَّ ِحيَّات‬
sanad hadis Abdullah ibn Mas‘ūd secara
(jika kalian duduk setiap dua rakaat, maka keseluruhan, tampak jelas bahwa aṭ-
ucapkanlah at-taḥiyyāt). Ṭayālisī telah melakukan periwayatan
Dalam versi lain laporan Ibn bil-ma‘nā, karena lafal aṭ-Ṭayālisī berbeda
Mas‘ūd berbunyi: dengan lafal dari mukharrij-mukharrij
lainnya, sehingga dalam hal ini, dapat
‫َعلَّ َم َنا َر ُس ْو ُل اللّٰ ِه ﷺ أَ ْن نَ ُق ْو َل إِذَا َجل َْس َنا يِف‬ dikatakan bahwa aṭ-Ṭayālisī telah
ُ‫ال َركْ َعتَ نْ ِي التَّ ِح َّيات‬ melakukan perubahan lafal (wording)
Rasulullah mengajarkan kami jika kami hadis. Dari empat orang perawi yang
duduk pada rakaat kedua agar kami menerima hadis dari Syu‘bah (ṭabaqah
membaca at-taḥiyyāt).” ke-3), yaitu Muhammad ibn Ja‘far,
Hampir semua versi yang Muhammad ibn Kaṡīr, al-Walīd dan
meriwayatkan hadis di atas aṭ-Ṭayālisī, hanya ia sendirilah yang
menggunakan partikel kondisional menghilangkan partikel iżā. Tiga
(ḥarf syarṭ) iżā, yang artinya “jika”. orang lainnya yang menerimanya dari
Pemaknaan terhadap hadis Ibn Mas‘ūd Syu‘bah dan perawi-perawi lainnya
di atas sangat bertumpu pada partikel iżā tetap mempertahankan partikel iżā.
tersebut. Dengan mempertimbangkan Namun demikian, ada atau tidak
keberadaan partikel iżā, maka makna adanya partikel iżā tetap saja tidak ada
yang muncul dari pemahaman secara dalālah ṣarīḥah (petunjuk eksplisit) yang
mafhūm mukhālafah terhadap hadis memerintahkan untuk duduk tasyahud
tersebut adalah: “jika kalian tidak awal pada lafal dari aṭ-Ṭayālisī. Lafal versi
duduk pada rakaat kedua atau kalian aṭ-Ṭayālisī, sama seperti versi mukharrij-
melakukan salat yang tidak harus duduk mukharrij lainnya, mengajarkan tentang
pada rakaat kedua, maka bacaan at- doa ketika duduk tasyahud awal pada
taḥiyyāt tidak perlu dibaca”. rakaat kedua. Untuk menunjukkan
Memang betul ada sebuah matan perintah melakukan tasyahud awal,
yang tidak menggunakan laporan semestinya redaksi hadis Ibn Mas‘ūd
misalnya berbunyi: “kunnā lā najlis fi

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 69

Gambar 1 Rasulullah

Ibnu Mas‘ūd

Abu al-Aḥwaṣ Al-Aswad


Syaqīq
ibn Salamah

Abu Isḥāq

Abu Sulaiman
Huṣain Abu Hasyim Hammād Wa’il al-A’masy
Manṣūr

Syu’bah
Sufyan aḧ-Ḧauri Zaidah

Abdullah al- Yaḥyā


Muhammad ibn Abu Muhammad Asyja’iy Mu‘awiyah
Kaḧīr al-Walīd bin Ja‘far Abd ar-Razāq bin Amr
Aḩ-Ḩayālisī
Amr ibn Ali Musaddad
Al-Faḍl bin
al-Ḥibab Aḥmad
Bandar Muhammad bin al-
Muhammad bin Naẓār al-Azdi
Ya’qub al-Dauraqi
al-Muḧanna
Abu Bakar
Ibnu Ḥibbān Abu Dāwūd
Abu Ḩāhir
Al-Nasā’ī At-Tirmīżī Aḩ-Ḩabrānī
Ibnu Khuzaimah

kulli rak‘atain fa amaranā an najlisa (kami pernyataan Nabi agar Ibn Mas‘ūd
dahulu tidak duduk pada setiap dua memilih berdoa dengan doa apa saja
rakaat, kemudian Rasulullah menyuruh setelah membaca bacaan tasyahud. Ibnu
kami melakukannya)”. Kenyataannya, Rajab al-Ḥanbali, pensyarah kitab Ṣaḥīḥ
tidak ada lafal seperti itu yang muncul al-Bukhārī yang mengomentari hadis di
pada semua versi hadis dari Ibn Mas‘ūd. atas mengatakan:
Skema sanad hadis dari Abdullah ibn Lafal ini (maksudnya perintah untuk
Mas‘ūd tentang doa pada saat duduk memilih doa pada saat duduk taḥiyyat)
tasyahud dapat dilihat pada gambar 1. sangat jelas menunjukkan bahwa
Sebagai catatan tambahan, ada tasyahud ini dilakukan setiap dua
yang memahami bahwa hadis Abdullah rakaat yang langsung salam.9
ibn Mas‘ūd yang sedang didiskusikan
di sini adalah hadis yang menjelaskan
tata cara salat dua rakaat yang hanya
9.  Zainuddin Abū al-Faraj Ibnu Rajab
memiliki satu tasyahud, bukan salat
al-Ḥanbaliy, Fatḥ al-Bāri Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy
empat rakaat atau bukan menjelaskan (al-Madīnah al-Munawwawah: al-Ghurabā al-
tentang tasyahud awal. Buktinya adalah Astariyyah, 1996), vol. VII: 325.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
70 Muhammad Rofiq Muzakkir

Riwayat Abu Hurairah, Dapatkah lahir dari periwayatan bil-ma‘nā; (2) hadis
Dijadikan Dalil? tersebut adalah dalil tentang bacaan
Dalil kedua yang dijadikan dasar takbir; dan (3) Abu Hurairah tidak
bahwa salat tarawih empat rakaat harus pernah meriwayatkan hadis tentang
melakukan tasyahud awal adalah hadis rakaat tarawih.
riwayat Abu Hurairah (nas no 6). Dalil Setelah dilakukan takhrīj, hadis
ini dianggap menceritakan langsung yang menceritakan praktik Abu Hurairah
bahwa Rasulullah apabila salat tarawih mengimami salat seperti tersebut dalam
empat rakaat juga melakukan tasyahud hadis di atas, selain terdapat dalam Ṣaḥīḥ
awal. al-Bukhāri juga terdapat dalam empat
Menurut seorang penulis, pesan belas kitab hadis primer (al-maṣādir al-
primer (‘ibārat an-naṣṣ) dari hadis aṣliyyah) lainnya, yaitu: Muwaṭṭa’ Imam
di atas adalah tentang takbir yang Mālik, al-Umm Imam al-Syafi’i, Muṣannaf
memisahkan antar gerakan dalam salat. Abdur Razzāq, Musnad Aḥmad, Ṣaḥīḥ
Namun, hadis di atas juga dianggap Muslim, Ṣaḥīḥ Ibn Khuzaimah, Musnad
menyampaikan pesan sekunder (isyārat Abū ‘Awānah, Sunan Abū Dāwud, Sunan
an-naṣṣ) yaitu tentang adanya tasyahud al-Dārimi, Sunan at-Tirmīżī, Sunan an-
awal dalam salat tarawih. 10 Pesan Nasā’ī, Musnad asy-Syāmiyyīn li aṭ-Ṭabrānī,
sekunder tersebut dapat dipahami Ṣaḥīḥ ibn Ḥibbān, dan Musnad al-Mūṣilī
dari dua kalimat, yaitu pernyataan (nas no 7-21). Dari 15 orang mukharrij
perawi sebelum Abu Hurairah bahwa tersebut, secara keseluruhan terdapat
Abu Hurairah selalu bertakbir saat 26 jalur periwayatan untuk hadis ini.
melakukan salat wajib, baik pada bulan Imam Bukhari sendiri yang dalam satu
Ramadan maupun bulan lainnya dan riwayatnya terdapat tambahan kalimat
pernyataan bahwa Abu Hurairah “wa ghairihā fi Ramaḍān wa ghairih”,
melakukan takbir setelah duduk pada memiliki empat jalur ketika men-takhrīj
rakaat kedua. Pertanyaannya, apakah hadis ini, yaitu melalui Abul Yaman,
riwayat Abu Hurairah di atas benar- Yahya ibn Bukair, Abdullah ibn Yusuf,
benar tepat untuk dijadikan dalil? dan Adam. Jika digambarkan dalam
Setelah membaca secara cermat bentuk skema, sanad hadis tersebut
hadis di atas, penulis menyatakan menjadi seperti gambar 2.
bahwa hadis di atas lā yaṣluḥ lil-iḥtijāj Membandingkan 26 jalur dengan
bih (tidak dapat dijadikan dalil) bahwa 26 matan hadis yang terdapat dalam
salat tarawih empat rakaat juga harus 15 kitab al-Maṣādir tersebut, kita dapat
menggunakan tasyahud. Alasannya menemukan matan yang menjadi
adalah (1) Kalimat “wa ghairihā fi common element (unsur bersama) antar
Ramaḍān wa ghairih” pada hadis di atas pelbagai riwayat. Common element dari
10.  Dadang Syaripuddin, “Tasyahhud
keseluruhan matan hadis riwayat Abu
Awal”, hlm. 17. Hurairah tersebut dapat dinyatakan

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Rasulullah
Gambar 2
Abu Hurairah

Abu Bakar ibn Abdurrahman Abu Salamah Aṭa’

Said al-Maqbariy
Zuhri

Ibnu Abi Yahya

Syuaib
Uqail Ibnu Juraij Ma’mar
Żikbin

Malik Yunus
Waki’
Adam
Ali ibn Abu al- Abdul A’la
Abdur Razaq
Ayyash Yamān Abdullah Harmalah
Al-Laits
Baqiyyah Usman ibn Yahya

Syafi‘i
Sufyan Hibban
Abu Zur’ah Hujain ibn Musa
Yahya Hajjaj Ali ibn
ibn Bukair Suwaid Hasan
Amru ibn
Usman Naṣr ibn Ali Al-Hasan
Abdullah Ahmad Ad-Dabari ibn Sufyan
ibn Yusuf Sawwar
Abu Ya’la Aṭ-Ṭabrānī Yusuf bin Muslim
Abdullah
Muhammad
Abu Dawud ibn Rafi’
Abu Awanah Ibnu Ḥibban

Al-Bukhārī (1)
Abu Bakar
At-Tirmiżi
Al-Bukhārī (2) An-Nasa’i Ad-Darimi
Keterangan : Abu Thahir

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat

Tanpa kata “Ramadan”


Menggunakan kata “Ramadan” Ibnu Khuzaimah
Muslim
71
72 Muhammad Rofiq Muzakkir

dalam empat hal berikut: Sekalipun 26 jalur tersebut


1) Abu Hurairah diceritakan memimpin memiliki common element dan beberapa
salat jamaah. di antaranya ada yang lafalnya sangat
2) Di dalam jamaahnya ada dua orang identik, namun antara satu riwayat
tabi’in yang kemudian meriwayatkan dengan riwayat lainnya juga memiliki
praktik Abu Hurairah menjadi perbedaan pada matannya. Perbedaan
sebuah hadis. Dua orang tersebut tersebut ada yang hanya bersifat lafẓiyah
adalah Abu Salamah dan Abu Bakar saja, artinya perbedaan lafal yang
ibn Abdurrahman. tidak terkait dengan isi, dan ada juga
3) Abu Hurairah bertakbir ketika akan yang terkait dengan substansi hadis.
memulai salat, ketika rukuk, ketika Contoh perbedaan lafal dan perbedaan
sujud, dan ketika bangkit dari rakaat substansial dari common element hadis
kedua. tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
4) Abu Hurairah menyatakan bahwa Membandingkan matan dari
dirinyalah orang yang paling mirip masing-masing mukharrij (nas no 3-18)
salatnya dengan salat Rasulullah dan melihat adanya perbedaan lafal,
dibandingkan dengan selur uh serta adanya beberapa tambahan di luar
jamaah yang hadir pada salat yang common element, kita dapat menyimpulkan
ia imami. bahwa telah terjadi periwayatan bil-ma‘nā
dalam hadis di atas. Dalam menarasikan

Tabel 1: Perbedaan Substansial yang Terkait dengan Common Element Hadis


Penyusun
Perbedaan Lafal Mukharrij Keterangan
Lafal
َّ ‫ إِذَا قَا َم إِ ىَل‬Muslim (no. [392]-30)
‫الصالَ ِة‬ Yunus ibn 12 orang mukhar-
‫ الْ َم ْكتُوبَ ِة‬Al-Nasai (no. 1023) Yazid rij lainnya tidak
Ibnu Hibban (no. menyebutkan lafal
1767) ‫الصالَ ِة الْ َم ْكتُوبَ ِة‬
َّ
‫ ىِف ك ُِّل َصالَ ٍة ِم َن‬Bukhari (no. 803) Abul 13 orang mukhar-
‫ الْ َم ْكتُوبَ ِة َوغ رْ َِي َها ف‬Tabrani (no. 3135) Yaman rij lainnya tidak
dan Yahya menyebutkan lafal
‫َر َمضَ ا َن َوغ رْ َِي ِه‬
ibn Ayyaṣ ‫الصالَ ِة ِم َن الْ َم ْكتُوبَ ِة َوغ رْ َِي َها ف‬
َّ
‫َر َمضَ ا َن َوغ رْ َِي ِه‬
‫ أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة ِح َني‬Nasai (no. 1023) Yunus ibn 11 orang mukhar-
‫ ْاستَ ْخلَ َف ُه َم ْر َوا ُن َعل‬Ibnu Hibban (no. Yazid rij lainnya tidak
‫ الْ َم ِدي َن ِة‬1767) menyebutkannya.
Muslim (no. [392]-30)

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 73

Tabel 2: Matan-matan yang Identik dan Kemungkinan Penyusunnya


Pembuat
Matan yang Identik Analisis
Lafal
1. Nasai (no. 1023) Yunus ibn Yunus adalah common link dari 3
Ibnu Hibban (no. 1767) Yazid jalur yang matannya identik. Lafal
Muslim (no. [392]-30) tidak dianggap berasal dari Zuhri
(gurunya Yunus) karena lafal
Yunus tidak identik dengan lafal
murid Zuhri yang lainnya.
2. Ahmad (no. 7645) Abdul A’la Abdul A’la adalah common link dari
Al-Darimi (no. 1283) 3 jalur yang matannya identik. Lafal
Nasai (no. 1156) tidak dianggap berasal dari Ma’mar
(gurunya Abdul A’la) karena lafal
Abdul A’la tidak identik dengan
lafal Abdur Razaq yang juga
menerimanya dari Ma’mar.
3. At-thabrani (no. 3135) Syuaib Syuaib adalah common link dari 3
Al-Bukhari (no. 803) jalur yang matannya identik. Lafal
Abu Dawud (no. 836) tidak dianggap berasal dari Zuhri
Kecuali tambahan (gurunya Yunus) karena lafal
kata “Ramadan” Syuaib tidak identik dengan lafal
yang tidak dimuat murid Zuhri yang lainnya.
oleh Abu Dawud.
4. Malik (no. 71/248) Malik Malik adalah guru dari Syafi’i.
Syafii (no. 221) Kemungkinan penyusun lafalnya
adalah Malik sendiri.
5. Ahmad (no. 7646) Abdur Abdur Razaq adalah common
Abu Awanah (no. 1853) Razaq/ link dari 3 jalur yang matannya
Muslim (no [392]-29) Ibnu Juraij identik. Lafal kemungkinan bisa
juga berasal dari Ibnu Juraij yang
tidak meriwayatkan hadis tersebut
kecuali kepada Abdur Razaq.
6. Muslim (Nasai 1150) Al-Laiṡ/ Al-Laiṡ adalah common link dari 3
Ahmad (no. 9851) Uqail jalur yang matannya identik. Lafal
Bukhari (no. 789) kemungkinan bisa juga berasal
dari Uqail yang tidak meriwayat-
kan hadis tersebut kecuali kepada
al-Laiṡ sendiri.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
74 Muhammad Rofiq Muzakkir

hadis, perawi tidak menyampaikannya 8) melalui Ali ibn Ayyaṣ [lihat no. 6 pada
secara letterlijk sesuai dengan penyataan Tabel 2]. Sedangkan 24 jalur lainnya
perawi awalnya, Abu Hurairah (sahabat) (nas no 7, 9-21) tidak menyebutkan
atau Abu Bakar ibn Abdurrahman dan kalimat “wa ghairihā fi Ramaḍān wa
Abu Salamah (tabiin), melainkan dengan ghairih”. Implikasi dari ketiadaan kalimat
pembahasaan ulang (wording) yang tersebut adalah keterangan bahwa
menambahkan secara signifikan pesan Nabi melakukan duduk tasyahud awal
awal hadis. Namun pertanyaannya, pada bulan Ramadan menjadi tidak
apakah mungkin keragamaan lafal ada. Pertanyaan kemudian muncul di
sesung guhnya telah terjadi sejak benak kita; jika tidak terdapat dalam
generasi perawi kedua yang menjadi sebagian besar jalur lainnya, dari mana
saksi perbuatan dan pernyataan Abu munculnya tambahan tersebut? Dengan
Hurairah, yaitu Abu Salamah dan Abu penelisikan terhadap jalur sanad, kalimat
Bakar ibn Abdur Rahman yang berasal “wa ghairiha fi Ramaḍān wa ghairih””
dari generasi tabiin? Ataukah keragaman dapat dipastikan belum muncul sampai
lafal baru terjadi sesudahnya, dimulai pada perawi di tingkatan ketiga, yaitu
dari az-Zuhri dari generasi tabiut tabiin Ibnu Juraij, Uqail dan Ma’mar. Oleh
sebagai common link, ataukah terjadi karena itu, kita dapat menduga bahwa
pada generasi-generasi sesudahnya lagi? penambahan (ziyādah) kata Ramadan
Tabel 2 adalah hasil perbanding- terjadi pada perawi setelah tingkatan
an matan antar mukharrij dengan ketiga. Besar kemungkinan Abu al-
mukharrij lainnya. Tabel ini menunjuk- Yaman dan Ali ibn Ayyaṣlah yang
k a n ke i d e n t i k a n m a t a n a n t a r a menambahkan kata tersebut saat
sejumlah mukharrij. Setelah ditelusuri, meriwayatkannya kepada Bukhari dan
keidentikan tersebut disebabkan karena kepada Abu Zur’ah (guru aṭ-Ṭabrani).
mereka menerima hadis dari jalur yang Tambahan tersebut lahir dari sebuah
sama atau karena mereka mengalami proses periwayatan bil-ma‘nā yang
pertemuan sanad pada satu titik perawi. melibatkan unsur intrepretasi perawi,
Kita dapat berasumsi bahwa jalur bukan periwayatan bil-lafẓi yang tetap
pertemuan itulah yang menjadi perawi mempertahankan otentisitas teks apa
yang bertang gungjawab terhadap adanya.
penyusunan lafal (wording) hadis. Karena telah terjadi periwayatan
Mengenai kalimat “wa ghairihā fi bil-ma‘nā pada versi Bukhari dan Ṭabrani
Ramaḍān wa ghairih” dalam hadis Abu dari Ali ibn Ayyaṣ dan Abu al-Yaman,
Hurairah di atas, dari 26 jalur hadis kita hanya dapat berpegang pada
ternyata tambahan tersebut hanya common element saja. Apalagi dalam
terdapat dalam dua jalur, yaitu jalur kasus tambahan kata “wa ghairihā fi
Imam Bukhari melalui Abul Yaman Ramaḍān wa ghairih”, riwayat bil-ma‘nā
(nas no 6) dan jalur aṭ-Ṭabrani (nas no dari dua orang perawi tersebut terjadi

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 75

dalam masalah ibadah. Tambahan agar suatu tambahan bisa diambil.


tersebut menyebabkan ibadah yang Al-Khaṭīb al-Baghdādi mensyaratkan
tadinya tidak ada menjadi ada. Di perawi kredibel tersebut harus seorang
samping itu tambahan tersebut tidak diri (ziyādat aṡ-ṡiqah maqbūlah iżā infarada
memiliki dukungan jalur lainnya bihā), artinya agar riwayat perawi
(mutābi’, corroborator), baik dari ṭabaqah tersebut tidak bertentangan dengan
(tingkatan yang sama) atau ṭabaqah perawi lainnya.12 Hal yang sama juga
sebelumnya. Dalam hal ini (konteks dipegangi oleh Ibnu Hajar al-Asqalani,
ibadah) kejujuran perawi yang seorang yang menyatakan:
diri semata dianggap tidaklah cukup, Pandangan yang populer dari
karena bisa jadi seorang perawi jujur banyak ulama adalah pendapat yang
jug a melibatkan interpretasinya menerima tambahan (perawi) secara
dalam meriwayatkan hadis. Namun mutlak, tanpa diperinci. Hal tersebut
di luar ur usan ibadah, di mana tidak sesuai dengan metode para
tambahan informasi tersebut tidak ahli hadis yang mensyaratkan tidak
adanya syāż dalam hadis sahih dan
merubah common element dan hanya
hasan.13
berfungsi sebagai penjelas, kita dapat
memberlakukan pengecualian. Seperti Al-Zayla’i juga mensyaratkan
halnya tambahan penjelasan dari Yunus perawinya har us ṡiqah dan tidak
bin Yazid bahwa perbuatan Abu bertentangan dengan perawi ṡiqah yang
Hurairah yang menjelaskan tentang lain, ia menulis:
takbir dalam salat saat ia lakukan adalah Di antara manusia (ulama) ada yang
saat ia menduduki jabatan sebagai menerima tambahan dari orang
gubernur Madinah pada masa Marwan yang ṡiqah secara mutlak. Namun
(lihat no 3 pada Tabel 1). ada juga yang tidak menerimanya
Mungkin muncul pertanyaan, (secara mutlak). Yang benar (dalam
apakah tambahan tersebut tidak hal ini) adalah diperinci. Tambahan
orang yang ṡiqah dapat diterima
bisa dikembalikan kepada kaedah
di satu kondisi, (namun bisa juga)
“ziyādat aṡ-ṡiqah maqbūlah (tambahan tidak diterima dalam kondisi yang
redaksi dari orang yang kredibel dapat lain. Diterima jika perawi yang
diterima)”? Sebab, hampir semua meriwayatkannya adalah orang yang
penulis biografi menyebut Ali ibn Ayyaṣ ṡiqah, hafal dan mantap (ingatannya)
dan Abu al-Yaman sebagai pribadi dan tidak ditolak oleh orang
yang ṡiqah. 11 Ternyata para ulama yang sama ṡiqah dengannya atau
hadis sendiri tidak mutlak memegangi
kaedah itu. Beberapa ulama hadis 12.  Al-Khaṭīb al-Baghdādī, Al-Kifāyah
fī Ma‘rifat Uṣūl ‘Ilm ar-Riwāyah (Kairo: Dār al-
justru memberikan syarat tambahan Hudā, 2003), vol. II, hlm. 538.
13.  Ibn Ḥajar al-‘Asqalanī, Nazhat an-
11.  Ibn Ḥajar al-‘Asqalanī, Tahżīb at- Naẓr Syarḥ Nukhbat al-Fikr (Riyāḍ: Maktabat
Tahżīb; aż-Żahābī, Siyār A‘lam an-Nubalā. al-Malik Fahd, 2001), hlm. 82.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
76 Muhammad Rofiq Muzakkir

lebih rendah. Barangsiapa yang salat tarawih, menurut penulis dalam


menghukumi tambahan orang yang konteks riwayat tentang takbir di atas,
ṡiqah dengan menyamaratakannya, pesan sekunder tersebut tidak dapat
sungguh ia telah salah. Karena digunakan. Sebab, hadis di atas berasal
setiap tambahan memiliki hukumnya dari proses periwayatan bil-ma‘nā, bukan
sendiri-sendiri.14
bil-lafẓi. Selain itu, hadis di atas adalah
Alasan kedua untuk tidak dapat sunnah fi‘liyah yang berasal dari laporan
berdalil dengan hadis Abu Hurairah dua orang tabiin mengenai salat Abu
di atas adalah karena hadis tersebut Hurairah, bukan sunnah qauliyah yang
adalah tentang takbir. Hadis riwayat merupakan pernyataan langsung dari
Abu Hurairah (nas no 6) sesungguhnya Nabi.
membicarakan tentang takbir. Hadis Hemat penulis, pesan sekunder
tersebut sama sekali tidak berbicara (isyārat an-naṣṣ) baru dapat digunakan
tentang tasyahud awal pada salat jika nasnya adalah al-Quran atau
tarawih, terutama sebagai ‘ibārat al-naṣ sunnah qauliyyah. Jika sunnahnya adalah
(pesan inti). Sebagai bukti bahwa tema fi‘liyyah, yang lafalnya berasal dari
utama hadis Abu Hurairah adalah laporan sahabat, tabiin atau bahkan
tentang takbir, para ulama mukharrij perawi sesudahnya, pesan dari isyārat
meletakkan hadis tersebut dalam kitab an-naṣṣ tidaklah cukup digunakan
masing-masing pada bab tentang sebagai dalil untuk mendasari suatu
takbir (lihat takhrīj hadis nas no 6-21). ibadah, sebab dalam sunnah fi’liyyah
Tidak ada satupun ulama hadis atau terbuka kemungkinan untuk melakukan
fikih yang menempatkannya pada bab wording (penyusunan lafal sendiri)
tentang salat tarawih. Ibnu Taimiyah yang bisa jadi merupakan interpretasi
yang mengupas hadis di atas juga perawi dan tidak otentik berasal dari
menjelaskan bahwa hadis tersebut Rasul. Oleh karena itu, sepanjang
berbicara tentang takbir. Dalam Majmū‘ merupakan sunnah fi‘liyyah, yang dapat
al-Fatāwa ia menulis: “Ini menjelaskan dijadikan sebagai dalil adalah sisi ibārat
bahwa tema inti (dalam hadis) adalah an-naṣṣ (pesan intinya) saja. Sisi isyārat
tentang bertakbir secara jahar.”15 an-naṣṣ dalam sunnah fi’liyyah dapat
Jika dianggap bahwa dalam hadis diabaikan. Asy-Syāṭibi bahkan lebih
tersebut ada pesan sekunder (isyārat tegas menyebutkan bahwa sisi sekunder
an-naṣṣ) tentang tasyahud awal pada (dalam istilahnya al-ma’nā at-tāb‘iy) dari
14.  Jamāluddin az-Zaylā‘ī al-Ḥanafi, sebuah teks tidak dapat digunakan
Naṣb ar-Rāyah fi Takhrīj Aḥādiṡ al-Hidāyah, untuk menetapkan sebuah hukum,
editor: Muhammad Awamah (Jeddah: Dār ia menulis: “….Kesimpulannya, ber-
al-Qiblah liṡ-Ṡaqāfah al-Islāmiyyah, tt), vol. I, istidlāl dengan makna sekunder sebuah
hlm. 337.
15.  Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā,
teks untuk sebuah hukum tidak dapat
XXII: 342. dilakukan. Tidak sah menggunakannya

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 77

sama sekali.”16 Dengan tiga alasan di atas,


Argumen terakhir bahwa Abu yaitu (1) kata-kata Ramadan dalam
Hurairah tidak sedang menceritakan versi Bukhari dan Ṭabrani adalah
cara salat tarawih yang berjumlah empat redaksi yang lahir dari periwayatan bil-
rakaat adalah Abu Hurairah sendiri ma‘nā, (2) pesan hadis adalah tentang
tidak pernah meriwayatkan hadis takbir, dan (3) Abu Hurairah tidak
Rasulullah tentang salat tarawih empat meriwayatkan hadis tentang bilangan
rakaat. Di sini kita memegang sebuah rakaat tarawih Rasulullah, maka kita
asumsi bahwa jika Abu Hurairah dapat menyimpulkan bahwa hadis
ingin meriwayatkan tasyahud awal tersebut tidak dapat dijadikan dalil
dalam salat tarawih, semestinya ia untuk pelaksanaan tasyahud awal dalam
juga ikut terlibat dalam periwayatan salat tarawih. Dalam hal ini sebuah
hadis tentang salat tarawih Rasulullah, kaedah menyebutkan:
khususnya yang berjumlah empat
ِ ْ‫إِ َّن ال َدلِ ْي َل َم َع ا‬
ْ ‫ال ْح ِت اَم ِل َس َق َط ِب ِه ا‬
‫ْإلس ِت ْد اَل ِل‬
rakaat. Kenyataannya, Abu Hurairah
tidak pernah meriwayatkan satupun Sebuah dalil yang di dalamnya terdapat
hadis tentang rakaat salat tarawih. kejangggalan, maka tidak bisa dijadikan
Terkait dengan salat lail dan witir, hanya dalil.18
ada tiga hadis yang diriwayatkan oleh
Abu Hurairah, yaitu tentang keutamaan Dalil Salat Tarawih 4 Rakaat Tidak
salat tarawih, tentang salat sunnah Menggunakan Tasyahud
iftitah, dan larangan witir tiga rakaat.17
16.  Argumentasi asy-Syāṭibi dalam Tidak Adanya Dalil adalah Dalil tidak
menolak isyārat al-naṣṣ dijelaskannya sebagai Adanya Tasyahud Awal
berikut:
Setiap salat yang memiliki
‫أن وضع هذه الجهة عىل أن تكون تبعا لألوىل يقتىض‬ tasyahud awal selain salat wajib selalu
‫أن ما تؤديه من املعنى ال يصح أن يؤخذ إال من تلك‬ ada dalil khususnya. Artinya, keberadaan
praktik tasyahud awal selalu dijelaskan
‫الجهة فلو جاز أخذه من غريها لكان خروجا بها عن‬
oleh dalil yang bersifat khusus, bukan
‫وضعها وذلك غري صحيح وداللتها عىل حكم زائد عىل‬ sekedar dalil umum untuk salat wajib
‫ما ىف األوىل خروج لها عن كونه تبعا لألوىل فيكون‬ yang kemudian digeneralisasi. Salat-
‫استفاده الحكم من جهتها عىل غري فهم عريب وذلك‬ salat yang memiliki tasyahud awal selain
‫غري صحيح فام أدى إليه مثله وما ذكر من استفادة‬ salat wajib adalah:
‫األحكام بالجهة الثانية غري مسلم وإمنا هى راجعة‬ 1) Salat 4 rakaat sebelum asar yang
dijelaskan oleh hadis riwayat ‘Aṣim
‫إىل أحد أمرين إما إىل الجهة األوىل وإما إىل جهة‬
Suara Muhammadiyah, 2013), hlm. 229-412.
‫ثالثة غري ذلك‬ 18.  Syihābuddīn Abū al-‘Abbās al-
Asy-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt, II:86. Qarāfī, Anwār al-Burūq fī Anwā‘ al-Furūq, editor:
17.  Syamsul Anwar, Salat Tarawih Tin- Muhammad Sarraj dan Ali Jumah (Kairo: Dār
jauan Usul Fikih, Sejarah, dan Fikih (Yogyakarta: as-Salām, 2001), vol. II:518.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
78 Muhammad Rofiq Muzakkir

ibn Ḍamrah dari sahabat Ali ibn Abi Istiqrā’ terhadap Tatacara Rasulullah
Ṭalib (nas no 31); Melakukan Salat Lail dan Salat Witir
2) Salat lail 7 rakaat (duduk pada rakaat Dalil yang menjelaskan cara
keenam) yang dijelaskan hadis dari Rasulullah Saw. melaksanakan tarawih
Ummul Mukminin Aisyah Ra. (nas empat-empat rakaat hanya ada satu,
no 26); yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Siti
3) Salat lail 9 rakaat (duduk pada rakaat Aisyah ketika ditanya oleh Abu Salamah
8) yang juga dijelaskan oleh Aisyah (nas no 1). Hadis ini harus diakui adalah
Ra. (nas no 25). hadis yang mujmal, karena di dalamnya
tidak dijelaskan tatacara pelaksanaan
Keterangan di atas sejalan salat tarawih. Oleh karena itu, untuk
dengan prinsip bahwa hukum asal mengetahui ada atau tidaknya gerakan
dalam pelaksanaan ibadah mahḍah tasyahud awal dalam salat tarawih empat
adalah tidak ada (al-aṣlu fi al-‘ibādah rakaat, kita tidak cukup hanya dengan
al-‘adam). Dan sejalan dengan kaedah hadis itu saja. Selain itu memang tidak
al-aṣlu fi al-‘ibādah at-tawqīf wa al-ittibā‘. ada nas yang eksplisit menerangkan,
Makna dari kaedah tersebut adalah baik ada (iṡbāt) atau tidak adanya (nafy)
masyru‘ atau tidaknya satu ibadah harus tasyahud awal dalam salat tarawih
didasarkan pada dalil khusus, bukan empat rakaat. Sehingga, untuk mencari
sekedar dalil umum untuk ibadah wajib jawabannya kita perlu menerapakan
yang kemudian digeneralisasi ke ibadah metode al-istiqrā’ al-ma‘nawiy (induksi)
lain yang hukumnya sunnah. Ketika terhadap nas-nas yang menerangkan
tidak ada dalil yang menjelaskan (dalīl praktik Rasulullah saat melakukan salat
al-muṡbit) adanya tasyahud awal dalam lail salat witir.
salat tarawih empat rakaat, hal tersebut Metode al-istiqrā’ al-ma‘nawiy
berarti menunjukkan bahwa tasyahud oleh asy-Syāṭibi didefinisikan sebagai
awal tidak ada atau tidak dipraktikkan metode penemuan hukum Islam yang
oleh Nabi. Dalam hal ini logika ta‘mīm dalam prosedurnya memanfaatkan
(generalisasi) bahwa tasyahud awal bukan hanya dalil tunggal, tetapi
adalah aturan umum yang dilakukan di dengan mengumpulkan keseluruhan
setiap salat, kecuali salat khusus yang dalil-dalil yang relevan, sekalipun
mempunyai tata cara yang berbeda tidak berhubungan secara langsung,
(seperti salat janazah) adalah logika sehingga dapat diperoleh kepastian
yang bertentangan dengan prinsip dalam produk hukum. Dengan melihat
hukum asal di atas. secara induktif bagaimana keterangan
yang dibawa oleh sejumlah nas-nas
ghairu ṣarīḥ (yang tidak eksplisit), kita
akan menemukan qarīnah (indikasi)
tentang cara Rasulullah melakukan

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 79

salat tarawih empat rakaat. Dengan salat lail delapan rakaat Rasulullah
sendirinya kita akan menemukan tidak melakukannya, sehinga dengan
jawaban apakah Rasulullah melakukan demikian dapat kita ambil kesimpulan
duduk tasyahud awal pada salat tarawih bahwa dalam salat empat rakaat beliau
yang berjumah 4 rakaat. Berikut ini dua juga tidak melakukannya.
dalil yang perlu kita cermati: Dalam sebuah kaedah mantiq
1) Dalam salat lail 8 rakaat, Rasulullah dinyatakan: ، ِ‫ج ْو ُد الالَ ِزم‬ ُ ‫يَلْ ِز ُم ِم ْن ُو‬
ُ ‫ج ْو ِد الْ َملْ ُز ْومِ ُو‬
duduk hanya di rakaat terakhir (nas ِ‫يَلْ ِز ُم ِم ْن نَفْىِ الالَ ِزمِ نَف ُْي الْ َملْ ُز ْوم‬. Dari kaedah ini,
no 22). tentang salat tarawih 8 & 4 rakaat dapat
2) Witir Rasulullah dalam tarawih 4+4 disimpulkan: “Adanya tasyahud awal
tidak menggunakan tasyahud. dalam salat 4 rakaat mengharuskan
adanya tasyahud awal dalam salat 8
Dalam nas no 22 diterangkan rakaat; sehingga, tidak adanya tasyahud
bahwa Rasulullah melaksanakan awal dalam salat tarawih 8 rakaat
salat lail dengan bilangan 8+2+1. mengharuskan tidak adanya tasyahud
Dalam hadis tersebut juga dijelaskan dalam salat tarawih 4 rakaat.”
bahwa Rasulullah tidak duduk kecuali Jika diasumsikan bahwa salat
pada rakaat yang kedelapan. Makna tarawih yang berjumlah 4 rakaat
tidak duduk di sana tentu saja bukan menggunakan tasyahud, semestinya
Rasulullah salat dengan cara berdiri salat witir yang dilakukan setelah itu
terus, tetapi maknanya adalah Rasulullah juga menggunakan tasyahud. Karena
tidak melakukan duduk tasyahud awal. keduanya adalah satu kesatuan cara salat
Keterangan dalam hadis di atas bahwa Rasulullah yang dijelaskan oleh Aisyah
Rasulullah tidak duduk (atau tidak dalam riwayatnya. Jika digunakan
melakukan tasyahud awal) dalam salat hadis umum bahwa Rasulullah duduk
lail yang berjumlah delapan rakaat tasyahud setiap dua rakaat (nas no 2)
menjadi indikasi (qarīnah) bahwa salat untuk menafsirkan praktik salat tarawih
tarawih yang berjumlah empat rakaat 4 rakaat (nas no 1), semestinya hal
juga tidak mengenal tasyahud awal. yang sama juga dilakukan pada salat
Karena di sini kita memegang sebuah witir 3 rakaat sesudahnya. Namun,
asumsi bahwa Rasulullah melaksanakan kenyataannya terdapat sejumlah dalil
salat, khususnya sunat di malam hari, yang ‘menghalangi’ hal tersebut.
secara konsisten. Jika ada pandangan Terdapat dua buah hadis yang
bahwa dalam salat tarawih empat menjelaskan bahwa witir Rasulullah
rakaat Rasulullah melakukan tasyahud yang berjumlah 3 rakaat dilaksanakan
awal, semestinya untuk salat delapan tanpa melakukan tasyahud awal. Ini
rakaat yang dua kali lebih panjang menjadi indikasi bahwa salat tarawih
beliau juga akan melakukan hal yang 4+4 rakaat yang dilakukan sebelumnya
sama. Namun, kenyataanya dalam juga tidak menggunakan tasyahud. Dua

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
80 Muhammad Rofiq Muzakkir

hadis tersebut adalah: Penutup


1) Hadis dari Ubay bin Kaab (nas no Berdasarkan uraian di atas, ada
28), dan beberapa kesimpulan yang dapat kita
2) Hadis dari Abu Hurairah (nas no ambil:
27). 1) Praktik tarawih empat rakaat tanpa
Secara matan hadis tersebut tasyahud adalah praktik yang
mungkin bisa dianggap bernilai daif memiliki dalil atau dasar syar’i.
karena bertentangan (syāż) dengan 2) Dasar syar’i praktik tersebut adalah:
riwayat yang jusutru menjelaskan a. Setiap salat yang ada tasyahud
bahwa nabi sendiri melakukan salat awal selalu ada dalil khususnya.
witir 3 rakaat (nas no 1). Namun, Contoh: salat 4 rakaat sebelum
untuk mengatasi kesan kontradiksi asar, salat lail 7 rakaat (duduk
tersebut, para ulama mengajukan cara pada rakaat keenam) dan 9 rakaat
kompromi. Cara komprominya adalah (duduk pada rakaat 8). Sehingga
yang dimaksud larangan nabi untuk ketika tidak ada dalil khususnya
melakukan salat witir 3 rakaat adalah yang menerangkan adanya
larangan melakukan witir yang di tasyahud awal dalam salat tarawih
dalamnya terdapat duduk tasyahud awal. empat rakaat, maka hal tersebut
Inilah yang dimaksudkan dari sabda berarti tasyahud awal tidak ada.
nabi “agar salat witir tidak sama dengan Ini kembali kepada kaedah: al-aṣlu
salat magrib”. Ibnu Hajar menjelaskan fi al-‘ibādah at-tawqīf wa al-ittibā‘.
bentuk kompromi tersebut: b. Qarīnah yang dijelaskan oleh dua
Kompromi antara hadis ini (witir dalil lain, yaitu: (1) Rasulullah
Rasulullah yang berjumlah 3 rakaat) tidak melaksanakan tasyahud
dan larangan menyerupai salat magrib dalam salat tarawih delapan
adalah dibawanya larangan kepada salat rakaat, sebagaimana eksplisit
3 rakaat dengan dua tasyahud.19 disebutkan dalam nas no 19; dan
Perlu juga ditambahkan, selain (2) Rasulullah tidak melaksanakan
witir tiga rakaat yang dilakukan pada tasyahud dalam witir tiga rakaat
tarawih empat-empat, witir-witir lainnya yang dilakukan sesudah tarawih
yang dilakukan Rasulullah juga tidak empat-empat rakaat (nas no 25).
menggunakan tasyahud awal, baik yang 3) Tasyahud awal dalam salat tarawih
berjumlah 5 rakaat (nas no 29) maupun adalah pendapat yang tidak memiliki
7 rakaat (nas no 30). Tasyahud awal dasar yang kuat karena sejumlah
hanya ada di witir yang berjumlah 9 alasan:
rakaat (nas no 25). a. Hadis Aisyah [ِ‫ُول ىِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْي‬
ُ ‫َوكَا َن يَق‬
19.  Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bāri
‫ ]التَّ ِح َّي َة‬adalah dalil untuk salat dua
bi-Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, editor: Abū Qutaibah rakaat, bukan untuk salat tarawih
(Dār Ṭayyibah), vol. III, hlm. 326. yang empat rakaat. Indikasinya

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 81

adalah kalimat [ ‫الصالَ َة‬ َّ ‫َوكَا َن يَ ْخ ِت ُم‬ ‫ أَت َ َنا ُم قَبْ َل‬:‫ول اللّٰ ِه‬َ ‫ فَ ُقل ُْت يَا َر ُس‬:ُ‫�ثَالَث ًا» قَال َْت َعائِشَ ة‬
ِ‫;]بِالتَّ ْسلِيم‬ ‫ «يَا َعائِشَ ُة إِ َّن َعيْ َن َّي ت َ َنا َمانِ َوالَ يَ َنا ُم‬:‫أَ ْن ت ُوتِ َر؟ فَق ََال‬
b. Hadis Abdulllah ibn Mas‘ūd
]‫قَلْبِي» [متفق عليه‬
[ ُ‫]إِ ذَا قَ َع ْد ت ُ ْم يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي فَقُولُوا التَّ ِح َّيات‬
menerangkan tentang bacaan Dari Abu Salamah ibn Abd Rahman
pada taḥiyyat pada rakaat kedua, [diriwayatkan] bahwa dia bertanya kepada
Aisyah tentang bagaimana salat Rasulullah saw
bukan tentang setiap salat empat
di [bulan] Ramadan. Aisyah menjawab: Beliau
rakaat ada tasyahud pada rakaat salat di bulan Ramadan –dan di bulan lainnya-
kedua; tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat
c. Kalimat “wa ghairihā fi Ramaḍān rakaat, maka jangan engkau tanya tentang baik
wa ghairih” dalam riwayat Abu dan lamanya. Kemudia beliau salat lagi empat
Hurairah yang terdapat dalam rakaat, maka jangan engkau tanya baik dan
versi Imam Bukhari dan aṭ- lamanya. Kemudian beliau salat tiga rakaat.
Ṭabrani adalah tambahan yang Lalu aku (Aisyah) bertanya: Wahai Rasulullah,
lahir dari periwayatan bil-ma‘nā, apakah engkau tidur sebelum mengerjakan
tambahan siginifikan terhadap witir? Beliau menjawab: Wahai Aisyah, kedua
commont element dari 26 jalur hadis mataku memang tidur, tetapi hatiku tidak tidur.
[muttafaq ‘alaih].
dan setelah diverifikasi ternyata
tidak dijumpai dalam 24 jalur Takhrīj:
lainnya yang menceritakan hal 1) Muhammad ibn ‘Ismāil al-Bukhāri,
yang sama; al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, (Damaskus, Beirut:
d. Hadis Abu Hurairah adalah Dār Ibn Kaṡīr, 2002):
tentang takbir, bukan tentang a. No. 1147, hlm. 278, kitab “at-
salat tarawih; tahajjud”, bab “qiyām al-nabi
e. Abu Hurairah tidak pernah ṣallallāhu ‘alaihi wasallama bi al-lail
meriwayatkan hadis tentang fiy Ramadān wa ghairihi”;
rakaat salat tarawih. b. No. 2013, hlm. 483, kitab “ṣalāt
at-tarāwiḥ”, bab “faḍlu man qāma
Lampiran: Daftar Nas Terkait ramāḍān”; dan
c. No. 3569, hlm. 878, kitab “al-
Salat Tarawih 4 Rakaat manāqib”, bab “kāna al-nabiy
Nas no 1 ṣallallāhu ‘alaihi wasallama tanāmu
‘ainuhu wa lā yanāmu qalbuhu”.
‫ أَنَّ ُه َسأَ َل‬: ُ‫ أَنَّ ُه أَخ رَ َْبه‬، ِ‫َع ْن أَبيِ َسلَ َم َة بْنِ َع ْب ِد ال َّر ْح َمن‬ 2) Muslim ibn Ḥajjāj al-Naysābūri,
‫ كَ ْي َف كَان َْت َصالَ ُة َر ُسو ِل اللّٰ ِه‬،‫ض اللّٰ ُه َع ْن َها‬ َ ِ‫َعائِشَ َة َر ي‬ al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, editor: Abū Ṣuḥaib
‫ول اللّٰ ِه ﷺ‬ ُ ‫ « َما كَا َن َر ُس‬:‫ﷺ يِف َر َمضَ انَ؟ فَقَال َْت‬ al-Karamiy, (Riyāḍ: Bait al-Afkār
al-Dauliyyah, 1998), hadis no. 737,
‫ش َة َركْ َع ًة‬َ ْ‫يَزِي ُد يِف َر َمضَ ا َن َوالَ يِف غ رَْي ِِه َع ىَل إِ ْح َدى َع ر‬
hlm. 291, kitab “kitābu ṣalāt”, bab
‫ ث ُ َّم يُ َص يِّل‬،‫ فَ َال ت ََس ْل َع ْن ُح ْس ِن ِه َّن َوطُولِ ِه َّن‬،‫يُ َص يِّل أَ ْربَ ًعا‬
“ṣalāt al-layl wa ‘adadu raka’āt”.
‫ ث ُ َّم يُ َص يِّل‬،‫ فَ َال ت ََس ْل َع ْن ُح ْس ِن ِه َّن َوطُولِ ِه َّن‬،‫أَ ْربَ ًعا‬

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
82 Muhammad Rofiq Muzakkir

Taḥiyyat setiap Dua Rakaat pada Salat ‫غ رْ ََي أَ ْن ن َُسبِّ َح َونُك رِّ ََب َونَ ْح َم َد َربَّ َنا َوإِ َّن ُم َح َّم ًدا ﷺ َعلَّ َم‬
Wajib ْ‫فَ َواتِ َح الْخ رْ َِي َو َخ َو مِاتَ ُه فَق ََال إِذَا قَ َع ْدتُ ْم فِ ك ُِّل َركْ َعتَ ِي‬
Nas no 2
َّ ُ‫الصلَ َواتُ َوالطَّ ِّي َبات‬
‫الس اَل ُم َعلَ ْي َك‬ َّ ‫فَقُولُوا التَّ ِح َّياتُ لِل ِه َو‬
َّ ‫ كَا َن َر ُس ُول اللّٰ ِه ﷺ يَ ْستَ ْف ِت ُح‬:‫َع ْن َعائِشَ َة قَال َْت‬
‫الصالَ َة‬ َّ ‫أَيُّ َها ال َّنب ُِّي َو َر ْح َم ُة اللّٰ ِه َوبَ َركَات ُ ُه‬
‫الس اَل ُم َعلَ ْي َنا َو َع ىَل‬
‫بِالتَّ ْك ِبريِ َوالْ ِق َرا َء َة ِب (الْ َح ْم ُد لِل ِه َر ِّب الْ َعالَ ِم َني) َوكَا َن‬ ‫الصالِ ِح َني أَشْ َه ُد أَ ْن اَل إِلَ َه إِلاَّ اللّٰ ُه َوأَشْ َه ُد‬ َّ ‫ِع َبا ِد اللّٰ ِه‬
‫إِذَا َركَ َع لَ ْم يُشْ ِخ ْص َرأْ َس ُه َولَ ْم يُ َص ِّوبْ ُه َولَ ِك ْن بَ نْ َي َذلِ َك‬ ‫أَ َّن ُم َح َّم ًدا َعبْدُهُ َو َر ُسولُ ُه َولْيَتَخ رَّ َْي أَ َح ُدكُ ْم ِم ْن ال ُّد َعا ِء‬
‫َوكَا َن إِذَا َرفَ َع َرأْ َس ُه ِم َن ال ُّركُو ِع لَ ْم يَ ْس ُج ْد َحتَّى يَ ْستَو َِى‬ ‫أَ ْع َجبَ ُه إِلَيْ ِه فَلْيَ ْد ُع اللّٰ َه َع َّز َو َج َّل [رواه عبد الرزاق‬
‫الس ْج َد ِة لَ ْم يَ ْس ُج ْد َحتَّى‬ َّ ‫قَائمًِا َوكَا َن إِذَا َرفَ َع َرأْ َس ُه ِم َن‬ ‫واحمد وأبو داود والرتمذى والنساىئ واللفظ له وابن‬
‫ي التَّ ِح َّي َة َوكَا َن‬
ْ ِ َ‫ُول فِ ك ُِّل َركْ َعت‬ ُ ‫يَ ْستَو َِى َجالِ ًسا َوكَا َن يَق‬ .]‫حبان والطرباىن وابن خزمية‬
‫سى َويَ ْن ِص ُب ِر ْجلَ ُه الْ ُي ْم َنى َوكَا َن يَ ْن َهى‬ َ ْ‫يَ ْفر ُِش ِر ْجلَ ُه الْ ُي ر‬ Dari Abdullah ibn Mas‘ūd ia berkata: Dahulu
‫َع ْن ُع ْقبَ ِة الشَّ يْطَانِ َويَ ْن َهى أَ ْن يَف رَْت َِش ال َّر ُج ُل ِذ َرا َعيْ ِه‬ kami tidak tahu apa yang kami baca setiap
]‫الصالَ َة بِالتَّ ْسلِيمِ [مسلم‬ rakaat kedua, sehingga kami mengucapkan
َّ ‫السبُعِ َوكَا َن يَ ْخ ِت ُم‬ َّ ‫اف رِ َْت َاش‬ kalimat tasbih, takbir, dan tahmid dan bahwa
Dari Aisyah ia berkata: adalah Rasulullah saw Muhammad saw telah mengajarkan pembuka-
memulai salatnya dengan takbir dan membaca pembuka kebaikan dan penutupnya. Nabi saw
alhamdulillaahi rabbil ‘ālamiin. Jika rukuk kemudian berkata (mengajarkan kepada kami):
beliau tidak menaikkan kepala (terlalu tinggi) Apabila kalian duduk di setiap dua rakaat
atau menurunkan kepala (terlalu rendah), tetapi maka bacalah: at-taḥiyyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu
pertengahan di antara itu. Jika mengangkat waṭ-ṭayyibāt, assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu
kepala dari rukuk, beliau tidak bersegera sujud warahmatullāhi wabarakātuhu, assalamu ‘alainā
sampai tegak berdiri. Jika mengangkat kepala wa ‘alā ibādillāhiṣṣālihīn, asyhadu anlā ilāha
dari sujud, beliau tidak bersujud sampai tegak illāllāh wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu
dalam posisi duduk. Beliau membaca tahiyyat wa rasūluh. Kemudian kalian memilih doa-doa
pada setiap dua rakaat. Beliau membentangkan yang kalian inginkan. Kemudian berdoalah
kaki kiri dan menegakkan (telapak) kaki kepada Allah azza wa jalla (dengan doa itu).
kanan. Beliau melarang dari duduknya setan dan [Abdurrazāq, Aḥmad, Abū Dāwud, at-Tirmiżi,
melarang seseorang menghamparkan tangannya Nasā’i dan lafal ini darinya, Ibnu Ḥibbān, aṭ-
(dalam sujud salat) seperti binatang buas Ṭabrāni dan Ibnu Khuzaimah].
menghamparkan tangannya. Beliau menutup salat
dengan salam [Muslim]. Takhrīj:
1) Abu Abdurrahman an-Nasā’ī,
Takhrīj: “Sunan al-Nasā’ī”, dalam al-Kutub
Muslim ibn Ḥajjāj al-Naysābūri, al-Jāmi‘ as-Sittah, hadis no. 1162-3, editor:
aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 498, hlm. 204, kitab Raid ibn Ṣabri, Kitab “at-Taṭbīq”,
“al-ṣalat”, bab “mā yajma‘ ṣifat al-ṣalāh”. bab “kayfa at-tasyahhud al-awwal”,
hlm. 2314.
Bacaan Tasyahud pada Rakaat Kedua 2) Abu ‘Isā Muhammad bin ‘Isā, at-
Nas no 3 Tirmīżī, “Sunan at-Tirmīżī”, dalam
ُ ‫َع ْن َع ْب ِد اللّٰ ِه ق ََال كُ َّنا اَل نَ ْدرِي َما نَق‬
‫ُول يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي‬ al-Kutub as-Sittah, hadis no. 289.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 83

editor: Raid ibn Ṣabri, Kitab “as- Nas No 5


Ṣalāh”, bab “mā jā’a fi at-tasyahhud”,
hlm. 1790. ‫يق بْ ُن َسلَ َم َة َع ْن َعبْ ِد اللّٰ ِه بْنِ َم ْس ُعو ٍد ق ََال كُ َّنا‬ ُ ‫َع ْن شَ ِق‬
‫السالَ ُم‬َّ ‫الصالَ ِة قُلْ َنا‬ َّ ‫إِذَا َجل َْس َنا َم َع َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ ىِف‬
Nas no 4 ‫السالَ ُم َع ىَل فُالَنٍ َوفُالَنٍ فَق ََال‬ َّ ‫َع ىَل اللّٰ ِه قَ ْب َل ِع َبا ِد ِه‬
ُ ‫كُ َّنا اَل نَ ْدرِي َما نَق‬:‫قال عبد الله‬
‫ُول يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي غ رْ ََي‬ ‫السالَ ُم َع ىَل اللّٰ ِه فَ ِإ َّن اللّٰ َه‬َّ ‫ الَ تَقُولُوا‬:‫ول اللّٰ ِه ﷺ‬ ُ ‫َر ُس‬
‫ َوإِ َّن ُم َح َّم ًدا ﷺ ُعلِّ َم‬،‫أَ ْن ن َُس ِّب َح َونُك رِّ ََب َونَ ْح َم َد َربَّ َنا‬ ‫السالَ ُم َولَ ِك ْن إِذَا َجل ََس أَ َح ُدكُ ْم فَلْ َيقُلِ التَّ ِح َّياتُ لِل ِه‬ َّ ‫ُه َو‬
‫فَ َواتِ َح الْخ رْ َِي َو َج َوا ِم َع ُه أَ ْو َجوا ِم َع ُه َو َخ َو مِاتَ ُه فَأَ َم َرنَا‬ ‫السالَ ُم َعلَيْ َك أَيُّ َها ال َّنب ُِّى َو َر ْح َم ُة‬
َّ ُ‫الصلَ َواتُ َوالطَّيِّبَات‬ َّ ‫َو‬
َ ‫أَ ْن نَق‬ ِ
‫الصالح َني‬ ِ ِ ِ ِ
َّ ‫السالَ ُم َعلَيْ َنا َو َع ىَل عبَاد اللّٰه‬ َّ ‫اللّٰ ِه َوبَ َركَات ُ ُه‬
ُ‫الصلَ َوات‬ َّ ‫ التَّ ِحيَّاتُ لِل ِه َو‬:‫ُول يِف ك ُِّل َركْ َعتَ نْ ِي‬
‫الس اَل ُم َعلَ ْي َك أَيُّ َها ال َّنب ُِّي َو َر ْح َم ُة اللّٰ ِه‬ َّ ، ُ‫َوالطَّ ِّي َبات‬ ‫الس اَم ِء‬ َّ ‫اب ك َُّل َع ْب ٍد َصالِ ٍح ىِف‬ َ ‫فَ ِإنَّ ُك ْم إِذَا قُلْتُ ْم َذلِ َك أَ َص‬
‫ أَشْ َه ُد‬،‫الصالِ ِح َني‬ َّ ‫الس اَل ُم َعلَ ْي َنا َو َع ىَل ِع َبا ِد اللّٰ ِه‬
َّ ‫َوبَ َركَات ُ ُه‬ َّ‫ أَشْ َه ُد أَ ْن الَ إِلَ َه إِال‬- ‫الس اَم ِء َواألَ ْر ِض‬ َّ ‫ أَ ْو بَ نْ َي‬- ‫َواألَ ْر ِض‬
‫أَ ْن اَل إِلَ َه إِلاَّ اللّٰ ُه َوأَشْ َه ُد أَ َّن ُم َح َّم ًدا َع ْبدُهُ َو َر ُسولُ ُه‬ .]‫اللّٰ ُه َوأَشْ َه ُد أَ َّن ُم َح َّم ًدا َع ْبدُهُ َو َر ُسولُ ُه [رواه ابو داود‬
.‫ث ُ َّم لِيَتَخ رَّ َْي أَ َح ُدكُ ْم ِم َن ال ُّد َعا ِء أَ ْع َجبَ ُه إِلَيْ ِه فَيَ ْد ُعو ِب ِه‬ Dari Syaqīq ibn Salamah dari Abdullah ibn
Mas‘ūd, ia berkata: Kami apabila berada dalam
.]‫[رواه الطيالىس‬
posisi duduk ketika salat bersama Rasulullah
Abdullah ibn Mas‘ūd berkata: Dahulu kami saw kami melafalkan: “al-salāmu ‘alallāhi
tidak tahu apa yang kami baca setiap rakaat qabla ‘ibādihi, al-salāmu ‘alā fulān wa fulān
kedua, sehingga kami mengucapkan kalimat (Keselamatan atas Allah sebelum keselamatan
tasbih, takbir, dan tahmid dan bahwa Muhammad atas hamba-hamba-Nya. Keselamatan atas
saw telah mengajarkan pembuka-pembuka fulan dan fulan).” Rasulullah saw mengatakan:
kebaikan dan penutupnya. Nabi saw kemudian Janganlah kalian mengucapkan “al-salāmu
menyu-ruh kami untuk membaca di setiap dua ‘alallāhi” karena keselamatan justru berasal
rakaat: at-taḥiyyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu wa dari Allah, akan tetapi jika salah seorang
aṭ-ṭayyibāt, as-salāmu’alaika ayyuhan nabiyyu di antara kamu duduk, maka ucapkanlah:
waraḥmatullāhi wa-barakātuh, as-salāmu ‘alainā at-taḥiyyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu waṭ-
wa ‘alā ‘ibādillāhiṣṣāliḥīn, asyhadu anlā ilāha ṭayyibāt, assalāmu’alaika ayyuhan nabiyyu
illallāh wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu waraḥmatullāhi wabarakātuh, assalāmu
wa rasūluh. Kemudian kalian memilih doa-doa ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣṣāliḥīn. Karena
yang kalian inginkan. Kemudian berdoalah sesungguhnya jika kalian mengucapkannya,
kepada Allah (dengan doa itu) [Aṭ-Ṭayālisi]. kalimat tersebut juga akan mengenai hamba Allah
Takhrīj: yang salih, baik di langit maupun di bumi, atau
antara langit dan buumi. Asyhadu allā ilāha
Aṭ-Ṭayālisī, Sulaiman ibn Dāwud ibn
illallāh wa-asyhadu anna Muhammadan
al-Jārūd, Musnad Abī Dāwud aṭ-Ṭayālisī, ‘abduhu wa-rasūluh. [Abu Dawud].
editor: Muhammad Abdul Muḥsin at-
Turkiy, (Dār Ḥajar), vol. I, 241, hadis no. Takhrīj:
302, “mā asnada ‘Abdullāh ibn Mas’ūd”, Abū Dāwud as-Sijistānī, Sulaiman ibn
hlm. 241. Asy’as, Sunan Abī Dāwud, (Riyaḍ: Bait al-
Afkar al-Dauliyyah), hadis no. 968, hlm.
122, kitab “aṣ-Ṣalāt”, bab “at-tasyahhud”.

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
84 Muhammad Rofiq Muzakkir

Ragam Hadis tentang Takbir dari Abu kemiripannya di antara kalian salatnya dengan
Hurairah salat Rasululullah. Sungguh inilah cara salat
Nas no 6 beliau hingga beliau meninggalkan dunia ini.
[Bukhāri].
‫َح َّدث َ َنا أَبُو الْ َي اَمنِ ق ََال َح َّدث َ َنا شُ َع ْي ٌب َعنِ ال ُّز ْهر ِِّى ق ََال‬
‫أَخ رَ َْبنىِ أَبُو بَ ْك ِر بْ ُن َع ْب ِد ال َّر ْح َمنِ بْنِ الْ َحار ِِث بْنِ ِهشَ ٍام‬ Takhrīj:
Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘il,
‫َوأَبُو َسلَ َم َة بْ ُن َع ْب ِد ال َّر ْح َمنِ أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة كَا َن يُك رِّ َُب‬
al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 803, hlm. 196-
،‫ىِف ك ُِّل َصالَ ٍة ِم َن الْ َم ْكتُوبَ ِة َوغ رْ َِي َها ىِف َر َمضَ ا َن َوغ رَْي ِِه‬ 7, kitab “al-ażān”, bab “yahwi bit-takbīr
‫ُول َس ِم َع‬ ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع‬،‫فَيُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم‬ ḥīna yasjud”.
‫ قَ ْب َل أَ ْن‬. ‫ُول َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ُد‬ ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬. ُ‫اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَه‬
‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب‬،‫ ِح َني يَ ْهوِى َسا ِج ًدا‬.‫ُول اللّٰ ُه أَك رَ ُْب‬ ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫يَ ْس ُج َد‬ Nas no 7
‫ ث ُ َّم‬،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْس ُج ُد‬،‫الس ُجو ِد‬ ُّ ‫ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه ِم َن‬ ِ‫َح َّدث َ َنا يَ ْح َيى بْ ُن بُك رْ ٍَي ق ََال َح َّدث َ َنا اللَّ ْيثُ َع ْن ُع َق ْيلٍ َعن‬
‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم‬،‫الس ُجو ِد‬ ُّ ‫يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه ِم َن‬ ِ‫اب ق ََال أَخ رَ َْبنىِ أَبُو بَ ْك ِر بْ ُن َع ْب ِد ال َّر ْح َمنِ بْن‬ ٍ ‫ابْنِ ِش َه‬
‫ َويَ ْف َع ُل َذلِ َك ىِف ك ُِّل َركْ َع ٍة َحتَّى‬،ِ‫ُوس ىِف االِث ْ َنتَ نْي‬ ِ ‫ِم َن الْ ُجل‬ ‫ول اللّٰ ِه ﷺ‬ ُ ‫ُول كَا َن َر ُس‬ ُ ‫الْ َحار ِِث أَنَّ ُه َس ِم َع أَبَا ُه َريْ َر َة يَق‬
ِ‫ُول ِح َني يَ ْن رَص ُِف َوال َِّذى نَ ْفسى‬ َّ ‫يَ ْف ُر َغ ِم َن‬
ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫الصالَ ِة‬ ،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع‬،‫الصالَ ِة يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم‬
َّ ‫إِذَا قَا َم إِ ىَل‬
‫ِب َي ِد ِه إِنىِّ ألَقْ َربُ ُك ْم شَ َب ًها ب َِصالَ ِة َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ إِ ْن‬ ‫ ِح َني يَ ْرفَ ُع ُصلْ َب ُه ِم َن‬. ُ‫ُول َس ِم َع اللّٰ ُه لَ ِم ْن َح ِمدَه‬ ُ ‫ث ُ َّم يَق‬
.]‫كَان َْت َه ِذ ِه ل ََصالَت َ ُه َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْ َيا [رواه البخارى‬ ‫ ق ََال َع ْب ُد‬- ‫ُول َو ُه َو قَائِ ٌم َربَّ َنا ل ََك الْ َح ْم ُد‬ ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫ال َّركْ َع ِة‬
Telah menceritakan kepada kami Abu al- ‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني‬- ‫اللّٰ ِه {بْ ُن َصالِ ٍح َعنِ اللَّ ْي ِث} َول ََك الْ َح ْم ُد‬
Yamān, ia berkata telah menceritakan kepada ،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْس ُج ُد‬،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه‬،‫يَ ْهوِى‬
kami Syu‘aib dari Zuhri, ia berkata telah
menceritakan kepadaku Abu Bakar ibn Abd َّ ‫ ث ُ َّم يَ ْف َع ُل َذلِ َك ىِف‬،‫ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه‬
‫الصالَ ِة‬
ar-Raḥmān ibn al-Ḥariṡ bin Hisyām dan Abu ‫ َويُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم ِم َن الثِّ ْنتَ نْ ِي بَ ْع َد‬،‫كُلِّ َها َحتَّى يَق ِْض َي َها‬
Salamah ibn Abd ar-Raḥmān, bahwasanya Abu .]‫ُوس [رواه البخارى‬ ِ ‫الْ ُجل‬
Hurairah selalu bertakbir setiap melakukan
salat wajib dan salat lainnya, baik di bulan Telah menceritakan kepada kami Yahya ibn
Ramadan dan bulan lainnya. Ia bertakbir ketika Bukair, ia berkata telah menceritakan kepada
berdiri, kemudian bertakbir ketika akan rukuk, kami al-Laiṡ, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihāb,
kemudian mengucapkan “sami‘allāhu liman ia berkata telah mengabarkan kepadaku
ḥamidah”, kemudian mengucapkan “rabbanā Abu Bakar ibn Abdurrahman ibn al-Ḥāriṡ,
wa-lakal ḥamd” sebelum ia bersujud. Kemudian bahwasanya ia mendengan Abu Hurairah
ia mengucapkan “Allahu Akbar” ketika tunduk berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri
bersujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat untuk salat, beliau bertakbir ketika berdiri,
kepala dari sujud, kemudian bertakbir ketika kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian
berdiri dari duduk pada rakaat kedua. Abu membaca “sami‘allahu liman ḥamidah” ketika
Hurairah melakukan hal tersebut pada setiap mengangkat punggungnya dari rukuk, kemudian
rakaat sampai beliau selesai melaksanakan membaca “rabbanā lakal ḥamd” ketika beliau
salat. Kemudian beliau mengatakan ketika berdiri. Abdullah ibn Ṣāliḥ [salah seorang perawi]
berpaling, Demi Zat yang aku ada pada tangan- dari al-Laiṡ mengatakan: “walakal ḥamd”,
Nya, sesungguhnya aku yang paling dekat kemudian bertakbir ketika menunduk, kemudian

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 85

bertakbir ketika mengangkat kepalanya, Ramadan dan lainnya, beliau bertakbir ketika
kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian berdiri, kemudian bertakbir ketika akan rukuk,
bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Beliau kemudian mengucapkan “sami‘allāhu liman
melakukan hal tersebut di semua (rakaat) sampai ḥamidah”, kemudian mengucapkan “rabbana
selesai salat. Beliau juga bertakbir ketika berdiri wa-lakal ḥamd” sebelum beliau bersujud.
dari rakaat kedua setelah duduk. [Bukhāri]. Kemudian beliau mengucapkan “Allahu Akbar”
ketika tunduk bersujud, kemudian bertakbir
Takhrīj:
ketika mengangkat kepala dari sujud, kemudian
Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘il, al- bertakbir ketika berdiri dari duduk pada
Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 789, hlm. 193-4, rakaat kedua. Abu Hurairah melakukan
kitab “al-ażān”, bab “at-takbīr iżā qāma hal tersebut pada setiap rakaat sampai beliau
min as-sujūd”. selesai melaksanakan salat. Kemudian beliau
mengatakan ketika berpaling: Demi Zat yang
Nas no 8 aku ada pada tangan-Nya, sesungguhnya aku
yang paling dekat kemiripannya di antara
، ‫اش‬ ٍ ‫ل بْ ُن َع َّي‬ ُّ ِ‫ ث َ َنا َع ي‬، ‫َح َّد ث َ َنا أَبُو ُز ْر َع َة ال ِّد َمشْ ِق ُّي‬ kalian salatnya dengan salat Rasululullah.
ِ‫ ث َ َنا شُ َع ْي ُب بْ ُن أَبي‬: َ‫ قَالا‬،ٍ‫َوأَبُوالْ َي اَمنِ الْ َح َك ُم بْ ُن نَا ِفع‬ Sungguh inilah cara salat beliau hingga beliau
meninggalkan dunia ini [Ṭabrāni].
ِ‫ َع ْن أَبيِ بَ ْك ِر بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ بْن‬،‫ َعنِ ال ُّز ْهر ِِّي‬،َ‫َح ْم َزة‬
‫ أَ َّن أَبَا‬، ِ‫ َوأَبيِ َسلَ َم َة بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمن‬،‫الْ َحار ِِث بْنِ ِهشَ ٍام‬ Takhrīj:
‫ كَا َن يُك رِّ َُب يِف ك ُِّل َص اَل ٍة ِم َن الْ َم ْكتُوبَ َة َوغ رْ َِي َها يِف‬،َ‫ُه َريْ َرة‬ Aṭ-Ṭabrānī, Abu al-Qasim Sulaiman
ibn Aḥmad, Musnad asy-Syāmiyyin,
‫ ث ُ َّم‬،‫ َويُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع‬،‫ َويُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم‬،‫َر َمضَ ا َن َوغ رَْي ِِه‬
editor: Muhamamd Abdul Majīd as-
‫ « َربَّ َنا َول ََك‬:‫ُول‬ ُ ‫«س ِم َع اللَّ َه لِ َم ْن َح ِمدَهُ » ث ُ َّم يَق‬ َ :‫ُول‬ ُ ‫يَق‬ Salafi (Beirut: Mu’assasah ar-risālah,
‫ «اللّٰ ُه أَك رَ ُْب» ِح َني‬:‫ُول‬ ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫الْ َح ْم ُد» قَ ْب َل أَ ْن يَ ْس ُج َد‬ 1996), hadis no. 3135, vol. IV, hlm.
‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني‬،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه‬،‫يَ ْهوِي َسا ِج ًدا‬ 221, “Syu‘aib ‘an az-Zuhri ‘an Abī Bakr
‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم‬،‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه‬،‫يَ ْس ُج ُد‬ ibn Abdur Raḥman ibn al-Ḥāris ibn
‫ فَ َي ْف َع ُل َذلِ َك يِف ك ُِّل َركْ َع ٍة َحتَّى‬،ِ‫ُوس يِف الثِّ ْنتَ نْي‬ ِ ‫ِم َن الْ ُجل‬ Hisyām”.
‫ « َوال َِّذي نَف يِْس‬:‫ُول ِح َني يَ ْن رَص ُِف‬ َّ ‫يَ ْف ُر َغ ِم َن‬
ُ ‫ ث ُ َّم يَق‬،‫الص اَل ِة‬
Nas no 9
‫ إِ ْن‬،‫ إِ يِّن أَلَقْ َربُ ُك ْم شَ َب ًها ب َِص اَل ِة َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ‬،‫ِب َي ِد ِه‬
.]‫كَان َْت َه ِذ ِه لِ َص اَلتِ ِه َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْيَا» [رواه الطرباىن‬ ‫َح َّدث َ َنا ُم َح َّم ُد بْ ُن َرا ِفعٍ َح َّدث َ َنا َعبْ ُد ال َّرزَّاقِ أَخ رَ َْبنَا ابْ ُن‬
Telah menceritakan kepada kami Abu Zur‘ah ِ‫اب َع ْن أَ ىِب بَ ْك ِر بْنِ َع ْب ِد ال َّر ْح َمن‬ ٍ ‫ُج َريْ ٍج أَخ رَ َْبنىِ ابْ ُن ِش َه‬
ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami ‫ول اللّٰ ِه ﷺ إِذَا قَا َم‬ ُ ‫ُول كَا َن َر ُس‬ ُ ‫أَنَّ ُه َس ِم َع أَبَا ُه َريْ َر َة يَق‬
Ali bin ‘Iyāsy dan Abu al-Yaman al-Ḥakam ُ ‫الصالَ ِة يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع ث ُ َّم يَق‬
bin Nafi‘, keduanya berkata telah menceritakan
‫ُول‬ َّ ‫إِ ىَل‬
kepada kami Syu‘aib dari Zuhri, ia berkata ‫ ِح َني يَ ْرفَ ُع ُصلْبَ ُه ِم َن ال ُّركُو ِع‬.» ُ‫«س ِم َع اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَه‬ َ
telah menceritakan kepadaku Abu Bakar ibn ِ ِ
‫ ث ُ َّم يُك رِّ َُب ح َني‬.»‫ُول َو ُه َو قَائ ٌم « َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ُد‬ ُ ‫ث ُ َّم يَق‬
Abd ar-Raḥmān ibn al-Ḥāriṡ bin Hisyām dan ْ
‫يَ ْهوِى َسا ِج ًدا ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأ َس ُه ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني‬
Abu Salamah ibn Abd ar-Raḥmān, bahwasanya
‫يَ ْس ُج ُد ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه ث ُ َّم يَ ْف َع ُل ِمث َْل َذلِ َك ىِف‬
Abu Hurairah selalu bertakbir setiap melakukan
salat wajib dan salat lainnya, baik di bulan ‫الصالَ ِة كُلِّ َها َحتَّى يَق ِْض َي َها َويُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم ِم َن الْ َمثْ َنى‬ َّ

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
86 Muhammad Rofiq Muzakkir

‫ُول أَبُو ُه َريْ َر َة إِنىِّ ألَشْ بَ ُه ُك ْم َصالَ ًة‬ ِ ‫بَ ْع َد الْ ُجل‬
ُ ‫ُوس ث ُ َّم يَق‬ ‫ُول َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ُد قَبْ َل‬ ُ ‫َس ِم َع اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَهُ ث ُ َّم يَق‬
.]‫ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ [رواه مسلم‬ ‫ُول اللّٰ ُه أَك رَ ُْب ِح َني يَ ْهوِى َسا ِج ًدا ث ُ َّم‬ ُ ‫أَ ْن يَ ْس ُج َد ث ُ َّم يَق‬
Telah menceritakan kepada kami Muhammad ‫يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْس ُج ُد ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني‬
ibn Rāfi‘, telah menceritakan kepada kami ‫ُوس ىِف اث ْ َنتَ نْ ِي‬ِ ‫يَ ْرفَ ُع َرأْ َس ُه ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم ِم َن الْ ُجل‬
Abdur Razzāq, telah mengabarkan kepada kami
Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Ibnu
َّ ‫فَ َي ْف َع ُل َذلِ َك ىِف ك ُِّل َركْ َع ٍة َحتَّى يَ ْف ُر َغ ِم َن‬
‫الصالَ ِة ث ُ َّم‬
Syihab, dari Abu Bakar ibn Abdur Raḥmān ‫ُول ِح َني يَ ْن رَص ُِف َوال َِّذى نَ ْفسىِ ِبيَ ِد ِه إِنىِّ ألَقْ َربُ ُك ْم‬ ُ ‫يَق‬
bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah ‫شَ بَ ًها ب َِصالَ ِة َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ إِ ْن كَان َْت َه ِذ ِه ل ََصالَتُ ُه‬
berkata: adalah Rasullulah saw apabila berdiri .]‫َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْ َيا [رواه أبو داود‬
untuk melakukan salat, beliau bertakbir ketika
berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk, Telah menceritakan kepada kami Amr bin
kemudian membaca “sami‘allāhu liman Uṡman, telah menceritakan kepada kami
ḥamidah”, ketika mengangkat punggungnya ayahku dan Baqiyyah dari Syu‘aib dari Zuhri,
dari rukuk. Kemudian beliau membaca ketika ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu
berdiri “rabbana wa-lakal ḥamd”. Kemudian Bakar bin Abdur Raḥmān dan Abu Salamah
beliau bertakbir ketika menunduk untuk bahwasanya Abu Hurairah bertakbir pada
sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat setiap salat wajib dan salat lainnya. Ia bertakbir
kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud. ketika berdiri kemudian bertakbir ketika
Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat rukuk, kemudian membaca “sami‘allāhu
kepalanya (dari sujud). Beliau melakukan hal liman ḥamidah”, kemudian mengucapkan
tersebut di semua (rakaat) sampai selesai salat. “rabbanā wa-lakal ḥamd” sebelum bersujud.
Beliau juga bertakbir ketika berdiri dari rakaat Kemudian mengucapkan “allahu akbar” ketika
kedua setelah duduk. Kemudian Abu Hurairah tunduk sujud, kemudian bertakbir ketika
mengatakan: sesungguhnya aku adalah orang mengangkat kepalanya, kemudia bertakbir ketika
yang paling mirip di antara kalian dengan salat sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat
Rasulullah [Muslim]. kepalanya, kemudian bertakbir ketika bangun
dari duduk di rakaat kedua. Ia melakukan hal
Takhrīj: tersebut di setiap rakaat, sampai selesai salatnya.
Muslim ibn Hajjaj al-Naysaburi, al- Kemudian ia berkata ketika berpaling: Demi Zat
Jāami‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 392, hlm. 168, yang aku ada pada tangan-Nya, sesungguhnya
kitab “kitābu ṣalāt”, bab “at-takbīr fi aku paling dekat kemiripannya di antara
kulli khafḍ wa-raf‘ fiṣ-ṣalāh illa raf‘uhu min kalian salatnya dengan salat Rasulullah saw.
ar-rukū‘ fa yaqūlu fīhi sami‘allāhu liman Sungguh inilah cara salat beliau hingga beliau
ḥamidah”. meninggalkan dunia ini. [Abu Dawud].
Takhrīj:
Nas no 10 Abū Dāwud as-Sijistāni, Sulaiman
ibn Asy‘aṡ, Sunan Abī Dāwud (Riyaḍ:
‫َح َّدث َ َنا َع ْم ُرو بْ ُن ُعث اَْم َن َح َّدث َ َنا أَ ىِب َوبَ ِقيَّ ُة َع ْن شُ َعيْ ٍب‬
Maktabah ar-Rusyd, 2005), hadis no.
‫َعنِ ال ُّز ْهر ِِّى ق ََال أَخ رَ َْبنىِ أَبُو بَ ْك ِر بْ ُن َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ َوأَبُو‬ 836, hlm. 1409, kitab “aṣ-Ṣalāt”, bab “fiy
‫َسلَ َم َة أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة كَا َن يُك رِّ َُب ىِف ك ُِّل َصالَ ٍة ِم َن الْ َم ْكتُوبَ ِة‬ tamām at-takbīr”.
‫ُول‬ُ ‫َوغ رْ َِي َها يُك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع ث ُ َّم يَق‬

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 87

Nas no 11 ‫بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ َو َع ْن أَبيِ َسلَ َم َة بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ أَنَّ ُه اَم‬
‫ َعنِ ال ُّز ْهر ِِّي َع ْن أَ ىِب‬،‫ َح َّدث َ َنا َم ْع َم ٌر‬، ِ‫َح َّدث َ َنا َعبْ ُد ال َّرزَّاق‬ َ ِ‫َصلَّيَا َخل َْف أَبيِ ُه َريْ َر َة َر ي‬
‫ض اللّٰ ُه َع ْن ُه فَل اََّم َركَ َع ك رَّ ََب فَل اََّم‬
‫َسلَ َم َة بْنِ َع ْب ِد ال َّر ْح َمنِ ق ََال كَا َن أَبُو ُه َريْ َر َة يُ َص ىِّل ِب َنا‬ ‫َرفَ َع َرأْ َس ُه ق ََال َس ِم َع اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَهُ َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ُد‬
‫فَ ُيك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم َو ِح َني يَ ْركَ ُع َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد بَ ْع َد‬ ‫ث ُ َّم َس َج َد َوك رَّ ََب َو َرفَ َع َرأْ َس ُه َوك رَّ ََب ث ُ َّم ك رَّ ََب ِح َني قَا َم ِم ْن‬
‫َما يَ ْرفَ ُع ِم َن ال ُّركُو ِع َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد بَ ْع َد َما يَ ْرفَ ُع‬ ‫ال َّركْ َع ِة ث ُ َّم ق ََال َوال َِّذي نَف يِْس ِب َي ِد ِه إِ يِّن أَلَقْ َربُ ُك ْم شَ َب ًها‬
ْ‫الس ُجو ِد َوإِذَا َجل ََس َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْرفَ َع ِف ال َّركْ َعتَ ِي‬ ُّ ‫ِم َن‬ ‫ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ َما زَال َْت َه ِذ ِه َص اَلت ُ ُه َحتَّى فَا َر َق‬
‫كَ َبَّ َويُك رِّ َُب ِمث َْل َذلِ َك ىِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي األُ ْخ َريَ نْ ِي فَ ِإذَا َسلَّ َم‬ .]‫ َواللَّ ْف ُظ لِ َس َّوا ٍر [رواه النساىئ‬.‫ال ُّدنْيَا‬
‫ق ََال َوال َِّذى نَ ْفسىِ ِب َي ِد ِه إِنىِّ ألَقْ َربُ ُك ْم شَ َبهاً ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه‬ Telah mengabarkan kepada kami Naṣr bin Ali
dan Sawwar bin Abdullah bin Sawwar, mereka
‫ﷺ يَ ْع ِنى َصالَت َ ُه َما زَال َْت َه ِذ ِه َصالَتُ ُه َحتَّى فَا َر َق‬
berdua berkata, telah bercerita kepada kami
.]‫ال ُّدنْ َيا [رواه احمد‬ Abdul A’la dari Ma’mar, dari Zuhri, dari Abu
Telah menceritakan kepada kami Abdur Razaq, bakar bin Abdur Rahman dan Abu Salamah
telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari bin Abdur Rahman bahwa keduanya salat di
Zuhri, dari Abu Salamah bin Abdur Rahman ia belakang Abu Hurairah ra. Ketika rukuk,
berkata: Adalah Abu Hurairah salat mengimami Abu Hurairah bertakbir, ketika ia mengangkat
kami. Ia bertakbir ketika berdiri, ketika rukuk, kepalanya ia mengucapkan “sami‘allāhu
ketika ia hendak sujud setelah mengangkat liman ḥamidah, rabbanā wa-lakal ḥamd”.
(kepala) dari ruku, ketika ia hendak sujud setelah Kemudian ia sujud dan bertakbir, ia mengangkat
mengangkat (kepala) dari sujud, ketika ia duduk. kepalanya dan bertakbir, kemudian ia bertakbir
Ketika hendak berangkat dari rakaat yang kedua ketika berdiri dari satu rakaat. Kemudian ia
ia bertakbir. Demikian juga ia bertakbir seperti berkata: Demi Zat yang aku ada di tangan-Nya,
itu pada dua rakaat sisanya. Ketika ia telah sesungguhnya aku adalah orang paling dekat di
selesai salam, ia berkata: Demi Zat yang aku antara kalian kemiripannya dengan Rasulullah
ada pada tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah saw. Seperti inilah senantiasa salat Rasulullah
orang yang paling dekat kemiripannya dengan sampai beliau meninggal dunia. Lafal milik
Rasulullah saw (yaitu dalam hal salatnya). Seperti Sawwar [Nasai].
inilah senantiasa salat Rasulullah sampai beliau Takhrīj:
meninggal dunia [Ahmad].
An-Nasā’ī, Abū Abdurraḥman Aḥmad
Takhrīj: ibn Syu‘aib, Sunan an-Nasā’ī, editor
Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥanbal, Nāṣiruddin al-Albāni (Riyāḍ: Maktabah
al-Musnad, editor Ahmad Muhammad al-Ma’ārif li an-Nasyr wa at-Tauzī’, tt),
Syakir (Kairo: Dār al-Ḥadīṡ, 1995), hadis no. 1156, vol. hlm. 188, kitab “at-
“Musnad Abī Hurairah”, hadis no. taṭbīq”, bab “at-takbīr li al-nuhūḍ”; hadis
7644, vol. VII, hlm. 384. 1150 bab “raf ’u al-yadain li ar-ruku‘ ḥiżā
furu‘i al-użunain”; hadis no 1023, bab
Nas no 12 “at-takbir li ar-rukū‘”.
‫ل َو َس َّوا ُر بْ ُن َعبْ ِد اللّٰ ِه بْنِ َس َّوا ٍر ق اََال‬ ُ ْ‫أَخ رَ َْبنَا ن ر‬
ٍّ ِ‫َص بْ ُن َع ي‬ Nas no 13
‫َح َّدث َ َنا َع ْب ُد أْالَ ْع ىَل َع ْن َم ْع َم ٍر َع ْن ال ُّز ْهر ِِّي َع ْن أَبيِ بَ ْك ِر‬

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
88 Muhammad Rofiq Muzakkir

ِ‫ل َح َّدث َ َنا َعبْ ُد األَ ْع ىَل َع ْن َم ْع َم ٍر َعن‬ ُ ْ‫أَخ رَ َْبنَا ن ر‬


ٍّ ِ‫َص بْ ُن َع ى‬ ‫الرزاق أخربنا معمر عن الزهري عن أيب سلمة بن‬
‫ال ُّز ْهر ِِّى َع ْن أَ ىِب بَ ْك ِر بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ َو َع ْن أَ ىِب َسلَ َم َة‬ ‫ كَا َن أَبُو ُه َريْ َر َة «يُ َص يِّل ِب َنا فَيُك رِّ َُب‬:‫عبد الرحمن قال‬
‫ أَنَّ ُه اَم َصلَّ َيا َخل َْف أَ ىِب ُه َريْ َر َة فَل اََّم َركَ َع‬:َ‫َع ْن أَ ىِب ُه َريْ َرة‬ ‫ َوبَ ْع َد َما‬،‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد‬،‫ َو ِح َني يَ ْركَ ُع‬،‫ِح َني يَقُو ُم‬
:‫ ث ُ َّم ق ََال‬، ُ‫ فَل اََّم َرفَ َع َرأْ َس ُه ق ََال َس ِم َع اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَه‬،‫ك رَّ ََب‬ ‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد بَ ْع َد َما يَ ْرفَ ُع ِم َن‬،ِ‫يَ ْرفَ ُع ِم َن ال ُّركُوع‬
،‫ ث ُ َّم َس َج َد َوك رَّ ََب ث ُ َّم َرفَ َع َرأْ َس ُه َوك رَّ ََب‬.‫َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ُد‬ ‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَقُو َم يِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي‬،‫ َوإِذَا َجل ََس‬،‫الس ُجو ِد‬ ُّ
ِ‫ َوال َِّذى نَ ْفسى‬:‫ث ُ َّم كَ َبَّ ِح َني قَا َم ِم َن ال َّركْ َعتَ ِيْ ث ُ َّم ق ََال‬ َّ‫ فَ ِإذَا َسل َم‬،ِ‫ َويُك رِّ َُب ِمث َْل َذلِ َك يِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي أْالُ ْخ َريَ نْي‬،‫ك رَّ ََب‬
‫ِبيَ ِد ِه إِنىِّ ألَقْ َربُ ُك ْم شَ بَهاً ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ َما ز ََال َه ِذ ِه‬ ‫ َوال َِّذي نَف يِْس ِبيَ ِد ِه إِ يِّن أَلَقْ َربُ ُك ْم شَ بَ ًها ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه‬:‫ق ََال‬
.]‫َصالَت ُ ُه َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْ َيا [رواه الدارمي‬ ‫ َما زَال َْت َه ِذ ِه َص اَلتُ ُه َحتَّى فَا َر َق‬- ‫ﷺ يَ ْع ِني َص اَلت َ ُه‬
Telah mengabarkan kepada kami Naṣr ibn Ali, .]‫ال ُّدنْ َيا» [رواه ابن خزمية‬
telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, Telah mengabarkan kepada kami Abū Ṭāhir,
dari Ma’mar, dari Zuhri, dari Abu Bakar bin telah menceritakan kepada kami Abu Bakr,
Abdur Rahman, dari Abu Salamah, dari Abu telah menceritakan kepada kami Muhammad
Hurairah, bahwa keduanya salat di belakang bin Rafi’, telah menceritakan kepada kami
Abu Hurairah. Ketika ia rukuk, ia bertakbir. Abdur Razaq, telah menceritakan kepada
Ketika mengangkat kepalanya ia mengucapkan: kami Ma’mar, dari Zuhri, dari Abu Salamah
“sami‘allāhu liman ḥamidah”, kemudian bin Abdur Rahman, ia berkata: Adalah Abu
mengucapkan: rabbanā wa-lakal ḥamd. Hurairah salat bersama kami. Ia bertakbir
Kemudia ia sujud dan bertakbir dan mengangkat ketika berdiri, ketika rukuk, ketika hendak
kepalanya dan takbir. Kemudian ia bertakbir sujud, setelah selesai dari sujud, ketika duduk.
ketika berdiri dari rakaat kedua. Kemudian Abu Ketika hendak bangkit dari rakaat kedua ia
Hurairah mengatakan: demi Zat yang aku ada bertakbir. Ia bertakbir seperti itu juga pada
di tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang dua rakaat sisanya. Ketika selesai salam ia
paling dekat di antara kalian kemiripannya mengatakan: Demi Zat yang aku ada di tangan-
dengan Rasulullah saw. Seperti inilah senantiasa Nya, sesungguhnya aku adalah orang paling dekat
salat Rasulullah sampai beliau meninggal dunia di antara kalian kemiripannya dengan Rasulullah
[Darimi]. saw, maksudnya dalam hal salat. Seperti inilah
Takhrīj: salat Rasulullah sampai beliau meninggal dunia
Ad-Dārimi, Abū Muḥammad ‘Abdullah [Ibnu Khuzaimah].
ibn Abdurraḥman, editor Ḥusain Sālim Takhrīj:
Asad al-Dārani, Sunan al-Darimiy (Arab Ibn Khuzaimah ibn as-Salam al-
Saudi: Dār al-Mughnī lin-Nasyr wat- Naisāburiy, Abū Bakar Muḥammad
Tauzī‘, 1421 H/1421 M), hadis no. ibn Isḥāq, Ṣaḥīḥ Ibn Khuzaimah, editor
1283, vol. II, hlm. 794, kitab “aṣ-ṣalāh” Musṭafā A‘ẓami (Beirut: al-Maktab
bab “at-takbīr ‘inda kulli khafḍ wa-raf‘”. al-Islāmiy, 1980), hadis no. 579, hlm.
291. Bab “żikr ad-dalīl ‘alā anna hāżihi
Nas no 14 al-lafẓah allatī żakarathā lafẓ ‘ām murāduhu
khās wa anna al-nabiyya ṣallallāhu ‘alaihi wa
‫أخربنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن رافع نا عبد‬
sallam innamā yukabbiru fi ba‘ḍi ar-raf‘i lā

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 89

fi kullihā lam yukabbir ṣallallāhu ‘alaihi wa- Nas no 16


sallam ‘inda raf‘ihi raksahu ‘an ar-rukū‘ wa
innamā yukabbiru fi kulli raf‘in khalā ‘inda
‫عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن أيب سلمة‬
raf‘ihi raksahu min ar-rukū‘”. ‫ ِف ُيك رِّ َُب‬،‫بن عبد الرحمن قال كَا َن أَبُو ُه َريْ َر َة يُك رِّ َُب ِب َنا‬
‫ َوبَ ْع َد َما‬،‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد‬،‫ َو ِح َني يَ ْركَ ُع‬،‫ِح َني يَقُو ُم‬
Nas no 15 ‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَقُو َم يِف‬،‫ َوإِذَا َجل ََس‬،‫الس ُجو ِد‬ ُّ ‫يَ ْف ُر ُغ ِم َن‬
،‫ أنبا َم ْع َم ٌر‬:‫ ق ََال‬، ِ‫ َح َّدث َ َنا َعبْ ُد ال َّرزَّاق‬:‫ ق ََال‬،‫َح َّدث َ َنا ال َّدبَر ُِّي‬ ،ِ‫ َويُك رِّ َُب ِمث َْل َذلِ َك يِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي الأْ ُ ْخ َريَ نْي‬،‫ال َّركْ َعتَ نْ ِي يُك رِّ َُب‬
‫ كَا َن أَبُو ُه َريْ َر َة يُ َص يِّل‬:‫ ق ََال‬،َ‫ َع ْن أَبيِ َسلَ َمة‬،‫َعنِ ال ُّز ْهر ِِّي‬ ‫ إِ يِّن أَلَقْ َربُ ُك ْم شَ بَ ًها‬،‫ « َوال َِّذي نَف يِْس ِبيَ ِد ِه‬:‫َوإِذَا َسلَّ َم ق ََال‬
‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد‬،‫ِب َنا فَ ُيك رِّ َُب ِح َني يَقُو ُم َو ِح َني يَ ْركَ ُع‬ ‫ َما زَال َْت َه ِذ ِه‬،‫الص اَل ِة‬ َّ ‫ يَ ْع ِني يِف‬،‫ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ‬
‫ َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَ ْس ُج َد بَ ْع َد َما‬،ِ‫بَ ْع َد َما يَ ْف ُر ُغ ِم َن ال ُّركُوع‬ .]‫َصلَ‍ات ُ ُه َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْ َيا» [رواه عبد الرزاق‬
ِ‫ َوإِذَا َجل ََس َوإِذَا أَ َرا َد أَ ْن يَقُو َم ف‬،‫الس ُجو ِد‬ ُّ ‫يَ ْرفَ ُع ِم َن‬ Dari Abdur Razaq, dari Ma’mar, dari Zuhri,
dari Abu Salamah bin Abdur Rahman, ia
،ِ‫ َويُك رِّ َُب ِمث َْل َذلِ َك يِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي األُ ْخ َريَ نْي‬،َّ‫ال َّركْ َعتَ ِيْ كَ َب‬ berkata. Adalah Abu Hurairah bertakbir
‫ إِ يِّن ألَقْ َربُ ُك ْم شَ َب ًها‬،‫ َوال َِّذي نَف يِْس ِب َي ِد ِه‬:‫فَل اََّم َسلَّ َم ق ََال‬ (ketika salat) bersama kami. Ia bertakbir ketika
‫ َما زَال َْت َه ِذ ِه َصالت ُ ُه‬،‫ يَ ْع ِني َصالت َ ُه‬،‫ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ‬ berdiri, ketika rukuk, ketika hendak sujud,
.]‫ [رواه أبو عوانة‬.‫َحتَّى فَا َر َق ال ُّدنْ َيا‬ setelah selesai dari sujud, ketika duduk. Ketika
hendak bangkit dari rakaat kedua ia bertakbir.
Telah menceritakan kepada kami ad-Dabari, Dan ia bertakbir seperti itu juga pada dua rakaat
telah menceritakan kepada kami Abdur Razāq, sisanya. Ketika selesai salami a mengatakan, demi
telah mengabarkan Ma’mar, dari Zuhri, dari Zat yang aku ada di tangan-Nya, sesungguhnya
Abu Salamah bin Abdur Rahman, ia berkata: aku adalah orang paling dekat diantara kalian
Adalah Abu Hurairah salat bersama kami. Ia kemiripannya dengan Rasulullah saw maksudnya
bertakbir ketika berdiri, ketika rukuk, ketika dalam hal salat. Seperti inilah senantiasa salat
hendak sujud, setelah selesai dari sujud, ketika Rasulullah sampai beliau meninggal dunia
duduk. Ketika hendak bangkit dari rakaat [Abdur Razaq]
kedua ia bertakbir. Ia bertakbir seperti itu juga
pada dua rakaat sisanya. Ketika selesai salam ia Takhrīj:
mengatakan, demi Zat yang aku ada di tangan- Abū Bakr Abdur Razaq, al-Muṣannaf,
Nya, sesungguhnya aku adalah orang paling editor Habiburraḥmān al-A’zhami.
dekat di antara kalian kemiripannya dengan Majlis Ilmi, hadis no. 2495, vol. II, hlm.
Rasulullah saw, maksudnya dalam hal salat. 61, kitab “aṣ-ṣalāh”, bab “at-takbīr”.
Seperti inilah senantiasa salat Rasulullah sampai
beliau meninggal dunia [Abu ‘Awānah]. Nas no 17
Takhrīj:
Abū ‘Awwānah Ya’qūb ibn Isḥāq,
‫ل‬َّ ِ‫َح َّدث َ َنا َع ْب ُد اللّٰ ِه بْ ُن ُم ِنريٍ الْ َم ْر َوز ُِّى ق ََال َس ِم ْع ُت َع ى‬
Musnad Abi ‘Awwānah, editor Ayman ِ‫بْ َن الْ َح َسنِ ق ََال أَخ رَ َْبنَا َعبْ ُد اللّٰ ِه بْ ُن الْ ُمبَا َر ِك َعنِ ابْن‬
ibn ‘Ārif ad-Dimasyqi (Beirut: Dār al- ‫ُج َريْ ٍج َعنِ ال ُّز ْهر ِِّى َع ْن أَ ىِب بَ ْك ِر بْنِ َعبْ ِد ال َّر ْح َمنِ َع ْن‬
Ma’rifah, 1998), hadis no. 1591, vol. I, ‫ ق ََال‬.‫أَ ىِب ُه َريْ َر َة أَ َّن ال َّنب َِّى ﷺ كَا َن يُك رِّ َُب َو ُه َو يَ ْهوِى‬
hlm. 427, kitab “aṣ-ṣalawāt”, bab “bayān .]‫ [رواه الرتمذى‬.‫يح‬ ٌ ‫أَبُو ِعيسىَ َهذَا َح ِديثٌ َح َس ٌن َص ِح‬
at-takbīr fi aṣ-ṣalāh fi kulli raf‘ wa khafḍ”.
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
90 Muhammad Rofiq Muzakkir

Munir al-Marwazi, ia berkata, aku mendengar dari rukuk ia mengucapkan: sami‘allāhu liman
Ali ibn al-Ḥasan, ia berkata telah mengabarkan ḥamidah, rabbanā wa-lakal ḥamd. Kemudian
kepada kami Abdullah ibn al-Mubārak, dari ia bertakbir ketika tunduk sujud, kemudian
Ibnu Juraij dari az-Zuhri, dari Abu Bakar ibn bertakbir ketika berdiri dari rakaat kedua
Abdur Rahman, dari Abu Hurairah bahwasanya setelah tasyahud. Ia melakukan hal itu sampai
Nabi saw bertakbir ketika beliau sujud. Abu ia menyelesaikan salatnya. Ketika salatnya selesai
‘Isā mengatakan: ini adalah hadis hasan sahih dan selesai mengucapkan salat, ia menghadap
[Tirmīżī]. ke arah jamaah masjid. Ia berkata: Demi Zat
yang aku ada pada tangan-Nya, sesungguhnya
Takhrīj:
aku adalah orang yang paling mirip dengan salat
At-Tirmīżī, Muḥammad ibn ‘Īsā, Sunan Rasulullah saw. [Ibnu Ḥibbān]
at-Tirmīżī (Riyāḍ: Dār al-Salām, 1999),
hadis no. 254, hlm. 70, kitab “aṣ-ṣalat”, Takhrīj:
bab “mā jā’a fi at-takbīr ‘inda ar-rukū’ Muḥammad ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn
was-sujūd”. Ḥibbān bi Tartīb Ibni Balbān, editor
Syu‘aib al-Arnāuṭ (Beirut: Mu’assasah
Nas no 18 ar-Risālah, 1993), hadis no. 1767, hlm.
63, kitab “aṣ-ṣalāt”, bab “ṣifat aṣ-ṣalāt”.
‫ حدثنا حبان بن موىس‬:‫أخربنا الحسن بن سفيان قال‬
‫ أخربنا يونس بن يزيد عن‬:‫ أخربنا عبد الله قال‬:‫قال‬ Nas no 19
‫ أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة ِح َني ْاستَ ْخلَ َف ُه‬:‫الزهري عن أيب سلمة‬ ِ‫اب َع ْن أَ ىِب َسلَ َم َة بْن‬ ٍ ‫َو َح َّدث َ ِنى َع ْن َمالِ ٍك َعنِ ابْنِ ِش َه‬
‫الص اَل ِة الْ َم ْكتُوبَ ِة‬ َّ ‫َم ْر َوا ُن َع ىَل الْ َم ِدي َن ِة كَا َن إِذَا قَا َم إِ ىَل‬ ‫َع ْب ِد ال َّر ْح َمنِ بْنِ َع ْو ٍف أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة كَا َن يُ َص ىِّل لَ ُه ْم‬
‫ك رَّ ََب ث ُ َّم يُك رِّ َُب ِح َني يَ ْركَ ُع فَ ِإذَا َرفَ َع َرأْ َس ُه ِم َن ال ُّركُو ِع‬ ِّ‫ْص َف ق ََال َواللّٰ ِه إِنى‬
َ َ‫فَ ُيك رِّ َُب كُل اََّم َخف ََض َو َرفَ َع فَ ِإذَا ان ر‬
‫ َس ِم َع اللّٰ ُه لِ َم ْن َح ِمدَهُ َربَّ َنا َول ََك الْ َح ْم ِد ث ُ َّم يُك رِّ َِب‬:‫ق ََال‬ .]‫ألَشْ َب ُه ُك ْم ب َِصالَ ِة َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ [رواه مالك‬
ِ ‫ِح َني يَ ْهوِي َسا ِج ًدا ث ُ َّم يُك رِّ َِب ِح َني يَق‬
‫ُوم بَ نْ َي الثِّ ْنتَ نْ ِي بَ ْع َد‬
Telah menceritakan kepadaku dari Malik, dari
‫ْض َص اَلت َ ُه فَ ِإذَا‬ َ ِ‫التَّشَ ُّه ِد ث ُ َّم يَ ْف َع ُل ِمث َْل َذلِ َك َحتَّى يَق ي‬ Ibnu Syihab, dari Abu Salamah ibn Abdur
‫ والذي‬:‫قَضىَ َص اَلتَ ُه َو َسلَّ َم أَقْبَ َل َع ىَل أهل املسجد فقال‬ Rahman ibn ‘Auf bahwasanya Abu Hurairah
‫نفيس ِبيَ ِد ِه إِ يِّن أَلَشْ بَ ُه ُك ْم َص اَل ًة ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ [رواه‬ salat mengimami mereka. Ia bertakbir setiap kali
.]‫ابن حبان‬ sujud dan berdiri. Ketika beliau selesai, beliau
berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah
Telah mengabarkan kepada kami al-Ḥasan ibn orang yang paling mirip dengan salat Rasulullah
Sufyan, ia berkata, telah menceritakan kepada saw [Malik].
kami Ḥibbān ibn Mūsā ia berkata, telah
Takhrīj:
mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata,
telah mengabarkan Yunus ibn Yazid dari az- Mālik ibn Anas, Kitāb al-Muwaṭṭa’
Zuhri, dari Abu Salamah, bahwasanya Abu (Beirut: Dār al-Fikr, 1987), hadis no.
Hurairah ketika ditunjuk oleh Marwan sebagai 20, hlm. 63, kitab “aṣ-ṣalāt”, bab “iftitāḥ
gubernur Madinah, apabila berdiri melakukan aṣ-ṣalat”.
salat wajib ia bertakbir, kemudian bertakbir
ketika rukuk. Apabila mengangkat kepalanya Nas no 20

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 91

‫ حدثنا يحيى بن‬،‫ حدثنا أيب‬،‫حدثنا سفيان بن وكيع‬ Takhrīj:


:‫ُول‬ ُ ‫ َس ِم ْع ُت َس ِعيْ ًدا الَمق رَْبِي يَق‬:‫عمري املديني قال‬ Asy-Syāfi‘ī, Muhammad ibn Idrīs,
Al-Umm (Al-Manṣūrah: Dār al-Wafā,
‫ فَل اََّم‬،‫َص ىَّل ِب َنا أَبُو ُه َريْ َر َة فَكَا َن يُك رِّ َُب كُل اََّم َرفَ َع َو َس َج َد‬
2005), vol. II, hadis no. 221, hlm. 251-2,
‫ول اللّٰ ِه ﷺ يُ َص يِّل ِب َنا‬ ُ ‫ « َه َكذَا كَا َن َر ُس‬:‫ْص َف ق ََال‬ َ َ‫ان ر‬ kitab “aṣ-ṣalāh”, bab “at-takbīr lir-rukū’
.]‫[رواه أبو يعىل املوصىل‬ wa ghairih”.
Telah menceritakan kepada kami Sufyan
ibn Waki’, telah menceritakan kepada kami Ragam Pelaksanaan Salat Tarawih
ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya Nas no 22
ibn Umair al-Madini, ia berkata: aku telah
mendengar Sa‘id al-Maqbariy sedang berkata: ‫ات الَ يَ ْجلِ ُس ِفي ِه َّن إِ َّال‬ ٍ ‫ يُ َص ىِّل ثمَ َانِ َركَ َع‬:‫َع ْن قَتَا َد َة ق ََال‬
Abu Hurairah salat (mengimami) kami. Ia ‫ِع ْن َد الثَّا ِم َن ِة فَيَ ْجلِ ُس فَيَ ْذكُ ُر اللّٰ َه َع َّز َو َج َّل ث ُ َّم يَ ْد ُعو ث ُ َّم‬
bertakbir setiap kali berdiri dan sujud. Ketika ‫يم يُ ْس ِم ُع َنا ث ُ َّم يُ َص ىِّل َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو َجالِ ٌس‬ ً‫يُ َسلِّ ُم ت َْسلِ ا‬
ia selesai salat ia berkata: “Beginilah Rasulullah
salat mengimami kami”. [Abū Ya’lā al-Mūṣili]. ‫ش َة‬ َ ْ‫بَ ْع َد َما يُ َسلِّ ُم ث ُ َّم يُ َص ىِّل َركْ َع ًة فَ ِتل َْك إِ ْح َدى َع ر‬
‫ول اللّٰ ِه ﷺ َوأَ َخ َذ اللَّ ْح َم‬ ُ ‫َركْ َع ًة يَا بُ َن َّى فَل اََّم أَ َس َّن َر ُس‬
Takhrīj:
Abū Ya’lā, Aḥmad ibn ‘Ali ibn Mustannā
.‫أَ ْوتَ َر ب َِسبْعٍ َو َص ىَّل َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو َجالِ ٌس بَ ْع َد َما يُ َسلِّ ُم‬
ibn at-Tamīmi, Musnad Abī Ya’lā al- .]‫[رواه أبو داود‬
Mūṣilīy (Damaskus dan Beirut: Dār Dari Qatadah ia berkata: (Nabi Saw) salat
al-Makmūn li at-Turāṡ, 1987), hadis no. delapan rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada
6615, hlm. 492, kitab “Tābi’ Musnad rakaat yang ke 8. Beliau duduk sambil zikir
Abī Hurairah”. kepada Allah, kemudian berdoa, lalu salam,
sehingga kami dapat mendengar salamnya itu.
Nas no 21 Kemudian beliau salat lagi dua rakaat sambil
duduk lalu salam. Kemudian beliau salat satu
‫أخربنا الربيع قال أخربنا الشافعي قال أخربنا مالك‬ rakaat. Maka jadilah ia 11 rakaat. Setelah
‫عن ابن شهاب عن أىب سلمة أَ َّن أَبَا ُه َريْ َر َة كَا َن يُ َص يِّل‬ Rasululullah berusia lanjut dan bertambah berat
badannya, beliau kerjakan salat witir (lail dan
‫ َواللّٰ ِه‬:‫ْص َف ق ََال‬ َ َ‫لَ ُه ْم فَ ُيك رِّ َُب كُل اََّم َخف ََض َو َرفَ َع فَ ِإذَا ان ر‬ witir) 7 rakaat. Kemudian melakukan salat 2
‫يِّإن أَلَشْ بَ َه ُك ْم َص اَل ًة ِب َر ُسو ِل اللّٰ ِه َص ىَّل اللَّ ُه َعلَيْ ِه َو َسلَّ َم‬ rakaat dengan cara duduk sesudah salam. [Abu
.]‫[رواه الشافعى‬ Dawud].
Telah mengabarkan kepada kami Rabi‘, telah Takhrīj:
mengabarkan kepada kami asy-Syafi‘i, ia berkata Abū Dāwud as-Sijistani, Sulaiman ibn
telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Asy’aṡ, Sunan Abī Dāwud, hadis no.
Ibnu Syihab, dari Abu Salamah, bahwasanya 1343, hlm. 162, kitab “at-taṭawwu‘”, bab
Abu Hurairah pernah salat bersama mereka. Ia “fi ṣalat al-layl”.
bertakbir setiap kali rukuk/sujud dan bangun.
Ketika ia menghadap (ke jamaah) ia berkata:
Nas no 23
Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang
paling mirip salatnya dengan salat Rasulullah saw ‫َع ْن َع ْب ِد اللّٰ ِه بْنِ أَ ىِب قَ ْي ٍس ق ََال قُل ُْت لِ َعائِشَ َة رىض‬
[asy-Syāfi‘i].

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
92 Muhammad Rofiq Muzakkir

‫ كَا َن‬:‫ قَال َْت‬،‫ول اللّٰ ِه ﷺ يُوتِ ُر‬ ُ ‫ ِب َك ْم كَا َن َر ُس‬:‫الله عنها‬ kitab “kitāb ṣalāt”, bab “ṣalāt al-layl wa
‫ش‬ٍ ْ‫يُوتِ ُر ِبأَ ْربَعٍ َو�ثَال ٍَث َو ِس ٍّت َو�ثَال ٍَث َوثمَ َانٍ َو�ثَال ٍَث َو َع ر‬ ‘adadu raka‘āt”.
‫َو�ثَال ٍَث َولَ ْم يَ ُك ْن يُوتِ ُر ِبأَنْق ََص ِم ْن َس ْبعٍ َوالَ ِبأَك رَ َْث ِم ْن‬
Nas no 25
.]‫ش َة [رواه أبو داود‬ َ ْ‫�ثَالَثَ َع ر‬
Dari Abdullah bin Abi Qais, ia berkata, aku ‫ق ََال (سعد بن هشام بن عامر) قُل ُْت يَا أُ َّم الْ ُم ْؤ ِم ِن َني‬
bertanya kepada Aisyah ra: Berapa rakaat ‫أَنْ ِب ِئي ِنى َع ْن ِوتْ ِر َر ُسو ِل اللّٰ ِه ﷺ فَقَال َْت كُ َّنا نُ ِع ُّد لَ ُه‬
Rasulullah salat witir (lail dan witir). Beliau ِ‫ِس َواكَ ُه َوطَ ُهو َرهُ فَ َي ْب َعثُ ُه اللّٰ ُه َما شَ ا َء أَ ْن يَ ْب َعثَ ُه ِم َن اللَّ ْيل‬
menjawab: Rasulullah salat witir (salat lail dan ٍ ‫فَ َيتَ َس َّو ُك َويَتَ َوضَّ أُ َويُ َص ىِّل تِ ْس َع َركَ َع‬
‫ات الَ يَ ْجلِ ُس ِفي َها‬
witir) 4 dan 3 rakaat atau 6 rakaat dan 3 rakaat
atau 8 dan 3 rakaat atau 10 dan 3 rakaat. ‫إِالَّ ىِف الثَّا ِم َن ِة فَ َي ْذكُ ُر اللّٰ َه َويَ ْح َمدُهُ َويَ ْد ُعو ُه ث ُ َّم يَ ْن َه ُض‬
Rasulullah tidak pernah melakukan salat witir ‫َوالَ يُ َسلِّ ُم ث ُ َّم يَقُو ُم فَيُ َص ىِّل التَّ ِاس َع َة ث ُ َّم يَ ْق ُع ُد فَيَ ْذكُ ُر‬
(lail dan witir) kurang dari 7 rakaat dan tidak ‫يم يُ ْس ِم ُع َنا ث ُ َّم‬ ً‫اللّٰ َه َويَ ْح َمدُهُ َويَ ْد ُعو ُه ث ُ َّم يُ َسلِّ ُم ت َْسلِ ا‬
lebih dari 13 rakaat [Abu Dawud].
‫يُ َص ىِّل َركْ َعتَ نْ ِي بَ ْع َد َما يُ َسلِّ ُم َو ُه َو قَا ِع ٌد فَ ِتل َْك إِ ْح َدى‬
Takhrīj: ‫ َوأَ َخ َذ‬-‫ﷺ‬- ‫ش َة َركْ َع ًة يَا بُ َن َّى فَل اََّم أَ َس َّن نَب ُِّى اللّٰ ِه‬ َ ْ‫َع ر‬
Abū Dāwud as-Sijistani, Sulaiman ibn
‫اللَّ ْح َم أَ ْوت َ َر ب َِس ْبعٍ َو َص َن َع ىِف ال َّركْ َعتَ نْ ِي ِمث َْل َص ِني ِع ِه األَ َّو ِل‬
Asy’aṡ, Sunan Abī Dāwud, hadis no.
1362, hlm. 164, kitab “at-taṭawwu‘”, bab .]‫ [رواه مسلم‬-‫ﷺ‬- ‫فَ ِتل َْك تِ ْس ٌع يَا بُ َن َّى َوكَا َن نَب ُِّى اللّٰ ِه‬
“fi ṣalāti al-layl”. (Sa‘ad bin Hisyam bin Amir) berkata, aku
bertanya: Wahai Ummul Mukminin (Aisyah),
Nas no 24 beritahukan padaku tentang witir (salat lail dan
witir) Rasulullah saw, maka beliau menjawab:
‫َع ْن أَ ىِب َسلَ َم َة ق ََال َسأَل ُْت َعائِشَ َة َع ْن َصالَ ِة َر ُسو ِل اللّٰ ِه‬ kami menyiapkan untuk Rasulullah siwaknya
‫ش َة َركْ َع ًة يُ َص ىِّل ثمَ َا َن‬ dan perlengkapan bersuci. Kemudian Allah
َ ْ‫ﷺ فَقَال َْت كَا َن يُ َص ىِّل �ثَالَثَ َع ر‬
membangunkannya di waktu yang Dia inginkan
‫ات ث ُ َّم يُوتِ ُر ث ُ َّم يُ َص ىِّل َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو َجالِ ٌس فَ ِإذَا‬ ٍ ‫َركَ َع‬ pada malam hari, lalu Rasulullah bersiwak,
‫أَ َرا َد أَ ْن يَ ْركَ َع قَا َم فَ َركَ َع ث ُ َّم يُ َص ىِّل َركْ َعتَ نْ ِي بَ نْ َي ال ِّن َدا ِء‬ berwudu, dan salat 9 rakaat. Rasulullah
.]‫الص ْب ِح [رواه مسلم‬ ُّ ‫َوا ِإلقَا َم ِة ِم ْن َصالَ ِة‬ tidak duduk dalam salat tersebut kecuali pada
rakaat ke-8. Rasulullah mengingat dan memuji
Dari Abu Salamah, ia berkata. Aku bertanya
Allah serta berdoa kepada-Nya. Kemudian
kepada Aisyah tentang salat Rasulullah saw
beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam.
Beliau menjawab, Rasulullah saw 13 rakaat;
Rasulullah berdiri untuk rakaat yang ke-9,
salat (lail) 8 rakaat, salat witir (3 rakaat),
kemudian duduk bezikir kepada Allah, memuji-
kemudian salat (sunah fajar) 2 rakaat dengan
Nya, dan berdoa kepada-Nya, kemudian salam
cara duduk. Apabila beliau ingin rukuk, beliau
sehingga kami mendengar salam itu. Kemudian
berdiri kemudian rukuk dan melakukan salat
setelah itu beliau salat lagi 2 rakaat sambil
dua rakaat antara azan dan ikamah untuk salat
duduk. Maka jadilah salat itu 11 rakaat
subuh [Muslim].
[Muslim].
Takhrīj:
Takhrīj:
Muslim ibn Ḥajjāj al-Naysāburi, Al-
Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 738, hlm. 291,

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 93

Muslim ibn Hajjaj al-Naysaburi, Al- ‫بثالث أوتروا بخمس أو بسبع وال تشبهوا بصالة‬
Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ , hadis no. 746, hlm. 293, ‫املغرب [رواه ابن حبان والحاكم والدارقطنى قال‬
kitab “kitāb ṣalāt”, bab “jāmi‘ ṣalāt al-layl
.]‫ إسناده صحيح عىل رشط مسلم‬:‫شعيب األرنؤوط‬
wa man nāma”.
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw
Nas no 26 bahwasanya ia berkata: Janganlah kalian
melakukan witir 3 rakaat, akan tetapi
‫ َح ِّدثِي ِنى َع ْن ِوت ْ ِر‬:‫ق ََال (سعد بن هشام بن عامر) قُل ُْت‬ lakukanlah witir 5 rakaat atau 7 rakaat.
َّ‫ات الَ يَ ْجلِ ُس إِال‬ ٍ ‫ كَا َن يُوتِ ُر ِبث اََمنِ َركَ َع‬:‫ال َّنب ِِّى ﷺ قَال َْت‬ Jangan samakan witir dengan salat magrib. [Ibnu
Hibban, al-Hakim, al-Daruquthni. Menurut
َّ‫ىِف الثَّا ِم َن ِة ث ُ َّم يَقُو ُم فَ ُي َص ىِّل َركْ َع ًة أُ ْخ َرى الَ يَ ْجلِ ُس إِال‬ Syuaib al-Arnauth: hadis ini sahih sesuai kriteria
‫ىِف الثَّا ِم َن ِة َوالتَّ ِاس َع ِة َوالَ يُ َسلِّ ُم إِالَّ ىِف التَّ ِاس َع ِة ث ُ َّم يُ َص ىِّل‬ Muslim].
‫ش َة َركْ َع ًة يَا بُ َن َّى‬َ ْ‫َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو َجالِ ٌس فَ ِتل َْك إِ ْح َدى َع ر‬ Takhrīj:
‫ات لَ ْم يَ ْجلِ ْس‬ ٍ ‫فَل اََّم أَ َس َّن َوأَ َخ َذ اللَّ ْح َم أَ ْوت َ َر ب َِسبْعِ َركَ َع‬ 1) Muḥammad ibn Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibn
‫السا ِب َع ِة ث ُ َّم‬
َّ ‫السا ِب َع ِة َولَ ْم يُ َسلِّ ْم إِالَّ ىِف‬
َّ ‫السا ِد َس ِة َو‬ َّ ‫إِالَّ ىِف‬ Ḥibbān bi-Tartīb Ibn Balbān, hadis
‫ات يَا‬ ٍ ‫يُ َص ىِّل َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو َجالِ ٌس فَ ِتل َْك ِه َى تِ ْس ُع َركَ َع‬ no. 2429, vol. VI, hlm. 185, kitab
.]‫بُ َن َّى [رواه أبو داود‬ “aṣ-ṣalāt”, bab “al-witr”.
2) Muḥammad ibn Abdullāh al-Ḥakīm
Sa‘ad bin Hisyam bin Amir berkata, aku al-Naisabūrī, Al-Mustadrak, hadis
bertanya: (wahai Ummul Mukminin Aisyah),
no. 1138, vol. I, hlm. 437, kitab
beritahukan kepadaku tentang witir (salat lail
dan witir) Rasulullah saw. Beliau menjawab:
“al-witr”.
Rasulullah melaksanakan salat witir (lail) 3) Abul Ḥasan Ali al-Baghdādī ad-
sebanyak 8 rakaat. Beliau tidak duduk (taḥiyyat) Dāruquṭnī, Sūnan ad-Dāruquṭnī,
kecuali pada rakaat ke-8. Kemudian beliau editor: Syu’aib al-Arnauth, dll.
berdiri dan melaksanakan salat 1 rakaat lagi. (Beirut: Mu’assasah al-Risālah,
Beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang 2004), hadis no. 1650, vol. II, hlm.
ke-8 dan ke-9. Kemudian beliau salat 2 rakaat 344, kitab “al-Witr”.
lagi sambil duduk. Maka jadilah salat itu sebelas
rakaat [Abu Dawud]. Nas no 28
Takhrīj:
‫َع ْن أُبيَ ِّ بْنِ كَ ْع ٍب ق ََال كَا َن َر ُس ُول اللّٰ ِه ﷺ يَ ْق َرأُ يِف الْ ِوتْ ِر‬
Abū Dāwud as-Sijistani, Sulaiman ibn
Asy‘aṡ, Sunan Abī Dāwud, hadis no. ‫ب َِس ِّب ِح ْاس َم َربِّ َك الأْ َ ْع ىَل َو يِف ال َّركْ َع ِة الثَّانِ َي ِة ِبق ُْل يَا أَيُّ َها‬
1342, hlm. 162, kitab “at-taṭawwu”, bab ‫الْكَا ِف ُرو َن َو يِف الثَّالِثَ ِة ِبق ُْل ُه َو اللّٰ ُه أَ َح ٌد َو اَل يُ َسلِّ ُم إِ اَّل‬
“fiy ṣalāti al-layl”. ‫ُول يَ ْع ِني بَ ْع َد التَّ ْسلِيمِ ُسبْ َحا َن الْ َملِ ِك‬ ُ ‫آخ ِر ِه َّن َويَق‬ِ ‫يِف‬
.]‫وس �ث َ اَلث ًا [رواه النساىئ‬ ِ ‫الْ ُق ُّد‬
Witir 3 Rakaat tidak Menggunakan
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah
Tasyahud saw membaca dalam salat witir “sabbiḥisma
Nas no 27 rabikal a‘lā”, pada rakaat kedua membaca
‫ ال توتروا‬:‫عن أيب هريرة عن رسول الله ﷺ أنه قال‬ “qul yā ayyuhal kāfirūn”, pada rakaat ketiga
“qul huwallāhu aḥad”. Rasulullah tidak salam

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
94 Muhammad Rofiq Muzakkir

kecuali di akhir salat. Setelah salat Rasulullah dengan cara duduk setelah salam. Itulah 9 (rakaat
mengucapkan “subḥānal malikil quddūs” salat Rasulullah), wahai anakku. Rasulullah
[Nasai]. saw apabila beliau salat, beliau lebih suka untuk
melakukannya kontinyu [Nasā’ī].
Takhrīj:
An-Nasā’ī, Abdurrahman ibn Ahmad, Takhrīj:
Sunan an-Nasā’ī, hadis no. 1700, hlm. An-Nasā’ī, Abū Abdurraḥman Aḥmad
278, kitab “qiyām al-layl wa taṭawu‘ an- ibn Syu‘aib, Sunan al-Nasā’ī, hadis no.
nahr” bab “at-takbīr li al-nuhūḍ”. 1718, hlm. 280, kitab “qiyām al-layl wa
taṭawu‘ an-nahr” bab “kayfa al-witr bi
Witir Lebih dari 3 Rakaat yang Tidak sab‘”.
Menggunakan Tasyahud
Nas no 29 Salat Sunat Qabliyyah Ashar dengan
Tasyahud Awal
ِ‫ول اللّٰ ِه ﷺ يُ َص ىِّل ِم َن اللَّ ْيل‬ُ ‫َع ْن َعائِشَ َة قَال َْت كَا َن َر ُس‬ Nas No 31
‫ش َة َركْ َع ًة يُوتِ ُر ِم ْن َذلِ َك ِب َخ ْم ٍس الَ يَ ْجلِ ُس ىِف‬
َ ْ‫�ثَالَثَ َع ر‬
.]‫آخ ِر َها [رواه مسلم‬ ِ ‫ش ٍء إِالَّ ىِف‬ْ َ‫ى‬
‫ل ق ََال كَا َن ال َّنب ُِّى ﷺ‬ ٍّ ِ‫َع ْن َع ِاصمِ بْنِ ضَ ْم َر َة َع ْن َع ى‬
ِ‫ات يَف ِْص ُل بَ ْي َن ُه َّن بِالتَّ ْسلِيم‬ ٍ ‫ص أَ ْربَ َع َر َك َع‬
ِ ْ‫يُ َص ىِّل قَ ْب َل الْ َع ر‬
Dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw
salat di waktu malam tiga belas rakaat, dengan ‫َع ىَل الْ َمالَئِ َك ِة الْ ُم َق َّر ِب َني َو َم ْن تَ ِب َع ُه ْم ِم َن الْ ُم ْسلِ ِم َني‬
witir 5 rakaat di mana ia tidak duduk dalam .]‫َوالْ ُم ْؤ ِم ِن َني [رواه احمد والرتمذى والنساىئ‬
rakaat mana pun kecuali pada rakaat terakhir Dari Aṣim ibn Ḍamrah dari Ali, ia berkata:
[Muslim]. Nabi saw salat sebelum ‘asar sebanyak empat
Takhrīj: rakaat. Di antara empat rakaat tersebut
Muslim ibn Hajjaj al-Naysaburi, Al- dipisahkan oleh bacaan salam (tasyahud awal)
Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, hadis no. 737, hlm. 291, kepada malaikat Allah yang didekatkan dan
kepada orang-orang Islam dan orang-orang
kitab “ṣalāt”, bab “jāmi’ ṣalāt al-layl wa
beriman yang mengikuti mereka [Ahmad, at-
man nāma”.
Tirmiżi, dan an-Nasā’ī].

Nas no 30 Takhrīj:
Ibn Ḥanbal, Aḥmad ibn Muḥammad,
‫ول اللّٰ ِه ﷺ َوأَ َخ َذ‬ ُ ‫َع ْن َعائِشَ َة قَال َْت ل اََّم أَ َس َّن َر ُس‬ Musnad Aḥmad, editor Aḥmad
‫آخ ِر ِه َّن َو َص ىَّل‬ِ ‫ات اَل يَ ْق ُع ُد إِ اَّل يِف‬
ٍ ‫اللَّ ْح َم َص ىَّل َسبْ َع َركَ َع‬ Muḥammad Syākir, Musnad “Ali ibn
‫َركْ َعتَ نْ ِي َو ُه َو قَا ِع ٌد بَ ْع َد َما يُ َسلِّ ُم فَ ِتل َْك تِ ْس ٌع يَا بُ َن َّي‬ Abi Ṭālib”, hadis no. 550, hlm. 447-8;
‫ول اللّٰ ِه ﷺ إِذَا َص ىَّل َص اَل ًة أَ َح َّب أَ ْن يُ َدا ِو َم‬ ُ ‫َوكَا َن َر ُس‬ At-Tirmīżī, Sunan at-Tirmīżī, Kitab
.]‫َعلَ ْي َها [رواه النسايئ‬ “aṣ-ṣalat”, bab “ma jā’a fi al-arba‘
qabla al-‘aṣr”, hadis no. 429, hlm. 453;
Dari Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah saw An-Nasā’ī, Abū Abdurraḥman Aḥmad
telah berumur dan mulai gemuk, beliau salat tujuh ibn Syu‘aib, Sunan al-Nasā’ī, kitab
rakaat. Beliau tidak duduk (taḥiyyat) kecuali di
“aṣ-ṣalat”, bab “ aṣ-ṣalah qabla al-‘aṣr”,
akhirnya, kemudian beliau salat lagi 2 rakaat

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih Empat Rakaat 95

hadis no. 324, hlm. 214. Al-Bukhāri, Muḥammad ibn Ismā’īl,


Ṣaḥīḥ al-Bukhāri (Damaskus, Beirut:
Dār ibn Kaṡīr, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Dadang Syaripuddin, Tasyahhud Awal
Abdur Razāq, Abu Bakr, al-Muṣannaf, pada Setiap Dua Rakaat dalam
editor: Ḥabiburraḥmān al-A‘ẓami, Shalat yang Empat Rakaat, makalah
(Afrika Selatan: Majlis ‘Ilmi, 1390 disampaikan dalam forum Halaqah
H/1970 M). Pra Munas Tarjih, 5 Oktober 2013
Abū ‘Awwānah, Ya’qūb ibn Isḥāq, di UM Purworejo.
Musnad Abi ‘Awwānah, editor: Al-Dārimi, Abū Muḥammad ‘Abdullāh
Ayman ibn ‘Ārif al-Dimasyqi ibn Abdurraḥman, Sunan ad-Dārimi,
(Beirut: Dār al-Ma’rifah, 1998). editor: Ḥusain Salim Asad al-Darani
Abū Dāwud al-Sijistani, Sulaimān ibn (Arab Saudi: Dār al-Mughni lin-
Asy‘aṡ, Sunan Abī Dāwud (Riyaḍ: Nasyr wat-Tauzi‘, 1421 H/1421 M).
Maktabah ar-Rusyd, 2005). Ad-Dāruquṭnī, Abul Ḥasan ‘Ali al-
Abū Ya’lā al-Mūṣiliy, Aḥmad ibn ‘Ali ibn Baghdādī, Sūnan ad-Dāruquṭnī,
Mustannā ibn at-Tamīmi, Musnad editor: Syu’aib al-Arnauth, dll.
Abī Ya’lā al-Mūṣiliy (Damaskus dan (Beirut: Mu’assasah al-Risālah,
Beirut: Dār al-Makmūn lit-Turāṡ, 2004).
1987). http://www.arrahmah.com/read/
Aḥmad, ibn Muḥammad ibn Ḥanbal, Al- 2010/08/12/8698-bilang an-
Musnad, editor: Ahmad Muhammad rakaat-shalat-tarawih-dan-cara-
Syakir (Kairo: Dār al-Ḥadīṡ, 1995). melaksanakannya.html (akses
Al-‘Asqalāni, Ibnu Ḥajar, Fatḥ al-Bāri bi tanggal 3 Oktober 2013, pukul
Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhāri, editor: Abū 15:21).
Qutaibah (Riyāḍ: Dār Ṭayyibah, Ibnu Ḥibbān, Muhammad, Ṣaḥīḥ ibn
1426 H/205 M). Ḥibbān (Beirut: Mu’assasah ar-
--, Nazhatu an-Naẓr Syarḥ Nukhbat Risālah, 1993).
al-Fikr, editor dan komentator: Ibn Khuzaimah, Abu Bakar Muhammad
Abdullah ar-Rahiliy (Riyaḍ: ibn Ishaq al-Naisaburiy, Ṣaḥīḥ Ibn
Maktabah al-Malik Fahd, 2001). Khuzaimah, editor: Musṭafā A‘ẓami
Anwar, Syamsul, Salat Tarawih: Tinjauan (Beirut: al-Maktab al-Islāmiy, 1980).
Usul Fikih, Sejarah, dan Fikih Ibnu Rajab al-Ḥanbaliy, Zainuddin
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, Abū al-Faraj, Fatḥ al-Bāri Syarḥ
2013). Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy (al-Madīnah al-
Al-Baghdādi, al-Khaṭīb, Al-Kifāyah fi Munawwawah: al-Ghurabā al-
Ma‘rifah Uṣūl ‘Ilm ar-Riwāyah (Kairo: Astariyyah, 1996).
Dār al-Hudā, 2003). Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin, Majmū‘

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M
96 Muhammad Rofiq Muzakkir

al-Fatāwā (Kairo: al-Maktabah at- Jum’ah (Kairo: Dār al-Salām, 2001).


Tawfīqiyyah, tt). Asy-Syāfi‘i, Muḥammad ibn Idrīs, al-
Ibnu Shalah, Al-Muqaddimah, edisi: Umm (Al-Manṣūrah: Dār al-Wafā,
Aisyah Abdur Rahman (Bintu asy- 2005).
Syati) (Kairo: Dār al-Ma’ārif, tt). Asy-Syāṭibi, Ibrāhim ibn ‘Isā al-
M a j e l i s Ta r j i h d a n Ta j d i d P P Gharnāṭiy, al-Muwāfaqāt, (Kairo:
Muhammadiyah, Tanya Jawab al-Maktabah at-Taufīqiyyah, tt).
Agama 1 (Yog yakar ta: Suara Aṭ-Ṭabrānī, Abu al-Qāsim Sulaiman
Muhammadiyah, 2003). ibn Aḥmad, Musnad asy-Syāmiyyīn,
--, Tanya Jawab Agama 6, (Yogyakarta: editor: Muhamamd Abdul Majīd
Suara Muhammadiyah, 2010). al-Salafi (Beirut: Mu’assasah ar-
--, Tanya Jawab Agama Jilid 3 (Yogyakarta: Risalah, 1996).
Suara Muhammadiyah, 2004). Aṭ-Ṭayālisī, Sulaiman ibn Dāwud ibn
Malik ibn Anas, al-Muwaṭṭa (Beirut: Dār al-Jārūd, Musnad Abī Dāwud
al-Fikr, 1987). aṭ-Ṭayālisī, editor: Muhammad
Muslim, ibn Ḥajjāj al-Naysāburi, al- Abdul Muḥsin at-Turkiy (Dār
Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ, editor: Abū Ṣuḥaib Hajar, tt).
al-Karamiy (Riyaḍ: Bait al-Afkār At-Tirmīżī, Abū ‘Isā Muḥammad ibn
al-Dauliyyah, 1998). ‘Īsā, Sunan at-Tirmīżī (Riyāḍ: Dār
al-Salām, 1999).
An-Nasā’ī, Abdurraḥman ibn Aḥmad,
Sunan an-Nasā’ī, editor: Nashiruddin Az-Zayla‘i, Jamāluddin al-Ḥanafi, Naṣb
al-Albani (Riyaḍ: Maktabah al- ar-Rāyah fi Takhrīj Aḥadiṡ al-Hidāyah,
Ma’ārif lin-Nasyr wat-Tauzī‘, tt). editor : Muhammad Awamah
(Jeddah: Dār al-Qiblah liṡ-Ṡaqāfah
Al-Qarāfi, Syihābuddin Abu al-‘Abbās, al-Islāmiyyah, Mu’assasah ar-
Anwāru al-Burūq fi Anwā‘ al-Furūq, Rayyān, al-Maktabah al-Makkiyah,
editor: Muḥammad Sarrāj dan ‘Ali tt).

Jurnal TARJIH
Volume 12 (1) 1435 H/2014 M