Anda di halaman 1dari 12

HAK ANAK ATAS KESEHATAN BERDASARKAN

PERLINDUNGAN ANAK

Menurut Perlindungan Anak Terpadu Perlindungan Anak Scheme (ICPs) adalah tentang
menjaga anak-anak aman dari risiko atau risiko dirasakan dengan kehidupan atau masa kecil
mereka. Ini adalah tentang mengakui bahwa anak-anak yang rentan sehingga mengurangi
kerentanan mereka dengan melindungi mereka dari bahaya dan situasi
berbahaya. Perlindungan anak adalah tentang memastikan bahwa anak-anak memiliki jaring
keamanan untuk bergantung pada, dan jika mereka kebetulan jatuh melalui lubang dalam
sistem, sistem memiliki tanggung jawab untuk memberikan anak dengan perawatan dan
rehabilitasi yang diperlukan untuk membawa mereka kembali ke keselamatan.

Hak anak, baik dalam konteks kesehatan maupun hak anak secara umum dalam konteks relasi antara
negara dan warga negara, terletak pada ranah kewajiban negara untuk menyediakan hak dasar warganya.
Dengan kata lain, wilayah pembicaraannya terletak pada persoalan hak asasi manusia (HAM). Secara
spesifik, hak anak terletak pada wilayah implementasi HAM yang dalam teori hukum tata negara
dikategorikan sebagai “positive obligation” atau kewajiban negara untuk memenuhi hak-hak tertentu,
yang terletak bersisian dengan “negative obligation” negara untuk HAM lainnya seperti hak untuk tidak
disiksa. Penjelasan akan letaknya dalam hukum tata negara akan memudahkan untuk melihat bagaimana
seharusnya negara membuat peraturan perundang-undangan yang terkait dengan hak anak.

Dalam kerangka hukum tata negara tersebut, penjelasan mengenai cakupan pengaturan negara dapat
digambarkan dalam suatu relasi segitiga antara negara, penyedia jasa, dan pengguna jasa (masyarakat).
Segitiga ini akan membantu dalam melihat bagaimana sebenarnya peran negara, terutama dalam konteks
peraturan perundang-undangan (lihat skema di bawah).

Negara Individu/Keluarga
Hubungan antara pasien dan penyedia jasa Peraturan mengenai Standar penyediaan jasa (mis. akreditasi).

Penyedia Jasa
bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan langsung bagi hal-hal yang belum bisa ditangani oleh
penyedia jasa swasta. Misalnya saja karena secara finansial kurang menarik, contohnya penyediaan
pelayanan bagi keluarga miskin. Lantas, hak anak mempunyai kekhususan yang lebih karena anak
merupakan golongan rentan yang memerlukan perlakuan khusus karena mereka belum bisa menentukan
sendiri hal-hal yang terbaik bagi dirinya. Dalam konteks kesehatan, anak rentan dipengaruhi oleh
makanannya dan perlindungan terhadap penyakit atau perawatan kesehatan. Oleh sebab itu, dalam
membicarakan kesehatan anak secara khusus, ada dua topik penting, yaitu pelayanan kesehatan anak, dan
gizi anak. Sedangkan dari aspek kekhususannya, perlindungan bagi anak cacat harus diperhatikan secara
lebih khusus lagi.
Dalam kerangka di atas, persoalan pengaturan kesehatan anak bisa dikelompokkan kedalam tiga bagian
besar. Pertama, pengaturan mengenai akses bagi pelayanan kesehatan bagi orang miskin. Misalnya saja
untuk menjamin adanya pelayanan kesehatan bagi orang miskin dan orang-orang yang tinggal di pelosok.
Penyediaan layanan kesehatan langsung oleh pemerintah diberikan melalui rumah sakit milik pemerintah.
Rumah sakit milik pemerintah biasanya terikat dalam skema khusus bagi penduduk miskin. Selain itu, di
setiap kecamatan, pemerintah juga mengelola Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) serta Pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu) di desa-desa untuk melayani kesehatan anak dan ibu hamil.
Departemen Kesehatan mencatat, pada 2003 ada 7.237 Puskesmas, 21.267 Puskesmas Pembantu, dan
6.392 Puskesmas Keliling.104 Namun angka-angka yang terlihat fantastis tersebut belum sepenuhnya
memenuhi harapan akan kualitas pelayanan kesehatan. Sebagai referensi, walau dicatat pada tahun yang
berbeda, Laporan WHO tahun 2000 tentang Health System Improving Performance menempatkan
Indonesia pada urutan ke 106 dari 191 anggota WHO dalam hal pencapaian.

Untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pada 2005 pemerintah menerapkan Program Kompensasi
Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pelayanan kesehatan. Subsidi tersebut dialihkan untuk
Puskesmas dan Rumah Sakit kelas tertentu. Pelayanan Kesehatan gratis diberikan kepada tiap orang yang
dapat menunjukkan Kartu Kesehatan Keluarga Miskin. Pemberian kartu ini dikelola oleh PT ASKES.
Namun demikian, program ini masih banyak menuai kritik karena lemahnya cara identifikasi keluarga
miskin serta distribusinya.

Kedua, pengaturan secara khusus mengenai pelayanan kesehatan bagi anak. Contohnya, bagaimana
seharusnya perawatan kesehatan bagi anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang sangat rentan dan
memerlukan perhatian khusus. Laporan WHO (World Health Organization) mencatat, pada 2004, 38 dari
1000 balita di Indonesia meninggal dunia karena sebab-sebab yang sesungguhnya bisa dicegah.

Ketiga, pengaturan mengenai makanan dan gizi anak. Ketidakpedulian produsen makanan, baik industri
rumah tangga (home industry), maupun perusahaan besar sering menimbulkan masalah dalam hal
kesehatan anak. Misalnya dalam hal pemberian susu pengganti Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi berusia di
bawah enam bulan. Sementara itu, di sekolah, anak juga menghadapi masalah dalam hal jajanan yang
tidak higienis dan bahkan kadang mengandung bahan yang berbahaya, seperti formalin atau boraks.

Industri rumah tangga seringkali kurang mendapatkan penyuluhan dari pemerintah mengenai bahan-
bahan yang tidak boleh dimasukkan ke dalam makanan. Sementara, pengawasan lapangan dan penegakan
hukumnya di lapangan juga sangat rendah. Pelayanan kesehatan di Indonesia dikelola oleh Departemen
Kesehatan. Penyediaan pelayanan kesehatan secara langsung kemudian diselenggarakan oleh
pemerintahpemerintah daerah sementara pemerintah pusat memberikan panduan dasar dalam
penyelenggaraan kesehatan.

Di dalam UUD, ada enam ketentuan yang terkait dengan kesehatan secara umum serta kesehatan anak
secara khusus, yaitu:
a.Pasal 28B ayat (2): setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
b. Pasal 28H ayat (1): Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
c. Pasal 28H ayat (3): Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
d. Pasal 34 ayat (1): Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara
e. Pasal 34 ayat (2): Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan
f. Pasal 34 ayat (3): Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak.

Hak atas Kesehatan dan KHA


Dalam menelaah peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kesehatan anak, digunakan
Konvensi Hak Anak sebagai alat analisisnya. Konvensi Hak Anak, yang sudah diratifikasi menjadi
Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990, memuat beberapa hal mengenai hak anak atas kesehatan.
1. Pelayanan Kesehatan Bagi Anak-Anak Cacat (Pasal 23 KHA)
Negara harus memfasilitasi orangtua atau orang-orang lain yang memelihara anak cacat agar anak-anak
cacat bisa memperoleh kesempatan dan menerima pelayanan kesehatan, pelayanan pemulihan.
2. Standar Kesehatan anak (Pasal 24 KHA) Negara harus mengambil langkah-langkah untuk:
a. Mengurangi kematian bayi dan anak;
b. Menjamin pengadaan bantuan medis dan perawatan kesehatan yang diperlukan untuk semua anak
dengan menitikberatkan pada pengembangan pelayanan kesehatan dasar;
c. Memberantas penyakit dan kekurangan gizi, termasuk dalam kerangka pelayanan kesehatan dasar,
melalui antara lain perenapan teknofogi yang mudah diperoleh dan melalui pengadaan makanan bergizi
yang memadai dan air minum yang bersih, dengan mempertimbangkan bahaya-bahaya dan resikoresiko
pencemaran lingkungan;
d. Menjamin perawatan kesehatan pra dan pasca melahirkan bagi ibu-ibu;
e. Menjamin bahwa semua golongan masyarakat, terutama para orangtua dan anak-anak, diberi
informasi, bisa memperoleh pendidikan dan mendapat dukungan dalam penggunaan pengetahuan dasar
mengenai kesehatan dan gizi anak, manfaat-manfaat pemberian air susu ibu (ASI), kebersihan dan
penyehatan lingkungan, serta pencegahan kecelakaan;
f. Mengembangkan perawatan kesehatan preventif, bimbingan untuk para orangtua dan pendidikan
serta pelayanan tentang keluarga berencana.
g. Menghapuskan praktek-praktek tradisional yang merugikan kesehatan anak.
3. Jaminan Sosial (Pasal 26 KHA)
4. Gizi anak (Pasal 27 KHA)

Peraturan Perundang-undangan yang Terkait dengan Kesehatan Anak


Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
a. Pasal 53 ayat (1) menyatakan: setiap anak sejak dalam kandungan, berhak untuk hidup,
mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya.
b. Pasal 54 menyatakan bahwa setiap anak yang cacat fisik dan atau mental berhak memperoleh
perawatan dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupannya.
c. Pasal 62 mengatur hak anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak,
sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya.

UU 39/1999 merupakan suatu pernyataan hak-hak asasi manusia (bill of rights), sehingga pelaksanaannya
belum bisa dinyatakan di sini. Dalam konteks pelaksanaan HAM, pasal-pasal ini dapat dijadikan dasar
untuk menggugat kewajiban negara di pengadilan untuk memenuhi hak-hak tersebut.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, terutama Pasal 44-47 yang mengatur
tentang kesehatan anak. Dikatakan dalam Pasal 44 ayat (3) UU 23/2002 bahwa pemerintah menyediakan
fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan dan pelayanan gratis bagi masyarakat yang kurang
mampu.

Sama dengan UU 39/1999, dalam konteks kesehatan, undang-undang ini merupakan pernyataan hak yang
belum bisa diterapkan untuk memaksimalkan penyediaan layanan kesehatan oleh pemerintah. Undang-
undang ini memang memuat ketentuan pidana, namun secara spesifik untuk kekerasan terhadap anak dan
pengabaian hak atas kesehatan anak oleh orang tua ataupun pihak-pihak yang terkait.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Masalah kesehatan anak diakomodasi dalam
pengaturan mengenai kesehatan keluarga, khususnya kesehatan ibu dan anak.
a. Pasal 17 UU 23/1992 menyatakan bahwa kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Kesehatan anak ini dilakukan melalui peningkatan kesehatan anak
dalam kandungan, masa bayi, masa balita, usia prasekolah dan usia sekolah.
b. Pasal 14 menyatakan: “kesehatan istri meliputi kesehatan pada masa prakehamilan, kehamilan,
persalinan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan, dan persalinan.”
c. Khusus mengenai aborsi, diatur tersendiri di dalam UU 23/1992. Pasal 15 UU 23/1992 menyatakan
sebagai berikut:
(1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat
dilakukan tindakan medis tertentu.
(2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) hanya dapat dilakukan:
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
b. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai
dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
d. pada sarana kesehatan tertentu.
d. Pasal 45 mengatur mengenai kesehatan sekolah.
Pelaksana pasal-pasal ini, berdasarkan Pasal 6 undang-undang yang sama, adalah pemerintah, yang
mengatur bahwa pemerintah bertugas mengatur, membina, dan mengawasi penyelenggarakan upaya
kesehatan.

Undang-undang No. 11 tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya)
a. Pasal 10, menyatakan bahwa negara pihak pada kovenan ini mengakui bahwa: (i) Perlindungan atas
bantuan seluas mungkin harus diberikan kepada keluarga yang merupakan kelompok alamiah dan
mendasar dari satuan masyarakat, terutama terhadap pembentukannya, dan sementara itu keluarga
bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak-anak yang masih dalam tanggungan. (ii)
perlindungan khusus harus diberikan kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan
sesudah melahirkan. (iii) Langkah-langkah khusus untuk perlindungan dan bantuan harus diberikan untuk
kepentingan semua anak dan remaja, tanpa diskriminasi apapun berdasarkan keturunan atau keadaan-
keadaan lain.
b. Pasal 11 menyatakan: Negara pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang atas standar
kehidupan yang layak baginya dan keluarganya, termasuk pangan, sandang dan perumahan, dan atas
perbaikan kondisi hidup terus menerus. Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak mendasar dari
setiap orang untuk bebas dari kelaparan.
c. Pasal 12 selanjutnya menyatakan bahwa Negara Pihak dalam Kovenan ini mengakui hak setiap
orang untuk menikmati standar tertinggi yang dapat dicapai atas kesehatan fisik dan mental. Langkah-
langkah yang akan diambil oleh Negara Pihak pada Kovenan ini guna mencapai perwujudan hak ini
sepenuhnya, harus meliputi hal-hal yang diperlukan untuk mengupayakan:
(a) Ketentuan-ketentuan untuk pengurangan tingkat kelahiran-mati dan kematian anak serta
perkembangan anak yang sehat;
(b) Perbaikan semua aspek kesehatan lingkungan dan industri;
(c) Pencegahan, pengobatan dan pengendalian segala penyakit menular, endemik, penyakit lainnya
yang berhubungan dengan pekerjaan;
(d) Penciptaan kondisi-kondisi yang akan menjamin semua pelayanan dan perhatian medis dalam hal
sakitnya seseorang. Sama dengan UU 39/1999, undang-undang ini merupakan pernyataan hak yang
belum bisa diterapkan untuk memaksimalkan penyediaan layanan kesehatan anak oleh pemerintah.

Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.


Pasal 6 UU 4/1997 angka 6 menyatakan bahwa setiap penyandang cacat berhak memperoleh hak yang
sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi
“penyandang cacat anak” dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Selanjutnya, dalam bagian
penjelasan, dikatakan bahwa ketentuan ini dimaksudkan agar penyandang cacat anak memperoleh hak
untuk hidup dan menjalani sepenuhnya kehidupan kanak-kanak serta untuk mendapatkan perlakuan dan
pelayanan secara wajar baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Kelemahan undang-undang ini adalah dalam hal peraturan pelaksananya. Undang-undang ini
membutuhkan banyak Peraturan Pemerintah (PP) untuk mengatur pelaksanaannya. Misalnya saja pasal
yang mengatur mengenai upaya rehabilitasi oleh pemerintah yang akan diatur lebih lanjut dalam PP
(Pasal 18). Demikian pula sanksi administratif bagi pihak yang tidak menyediakan sarana untuk
aksesabilitas penyandang cacat (Pasal 29). Beberapa PP hingga saat ini belum tersedia.

Masalah lainnya, masih di dalam arena implementasi, adalah ketidakjelasan mengenai “siapa” yang harus
menyediakan hak dan memberikan perlindungan bagi penyandang cacat. Undang-undang ini semuanya
masih menyatakan hak tanpa memberikan mekanisme untuk mendapatkan hak tersebut. Padahal
seharusnya yang ditekankan adalah justru kewajiban pemerintah: siapa yang memberikan hak itu. Bukan
sebaliknya. Ini adalah prinsip utama dalam perancangan peraturan perundang-undangan yang efektif.
Ketika disebutkan mengenai penyedia hak, yang disebutkan hanya “pemerintah”, tanpa ada kejelasan,
instansi mana di dalam pemerintahan yang harus melaksanakannya.

Lazim dalam praktek, peraturan perundang-undangan memberikan definisi mengenai “pemerintah” atau
“departemen” atau “menteri” secara spesifik, untuk memastikan departemen teknis pelaksana undang-
undang tersebut. Namun ketentuan umum undang-undang ini tidak memuat definisi tersebut, sehingga
tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab dalam penyelenggaraan perlindungan hak-hak
penyandang cacat. Apalagi, materi muatan undang-undang ini juga tidak mencerminkan dengan jelas
instansi yang bertanggung jawab. Berbeda halnya dengan UU Kesehatan misalnya, yang juga tidak
mengatur dengan jelas instansi mana yang melaksanakannya (dalam hal ini tetap belum memadai), namun
cukup jelas menunjukkan bahwa Departemen Kesehatanlah yang bertanggung jawab.

Lebih parah lagi dalam konteks perancangan peraturan, ketika mengatur soal upaya dalam Bab V,
undang-undang ini mengatur bahwa pelaksana upaya rehabilitasi, bantuan sosial, dan peningkatan taraf
hidup penyandang cacat adalah “pemerintah dan/atau masyarakat”. Seharusnya, kalaupun pembuat
undang-undang ingin memasukkan konteks upaya masyarakat untuk membantu penyandang cacat,
misalnya melalui yayasan-yayasan, yang diatur adalah upaya pemerintah memfasilitasi aktivitas
warganya untuk membantu meringankan kewajiban negara, bukan membagi beban pelaksanaan kepada
warganya. Hal ini membuat undang-undang ini semakin tidak jelas pelaksanaannya.

Agaknya, hal ini pula yang menyebabkan kemacetan dalam pembentukan PP-nya.Sebab dana untuk
merancang PP dalam sistem anggaran yang berlaku juga digantungkan pada departemen teknis mana
yang terkait dengan peraturan yang akan dirancang.

UU No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
Pasal 16 ayat (3) menyatakan bahwa pemerintah memberikan pembinaan keluarga dan pengaturan
kelahiran dengan menentukan kebijakan mengenai masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut PP mana
saja yang belum tersedia.

jumlah ideal anak, jarak kelahiran anak, usia ideal perkawinan, dan usia ideal untuk melahirkan, dalam
konteks keluarga berencana. Undang-undang ini juga mempunyai kelemahan yang sama dengan UU
4/1997, yaitu ketidakjelasan dalam pelaksanaannya. Pasal 9 UU 10/1992 ini mengatur bahwa upaya
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera “dilaksanakan oleh pemerintah dan
atau masyarakat secara terpadu bersama-sama dengan upaya-upaya lain dengan memperhatikan daya
dukung alam,daya tampung lingkungan binaan, dan daya tampung lingkungan sosial.”
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1966 Tentang Kesehatan Jiwa
Pasal 3 undang-undang ini menyatakan bahwa dalam bidang kesehatan jiwa usaha-usaha pemerintah
meliputi pemeliharaan kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Undang-undang
ini juga mempunyai kelemahan yang sama dengan UU 4/1997 dan UU 10/1992, yaitu ketidakjelasan
dalam pelaksanaannya.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional Undang-undang ini
menjamin anggota keluarga (termasuk anak) untuk mendapatkan manfaat dari asuransi kesehatan orang
tuanya. Selanjutnya, Pasal 41 mencakup adanya hak yang diterima anak ahli waris sampai anak mencapai
usia 23 (dua puluh tiga) tahun, bekerja, atau menikah untuk menerima manfaat jaminan pensiun berwujud
uang tunai yang diterima setiap bulan.

Kelemahan dari peraturan ini adalah cakupannya yang membatasi jaminan sosial hanya dalam konteks
pengelolaan asuransi bagi pegawai negeri sipil, tentara, dan pekerja swasta formal. Dalam ketentuan
umum, jaminan sosial didefinisikan sebagai salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin
seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Kemudian dinyatakan pula
bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial
oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial. Dengan definisi seperti ini, maka hak anak-anak
untuk mendapatkan jaminan sosial bagi penghidupan yang layak dibatasi pada anak yang orang tuanya
menjadi peserta program jaminan sosial dari pemerintah yang dikelola oleh beberapa perusahaan asuransi
berupa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN tersebut adalah JAMSOSTEK (Perusahaan Jaminan
Sosial Tenaga Kerja), TASPEN (Perusahaan Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri), ASABRI
(Perusahaan Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dan ASKES. Akibatnya, anak-
anak yang orang tuanya bekerja di sektor informal seperti buruh tani atau pemulung sampah, tidak bisa
mendapatkan jaminan sosial ini.

Namun selanjutnya keluar pula pengaturan untuk membantu biaya pelayanan kesehatan keluarga miskin
sebagai kompensasi pengurangan subsidi BBM melalui PT ASKES. Hal ini diatur dalam SK Menteri
Kesehatan No. 1241/MENKES/XI/2004 yang kemudian diubah menjadi SK No. 56/MENKES/I/2995
tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin.

Kelemahan dari pengaturan ini adalah pelaksanaannya di lapangan yang banyak diwarnai “kebocoran”
karena pelayanan kesehatan didasarkan pada identifikasi pihak-pihak yang diberikan “Kartu Keluarga
Miskin”.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.


Konsiderans ‘menimbang’ dan ‘mengingat’ dari undang-undang ini menunjukkan bahwa undang-undang
ini merupakan peraturan pelaksanaan dari Pasal 34 UUD yang mengatur jaminan sosial bagi seluruh
rakyat. Secara eksplisit Pasal 34 UUD juga disebutkan jaminan dipeliharanya anak-anak terlantar oleh
negara. Namun undang-undang ini justru tidak menyinggung sama sekali mengenai jaminan sosial bagi
anak.

Seharusnya undang-undang yang menjabarkan Pasal 34 UUD bisa memberikan skema yang konkrit
mengenai bagaimana negara dapat mengeluarkan pembiayaan bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Misalnya mengenai fasilitas (pembiayaan maupun akses) apa saja yang diberikan negara untuk panti-panti
asuhan, rumah yatim piatu, unit-unit khusus di instansi pemerintah terkait yang menangani anak dan
orang miskin, dan lain sebagainya.
Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
Undang-Undang ini merupakan ‘turunan’ dari UU No. 6/1974. Dengan demikian, terlihat bahwa
pengaturannya ditujukan kepada bagaimana agar jaminan sosial bagi anak dapat dipenuhi oleh negara.
Hal ini dari konsiderans yang mengacu pada Pasal 34 UUD dan UU No. 6/1974 serta dari bagian
penjelasan umum.

Namun dari aspek materi muatan, peraturan ini justru problematik karena walaupun ada ‘semangat’
memberikan penjaminan sosial, materi muatannya justru tidak mencerminkan pemberian jaminan sosial,
apalagi bagi anak. Materi muatannya hanya terdiri dari tiga bab (selain ketentuan umum), yaitu hak anak,
tanggung jawab orang tua terhadap kesejahteraan anak, dan usaha kesejahteraan anak. Bila dilihat lebih
jauh, undang-undang ini justru meletakkan tanggung jawab sosial dan pendidikan lebih banyak kepada
orang tua.
Sementara pemerintah diposisikan untuk melakukan upaya, bersama dengan orang tua. Alih-alih
mengatur tanggung jawab negara untuk memelihara anak-anak terlantar, undang-undang ini justru
mendelegasikan tanggung jawab tersebut kepada orang tua.

Seharusnya, peraturan semacam ini memberikan skema yang konkrit untuk menjamin kehidupan anak-
anak terlantar. Skema konkrit ini yang sudah menjadi materi muatan UU No. 40 Tahun 2004 tentang
Jaminan Sosial, berikut turunannya, serta materi muatan revisi terhadap UU 6/1974. Di sisi lainnya,
undang-undang ini memberikan beberapa pengaturan mengenai hak anak yang sudah tidak relevan lagi
dengan adanya ratifikasi Konvensi Hak Anak serta UU Perlindungan Anak.

Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1/U/SKB/2003, Nomor 1067/Menkes/SKB/Vll/2003, Nomor
MA/230 A/2003, Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
Sekolah. Peraturan ini dilaksanakan oleh Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri
Kesehatan, Menteri Agama, Dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 2/P/SKB/2003,
Nomor 1068/MENKES/SKB/VII/2003, Nomor MA/230 B/2003 dan Nomor 4415 – 404 TAHUN 2003
tentang Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah Pusat.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 Tahun 2002 Tentang Registrasi Dan
Praktik Bidan. Peraturan ini terkait dengan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga
Kesehatan. Peraturan ini mengatur mengenai standar minimum yang harus dimiliki oleh bidan, dalam
konteks menjaga kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkannya.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 457/MENKES/SK/X/2003 TAHUN 2003 Tentang Standar


Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Keputusan ini mengatur mengenai jenis
pelayanan beserta indikator kinerja dan target Tahun 2010 yang mencakup antara lain: Pelayanan
kesehatan Ibu dan Bayi, Pelayanan kesehatan Anak Pra sekolah dan Usia Sekolah. Pelayanan Keluarga
Berencana, dan Pelayanan imunisasi.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003 TAHUN 2003 Tentang Pedoman


Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan 3.17. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
913/MENKES/SK/VII/2002 TAHUN 2002 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi
Bangsa Indonesia Kelemahan dari ketentuan-ketentuan di atas secara umum adalah dalam hal
implementasinya. Dalam banyak hal, pemerintah kemudian memang membuat beberapa rencana aksi,
namun pelaksanaan di lapangan pun menghadapi kendala dana dan sistem. Ada tiga hal dalam
implementasi yang perlu disoroti.
Pertama, kewajiban pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Selain
memberikan kerangka bagi penyedia swasta berupa panduan standar kesehatan dan serta kerangka hukum
bagi tenaga kesehatan, pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin.
Hal ini perlu ditekankan karena bagi keluarga yang mampu, banyak pilihan tersedia untuk mendapatkan
kualitas pelayanan kesehatan yang baik. Banyak sudah rumah sakit swasta dengan standar pelayanan yang
baik. Bahkan bagi keluarga yang mampu, tersedia pula pilihan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
di negara lain yang lebih maju. Oleh karena itu, seharusnya ada peraturan-peraturan yang khusus
mengatur mengenai ketersediaan dana operasional bagi pemerintah untuk memberikan pelayanan bagi
keluarga miskin.

Terkait dengan kewajiban ini adalah perhatian khusus bagi anak-anak di panti asuhan dan anak cacat.
Panti-panti asuhan serta instansi yang terkait dengan perawatan anak cacat kebanyakan dikelola oleh
usaha swasta nirlaba, yang biasanya berbentuk yayasan. Meski peran ini sudah banyak dilakukan oleh
mereka, pemerintah seharusnya bisa memfasilitasi aktivisme ini dengan memberikan kerangka
pengaturan khusus bagi usaha nirlaba ini. Misalnya dengan adanya subsidi khusus bagi yayasan semacam
ini dari pemerintah, dengan kriteria dan mekanisme tertentu.

Kedua, kewajiban bagi pelaksana peraturan, termasuk aparat penegak hukum, untuk secara aktif
menyelidiki pelanggaran berbagai undang-undang di atas. Adanya syarat hygiene sanitasi makanan jajan
dan syarat yang ketat bagi bidan misalnya, merupakan peraturan yang sangat baik untuk melaksanakan
kewajiban pemerintah untuk memberikan kerangka pengaturan (regulatory framework) bagi kesehatan
anak. Namun demikian, peraturan-peraturan itu hanya menjadi ketentuan di atas kertas yang tidak
mempunyai efek di lapangan semata karena tidak ada lembaga pengawas yang efektif.

Departemen Kesehatan tentunya seringkali diposisikan sebagai pengawasnya. Sementara itu, dalam hal
pemberian sanksi pidana, aparat penegak hukum yang seharusnya responsif. Ke depannya, perlu dibuat
suatu mekanisme kerja yang lebih baik di Departemen Kesehatan serta suatu skema kerja sama antara
Departemen Kesehatan dan instansi terkait dalam mengawasi pelaksanaan peraturan tersebut. Instansi
terkait di sini misalnya kepolisian dalam hal peraturan yang memberikan sanksi pidana dan Departemen
Pendidikan Nasional dalam hal peraturan yang terkait dengan sekolah.

Adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) kerap dilihat sebagai bentuk kerja sama ini, namun SKB pun
perlu pengawasan atas pelaksanaannya. Yang bisa dilakukan adalah struktur dan mekanisme kerja di
dalam Departemen Kesehatan dan antara Departemen Kesehatan dengan instansi-instansi terkait tersebut.

Ketiga, kewajiban pemerintah untuk memberikan informasi mengenai standar pelayanan kesehatan anak
dan pemenuhan kebutuhan gizi anak. Dalam hal pemberian susu pengganti ASI bagi bayi berusia di
bawah enam bulan misalnya, dalam hal penegakan hukum masih banyak kelemahannya. Kelemahan ini
seharusnya diatasi pula oleh pemerintah dengan memberikan pelatihan bagi tenaga medis dan informasi
bagi orang tua. Demikian pula halnya dengan peraturan mengenai persyaratan hygiene sanitasi makanan
jajanan. Peraturan ini sangat jarang diketahui oleh masyarakat umum, terutama orang tua yang seharusnya
bisa menjadi pengawas langsung yang efektif.

Fungsi ini seringkali dilaksanakan oleh berbagai organisasi non-pemerintah. Suatu hal yang perlu
disambut baik, namun peran pemerintah secara aktif tetap diperlukan. Pemerintah seharusnya bisa bekerja
sama dengan organisasi-organisasi semacam ini untuk membuat program kampanye yang sistematis.

Pengaturan yang Diperlukan


Terkait dengan hak-hak anak lainnya, sudah terdapat pula beberapa peraturan perundang-undangan yang
mengatur mengenai kesehatan, namun belum secara spesifik menempatkan anak-anak sebagai objek
pengaturannya. Selain itu, masih ada peraturan yang dibutuhkan untuk memenuhi konvensi hak anak
sebagai kerangka dasar pengaturan hak anak mengenai kesehatan.

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular.


Undang-undang ini belum menyentuh persoalan anak secara khusus. Kesehatan anak dalam upaya
penanggulangan bencana. Kesehatan anak dalam konteks ini masih belum banyak diperhatikan, sampai
dengan terjadinya beberapa bencana alam besar di Indonesia dalam dua tahun belakangan ini, antara lain
tsunami di Aceh dan Pangandaran, serta gempa bumi di Jogjakarta.

Ketidaksiapan pemerintah dalam mengatasi bencana ini berdampak buruk bagi anak karena kondisinya
yang rentan. Kesehatan anak menjadi lebih terancam karena ada persoalan ketersediaan air bersih,
sanitasi, dan gizi. Bahkan, kesehatan mental anak pun menjadi persoalan khusus karena adanya trauma
pasca-bencana yang memerlukan perhatian khusus bagi tumbuh-kembang anak.

Yang penting untuk dilihat pula dalam Konvensi Hak Anak adalah penghapusan praktek-praktek
tradisional yang merugikan kesehatan anak. (Pasal 24 KHA). Praktek tradisional yang terkait dengan
kesehatan anak adalah adanya bidan dan adanya pemotongan alat genital anak (khitan atau sunat).
Pengaturan mengenai bidan sudah ada, namun persoalan pemotongan alat genital belum diatur dengan
baik.110 Agaknya sensitivitas karena hal ini menyangkut pemahaman akan agama, membuat pengaturan
ini tidak dianggap penting. Padahal risikonya cukup besar, terutama bagi khitan yang dilakukan secara
tradisional, dengan alat-alat yang hygienitasnya perlu dipertanyakan. Bagi anak laki-laki, pengaturan
dibutuhkan untuk menyesuaikan pelaksanaan khitan dengan standar kesehatan minimum terkait dengan
cara dan alat-alat yang digunakan. Sementara bagi anak perempuan, perlu ada pengaturan khusus
mengenai persetujuan dari orang tua (informed consent) yang terkait dengan penerangan mengenai
akibat-akibatnya serta cara pelaksanaannya.

Rekomendasi
1.Untuk melihat hal-hal yang perlu diperbaiki, konvensi hak anak ditempatkan sebagai kerangka analisis
atau daftar periksa (checklist) akan pengaturan hak-hak kesehatan anak. Seperti diuraikan di atas, pada
dasarnya ada empat wilayah yang harus diatur oleh pemerintah, yaitu pelayanan kesehatan bagi anak-anak
cacat (Pasal 23 KHA), standar Kesehatan anak (Pasal 24 KHA), jaminan sosial bagi anak (Pasal 26
KHA), dan gizi anak (Pasal 27 KHA). Penjabaran berbagai peraturan perundang-undangan di atas
menunjukkan bahwa kebanyakan dari peraturan yang diperlukan sudah tersedia, Perlu dicek ulang,
apakah benar belum ada. namun yang menjadi masalah adalah implementasinya. Oleh karena itu, ada
beberapa rekomendasi khusus yang dapat disumbangkan oleh studi ini.
2.Perlu diadakan studi mendalam mengenai struktur dan mekanisme kerja instansi-instansi yang terkait
dengan pelayanan kesehatan anak (governance audit). Studi ini harus mencakup skema penganggaran,
mekanisme kerja instansi dan kerja sama antar-instansi terkait, struktur instansi-instansi terkait, yang
dihadapkan dengan kelemahan implementasi peraturan di lapangan. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan lembaga-lembaga pengawas peraturan (implementing agencies) yang mengawasi
pelaksanaan peraturan secara efektif.
3.Perlu diselenggarakan forum reguler antara instansi pemerintah terkait dengan organisasi non-
pemerintah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia, dan berbagai pemangku
kepentingan untuk membuat program kampanye penyebarluasan peraturan yang terkait dengan kesehatan
anak.
4.Revisi Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, dengan memuat secara jelas
instansi mana yang berkewajiban melaksanakan undangundang tersebut serta bagaimana mekanisme dan
prosedur pelaksanaannya. Selain itu, perlu diperjelas juga upaya pemerintah untuk memfasilitasi
kelompok-kelompok dalam masyarakat yang ingin melakukan aktivitas untuk membantu kelompok
penyandang cacat.
5.Revisi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan
Sosial. Undang-undang penggantinya yang menjabarkan Pasal 34 UUD, harus memberikan skema konkrit
mengenai bagaimana negara dapat mengeluarkan pembiayaan bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Misalnya mengenai fasilitas (pembiayaan maupun akses) apa saja yang diberikan negara untuk panti-panti
asuhan, rumah yatim piatu, unit-unit khusus di instansi pemerintah terkait yang menangani anak dan
orang miskin, dan lain sebagainya.
6.Mencabut Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak karena sudah tidak relevan
dengan digantikan oleh KHA dan UU Perlindungan Anak. Keberadaan undang-undang ini akhirnya
hanya membuat rancu.
7.Revisi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular agar menyentuh
persoalan anak secara khusus.
8.Membuat Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana dan membuat pengaturan khusus
mengenai penanganan kesehatan fisik dan mental anak di wilayah bencana.
9.Membuat peraturan (mungkin dalam bentuk Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri
Agama) mengenai pemotongan alat genital anak, yang ditujukan bagi tenaga pelaksana kesehatan. Materi
muatan peraturan ini harus mencakup (i) pelaksanaan khitan bagi anak laki-laki agar sesuai dengan
standar kesehatan minimum terkait dengan cara dan alat-alat yang digunakan; dan (ii) untuk khitan bagi
anak perempuan, perlu ada pengaturan khusus mengenai persetujuan dari orang tua (consent) yang terkait
dengan penerangan mengenai akibat-akibatnya serta cara pelaksanaannya.

PENUTUP
Perhatian dan kepedulian terhadap nasib dan hak anak di dunia semakin meningkat, begitu juga di
Indonesia. Hal ini sebagian didorong oleh kenyataan bahwa terjadi pergeseran perspektif dalam
memandang hak dan peran anak dalam kehidupan bermasyarakat: Dari perspektif “Kebutuhan” (needs)
menjadi “Hak” (rights). Salah satu tonggak penting yang menandakan pergeseran penting tersebut adalah
ditetapkannya United Nations Convention on the Rights of the Child 1989, atau Konvensi PBB tentang
Hak Anak (KHA). Republik Indonesia meratifikasi KHA pada Agustus 1990 melalui Keputusan Presiden
No. 36 Tahun 1990, dan mulai berlaku pada Oktober 1990.

KHA digambarkan sebagai ‘tonggak bagi etos moral baru untuk anak’ dan sebuah instrumen yang
menekankan bahwa ‘penghargaan terhadap dan perlindungan atas hak anak adalah langkah awal untuk
perkembangan penuh potensi individu dalam sebuah atmosfir yang bebas, bermartabat dan berkeadilan.
Ketika sebuah negara meratifikasinya, maka ia sesungguhnya mengemban tanggung jawab moral untuk
mengimplementasikannya dengan menuangkan ke dalam peraturan perundang-undangan dan kebijakan
yang relevan.

Apa Hak Anak?

Sebagai suatu perjanjian atau kontrak didirikan antara orang yang memegang hak (sering
disebut sebagai "pemegang hak") dan orang-orang atau lembaga yang kemudian memiliki
kewajiban dan tanggung jawab dalam kaitannya dengan perwujudan hak yang (sering disebut
sebagai "tugas-pembawa".) Hak anak, hak anak adalah hak asasi manusia khusus yang
berlaku untuk semua manusia di bawah usia 18.

Universal hak-hak anak didefinisikan oleh PBB dan Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak
(UNCRC). Menurut Hak Anak UNCRC adalah hak minimum dan kebebasan yang harus
diberikan kepada semua orang di bawah usia 18 tanpa memandang ras, warna, jenis kelamin,
bahasa, agama, opini, asal-usul, kekayaan, status kelahiran atau kemampuan dan karena itu
berlaku untuk semua orang di mana-mana. PBB menemukan hak-hak ini saling tergantung dan
tak terpisahkan, yang berarti bahwa hak tidak dapat dipenuhi dengan mengorbankan hak lain.

Tujuan dari UNCRC adalah untuk menguraikan hak asasi manusia dasar yang harus diberikan
kepada anak-anak. Ada empat klasifikasi luas dari hak-hak ini. Keempat kategori mencakup
semua hak-hak sipil, politik, sosial, ekonomi dan budaya dari setiap anak.

Hak untuk kelangsungan hidup: hak seorang anak untuk kelangsungan hidup dimulai sebelum
anak lahir. Menurut Pemerintah India, kehidupan anak dimulai setelah dua puluh minggu
konsepsi. Oleh karena itu hak untuk hidup adalah termasuk hak anak untuk dilahirkan, hak
untuk standar minimum makanan, tempat bernaung dan busana, dan hak untuk hidup
bermartabat.

Hak untuk Perlindungan: Seorang anak memiliki hak untuk dilindungi dari kelalaian, eksploitasi
dan pelecehan di rumah, dan di tempat lain.

Hak untuk Partisipasi: Seorang anak memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan yang melibatkan dia / dia langsung maupun tidak langsung. Ada berbagai tingkat
partisipasi sesuai usia dan kematangan anak.

Hak untuk Pembangunan: Anak-anak memiliki hak untuk semua bentuk pembangunan:
Emosional, Mental dan Fisik. perkembangan emosional yang dipenuhi oleh perawatan yang
tepat dan cinta dari sistem pendukung, perkembangan mental melalui pendidikan dan
pembelajaran dan pengembangan fisik melalui rekreasi, bermain dan gizi.

Apa Perlindungan Anak?


UNICEF menganggap perlindungan anak sebagai pencegahan atau menanggapi insiden kekerasan,
eksploitasi, kekerasan dan penelantaran anak. Ini termasuk eksploitasi komersial seksual, trafficking,
pekerja anak dan praktek-praktek tradisional yang berbahaya, seperti mutilasi genital perempuan /
pemotongan dan pernikahan anak. Perlindungan juga memungkinkan anak-anak untuk memiliki akses
ke hak-hak mereka yang lain untuk bertahan hidup, pembangunan, pertumbuhan dan partisipasi.
UNICEF menyatakan bahwa ketika perlindungan anak gagal atau anak-anak tidak ada memiliki risiko
kematian lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang buruk, infeksi HIV / AIDS, masalah pendidikan,
perpindahan, tunawisma, menggelandang dan keterampilan orangtua miskin di
Analisa Perlindungan Hak atas Kesehatan
Pengakuan hak anak di Indonesia, secara hukum internasional, dimulai sejak diratifikasinya KonvensiHak
Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden nomor 36 tahun 1990. Pasca moment tersebut,pemerintah
telah melakukan berbagai upaya guna melindungi hak anak. Sesi ini akan membahasterkait upaya yang
telah diambil Pemerintah Indonesia dalam melindungi hak atas kesehatan anak.Pemerintah Indonesia
telah melakukan berbagai upaya perlindungan hukum terhadap hak ataskesehatan. Jaminan
perlindungan tersebut dituangkan dalam beberapa perundang-undang berikut;Undang-undang nomor
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan; Undang-undang nomor 39 Tahun 1999tentang Hak Asasi Manusia;
Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;Undang-undang nomor 36 tahun
2009 tentang kesehatan. Sementara jaminan kesehatan diatur

melalui Undang-undang Nomor 6 tahun1974 tentang Kententuan-ketentuan Pokok KesejahteraanSosial


dan Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang Sisitem Jaminan Sosial Nasional.
Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menjamin kesehatan masyarakat
yangdiwujudkan dalam pernyataan pasal 4 dalam undang-undang, kesehatan merupakan hak semua
masyarakat.
Pada giliranya semua masyarakat dijamin mendapat kesempatan yang setara dalammemperoleh derajat
kesehatan yang optimal. Penting juga untuk menjadi catatan, dalam undang-undang ini juga
menyinggung jaminan kesehatan terhadap ibu dan anak. Hal ini ditegaskan dalampernyataan dalam
pasal 14 dan 15, di mana secara jelas memberikan panduan terhadap jaminankesehatan seorang ibu
pada masa prakehamilan, kehamilan, persalinan, pasca persalinan dan masadi luar kehamilan dan
persalinan. Sedangkan pasal 15 terkait dengan aborsi. Pasal lain yangmenyangkut tentang kesehatan
anak diatur dalam pasal 17 dan pasal 45.

Pasal 17 undang-undang kesehatan 1992 mengatur mengenai jaminan kesehatan khusus diarahkanpada
pertumbuhan dan perkembangan anak. Di sini ditekankan bahwa jaminan kesehatan diarahkanpada
peningkatan kesehatan selama masa kandungan, masa bayi, masa balita, usia prasekolah, danusia
sekolah. Sedangkan pada pasal lainya, terkait kesehatan anak, diatur dalam pasal 45 tentangkesehatan
di sekolah. Arah dari jaminan kesehatan anak disekolah ini bertujuan untuk meningkatkankualitas
kesehatan lingkungan sekolah untuk kepentingan tumbuh kembang anak yang optimal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam undang-undang ini memang terkait dengan jaminan
kesehatananak. Namun begitu, memetik pernyataan Koalisis organisasi non-pemerintah pemantau hak
anak,undang-undang ini dinyatakan memiliki kelemahan. Terlabih kelemahan diakibatkan karena
tidakadanya jaminan secara ekplisit yang mengatur tentang hak anak atas (akses) fasilitas
kesehatan,layanan kesehatan, dan obat-obatan.

Selanjutnya, jaminan kesehatan diatur dalam undang-undang 39 tahun 1999 tentang Hak AsasiManusia.
Dalam undang-undang ini mengatur tentang jaminan hak asasi manusia secarakomprehensif. Termasuk
juga, dalam perlindungan ini menjamin hak-hak anak didalamnya. Khususterkait dengan hak anak diatur
dalam bagian ke sepuluh. Ada lima belas pasal yang mengaturtentang hak anak di dalam undang-undang
ini, di mana satu di antaranya menjamin hak anak atas
kesehatan. Pasal 62 menjamin bahwa ‘
setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatandan jaminan sosial secara layak, sesuai
dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya.
Namun,agaknya, undang-undang ini masih terlalu luas cakupanya untuk bisa melindungi hak anak
ataskesehatan.

Sebuah produk hukum yang khusus melindungi anak telah ditetapkan pada tahun
2002,tentangPerlindungan Anak. Undang-undang Perlindungan Anak diklaim Pemerintah Indonesia
sebagaiterjemahan dari KHA yang kemudian digunakan sebagai acuan operasional pelaksanaan KHA.
Sehubungan dengan hak anak atas kesehatan, setidaknya, dalam aturan ini dijelaskan
mengenai jaminan hak anak atas kesehatan. Lebih lanjut, jaminan perlindungan terhadap hak anak atask
esehatan ini diatur dalam beberapa pasal dalam undang-undang ini.
Namun begitu, sayangnya,