Anda di halaman 1dari 7

No. Dokumen No.

Revisi Halaman
............................. ......... 1 dari 5
SPO Ditetapkan Oleh :
Direktur Rumah Sakit Jiwa
(STANDAR Tanggal Terbit
Tampan Provinsi Riau
PROSEDUR …..................
OPERASIONAL) dr. Haznelli Juita.MM
Pembina Utama Muda
NIP. 19650402 199803 2 002
Penempatan pasien adalah penatalaksanaan pasien dan
pengaturan ruangan pasien yang memiliki penyakit
menular atau suspek dengan melakukan pemisahan pasien
PENGERTIAN dalam ruangan yang sesuai dan tersendiri atau khusus
(ruang isolasi) untuk meminimalkan resiko infeksi, mulai
dari pasien terdiagnosa infeksi atau suspek sampai pasien
pulang atau meninggal.
TUJUAN Menghindari penularan penyakit melalui kontak langsung,
droplet, dan airborne.

SK Direktur RSJ Tampan Provinsi Riau Nomor: 121/ RSJT


– SK/ Tentang Kebijakan Pelayanan Pencegahan Dan
KEBIJAKAN
pengendalian Infeksi Rumah Sakit
A.Penanganan Pasien dengan Penyakit Menular atau
Suspek
PROSEDUR
1. Letakkan pasien di dalam ruangan tersendiri. Jika
ruangan tidak tersedia, kelompokkan kasus yang
telah didiagnosis dengan kasus yang belum
didiagnosis (suspek) ke dalam satu ruangan
(cohorting) dengan jarak antara tempat tidur harus
lebih dari 2 meter dan diantara tempat tidur harus
ditempatkan penghalang fisik seperti tirai atau sekat.
2. Jika memungkinkan upayakan ruangan tersebut
dialiri udara bertekanan negatif yang dimonitor,
dengan 6-12 kali pergantian udara per jam dan
sistem pembuangan udara ke luar atau
menggunakan saringan udara partikulasi -

PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT MENULAR


ATAU SUSPEK
No. Dokumen No. Revisi Halaman
.................. ......... 2 dari 5

efisiensi tinggi (filter HEPA) yang termonitor sebelum


masuk ke sistem sirkulasi udara lain di rumah sakit.
3. Jika tidak tersedia ruangan bertekanan negatif
dengan sistem filter HEPA, dapat dipasang pendingin
ruangan atau kipas angin dijendela sedemikian rupa
agar aliran udara keluar gedung melalui jendela.
Jendela harus membuka keluar dan tidak mengarah
ke daerah publik. Uji untuk tekanan negatif dapat
dilakukan dengan menempatkan sedikit bedak tabur
dibawah pintu dan amati apakah terhisap kedalam
ruangan. Jika diperlukan, kipas angin tambahan
didalam ruangan dapat meningkatkan aliran udara.
4. Jaga pintu tertutup setiap saat dan jelaskan pada
PROSEDUR pasien mengenai perlunya tindakan pencegahan ini.
5. Pastikan setiap orang yang memasuki ruangan
memakai APD yang sesuai.
6. Tempatkan pasien di ruangan terpisah bila terdapat
kontaminasi luas terhadap lingkungan (misalnya
luka lebar dengan cairan keluar, diare, perdarahan
masif).
7. Kamar terpisah dengan pintu tertutup, waspadai
transmisi melalui udara ke kontak / sumber luka
(misalnya, luka dengan infeksi kuman gram positif).
8. Kamar terpisah atau cohorting, ventilasi dibuang
keluar dengan exhaust ke area yang tidak dilalui
orang (misalnya, kasus TBC).
9. Kamar terpisah dengan udara terkunci bila
diwaspadai transmisi airborne luas (misalnya, kasus
varicella).
10. Kamar terpisah bila pasien kurang mampu menjaga
kebersihan (misalnya, pasien anak, gangguan mental).
11. Bila kamar terpisah tidak memungkinkan untuk
difasilitasi, gunakan sistem cohorting.
B. Transport Pasien Infeksius :
1. Transportasi dibatasi, bila perlu saja.
2. Berikan APD pada pasien (masker, baju pelindung)
PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT MENULAR
ATAU SUSPEK

No. Dokumen No. Revisi


......... ........... Halaman
3 dari 5
3. Ingatkan petugas di area tujuan akan kedatangan
pasien tersebut untuk melaksanakan
kewaspadaan yang sesuai.
Berikan informasi pada pasien untuk dilibatkan
kewaspadaannya agar tidak terjadi transmisi
kepada orang lain.
4. Bersihkan semua permukaan yang kontak
dengan pasien dengan desinfektan seperti alkohol
70% atau larutan klorin 0,5% termasuk
ambulans jika menggunakannya.
5. Edukasi keluarga pendamping pasien di rumah
sakit tentang kebersihan tangan dan
PROSEDUR menjalankan kewaspadaan isolasi (kecuali
pemakaian sarung tangan).
C. Pemulangan Pasien
1. Lakukan upaya pencegahan infeksi sampai batas
waktu masa penularan.
2. Bila dipulangkan sebelum masa isolasi berakhir,
maka pasien yang masih suspek harus diisolasi di
dalam rumah sampai batas waktu penularan atau
sampai diagnosis alternatif dibuat atau hasil uji
diagnosis menunjukkan pasien tidak terinfeksi
dengan penyakit yang dimaksud.
3. Ajarkan pasien dan keluarga tentang tindakan
pencegahan penularan penyakit yang diderita pasien.
4. Bersihkan dan desinfeksi dengan benar, ruangan
bekas pasien yang sudah pulang.
D. Pemulasaraan Jenazah
1. Petugas kesehatan harus menjalankan Kewaspadaan
Standar ketika menangani pasien yang meninggal
akibat penyakit menular.
2. Gunakan APD lengkap saat menangani jenazah jika
pasien yang meninggal dalam masa penularan.
3. Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam
kantong jenazah yang tidak mudah tembus sebelum
dipindahkan ke kamar jenazah.
4. Jaga jangan ada kebocoran cairan tubuh yang
mencemari bagian luar kantong jenazah.
5. Pindahkan jenazah sesegara mungkin ke Kamar
PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT MENULAR
ATAU SUSPEK
No. Dokumen No. Revisi Halaman
......... ........... 4 dari 5
6. Jenazah setelah meninggal dunia.
7. Izinkan keluarga pasien jika ingin melihat jenazah,
sebelum dimasukkan ke dalam kantong jenazah
dengan menggunakan APD.
8. Jelaskan kepada pihak keluarga tentang
penanganan khusus bagi jenazah yang meninggal
dengan penyakit menular. Perhatikan sensitivitas
agama, adat istiadat dan budaya ketika seorang
pasien dengan penyakit menular meninggal dunia.
9. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik
pengawet.
10. Jika akan diotopsi harus dilakukan oleh petugas
khusus, jika diijinkan keluarga dan Direktur rumah
sakit. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh
dibuka lagi.
11. Jenazah hendaknya diantar oleh mobil jenazah
khusus.
12. Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 jam
disemayamkan di pemulasaraan jenazah.
PROSEDUR E. Pemeriksaan Post Mortem
1. Beritahu petugas kamar jenazah atau tempat
pemakaman bahwa kematian pasien adalah akibat
penyakit menular agar kewaspadaan standar
diterapkan dalam penanganan jenazah.
2. Gunakan APD lengkap, apalagi jika pasien meninggal
dunia masih dalam masa penularan.
3. Hindari penggunaan pisau bedah dan gunting dengan
ujung yang runcing.
4. Jangan memberikan instrument dan peralatan
dengan tangan, selalu gunakan nampan.
5. Jika memungkinkan, gunakan instrument dan
peralatan sekali pakai.
6. Hindari penggunaan semprotan air tekanan tinggi.
7. Upayakan jumlah petugas seminimal mungkin dan
dapat menjaga diri masing-masing.
8. Penyiapan jenazah sebelum dimakamkan seperti
pembersihan, pemandian, perapian rambut,
pemotongan kuku, pencukuran, hanya boleh
dilakukan oleh petugas khusus kamar jenazah
PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT MENULAR
ATAU SUSPEK
No. Dokumen No. Revisi Halaman
......... ........... 5 dari 5

1. Instalasi Rawat Inap


2. Instalasi Rawat Jalan
UNIT TERKAIT
3. Unit Gawat Darurat
4. Kamar Jenazah
5. Ambulans