Anda di halaman 1dari 7

TINDAK TUTUR INTEROGATIF GURU DAN SISWA

PAUD BOUGENVILLE
DALAM INTERAKSI DI LINGKUNGAN SEKOLAH
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Bahasa sebagai alat untuk komunikasi dan sangat penting di ajarkan


sejak dini. Dan penggunaan bahasa dalam komunikasi pada anak merupakan
salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput
dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orangtua pada khususnya,
pemerolehan bahasa oleh anak merupakan prestasi yang menakjubkan,
pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Kita telah
mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak berbicara, mengerti, dan
menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit yang kita tahu mengenai proses
aktual perkembangan bahasa Dan terjalinnya komunikasi sebagai salah satu
proses di mana dua orang atau lebih dalam melakukan informasi.
Bahasa sebagai alat komunikasi inipun digunakan oleh guru dan siswa di
lingkungan sekolah untuk saling berbagi informasi dan berinteraksi yang akan
menciptakan interaksi selama proses belajar mengajar berlangsung dan yang
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses komunikasi.
Dalam proses komunikasi dengan suatu tuturan pada waktu, tempat, dan
situasi tertentu tindak tutur merupakan gejala individu dan bersifat psikologis
dan ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam situasi tertentu
(Chart dan Agustina, 2004:50) Untuk
menyampaikan suatu maksud penutur melakukan suatu tindak tutur. Tindak
tutur
itu tidak hanya ditemukan secara langsung dalam percakapan sehari-hari
maupun yang terdapat pada tindak tutur interogatif guru dan siswa Paud
Bougenville dalam interaksi di lingkungan sekolah. Dalam interaksi belajar
mengajar, bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam karena bahasa
suatu alat dalam berinteraksi belajar mengajar dan digunakan oleh guru dalam
penyampaian materi pelajaran. Melalui bahasa siswa Paud Bougenville dapat
memahami penjelasan guru di sekolah. Adapun tindak tutur yang dijelaskan
oleh Wijana dan Rohmadi (2009:28)”Yaitu tindak tutur langsung dan tidak
langsung, Dan kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat deklaratif, interogatif,
dan imperatif. Yang mana kalimat deklaratif berfungsi sebagai pemberi
informasi, dan kalimat interogatif untuk menanyakan sesuatu, sedangkan
untuk kalimat imperatif digunakan untuk pernyataan suatu perintah, ajakan,
permintaan, atau permohonan.
Kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya berwujud pertanyaan dan
biasanya menggunakan kata tanya seperti apa, Siapa, bagaimana, berapa, dari
mana, dan lain-lain. Dan tindak tutur adalah tuturan dari seorang penutur
kepada lawan tutur yang
memiliki maksud tuturan tertentu bergantung pada konteksnya. pengertian
kalimat interogatif dan tipe-tipe kalimat interogatif
1. Pengertian Kalimat Interogatif
Sasangka (1989: 127) mengemukakan bahwa kalimat interogatif adalah
kalimat yang isinya berwujud pertanyaan, supaya yang bertanya diberi tahu
mengenai apa yang ditanyakan. Kalimat ini biasanya menggunakan kata-kata
tanya seperti apa, siapa, ke mana, dari mana, berapa, bagaimana, dan masih
banyak lagi Macam-macam Kalimat Interogatif
Secara garis besar A.A. Fokker (1978: 77) membedakan kalimat
interogatif menjadi dua macam, yaitu:
1) Pertanyaan untuk diakui atau untuk diingkari
Pertanyaan-pertanyaan yang semacam ini hanya dapat dikenal pada
intonasinya.
2) Pertanyaan untuk meminta keterangan
Kalimat interogatif pada jenis ini selain diakhiri dengan tanda tanya juga
selalu berisi sebuah kata tanya, seperti: apa, siapa, di mana, bagaimana,
mengapa, kapan dan
sebagainya. Jawaban atas pertanyaan ini dapat berupa keterangan atas
pertanyaan
yang diajukan.
1.2 Pembatasan Masalah

Penelitian ini dilakukan di sekolah Paud Bougenville dengan objek


sasaran siswa Paud Bougenville. Di pilihnya kelas Paud karena anak-anak
usia 4-5tahun tersebut sudah mampu memahami percakapan sederhana
sehari-hari dengan versi masing-masing anak Paud dalam interaksi sosial
di lingkungan sekolah. Lokasi Paud Bougenville berada di Barat kota
Jakarta dengan latar belakang siswa yang heterogen, merupakan sasaran
yang baik dalam upaya mendapatkan hasil penelitian yang beragam.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan adanya pembatasan masalah dari latar belakang, maka


fokus rumusan masalah penelitian ini dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Apasaja tindak tutur interogatif guru pada siswa Paud Bougenville dengan
guru dalam interaksi di kelas ataupun lingkungan sekolah?
2. Apasaja makna Pragmatik tindak tutur interogatif guru dan siswa Paud
selama berinteraksi di lingkungan sekolah Paud?

1.4 Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dapat


dikemukakan sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan jenis tindak tutur
interogatif guru dalam berinteraksi di lingkungan sekolah. 2.
Mendeskripsikan makna Pragmatik tindak tutur interogatif guru dan siswa
Paud dalam berinteraksi di lingkungan sekolah.
1.5 Manfaat penelitian

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka manfaat penelitian


ini dapat memberikan manfaat secara teori dan praktik. Secara teori dan
praktiknya penelitian ini bertujuan menambah wawasan penelitian terhadap
tindak tutur interogatif guru dan siswa Paud Bougenville dalam berinteraksi
di lingkungan sekolah. Dan praktiknya menggunakan metode langsung.

1.6 Sistematika penulisan

Sistematika penulisan proposal skripsi ini disusun oleh tiga bab


dengan masing-masing sub-bab. Bab 1 merupakan pendahuluan yang berisi
latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Kemudian pada bab ll merupakan tinjauan pustaka yang meliputi: Penelitian
terdahulu yang di jadikan sebagai referensi. Selain itu juga di paparkan
mengenai persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu.
Landasan teori berisi tentang beberapa teori yang berhubungan dengan
masalah yang akan di kaji
Selanjutnya, Bab lll merupakan metodelogi penelitian. Pada bab ini di
paparkan metodelogi penelitian terkait. Diikuti oleh penjabaran mengenai data
dan sumber data penelitian. Serta berisi tentang metode pengumpulan data dan
teknik analisis data. Dan terakhir daftar pustaka.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Metode penelitian

Ada tiga tahapan strategis dalam penelitian ini yaitu tahapan


pengumpulan data, analisis data dan penyajian hasil analisis data
(Sudaryanto, 1982). Tahapan pengumpulan data dilakukan dengan metode
simak dengan teknik libatkan dan cakap digunakan untuk mendapatkan data
dari melakukan wawancara sambil menyimak dan mencatatnya setiap tindak
tutur interogatif dalam interaksi di kelas maupun lingkungan sekolah.

3.2 Data dan sumber data

Data yang diperoleh diambil dari data seluruh siswa Paud Bougenville
di sekolah Paud Bougenville, Sekolah yang berada di Palmerah kota Jakarta-
barat, total siswa sejumlah 20 siswa.

3.3 Teknik pengumpulan data

Pembuktian ini di lakukan dengan teknik catat untuk memperkuat bukti


secara maksimal.
Pada observasi di Paud Bougenville.

3.4 Teknik Analisis

Metode yang dipakai dalam menganalisis data adalah metode observasi


serta metode simak dan cakap dengan cara melihat langsung tuturan yang
diungkapkan oleh guru kepada siswa dan mengamatinya secara langsung.
Melalui metode observasi ini dilakukan untuk melihat dan mengetahui situasi
percakapan pada saat proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas.
Dan juga melalui metode simak dan cakap dengan cara melakukan
percakapan dan adanya kontak langsung antara peneliti dengan sumber data
atau sumber informasi langkah ini dapat pula di sejajarkan dengan metode
wawancara. Menurut Sudaryanto (1993:137). “Adapun metode cakap
meliputi teknik pancing yang secara praktis metode cakap di wujudkan
dengan cara pemancingan dari peneliti untuk mendapatkan data harus pandai
dalam memancing seseorang agar mau berbicara.
Seperti tindak tutur interogatif guru dan siswa Paud Bougenville dalam
interaksi di lingkungan sekolah pada saat mengawali kegiatan belajar
mengajar yang berlangsung di kelas,
Seperti pada data 001 berikut ini:
Guru: “Selamat pagi anak-anak semuanya?”
Siswa: “Selamat pagi ibu guru”
Guru: “Apa kabar hari ini?”
Siswa: “Alhamdulillah luar biasa Allahu Akbar”
Guru: “Siapa yang sudah sarapan pagi ini?”
Siswa: “ Saya-saya bu guru”(semua menjawab)
Guru: “ Siapa yang bangun tidurnya tidak menangis hari ini?”
Siswa: “ Saya-saya bu guru”
Konteks tuturan: Guru baru saja memasuki kelas dan hendak memulai
kegiatan belajar mengajar yang di awali dengan menyapa dan memberikan
salam pada siswa kelas di Paud Bougenville. Dan berdasarkan percakapan di
atas dapat dilihat bahwa guru telah melakukan tuturan yang berfungsi
interogatif yaitu menanyakan siswa tentang bagaimana kabarnya hari ini, dan
menanyakan siapa yang sudah sarapan pagi ini, dan siapa yang tidak
menangis saat bangun tidur di pagi hari.