Anda di halaman 1dari 3

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker

Dinas Kesehatan Prrovinsi Jawa Timur


Program Studi Profesi Apoteker LVII
Fakultas Farmasi Universitas Surabaya

A. Produksi dan Distribusi Pangan


Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
Nomor HK. 03.1.23.04.12.2206 tahun 2012 tentang Cara Produksi Pangan yang Baik untuk
Industri Rumah Tangga memuat ruang lingkup yang menjelaskan persyaratan-persyaratan
yang harus dipenuhi tentang penanganan bahan pangan dalam rantai produksi pangan mulai
dari penerimaan bahan baku, sampling, proses produksi dilakukan sampai produk akhir/jadi
selesai diproduksi dan dilakukan serangkaian pengujian mutu produk pangan hingga nantinya
akan didistribusikan ke ritel-ritel yang membutuhkan.
Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) merupakan salah satu faktor yang penting
untuk memenuhi standar mutu atau persyaratan yang ditetapkan untuk pangan CPPB sangat
berguna bagi kelangsungan hidup industri pangan baik yang berskala kecil, sedang, maupun
yang bersakla besar. Melalui CPPB ini, industri pangan dapat menghasilkan pangan yang
bermutu, layak dkonsumsi dan aman bagi kesehatan. Dengan menghasilkan pangan yang
bermutu dan aman untuk dikonsumsi, kepercayaan masyarakat niscaya akan meningkat, dan
industri pangan yang bersangkutan akan berkembang pesat. Dengan berkembangnya industri
pangan yang menghasilkan pangan yang bermutu dan aman untuk dkonsumsi, maka
masyarakat pada umumnya akan terlindung dari penyimpangan mutu pangan dan bahaya yang
mengancam kesehatan.
Berdasarkan ketentuan dari CPPB-IRT, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan di
dalam proses produksi pangan khususnya dalam pengolahan makanan dan minuman dalam
kemasan diantaranya yaitu: lingkungan produksi (bebas dari sumber pencemaran tinggi, seperti
bebas dari genangan air, bebas dari sarang hama dan binatang pengerat, jauh dari pemukiman
penduduk yang kumuh), bangunan dan Fasilitas IRT yang memadai, Peralatan Produksi yang
memadai, Suplai Air bersih yang cukup, Sanitasi dan Higiene baik dari kebersihan personel
maupun ruang dan perlatan produksi yang digunakan, Pengendalian Hama, Pengendalian mutu
selama Proses produksi, serta mengatur proses penyimpanan dan pelabelan produk pangan
(makanan & minuman) pada kemasan.
Pedoman Umum Cara Ritel Pangan Yang Baik yang merupakan rantai distribusi dan
peredaran pangan disusun sebagai acuan bagi pemilik/penanggung jawab sarana ritel pangan
seperti minimarket, supermarket dan hypermarket serta perusahan ritel pangan sejenis untuk
melaksanakan cara ritel pangan yang baik. Dalam pedoman ini, dibahas berbagai macam
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Dinas Kesehatan Prrovinsi Jawa Timur
Program Studi Profesi Apoteker LVII
Fakultas Farmasi Universitas Surabaya

tindakan pencegahan untuk memperkecil risiko kerusakan pangan karena kesalahan dalam
penanganan, pemajangan dan penyimpanannya. Agar pelaksanaan prosedur penanganan
pangan dalam pedoman ini berhasil diperlukan komitmen manajemen sarana ritel pangan dan
karyawan dalam menerapkan semua ketentuan yang terdapat dalam pedoman ini dan
melakukan tinjauan ulang apabila dalam pelaksanaanya tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Hal ini dilakukan dengan maksud dan tujuan memberikan prinsip-prinsip dasar
yang penting dalam proses distribusi pangan yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha ritel
pangan, mulai dari penerimaan pangan, penataan pangan, penyimpanan pangan di sarana ritel
pangan hingga akhirnya produk pangan diterima konsumen untuk dikonsumsi.
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
Nomor HK.03.1.23.04.12.2206 tahun 2012 tentang Cara Produksi Pangan yang Baik untuk
Industri Rumah Tangga yang didefinisikan dari aman untuk dikonsumsi adalah pangan tersebut
tidak mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan
manusia misalnya bahan yang dapat menimbulkan penyakit atau keracunan. Layak untuk
dikonsumsi berarti makanan tersebut keadaannya normal tidak menyimpang seperti busuk,
kotor, menjijikan dan penyimpangan lain.
Setiap tahapan dalam produksi dan distribusi harus selalu memperhatikan sanitasi
pangan yang baik. Sanitasi pangan menurut Undang-Undang RI No. 18 tahun 2012 adalah
upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi pangan yang sehat dan higienis yang
bebas dari bahaya cemaran biologis, kimia, dan benda lain sehingga pangan tersebut aman
untuk dikonsumsi. Pangan yang tercemar dilarang untuk diedarkan menurut Undang-Undang
No.18 tahun 2012 tentang Pangan, seperti:
a. Mengandung bahan beracun, berbahaya atau yang dapat membahayakan kesehatan atau
jiwa manusia.
b. Mengandung cemaran yang melebihi ambang batas maksimal yang ditetapkan.
c. Mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam produksi pangan.
d. Mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai, atau mengandung bahan nabati atau
hewani yang memiliki penyakit atau berasal dari bangkai.
e. Diproduksi dengan cara yang dilarang.
f. Sudah kadaluwarsa
Selain itu, keamanan produk pangan dalam proses distribusi hingga akhirnya
dikonsumsi oleh konsumen harus selalu diperhatikan baik-baik. Hal ini untuk menanggulangi
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Dinas Kesehatan Prrovinsi Jawa Timur
Program Studi Profesi Apoteker LVII
Fakultas Farmasi Universitas Surabaya

kejadian produk pangan rusak sebelum masa kadaluarsa habis, produk mengalami perubahan
bentuk, rasa, bau, tekstur, bahkan hingga kandungan yang apabila tidak diketahui dan ditangani
dengan baik akan terjadi keracunan makanan yang dikonsumsi, terutama untuk produk olahan
dalam kaleng dan fermentasi yang harus diolah dengan sistem yang sangat ketat agar tidak
mudah rusak. Hal ini dilakukan dengan membuat suatu sistem HACCP yang merupakan suatu
sistem jaminan mutu yang mendasarkan kepada kesadaran bahwa hazard (bahaya) dapat timbul
pada berbagai titik kritis tahap produksi tertentu tetapi dapat dilakukan antisipasi pengendalian
mutu untuk mengontrol bahaya-bahaya tersebut.