Anda di halaman 1dari 7

Inflasi dan perekonomian Indonesia

Inflasi dan perekonomian Indonesia sangat saling berkaitan. Apabila


tingkat inflasi tinggi, sudah dipastikan akan memengaruhi pertumbuhan
ekonomi, dimana akan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi.

Data Tabel Inflasi Indonesia 2007 - 2012

TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012
BULAN
IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI
Jan 147.41 1.04 158.26 1.77 113.78 -0.07 118.01 0.84 126.29 0.89 N.A N.A

Feb 148.32 0.62 159.29 0.65 114.02 0.21 118.36 0.30 126.46 0.13 N.A N.A

Mar 148.67 0.24 160.81 0.95 114.27 0.22 118.19 -0.14 126.05 -0.32 N.A N.A

Apr 148.43 -0.16 161.73 0.57 113.92 -0.31 118.37 0.15 125.66 -0.31 N.A N.A

Mei 148.58 0.10 164.01 1.41 113.97 0.04 118.71 0.29 125.81 0.12 N.A N.A

Jun 148.92 0.23 110.08 2.46 114.10 0.11 119.86 0.97 126.50 0.55 N.A N.A

Jul 149.99 0.72 111.59 1.37 114.61 0.45 121.74 1.57 127.35 0.67 N.A N.A

Agt 151.11 0.75 112.16 0.51 115.25 0.56 122.67 0.76 128.54 0.93 N.A N.A

Sep 152.32 0.80 113.25 0.97 116.46 1.05 123.21 0.44 128.89 0.27 N.A N.A

Okt 153.53 0.79 113.76 0.45 116.68 0.19 123.29 0.06 128.74 -0.12 N.A N.A

Nov 153.81 0.18 113.90 0.12 116.65 -0.03 124.03 0.60 129.18 0.34 N.A N.A

Des 155.50 1.10 113.86 -0.04 117.03 0.33 125.17 0.92 129.91 0.57 N.A N.A

Tahunan 6.59 11.06 2.78 6.96

Grafik IHK dan Inflasi Bulanan 2007 - 2012

Grafik Inflasi Tahunan 2007 - 2012


Keterangan (Notes) :
1. Sebelum April 1979, yang digunakan sebagai dasar yaitu September 1966 ( September 1966 = 100 )
(1. Before April 1979, the base year is September 1966 (September 1966 = 100))
2. Mulai April 1979, digunakan istilah Indeks Harga Konsumen (sebelumnya menggunakan istilah Index Biaya
Hidup). Dasarnya April 1977-Maret 1978. Menggunakan pola konsumsi hasil SBH (Survey Biaya Hidup ) tahun
1977/1978 di 17 ibukota propinsi ( April 1977-Maret 1978 = 100 ).
(2.Since April 1979, the Term "Consumer Price Index" has been used ( the term that has been used before is "Cost
Living Index"). The base year is April 1977-Maret 1978. CPI using a consumption pattern obtained from 1977/1978 Cost
Living Survey in 17 Provincial Capital cities.) (April 1977-Maret 1978=100)
3. Mulai April 1990-1997, IHK menggunakan tahun dasar 1988/1989. Menggunakan pola konsumsi biaya hidup
hasil SBH di 27 ibukota propinsi. (1988/1989 = 100 )
(3. Since April 1990-1997, CPI has been based on a consumption pattern obtained from Cost Living Survey in 27
Provincial Capital cities and using 1988/1989 base year) (1988/1989=100)
4. Mulai Desember 1997, IHK menggunakan pola konsumsi hasil SBH di 44 Kota tahun 1996. ( 1996 = 100)
(4 . Since December 1997, CPI has been based on a consumption pattern obtained from 1996 Cost of Living Survey in
44 cities(1996=100))
5. Mulai Januari 2004, digunakan tahun dasar 2002. IHK dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil SBH di 45
kota tahun 2002 ( 2002 = 100 )
(5. Since January 2004, CPI has been based on a consumption pattern obtained from 2002 Cost of Living Survey in 45
cities(2002=100))
6. Mulai Juni 2008, digunakan tahun dasar 2007, IHK dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil SBH di 66 kota
tahun 2007 (2007 = 100)
(6. Since June 2008, CPI has been based on a consumption pattern obtained from 2007 Cost of Living Survey in 66
cities(2007=100))

Inflasi di Indonesia diumpamakan seperti penyakit endemis dan berakar


di sejarah. Tingkat inflasi di Malaysia dan Thailand senantiasa lebih
rendah. Inflasi di Indonesia tinggi sekali di zaman Presiden Soekarno,
karena kebijakan fiskal dan moneter sama sekali tidak prudent (“kalau
perlu uang, cetak saja”). Di zaman Soeharto, pemerintah berusaha
menekan inflasi - akan tetapi tidak bisa di bawah 10 persen setahun rata-
rata, antara lain oleh karena Bank Indonesia masih punya misi ganda,
antara lain sebagai agent of development, yang bisa mengucurkan kredit
likuiditas tanpa batas. Baru di zaman reformasi, mulai di zaman Presiden
Habibie maka fungsi Bank Indonesia mengutamakan penjagaan nilai
rupiah. Tetapi karena sejarah dan karena inflationary expectations
masyarakat (yang bertolak ke belakang, artinya bercermin kepada
sejarah) maka “inflasi inti” masih lebih besar daripada 5 persen setahun.
Tabel Laju dan Sumber Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2007 - 2020 ( Persen )

Laju Pertumbuhan Sumber Pertumbuhan


Lapangan Usaha
2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan
1. 3,5 4,8 4,1 2,9 0,5 0,6 0,5 0,4
Perikanan
2. Pertambangan dan Pengalian 1,9 0,7 4,4 3,5 0,2 0,1 0,4 0,3
3. Industri Pengolahan 4,7 3,7 2,2 4,5 1,2 0,9 0,6 1,1
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 10,3 10,9 14,3 5,3 0,1 0,1 0,1 0
5. Konstruksi 8,5 7,5 7,1 7 0,5 0,4 0,4 0,4
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,9 6,9 1,3 8,7 1,4 1,1 0,2 1,4
7. Pengangkutan dan Komunikasi 14 16,6 15,5 13,5 0,9 1,1 1,2 1,1

8. Keuangan, Real Estat, dan Jasa 8 8,2 5,1 5,7 0,7 0,7 0,5 0,5
Perusahaan
9. Jasa-jasa 6,4 6,2 6,4 6 0,6 0,5 0,6 0,5
PDB 6,3 6 4,6 6,1 6,3 6 4,6 6,1
PDB Tanpa Migas 6,9 6,5 5 6,6 - - - -
Sumber Data BPS

Grafik Laju dan Sumber Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan


Usaha 2007 - 2012

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan III-2009


meningkat sebesar 3,9 persen terhadap Triwulan II-2009 (q-to-q).
Peningkatan terjadi hampir pada semua sektor ekonomi dengan
pertumbuhan tertinggi di Sektor Pertanian 7,3 persen dan terendah di
Sektor Jasa-jasa yaitu minus 0,3 persen.
Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 (y-on-y), PDB
Indonesia Triwulan III-2009 ini tumbuh sebesar 4,2 persen, dimana
hampir semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi di Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi 18,2 persen, sedangkan Sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh minus 0,6 persen.
Secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga Triwulan III-2009
dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 (c-to-c) tumbuh
sebesar 4,2 persen.
Besaran PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada Triwulan III-2009
Rp1.452,5 triliun sehingga kumulatif Triwulan ke III-2009 mencapai
Rp4.131,1 triliun.

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan PDB Triwulan III-2009 terhadap


triwulan sebelumnya didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga
sebesar 1,8 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 6,6
persen, ekspor sebesar 8,5 persen, dan impor 8,3 persen. Sementara
konsumsi pemerintah pada Triwulan III-2009 tumbuh minus 0,5 persen
dibanding triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan PDB penggunaan Triwulan III-2009 bila dibandingkan


dengan triwulan yang sama tahun 2008 (4,2 persen) ditopang oleh
pertumbuhan konsumsi pemerintah 10,2 persen, konsumsi rumah tangga
4,7 persen, dan PMTB sebesar 4,0 persen. Sedangkan ekspor tumbuh
minus 8,2 persen dan impor juga tumbuh minus 18,3 persen.

Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada Triwulan III 2009


masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan
kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,8 persen,
kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,3 persen, Pulau
Kalimantan 9,5 persen, dan Pulau Sulawesi 4,5 persen dan sisanya 4,9
persen di pulau-pulau lainnya.

Perekonomian
Tanda-tanda perekonomian mulai mengalami penurunan adalah ditahun
1997 dimana pada masa itulah awal terjadinya krisis. Saat itu
pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 persen,
sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang 7,8 persen. Kondisi
keamanan yang belum kondusif akan sangat memengaruhi iklim investasi
di Indonesia. Mungkin hal itulah yang terus diperhatikan oleh pemerintah.
Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas kegiatan ekonomi yang
berdampak pada penerimaan negara serta pertumbuhan ekonominya.
Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan
menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi dimasa mendatang.
Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka
harapan meningkatnya pendapatan nasional (GNP), pendapatan
persaingan kapita akan semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan,
suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan semakin bergairahnya
modal bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Namun semua itu bisa terwujud apabila kondisi keamanan dalam negeri
benar-benar telah kondusif. Kebijakan pemerintah saat ini di dalam
pemberantasan terorisme, serta pemberantasan korupsi sangat turut
membantu bagi pemulihan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang
merupakan salah satu indikator makro ekonomi menggambarkan kinerja
perekonomian suatu negara akan menjadi prioritas utama bila ingin
menunjukkan kepada pihak lain bahwa aktivitas ekonomi sedang
berlangsung dengan baik pada negaranya.

Penetapan Target Inflasi


Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai
oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan
sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh
Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank
Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui
Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK
No.143/PMK.011/2010 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah
untuk periode 2010 – 2012, masing-masing sebesar 5,0%, 5,0%, dan
4,5% dengan deviasi ±1%.

Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku


usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan
sehingga tingkat inflasi dapat diturunkan pada tingkat yang rendah dan
stabil. Pemerintah dan Bank Indonesia akan senantiasa berkomitmen
untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan tersebut melalui
koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut.
Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan
stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi
masyarakat agar mengacu (anchor) pada sasaran inflasi yang telah
ditetapkan (Lihat Peraturan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi
2010-2012)

Angka target atau sasaran inflasi dapat dilihat pada web site Bank
Indonesia atau web site instansi Pemerintah lainnya seperti Departemen
Keuangan, Kantor Menko Perekonomian, atau Bappenas. Sebelum UU No.
23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan oleh
Bank Indonesia. Sementara setelah UU tersebut, dalam rangka
meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia maka sasaran inflasi ditetapkan
oleh Pemerintah.
Tabel perbandingan Target Inflasi dan Aktual Inflasi

Inflasi Aktual
Tahun Target Inflasi
(%, yoy)
2001 4% - 6% 12,55
2002 9% - 10% 10,03
2003 9 +1% 5,06
2004 5,5 +1% 6,40
2005 6 +1% 17,11
2006 8 +1% 6,60
2007 6 +1% 6,59
2008 5 +1% 11,06
2009 4,5 +1% 2,78
2010* 5+1% 6,96
2011* 5+1% 3,79
2012* 4.5+1% -

*) berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 tanggal 24 Agustus 2010

Kerangka Kebijakan Moneter di Indonesia


Dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut
sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework
(ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah
sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang
primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter.

Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan


sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk
mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut.
Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara
forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan
melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai
dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja
ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas
kebijakan kepada publik. Secara operasional, stance kebijakan moneter
dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang
diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga
deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini
pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi.

Mengapa ITF ?
Dengan telah dilepaskannya sistem nilai tukar dengan band intervensi
nilai tukar (crawling band) di tahun 1997, Bank Indonesia memerlukan
jangkar nominal (nominal anchor) baru dalam rangka menjalankan
kebijakan moneter. Jangkar nominal adalah variabel nominal (seperti
indeks harga, nilai tukar, atau uang beredar) yang ditargetkan secara
eksplisit oleh bank sentral sebagai dasar/patokan bagi pembentukan
harga lainnya. Misalnya kalau nilai tukar dijadikan target, maka inflasi
luar negeri akan menjadi inflasi domestik.

Mengapa kebijakan moneter memerlukan jangkar nominal? Karena tanpa


adanya jangkar nominal, tidak ada kejelasan kemana kebijakan moneter
akan diarahkan sehingga masyarakat tidak memiliki pedoman dalam
membuat ekspektasi inflasi. Ibarat kapal yang mengapung di lautan
tanpa kejelasan kearah mana kapal dilabuhkan. Sebaliknya, dengan
adanya jangkar nominal masyarakat akan membuat ekspektasi inflasi
yang diperlukan dalam kalkulasi usahanya sesuai dengan jangkar nominal
tersebut. Dengan mengumumkan sasaran inflasi dan Bank Indonesia
secara konsisten dapat mencapainya akan meningkatkan kredibilitas
kebijaan moneter yang pada gilirannya ekspektasi inflasi masyarakat
sesuai dengan sasaran yang ditetapkan BI.

Ada sejumlah alasan mengapa menggunakan jangkar nominal dengan


ITF.
ITF lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Dengan sasaran inflasi
secara eksplisit masyarakat akan memahami arah inflasi. Sebaliknya
dengan sasaran base money, apalagi jika hubungannya dengan inflasi
tidak jelas, masyarakat lebih sulit mengetahui arah inflasi kedepan.

ITF yang memfokuskan pada inflasi sebagai prioritas kebijakan moneter


sesuai dengan mandat yang diberikan kepada Bank Indonesia.
ITF bersifat forward looking sesuai dengan dampak kebijakan pada inflasi
yang memerlukan time lag.

ITF meningkatkan trasparansi dan akuntabilitas kebijakan moneter


mendorong kredibilitas kebijakan moneter. Aspek transparansi dan
akuntabilitas serta kejelasan akan tujuan ini merupakan aspek-aspek
good governance dari sebuah bank yang telah diberikan independensi.

ITF tidak memerlukan asumsi kestabilan hubungan antara uang beredar,


output dan inflasi. Sebaliknya, ITF merupakan pendekatan yang lebih
komprehensif dengan mempertimbangkan sejumlah variabel informasi
tentang kondisi perekonomian.