Anda di halaman 1dari 8

Berikut 3 bentuk klinis kusta :

 Lepra tuberkuloid (LT) juga disebur lepra paucibacillair adalah bentuk


terlokalisasi dengan 1-5 luka (laesio) bentuk ini paling sering terjadi, kerang
lebih 75% dari semua penderita, tidak bersifat menular dan agak mudah
disembuhkan. Pasien LT ternyta masih memiliki tangkis imunologi yang agak
baik.Gejala pertama berupa noda-noda pucat dikulit yang hilang rasa dan
penebalan saraf-saraf yang nyeri di berbagai tempat ditubuh, biasanya sangat
nyata di cuping telinga, muka, tangan dan kaki.

Bila tidak diobati saraf-saraf tersebut akan dirusak, menjadi hilang rasa dan
mudah terluka. Karena luka-luka ini tidak dirasakan oleh penderita, biasanya
luka menjadi borok serius dengan merusak jaringan.

Akibatnya adalah cacat heat sekunder, terutama ditelapak kaki dan jari tangan
yang akhirnya menjadi bunting, basil lepra hanya dapat dideteksi dalam
jumlah kecil (lat.pauci = sedikit, pelafalan pauki) pada luka-luka LT.

 Lepra lepromateus (LL), juga disebut lepra multibacillair, adalah bentuk


terbesar yang bersifat sangat menular, lebih sukar dan lebih lama
disembuhkan.Bentuk ini bercirikan benjol kemerah-merahan kecil (nodule)
yang penuh dengan basil (lat.multi = banyak), dengan hampir semua saraf
perifer terkena infeksi.

Lebih sering timbul gejala berupa demam, anemia dan turunnya berat badan.
Lagi pula dapat timbul defrmasi akibat infiltrate dimuka, kelumpuhan urat saraf
muka (paresis facialis) dan mutilasi hidung karena keruntuhan tulang rawan,
yang menyebabkan pasien berparas singa.

Kelumpuhan dan kebutaan sering kali terjadi pada kasus ini, kerusakan saraf
terjadi lebih lambat di bandingkan pada LT. Bila tidak diobati, selain saraf juga
organ dalam akan rusak.

 Lepra borderline (LB) adalah kombinasi dari LT dan LL, yang dapat dibagi lagi
dalam 3 bentuk peralihan. Tergantung dari cirinya masing-masing bentuk
disebut tuberculoia borderline (LTB), lepromateus borderline (LLB), dan lepra
tidak tertentu.

Diagnosa

Perkiraan terjangkitnya penyakir lepra harus diwaspadai bila :

 Timbul bercak-bercak pada kulit yang hilang warna pigmennya dan hilang
perasaan terhadap, misalnya, tekanan dan suhu.

 Penebalan atau pekanya urat saraf dan

 Terdapatnya basil tahan asam dari apus kulit dari selaput lendir hidung yang
tidak dapat dibiakkan secara biasa.

Diagnosa definitive tercapaii dengan membiakkan secara khas basil-basil ini pada
telapak kaki tikus dengan hasil positif. Pada semua bentuk lepra DNA kuman di deteksi
melalui reaksi polymerase berantai. Prosedur ini adalah untuk menentukan efektifitas
pengobatan https://doktersehat.com/3-bentuk-klinis-kusta/

pa penyebab penyakit kusta?

Penyebab penyakit kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri tersebut ditularkan
melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan penderita. Anggapan lain menyebutkan
bahwa penyakit ini juga bisa ditularkan melalui inhalasi alias menghirup udara, karena
bakteri penyebab penyakit kusta dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet (butiran
air) di udara.

Bakteri penyebab penyakit kusta juga bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan
binatang tertentu seperti armadilo. Penyakit ini memerlukan waktu inkubasi yang cukup
lama, antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata membutuhkan 3-5 tahun setelah tertular
sampai timbulnya gejala.

Sekitar 95 persen orang kebal terhadap bakteri penyebab penyakit kusta, dan hanya sekitar
5 persen yang dapat tertular bakteri tersebut. Dari 5 persen orang yang tertular bakteri
penyebab penyakit kusta, sekitar 70 persennya sembuh sendiri, dan hanya 30 persen yang
sakit kusta. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi bakteri ini, hanya 2 orang yang akan jatuh
sakit.
Bagaimana penyakit kusta dapat terjadi?

Berikut beberapa tahapan perkembangan penyakit lepra yang perlu Anda simak dan
ketahui:

1. Bakteri masuk ke dalam tubuh

Mula-mula bakteri penyebab kusta akan masuk ke dalam hidung dan kemudian organ
pernapasan manusia. Setelah itu, bakteri akan berpindah ke jaringan saraf dan masuk ke
dalam sel-sel saraf. Karena bakteri penyebab penyakit kusta suka dengan tempat yang
bersuhu dingin, maka bakteri akan masuk ke sel saraf tepi dan sel saraf kulit yang memiliki
suhu yang lebih dingin, misalnya saja di sekitar selangkangan atau kulit kepala.

Kemudian bakteri penyebab kusta akan menjadikan sel saraf sebagai ‘rumah’ dan mulai
berkembang biak di dalamnya. Bakteri ini memerlukan waktu 12-14 hari untuk membelah diri
menjadi dua. Biasanya sampai di tahap ini, seseorang yang terinfeksi belum memunculkan
gejala kusta secara kasat mata.

2. Sistem kekebalan tubuh pun bereaksi

Seiring berjalannya waktu, bakteri penyebab penyakit kusta akan berkembang semakin
banyak. Secara otomatis, sistem imun secara alami memperkuat pertahannya. Sel-sel darah
putih yang menjadi pasukan pelindung utama tubuh pun diproduksi semakin banyak untuk
menyerang bakteri penyebab penyakit kusta.

Saat sistem kekebalan tubuh sudah menyerang bakteri, barulah timbul gejala kusta yang
dapat dilihat pada tubuh, seperti munculnya bercak-bercak putih pada kulit. Pada tahap ini,
gejala kusta seperti mati rasa sudah mulai muncul. Jika gejala kusta yang satu ini tidak
segera ditangani, maka bakteri dengan cepat akan menimbulkan berbagai gangguan lain di
tubuh.

Perkembangan penyakit ini tergantung seberapa kuat sistem kekebalan


tubuh Anda

Bakteri penyebab penyakit lepra memang secara otomatis diserang oleh sistem kekebalan
tubuh manusia. Namun, sistem kekebalan tubuh tiap orang berbeda-beda. Ketika seseorang
memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, maka bakteri mungkin tidak akan menyebabkan
gejala yang terlalu parah.

Meski begitu, bakteri penyebab penyakit lepra tetap menimbulkan kerusakan di jaringan kulit
dan menyebabkan mati rasa.
Sementara, pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, mungkin akan lebih
rentan untuk mengalami infeksi kulit. Biasanya, kondisi ini akan menyebabkan infeksi kulit
bagian saraf, mata, ginjal, otot, hingga pembuluh darah.

Apa saja tanda dan gejala kusta?

Penyakit ini terdiri dari dua jenis, yaitu kusta kering atau pausi basiler (PB) dan kusta basah
atau multi basiler (MB). Munculnya bercak putih seperti panu biasanya merupakan gejala
kusta kering. Sedangkan gejala kusta basah lebih mirip kadas, yaitu bercak kemerahan dan
disertai penebalan pada kulit.

Gejala kusta yang paling mendasar lainnya adalah mati rasa atau baal. Kondisi ini
menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan perubahan suhu sehingga kehilangan
sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulit. Nah, hal tersebutlah yang menyebabkan
penderita rentan mengalami kecacatan karena saraf mereka rusak, sehingga mereka tidak
merasakan sakit meskipun jari mereka putus.

Selain yang sudah disebutkan tadi, beberapa tanda dan gejala kusta yang harus diwaspadai
adalah:

 Kulit kering, dan pada daerah yang sebelumnya ditumbuhi rambut atau bulu bisa
rontok
 Bulu mata yang rontok
 Kelemahan atau kelumpuhan otot
 Perubahan bentuk wajah
 Mutilasi, rasa baal menyebabkan penderita tidak menyadari adanya luka, sehingga
bisa menimbulkan luka yang tidak diobati, borok
 Ginekomastia (payudara yang tumbuh membesar pada pria), akibat gangguan
keseimbangan hormon
 Penurunan berat badan
 Pembesaran saraf tepi, biasanya di sekitar siku dan lutut
 Lepuh atau ruam
 Muncul bisul tapi tidak sakit
 Hidung tersumbat atau mimisan
 Muncul luka tapi tidak terasa sakit

Tanda dan gejala kusta sering kali menyerupai penyakit lain, dan terkadang menyebabkan
terlambatnya diagnosis, oleh sebab itu penyakit disebut juga sebagai the great immitator.
Beberapa penyakit yang mirip dengan kusta adalah vitiligo, ptiriasis versikolor, ptiriasis
alba, tinea korporis, dan masih banyak lagi.

Apa yang saya harus lakukan jika menemukan tanda dan gejala kusta?
Segera konsultasikan dengan dokter Anda jika menemukan gejala di atas, dokter akan
melakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis. Berikut beberapa pemeriksaan yang
dapat dilakukan:

 Pemeriksaan bakterioskopik dibuat dari kerokan jaringan kulit di beberapa tempat,


diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya bakteri M. Lepra.
 Pemeriksaan histopatologis bertujuan untuk melihat perubahan jaringan
dikarenakan infeksi.
 Pemeriksaan serologis didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh
seseorang akibat infeksi.

Untuk dapat menegakkan diagnosis, dokter biasanya mencari 3 tanda utama (cardinal
signs) dari lepra: kelainan kulit yang mati rasa, penebalan saraf tepi, dan hasil pemeriksaan
bakterioskopik yang hasilnya positif.

Bagaimana cara mengobati infeksi kulit ini?

Lepra sering dianggap penyakit yang menakutkan. Padahal seiring kemajuan dunia medis,
kusta adalah penyakit yang mudah diobati. Ironisnya, hingga saat ini beberapa daerah di
Indonesia masih dianggap sebagai kawasan endemik kusta oleh Organisasi Kesehatan
Dunia atau WHO.

Tujuan utama pengobatan kusta adalah untuk memutuskan mata rantai penularan,
menurunkan angka kejadian penyakit, mengobati dan menyembuhkan pasien, serta
mencegah kecacatan. Untuk mencapai kesembuhan dan mencegah resistensi, obat kusta
akan menggunakan kombinasi beberapa antibiotik yang disebut dengan multi drug
treatment (MDT).

Kombinasi obat kusta yang biasanya digunakan dalam terapi MDT terdiri
dari dapsone, rifampicin, clofazamine, lamprene, ofloxacin, dan/ atau minocycline. Variasi
antibiotik ini bekerja menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri M. Leprae. Selain
itu, kebanyakan obat kusta juga bersifat antiradang. Menggunakan antibiotik secara
bersamaan dalam satu waktu juga ditujukan agar bakteri tidak kebal terhadap obat-obat
yang diberikan sehingga penyakit ini juga akan cepat disembuhkan.

Dokter akan menentukan jumlah, jenis, dan dosis obatnya sesuai dengan jenis lepra yang
Anda miliki. Jenis lepra juga akan memengaruhi lamanya pengobatan. Obat kusta harus
diminum rutin, umumnya dalam waktu 6 bulan sampai 1-2 tahun.

Berkat MDT, total kasus penyakit lepra di dunia dalam 20 tahun terakhir merosot tajam
hingga 90 persen. Hampir 16 juta pasien dengan penyakit ini telah sembuh total setelah
menjalani pengobatan dengan antibiotik yang diresepkan dokter.
Petingnya minum obat kusta secara teratur

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, orang yang telah terdiagnosis dengan penyakit ini
biasanya akan diberikan kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan selama enam
bulan sampai dua tahun.

Tidak disiplin minum obat membuat bakteri penyebab penyakit kusta menjadi lebih kuat dan
kebal terhadap pengobatan yang sekarang dan selanjutnya. Akibatnya, gejala kusta yang
Anda alami bisa semakin parah karena bakteri terus berkembang biak dalam tubuh.

Sering lupa atau justru menghentikan minum obat juga merisikokan penularan kusta ke
orang lain. Tak hanya membuat kondisi semakin buruk, bakteri yang semakin kuat tersebut
dapat dengan mudah berpindah dan menginfeksi tubuh orang lain. Bisa saja, orang-orang
terdekat Anda tertular penyakit ini di kemudian hari bila Anda tidak rutin minum obat kusta.

Selain rutin minum obat kusta sesuai yang diresepkan dokter, pembedahan juga dapat
dilakukan sebagai terapi lanjutan untuk menormalkan fungsi saraf yang rusak. Pembedahan
juga dilakukan untuk memperbaiki bentuk tubuh penderita yang cacat dan mengembalikan
fungsi anggota tubuh.

Apa yang terjadi jika penyakit ini tidak diobati?

Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Dengan catatan pasien melakukan
pengobatan secara rutin dan tuntas. Lepra yang terlambat dideteksi atau terlambat diobati
bisa menyebabkan kecacatan pada penderita, baik yang sementara, maupun yang
selamanya.

Pemerintah Indonesia telah menggratiskan pengobatan untuk penyakit ini. Jadi apa alasan
Anda untuk tidak berobat?

Jenis cacat kusta yang perlu Anda waspadai

Berdasarkan Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta yang


dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Nasional, cacat akibat penyakit ini terbagi menjadi
dua, yaitu:

1. Cacat primer

Cacat primer adalah jenis cacat yang disebabkan langsung oleh infeksi bakteri M.
leprae dalam tubuh. Cacat jenis ini menyebabkan penderitanya mengalami mata rasa, kulit
kering dan bersisik serta claw hand alias tangan dan jari-jari membengkok.

Pada cacat primer, kemunculan bercak kulit yang mirip panu biasanya terjadi secara cepat
dalam waktu yang relatif singkat. Bercak ini lama-lama menjadi meradang, membengkak,
dan disertai dengan gejala demam. Selain itu, bisul yang muncul sebagai salah satu tanda
dari gejala lepra bisa pecah dan berkembang menjadi borok. Kelemahan otot dan sensasi
kulit mati rasa (kebas/ baal) biasanya terjadi dalam kurun waktu enam bulan terakhir
semenjak paparan infeksi awal.

Bila Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan
perawatan terbaik.

2. Cacat sekunder

Cacat sekunder adalah perkembangan dari cacat primer, terutama yang diakibatkan oleh
kerusakan saraf. Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan bisul ulkus (luka terbuka di kulit
alias borok) dan keterbatasan gerak sendi. Hal ini terjadi sebagai akibat kerusakan
fungsional pada persendian dan jaringan lunak di sekitar area yang terinfeksi.

Kecacatan pada tahap ini terjadi melalui dua proses, yaitu:

 Adanya aliran langsung bakteri M.leprae ke susunan saraf tepi dan organ tertentu
 Melalui reaksi lepra

Jika bakteri sudah masuk ke dalam saraf, maka fungsi saraf lambat laun akan berkurang
bahkan hilang. Secara umum, saraf berfungsi sebagai sensorik, motorik, dan otonom.
Kelainan yang terjadi akibat infeksi kulit satu ini bisa menimbulkan gangguan pada masing-
masing saraf atau kombinasi di antara ketiganya. Berikut beberapa gangguan atau kelainan
pada masing-masing saraf akibat penyakit lepra:

 Gangguan saraf motorik. Saraf motorik berfungsi memberikan kekuatan pada otot.
Gangguan atau kelainan pada saraf motorik bisa berupa kelumpuhan pada tangan
dan kaki, jari-jari tangan maupun kaki membengkok, serta mata tidak bisa berkedip.
Jika infeksi terjadi pada bagian mata, maka penderita bisa mengalami kebutaan.
 Gangguan saraf sensorik. Saraf fungsi sensorik bertugas untuk memberi sensasi
dalam meraba, merasakan nyeri, dan merasakan suhu. Gangguan pada saraf
sensorik dapat mengakibatkan tangan dan kaki mati rasa serta refleks kedip
berkurang.
 Gangguan saraf otonom. Saraf otonom bertanggung jawab atas kelenjar keringat
dan minyak di dalam tubuh. Gangguan pada bagian saraf ini mengakibatkan
kekeringan dan keretakan pada kulit akibat adanya kerusakan pada kelenjar minyak
dan aliran darah.

Tingkat keparahan cacat kusta

Selain dibedakan berdasarkan jenisnya, penyakit ini juga bisa dibedakan dari tingkat
keparahan cacat yang terjadi. Tiap organ yang terpengaruh infeksi penyakit ini (umumnya
mata, tangan, dan kaki) ada tingkat cacatnya tersendiri.

Adapun tingkat cacat penyakit lepra menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) yaitu:
 Tingkat 0. Pada tingkat ini organ seperti mata, tangan, dan kaki masih berfungsi
secara normal karena belum/ tidak mengalami kelainan apa pun.
 Tingkat 1. Kerusakan pada kornea mata umumnya sudah terjadi. Umumnya sudah
terjadi gangguan ketajaman penglihatan tetapi tidak dalam tahap yang
parah. Penderita masih dapat melihat sesuatu dari jarak 6 meter. Kelemahan otot
dan mati rasa pada tangan dan kaki sudah mulai terasa.
 Tingkat 2. Pada tingkat ini kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna.
Penglihatan sudah sangat terganggu karena biasanya pasien dengan tingkatan ini
tidak lagi mampu melihat sesuatu dari jarak 6 meter atau lebih. Kemudian terjadi juga
kecacatan pada tangan dan kaki seperti luka terbuka dan jari membengkok
permanen