Anda di halaman 1dari 11

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM NAMIRA LOMBOK TIMUR

NOMOR :

TENTANG

KEBIJAKAN INSTALASI FARMASI

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM NAMIRA LOMBOK TIMUR,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu Instalasi Farmasi di


Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur, perlu disusun
Kebijakan Instalasi Farmasi;
b. bahwa Kebijakan Instalasi Farmasi perlu ditetapkan dengan
Peraturan Direktur Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 1997


tentang Psikotropika;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009
tentang Narkotika;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian;
8. Peraturan pemerintahan Republik Indonesia Nomor 72 tahun
1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan alat kesehatan;
9. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor
1796/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Registrasi Tenaga
Kesehatan;
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1045/MENKES/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi
Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
971/MENKES/PER/XI/2009 tentang Standar Kompetensi
Pejabat Struktural Kesehatan;

1
14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan
Kedokteran;
15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit;
16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
11/MENKES/PER/II/2017 tentang Keselamatan Pasien;
17. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit;
18. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi
di Rumah Sakit;
19. ;
20. ;

MEMUTUSKAN

Menetapkan :
KESATU : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM NAMIRA LOMBOK
TIMUR TENTANG KEBIJAKAN INSTALASI FARMASI.

KEDUA : Memberlakukan Kebijakan Instalasi Farmasi sesuai Lampiran


Peraturan ini.

KETIGA : Peraturan Direktur ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan


ketentuan bahwa segala sesuatunya akan disesuaikan sebagaimana
mestinya, bila kemudian hari ternyata terdapat kesalahan dalam
peraturan ini.

Ditetapkan di : Lombok Timur


Pada tanggal : 27 Agustus 2018 M
15 Dzulhijjah1439 H

Rumah Sakit Islam Namira


Lombok Timur

Dr. H. Utun Supria, M.Kes.


Direktur

2
LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT ISLAM NAMIRA LOMBOK TIMUR
NOMOR :
TENTANG
KEBIJAKAN INSTALASI FARMASI

KEBIJAKAN INSTALASI FARMASI


RUMAH SAKIT ISLAM NAMIRA LOMBOK TIMUR

A. Pengaturan Dan Manajemen


1. Pengelolaan sediaan farmasi meliputi pemilihan, penerimaan, penyimpanan,
pendisitribusian, pemusnahan-penarikan, dan pengendalian/pengawasan. Sistem
administrasi dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Pengadaan sediaan farmasi dilakukan oleh Apoteker bagian pembelian.
3. Apoteker bagian pembelian berkoordinasi dengan Unit Keuangan.
4. Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap semua sediaan farmasi/perbekalan
farmasi yang beredar di Rumah Sakit.
5. Sediaan farmasi/perbekalan farmasi terdiri dari obat, bahan obat, alat kesehatan,
medium, reagensia, dan gas medis.
6. Pelayanan farmasi dilaksanakan dengan sistem satu pintu.
7. Instalasi Farmasi dipimpin oleh Apoteker, berijazah sarjana farmasi yang telah
lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, telah
memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan Surat Izin Praktek Apoteker
(SIPA).
8. Kepala Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap segala aspek hukum dan
peraturan farmasi, termasuk administrasi sediaan farmasi dan pengawasan
distribusi.
9. Kepala Instalasi sebagai penanggung jawab dibantu oleh apoteker pendamping
dan tenaga teknis kefarmasian dalam pelaksanaan pekerjaan kefarmasian.
10. Obat hanya dapat diberikan setelah mendapat pesanan dari dokter dan apoteker
menganalisa secara kefarmasian.
11. Obat pasien rawat inap dapat dikembalikan jika :
a. Alergi
b. Pasien pulang
12. Pasien meninggal dunia atau hal lain dengan persetujuan dokter.
13. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak menerima obat untuk uji coba
maupun obat sampel.
14. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak menerima sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai sumbangan/dropping/hibah.
15. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak menyediakan
sediaan radioaktif.
16. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak membuat produk
repacking dan tidak menyimpan produk sisa pengenceran.
3
17. Pelayanan klinis kefarmasian di Unit Rawat Inap dilakukan oleh Apoteker Rawat
Inap.
18. Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian berwenang mengidentifikasi dan
menelaah obat yang dibawa pasien waktu MRS (Masuk Rumah Sakit) dan akan
KRS (Keluar Rumah Sakit).

B. Pemilihan
1. Pemilihan obat masuk formularium dan penghapusan obat dari formularium sesuai
prosedur yang ditetapkan.
2. Kriteria dan prosedur untuk penambahan atau pengurangan obat dari formularium
ditetapkan oleh Rumah Sakit.
3. Persediaan obat/alat kesehatan di logistik Farmasi ditentukan maksimum untuk
pemakaian satu bulan.
4. Bila obat dalam resep tidak tersedia di Instalasi Farmasi :
a. Petugas farmasi harus menginformasikan kepada dokter penulis resep
b. Petugas farmasi meminta saran substitusi obat tersebut
c. Petugas farmasi menghubungi distributor obat/alat kesehatan atau melakukan
pembelian di luar Rumah Sakit
5. Pengawasan penggunaan obat di Rumah Sakit dilaksanakan oleh Komite Farmasi
dan Terapi.
6. KFT melakukan monitoring penggunaan obat baru termasuk Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) akibat obat baru yang ditambahkan dalam formularium.
7. Formularium ditelaah minimal satu kali dalam satu tahun berdasarkan informasi
tentang keamanan dan efektifitasnya. Proses telaah formularium dilakukan oleh
KFT.
8. Prosedur persetujuan dan pengadaan obat yang diperlukan dalam pelayanan
tetapi tidak tersedia ditetapkan oleh Rumah Sakit
9. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur mendapatkan semua obat atau alat
kesehatan dari pedagang besar farmasi (PBF) yang resmi.

C. Peresepan
1. Resep adalah permintaan obat secara tertulis dari dokter umum atau dokter
spesialis yang wajib ditelaah ketepatannya oleh apoteker.
2. Semua dokter berhak menulis resep sesuai dengan rincian kewenangan klinis
masing-masing dan formularium Rumah Sakit.
3. Permintaan obat dapat dilayani jika ditulis pada lembar resep resmi Rumah Sakit
Islam Namira Lombok Timur.
4. Resep dilayani bila sudah memenuhi persyaratan administrasi, meliputi :
a. Nomor rekam medik, nama, tanggal lahir, dan berat badan untuk pasien anak;
b. Nama dan paraf/tanda tangan dokter;
c. Tanggal penulisan resep;
d. Tanda R pada bagian kiri setiap penulisan item resep atau item obat;
e. Nama obat (generik atau paten bila diperlukan), satuan dosis/kekuatan, rute
atau bentuk sediaan, jumlah obat dan signa obat dituliskan dengan jelas;
f. Penulisan k/p atau prn harus disertai dengan indikasi penggunaan atau
kapan diperlukan, misalnya: prn sakit kepala atau prn mual;

4
g. Bila ada permintaan obat yang tulisannya mirip dengan obat lain (lihat
daftar obat LASA) beri tanda garis bawah atau huruf kapital;
h. Tanda tangan/paraf dokter penulis resep di bagian akhir penulisan resep
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
i. Tanda seru atau paraf dokter untuk resep obat yang mengandung obat
dengan jumlah dosis yang melebihi dosis maksimum;
j. Obat emergensi diberi tanda CITO pada bagian atas resep dan diparaf.
Penggantian obat emergensi diberi keterangan “EMG”.
5. Penulisan obat narkotika dan psikotropika/khusus h a rus dibubuhi tanda tangan
dokter (bukan paraf).
6. Tanda tangan dan paraf dokter dalam penulisan resep sesuai dengan spesimen
tanda tangan dan paraf.
7. Saat dokter spesialis tidak ada, dokter umum boleh menuliskan resep terapi obat
lanjutan bagi pasien dengan jumlah obat tidak lebih dari terapi satu minggu atau
sampai dengan jadwal praktek dokter spesialis berikutnya.
8. Dokter melakukan prosedur rekonsiliasi obat saat pasien masuk rawat inap.
9. Tulisan dalam resep harus jelas, legible, dan lengkap. Hindari nama atau
singkatan yang tidak resmi. Resep yang tertulis tidak lengkap dan tidak sah akan
dikembalikan untuk diperbaiki dan tidak akan dilayani sampai ditulis kembali atau
setelah diklarifikasi.
10. Jika dokter menulis obat di luar formularium maka petugas farmasi akan
menghubungi dokter dan menginformasikan bahwa obat tersebut di luar
formularium dan tidak tersedia di Instalasi Farmasi. Petugas Farmasi akan
menginformasikan alternative penggantinya. Jika obat tidak ada alternatifnya
dalam formularium, maka pengadaan obat tersebut mengikuti prosedur Rumah
Sakit.
11. Permintaan obat/instruksi pemberian obat secara lisan dilakukan bila pasien dalam
keadaan membahayakan, sehingga dibutuhkan obat dalam waktu cepat. Petugas
yang menerima instruksi harus mencatat instruksi obat tersebut dalam rekam
medis, meliputi nama dokter yang memberi instruksi, jam saat instruksi
disampaikan, isi instruksi, menandatangani dan menulis nama penerima pesan.
Instruksi lisan tersebut harus ditandatangani oleh dokter pemberi pesan
secepatnya atau dalam waktu 24 jam berikutnya setelah pesan diterima.
12. Pada situasi tertentu yang tidak memungkinkan untuk menulis resep, dokter dapat
memberikan instruksi melalui telepon dengan mekanisme sebagai berikut :
a. Instruksi melalui telepon dilakukan oleh dokter yang merawat pasien.
b. Instruksi melalui telepon diterima oleh petugas yang berwenang (perawat,
farmasis).
c. Petugas penerima instruksi lewat telepon menulis instruksi secara lengkap
dalam rekam medis.
d. Untuk memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan komunikasi :
1) Instruksi harus diulang untuk meyakinkan bahwa penerima instruksi telah
mendengar dan mengerti komunikasi. Ucapkan sejelas mungkin.
2) Ejalah nama obat jika dibutuhkan klarifikasi.
3) Jika dibutuhkan resep, maka resep ditulis oleh dokter jaga dengan
mengikuti pentunjuk penulisan resep secara umum.

5
4) Untuk angka di atas 10 ucapkanlah seperti contoh demikian “satu-empat
unit untuk menyebutkan angka 14 daripada mengucapkan empat belas
unit”.
13. Instruksi lewat telepon harus ditandatangani dalam 24 jam, dan hanya dilakukan
untuk kasus gawat saja.
14. Semua resep harus ditandatangani oleh dokter sebelum dilayani, kecuali dalam
situasi darurat.
15. Jika ditemui hal-hal yang harus ditanyakan berkaitan dengan resep, maka
Apoteker/TTK bertanggung jawab untuk :
a. Memberitahu dokter
b. Memproses resep sesuai dengan hasil klarifikasi
16. Apoteker bertanggung jawab untuk mereview resep sebelum resep tersebut
disiapkan dan diberikan kepada pasien. Penyiapan obat dalam dosis per unit. Jika
ada obat yang diambil dari emergensi stok, maka petugas farmasi akan
melakukan review dalam waktu 2 jam setelah obat diberikan.
17. Obat untuk keperluan prn diambil dari persediaan obat. Pemberian obat prn harus
didokumentasikan dalam lembar pengobatan. Intruksi pemberian obat prn harus
menjelaskan indikasi kapan obat tersebut diberikan.
18. Instruksi pemberian obat dengan dosis yang bervariasi berdasarkan respon
pasien harus ditulis secara spesifik parameter pemberian obatnya.
19. Permintaan obat dengan aturan pakai tappering harus ditulis dosis dan interval
pemberiannya.
20. Permintaan order cairan intravena harus tertulis secara spesifik : nama larutan,
volume, obat tambahan dan jumlahnya.
21. Hanya dokter yang berwenang saja yang dapat meresepkan obat narkotika dan
psikotropika untuk pasien rawat jalan. Semua peresepan narkotika dan
psikotropika harus ditulis dengan tinta. Dokter tidak diperbolehkan meresepkan
narkotika atau psikotropika untuk diri sendiri atau keluarga mereka sendiri atau
selain pasien Rumah Sakit.

D. Pembatasan Penulisan Resep


1. Batasan obat tertentu di formularium diberlakukan pada obat dengan kriteria :
a. Penggunaan obat terbatas sehingga membutuhkan tenaga ahli untuk
menggunakan obat tersebut;
b. Penggunaan obat yang tidak sesuai akan menyebabkan pengeluaran yang
berlebihan dan tidak perlu;
c. Obat memiliki potensi efek samping dan keracunan;
d. Alasan lain sesuai pertimbangan Komite Farmasi dan Terapi.
2. Obat tertentu dibatasi penggunaannya, misal obat hanya dipakai di ruang
perawatan tertentu atau atas indikasi tertentu.
3. Kriteria pembatasan obat diinformasikan ke semua petugas yang terkait dengan
pelayanan.
4. Bila Instalasi Farmasi menerima resep obat yang termasuk dalam pembatasan,
petugas farmasi akan mengevaluasi pesanan tersebut memenuhi kriteria
pembatasan atau tidak.
5. Bila ada dokter yang memesan obat yang masuk kriteria pembatasan dan tidak
memenuhi syarat, maka petugas farmasi akan menghubungi dokter penulis resep
6
dan KFT untuk mendapatkan kewenangan khusus dan/atau pasien dipindah pada
tempat perawatan yang memenuhi syarat.
6. KFT melakukan evaluasi daftar obat yang dibatasi secara berkala.

E. Penyimpanan
1. Penyimpanan obat injeksi dan alat kesehatan dilakukan dengan sistem sentralisasi
dengan sistem resep individual.
2. Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi khusus (obat yang dibawa oleh pasien,
obat emergensi, obat program kesehatan) dilaksanakan berdasarkan prosedur
yang telah ditetapkan Rumah Sakit.
3. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak melakukan penyimpanan dan
pengelolaan obat sitostatika dan produk steril karena belum ada fasilitas BSC
(Biological Safety Cabinet). Untuk Total Parenteral Nutrition (TPN) hanya
dilakukan penyimpanan. Penyimpanan Total Parenteral Nutrition (TPN) seperti
karbohidrat, protein, lemak, air, elektrolit, vitamin dan trace element sesuai dengan
sifat produk nutrisinya.
4. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur menetapkan pengamanan obat dan
perbekalan farmasi lain dengan pemasangan CCTV di Instalasi Farmasi.
5. Perbekalan farmasi khusus meliputi obat narkotika dan psikotropik, obat high alert,
elektrolit pekat, bahan berbahaya dan beracun diberi pelabelan pada setiap
kemasan barang dan pada rak penyimpanan.
a. Perbekalan farmasi yang tergolong sebagai elektrolit pekat dilarang disimpan
di unit perawatan, kecuali di unit berikut : Kamar Bedah, Kamar Bersalin &
Perinatologi, dan NICU.
b. High alert medications termasuk elektrolit pekat disimpan di Emergency Kit di
Nurse Station, diberi label yang jelas, dipisahkan dari obat lainnya, dan dikunci
oleh perawat penanggung jawab shift.
c. Di Instalasi Farmasi, high alert medications dipisahkan dari obat lainnya dan
disimpan pada lemari/rak yang diberi label warna merah dengan tulisan high
alert.
d. High alert medications dan obat yang rupa dan ucapan mirip (looks alike,
sound alike) disimpan terpisah dari obat lainnya dan diberi label yang jelas
hingga kemasan terkecil.
e. Obat narkotika psikotropika harus disimpan pada lemari double door, dengan
kunci ganda dan kunci disimpan oleh petugas farmasi yang
bertanggungjawab. Lemari penyimpanan terbuat dari kayu atau bahan lain
yang tidak bisa dipindahkan dan tidak terlihat dari luar.
f. Perbekalan farmasi yang tergolong bahan berbahaya dan beracun disimpan
pada lemari terpisah dari sediaan farmasi lainnya dan diberi label sesuai
sifatnya.
6. Obat yang dibawa pasien dari luar, dilakukan proses rekonsiliasi obat oleh Instalasi
Gawat Darurat dan Instalasi Rawat Jalan dengan menggunakan Form Rekonsiliasi
Obat.
7. Obat yang dibawa pasien dari luar disimpan di box pasien di Nurse Station rawat
inap.
8. Petugas farmasi yang ditunjuk harus melakukan monitoring dan evaluasi kondisi
penyimpanan obat dan alat kesehatan di unit pelayanan dengan cara melakukan
7
inspeksi secara berkala setiap satu bulan sekali dengan menggunakan Form
Inspeksi Penyimpanan Obat dan Alat kesehatan.
9. Pengelolaan obat emergensi di unit pelayanan pasien sebagai berikut :
a. Obat emergensi di unit pelayanan disimpan dalam trolley emergency dengan
kunci plastik beregister dan pengelolaannya dimonitor sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan Rumah Sakit.
b. Penggunaan obat emergensi dilakukan oleh perawat yang ditunjuk pada saat
kondisi emergensi saja, sedangkan penggantian obat, penguncian trolley
emergency, serta pemberian stiker registrasi dilakukan oleh petugas farmasi.
10. Penarikan obat (Recall) menggunakan berita acara serah terima barang yang
menyatakan adanya kegiatan penarikan obat oleh pihak supplier.
11. Obat kadaluarsa dan kondisi fisik rusak dipisahkan, disimpan dan dimusnahkan
dengan menggunakan berita acara sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh
Rumah Sakit.

F. Penyiapan Dan Pengeluaran


1. Rumah Sakit menyediakan fasilitas bangunan, ruangan dan peralatan
kefarmasian yang memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pelayanan obat dilaksanakan dalam area yang bersih dan aman.
3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur memberikan
pelayanan 24 jam.
4. Petugas farmasi yang kompeten melaksanakan proses skrining resep sebelum
melayani resep dengan menggunakan stempel Telaah Resep pada masing-
masing resep.
5. Petugas farmasi melayani obat berdasarkan resep yang ditulis oleh Dokter yang
menyertakan tanda tangan atau paraf Dokter penulis resep.
6. Pemberian label untuk obat yang dikeluarkan dari wadah aslinya berupa etiket.
a. Etiket obat rawat jalan memuat informasi : identitas pasien, nama/guna obat,
dosis, cara pemberian dan tanggal penyiapan
b. Etiket obat rawat inap memuat informasi : identitas pasien, nama/guna obat,
dosis, cara pemberian, dan waktu pemberian.
7. Bila tulisan Dokter dalam resep tidak terbaca :
a. Petugas farmasi harus mengkonfirmasi Dokter penulis resep.
b. Dokter menuliskan kembali dengan tulisan yang jelas serta memberi tanda
tangan/paraf.
8. Pelayanan resep di Unit Rawat Jalan dilaksanakan dengan sistem pelayanan
resep individual.
9. Distribusi obat oral rawat inap di Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur
menggunakan sistem dosis satu hari (One Daily Dose/ODD), yakni permintaan
obat pada instruksi pengobatan tidak diserahkan seluruhnya tetapi disiapkan
hanya untuk kebutuhan 24 jam. Obat dikemas dalam bentuk satuan dosis
unit/wadah plastik kecil untuk satu waktu pemberian (satu kemasan untuk satu
waktu pemberian sesuai aturan pakai).
10. Rumah Sakit menyediakan sistem informasi untuk pengelolaan mutasi stok dan
pencatatan pelayanan obat yang terintegrasi.

8
G. Pemberian
1. Petugas farmasi yang berwenang memberikan obat adalah Apoteker yang telah
memiliki SIPA atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki SIKTTK.
2. Wewenang pemberian obat pada pasien rawat inap didelegasikan kepada
perawat. Perawat yang berwenang memberikan obat minimal adalah perawat PK
1.
3. Dokter yang berwenang menulis resep di Rumah Sakit Islam Namira Lombok
Timur adalah semua dokter yang telah mendapatkan surat penugasan (Clinical
Appoinment) dari Direktur yang memuat kewenangan klinis (Clinical Privillages)
yang boleh dilakukan di Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur.
4. Petugas farmasi melakukan proses telaah obat sebelum memberikan obat dengan
menggunakan stempel yang terdapat pada resep.
5. Petugas farmasi melakukan proses telaah obat dan serah terima obat dengan
menggunakan check list 7 benar.
6. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur menyediakan sarana edukasi dan
konseling bagi pasien yang menggunakan obat sendiri.
7. Pengecekan ganda terhadap high alert medications :
a. Pemeriksaan ganda dilakukan :
1) sebelum memberikan high alert medications
2) pada saat pelaporan pergantian jaga
3) pada saat melakukan transfer pasien
b. Pengecekan ganda didokumentasikan dalam rekam medis pasien atau pada
catatan pemberian medikasi pasien.
c. Pengecekan pertama dilakukan oleh petugas yang berwenang untuk memberi
instruksi, meresepkan, atau memberikan obat, antara lain perawat, petugas
farmasi, dan dokter.
d. Pengecekan kedua dilakukan oleh petugas yang berwenang, antara lain
petugas farmasi atau perawat lainnya (petugas tidak boleh sama dengan
pengecek pertama).
8. Dokumentasi dan pengelolaan obat yang dibawa pasien saat masuk ke rumah
sakit, dilakukan dalam proses Rekonsiliasi Obat oleh dokter dan pengelolaan obat
berikutnya dilakukan oleh Instalasi Farmasi.
9. Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur tidak melakukan penerimaan,
penyimpanan, dan pendistribusian obat sampel yang ditujukan untuk uji klinis
kepada pasien.
10. Waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan adalah waktu yang dihitung mulai dari
pasien menyerahkan resep sampai pasien mendapatkan obat. Waktu tunggu
pelayanan resep rawat jalan sebagai berikut :
a. Resep racikan 60 menit
b. Resep obat jadi 30 menit
11. Waktu tunggu pelayanan resep rawat inap adalah waktu yang dihitung mulai dari
perawat menyerahkan resep sampai perawat mendapatkan obat. Waktu tunggu
pelayanan resep rawat inap adalah 2 jam.
12. Evaluasi waktu tunggu pelayanan resep dilakukan untuk mengetahui kualitas
pelayanan resep.

9
H. Pemantauan
1. Kesalahan obat (medication errors) dilaporkan melalui proses dan waktu sesuai
ketentuan Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur.
2. Obat dalam kemasan tablet/kapsul/kaplet/Dry Syrup/puyer (per oral) yang sudah
dikirim ke ruang perawatan tidak boleh diretur ke Instalasi Farmasi.
3. Visite Apoteker merupakan kunjungan Apoteker ke pasien rawat inap yang
dilakukan secara mandiri atau bersama tenaga kesehatan lain untuk mengkaji
masalah terkait obat, memantau terapi obat dan Reaksi Obat yang Tidak
Diinginkan (ROTD), meningkatkan terapi obat yang rasional dan mengkaji
informasi obat kepada Dokter, pasien serta profesional pemberi asuhan lain.
4. Pemantauan terapi obat dilakukan untuk memastikan terapi obat yang aman,
efektif, dan rasional.
5. Metode komunikasi dengan Dokter Spesialis terkait terapi ditulis pada form CPPT.
6. Visite Apoteker dilakukan dalam waktu 24 jam setelah pasien MRS dan pada akhir
perawatan.
7. Kegiatan rekonsiliasi obat masuk dalam tahap visite Apoteker.
8. Kegiatan rekonsiliasi obat didelegasikan kepada Dokter IGD saat pasien baru
masuk ruang rawat inap.
9. Instalasi Farmasi melakukan proses Pemantauan Terapi Obat (PTO), Monitoring
Efek Samping Obat (MESO) dan pemantauan Reaksi Obat Tidak Dikehendaki
(ROTD) yang dilaksanakan secara kolaboratif dengan prosedur yang ditetapkan
rumah sakit.
10. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) dan pemantauan Reaksi Obat Tidak
Dikehendaki (ROTD) didokumentasikan dalam rekam medis pasien dan
dilaporkan ke KFT selambat–lambatnya 2x24 jam dalam bentuk laporan MESO.
11. Efek obat yang tidak diharapkan dan Efek Samping Obat dilaporkan jika :
a. Terjadi pada pasien rumah sakit
b. Efek obat yang tidak diharapkan terjadi karena penyesuaian dan penghentian
terapi
c. Membutuhkan penanganan yang sistemik
d. Membuat perawatan menjadi lebih lama
e. Disebabkan karena komplikasi penyakit
f. Menyebabkan pasien meninggal dunia
12. Instalasi Farmasi ikut serta dalam proses peningkatan mutu dan keselamatan
pasien bersama Sub Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit dengan
memberikan suatu rekomendasi program perbaikan dalam mencegah atau
menyelesaikan terjadinya efek obat yang tidak diharapkan, kemudian melaporkan
rekomendasi tersebut kepada KFT untuk disetujui;
13. Obat emergensi
a. Daftar obat emergensi ditempel di bagian luar Trolley Emergency, termasuk
tanggal kadaluwarsanya.
b. Perawat PJ Shift memeriksa keutuhan segel trolley emergency.
c. Ketersediaan obat emergensi menjadi prioritas utama bagi Instalasi Farmasi
dalam melakukan restocking dan penyegelan kembali.
d. Bila dijumpai segel trolley emergency rusak, perawat segera memeriksa
kelengkapan isi trolley emergency dan melapor kepada petugas farmasi agar
dilakukan penggantian kembali.
10
e. Petugas yang menggunakan obat dalam trolley emergency bertanggung
jawab dalam proses penggantian obat yang telah terpakai melalui penulisan
resep oleh dokter.
f. Instalasi Farmasi memeriksa kondisi penyimpanan obat emergensi minimal
tiap satu bulan sekali.
g. Instalasi Farmasi wajib mengganti obat emergensi yang kadaluwarsa atau
rusak.

I. Pemusnahan
1. Pemusnahan perbekalan farmasi adalah suatu cara untuk menghancurkan
perbekalan farmasi yang sudah tidak dapat digunakan lagi karena kadaluwarsa
atau rusak.
2. Pemusnahan dilakukan dengan cara yang tepat dengan mempertimbangan
keselamatan pasien dan petugas.
3. Hasil sisa pemusnahan harus ditangani dengan benar sehingga tidak
membahayakan pihak lain.
4. Pemusnahan bertujuan agar sediaan farmasi yang sudah kadaluwarsa atau rusak
tidak digunakan lagi.
5. Pemusnahan sediaan farmasi dilakukan sekali setiap akhir tahun setelah stock
opname.
6. Pemusnahan sediaan farmasi dilakukan oleh pihak ketiga yang bekerjasama
dengan Rumah Sakit Islam Namira Lombok Timur.
7. Petugas farmasi menyerahkan sediaan farmasi dan daftar sediaan farmasi yang
akan dimusnahkan ke petugas kesehatan lingkungan.
8. Pemusnahan sediaan farmasi menggunakan Berita Acara Sediaan Farmasi
Kadaluarsa dan Berita Acara Pemusnahan Sediaan Farmasi.
9. Pemusnahan sediaan farmasi yang tidak mengandung narkotika, psikotropika,
atau prekursor disaksikan oleh Satuan Pengawas Internal Rumah Sakit Islam
Namira Lombok Timur.
10. Pemusnahan sediaan farmasi yang mengandung narkotika, psikotropika, atau
prekursor disaksikan oleh petugas Balai POM dan Dinas Kesehatan Banten.
11. Petugas farmasi wajib menginformasikan pemusnahan sediaan farmasi kepada
Unit Keuangan.

Ditetapkan di : Lombok Timur


Pada tanggal : 27 Agustus 2018 M
15 Dzulhijjah1439 H

Rumah Sakit Islam Namira


Lombok Timur

Dr. H. Utun Supria, M.Kes.


Direktur

11