Anda di halaman 1dari 17

PERITONITIS

22JAN
A. PENGERTIAN PERITONITIS

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan
meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada
palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis
dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan
sistemikengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis
spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab
tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada
abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local
infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang
mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat
penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis,
perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus
dan kanker, dan strangulasi kolon asendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari
trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang
juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan
penyebab tersering terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi
noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya
kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, divetikulitis,
kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan
abses peritoneal. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan
adanya kterlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi peritoneal, syok
perioperatif, dan transfuse yang pasif.
B. ETIOLOGI
1. Infeksi bakteri
a. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
b. Appendisitis yang meradang dan perforasi
c. Tukak peptik (lambung / dudenum)
d. Tukak thypoid
e. Tukan disentri amuba / colitis
f. Tukak pada tumor
g. Salpingitis
h. Divertikulitis
Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus dan hemolitik,
stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium
wechii.
2. Secara langsung dari luar.
a. Operasi yang tidak steril
b. Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang
disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing,
disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.
c. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati
d. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula
peritonitis granulomatosa.
3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran
pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama
adalah streptokokus atau pnemokokus.
Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan
peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi
pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi
translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi
penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin
rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini
terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang
paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella
pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram
positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan
Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis
sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi
transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama
disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier
terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis
sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier
biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat
peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia,
misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural
dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).
Penyebab peritonitis:

Area Sumber penyebab

Esofagus Keganasan
Trauma
Iatrogenik
Sindrom boerhaave
lambung Perforasi ulkus peptikum
Keganasan (mis:adenokarsinoma,
limfoma,tumor stromagastrointestinal)
Trauma
iatrogenik
Duodenum Perforasi ulkus peptikum
Trauma (tumpul dan penetrasi)
Iatrogenik
Traktus bilier Kolesistitis
Perforasi batu dari kandung empedu
Keganasan
Kista duktus koledokus
Trauma
Iatrogenik
Pankreas Pankreatitis (mis: alkohol, obat-obatan,
batu empedu)
Trauma
Iatrogenik
Kolon assendens dan apendiks Iskemia kolon
Divertikulitis
Keganasan
Kolitis ulseratifdan penyakit
Crohn
Apendisitis
Volvulus kolon
Trauma
Iatrogenik
Salping uterus dan ovarium Pelvic inflammatory disease
Keganasan
Trauma
C. TANDA DAN GEJALA KLINIS
Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut
abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum
visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda
peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis
bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen
yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber
infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara
tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi
peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan
nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi
positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat,
penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran
(misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic),
penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric.
D. PATOFISIOLOGI
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen,
biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia, trauma atau perforasi tumor, peritoneal
diawali terkontaminasi material.
Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus
peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya
timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi
keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel yang rusak dan
darah.
Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus
paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar.
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK
a. Test laboratorium
o Leukositosis
o Hematokrit meningkat
o Asidosis metabolik
b. X. Ray
o Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :
o Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.
o Usus halus dan usus besar dilatasi.
o Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

F. LAPARATOMI
Pengertian
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan
colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di
atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.
Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar.
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.(Internal Blooding)
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen
Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot
bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post
operasi.
POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-
pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.
Tujuan perawatan post laparatomi;
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.
Komplikasi post laparatomi;
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Bahaya besar
tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut
aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki
TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling
sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif.
Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.Untuk menghindari infeksi luka yang paling
penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan
muntah.

Proses penyembuhan luka


1. Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah
baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai
kerangka.
2. Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel
timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
3. Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan
baru dan otot dapat digunakan kembali.
4. Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. Intervensi untuk
meningkatkan penyembuhan
a. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
b. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c. Pencegahan infeksi.
d. Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan
batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
e. Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena
adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama
ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya
berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien
setelah operasi.
G. PENATALAKSANAAN
Penggantian cairan, koloid dan elektroli adalah focus utama. Analegesik diberikan untuk
mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Terapi
oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat,
tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Tetapi
medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic, terapi hemodinamik untuk paru dan
ginjal, terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan.
Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah
atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis
atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-
tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Semua luka tusuk di dada bawah dan
abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan
laparotomi diperlukan. Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus,
terdaat darah dalam lambung, buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intraperitoneal dan
lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Bila tidak ada,
pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan
agar dilakukan laparotomi.
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang
mencakup tiga fase yaitu :
1. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk
intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Lingkup
aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian
dasar
pasien ditatanan kliniik atau dirumah, menjalani wawancaran praoperatif dan
menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimanapun,
aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien
praoperatif ditempat ruang operasi.
2. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau
dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas
keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV), memberikan medikasi intravena,
melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan
menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh, aktivitas keperawatan terbatas
hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum, bertindak
dalam peranannya sebagai perawat scub, atau membantu dalam mengatur posisi
pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran
tubuh.
3. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir
dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Lingkup keperawatan
mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif
langsung, focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital
serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada
penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan
yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan
pemulangan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Kapan berkaitan dan
memungkinkan, proses keperawatan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi
dan evaluasi diuraikan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Kesulitan ambulasi
2. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi
Gejala : Edema jaringan
3. Eliminasi
Gejala : Ketidakmampuan defikasi dan flatus
Diare
Tanda : Cegukan, distensi abdomen, abdomen diam
Penurunan haluaran urin, warna gelap
Penurunan / tak ada bising usus (ileus) ; bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi);
kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hipersonan / timpani (ileus); hilang suara pekak di atas hati (udara
bebas dalam abdomen)
4. Makanan dan Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah; haus
Tanda : Muntah proyektil
Membran mukosa kering, lidah bengkan, turgor kulit buruk
5. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat, umum atau lokal, menyebar ke bahu, terus menerus oleh
gerakan
Tanda : Distensi, kaku, nyeri tekan
Otot tegang (abdomen); lutut fleksi, perilaku distraksi, gelisah, fokus pada diri sendiri
6. Pernapasan
Tanda : Pernapasan dangkal, takipnea
7. Keamanan
Gejala : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis); abses retroperitonial
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi kimia perifer, trauma jaringan, akumulasi cairan dalam
rongga abdomen
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan ekstraseluler, intravaskuler,
dan area interstisial ke dalam usus dan area peritoneal
3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian/ perubahan status kesehatan
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang terpajan informasi, salah interpretasi informasi.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan
sekunder, prosedur invasif.
6. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,
disfungsi usus, abnormalitas metabolik.
C. PERENCANAAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi kimia perifer, trauma jaringan, akumulasi cairan dalam
rongga abdomen
Kemungkinan dibuktikan oleh :
– Pernyataan nyeri
– Otot tegang, nyeri lepas
– penampilan wajah menahan nyeri, fokus pada diri sendiri
– perilaku distraksi, respon otomatik/emosi (cemas)
Kriteria evaluasi:
– Laporan nyeri hilang atau terkontrol
– Menunjukan penggunaan ketrampilan relaksasi, metode lain intuk meningkatkan kenyamanan

Intervensi Rasional

1. Selidiki laporan nyeri, 1. Perubahan dalam


catat lokasi, lama, intensitas lokasi/intensitas tidak umum
(skala 0-10) dan tetapi dapat menunjukan
karakteristiknya (dangkal, terjadinya komplikasi. Nyeri
tajam, konstan). cenderung menjadi konstan,
lebih hebat, dan menyebar ke
2. Pertahankan posisi atas, nyeri dapat lokal jika
semi-fowler sesuai
terjado abses.
indikasi
3. Berikan tindakan 2. Memudahkan drainase
kenyamanan, contoh cairan/luka karena grafitasi
pijatan punggung, nafas dan membantu
dalam, latihan relaksasi. meminimalkan nyeri karena
4. Berikan perawatan gerakan.
mulut dengan sering. 3. Meningkatkan relaksasi
Hilangkan rangsangan dan mungkin meningkatkan
lingkungan yang tak kemampuan koping pasien
menyenangkan. dengan memfokuskan
5. Kolaborasi berikan kembali perhatian
obat sesuai indikasi: 4. Menurunkan
Analgesik, narkotik mual/muntah, yang dapat
Antiemetik, contoh meningkatkan tekanan atau
hidrokzin (vistaril) nyeri intraabdomen.
Antipiretik, contoh 5.
asetaminofen (Tylenol) Menurunkan lajumetabolik
dan iritasi usus karena
toksin sirkulasi/lokal, yang
membantu menghilangkan
nyeri dan meningkatkan
penyembuhan.
Menurunkan mual/muntah,
yang dapat meningkatkan
nyeri abdomen.
Menurunkan
ketidaknyamanan
sehubungan dengan
demam/menggigil.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan ekstraseluler, intravaskuler,
dan area interstisial ke dalam usus dan area peritoneal
Kemungkinan dibuktikan oleh:
– Membran mukosa kering, turgor kulit buruk, pengisian kapiler lambat, nadi perifer lemah
– Menurunya haluaran urin, urin gelap/pekat
– Hipotensi, Takikardia
Kriteria Evaluasi:
– menunjukan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urin adekuat dengan berat
jenis normal, tanda vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik, dan pengisian kapiler
meningkat, dan berat badan dalam rentang normal.

Intervensi Rasional

1. Pantau tanda vital, catat 1. Membantu dalam evaluasi


adanya hipotensi (termasuk derajat defisit
perubahan postural). cairan/keefektifan
Takikardia, takipnea, penggantian terapi cairan dan
demam. respons terhadap
pengonbatan.
2. Pertahankan masukan
dan haluaran yang akurat 2. Menunjukan status hidrasi
dan hubungkan dengan keseluruhan. Heluaran urin
berat badan harian. mungkin menurun pada
Termasuk hipovolemia dan penurunan
pengukuran/perkiraan perfusi ginjal, tetapi berat
kehilangan, contoh badan masih meningkat,
penghisapan gaster, drein, menunjukan edema
balutan, hemovac, jaringan/asites. Kehilangan
keringat, lingkar abdomen. dari penghisapan gaster
3. Ukur berat jenis urin mungkin besar, dan
4. Observasi kulit dan banyaknya cairan
membran mukosa untuk tertampung pada usus dan
kekeringan, turgor. Catat area peritoneal (asites).
edema perifer/sakral. 3. Menunjukan hidrasi dan
5. Hilangkan tanda perubahan pada fungsi
bahaya/bau dari ginjal yang mewaspadakan
lingkungan. Batasi terjadinya gagal ginjal akut
pemasukan es batu. pada respons terhadap
6. Ubah posisi dengan hipovolemia, mempengaruhi
sering, berikan perawatan toksin.
kulit dengan sering dan 4. Hipovolemia,
pertahankan tempat tidur perpindahan cairan, dan
kering dan bebas lipatan. kekurangan nutrisi
Kolaborasi memperburuk trgor kulit,
7. Awasi pemeriksaan menambah edema cairan.
laboratorium, contoh 5. Menurunkan rangsangan
Hb/Ht, elektrolit, protein, padat gaster dan respons
albumin, BUN, kreatinin. muntah.
8. Berikan plasma/darah, 6. Jaringan edema dan
cairan, elektrolit, diuretik adanya sirkulasi cenderung
sesuai indikasi. marusak kulit.
9. Pertahankan puasa 7. Memberikan informasi
dengan aspirasi tentang hidrasi, fungsi
nasogastrik/intestinal. organ,. Berbagai gangguan
dengan konsekuensi tertetu
pada fungsi sistemin
mungkin sebagai akibat dari
perpindahan cairan,
hipovolemia, hipoksemia,
toksin dalam sirkulasi, dan
produk jaringan nekrotik.
8. Mengisi/
mempertahankan volume
sirkulasi dan keseimbangan
elektrolit. Koloid (plasma,
darah) membantu
menggerakan air ke dalam
area intravaskuler dengan
meningkatkan tekanan
osmotik. Diuretik mungkin
digunakan untuk membantu
pengeluaran toksin dan
meningkatkan fungsi ginjal.
9. Menurunkan
hiperaktivitas usus dan
kehilangan dari diare.
3. Ansietas berhubunga dengan krisis situasi, ancaman kematian/ perubahan status kesehatan
Kemungkinan dibuktikan oleh:
– Peningkatan rasa tegang /tak ada harapan
– Ketakutan, kuatir, ragu-ragu
– Rangsang simpatis, gelisah, fokus pada diri sendiri.
Kriteria Evaluasi:
– Menyatakan kesadaran terhadap perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah
– Melaporkan ansietas menurun sampaitingkat dapat ditangani
– Tampak rileks

Intervensi Rasional

1. Evaluasi tingkat ansietas, 1. Ketakutan dapat terjadi


catat respons verbal dan karena nyeri hebat,
non-verbal pasien. Dorong meningkatkan perasaan sakit,
ekspresi bebas akan emosi. penting pada prosedur
diagnostik dan kemungkinan
2. Berikan informasi pembedahan.
tentang proses penyakit
dan antisipasi tindakan. 2. Mengetahui apa yang
3. Jadwalkan istirahat diharapkan dapat menurunkan
adekuat dan periode ansietas.
menghentikan tidur. 3. Membatasi kelemahan,
4. Catat palpasi, menghemat energi, dan dapat
peningkatan denyut dan meningkatkan kemampuan
frekuensi pernafasan. koping.
5. Pahami rasa 4. Perubahan pada tanda-tanda
takut/ansietas. Validasi vital mungkin menunjukan
observasi dengan pasien, tingkat ansietas yang dialami
misalnya, “apakah anda pasien atau merefleksikan
takut?” gangguan-gangguan faktor
6. Observasi isi dan pola psikologis, misalnya
pembicaraan: ketidakseimbangan endokrin.
cepat/lambat, tekanan, 5. Perasaan adalah nyata dan
kata-kata yang digunakan, membantu pasien untuk
repitisi, tertawa. terbuka sehingga dapat
7. Nyatakan realita dari mendiskusikan dan
situasi seperti apa yang menghadapinya.
dilihat pasien, tanpa 6. Menyediakan petunjuk
mempertanyakan apa yang mengenai faktor-faktor seperti
dipercaya. tingkat ansietas, kemampuan
8. Temani atauatur supaya untuk memahami kerusakan
ada seseorang bersama otak ataupun kemungkinan
pasien sesuai indikasi. perbedaan bahasa.
7. Pasien mungkin perlu
menolak realitas situasi,
persepsi akan mempengaruhi
bagaimana setiap individu
menghadapi penyakit.
8. Dukungan yang terus
menerus mungkin membantu
pasien memperoleh kembali
kontrol lokus internal dan
mengurangi ansietas atau rasa
takut ke tingkat yang dapat
diatasi.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang terpajan informasi, salah interpretasi informasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
– pernyataan meminta informasi
– pernyataan salah konsep
– tidak akurat mengikuti instruksi
Kriteria Evaluasi:
– menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan
– menidentifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan
faktor pencegah.
– melakukan dengan benar, prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi Rasional

1. Kaji ulang proses penyakit 1. Memberikan dasar


dasar dan harapan untuk pengetaahuan pada pasien
sembuh. yang memungkinkan
membuat pilihan berdasarkan
2. Diskusikan program informasi.
pengobatan, jadwal dan
kemungkinan efek 2. Antibiotik dapat
samping. dilanjutkan setelah pulang,
3. Anjurkan melakukan tergantung pada lamanya
aktivitas biasanya secara dirawat.
bertahap sesuai toleransi, 3. Mencegah kelemahan,
dan sediakan waktu untuk meningkatkan perasaan
istirahat yang adekuat. sehat.
4. Kaji ulang pembatasan 4. Menghindari
aktivitas. Contoh hindari peningkatan tekanan
mengangkat berat, intraabdomen yang tidan
konstipasi. perlu dan tegangan otot.
5. Lakukan penggantian 5. Menurunkan resiko
balutan secara aseptik, kontaminasi. Memberikan
perawatan luka. kesempatan untuk
6. Identifikasi tanda dan mengevaluasi proses
gejala yang memerlukan penyembuhan.
evaluasi medik, contoh 6. Pengenalan dini dan
berulangnya nyeri atau pengobatan terjadinya
distensi abdomen, muntah, komplikasi dapat mencegah
demam, menggigil, atau penyakit atau cedera serius.
adanya drainase purulen,
bengkak pada insisi bedah.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan primer dan
sekunder, prosedur invasif.
Kriteria evaluasi:
– meningkatnya penyembuhan pada waktunya; bebas drainase purulen atau eritema; tidak demam.
– menyatakan pemahaman penyebab individu atau faktor resiko.

Intervensi Rasional

1. Catat faktor resiko 1. Mempengaruhi pilihan


individu contoh trauma intervensi
abdomen, apendisitis akut,
2. Tanda adanya syok
dialisa peritoneal.
septik, dan
2. Kaji tanda vital dengan endotoksinsirkulasi
sering , catat tidak menyebabkan vasodilatasi,
membaiknya atau kehilangan cairan dari
berlanjutnya hipotensi, sirkulasi dan rendahnya
penurunan tekanan nadi, status curah jantung.
takikardia, demam, 3. Hipoksemia, hipotensi
takipnea. dan asidosis dapat
3. Catat perubahan status menyebabkan
mental, penyimpangan status
4. Catat warna kulit, suhu, mental.
kelembaban. 4. Hangat, kemerahan, kulit
5. Awasi haluaran urin kering adalah tanda dini
6. Pertahankan teknik septikemia. Selanjutnya
aseptik ketat pada manifestasi termasuk
penawaran drein abdomen, dingin, kulit pucat lembab
luka terbuka, dan sisi dan sianosis sebagai tanda
invasif. Bersihkan dengan syok.
betadine atau larutan lain 5. Oliguria terjadi sebagai
yang tepat. akibat penurunan perfusi
7. Observasi drainase pada ginjal, toksin dalam
luka/drein sirkulasi mempengaruhi
antibiotik.
6. Mencegah meluas dan
membatasi penyabaran
organisme infektif/
kontaminasi silang.
7. Memberi informasi
tentang status infeksi
6. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,
disfungsi usus, abnormalitas metabolik.
Kriteria evaluasi:
– mempertahankan berat badan dan keseimbangan nitrogen positif

Intervensi Rasional

1. Awasi haluaran selang NG. 1. Jumlah besar dari aspirasi


Catat adanya muntah atau gaster dan muntah atau diare
diare. diduga terjadi obstruksi usus,
memerlukan evaluasi lanjut.
2. Auskultasi bising usus,
catac bunyi tak 2. Meskipun bising usus
ada/hiperaktif. sering tak ada,
3. Ukur lingkar abdomen. inflamasi/iritasi usus dapat
4. Timbang berat badan menyertai hiperaktivitas
dengan teratur usus, penurunan absorbsi
5. Kaji abdomen dengan air dan diare.
sering untuk kembali ke 3. Memberikan bukti
bunyi yang lembut, kuantitas perubahan
penampilan bising usus distensi gaster/usus dan
normal dan kelancaran atau akumulasi asites.
flatus. 4. Kehilangan/peningkatan
dini menunjukan perubahan
Kolaborasi hidrasi tetapi kehilangan
6. Awasu BUN, protein, lanjut diduga asa defisit
albumin, glukosa, nutrisi.
keseiabangan nitrogen 5. Menunjukan kembalinya
sesuai indikasi. fungsi usus ke normal dan
7. Tambahan diet sesuai kemampuan untuk memulai
toleransi, contoh cairan masukan per oral.
jernih sampai lembut. 6. Menunjukan fungsi
8. Berikan hiperalimentasi organ dan status/kebutuhan
sesuai indikasi. nutrisi
7. Kemajuan diet yang hati-
hati saat masukan nutrisi
dimulai lagi menurunkan
resiko iritasi gaster.
8. Meningkatkan
penggunaan nutrien dan
keseimbangan nitrogrn
positif pada pasien yang tak
mampu mengasimilasi
nutrien dengan normal.
BAB III
KESIMPULAN
Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen
dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang
terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum.
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi
visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans
muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut,
penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis.
Peritonitis dapat disebabkan oleh: Infeksi bakteri, secara langsung dari luar, secara hematogen
sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis
media, mastoiditis, glomerulonepritis.
Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan
nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas
lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu
demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi
hipotensi.
Tentang iklan-iklan ini