Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN (Subyakto S, et al.

, 2009)
Salah satu penyakit yang
Latar Belakang
disebabkan virus yang menyerang
Wilayah pesisir di Indonesia
udang vanamei adalah White Spot
hingga saat ini masih memiliki
Syndrom Virus (WSSV). Atau
potensi yang cukup tinggi untuk
biasa disebut bintik putih (white
dimanfaatkan sebagai lahan
spot). Virus merupakan ancaman
budidaya khususnya di bidang
yang serius karena dapat
perikanan. Keterbatasan ilmu
menyebabkan kematian udang
pengetahuan serta minimnya
vanamei secara masal. Menurut
minat berbudidaya, menyebabkan
Taslihan et.al (2004), Penyakit
hasil perikanan budidaya
WSSV merupakan jenis penyakit
terutama udang di Indonesia
yang paling popular dan paling
masih dinilai belum maksimal,
ganas dibandingkan dengan virus
padahal jika dilihat dari segi
lainnya. Penyakit ini ditandai
ekonomi, usaha budidaya udang
dengan adanya bintik putih pada
tidak kalah dengan usaha
bagian karapaks dan bagian tubuh
pertanian lainnya
lainnya dan dapat mengakibatkan
Keberadaan udang vannamei
kematian massal mencapai 100%
(Litopenaeus vannamei) di
dalam waktu yang sangat singkat
Indonesia khususnya di Jawa
yaitu 2 hari sejak gejala pertama
Timur sudah bukan hal yang asing
tampak. Udang yang terserang
lagi bagi para petambak, dimana
biasanya berenang ke tepi
udang introduksi tersebut telah
pematang, lemah, dan kehilangan
berhasil merebut simpati
nafsu makan dan akhirnya mati.
masyarakat pembudidaya karena
Di Indonesia, penyakit White Spot
kelebihannya, sehingga sejauh ini
Syndrome Virus (WSSV) mewabah
dinilai mampu menggantikan
sejak tahun 1995. WSSV
udang windu (Penaeus monodon)
menyerang udang pada semua
sebagai alternatif kegiatan
stadia baik benur maupun udang
diversifikasi usaha yang positif.
dewasa. WSSV dapat
Udang vannamei secara resmi
menyebabkan kematian pada
diperkenalkan pada masyarakat
udang hingga 100% selama 3- 10
pembudidaya pada tahun 2001
hari sejak gejala klinis muncul
setelah menurunnya produksi
(Aryani, 2008).
udang windu karena berbagai
Sedangkan menurut
masalah yang dihadapi dalam
Departemen Kelautan dan
proses produksi, baik masalah
Perikanan (2003), gejala klinis
teknis maupun non teknis.

1
udang yang terserang penyakit adalah untuk mengetahui
WSSV yaitu, udang tampak lemah, pengaruh tingkat infeksi penyakit
usus kosong, tubuh pucat White Spot Syndrome Virus
bewarna kemerah-merahan. (WSSV) terhadap perubahan
Gejala khas bercak putih dengan morfologi udang vannamei.
diameter 1-2 mm, mula-mula
Kegunaan
terlihat dibagian karapas dan bila
Hasil penelitian ini diharapkan
sudah parah bercak putih
dapat memberikan informasi
menyebar sampai bagian tubuh.
tentang akibat yang ditimbulkan
Rumusan Masalah oleh serangan WSSV sehingga
Permasalahan yang dihadapi dapat diambil kebijakan tentang
dalam budidaya udang khususnya sistem pengelolaan tambak yang
udang vannamei yang berwawasan lingkungan.
menyebabkan produksi rendah
Tempat dan Waktu
adalah timbulnya penyakit,
Penelitian ini dilaksanakan
beberapa penyakit yang sering
pada bulan Mei sampai Juni 2014,
ditemukan dapat disebabkan oleh
di Laboratorium Ilmu Ilmu
pathogen virus, bakteri, parasit
perairan Fakultas Perikanan dan
maupun jamur. Namun, jenis
Ilmu Kelautan dan Laboratorium
penyakit yang paling berbahaya
Sentral Ilmu Hayati Universitas
saat ini adalah penyakit White
Brawijaya Malang untuk analisa
Spot Syndrom Virus yang telah
PCR (Polymerase Chain Reaction).
menyebar hampir diseluruh area
tambak udang Indonesia. Penyakit
MATERI DAN METODE
virus ini sangat sulit dikendalikan,
Materi penelitian ini adalah
infeksi virus baru berakibat fatal
mengenai perubahan morfologi
pada udang yang telah berumur 1-
udang vannamei yang diinfeksi
2 bulan.
penyakit White Spot Syndrome
Oleh karena itu perlu dilakukan
Virus (WSSV). Sedangkan
penelitian lebih lanjut mengenai
Parameter kualitas air yang
bagaimana keadaan morfologi dan
diukur diantaranya meliputi suhu,
tingkat ketahanan udang vanamei
pH, oksigen terlarut (DO).
yang diserang White Spot
Metode yang digunakan dalam
Syndrome Virus (WSSV) pada
penelitian ini adalah metode
waktu perendaman yang berbeda
eksperimen. Metode eksperimen
merupakan suatu metode
Tujuan
percobaan dengan pemberian
Tujuan dari penelitian ini
2
berbagai perlakuan tertentu untuk sentuhan maka udang akan segera
diketahui pengaruhnya. Perlakuan berenang menjauh ke arah yang
dari penelitian ini adalah berlawanan terhadap rangsangan
pemeberian WSSV dengan waktu yang ada.
2. Perubahan Tingkah Laku
perendaman yang berbeda pada
Udang Vannamei yang
udang vannamei. Sedangkan
Terinfeksi Virus WSSV
pengaruh yang ingin diketahui
Perubahan tingkah laku udang
adalah perubahan morfologi
vannamei pasca infeksi virus WSS
udang vannamei (Litopenaeus
pada waktu perendaman 0 jam
vannamei) dengan skoring.
(control) menunjukkan Udang
aktif bergerak pada malam hari,
HASIL DAN PEMBAHASAN
nafsu makan normal. Waktu
1. Kondisi morfologi udang
perendaman 1 jam menunjukkan
vannamei yang sehat
Tidak aktif bergerak (lambat)
Berdasarkan pengamatan
berdiam diri didasar kolam dan
kondisi morfologi udang vannamei
respon sangat rendah, Tubuh,
menunjukkan perilaku yang
ekor, kaki jalan, kaki renang
normal diantaranya pada siang
berwarna kemerahan, pakan
hari udang terlihat berdiam diri di
masih utuh. Waktu perendaman 2
dasar perairan dan bergerak di
jam menunjukkan gerakan lambat,
dasar saja tanpa memunculkan
Tubuh, ekor, kaki jalan, kaki
diri di atas permukaan air.
renang berwarna kemerahan,
Sedangkan pada malam hari
Udang berenang ke permukaan
udang terlihat bergerak aktif
dan sangat lemah kemudian
memakan makanan yang telah
tergelepar ke dasar kolam. Waktu
diberikan. Kondisi udang
perendaman 3 jam menunjukkan
vannamei yang normal ini
gerakan lambat, Tubuh, ekor, kaki
ditunjukkan pada perlakuan
jalan, kaki renang berwarna
kontrol (tanpa perlakuan
kemerahan, udang lemah dan
pemberian dosis virus). Perilaku
tergelepar didasar kolam.
udang yang lain ditunjukkan
3. Tingkat Infeksi Virus WSSV
seperti respon udang terhadap
Berdasarkan Skoring
rangsangan yang ada seperti Tingkat Infeksi Virus WSSV
cahaya dan sentuhan. Hal ini Berdasarkan Skoring diperoleh
terlihat pada malam hari ketika hasil total tertinggi udang yang
diberikan cahaya dari lampu terinfeksi virus wssv pada
senter maka udang akan perlakuan waktu perendaman 2
mendekati sumber cahaya. Begitu jam dengan skoring 3 sebesar 26
juga dengan adanya rangsangan ekor, perlakuan waktu
3
perendaman 3 jam dengan skoring yang telah dilakukan Hasil
2 sebesar 35 ekor, dan perlakuan kuantitatif DNA menunjukkan
waktu perendaman 4 jam dengan nilai konsentrasi DNA total yang
skoring 2 sebesar 36 ekor. Dari disajikan pada Tabel 1
analisis data tersebut didapatkan Sampel Konsentra Kemurnian
grafik rata-rata jumlah udang si DNA DNA
(ng/µl) (260/280)
yang terinfeksi virus WSSV Skoring 278,03 2,14
sebagai berikut : 1
Skoring 5,06 1,89
2
Skoring 7,86 1,87
3
Berdasarkan Tabel diatas
dapat dilihat bahwa konsentrasi
DNA dari masing-masing sampel
Dari hasil grafik di atas
berbeda yaitu berkisar antara
disimpulkan bahwa rata-rata
5,06 ng/µl – 278,03 ng/µl. Ini
kematian pada skoring 3 (infeksi
menunjukkan hasil dari ekstraksi
berat) tertinggi pada perlakuan 2
DNA pada sampel udang sudah
jam perendaman sebesar 9 ekor..
dapat digunakan dalam proses
Kematian udang tertinggi terjadi
PCR untuk mendeteksi virus
pada awal perlakuan yakni 2 jam
WSSV pada DNA udang vannamei,
perendaman, diduga merupakan
namun pada sampel dengan
akibat udang mengalami stress
skoring 2 dan 3 diperoleh
dan dalam rangka proses adaptasi
konsentrasi DNA yang relatif
awal. Sedangkan untuk perlakuan
rendah . Hal ini akan berpengaruh
perendaman 3 dan 4 jam
terhadap kualitas amplifikasi
didapatkan nilai rata-rata rendah
DNA. . Hal tersebut juga
dikarenakan lamanya kontak yang
disampaikan oleh Nelson dan
panjang kemungkinan udang lebih
Lightner (2001), hasil ekstraksi
mudah beradaptasi terhadap virus
DNA pada bagian tubuh dari
sehingga udang dapat melakukan
udang yang terinfeksi oleh WSSV
recovery.
dapat berisi hingga 1010 molekul
4. Hasil Analisa DNA Udang
genom WSSV dalam 1 gr DNA
Vannamei
Sebelum dilakukan teknik PCR ekstraksi. Sedangkan untuk hasil
pada DNA sampel, perlu diketahui kuantitatif DNA menunjukkan
keberadaan DNA udang vannamei nilai kemurnian DNA sebesar
dengan mengetahui kuantitas dan 2,01–2,04 pada nilai rasio iptical
kualitas DNA pada hasil ekstraksi density (OD260/280).
4
5. Hasil analisa PCR udang 4) Sampel udang dengan skoring
2
vannamei
5) Sampel udang dengan skoring
Untuk mendukung data
3
morfologi udang vannamei Berdasarkan gambar diatas,
dilakukan uji laboratorium dengan pada sumur 1 berisi DNA leader
menggunakan analisa PCR sebesar 207bp. DNA leader
(Polymerase Chain Reaction) berfungsi untuk mengetahui
dengan primer spesifik untk virus ukuran amplifikasi DNA pada
WSSV yang berfungsi untuk proses running band
mengetahui ekspresi genetik pada elektroforesis. Pada sumur 2
udang vannamei yang terinfeksi terdapat kontrol negatif yang
WSSV. PCR yang digunakan yakni berisi ddH2O, dengan tujuan
PCR secara konvensional untuk mengetahui tidak adanya
menggunakan primer ICP 11 yang kontaminasi DNA pada gel yang di
tersusun atas DNA virus WSSV. running. Apabila pada sumur 2
Sampel yang digunakan adalah muncul adanya band maka hasil
udang vannamei yang terinfeksi running dinyatakan gagal,
virus WSSV dan dikelompokan sedangkan apabila tidak muncul
berdasarkan skoring. Pengambilan adanya band maka hasil running
sampel untuk uji DNA pada PCR dinyatakan berhasil. Pada sumur 3
dilakukan diseluruh tubuh karena berisi DNA udang yang terinfeksi
sampel udang yang dipakai WSSV dengan skoring 1 yaitu
ukuranya relatif kecil. Hasil terinfesi ringan . Pada sumur 4
amplifikasi gen ICP11 ditunjukkan berisi DNA udang yang terinfeksi
sebagai berikut: virus WSSV dengan skoring 2
yaitu terinfeksi sedang. pada
sumur 5 berisi sampel DNA udang
yang terinfeksi virus WSSV
dengan skoring 3 yaitu terinfeksi
berat.
Munculnya band amplifikasi
pada sumur 3 terlihat jelas
dibandingkan pada sumur 4 dan 5,
hal ini disebabkan karena
konsentrasi DNA yang tertutup
Keterangan : oleh komponen lain, yaitu dengan
1) Marker nilai kosentrasi DNA pada sumur
2) Kontrol negatif (-), berisi
ddH2O 3 sebesar 278,03 µg / µL. Sumur 3
3) Sampel udang dengan skoring1 sampai 5 terdapat amplifikasi
5
pada 207 bp, hal ini menjelaskan 10 dapat membunuh udang,
bahwa ketiga kelompok sampel sementara nilai ph dibawah 5
udang positif terserang virus mengakibatkan pertumbuhan
WSSV. udang terhambat. Prabang dan
6. Parameter Kualitas Air
Shalihudin (2002), menyatakan
Suhu
Data hasil pengamatan suhu bahwa udang sangat peka
didapatkan suhu terendah sebesar terhadap perubahan air. Dan pada
23°C dan suhu tertinngi sebesar prinsipnya perguncangan pH akan
25,9°C. Suhu sangat berpengaruh membuat udang stress. Oleh
terhadap kehidupan dan karena itu, kisaran pH pada media
pertumbuhan biota air.Secara pemeliharaan harus dipethanakan
umum laju pertumbuhan agar pertumbuhan udang tetap
meningkat sejalan dengan optimal.
kenaikan suhu, dapat menekan
Oksigen Terlarut
kehidupan hewan budidaya Hasil pengukuran oksigen
bahkan menyebabkan kematian terlarut pada media pemeliharaan
bila peningkatan suhu sampai selama penelitian didapatkan hasil
ekstrim (drastis) (Kordi, 2005) nilai DO terendah sebesar 4.24
Salinitas
dan nilai DO terbesar yaitu
Salinitas berhubungan erat
8.56.Kisaran oksigen tersebut
dengan osmoregulasi hewan air,
dapat mendukung kehidupan
apabila terjadi penurunan
udang karena oksigen terlarut
salinitas secara mendadak dan
yang baik untuk kehidupan udang
dalam kisaran yang cukup besar,
adalah 4-8 ppm.(Amri, 2004).
maka akan menyulitkan hewan
dalam pengaturan osmoregulasi KESIMPULAN DAN SARAN
tubuhnya sehingga dapat Kesimpulan
menyebabkan kematian (Anggoro, Berdasarkan dari hasil
2000). Pada penelitian ini salinitas penilitian ini yang berjudul
terendah sebesar 19 ppt dan “Pengaruh Penginfeksian White
salinitas terbesar yaitu 25 ppt. Spot Syndrome Virus (WSSV)
(Derajat Keasaman) pH
Dengan Waktu Perendaman yang
Hasil pengukuran pH pada
Berbeda Terhadap Morfolgi Udang
penelitian ini didapatkan nilai pH
Vannamei (Litopenaeus Vannamei.”
tertinggi sebesar 7.92 dan nilai
dapat disimpulkan bahwa
pH terendah sebesar 6.95. Nilai
Penginfeksian virus WSSV pada
ini masih dalam kondisi normal
udang vannamei dengan waktu
dan optimum untuk kehidupan
perendaman yang berbeda (120,
udang vannamei. Amri (2003),
180, 240 menit) memiliki
menyatakan pada nilai pH diatas
6
perbedaan pada waktu 120 menit. Rineka Cipta. Jakarta
Hasil deteksi virus dengan metode Lightner.1996. A Hanbook Of
Shrimp Pahtology And
PCR pada udang vannamei yang di
Diagnostic Prosedures For
rendam virus WSSV selama 120, Diaseses Of Culturedpenaeid
Shrimp. The word Aquaculture
180, 240 menit ini, pada masing-
Society. Baton Rouge.
masing sampel teramplifikasinya Louisinia. 70802. USA
DNA virus WSSV. Taslihan, Supito, Erik, Richard.
2005. Teknik Budidaya Udang
Saran Secara Benar. Departemen
kelautan dan perikanan.
Berdasarkan hasil penelitian JeparaIndah, R dan
yang telah dilakukan maka perlu Ramlah.2012.
adanya penelitian lebih lanjut
tentang metode penginfeksian
virus WSSV yang lebih cepat
(efektif) menginfeksi udang
vanname antara metode
perendaman, metode injeksi serta
metode oral (melalui pakan).

DAFTAR PUSTAKA
Amri, K. 2006. Budi Daya Udang
Windu Secara Intensif. Cet. 6.
AgroMedia Pustaka. Jakarta.
98 hal.
Aryani D, Susanto NG. 2008.
Pengaruh Perubahan Salinitas
Terhadap Virulensi Terhadap
White Spot Syndrome Virus
Pada Udang Putih. Prosiding
Seminar Nasional Sain dan
Teknologi II. Universitas
Lampung. Lampung
Anggoro,S., Johannes Hutabarat,
Diana Rachmawati. 2000.
Pengaruh Salinitas Media
Berbeda Terhadap
Pertumbuhan Keong Macan
(Babylonia spirata L.) Pada
Proses Domestikasi. ILMU
KELAUTAN September 2012.
Vol. 17 (3) 141-147
Departemen Kelautan dan
Perikanan. 2003. Jenis Penyakit
Udang Pada Budidaya Perairan
Payau. Belawan medan.
Kordi dan Tancung, 2005.
Pengelolaan Kualitas Air
Dalam Budidaya Perairan.