Anda di halaman 1dari 12

Proses pembakaran batubara dalam industri semen dilakukan dalam Rotary

Kiln:
- Produktivitas industri semen ditentukan oleh produktivitas rotary kiln
- Produktivitas rotary kiln dipengaruhi oleh ketahanan lapisan batutahan api.
- Ketahanan lapisan batutahan api dan effisiensi operasi pembakaran
ditentukan oleh jenis bahan bakar yang dipakai.
Pengaruh parameter kualitas batubara pada industri semen :
a. Nilai kalor :
Konsumen selalu menginginkan batubara dengan nilai kalor tinggi. Hal ini
berkaitan dengan biaya modal dan biaya penggilingan.
b. Kadar abu :
Bisa menggunakan kadar abu yang relatif tinggi, tetapi dengan persyaratan:
- Senyawa SiO2 , Al2O3, Fe2O3, CaO prosentasenya janga berfluktuasi
- Kadar MgO tidak diinginkan dalam industri semen, karena akan
mengurangi daya rekat semen yang dihasilkan.
c. Titik leleh abu :
- Titik leleh abu rendah kurang disukai, karena slag yang terbentuk sukar
terserap oleh klinker.
- Slag tersebut juga membentuk cincin di daerah sintering (sehingga akan
menghambat jalannya rotary kiln).
d. HGI:
- Batubara dengan HGI kecil memerlukan alat penggiling yang berukuran
lebih besar, dan energi lebih besar
- Alat penggiling yang digunakan : Ball Mill, Pulverizer dan Ring Roll
Mill.
- Untuk batubara dengan H G I kecil dan sifat abrassivitas kuat, tidak
cocok bila digunakan Ring Roll Mill, karena :
- Kapasitas akan turun
- Ukuran butir produk lebih besar sehingga akan berpengaruh pada proses
pembakaran.
e. Kadar air :
- Maksimum 12 %, akan berpengaruh pada kapasitas penggilingan.
f. Kadar belerang :
- Maksimum 8 %, kadar alkali dalam abu maks 2 %, supaya tidak
mengganggu operasi rotary kiln dan tidak menurunkan kualitas semen.
Hal yg diperlukan dalam operasi pembakaran dalam rotary kiln :

- Temperatur yang dihasilkan tinggi dan menghasilkan heat transfer yang


lebih besar.
- Antracite : nilai kalor tinggi, nyala api lebih panjang, sehingga tidak
disukai untuk industri semen.
- Lignit : volatile matter tinggi, heating value rendah, suhu lebih rendah,
sehingga tidak disukai.
- Bituminous : zat terbang cukup, nilai kalor relatif tinggi sehingga disukai
dalam industri semen.
Penyiapan batubara dan system pengumpanan kedalam rotary kiln :
- Untuk mendapatkan ukuran butir 200 mesh, diperlukan alat penggiling.
- Alat penggiling dilengkapi dengan alat untuk menangkap ukuran butir
halus.
- Misal kombinasi antara Ring Roll Mill dengan Cyclone.
- Untuk Pullverizer sudah dilengkapi dengan cyclone

Pada proses penggilingan juga dibantu pemasukan udara panas untuk mengurangi
kadar air batubara :
- Sistem pengumpanan batubara halus ke dalam rotary kiln Dirrect system:
- Indirect system
- Semi indirect system
- Multi poin mini bin system.
Gambar 2.3 Indirect system (Mintus, 2005).

Gambar 2.4 Semi direct fired system (Sarofim, 2001).


Gambar 2.5 Multi poin mini bin system (Ranade, 2006)

Operasi pembakaran batubara pada rotary kiln dipengaruhi oleh :


1. udara primer :
Dalam pembakaran batubara pada rotary kiln, digunakan udara pembakaran.
Ada dua berdasarkan proses pemasukannya : udara primer dan udara sekunder
Fungsi udara primer :
- Sebagai nedia transportasi untuk injeksi batubara dalam rotary kiln.
- Alat pengendali nyala api.
- Temperatur udara primer rendah, dicampur dengan udara sekunder
sehingga didapat temperatur udara campuran juga rendah.
- Pemakaian udara primer 15- 20 % dari kebutuhan udara pembakaran.

2. Udara sekunder
- Digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan udara dalam proses
pembakaran, yang terdiri atas kebutuhan udara teoritis dan udara lebih.
3. Udara lebih
 Berdasarkan teori kinetika reaksi, bahan bakar gas dan cair lebih reaktif
terhadap oksigen dibandingkan dengan reaktifitas oksigen terhadap
batubara.
 Hal ini disebabkan pembakaran batubara akan memalui tahapan :
• Pemindahan panas dari burning zone ke partikel batubara secara
konveksi dan radiasi.
• Perpindahan panas melalui lapisan abu yang bersifat isolator menuju
front oksidasi.
• CO2 , SO2, CO dan H2 berdifusi dari zone oksidasi ke bagian luar partikel
batubara.
 Sehingga untuk mencapai proses pembakaran sempurna selain dibutuhkan
jumlah udara teoritis, juga diperlukan sejumlah udara lebih.
 Apabila jumlah udara lebih terlalu banyak dapat menimbul kan masalah :
• Kerugian panas karena terserap oleh kelebihan udara tersebut.
• Transfer panas antara udara dan material dalam kiln kurang sempurna
karena waktu tinggal udara lebih dalam kiln relatif rendah.

4. Kadar air dalam batubara akan merugikan karena panas yang dihasilkan akan
berkurang.
5. Stabilitas umpan
Bahan bakar batubara dalam ukuran halus menyebabkan sukar diperoleh
proses pengumpanan yang betul-betul stabil ke dalam kiln. Sehingga panas
pembakaran dalam rotary kiln tidak stabil.
6. Mineral matter
Proses pencucian yang tidak baik menyebabkan masih terdapat kadar
mineral matter dalam batubara, sehingga menurunkan panas dalam batubara
(Rahadja, 1990).

1.2. Bahan Bakar Rotary Kiln


Secara umum, berdasarkan wujudnya, bahan bakar dapat diklasifikasikan
menjadi 3 (tiga) jenis yaitu bahan bakar padat, cair dan gas. Contoh bahan bakar
padat adalah batu bara, arang, kayu, pet coke, dan lain-lain. Untuk bahan bakar
cair misalnya IDO, minyak solar, bensin, minyak tanah, bahan bakar sintetik, dan
lain-lainnya.
Sedangkan yang wujudnya gas antara lain LPG, gas alam, dan lainnya.
Dalam diskusi selanjutnya kita batasi lingkup bahasan yang kita kaji terutama
untuk bahan bakar batu Batubara yang di gunakan pada industri semen .
Batubara diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan pada sifat-
sifat dan umur terbentuknya antara lain lignit, bituminous, anthracite, dan lain-
lain. Beberapa sifat yang membedakan antara beberapa jenis batubara tersebut
antara lain didasarkan pada umur terbentuknya batubara mulai dari yang termuda
dengan kadar volatile yang tinggi, berumur menengah seperti bituminous hingga
yang paling tua yaitu anthracite dengan kadar volatile yang rendah. Kandungan
volatile ini mempunyai pola kecenderungan yang sama dengan kadar air.
Dengan umur batubara yang lebih tua maka kandungan airnya akan semakin
sedikit dan unsur padatan lainnya semakin kompak. Namun untuk kandungan ash
(debu) dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa kadarnya bukan merupakan
fungsi dari umur batubara. Oleh sebab itu kandungan debu perlu diketahui melalui
uji laboratorium.
Semakin tua umur batubara kadar elemen yang berbentuk gas seperti
hidrogen, nitrogen, dan oksigen mengecil dan sebaliknya kadar karbonnya akan
meningkat. Apabila dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan gas, kadar
hidrogen pada batubara relatif lebih rendah (hanya berkisar antara 2 – 5% H),
sehingga gas hasil pembakarannya akan mengandung uap air yang lebih sedikit
dan perbedaan antara gross dan net heating value adalah kecil (berkisar 200-300
kkal/kg).
Nilai kalor batubara sangat tergantung pada kandungan air dan debu. Akan
tetapi kadar volatile juga berpengaruh secara kompleks pada nilai kalor ini.
Karena rangkaian hidrokarbon pada batubara menghasilkan nilai kalor yang lebih
tinggi dibanding karbon bebas, maka pada umumnya untuk batubara dengan umur
menengah hingga tua kenaikan kadar volatile akan meningkatkan nilai kalornya.
Namun untuk lignite yang memiliki kadar gas tinggi, hal sebaliknya justru yang
diperoleh karena proporsi unsur nitrogen dan oksigen dalam volatile matter
meningkat , dan seperti kita ketahui bahwa kedua unsur ini tidak menghasilkan
kalor pada proses pembakaran bahkan justru menurunkan temperatur
adiabatiknya.
Kadar belerang dalam batubara bervariasi tergantung pada asal tambang
batubara tersebut. Beberapa tempat mengandung kadar sulphur rendah, namun di
lain tempat bisa tinggi. Kandungan sulphur ini sangat berpengaruh pada operasi
pembakaran di kiln, mengingat sifat-sifatnya yang kurang menguntungkan antara
lain dapat mempengaruhi fluiditas raw mix dan lainnya. Oleh karena itu biasanya
diinginkan batubara dengan kadar belerang yang rendah untuk operasi
pembakaran rotary kiln.

1.3. Burner Untuk Batubara


Peristiwa pembakaran merupakan reaksi antara bahan bakar batubara dan
oksidator yang umunya digunakan di industri adalah udara (air).
• Reaksi pembakaran menghasilkan panas yang diwujudkan dalam bentuk
temperatur gas hasil bakar tinggi di atas 800 derajat Celcius.
• Gas hasil bakar atau zona reaksi pembakaran dihasilkan dalam bentuk volume
yang mempunyai warna yang memijar (warna oranye atau kuning biru) yang
disebut lidah api atau flame.
• Burner secara teknologi didefinisikan sebagai sebuah alat perwujudan,
pelokasian, pembentuk dan penahanan flame.
b. Fungsi Burner
• Mencampurkan pasokan bahan bakar dan udara.
• Mewujudkan terjadinya reaksi pembakaran antara bahan bakar dengan udara
untuk memenuhi kriteria fungsi dan lingkungan.
 Menjaga api (flame) yang terbentuk stabil.
 Menciptakan karakteristik api yang diperlukan.
 Mendistribusikan panas pembakaran sesuai dengan karakteristik
perpindahan panas yang diinginkan.
c. Kelengkapan Burner
• Perangkat pemasokan dan pendistribusian udara untuk pencampuran yang
baik dengan bahan bakar.
• Perangkat pemasokan dan pendistribusian bahan bakar untuk mendapatkan
pencampuran yang baik dengan udara.
• Perangkat pemulaan pengapian (Ignitor).
• Sumber api yang kontinu (pilot flame).
• Ruang/alat penambatan api untuk mendapatkan api yang stabil.
• Ruang penciptaan bahan bakar dan udara untuk menghasilkan karakteris
• Alat monitoring api ( nyala atau mati )
d. Konsideran pada Operasi dan PerancanganBurner
Geometri dan ukuran burner ditentukan oleh faktor-faktor yang menjadi
konsideran sehingga burner berfungsi sesuai dengan keperluan proses.
Faktor-faktor konsideran tersebut adalah:
1. Metoda pencampuran bahan bakar dan udara yaitu dengan
 pencampuran sempurna sebelum terjadi reaksi pembakaran (premixed),
menghasilkan premixed flame.
 pencampuran diikuti langsung dengan reaksi pembakaran menghasilkan
diffusion flame.
2. Fasa bahan bakar berupa gas, cair atau padat yang memerlukan teknik
pendistribusian bahan bakar yang berbeda menghasilkan rancangan burner
berbeda pula.
3. Ruang keberadaan api dari burner yang dapat pada
 ruang terbuka tanpa dinding menghasilkan api dalam ruang bebas.
 ruang tertutup dibatasi dinding menghasilkan api terkungkung.
4. Panjang api yang diiinginkan akan memberikan burner dengan flame pendek
atau api panjang.
5. Aplikasi burner untuk industri atau domestik.
6. susunan api yang memberikan klarifikasi burner flame tunggal atau flame
jamak dalam bentuk matrik seperti matrik burner
7. bentuk flame berupa burner api slinder api lebar dan tipis.
8. opserpasi dan perancangan burner dikendalikan oleh fenomena pembakaran
bahan bakar dan fenomena pembakaran bergantung pada jenis bahan bakar.
Karena hampir seluruh pabrik semen di Indonesia berbahan bakar utama
batubara dan tipe pabrik semennya juga bervariasi, maka tentu saja banyak sekali
tipe burner yang digunakan untuk mebakar batu bara ini yang digunakan di
Indonesia seperti Pillard, FLS (uniflow, swirlax, dan centrax), UBE dan lain
sebagainya.
Beberapa gambar dari jenis-jenis burner batubara diberikan dalam
lampiran. Apapun jenis burnernya yang lebih penting adalah bentuk nyala yang
dihasilkan untuk batubara yang kita bakar karena bentuk nyala erat kaitannya
dengan kualitas operasi kiln. Pengontrolan pembentukan nyala sangat kompleks
karena disamping tergantung pada mekanisme bahan bakar dan udara primer yang
keluar dari mulut burner, juga dipengaruhi oleh pencampurannya dengan udara
sekunder dan kondisi di dalam kiln itu sendiri. Terdapat dua alternatif untuk
mengatur semburan udara dan batubara serbuk yang dapat diatur secara terpisah
atau sendiri-sendiri, yaitu:
1. Komponen kecepatan aksial di bagian dalam dan komponen kecepatan
radial di bagian luar yang bertujuan untuk membentuk dua daerah nyala
sehingga diperoleh bentuk nyala yang disebut cone flame.
2. Komponen kecepatan aksial di luar dan komponen kecepatan radial di
dalam yang bertujuan untuk membentuk nyala yang disebut hollow cone
flame atau api dengan bentuk tirus tetapi ditengahnya berlubang.

Gambar 2.6. Centrax burner Tipe LO (Machpee, 2009).

Perbedaan dari kedua bentuk api tersebut akan lebih mudah apabila
diterangkan dengan gambar-gambar seperti berikut ini :
Gambar 2.7 Proses with con dan with hollow (Mujumdar, 2006).

Penjelasan kedua gambar tersebut adalah sebagai berikut:


Untuk cone flame:
Titik A :
Bagian luar, komponen radial dari gas menyebabkan nyala terpancar
dengan bentuk konis sehingga pada bagian tengah akan terjadi tekanan yang lebih
rendah dan diisi oleh komponen aliran aksial gas yang menyembur pada bagian
tengah.
Titik B :
Arus balik dari gas panas hasil proses pembakaran menyebabkan
hidrokarbon menjadi tinggi temperaturnya dan terurai. Pembentukan jelaga hasil
pencampuran yang tidak sempurna dengan udara sekunder akan memperbaiki
radiasi dari nyala.
Titik C :
Terjadinya perbedaan momentum yang tinggi pada daerah C ini antara gas
yang keluar dari mulut burner dan udara sekunder akan mengakibatkan
pencampuran dan pembakaran sangat cepat sehingga terbentuknya jelaga sangat
tipis di daerah ini. Pemanasan, peruraian dan pembakaran dimulai segera dari
permukaan konis dan sedikit terlambat pada bagian tengah.
Untuk hollow cone flame:
Titik A :
Komponen kecepatan aliran radial menempati bagian dalam sehingga
menyebabkan terbentuknya daerah bertekanan rendah yang luas pada bagian
dalam nyala.
Titik B :
Daerah bertekanan rendah yang lebih luas di bagian dalam akan
menyebabkan aliran balik gas hasil pembakaran sehingga tempat terjadinya
temperatur maksimum lebih dekat ke kiln outlet. Pada waktu yang bersamaan
terjadi pula penguraian hidrokarbon tanpa adanya udara di bagian tengah sehingga
terbentuk jelaga yang lebih awal pada permukaan bagian dalam nyala, sehingga
emisivitas maksimum atau perpindahan panas maksimum terjadi lebih mendekat
ke arah kiln outlet.
Titik C :
Kejadiannya sama dengan cone flame, hanya pada hollow cone flame
persiapan pemanasan bahan bakar terjadi hampir bersamaan antara bagian dalam
dan bagian luar dari hollow cone. Karena adanya peningkatan pembentukan jelaga
maka nyala tipe ini cnderung lebih pendek dengan kerapatan energi yang tinggi
dan lebih terang.
Berdasarkan sifat nyala dari kedua tipe nyala tersebut, apabila diterapkan pada
proses pembakaran di kiln, maka tipe hollow cone flame dirasa lebih cocok
karena dengan adanya sirkulasi internal dari gas panas menunjukkan kestabilan
nyala yang lebih baik.