Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi bahan dasar yang sesuai. Istilah inisecara
tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi yang relatif cair diformulasi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari
emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditunjukkan
untuk penggunaan kosmetik dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian
obat melalui vaginal (Ditjen POM, 1995).
Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60% dan dimasukkan utuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim, krim
tipe minyak air dan krim tipe air minyak. Stabilitas krim rusak, terganggu sistem
campurannya terutama disebabkan perubahan suhu dan perubahan komposisi
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua
tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran
krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus
dilakukan dengan teknik aseptik.( Ditjen POM, 1979).
Krim didefenisikan sebagai “cairan kental atau emulsi setengah padat baik
bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air”. Krim biasanya digunakan
sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. Istilah krim secara luas
digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, dan banyak produk dalm
perdagangan disebut sebagai krim tetapi tidak sesuai dengan bunyi defenisi diatas.
Istilah perkutan menunjukkan bahwa penembusan terjadi pada lapisan epidermis
dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan Banyak hasil prduksi yang nampaknya
seperti krim tetapi tidak mempunyai dasar dengan jenis emulsi, biasanya disebut
krim (Ansel, 2008).
Krim dapat digunakan sebagai vehikulum zat berkhasiat, antara lain
antibiotika, antiseptika, kemoterapetika, hormon, analgetika, laksatif, vitamin, dan
lain-lain (Admar 2007).

1
1.2 Prinsip Percobaan
Pada percobaan krim diperlukan zat pengelmusi yang harus sesuai dengan
jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe a/m digunakan cera alba,
sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan tween.
1.3 Tujuan Percobaan
 Mengetahui tentang pengertian krim
 Mengetahui bahan penyusun cream
 Mengetahui cara pembuatan cream, cara penyimpanannya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Krim didefenisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik
bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan
sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. Istilah krim secara luas
digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, dan banyak produk dalam
perdagangan disebut sebagai krim tetapi tidak sesuai dengan bunyi defenisi diatas.
Banyak hasil prduksi yang nampaknya seperti krim tetapi tidak mempunyai dasar
dengan jenis emulsi, biasanya disebut krim. Apa yang disebut vanishing cream
umumnya emulsi minyak dalam air, mengandung air dalam persentase yang besar
dan asam stereat. Setelah pemakaian krim, air menguap meninggalkan sisa berupa
selaput asam stearat yang tipis (Ansel, 2008).
Banyak dokter dan pasien lebih suka pada krim dari pada salep, untuk satu
hal, umumnya mudah menyebar rata dan dalam hal krim dari emulsi jenis minyak
dalam air lebih muda dibersihkan dari pada kebanyakan salep. Pabrik farmasi
sering memesarkan preparat topikalnya dalam bentuk dasr krim maupun salep,
kedua-duanya untuk meuaskan kesukaan dari dokter dan pasien. Krim dikemas
dan diawetkan dalam cara yang sama seperti yang telah didiskusikan terdahulu
pada salep (Ansel, 2008).
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara
tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi yang relatif cair diformulasi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari
emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditunjukkan
untuk penggunaan kosmetik dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian
obat melalui vaginal (Ditjen POM, 1995).
Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60% dan dimasukkan utuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim, krim
tipe minyak air dan krim tipe air minyak. Stabilitas krim rusak, terganggu sistem
campurannya terutama disebabkan perubahan suhu dan perubahan komposisi

3
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua
tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran
krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus
dilakukan dengan teknik aseptik. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan 1
bulan. Zat pengemulsi pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis
dan sifat krim yang dikehendaki. Sebagai zat pengemulsi dapat digunakan
emulgid, lemak bulu domba, setaseam, setil alkohol, stearil alkohol,
trietanolaminil stearat dan golongan sorbit, poliserbat, polietilenglikol, sabun. Zat
pengawet umumnya digunakan metil paraben 0,12% hingga 0,18% atau propil
paraben 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik atau tube,
ditempat sejuk. Penandaan etiket harus juga tertera: ”Obat Luar” (Ditjen POM,
1979).
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam dasar krim
yang dimaksud kan untuk obat luar. Sediaan ini memiliki konsistensi relatif cair
yang diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Tipe air
dalam minyak mudah kering dan rusak. Kandungan air dalam krim tidak kurang
60%. Zat pengemulsi hampir sama dengan emulgator. Pemilihan sulfaktan
berdasarkan jenis dan sifat krim yang dikehendaki (Admar, 2007).
Zat pengemulsinya adalah
 Surfaktan anion, kation dan non anion
 TEA dan asam stereat tipe (M/A)
 Gol. Sorbitan
 Poliglikol
 Sabun
 Adeps lanae, untuk krim tipe (A/M)
 Setil alkohol
 Cetaceum dan emulgid (Admar, 2007).
Penyimpanannya: krim disimpan dalam wadah (tube) tertutup baik diletakkan
ditempat sejuk. Air yang terkandung dalam cream pada fase luar muda menguap
bila suhu panas (Admar, 2007).

4
Catatan:
 Stabilitas krim tergangu oleh sistem capuran
 Dianjurkan peracikan secara aseptik
 Pengenceran krim hanya dapat dilakukan dengan bahan yang cocok
 Alat yang digunakan harus aseptik
 Jika menggunakan tube alumunium, tidak boleh menggunakan pengawet
raksa organik
 Pada etiket tertera “obat luar” (Admar, 2007).
Penggunaan Sediaan Krim
 Obat topikal
 Obat melalui vaginal
 Kosmetik dan estetika
 Sebagai emolien dan protektif (Anief, 2006).
Krim dapat digunakan sebagai vehikulum zat berkhasiat, antara lain
antibiotika, antiseptika, kemoterapetika, hormon, analgetika, laksatif, vitamin, dan
lain-lain (Admar 2007)
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal
asam–asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci
dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakain kosmetika dan estetika. Krim
dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Ada 2 tipe krim yaitu
krim tipe minyak dalam air (m/a) dan krim tipe air dalam minyak (a/m).
Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang
dikehendaki. Untuk krim tipe a/m digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae,
kolsterol dan cera. Sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan sabun monovalen,
seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat.
Selain itu juga dipakai tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatinum,
caseinum, cmc dan emulygidum. Kestabilan krim akan terganggu/rusak jika
sistem campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan
perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara
berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencernya yang cocok

5
dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim yang sudah diencerkan harus
digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umumnya
digunakan metil paraben (nipagin) dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil
paraben (nipasol) dengan kadar 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan krim
dilakukan dalam wadah tertutup baik atau tube ditempat sejuk, penandaan pada
etiket harus juga tertera ’’obat luar’’. Cream M/A Biasanya digunakan pada kulit,
mudah dicuci, sebagai pembawa dipakai pengemulsi campuran surfaktan (Aiache,
1993).
Kelebihan & Kekurangan Sediaan Krim
Kelebihan sediaan krim, yaitu :
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
8. Bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup
beracun (Aiache, 1993).
Kekurangan sediaan krim, yaitu :
1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas
2. Mudah pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu
system campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan
komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan
(Aiache, 1993).
Bahan-Bahan Penyusun Krim
Formula dasar krim, antara lain :
 Fase minyak, yaitu bahan obat dalam minyak, bersifat asam
Contoh : asam asetat, paraffin liq, octaceum,cera, vaselin, dan lain-lain.
 Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.

6
Contoh : Natr, Tetraborat (borax, Na. Biborat), TEA, NAOH, KOH,
gliserin, dan lain-lain (Aiache, 1993).
Bahan – bahan penyusun krim, misalnya; Zat berkhasiat, minyak, air dan
pengemulsi (Aiache, 1993).
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan
dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat/dikehendaki. Sebagai bahan
pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba, setaseum, setil
alcohol, stearil alcohol, trietanolalamin stearat, polisorbat, PEG (Aiache, 1993).
Bahan – bahan tambahan dalam sediaan krim, misalnya zat pengawet untuk
meningkatkan stabilitas sediaan (Aiache, 1993).
Bahan pengawer sering digunakan umumnya metal paraben 0,12 – 0,18 % propel
paraben 0,02 – 0,05 %.
 Pendapurnya untuk mempertahankan PH sediaan
 Pelembab
 Antioksidanya untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya
pada minyak tak jenuh.
Cara Absorpsi
Absorpsi Perkutan
Absorpsi perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan suatu
senyawa dari lingkungan luar ke bagian kulit dalam dan fenomena penyerapan
dari struktur kulit ke dalam peredaran darah getah bening. Istilah perkutan
menunjukkan bahwa penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan
dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda (Aiache, 1993).
Fenomena absorpsi perkutan (permeasi pada kulit) dapat digambarkan
dalam tiga tahap yaitu penetrasi pada permukaan stratum korneum, difusi melalui
stratum korneum, epidermis dan dermis, masuknya molekul ke dalam sirkulasi
sistemik. Penetrasi melalui stratum korneum dapat terjadi melalui penetrasi
transepidermal dan penetrasi transappendageal. Pada kulit normal, jalur penetrasi
obat umumnya melalui epidermis (transepidermal), dibandingkan penetrasi
melalui folikel rambut maupun melewati kelenjar keringat (transappendageal).
Jumlah obat yang terpenetrasi melalui jalur transepidermal berdasarkan luas

7
permukaan pengolesan dan tebal membran. Kulit merupakan organ yang bersifat
aktif secara metabolik dan kemungkinan dapat merubah obat setelah penggunaan
secara topikal. Biotransformasi yang terjadi ini dapat berperan sebagai faktor
penentu kecepatan (rate limiting step) pada proses absorpsi perkutan (Swarbrick
1995).
Difusi obat melalui membran
Difusi melalui lapisan tanduk (stratum korneum) merupakan suatu proses
yang pasif. Difusi pasif merupakan suatu proses perpindahan masa dari tempat
yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. Membran
dalam kajian formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat, setengah
padat atau cair dengan ukuran tertentu, tidak larut atau tidak tercampurkan dengan
lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dan lainnya, umumnya oleh fase cair.
Dalam biofarmasi, membran padat digunakan sebagai model pendekatan
membran biologis. Membran padat juga digunakan sebagai model untuk
mempelajari kompleks atau interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan serta
proses pelepasan dan pelarutan (Aiache, 1993).
Dalam studi pelepasan zat aktif yang berada dalam suatu bentuk sediaan
digunakan membran padat tiruan yang berfungsi sebagai sawar yang memisahkan
sediaan dengan cairan disekitarnya. Teknik pengukuran laju pelepasan yang tidak
menggunakan membran akan mengalami kesulitan karena perubahan yang cepat
dari luas permukaan sediaan yang kontak dengan larutan uji. Pengadukan pada
media reseptor sangat berperan untuk mencegah kejenuhan lapisan difusi yang
kontak dengan membran (Aiache, 1993).
Perlintasan dalam membran sintetik umumnya berlangsung dalam dua
tahap. Tahap awal adalah proses difusi zat aktif menuju permukaan yang kontak
dengan membran. Pada tahap ini daya difusi merupakan mekanisme pertama
untuk menembus daerah yang tidak diaduk, dari lapisan yang kontak dengan
membran. Tahap kedua adalah pengangkutan. Tahap ini dapat dibagi atas dua
bagian. Bagian yang pertama adalah penstabilan gradien konsentrasi molekul
yang melintasi membran sehingga difusi terjadi secara homogen dan tetap. Bagian
yang kedua adalah difusi dalam cara dan jumlah yang tetap. Hal ini menunjukkan
bahwa perbedaan konsentrasi tidak berubah sebagai fungsi waktu (Aiache, 1993).

8
Krim (Cremoris) adalah suatu salep yang berupa emulsi kental
mengandung tidak kurang 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim
ada yang A/M dan ada M/A. Sebagai pengemulsi dapat berupa surfaktan anionik,
kationik dan nonionik. Untuk krim tipe A/M digunakan :
 Sabun Monovalen
 Tween
 Natrium laurysulfat
 Emulgidum
 Dan lain-lain
Krim tipe M/A mudah dicuci air (Anief, 1997).
Kulit adalah suatu shell yang fleksibel, mudah melentur, protektif,
mengatur diri sendiri yang melindungi sistem hidup kita. Shell mengandung
sistem sirkulasi dan sistem evaporasi untuk menstabilkan temperatur dan tekanan
badan, sistem pelemas sendiri dan merupakan alat untuk mendeteksi stimuli dari
luar. Kulit tersusun oleh banyak macam jaringan, termasuk pembuluh darah,
kelenjar lemak, kelenjar keringat, organ pembulh perasa dan urat syarat, jaringan
pengikat, otot polos dan lemak. Diperkirakan luas permukaan kulit ± 18 kaki
kuadrat. Berat kulit tanpa lemak adalah ± 8 pond. (Admar, 2007).
Epidermis
Epidermis, sebagai sawar dasar kulit terhadap kehilangan air, elektrolit
dan nutrisi dari badan dan sawar dasar terhadap penetrasi air dan substansi asing
dari luar badan. Epidermis juga mencegah atau menghambat kehilangan air dari
badan, hingga semua jaringan yang lain menjaga keseimbangan dinamis dengan
lingkungan dalam. Epidermis merupakan lapisan kulit luar, denga tabel 0,16mm
pada pelupuk mata sampai 0,8mm pada telapak tangan dan telapak kaki.
Epidermis dapat dibagi menjadi 5 lapisan :
 Stratum corneum (lapisan tanduk)
 Stratum lucidum (daerah sawar)
 Stratum granulosum (lapisan seperti butir)
 Stratum spinosum (lapisan sel duri)
 Stratum derminativum (lapisan sel basal) (Admar, 2007).

9
Krim emulsi olahan mengandung air. mereka rentan terhadap
pertumbuhan mikroba yang dapat menyebabkan pembusukan krim atau penyakit
pada pasien. sedangkan pengawet disertakan, mereka biasanya tidak memadai
untuk mengatasi kontaminasi mikrobial berat dan sehingga kemungkinan
kontaminasi mikrobial selama persiapan harus diminimalkan. teknik aseptik
idealnya harus digunakan, tetapi ini biasanya tidak mungkin dalam pengeluaran
tanpa persiapan dan kebersihan begitu menyeluruh digunakan. minimal, semua
alat dan akhir wadah harus dibersihkan dan dibilas dengan segar (Admar, 2007).
Penuaan pada kulit merupakan suatu proses biologis kompleks sebagai
hasil dari penuaan intrinsik (dari dalam tubuh seperti genetik) dan penuaan
ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor ekstrinsik yang paling berperan dalam
penuaan adalah radikal bebas. Radikal bebas dapat memberikan dampak besar
terhadap terjadinya proses penuaan karena dapat menyebabkan stres oksidatif
yang berperan penting dalam proses penuaan (Safitri, 2010).
Krim merupakan suatu sediaan setengah padat berupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60% (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1979). Emulsi merupakan campuran dari fase air dan fase minyak,
sehingga dibutuhkan emulgator untuk membentuk emulsi yang baik yaitu keadaan
dimana kedua fase dapat bergabung. Tanpa adanya emulgator yang sesuai maka
emulsi akan membentuk creaming, flokulasi, koalesensi, dan inversi yang disebut
sebagai fenomena ketidakstabilan emulsi. Selain itu emulgator memiliki peranan
penting yaitu sebagai penetrating enhancer sehingga dapat mempercepat absorbsi
dari zat aktif. Emulgator yang sering digunakan adalah golongan surfaktan, yang
dapat dibagi menjadi empat macam yaitu nonionik (contoh Tween 80, Span 80),
kationik (contoh cetrimide, cetylpyridinium chloride), anionik (contoh sodium
oleate, triethanolamine), dan amfoterik (mengandung dua gugus hidrofil dan
lipofil) (Safitri, 2010).

10
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Formula
1. Cold cream ( ungt.Leniens )
R/ Parafin liq 51
Cetaceum 6,5
Acid stearic 6,4
Cera alba 2,5
TEA 0,8
Natr. Biborat 0,8
Gliserin 1
Parfum q.s
Aqua ad 100
m.f.cold cream
s.u.e
#
Pro: Dina
2. Vanishing cream
R/ Acid stearinic 142
Gliserin 100
Natr. Biborat 2,5
TEA 10
Aquadest 750
m.f.cream
s.u.e
#
Pro: Juli
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat-alat
 Lumpang dan alu
 Batang pengaduk

11
 Beaker glass
 Cawan porselin
 Gelas arloji
 Gelas ukur
 Timbangan Miligram dan Gram
 Serbet
 Kertas perkamen
 Tisu
 Water bath
 Pipet tetes
 Pot plastik
 Kertas label
 Spatula
3.2.2 Bahan-bahan
 Parafin liquid
 Cetaceum
 Acid stearic
 Cera alba
 TEA
 Gliserin
 Aqua Rosae
 Aqua ad
 Natr. Biborat
3.3 Perhitungan
1. Cold cream ( ungt.Leniens )
Resep cold cream dibawah ini akan dibuat sebanyak 50 gram
51
R/ Parafin liq 51 g berarti 𝑥 50 = 25,5 g
100
6,5
Cetaceum 6,5 g berarti 𝑥 50 = 3,25 g
100
6,4
Acid stearic 6,4 g berarti 𝑥 50 = 3,2 g
100

12
2,5
Cera alba 2,5 g berarti 𝑥 50 = 1,25 g
100
0,8
TEA 0,8 g berarti 𝑥 50 = 0,4 g
100
0,8
Natr. Biborat 0,8 g berarti 𝑥 50 = 0,4 g
100
1
Gliserin 1 g berarti 𝑥 50 = 0,5 g
100

Aqua Rosae q.s = 3 tetes


100
Aqua ad 100 berarti 𝑥 50 = 0,5 g
100

Sehingga bahan obat yang akan ditambahkan aqua sebanyak:


= 50 – (25,5 + 3, 25 + 3,2 + 1,25 + 0,4 +0,4 + 0,5)
= 50 – 34,5
= 15,5 ml
2. Vanishing cream
Resep vanishing cream dibawah ini akan dibuat sebanyak 50 gram
142
R/ Acid stearinic 142 g berarti 𝑥 50 = 7,07 g
1004,5
100
Gliserin 100 g berarti 𝑥 50 = 4,97 g
1004,5
2,5
Natr. Biborat 2,5 g berarti 𝑥 50 = 0,12 g
1004,5
10
TEA 10 g berarti 𝑥 50 = 0,49 g
1004,5
750
Aquadest 750 g berarti 𝑥 50 = 37,34 g
1004,5

3.4 Prosedur Kerja


1. Cold cream ( ungt.Leniens )
 Dihitung terlebih dulu bahan obat dengan perbandingan 1 : 10.
 Ditimbang masing- masing bahan.
 Dilebur bahan obat seperti parafin, cetaceum, acid stearic dan cera
alba dalam cawan di atas water bath.
 Dilarutkan TEA dan Natr. Biborat dengan air panas didalam beaker
glass.
 Dipanaskan lumpang dengan menambahkan air panas kemudian
dibuang.

13
 Dicampur hasil leburan dan hasil larutan yang telas dicampur tadi
sedikit demi sedikit kedalam lumpang panas.
 Digerus perlahan dan kemudian digerus agak cepat agar minyaknya
dapat bercampur dengan air sambil menambahkan gliserin sedikit
demi sedikit.
 Ditambahkan parfum aqua rosae 3 tetes pada krim.
 Dimasukkan krim ke dalam pot plastik.
 Diberi etiket.
2. Vanishing cream
 Dihitung terlebih dulu bahan obat dengan perbandingan 1 : 10.
 Ditimbang masing- masing bahan obat.
 Digerus pada lumpang panas bahan obat seperti acid stearik.
 Dilarutkan TEA dan Natr. Biborat dengan air panas didalam beaker
glass.
 Dicampur hasil larutan yang telas tadi dengam menuangkan sedikit
demi sedikit kedalam lumpang yang berisi gerusan acid stearic.
 Digerus perlahan kemudian sedikit cepat agar minyaknya dapat
bercampur dengan air sambil menambahkan gliserin perlahan-lahan
 Ditimbang krim dengan terlebih dahulu menara wadah, setelah hasil
krim terbentuk.
 Dimasukkan krim yang sudah jadi tadi, kemudian catat hasil
penimbangan.
 Diberi etiket.
3.5 Evaluasi
1. Uji Homogenitas
 Dioleskan pada objek glass
 Diamati ada gumpalan atau tidak
 Hasil : Homogen atau tidak
2. Uji tipe m/a dan a/m
 Metilen blue
3. Uji Pengenceran

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan percobaan, homogenitas cold cream dan vanishing cream
ditunjukkan dengan tercampurnya bahan-bahan yang digunakan dalam formula
cream, baik bahan aktif maupun bahan tambahan secara merata.
Hasil uji tipe cream menunjukkan cold cream merupakan sediaan cream
bertipe m/a karena dengan penambahan metilen blue, ternyata larut karena fase
luar cream tersebut adalah air.Selain itu, dengan penambahan air pada cream
menyebabkan cream larut. Vanishing cream menunjukkan tipe cream a/m yang
ditunjukkan dengan tidak larutnya metilen blue dalam cream tersebut serta tidak
larut dalam air.
4.2 Pembahasan
Pada percobaan pembuatan krim, tipe krim yang dibuat berupa cold cream
dan vanishing cream. Pada krim cold cream memerlukan ketelitian dalam hal
lumpang yang telah dipanaskan haruslah dijaga untuk mendapatkan hasil krim
yang diharapkan, yaitu berbentuk halus dan homogen. Kedua krim tersebut telah
memenuhi uji homogenitas dan tipe m/a atau m/a.
Sejumlah krim yang akan diamati dioleskan pada kaca objek yang bersih
dan kering sehingga membentuk suatu lapisan yang tipis, kemudian ditutup
dengan kaca preparat (cover glass). Krim dinyatakan homogen apabila pada
pengamatan menggunakan mikroskop, krim mempunyai tekstur yang tampak rata
dan tidak menggumpal (Safitri, 2010).
Krim merupakan sediaan setengah padat berupa emulsi kental
mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe
krim ada dua yaitu krim tipe air minyak (A/M) dan krim minyak air (M/A). untuk
membuat krim digunakan zat pengemulsi. Umumnya berupa surfaktan-surfaktan
anionik, kationik, dan nonionik (Anief, 2006).
Kestabilan krim akan terganggu/rusak jika sistem campurannya terganggu,
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang
disebabkan perubahan salah satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya
tidak tercampurkan satu sama lain (Aiache, 1993).

15
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
 Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi bahan dasar yang sesuai.
 Bahan-bahan penyusun krim, misalnya zat berkhasiat, minyak, air, dan
pengemulsi.
 Cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak
atau minyak dalam air dan penyimpanan dalam wadah tertutup baik atau
tube, ditempat sejuk.

5.2 Saran
 Sebaiknya pada percobaan berikutnya membuat krim dari bahan ekstrak,
misalnya, ekstrak stroberi.
 Sebaiknya pada percobaan berikutnya mengunakan uji evaluasi yang lain,
misalnya uji pH, uji stabilitas suhu, dan uji daya serap.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh.(1997). Formula Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit.


Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Anief, Moh.(2000). Ilmu Meracik Obat.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.

Anief, Moh.(2006).Ilmu Meracik Obat.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.

Aiache, J.M, Devissaguet, J., dan Guyot-Herman, A.M. (1993). Farmasetika


Biofarmasi: Airlangga University Press.

Ansel , Haward C.(2008). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Jakarta: UI. Press

Farmakope Indonesia. (1979). Edisi ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Farmakope Indonesia. (1995). Edisi keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Jas, Admar.(2007). Perihal Obat.Medan: USU Press.

Swarbrick, J dan Boylan, J.C.(1995). Encyclopedia of Pharmaceutical


Technology. Edisi VI. Marcell Dekker Inc. New York.

17
LAMPIRAN

18
19