Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Eliksir obat digunakan untuk keuntungan pengobatan dari zat obat yang
ada. Umumnya, eliksir-eliksir resmi yang ada diperdagangkan mengandung zat
obat tunggal. Keuntungan utama dari hanya satu obat tunggal yang terkandung,
bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau diturunkan dengan meminum
eliksir lebih banyak atau kurang, padahal bila dua atau lebih zat obat ada dalam
sediaan yang sama, tidak mungkin meningkatkan atau menurunkan kadar satu zat
obat yang diminum tanpa secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis obat lain
yang ada, perubahan yang tidak diinginkan (Filzahazny, 2009).
Bila dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang
kental, karena mengandung gula lebih sedikit maka kurang efektif dibandingkan
dengan sirup dalam menutupi rasa obat yang kurang menyenangkan. Karena
Elixir besifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat itu yang larut
dalam air maupun alkohol dalam larutan elixir. Disamping itu elixir mudah dibuat
larutan elixir, maka itu elixir lebih disukai disbanding sirup (Anief,2010).
Banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan
campurann homogen dari zat-zat terlarut yang dilarutkan dalam pelarut, menurut
prinsip farmasi digolongkan kedalam jenis produk lainnya. Larutan yang
mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alkohol)
disebut eliksir (ansel,2005).
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap,
selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lain, zat
warna zat pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. Sebagai
pelarut utama eliksir adalah etanol yang dimaksudkan mempertinggi kelarutan
obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilenglikol. Sirop gula dapat
digunakan sebagai pengganti gula. Eliksir supaya disimpan dalam wadah tertutup
rapat (Anief, 1997).

1
1.2 Prinsip Percobaan
Pada pembuatan eliksir, sebagai pelarut digunakan etanol yang
dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Penggunaannya biasanya 5-
10%. Selain itu dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan propilen glikol. Sebagai
pengganti gula dapat ditambahkan sirup gula.

1.3 Tujuan Percobaan


 Untuk mengetahui bentuk sediaan eliksir
 Untuk mengetahui dan memahami prinsip pembuatan eliksir
 Mengetahui bahan-bahan tambahan eliksir
 Mengetahui cara evaluasi sediaan eliksir

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut,sebagai


pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Untuk larutan (solution)
steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada
Injections. Disamping wadah harus mudah dikosongkan dengan cepat, besarnya
kemasan boleh lebih dari 1 liter. Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang
mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan
seperti gula atau zat pemanis lain, zat warna zat pewangi dan zat pengawet, dan
digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama eliksir adalah etanol yang
dimaksudkan mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol
dan propilenglikol. Sirop gula dapat digunakan sebagai pengganti gula. Eliksir
supaya disimpan dalam wadah tertutup rapat (Anief, 1997).
Dalam istilah kimia fisik, larutan dapat dipersiapkan dari campuran yang
mana saja dari tiga macamkeadaan zat yaitu padat, cair dan gas. Misalnya suatu
zat terlarut padat dapat dilarutkan baik dalam zat padat lainnya, cairan atau gas,
dengan cara yang sama untuk zat terlarut dan gas, ada 9 tipe campuran homogen
yang mungkin dibuat. Bagaimanapun, dalam farmasi perhatian terhadap larutan
sebagian besar terbatas pada pembuatan larutan dari suatu zat padat, zat cair
dalam suatu pelarut cair dan tidak begitu sering larutan suatu gas dalam pelarut
cair (Ansel, 2008).
Dalam istilah farmasi, larutan didefenisikan sebagai sediaan “cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam
air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak
dimasukkan kedalam golongan produk lainnya”. Sesungguhnya banyak produk
farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan campuran homogeny dari
zat-zat terlarut yang dilarutkan dalam pelarut, menurut prinsip farmasi
digolongkan ke dalam jenis produk lainnya. Misalnya larutan obat-obat dalam air
yang mengandung gula digolongkan sebagai sirup; larutan yang mengandung
hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alcohol) disebut eliksir.
Eliksir yaitu larutan dari bahan-bahan yang berbau harum disebut spirit jika

3
pelarutnya mengandung alcohol atau air aromatic jika pelarutnnya mengandung
air. Larutan yang dibuat dengan menyari unsur-unsur aktif dari bahan obat alam
disebut tinktur atau ekstrak encer, tergantung pada cara pembuatan dan
konsentrasinya. Tinktur dapat juga berupa larutan-larutan dari zat kimia yang
dilarutkan dalam alcohol atau dalam suatu pelarut yang mengandung
hidroalkohol. Larutan-larutan tertentu yang dibuat steril dan bebas pirogen dan
dimaksudkan untuk pemberian parenteral digolongkan sebagai injeksi. Walaupun
dapat dikutip contoh-contoh lain, jelas kelihatan bahwa larutan sebagai suatu jenis
yang berbeda dari sediaan farmasi, jauh lebih terbatas artinya dibandingkan
dengan istilah larutan dalam defenisi kimia fisik (Ansel, 2008).
Larutan oral, sirup dan eliksir, dibuat dan digunakan karena efek tertentu
dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan
memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam
bentuk larutan, biasanya berarti bahwa absorpsinya dalam sistem saluran cerna ke
dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat daripada dalam
bentuk sediaan suspense atau padat dari zat obat yang sama. Dalam larutan yang
diberikan secara oral biasanya terdapat zat-zat terlarut lain selain dari bahan obat.
Bahan-bahan tambahan ini biasanya meliputi pemberi warna, pemberi rasa,
pemanis, atau penstabil larutan. Dalam penyusunan formula atau pencampuran
suatu larutan farmasi, ahli-ahli farmasi harus memanfaatkan keterangan tentang
kelarutan dan kestabilan dari masing-masing zat terlarut yang ada dengan
memperhatikan pelarut atau sistem pelarut yang digunakan, ahli farmasi harus
berhati-hati menghadapi penggunaan kombinasi obat atau bahan-bahan farmasi
yang akan menimbulkan interaksi kimia atau fisika yang akan mempengaruhi
mutu terapeutik atau stabilitas farmasetik produk (Ansel, 2008).
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan,
maka zat padat tadi terbagi secara molecular dalam cairan tersebut. Pernyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o,
kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian
volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan
zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar. Pernyataan
bagian dalam kelarutan berarti 1 gram zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah

4
ml pelarut. Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui secara pasti dapat dinyatakan
dengan istilah berikut :
Istilah kelarutan : Jumlah bagian pelarut yang diperlukan
untuk melarutkan
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1-10
Larut 1-30
Agak sukar larut 1-100
Sukar larut 100-1000
Sangat sukar larut 1000-10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000
Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi adalah :
a. Dapat larut dalam air
Klorida, kecuali Hydrargyrosi Chloridum, Argenti Chloridum, Plumbi
Chloridum tidak larut.
Nitrat, kecuali nitrat base, seperti Bismuthi subnitras tidak larut.
Sulfat, kecuali Barii Sulfas, Plumbi Sulfas tidak larut dan Calcii Sulfas
sedikit larut.
b. Tidak larut dalam air
Karbonat, kecuali Kalii Carbonas, Natrii Carbonas, Ammoni Carbonas
dan Lithii Caarbonas larut.
Oksida dan hidroksida, kecuali Kalii, Natrii, Ammonii, Calcii. Barii
Oxydum dan Hydroxydum larut.
Fosfat, kecuali Kalii Phospas, Natrii Phospas dan Ammonii Phospas.
Dalam Farmakope disebutkan mengenai suhu dari air hangat 60o sampai
70o dan air panas mempunyai suhu 85o sampai 95o.
Kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh suhu, umumnya kenaikan suhu
menyebabkan bertambahnya kelarutan suatu zat. Untuk Natrii Chloridum
kenaikannya sedikit dan untuk beberapa zat kelarutannya turun pada kenaikan
suhu seperti Calcii Hydroxydum (Aqua Calcis pada pemanasan akan keruh dan
pada pendinginan akan jernih), Calcii Hypophosphis dan Calcii Glycerophosphas
(Anief, 1997).

5
Eliksir bila dibandingkan dengan syrup, eliksir biasanya kurang manis dan
kurang kental, karena mengandung gula lebih sedikit maka kurang efektif
disbanding dengan syrup dalam menutupi rasa obat yang kurang menyenangkan.
Karena eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang
larut dalam air maupun alcohol dalam larutan eliksir. Disamping itu eliksir mudah
dibuat larutan eliksir, maka itu eliksir lebih disukai disbanding sirup. Banyaknya
jumlah etanol yang ada di dalam eliksir berbeda sekali. Kadar etanol yang rendah
adalah 3% dan yang tertinggi dapat sampai 44%. Biasanya eliksir mengandung
antara 5-10% etanol. Pemanis yang digunakan biasanya gula atau sirup gula, tapi
kadang-kadang digunakan sorbitol, Glycerinum dan Saccharinum (terbatas).
Eliksir untuk obat :
Nama obat Dosis Efek terapi
1. Dexamethasone Elixir USP 500 mg/5 ml Anti inflamasi
2. Acetaminophen Elixir USP 300 mg/10 ml Analgetik
3. Diphenhydramin HCL 25 mg/10 ml Antihistamin
Elixir USP
4. Reserpine Elixir USP 0,05 mg/ml Antihipertensi
5. Digoxin Elixir USP 50 mg/ml Kardiotonik

Eliksir bukan obat :


Eliksir bukan obat digunakan untuk :
1. Menghilangkan rasa tidak enak
2. Untuk pengenceran eliksir untuk obat
Dalam pengenceran eliksir untuk obat dengan eliksir bukan obat, harus
diperhatikan bahwa kadar etanol sama. Juga bau dan rasanya tidak saling
bertentangan dan semua zat yang terkandung dapat saling bercampur baik secara
fisika maupun kimia.
Contoh eliksir bukan obat :
1. Compound Benzaldehyde Elixir NF.
2. Iso-alcoholic Elixir NF.
3. Aromatic Elixir NF.
(Anief, 1997).

6
Eliksir: adalah sediaan berupa jernih, manis, merupakan larutan hidroalkoholik,
terutama untuk pemakaian oral, biasanya beraroma. Ada 2 jenis:
1. Non-medicated elixir: bisa sebagai vehikulum
2. Medicated elixir: sebagai obat.
Dibandingkan dengan sirup, eliksir kurang manis, kurang viscous karena
mengandung gula dengan kadar rendah, sehingga kurang efektif untuk menutup
rasa yang tidak enak. Karena berupa hidroalkoholik, maka lebih mudah untuk
dibuat menjadi larutan bagi bahan-bahan yang larut dalam air maupun yang larut
dalam alkohol. Dari sisi pembuatan menjadi lebih sederhana. Dibandingkan sirup.
Kadar alkohol bervariasi sekali tergantung dari keperluan untuk menjaga tetap
dalam larutan. Konsekwensinya: untuk bahan yang kurang larut dalam air, jumlah
alcohol yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Gliserin, propilen glikol dipakai
sebagai ko-solven. Walaupun eliksir dipermanis dengan gula, banyak juga yang
menggunakan sorbitol, gliserin, atau pemanis buatan. Eliksir dengan kadar
alkohol tinggi sering memakai saccharin sebagai pemanis dengan jumlah kecil
daripada gula yang sedikit larut dalam alkohol..
Hampir semua eliksir mengandung Flavoring agent dan coloring agent.
Eliksir dengan 10 - 12% alkohol adalah self-preserving sehingga tidak perlu
ditambahkan anti mikroba lagi.
Eliksir obat digunakan untuk keuntungan pengobatan dari zat obat yang
ada. Umumnya, eliksir-eliksir resmi yang ada diperdagangkan mengandung zat
obat tunggal. Keuntungan utama dari hanya satu obat tunggal yang terkandung,
bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau diturunkan dengan meminum
eliksir lebih banyak atau kurang, padahal bila dua atau lebih zat obat ada dalam
sediaan yang sama, tidak mungkin meningkatkan atau menurunkan kadar satu zat
obat yang diminum tanpa secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis obat lain
yang ada, perubahan yang tidak diinginkan (Filzahazny, 2009).
Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol 90% yang berfungsi
sebagai kosolven. Bila dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis
dan kurang kental, karena mengandung gula lebih sedikit maka kurang efektif
disbanding dengan sirup dalam menutupi rasa obat yang kurang menyenangkan.
Karena eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat yang larut

7
dalam air maupun alcohol dalam larutan eliksir, maka itu eliksir lebih disukai
dibanding sirup. Banyaknya jumlah etanol yang ada dalam eliksir berbeda sekali.
Kadar etanol yang rendah adalah 3% dan yang tertinggi dapat sampai 44%.
Biasanya eliksir mengandung antara 5-10% etanol (Anief, 1997).
Eliksir bukan obat yang digunakan sebagai pembawa terapi eliksir obat
untuk efek terapi dari senyawa obat yang dikandungnya. Eliksir lebih mampu
mempertahankan komponen – komponen larutan yang larut dalam air dan yang
larut dalam alcohol daripada sirup. Juga karena stabilitasnya yang khusus dan
kemudahan dalam pembuatannya ( dengan melarutkan biasa ), dari sudut
pembuatan eliksir lebih disukai daripadaa sirup (Ansel, 1989).
Tiap eliksir memerlukan campuran tertentu dari alcohol dan air untuk
mempertahankan semua komponen dalam larutan. Tentu saja, untuk eliksir –
eliksir ini mengandung zat yang kelarutannya dalam air jelek, banyaknya alcohol
dibutuhkan lebuh besar daripada eliksir yang dibuat dari komponen – komponen
yang kelarutannya dalam air baik. Disamping alcohol dan air, pelarut- pelarut lain
seperti gliserin dan propilen glikol, sering digunakan dalam eliksir sebagai pelarut
pembantu ( Ansel, 1989).
Walau banyak eliksir yang dimaniskan dengan sukrosa atau dengan sirup
sukrosa, beberapa menggunakan sorbitol, gliserin atau pemanis buatan seperti
sakarin untuk tujuan ini. Eliksir yang mempunyai kadar alcohol yang tinggi
biasanya menggunakan pemanis buatan seperti sakarin, yang dibutuhkan hanya
dalam jumlah kecil, daripada sukrosa yang hanya sedikit larut dalam alcohol dan
membutuhkan jumlah yang lebih besar untuk kemanisan yang sama ( Ansel,
1989).
Semua eliksir mengandung bahan pemberi rasa untuk menambah
kelezatan dan hamper semua eliksir mempunyai zat pewarna untuk meningkatkan
penampilannya. Eliksir yang mengandung alcohol lebih dari 10 – 12%, biasanya
bersifat sebagai pengawet sendiri dan tidak membutuhkan penambahan zat
antimikroba untuk pengawetannya. Walau monograf untuk eliksir obat
menetapkan standar – standar, mereka umumnya tidak menetapkan formula resmi.
Formulasi diserahkan pada masing – masing pabrik ( Ansel, 1989).

8
Eliksir obat diformulasi sedemikian rupa sehingga pasien menerima obat
dengan dosis lazim untuk dewasa dalam ukuran eliksir yang tepat. Utuk sebagian
terbesar eliksir, satu atau dua sendok the penuj ( 5 atau 10 ml) pemberian obat
dengan dosis lazim dewasa. Satu keuntungan eliksir lebih dari obat dalam bentuk
pemberian padat adalah kemudahan penyesuaian dan kemudahan pemberian
dosis, terutama pada anak – anak. Orang tua dapat member setengah sendok teh
penuh obat (Ansel, 1989).
Sebagai contoh, untuk anak yang memperoleh kemudahan yang lebih
besar dari pada yang didapat dari memecah tablet yang sama atau memisahkan
dan dibagi dalam kapsul obat. Pada keadaan dimana eliksir obat dimaksudkan
untuk anak – anak, wada diperdagangkan sering mengandung alat pengukur yang
telah dikalibrasi, seperti tetesan atau sendok, untuk memudahkan orang tua
mengukur obat dengan tepat dengan jumlah yang dianjurkan sesuai umur anak,
berat, atau kondisinya (Ansel, 1989).
Karena eliksir mengandung alcohol dan biasanya juga mengandung
beberapa minyak mudah menguap yang rusak oleh adanya udara dan sinar, maka
paling baik disimpan dalam wadah – wadah yang tertutup rapat, tahan cahaya
untuk menjaga terhadap temperatur yang berlebihan. Dibandingkan dengan sirup,
eliksir biasanya mudah dibuat larutan, maka lebih disukai dibanding sirip
(Ansel, 1989).
Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk
mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbital, dan
propilenglikol. Sebagai pengganti gula dapat digunakan sirop gula. Adapun
sediaan eliksir dipasaran antara lain:
 Elixir De Spa
 Phenergan ( Promethazine Elixir)
 Bisolvon Kidds
 Suplemen Makanan KIDDI
 Curcuma Plus (Aulton, 1994).
Acetaminophenum larut dalam 70 baigian air, dalan 7 baigian etanol (95%),
dalm 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian
propilenglikol, larut dalam alkali hidroksida, kegunaannya sebagai analgenikum

9
dan antipiretikum. Gliserol adalah cairan seperti sirup , jernih, tidak berwarna,
tidak berbau, manis diikuti rasa hangat dan hidroskopis. Dapat bercampur dengan
air dan dengan etanol ( 95% ), kegunaannya adalah sebagai zat tambahan
(Aulton, 1994 ).
Sorbitol adalah serbuk, butiran atau kepingan, putih, rasa manis
hidroskopis. Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol ( 95% ) dan
khasiatnya sebagai zat tambahan. Aethanol adalah cairan tak berwarna, jernih,
mudah menguap, berbau khas dan mudah terbakar. Sangat mudah larut dalam air
dan dalam eter. Kegunaanya adalah sebagai zat tambahan(Aulton, 1994)
Banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan
campurann homogen dari zat-zat terlarut yang dilarutkan dalam pelarut, menurut
prinsip farmasi digolongkan kedalam jenis produk lainnya. Larutan yang
mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alkohol)
disebut eliksir (Ansel,2005).
Semua eliksir mengandung bahan pemberi rasa untuk menambah kelezatan
, dan hampir semua eliksir mempunyai zat pewarna untuk meningkatkan
penampilannya. Eliksir yang mengandung alkohol lebih dari 10%-12%, biasanya
juga bersifat sebagai pengawet, sehingga tidak membutuhkan tambahan zat
antimikroba sebagai pengawet (Ansel 2005).
Perbandingan alkohol yang ada pada eliksir jumlahnya berbeda-beda
karena masing-masing komponen eliksir mempuyai sifat kelarutan dalam alkohol
dan air yang berbeda-beda. Tiap eliksir memerlukan campuran tertentu dari
alkohol dan air untuk mempertyahankan semua komponen dalam larutan.
Disamping alkohol dan air, pelarut-pelarut lain seperti gliserin dan propilen glikol,
sering digunakan dalam eliksir sebagai pelarut pembantu (Conors, 1986).
Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk
mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilen
glikol, sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup gula (FI III,1979).

10
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Formula
R/ Acetaminophen 120 mg
Glyceril 2,5 ml
Propilen glikol 500 ml
Sorbitol sol 70% 1,25 ml
Aethanol 500 ml
Zat tambahan yang cocok q.s
Aquadest ad 5 ml
m.f.eliksir
##
Pro: Zulfan

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
 Mortir dan stemfer
 Timbangan dan anak timbangan
 Cawan
 Kaca arloji
 Gelas ukur
 Botol ukuran 150 ml
 Erlenmeyer
 Indikator universal

3.2.2 Bahan
 Acetaminophen
 Glyceril
 Propilen glikol
 Sorbitol sol 70%
 Aethanol

11
 Zat tambahan yang cocok
 Aquadest

3.3 Perhitungan bahan


1. Acetaminophen = 60/5 x 120mg = 1,44 g
2. Glyceril = 60/5 x 2,5 = 30 ml
3. Propilen glikol = 60/5 x 0,5 = 6 ml
4. Sorbitol sol 70% = 60/5 x 1,25 = 15 ml
5. Aethanol = 60/5 x 0,5 = 6 ml
6. Aquadest ad = 60/5 x 5 = 60

3.4 Prosedur
- Di timbang semua bahan Acetaminophen, Gliserol, Propilen glikol Sorbitol
Sol 70%, Aethanol, Aquadest.
- Diukur air sebanyak 60 ml dengan gelas ukur
- Dimasukkan ke botol untuk dikalibrasi
- Disiapakan lumpang bersih
- Didalam lumpang masukkan Acetaminophen dan gliserin sambil digerus
hingga homogen
- Ditambah sorbital gerus homogen
- Ditambah propilen gerus hingga homogen
- Dimasukkan kedalam botol ( yang sudah dikalibrasi ditambahkan aquadest
sampai batas kalibrasi ) kocok ringan
- Ditambahkan Oli Citri 2 tetes kemudian dikocok
- Diberi etiket

12
3.5 Evaluasi
1. Organoleptis
Diamati apakah eliksir yang dibuat sudah sesuai dengan standar elixir
yaitu berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap.
2. Kejernihan
Dilakukan dengan cara mengamati dengan mata sediaan larutan eliksir,
apakah ada partikelnya atau tidak bila tidak berarti larutan tersebut sudah
jernih.
3. pH
Sediaan diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan
dengan pH usus karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama
dengan pH usus.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Pada percobaan yang telah dilakukan pada uji kejernihan, tidak di
dapatkan hasil yang jernih karena penggerusan yang tidak homogen. Dari hasil
percobaan ini diperoleh eliksir sebanyak 60 ml. pada percobaan ini didapatkan pH
eliksir yaitu pH 6 (asam).

4.2 Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan sediaan obat
berupa larutan yaitu eliksir. Kandungan didalam sediaan adalah bahan obat dan
bahan tambahan. Kandungan alkohol di dalam sediaan yang telah dibuat adalah
70% , derajat keasaman (pH) adalah 6,warna sediaan adalah keruh dan beraroma
jeruk dari Oleo. Citri (Depkes RI, 1979) .
Eliksir (Depkes RI, 1979) adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai
rasa dan bau sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan
atau zat pemanis lainnya, zat pewangi dan pengewet, digunakan sebagai obat
dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk
mempertinggi kelarutan obat, penggunaan biasanya 5-10%. Pada percobaan ini
alkohol yang digunakan 96 %. Selain itu dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan
propilenglikol. Sebagai gula dapat ditambahkan sirup.
Semua eliksir mengandung bahan pemberi rasa untuk menambah kelezatan
,dan hampir semua eliksir mempunyai zat pewarna untuk meningkatkan
penampilannya. Eliksir yang mengandung alkohol lebih dari 10%-12%, biasanya
juga bersifat sebagai pengawet, sehingga tidak membutuhkan tambahan zat
antimikroba sebagai pengawet (Ansel 1989).

14
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
 Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan
bahwa bentuk sediaan eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai
rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula
atau zat pemanis lain, zat warna zat pewang idan zat pengawet, dan digunakan
sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama eliksir pada percobaan ini adalah
etanol yang dimaksudkan mempertinggi kelarutan obat. Ditambahkan gliserol,
sorbitol dan propilenglikol. Eliksir disimpan dalam wadah tertutup rapat.
 Cara pembuatan sediaan eliksir yaitu denagan cara memasukkan ethanol dan
Acetaminophen kedalam Erlenmeyer untuk dijernihkan. Diaduk sampai
jernih, setelah itu digerus propilen glikol didalam lumping. Lalu ditambahkan
campuran acetaminophen dan ethanol tersebut ke dalam lumpang, gerus
hingga homogeny. Setelah itu dimasukkan glyseril, aquadest, dan sorbitol sol
digerus homogeny. Lalu diuji kejernihannya, dimasukkan kedalam botol
sediaan 150 ml. disimpan didalam botol tertutup rapat dan diberi etiket dan
label.
 Pada percobaan ini digunakan bahan tambahan yaitu gliseril, aquadest,
sorbitol sol dan propilenglikol.
 Cara evaluasi eliksir yaitu dengan cara menuang sediaan kedalam beaker glas,
lalu dilihat apakah masih ada butiran-butiran paracetamol yang belum larut
dan belum homogen digerus dan dilihat juga kejernihan larutan. Di uji
keasaman eliksir dengan menggunakan indicator universal. Hasil eliksir yang
didapatkan pada percobaan ini jernih dan memiliki pH 6.

5.2. Saran
 Sebaiknya pada percobaan berkutnya digunakan bahan tambahan lain,
misalkan syrup gula, zat pewangi (essence apple) dan zat pengawet (as.
Benzoat).

15
DAFTAR PUSTAKA

Ansel,C.Howard.(1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta:Universitas


Indonesia Press.
Depkes.R.I.(1995). Farmakope Indonesi. Edisi keempat. Jakarta:Departemen
Kesehatan Republik Indonesia .
Joseph,Sprowls.(1970). Prescription Pharmacy.Toronto: J.B.Lippincott
Company.
Anief.(1983). Ilmu Farmasi.Yogyakarta :Ghalia Indonesia.
Anief.(1997). Ilmu Meracik Obat.. Yogyakarta:Universitas Gajah Mada Press.
Aulton, M.E., (1994), Pharmaceutics, The Science of Dosage Forms Design,
Edinburg: ELB.
Connors, K.A. (1986). Chemical Stability of pharmaceutical. New York: John
Willey and Sons.
Depkes.R.I.(1979). Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta:Departemen Kesehatan
Republik Indonesia .
Filzahazny.(2009).Elixir.http://filzahazny.wordpress.com/2009/03/18/elixir/.

16
LAMPIRAN

Bahan-bahan yang digunakan Alat yang diginakan

Hasil syrup eliksir


Hasil cek pH = 6

17