Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL KEGIATAN

TERAPI BERMAIN ANAK USIA SEKOLAH DENGAN


DENGUE HEMORAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT

Disusun Oleh :
- Adelia Irfiyani - Ika Fitria Ningsih
- Afifatun Nisa - Jufrie
- Andika Pratama - Leolita Zetira Matalih
- Dina Hariyanti - Maryati
- Dahlia - Mirasyah Lestari
- Dwi Agung Ratna Ningsih - Misikem
- Fauzia Aprilia Effendi

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES IMC BINTARO
TAHUN AJARAN
2018-2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang
bagaimana cara melakukan terapi bermain. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Bintaro, 6 Mei 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................4
I.I Latar Belakang.......................................................................................................................4
I.IITujuan Penulisan...................................................................................................................5
BABII TINJAUAN TEORI ......................................................................................................6
II.I Konsep Dasar Bermain ........................................................................................................6
II.IIPengertian ...........................................................................................................................6
II.III Fungsi Bermain ……….....................................................................................................6
II.IVKlasifikasi Bermain ...........................................................................................................9
II.VKonsepDasar Berdasarkan Usia Pada Anak .....................................................................11

BABIII KEGIATAN BERMAIN ............................................................................................12


III.IRancangan Bermain ..........................................................................................................12
III.IIMedia & Alat ...................................................................................................................12
III.III Sasaran ...........................................................................................................................12
III.IV Pengorganisasian ...........................................................................................................13
III.VPembagian Tugas ............................................................................................................13
III.VI Susunan Kegiatan ..........................................................................................................14
III.VII Evaluasi ........................................................................................................................15
BABIV PENUTUP..................................................................................................................17
IV.I Kesimpulan.......................................................................................................................17
IV.II Saran................................................................................................................................17
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................…………......18

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan rumah
sakit untukm mendapatkan pertolongan dalam peawatan atau pengobatan dalam perawatan
atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya. Tetapi pada
umumnya hospitalisasi dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat
menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emos atau tingkah
laku yang mempengaruhi kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama dirawat dirumah
sakit. Hospitalisasi pada anak akan memberikan dampak negatif seperti trauma, cemas dan
ketakutan.

Bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk
memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosi,
ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada
anak-anak (Landreth, 2001). Bermain juga dikatakan sebagai media untuk eksplorasi dan
penemuan hubungan interpersonal, eksperimen dalam peran orang dewasa, dan memahami
perasaannya sendiri. Bermain adalah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah
dikembangkan manusia. Erikson (Landreth, 2001) mendefinisikan bermain sebagai suatu
situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan menciptakan situasi model
dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan.

Sementara Landreth (2001) mendefinisikan terapi bermain sebagai hubungan


interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam prosedur terapi
bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan
suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi
dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain. International
Association for Play Therapy (APT), sebuah asosiasi terapi bermain yang berpusat di Amerika,
dalam situsnya di internet mendefinisikan terapi bermain sebagai penggunaan secara sistematik
dari model teoritis untuk memantapkan proses interpersonal dimana terapis bermain
menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien mencegah atau
menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan
yang optimal (www.a4pt.org). Beberapa definisi terapi bermain tersebut mengarah pada
beberapa hal penting, yaitu: (a) tipe dan jumlah permainan yang digunakan; (b) konteks

4
permainan; (c) partisipan yang terlibat; (d) urutan permainan; (e) ruang yang digunakan; (f)
gaya bermain; (g) tingkat usaha yang dicurahkan dalam permainan. Terapi bermain adalah
pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis, untuk membantu klien
mencegah atau menyelesaikan kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri.

Melihat pentingnya bermain bagi seorang anak terutama anak yang mengalami
hospitalisasi, maka kami akan mengadakan terapi bermain dengan sasaran usia sekolah (> 6
tahun sampai 12 tahun) yang berada di ruang rawat inap anak RS Ibnu Sina Makassar. Kami
berharap dengan diadakannya terapi bermain ini, anak yang dirawat tetap dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh kembangnya.

B. Tujuan

a. Tujuan umum
Anak diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan
aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress
karena penyakit dan dirawat.

b. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan volume cairan di dalam tubuh anak
2. Merangsang kemauan anak untuk mengkonsumsi minuman yang dapat membantu
mempercepat proses penyembuhan
3. Gerakan motorik halusnya lebih terarah
4. Mengembangkan kognitifnya
5. Mampu meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh anak
6. Mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman yang dirawat di ruang yang
sama
7. Mampu mengurangi kejenuhan selama dirawat di RS
8. Mampu beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah
sakit

BAB II

5
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Bermain


a. Pengertian
Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social
dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak
akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan,
melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong,
2000).
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan
alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun
mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono, 2000).
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting
dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan
stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell
dan Glaser, 1995).
Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti
halnya makanan, perawatan dan cinta kasih. Dengan bermain anak akan menemukan
kekuatan serta kelemahannya sendiri, minatnya, cara menyelesaikan tugas-tugas dalam
bermain (Soetjiningsih, 1995).
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bermain
merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan kemampuan fisik,
intelektual, emosional, dan social anak tersebut. Walaupun tanpa mempergunakan alat
yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun
mengembangkan imajinasi anak, dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta
kelemahannya sendiri, minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain.
b. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan intelektual, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan
kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.

1. Perkembangan Sensoris-Motorik

6
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen terbesar
yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot.
Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan
sensoris-motorik dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak
membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.
2. Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang
ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan
membedakan objek. Pada saat bermain pula anak akan melatih diri untuk memecahkan
masalah. Pada saat anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat
memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat
mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan
imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi seperti ini
akan semakin terlatih kemampuan intelektualnya.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan
orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan social dan belajar
memecahkan masalah dari hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak
belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang
nilai sosial yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah
dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal
bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya dilingkungan keluarga.
4. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya kedalam
bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan
belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan
memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin
berkembang.
5. Perkembangan Kesadaran Diri
Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur mengatur
tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya
dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan
mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil

7
mainan temannya sehingga temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri
bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk
menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk
memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain
6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan
guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan kesempatan untuk
menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat
menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui
kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana
yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang
telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak
baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk
bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan
kemampuan kognitifnya, bagi anak usia toddler dan prasekolah, permainan adalah media
yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat.
Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan
aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau benar/salah.
7. Bermain Sebagai Terapi
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan
dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang
ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas
dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak
akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui
kesenangannya melakukan permainan. Dengan demikian, permainan adalah media
komunikasi antar anak dengan orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan
dirumah sakit. Perawat dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi
nonverbal yang ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang
ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya

c. Klasifikasi Bermain
1. Berdasarkan Isi Permainan

8
a) Social affective play
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara
anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari
hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya atau orang lain. Permainan yang
biasa dilakukan adalah “Cilukba”, berbicara sambil tersenyum dan tertawa, atau
sekadar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi
berbicara sambil tersenyum dan tertawa. Bayi akan mencoba berespons terhadap
tingkah laku orang tuanya misalnya dengan tersenyum, tertawa, dan mengoceh.
b) Sense of pleasure play
Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak dan
biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat
gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir .
Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan,
misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak, atau tempat lain. Ciri khas permainan
ini adalah anak akan semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan
permainan yang dilakukannya sehingga susah dihentikan
c) Skill play
Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak,
khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-
benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan anak akan
terampil naik sepeda. Jadi, keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan
kegiatan permainan yang di lakukan. Semakin sering melakukan latihan, anak akan
semakin terampil.
d) Games
Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang
menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri
atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya
tradisional maupun yang modern.misalnya, ular tangga, congklak, puzzle, dan lain-lain.

e) Unoccupied behavior
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit,
bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di sekelilingnya.
Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau obyek

9
yang ada di sekelilingnya yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak tampak
senang, gembira, dan asyik dengan situasi serta lingkungannya tersebut.

f) Dramatic play
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang
lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa,
misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan sebagainya yang ingin ia tiru.
Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka
tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk proses identifikasi
anak terhadap peran tertentu .

2. Berdasarkan Karakter Sosial


a) Onlooker play
Pada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa
ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan. Jadi, anak tersebut bersifat
pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan
temannya.
b) Solitary play
Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak
bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut
berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama,
ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya.
c) Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara
satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak
satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan ini
dilakukan oleh anak usia toddler.
d) Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi
tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin atau yang memimpin permainan, dan tujuan
permainan tidak jelas. Contoh permainan jenis ini adalah bermain boneka, bermain
hujan-hujanan dan bermain masak-masakan.
e) Cooperative play

10
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga
tujuan dan pemimpin permainan. Anak yang memimpin permainan mengatur dan
mengarahkananggotanya untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan dalam permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola, ada anak
yang memimpin permainan, aturan main harus dijalankan oleh anak dan mereka harus
dapat mencapai tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan memasukkan
bola ke gawang lawan mainnya.
B. Konsep Dasar Anak Usia Sekolah
a. Anak usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)
Kemampuan sosial anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka lebih mampu
bekerja sama dengan teman sepermainannya. Seringkali pergaulan dengan teman menjadi
tempat belajar mengenal norma baik atau buruk. Dengan demikian, permainan pada anak
usia sekolah tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketrampilan fisik atau
intelektualnya, tetapi juga dapat mengembangkan sensitivitasnya untuk terlibat dalam
kelompok dan bekerja sama dengan sesamanya. Mereka belajar norma kelompok sehingga
dapat diterima dalam kelompoknya. Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia sekolah
adalah mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat. Bagaimana anak
dapat menerima kelebihan orang lain melalui permainan yang ditunjukkannya.
Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya. Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainan jenis mekanik yang akan
menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki,
misalnya mobil-mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan permainan yang dapat
menstimulasinya untuk mengembangkan perasaan, pemikiran dan sikapnya dalam
menjalankan peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.
b. Reaksi Hospitalisasi
1. Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai,
keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan
2. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, kehilangan
kelompok sosial, perasaan takut mati, kelemahan fisik
3. Reaksi nyeri bisa digambarkan dengan verbal dan non verbal
BAB III
KEGIATAN BERMAIN

11
A. Rancangan bermain

Kegiatan terapi bermain yang kelompok buat kali ini bertema “Cepat sembuh dengan
banyak minum”. Kegiatan ini terdiri dari 3 sesi yaitu : pada sesi pertama tentang pemaparan
cerita mengunakan boneka tangan yang menceritakan tentang pentingnya mengkonsumsi
banyak air bagi penderita DHF. Pada sesi kedua, ANAK diajak untuk menghabiskan air
mineral yang disediakan oleh kelompok. Pada sesi ketiga, anak diajak untuk melipat kertas
yang sudah disediakan. Pemilihan bentuk lipatan pada sesi ketiga ini tidak dibatasi. Kemudian
hasil kreasi lipatan yang telah selesai, diberikan tali untuk digantung ditempat tiap tidur anak.

B. Media dan Alat


1. Boneka Tangan
2. Air mineral gelas
3. Kertas origami
5. Tali

C. Sasaran
a. Kelompok usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)
b. Kriteria anak:
1. Anak usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)
2. Anak dengan DHF
3. Anak yang tidak memiliki masalah intoleransi aktivitas

D. Waktu Pelaksanaan
a. Hari / Tanggal : Jumat, 10 Mei 2019
b. Waktu : Pukul 10.00 s/d 11.00
c. Tempat : Ruang rawat inap anak RS X

Waktu yang dipilih untuk memberikan permainan ini pada anak, yaitu pada saat anak
tersebut sedang santai, atau tidak pada waktu makan dan tidur, misalnya pada pagi hari sekitar
pukul 10.00 atau pada sore hari sekitar pukul 15.00. Durasi atau lamanya bermain adalah
sekitar 40 menit untuk menghindari anak merasa bosan dengan permainan tersebut.

E. Pengorganisasian
1. Penanggung Jawab : Dwi Agung Ratna Ningsih
2. Leader : Ika

12
3. Co Leader : Maryati
4. Fasilitator : 1. Adelia 6. Daliah
2. Dina 7. Afifatun Nsa
3. Fauziah 8. Handika
4. Leolita 9. Jufri
5. Mirasyah
F. Pembagian Tugas
1. Leader : Ika
Peran Leader
a. Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan
situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan
perasaannya
b. Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
c. Koordinator, yaitu mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara
memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
2. Co Leader : Maryati
Peran Co Leader
a. Mengidentifikasi issue penting dalam proses
b. Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
c. Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang akan
datang
d. Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya
3. Fasilitator : 1.Adelia 6. Daliah
2.Dina 7. Afifatun Nisa
3.Fauziah 8. Handika
4. Leolita 9. Jufri
5. Mirasyah
Peran Fasilitator
a. Mempertahankan kehadiran peserta
b. Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
c. Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari
dalam kelompok
G. Susunan Kegiatan

13
No Waktu Terapis Anak Ket

1 5 menit Pembukaan :
- Co-Leader membuka dan
mengucapkan salam Menjawab salam
- Memperkenalkan diri
terapis
- Memperkenalkan Mendengarkan
pembimbing
- Memperkenalkan anak satu
persatu dan anak saling
berkenalan Mendengarkan
- Kontrak waktu dengan anak
- Mempersilahkan Leader
Mendengarkan dan
saling berkenalan

Mendengarkan
Mendengarkan

2 25 Kegiatan bermain :
menit - Leader menjelaskan cara
permainan Mendengarkan
- Menanyakan pada anak,
anak mau bermain atau
tidak Menjawab pertanyaan
- Membagikan permainan
- Leader ,co-leader, dan
Fasilitator memotivasi anak
- Fasilitator mengobservasi
anak Menerima permainan
- Menanyakan perasaan anak
Bermain

Bermain

Mengungkapkan
perasaan

3 10 Penutup :
menit - Leader Menghentikan
permainan Selesai bermain
- Menanyakan perasaan anak

- Menyampaikan hasil
permainan

14
- Memberikan hadiah pada Mengungkapkan
anak yang paling banyak perasaan
meminum air mineral dan
membuat origami yg paling Mendengarkan
bagus .
- Membagikan
souvenir/kenang-kenangan Senang
pada semua anak yang
bermain
- Menanyakan perasaan anak

- Co-leader menutup acara


- Mengucapkan salam
Senang

Mengungkapkan
perasaan
Mendengarkan
Menjawab salam

H. Evaluasi
a. Evaluasi struktur yang diharapkan :
1. Alat-alat yang digunakan lengkap
2. kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana
b. Evaluasi proses yang diharapkan
1. Terapi dapat berjalan dengan lancar
2. Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
3. Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi
4. Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai tugasnya

c. Evaluasi hasil yang diharapkan


1. Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu origami,
kemudian digantung
2. Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
3. Anak merasa senang

15
4. Anak tidak takut lagi dengan perawat
5. Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai
6. Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas bermain

G. Hambatan
Hambatan yang mungkin ditemui dalam permainan ini, antara lain :
 Anak tidak mau bermain karena sakit yang dia rasakan
 Anak kurang mau berinteraksi dengan orang lain selain orang tuanya
 Anak merasa bosan dengan permainan yang diberikan

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

16
Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan
kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut, tanpa mempergunakan alat
yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun
mengembangkan imajinasi anak, dimana dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta
kelemahannya sendiri, minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain.
Bermain bagi anak adalah suatu kebutuhan selayaknya bekerja pada orang dewasa, oleh sebab
itu bermain di rumah sangat diperlukan guna untuk mengatasi adanya dampak hospitalisasi
yang diasakan oleh anak. Dengan bermain, anak tetap dapat melanjutkan tumbuh kembangnya
tanpa terhambat oleh adanya dampak hospitalisasi tersebut.

B. Saran

1. Orang tua
Sebaiknya orang tua lebih selektif dalam memilih permainan bagi anak agar anak dapat
tumbuh dengan optimal. Pemilihan permainan yang tepat dapat menjadi poin penting dari
stimulus yang akan didapat dari permainan tersebut. Faktor keamanan dari permainan
yang dipilih juga harus tetap diperhatikan.
2. Rumah Sakit
Sebagai tempat pelayanan kesehatan, sebaiknya rumah sakit dapat meminimalkan trauma
yang akan anak dapatkan dari hospitalisasi dengan menyediakan ruangan khusus untuk
melakukan tindakan.
3. Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat tetap membantu anak untuk mengurangi dampak
hospitalisasi dengan terapi bermain yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Karena dengan terapi bermain yang tepat, maka anak dapat terus melanjutkan tumbuh
kembang anak walaupun dirumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Stuart, Gail and Laraia, Michele. (1998). Principles and practice of psychiatric nursing. St.
Louis: Mosby.

17
Internet. http://klinis.wordpress.com/2007/08/30/penerapan-terapi-bermain-bagi-penyandang-
autisme-1/. Downloaded on Wednesday, 14th April 2010 at 04.00 p.m.
Internet. http://konsultanmainan.multiply.com/journal/item/5/Terapi_Bermain. Downloaded on
Wednesday, 14th April 2010 at 03.30 p.m.
Internet. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/pathology/1916947-terapi-bermain/
Downloaded on Wednesday, 14th April 2010 at 03.45 p.m.
Supartini, Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. (2003). Clinical Manual of Pediatric Nursing. USA: Mosby.

18