Anda di halaman 1dari 16

PORTOFOLIO

KEJANG DEMAM

Disusun Oleh :

dr.Fani Safitri

Pendamping :

dr. Dika Isnaini

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PUSKESMAS KECAMATAN TAMBORA JAKARTA BARAT

PERIODE 12 FEBUARI 2015 - 12 FEBUARI 2016


BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Nama : dr. Fani Safitri

Judul/Topik : Kejang Demam Kompleks

Nama Pendamping : dr. Dika Isnaini

Nama Wahana : Puskesmas Kecamatan Tambora

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya

Dokter Pendamping

dr. Dika Isnaini


Topik : Kejang Demam

Tanggal Kasus : 2015 Presenter : dr. Fani Safitri

Tanggal Presentasi : 29 Januari 2016 Pendamping :dr. Dika Isnaini

Tempat Presentasi :
Puskesmas Kecamatan Tambora
Obyektif Presentasi :

 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka

 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa

 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil

Deskripsi : Anak perempuan, 2 tahun, datang dengan keluhan post kejang 30 menit
sebelum datang ke IGD Puskesmas Kecamatan Tambora. Kejang disertai
demam.
Tujuan : Melakukan penegakkan diagnosis serta penatalaksanaan pada pasien kejang
demam
Bahan  Tinjauan Pustaka  Riset  Kasus  Audit
Bahasan :
Cara  Diskusi  Presentasi dan Diskusi  Email  Pos
Membahas :
Data Pasien : Nama : An.F Nomor Registrasi :

Nama Klinik : Telp : Terdaftar sejak :


Puskesmas Kecamatan Tambora
Data Utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Pasien An.F datang dengan keluhan post kejang 30 menit sebelum datang ke IGD PKC
Tambora. Kejang disertai demam tinggi sejak tadi pagi. Kejang gelonjotan 5menit, 1x, mata
mendelik keatas, setelah kejang tidak sadarkan diri. Pasien tidak mengalami batuk dan pilek.
Keluar cairan dari telinga, BAB cair dan muntah disangkal. Saat di IGD pasien mengalami
kejang kembali selama 20 detik, kejang gelonjotan dengan mata mendelik keatas. Setelah
kejang pasien sadar dan berbadan lemas.
Pasien memiliki riwayat kejang dari usia 6 bulan. Saat kejang selalu disertai demam.
Selama 2 tahun ini sudah 10x pasien mengalami kejang disertai demam. Menurut ibu pasien,
pasien belum bisa duduk, berdiri, dan hanya bisa berbicara “mama”. Riwayat cedera disangkal.
Pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh 38,8C status generalis dalam batas normal.
2. Riwayat Pengobatan:

Pasien sudah 3x kali dirawat di rumah sakit karena kejang dan sudah pernah berobat ke
dokter spesialis anak karena gangguan tumbuh kembang.
3. Riwayat Keluarga:
Riwayat keluhan serupa dan penyakit lain pada anggota keluarga disangkal.

4. Riwayat Kehamilan Ibu:


Pasien merupakan anak pertama dan selama kehamilan ibu tidak pernah menderita sakit
yang berat dan selalu rutin memeriksa kehamilannya ke bidan.

5. Riwayat Kelahiran:
Lahir spontan, cukup bulan, ditolong bidan, bayi langsung menangis.

6. Riwayat Makanan :
Usia 0-8 bulan diberi ASI, kualitas dan kuantitas cukup.
7. Riwayat Imunisasi:
Imunisasi dasar lengkap.
Daftar Pustaka :
 Lumbantobing, S. M. Kejang Demam (Febrile Convulsion). Jakarta : Balai Penerbit
FKUI. 2007.
 Pusponegoro, H.D, dkk. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta. 2006. Hal 1-14.
 Widodo D P, dkk. Penanganan Demam pada Anak secara Profesional. Depertemen
Kesehatan Anak FKUI. Jakarta. 2005.Hal 58-65.
 Markum, AH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI,
2002
Hasil Pembelajaran :
1. Definisi dan epidemiologi kejang demam
2. Klasifikasi kejang demam
3. Etiologi, faktor risiko, dan patogenesis kejang demam
4. Manifestasi klinis kejang demam
5. Penegakkan diagnosis kejang demam
6. Penatalaksanaan kejang demam
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subyektif

Pasien An.F datang dengan keluhan post kejang 30 menit sebelum datang ke IGD
PKC Tambora. Kejang disertai demam tinggi sejak tadi pagi. Kejang gelonjotan 5menit, 1x,
mata mendelik keatas, setelah kejang tidak sadarkan diri. Pasien tidak mengalami batuk dan
pilek. Keluar cairan dari telinga, BAB cair dan muntah disangkal. Saat di IGD pasien
mengalami kejang kembali selama 20 detik, kejang gelonjotan dengan mata mendelik
keatas. Bibir dan lidah tidak tergigit. Setelah kejang pasien sadar dan berbadan lemas.
Pasien memiliki riwayat kejang dari usia 6 bulan. Saat kejang selalu disertai demam.
Selama 2 tahun ini sudah 10x pasien mengalami kejang disertai demam. Menurut ibu
pasien, pasien belum bisa duduk, berdiri, dan hanya bisa berbicara “mama”. Riwayat cedera
disangkal.
2. Objektif

Keadaan Umum : tampak sakit sedang


Kesadaran : compos mentis (E4V5M6)
Nadi : 112 x / menit regular.
Tekanan Darah :-
Nafas : 25 x /menit, tipe abdomino-torakal
Suhu : 38,8 oC
SaO2 : 99%

Pemeriksaan Fisik :

Kepala, leher : lingkar kepala tidak diukur , pupil isokor 3mm/3mm, reflex cahaya
langsung/tidak langsung +/+, konjunctiva anemis -/-, sclera ikterik -/-
Thorax : pergerakan dada simetri kanan dan kiri
Jantung :BJ I/II regular, gallop (-), murmur (-)
Paru :Suara nafas vesikuler, ronchi -/-,wheezing -/-
Abdomen : Supel (+), bising usus 4x/menit, timpani (+), organomegali (-),nyeri tekan (-)
Ekstremitas : akral hangat pada keempat ekstremitas (+)
Kulit : warna sawo matang merata, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik, lembab,
pengisian kapiler <2 detik.
3. “Assessment” (penalaran klinis)

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal diatas 38,5o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam ini
terjadi pada 2% - 4 % anak berumur 6 bulan–5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang
tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang
demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa
demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam
kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, kemungkinan lain harus dipertimbangkan misalnya infeksi SSP,
atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Definisi ini menyingkirkan kejang yang
disebabkan penyakit saraf seperti meningitis, ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada
keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang
mendasarinya mengenai sistem susunan saraf pusat.

EPIDEMIOLOGI
Kejadian kejang demam diperkirakan 2% - 4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan
dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira–kira 20% kasus merupakan kejang
demam kompleks. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17–23
bulan) kejang demam sedikit lebih sering pada laki–laki.

ETIOLOGI
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran
pernapasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Ada riwayat kejang
demam keluarga yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan
kecenderungan genetik. Selain itu terdapat faktor perkembangan terlambat, problem pada
masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah, cepatnya anak
mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat
keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.
Faktor resiko terjadinya epilepsi di kemudian hari yaitu adanya gangguan
neurodevelopmental, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi dalam keluarga, lamanya
demam saat awitan, lebih dari satu kali kejang demam kompleks.

PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak, diperlukan suatu
energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting
adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi, dimana oksigen disediakan dengan
perantaraan fungsi paru – paru dan diteruskan ke otak melalui kardiovaskuler. Jadi sumber
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel
dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid
dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui
dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na +) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi
dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na–K–ATPase yang terdapat
pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
b. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya.
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10% -15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun,
sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang
hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan
dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion
natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan
listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap
anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang
kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 oC,
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40oC
atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih
sering terjadi pada ambang kejang yang rendah, sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Penelitian binatang menunjukkan
bahwa vasopresin arginin dapat merupakan mediator penting pada patogenesis kejang akibat
hipertermia.
Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akibatnya
terjadihipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik,
hipertensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat
disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan
neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan
peredaran darah yangmengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler
dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada
daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama
dapat menjadi “matang” di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan.
Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
sehingga terjadi epilepsi.

KLASIFIKASI
a. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya akan
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang
tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80 % diantara
seluruh kejang demam. Suhu yang tinggi merupakan keharusan pada kejang demam
sederhana, kejang timbul bukan oleh infeksi sendiri, akan tetapi oleh kenaikan suhu yang
tinggi akibat infeksi di tempat lain, misalnya pada radang telinga tengah yang akut, dan
sebagainya. Bila dalam riwayat penderita pada umur–umur sebelumnya terdapat periode-
periode dimana anak menderita suhu yang sangat tinggi akan tetapi tidak mengalami kejang;
maka pada kejang yang terjadi kemudian harus berhati–hati, mungkin kejang yang ini ada
penyebabnya. Pada kejang demam yang sederhana kejang biasanya timbul ketika suhu sedang
meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak mengetahui sebelumnya
bahwa anak menderita demam.
b. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
Kejang dengan salah satu ciri berikut :
 Kejang lama lebih dari 15 menit.
 Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
 Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih
dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8%
kejangn demam. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang
didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari,
diantara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% diantara anak yang
mengalami kejang demam.

MANIFESTASI KLINIK
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dengan cepat yang disebabkan oleh infeksi susunan saraf
pusat, misalnya tonsilitis, otitis media kut, bronkitis, furunkulosis. Serangan kejang biasanya
terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan
dapat berbentuk tonik-klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa
detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.
Livingston (1954, 1963) membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan,
yaitu:
1. Kejang demam (simple febrile convulsion)
2. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsy triggered off by fever).
Modifikasi kriteria Livingston:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum.
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi
Livingston di atas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya
gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
b. Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Pada
bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena
manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu, pungsi lumbal dianjurkan pada :
1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan.
2. Bayi antara 12–18 bulan dianjurkan.
3. Bayi lebih dari 18 bulan tidak rutin. Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu
dilakukan pungsi lumbal.
c. Elektroensefalografi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karenanya,tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan
kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari
6 tahun atau kejang demam fokal.
d. Pencitraan
Foto X–ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT–scan) atau
magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas
indikasi seperti :
1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
2. Paresis nervus VI
3. Papiledema

DIAGNOSIS BANDING
Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya :
1. Meningoensefalitis
2. Abses otak
3. Epilepsi

Oleh sebab itu, menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus
dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat (otak).
Pungsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber infeksi
seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah mendapat antibiotik
maka perlu pertimbangan pungsi lumbal.

PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Saat Kejang
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang
sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3–0,5 mg/kgBB perlahan–lahan dengan kecepatan 1–2 mg/menit atau
dalam waktu 3–5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat
diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah
0,5–0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10
kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg
untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun. Bila
setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan caradan
dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam
rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dirumah sakit dapat diberikan diazepam
intravena dengan dosis 0,3–0,5 mg/kgBB. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin
secara intravena dengan dosis awal 10–20mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit
atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4–8
mg/kgBB/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti
maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat
selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang demam sederhana atau
kompleks dan faktor resikonya.

b. Pemberian Obat Pada Saat Demam


1. Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang
demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan.
Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10–15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan
tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5–10 mg/kgBB/kali, 3–4 kali sehari. Meskipun jarang,
asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18
bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.
2. Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam menurunkan
resiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis
0,5mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu >38,5C. Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan
ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25%-39% kasus. Fenobarbital,
karbamazepin dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

c. Pemberian Obat Rumat


a. Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut
(salahsatu) :
1. Kejang lama >15 menit.
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal.
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :
 Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
 Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.
 Kejang demam > 4 kali per tahun.
Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam >15 menit merupakan indikasi
pengobatan rumat. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan
ringan bukan merupakan indikasi pengobatan rumat. Kejang fokal atau fokal menjadi umum
menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik.
b. Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan
resiko berulangnya kejang. Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya
dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya
diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pemakaian fenobarbital setiap
hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40%-50% kasus. Obat
pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus,terutama yang berumur
kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam
valproat 15–40 mg/kgBB/hari dalam 2–3 dosis, dan fenobarbital 3–4mg/kgBB/hari dalam 1–
2 dosis.

EDUKASI PADA ORANG TUA


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang
sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus
dikurangidengan cara yang diantaranya :
a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.
b. Memberitahukan cara penanganan kejang.
c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping obat.

Beberapa Hal Yang Harus Dikerjakan Bila Kembali Kejang


a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
d. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
e. Tetap bersama pasien selama kejang.
f. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
g. Bawa ke dokter atau ke rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Vaksinasi
Sejauh ini tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak yang
mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang. Angka
kejadian pascavaksinasi DPT adalah 6–9 kasus per100.000 anak yang divaksinasi, sedangkan
setelah vaksinasi MMR 25–34 per100.000 anak. Dianjurkan untuk memberikan diazepam
oral ataurektal bila anak demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa dokter
anak merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.

PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian.
a. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya
normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang baik umum atau fokal. Kejang yang lebih dari 15 menit, bahkan ada yang
mengatakan lebih dari 10 menit, diduga biasanya telah menimbulkan kelainan saraf yang
menetap.
b. Kemungkinan mengalami kematian
Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.
c. Kemungkinan Berulangnya Kejang Demam
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko berulangnya
kejang demam adalah :
a. Riwayat kejang demam dalam keluarga
b. Usia kurang dari 12 bulan
c. Temperatur yang rendah saat kejang
d. Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor diatas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya
10 % - 15 %. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.
Faktor resiko menjadi epilepsi adalah :
a. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama.
b. Kejang demam kompleks.
c. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing–masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4%-6%,
kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-
49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada
kejang demam.
4. “Plan”

Diagnosis :
Kejang Demam Kompleks
Delayed Development

Pengobatan :

Medikamentosa
 O2 nasal kanul 2L/mnt
 Pamol Supp 125mg
 Stesolid 10mg sup
 IVFD RL 20tpm
 Rujuk IGD RS Pelni Petamburan

Non Medikamentosa
a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan
muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah
tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
d. Tetap bersama pasien selama kejang.

Pendidikan

Dilakukan kepada keluarga untuk membantu proses penyembuhan dan pemulihan. Keluarga
juga perlu diberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakit dan prognosis pada pasien ini.
Diberikan pengarahan kepada keluarga bahwa penyakit ini dapat dicegah.

Konsultasi

Dijelaskan perlunya konsultasi dengan spesialis anak untuk penanganan selanjutnya.


Konsultasi ini merupakan upaya agar penanganan optimal untuk komplikasi dan tidak terjadi
komplikasi lainnya.