Anda di halaman 1dari 2

IUFD

Nomor
:
Dokumen
No. Revisi :
SOP
Tanggal
:
Terbit
(Logo Pemda) (Lambang Puskesmas)
Halaman : 1/3

PUSKESMAS 0DIH,
Ttd Ka Puskesmas
CIPEUNDEUY NIP. ............

1. Pengertian Kematian janin intra uterina (intrauterine fetal


demise, IUFD ) (lahir mati) adalah janin dengan tidak
ada tanda-tanda kehidupan intra uterine.
2. Tujuan -
3. Kebijakan -
4. Referensi 1. Sarwono P. Buku acuan nasional. Pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal, 2009
2. WHO second n trimester intrauterine fetal Death
Misoprostol Guidelines. 2007.
3. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan
ginekologi RS. Hasan sadikin Bandung 2005
5. Prosedur / Langkah – 1. Pemeriksaan tanda vital
Langkah 2. Ambil darah untuk periksa darah perifer, fungsi
pembekuan, golongan darah ABO dan Rhesus
3. Dukungan mental emosional dan di berikan
kepada pasien. Sebaiknya, pasien di dampingi
oleh orang terdekat. Yakni bahwa besar
kemungkinan dapat lahir pervaginam
4. Rencana persalinan pervaginam dengan cara
induksi maupun ekspetatif, perlu di bicarakan
kepada pasien dan keluarganya sebelum
keputusan di ambil
5. Bila pilihan adanya ekspetatif: tunggu persalinan
spontan hingga 2 minggu, yakinkan bahwa 90%
persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi
6. Bila pilihan adalah manajemen akti: induksi
persalinan menggunakan oksitosin dan
misoprostol. Penggunaan misoprostol pervaginam
sama efektifnya dengan peroral, tapi dnegan efek
samping yang lebih sedikit. Penggunaan
misoprostol intravaginal lebih efektif dari pada
pemberian oksitosin intravena
7. Penggunaan misoprostol peroral (200 mg 3 X
perhari , selama 2 hari) meningkatkan terjadinya
persalinan secara signifikan dalam waktu 72 jam
pada pasien dengan riwayat SCTPP
8. Metode mekanik untuk menginduksi persalinan
pada pasien IUFD dengan riwayat SCTPP hanya
diperbolehkan dalam konteks percobaan klinik dan
dapat meningkatkan resiko terjadinya Ascending
infektion
9. Sc merupakan pilihan misalnya pada letak lintang
10. Berikan kesempatan kepada ibu dan keluaganya
untuk melihat dan melakukan berbagai kegiatan
ritual bagi janin yang meninggal tersebut
11. Ketika konsen untuk autoksi lengkap di tolak, di
lakukan test yang tidak infasif untuk
penatalaksanaan lebih lanjut. Teknik ini termasuk
inspeksi pengukuran poto radiografi usg mri
sempel kulit dan darah dan dokumentasi dari
semua abnormalitas
12. Dilakukan pencatatan mengenai bb janin, lingkar
kepala, pb, berat plasenta. Poto harus termasuk
bagian prontal dan gambaran seluruh tubuh janin,
muka, ekstremitas, telapak tangan dan abnormal
litas lainnya
13. Pemeriksaan cairan amnion dengan amnion
simtesis, sekmen tali pusat (1,5 cm), sepesimen
jaringan internal janin misal costochondral junction
atau patella)
14. Pemeriksaan patologi plasenta akan
,mengungkapkan adanya patologi plasenta dan
inveksi.
6. Bagan Alir ( Jika -
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Bidan praktek swasta
2. Unit KIA
8. Rekaman historis
perubahan No Yang Isi Tanggal mulai
diubah Perubahan diberlakukan