Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi di Indonesia sebagai negara berkembang semakin


pesat. Permintaan energy listrik akan terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan
ekonomi. Energy listrik merupakan kebutuhan yang vital bagi kegiatan sehari –
hari. Hampir semua peralatan yang digunakan memerlukan listrik, peralatan
rumah tangga hingga mesin – mesin industry yang membutuhkan energy listrik
yang besar.

Maka dari itu dibangunlah pembangkit – pembangkit listrik sebagai


pemasok energy listrik. Ada beberapa jenis pembangkit listrik misalnya PLTA (
Pembangkit Listrik Tenaga Air ), PLTG ( Pembangkit Listrik Tenaga Gas ),
PLTD ( Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ), PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga
Uap) dan lain – lain.

PLTU ( Pembangkit Listrik Tenaga Uap ) merupakan pembangkit listrik


yang banyak digunakan di Indonesia karena berbagai kelebihan, yaitu dapat
dioperasikan dengan berbagai jenis bahan bakar, dapat dibangun dengan
kapasitas yang bervariasi, dapat dioperasikan dengan berbagai operasi
pembebanan, dan kontinyuitas operasi serta usia pakai yang relative lama.

PLTU batubara memiliki lima komponen utama yaitu boiler (steam


generator), turbin uap ( steam turbin ), pompa, kondensor, dan generator.
Komponen tersebut bekerja secara berkaitan untuk menghasilkan energy listrik.
Generator merupakan mesin pembangkit listrik yang berfungsi untuk mengubah
energy mekanik dalam bentuk putaran menjadi energy listrik.

1
Ship unloader merupakan peralatan penting atau peralatan utama dalam
kegiatan pembongkaran batubara yang di kirim melalui tongkangatau kapal
pengangkut batu bara di sebuah PLTU.Sehingga ketika performa dari ship
unloader tersebut terganggu, maka akan mempengaruhi proses produksi dari
PLTU tersebut. Putusnya kabel baja atau wire rope pada ship unloader akan
menyebabkan kegiatan bongkar membongkar batu bara dari tongkang akan
mengalami gangguan sehingga proses selanjutnya akan terhambat. Oleh karena
itu performa dari kabel baja atau wire rope tersebut harus di tingkatkan agar
proses membongkar batu bara tidak terhambat.

Proses kerja dari ship unloader adalah mengambil batubara dari kapal
tongkang atau kapal pengangkut batubara menggunakan grab kemudian di
unload material batubara ke hopper ship unloader yang kemudian di umpankan
ke belt conveyor.

Manfaat yang diharapkan pada analisa ini dapat mengoptimalkan


pembongkaran batu bara untuk kehandalan unit sehingga dapat menjaga
kehandal produksi energy untuk menjadikan kehidupan masyarakat yang lebih
baik.

1.2 Permaslahan

1. Apa penyebab rantas pada wire rope?


2. Berapa kekuatan material dan sifat mekanik pada wire rope?
3. Bagaimana mengoptimalkan fungsi pemeliharaan yang harus dilakukan
pada wire rope?
4. Bagaiman kelayakan wire berdasarkan beban kinerja serta life time
operasional?

1.3 Batasan Masalah


1. Jenis part yang di analisa merupakan jenis wire rope pada bucket

2
2. Hasil uji mekanis diambil dari catalog atau manual book ship unloader
3. Analisa ini lebih difokuskan terhadap kekuatan material serta pemeliharaan
yang harus dilakukan.

1.4Tujuan

1. menentukan batasan life time operasional wire rope

2.menentukan jenis pemeliharan untuk wire rope ship unloader

1.5 Manfaat

1. Meningkatkan kemampuan mahasisiwa dalam mengaplikasikan teori yang


diperoleh selama kuliah
2 Meningkatkan wawasan dalam menganalisis dan memecahkan masalah
yang ada dalam ship unloader
3 Sebagai masukan bagi perusahaan berupa rekomodasi perbaikan dengan
meminimalisir kerusakan pada ship unloader .

3
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan pembangkit listrik


tenaga uap yang mengkonversi energi kimia dalam bahan bakar batubara
menjadi energi listrik. PLTU banyak digunakan, karena efisiensinya tinggi
sehingga menghasilkan energi listrik yang ekonomis. Secara sederhana uap
yang dihasilkan oleh pembakaran batubara memutar mesin turbin untuk
menghasilkan listrik.

Proses konversi energi pada PLTU berlangsung melalui 3 tahapan, yaitu :

1. Energi kimia dalam bahan bakar diubah menjadi energi panas dalam
bentuk uap bertekanan dan temperatur tinggi.
2. Energi panas (uap) diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk
putaran.
3. Energi mekanik diubah menjadi energi listrik.

Gambar 2.1 Konversi energi pada PLTU

Bagian utama

4
1. Boiler

Boiler berfungsi untuk mengubah air (feed water) menjadi uap panas
lanjut (superheated steam) yang akan digunakan untuk memutar turbin.

2. Turbin uap

Turbin uap berfungsi untuk mengkonversi energi panas yang dikandung


oleh uap menjadi energi putar (energi mekanik). Poros turbin dikopel dengan
poros generator sehingga ketika turbin berputar generator juga ikut berputar.

3. Kondensor

Kondensor berfungsi untuk mengkondensasikan uap bekas dari turbin


(uap yang telah digunakan untuk memutar turbin).

4. Generator

Generator berfungsi untuk mengubah energi putar dari turbin menjadi


energi listrik.

Peralatan penunjang

1. Desalination Plant (Unit Desal)

Peralatan ini berfungsi untuk mengubah air laut (brine) menjadi air
tawar (fresh water) dikarenakan sifat air laut yang korosif, sehingga jika air laut
tersebut dibiarkan langsung masuk ke dalam unit utama, maka dapat
menyebabkan kerusakan pada peralatan PLTU.

2. Reverse Osmosis (RO)

5
Berfungsi menyaring garam-garam yang terkandung pada air laut,
sehingga dapat dihasilkan air tawar seperti pada desalination plant.

3. Demineralizer Plant (Unit Demin)

Berfungsi untuk menghilangkan kadar mineral (ion) yang terkandung


dalam air tawar. Air sebagai fluida kerja PLTU harus bebas dari mineral,yang
dapat menyebabkan korosi pada peralatan PLTU.

4. Hidrogen Plant (Unit Hidrogen)

Digunakan hydrogen (H2) sebagai pendingin Generator.

5. Chlorination Plant (Unit Chlorin)

Berfungsi untuk menghasilkan senyawa natrium hipoclorit (NaOCl)


yang digunakan untuk memabukkan/melemahkan mikro organisme laut pada
area water intake.

6. Auxiliary Boiler (Boiler Bantu)

Berfungsi untuk menghasilkan uap (steam) yang digunakan pada saat


boiler utama start up maupun sebagai uap bantu (auxiliary steam).

7. Coal Handling (Unit Pelayanan Batubara)

Merupakan unit yang melayani pengolahan batubara yaitu dari proses


bongkar muat kapal (ship unloading) di dermaga, penyaluran ke stock area
sampai penyaluran ke bunker unit.

8. Ash Handling (Unit Pelayanan Abu)

6
Merupakan unit yang melayani pengolahan abu baik itu abu jatuh
(bottom ash) maupun abu terbang (fly ash) dari Electrostatic Precipitator
hopper dan SDCC (Submerged Drag Chain Conveyor) pada unit utama sampai
ke tempat penampungan abu (ash valley).

Proses Kerja PLTU Batubara

Gambar 2.2 Proses Kerja PLTU Batubara

1. Batubara dihaluskan hingga menyerupai tepung, kemudian dicampur


dengan udara panas dan disemprot dengan tekanan tinggi. Dengan adanya
ignition maka akan terjadi pembakaran yang maksimum ke dalam boiler.
2. Air dialirkan melalui pipa di dalam dinding boiler, dipanaskan menjadi uap
hingga mencapai suhu 1000oF dengan tekanan 200 bar dan disalurkan ke
turbin.
3. Tekanan uap yang besar akan mendorong poros turbin yang dihubungkan
ke poros generator dimana magnet berputar dalam kumparan sehingga
menghasilkan listrik.
4. Uap yang keluar dari turbin dialirkan ke kondensor untuk dimasak ulang.
Sedangkan air pendingin akan disemprotkan ke dalam cooling tower,

7
kemudian dipompa kembali ke kondensor sebagai air pendingin ulang dan
uap air dikembalikan ke boiler untuk mengulangi siklus.

Gambar 2.3 Siklus kerja PLTU


2.2 Ship Unloader

Ship Unloader adalah salah satu alat yang terdapat dalam system coal
handling yang berfungsi untuk memindakan batu bara dari kapal. Pada PLTU
tanjung jati b Ship Unloader yang digunakan adalah tipe grab unloading
system, menggunakan clamshell bucket unloader yang umumnya merupakan
mesin statis dengan bantuan tower yang dilengakapi dengan cantilevered boom.
peralatan ini biasa digunakan pada barge yang memiliki kapasitas menengah ke
atas karena memiliki maximum unloading rate sebesar 1500 ton/jam

8
Gambar 2.4 Ship Unloder PLTU

2.3 Tali Baja (Steel Wire Rope)

Tali kawat baja atau sering dikenal dengan Wire Rope adalah tali yang
dibuat dari kumpulan jalinan serat-serat baja. Wire rope digunakan pada
peralatan berat yang berfungsi sebagai alat pengangkat dan pengangkut.
Beberapa kawat baja (steel wire) dipintal disebut strand. Kemudian beberapa
strand dijalin pula pada serat inti (core) sehingga membentuk suatu jalinan ang
disebut tali kawat baja. Untuk mengangkat dan menurunkan beban digunakan
tali baja yang digulungkan pada drum. Tali baja dibuat dari bahan baja yang
mempunyai batas tegangan tarik antara b = 130 – 180 kg/mm2, yaitu tegangan
putus pada tali baja tersebut

Untuk mengangkat dan menurunkan beban digunakan tali baja yang


digulungkan pada drum. Tali baja dibuat dari bahan baja yang mempunyai
batas tegangan tarik antara 130 – 180 kg/mm2, yaitu tegangan putus pada tali
baja tersebut. Tali baja yang merupakan sarana untuk pengangkatan mempunyai
sifat – sifatnya yang berbeda dengan rantai, yaitu :

9
1. Lebih ringan
2. Lebih tahan terhadap sentakan atau beban kejut
3. Dapat digunakan untuk kecepatan angkat yang tinggi
4. Bila akan putus memperlihatkan tanda – tanda
5. Berat persatuan panjang adalah kecil
6. Elastic

Gambar 2.5 Tali Baja (Steel Wire Rope)

2.3.1 Jenis-jenis wire dan klasifikasi

NO Jenis-Jenis Klasifikasi
1. Close rope - Diameter tali 3,2 cm
- Type warrington-seale 246
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(1+8+8/8+16)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan
putus
- Panjang 135 m
- Minimum putus kabel 180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 72700 kg

2. Hold rope - Diameter tali 3,2 cm


- Type warrington-seale 246
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(1+8+8/8+16)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan
putus
- Panjang 127 m

10
- Minimum cach minimum tekanan kabel
180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 72700 kg

3. Rack rope (apron - Diameter tali 4,4 cm


end) - Type seale-filler 276
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(1+9-9/9+18)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan
putus
- Panjang 140 m
- Minimum cach minimum tekanan kabel
180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 139900 kg
4. Rak rope (rear end) - Diameter tali 4,4 cm
- Type seale-filler 276
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(1+9+9/9-18)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan
putus
- Panjang 102 m
- Minimum cach minimum tekanan kabel
180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 139900 kg
5. Apron rope - Diameter tali 3,2 cm
- Type warrington-seale 216
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(14+7/7+7+1)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan
putus
- Panjang 344 m
- Minimum cach minimum tekanan kabel
180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 77890 kg
6. Compensating rope - Diameter tali 4,4 cm
- Type seale-filler 276
- Kabel+tali kawat baja independen inti -
6(1+9-9/9+18)
- Prestressed hingga 50% dari kekuatan

11
putus
- Panjang 54 m
- Minimum cach minimum tekanan kabel
180 kg/mm
- Pemecahan tegangan minimum tali
kawat 139900 kg

Tabel 2.1 Jenis-Jenis dan Klasifikasi

2.4 Kekuatan Wire Rope (Tali Baja)

Kekuatan wire rope berbed-BED sesuai dengan jenisnya, perbedaan


kekuatan tersebt didapat dolihat dari diameter, grade dan kontruksinya. Untuk
dapat memperoleh manfaat maksimal dari wire rope, pastikan untuk memahami
perbedaan setiap wire rope sebelum melakukan pembelian. Satuan kekuatan
wire rope memiliki istilah inernasional yaitu working load limit (WLL) atau
safe working load (SWL) dan umumnya memiliki satuan ton.

Selain diameter, grade dan kontruksi wire rope, metode penggunaan


wire rope juga mempengaruhi kekuatan wire rope dalam mengangkut beban.
Metode penggunaan tersebut mencakup jumlah wire rope yang digunakan dan
sudut sling saat mengangkut beban .

Bila kita ingin mengetahui SWL (Safe Working Load) atau dalam
Bahasa Indonesia disebut BKA (Beban Kerja Aman) sebuah tali kawat baja
kita harus mengingat factor keamanan yang sesuai pengunaannya

SWL = Kekuatan Putus Tali (Breaking Strength)

Faktor keamanan (Safety Factor)

Faktor keamanan menurut standar API adalah

- Tali diam = 3 (tali pendant)

- Tali berjalan = 3,5 (tali hoist)

- Tali sling = 5 (tali angkat beban)

- Tali personel = 10 (man cage/ man basket)

12
Fungsi Safety Factor

- Untuk mengakomodasikan kekuatan putus tali (breaking strength)

- Karena penggunaan yang kurang tepat

- Karena perkiraan berdat barang yang tidak tepat

- Banyak lagi factor lain

Daftar Kekuatan Putus wire

Rope Rope Approx Weight Nominal Breaking Strength


Diameter Diameter Kg/100 m 180 kgf/m
(mm) (inch) FC IWRC FC IWRC

8 5/16 21.5 24.3 3540 3813


9 3/8 27.2 30.7 4480 4825
10 - 33.6 38.0 5530 5958
11 7/16 40.0 45.9 6690 7209
12 - 48.4 54.7 7970 8579
13 ½ 56.8 64.2 9350 10069
14 9/16 65.8 74.4 10800 11677
16 5/8 86.0 97.2 14200 15252
18 11/16 112.0 123.0 17904 19303
19 ¾ 124.0 137.0 19948 21508
22 7/8 167.0 183.0 26745 28837
24 15/16 199.0 218.0 31829 34318
25 1 216.0 237.0 34537 37227
28 1-1/3 271.0 297.0 43323 46710
32 1-1/4 354.0 389.0 56586 61009
36 1-3/8 448.0 493.0 71600 77418
38 1-1/2 500.0 550.0 79900 86290
40 - 554.0 609.0 88500 95580
44 1-3/4 670.0 737.0 107000 115580

Table 2.2 daftar kekuatan putus wire

13
2.4.1 Pengertian tegangan

Tegangan (stress) adalah gaya yang bekerja pada permukaan seluas


satu satuan. Tegangan merupakan besaran skalar yang memiliki satuan N.m-2
atau Pascal (Pa). Tegangan pada sebuah benda menyebabkan benda itu
mengalami perubahan bentuk.

Jenis Tegangan (Stress)

Gambar 2.6 jenis Tegangan (Stress) pada benda padat

Ada tiga jenis tegangan yaitu tegangan tarik yang menyebabkan


pertambahan panjang (gambar 1.a) tegangan tekan yang menyebabkan
pengurangan atau penyusutan panjang (Gambar 1.b) dan tegangan geser yang
menyebabkan perubahan bentuk (Gambar 1.c)

Regangan (strain) adalah pertambahan panjang suatu benda yang


disebabkan oleh dua gaya sama besar dengan arah berlawanan dan menjauhi
ujung benda

Tekanan adalah memendeknya suatu benda yang disebabkan oleh dua


gaya yang sama dengan arah berlawanan dan masing-masing menuju tengah
benda. Sedangkan geser adalah bergesernya permukaan suatu benda yang

14
disebabkan oleh dua gaya yang sama besar dengan arah berlawanan dan
masing-masing bekerja pada sisi benda.
Bentuk Umum kurva tegangan

Gambar 2.7 Diagram Tegangan-Regangan

Apabila suatu jenis tegangan digambarkan pada suatu diagram, maka


akan diperoleh kurva yang bentuknya berbeda-beda yang sesuai dengan bahan
yang diuji tegangannya. Gambar 2 menunjukkan bentuk umum kurva tegangan
dari suatu benda.
Kurva itu menunjukkan pertambahan panjang suatu bentuk atau bahan
terhadap gaya yang diberikan padanya. Sampai suatu titik yang disebut batas
proporsional. Kemudian pada suatu titik tertentu benda itu sampai pada batas
elastic dimana benda itu akan kembali kepanjang semula jika gaya dilepaskan.
Jika benda diregangkan melewati batas elastic. Maka akan memasuki daerah
plastis dimana benda tidak akan kembali kepanjang awalnya ketiga gaya
eskternal dilepaskan tetapi tetap berubah bentuk secara permanen (seperti
melengkungnya sebatang besi). Perpanjangan maksimum dicapai pada titik
(titik pulus) gaya maksimum yang dapat diberikan tanpa benda itu patah disebut
sebagai kekutan maksimum dari materi itu

2.4.2 Kekuatan Tarik

Kekuatan tarik (tensile strength, ultimate tensile strength) adalah


tegangan maksimum yang bisa ditahan oleh sebuah bahan ketika diregangkan

15
atau ditarik, sebelum bahan tersebut patah. Kekuatan tarik adalah kebalikan dari
kekuatan tekan, dan nilainya bisa berbeda.

Beberapa bahan dapat patah begitu saja tanpa mengalami deformasi,


yang berarti benda tersebut bersifat rapuh atau getas (brittle). Bahan lainnya
akan meregang dan mengalami deformasi sebelum patah, yang disebut dengan
benda elastis (ductile).

Kekuatan tarik umumnya dapat dicari dengan melakukan uji tarik dan
mencatat perubahan regangan dan tegangan. Titik tertinggi dari kurva tegangan-
regangan disebut dengan kekuatan tarik maksimum (ultimate tensile
strength). Nilainya tidak bergantung pada ukuran bahan, melainkan karena
faktor jenis bahan. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi seperti keberadaan
zat pengotor dalam bahan, temperatur dan kelembaban lingkungan pengujian,
dan penyiapan spesimen.

Dimensi dari kekuatan tarik adalah gaya per satuan luas. Dalam satuan
SI, digunakan pascal (Pa) dan kelipatannya (seperti MPa, megapascal). Pascal
ekuivalen dengan Newton per meter persegi (N/m²). Satuan imperial
diantaranya pound-gaya per inci persegi (lbf/in² atau psi), atau kilo-pound per
inci persegi (ksi, kpsi).

Kekuatan tarik umumnya digunakan dalam mendesain bagian dari suatu


struktur yang bersifat ductile dan brittle yang bersifat tidak statis, dalam arti
selalu menerima gaya dalam jumlah besar, meski benda tersebut tidak bergerak.
Kekuatan tarik juga digunakan dalam mengetahui jenis bahan yang belum
diketahui,[1] misal dalam forensik dan paleontologi. Kekerasan bahan memiliki
hubungan dengan kekuatan tarik. Pengujian kekerasan bahan salah satunya
adalah metode Rockwell yang bersifat non-destruktif, yang dapat digunakan
ketika uji kekuatan tarik tidak dapat dilakukan karena bersifat destruktif.[2]

2.4.3 Modulus elastisitas

Modulus elastisitas adalah angka yang digunakan untuk mengukur


objek atau ketahanan bahan untuk mengalami deformasi elastis ketika gaya
diterapkan pada benda itu. Modulus elastisitas suatu benda didefinisikan
sebagai kemiringan dari kurva tegangan-regangan di wilayah deformasi
elastis:[1] Bahan kaku akan memiliki modulus elastisitas yang lebih tinggi.
Modulus elastis dirumuskan dengan: di mana tegangan adalah gaya
menyebabkan deformasi dibagi dengan daerah dimana gaya diterapkan dan
regangan adalah rasio perubahan beberapa parameter panjang yang disebabkan
oleh deformasi ke nilai asli dari parameter panjang. Jika stres diukur dalam

16
pascal , kemudian karena regangan adalah besaran tak berdimensi, maka Satuan
untuk λ akan pascal juga.[2]

Menentukan bagaimana stres dan regangan yang akan diukur, termasuk


arah, memungkinkan untuk berbagai jenis modulus elastisitas untuk
didefinisikan. Tiga yang utama adalah:

 Modulus Young ( E ) menjelaskan elastisitas tarik atau kecenderungan


suatu benda untuk berubah bentuk sepanjang sumbu ketika stress
berlawanan diaplikasikan sepanjang sumbu itu; itu didefinisikan sebagai
rasio tegangan tarik terhadap regangan tarik. Hal ini sering disebut
hanya sebagai modulus elastisitas saja.
 Modulus geser atau modulus kekakuan ( G atau ) menjelaskan
kecenderungan sebuah objek untuk bergeser (deformasi bentuk pada
volume konstan) ketika diberi kekuatan yang berlawanan; didefinisikan
sebagai tegangan geser terhadap regangan geser. Modulus geser
modulus adalah turunan dari viskositas.
 bulk modulus ( K ) menjelaskan elastisitas volumetrik, atau
kecenderungan suatu benda untuk berubah bentuk ke segala arah ketika
diberi tegangan seragam ke segala arah; didefinisikan sebagai tegangan
volumetrik terhadap regangan volumetrik, dan merupakan kebalikan
dari kompresibilitas. Modulus bulk merupakan perpanjangan dari
modulus Young pada tiga dimensi.

Tiga modulus elastisitas lain adalah modulus axial, parameter pertama


Lame, dan modulus gelombang P. Bahan material homogen dan isotropik
(sama di semua arah) memiliki sifat keelastisitasan yang dijelaskan oleh dua
modulus elastisitas, dan satu dapat memilih yang lain.

Kemudian pada satu titik tertentu benda itu sampai pada batas elastic
dimana benda itu akan kembali panjang semula jika gaya dilepaskan. Jika
benda diregangkan melewati batas elastic, maka akan memasuki daerah plastis
dimana benda akan kembali panjang awalnya ketiga gaya eksternal dilepaskan,
tetapi tetap berubah bentuk secara permanen(seperti melengkungnya sebatang
besi). Perpanjangan maksimum dicapai pada titik patah(titik putus). Gaya
maksimum yang dapat diberikan tanpa benda itu patah disebut sebagai
kekuatan maksimum dari benda itu. Tabel menunujukkan daftar kekuatan tarik,
kekuatan tekan dan kekuatan geser maksimum untuk berbagai materi

17
Tabel 2.3 kekuatan maksimum bahan (gaya/luas)

18
BAB III STUDI KASUS

3.1 Identifikasi Permasalahan


Wire grab adalah salat satu system pada ship unloader yang berada
dibucket berfungsi untuk mengangkat bucket dan membuka tutup bucket
pada ssat mengambil batu bara dari kapal maupun mau menaruh dihopper.
Pada saat wire grab bekerja wire mengalami tarikan karena dia menahan
beban bucket dan isi batu bara yaitu 30 ton. Bila mana dibiarkan terus
menerus akan mengalami keputusan pada wire grab itu sendiri karna setiap
wire memilik life time.
Kerusakan atau kinerja system pada wire grab yang kurang baik pada
saat pengankatan bucket maupun pembukaan dan penutupan bucket akan
berdampak pada kinerja dari unit ship unloader dan apabila tidak segera
ditangani maka akan mengalami gangguan pada saat produksi dan
mengalami kerugian.

Gambar 3.8 putusnya wire

19
3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Diagram Alir


Diagram alir proses identifikasi laporan dapat dilihat
berikut.

Mulai

Identifikasi Masalah Pada Wire Gope

Observasi Awal

Studi
Literatur

Identifikasi Putusnya Wire


Grab

Tidak
Apakah Nilai
Putusnya
wire Grab
Normal?

Ya

Operasi Normal

Mulai
Gambar 3.9 Diagram Alir

3.2.2 Pengambil Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan
laporan ini yaitu dengan cara :

20
1. Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan adalah suatu metode dengan cara
memperbanyak pengumpulan data melalui buku – buku referensi
yang ada di perusahaan PT ARPENI PRATAMA OCEAN LINE
Tbk. PLTU jepara
2. Observasi
Metode observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan cara
mengamati langsung ke lapangan.
3. Interview
Metode interview adalah dengan cara mengajukan pertanyaan
langsung atau dialog dengan pembimbing Kerja Praktek dan
Karyawan PT ARPENI PRATAMA OCEAN LINE Tbk. PLTU
jepara
4. Sumber Internet
Yaitu informasi tambahan yang diperoleh dengan browsing di
internet.

21
BAB IV DATA ANALISIS

4.1 Analisa Penyebab Kerusakan

Penyebab terjadinya permasalahan pada wire grab pada ship


unloader itu sendiri adalah diakibatkan pada menahan beban terus
menerus yang terjadi pada saat pengangkatan batu bara dari kapal
kedermaga mengakibatkan pada wire yang mudah putus bilamana
kurangnya pemiliharaan pada wire grab itu sendiri.

Untuk menganlisa penyebab kerusakan pada wire grab yaitu dengan


sesuai urutan yang udah ditentukan:

4.1.1 Data Pengantian Wire


1. dilakukan penggantian pada bucket unit wire rope SN: 119,
bucket unit SN: 1076 Ship Unloader. Penggantian dilakukan
dikarenakan kedua wire rope tersebut mengalami kerusakan rata-
rata 48 dalam 200mm & waktunya diganti. Guna proses
pembongkaran batu Bara & keamanan maka dilakukan
penggantian,

Berikut ini detail spesifikasinya:

Item Deskripsi Type Jumlah Kondisi


01 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 1 Length Baru
wires + metal core –
RHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
02 Bucket unit wire rope Breaking
Type: strength 76.4
Warrington ton-
- Seale 216 1 Length Baru
Length : 18 mtrs
+ metal core –
79.1 ton
wires
LHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
Length : 18 mtrs
79.1 ton

22
Gambar 4.10 Penggantian pada bucket unit wire rope SN: 119, bucket unit
SN: 1076 Ship Unloader.

2. dilakukan penggantian pada bucket unit wire rope SN: 119 Ship
Unloader 1A,bucket unit SN: 1076 Ship Unloader 1B.
Penggantian dilakukan dikarenakan kedua wire rope tersebut
mengalami kerusakan rata-rata 54 dalam 200mm & waktunya
diganti. Guna proses pembongkaran batu bara & keamanan
maka dilakukan penggantian,

Berikut ini detail spesifikasinya:

Item Deskripsi Type Jumlah Kondisi


01 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 2 Length Baru
wires + metal core –
RHOL KISWIRE

6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
79.1 ton
Length : 18 mtrs

23
02 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 2 Length Baru
wires + metal core –
LHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
Length : 18 mtrs
79.1 ton

Gambar 4.11 Penggantian pada bucket unit wire rope SN: 119 Ship Unloader
1A,bucket unit SN: 1076 Ship Unloader 1B.

3. dilakukan penggantian pada bucket unit wire rope bucket unit


SN: 118 dan bucket unit SN: 1075 . Penggantian dilakukan
dikarenakan kedua wire rope tersebut mengalami kerusakan
rata-rata 48 dalam 200mm & waktunya diganti. Guna proses
pembongkaran batu bara & keamanan maka dilakukan
penggantian,

Berikut ini detail spesifikasinya:

24
Item Deskripsi Type Jumlah Kondisi
01 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 2 Length Baru
wires + metal core –
RHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
02 Bucket unit wire rope Breaking
Type: strength 76.4
Warrington ton-
- Seale 216 2 Length Baru
Length : 18 mtrs
+ metal core –
79.1 ton
wires
LHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
Length : 18 mtrs
79.1 ton

Gambar 4.12 penggantian pada bucket unit wire rope bucket


unit SN: 118 dan bucket unit SN: 1075

4. dilakukan penggantian pada bucket sn 1076 diganti dengan


bucket sn 118 shunlo 1A . Penggantian dilakukan dikarenakan
kedua wire rope bucket sn 1076 tersebut mengalami kerusakan
rata-rata 48 dalam 200mm dan penurunan diameter . Guna

25
proses pembongkaran batu bara & keamanan maka dilakukan
penggantian,

Berikut ini detail spesifikasinya:

Item Deskripsi Type Jumlah Kondisi


01 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 1 Length Baru
wires + metal core –
RHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
02 Bucket unit wire rope Breaking strength 76.4
Type: Warrington ton-
- Seale 216 1 Length Baru
Length : 18 mtrs
+ metal core –
79.1 ton
wires
LHOL KISWIRE

6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
Length : 18 mtrs
79.1 ton

Gambar 2.13 penggantian pada bucket sn 1076 diganti dengan bucket


sn 118 shunlo 1A

26
5. dilakukan penggantian pada bucket unit wire rope bucket unit
SN: 118 dan bucket unit SN: 1075 . Penggantian dilakukan
dikarenakan kedua wire rope tersebut mengalami kerusakan
atau putus pada wire sebelah kanan untuk bucket sn 118 dan
sebelah kiri untuk bucket sn 1075..Guna proses pembongkaran
batu bara & keamanan maka dilakukan penggantian,

Berikut ini detail spesifikasinya:

Item Deskripsi Type Jumlah Kondisi


01 Bucket unit wire rope Type: Warrington - Seale 216 2 Length Baru
wires + metal core –
RHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
02 Bucket unit wire rope Type: Warrington
Breaking - Seale
strength 76.4 216 2 Length
ton- Baru
Length : 18 mtrs
wires + metal core –
79.1 ton
LHOL KISWIRE
6Xws(36)+IWRC
Dia : 32 mm
Breaking strength 76.4 ton-
Length : 18 mtrs
79.1 ton

Gambar 2.14 penggantian pada bucket unit wire rope bucket unit SN: 118
dan bucket unit SN: 1075

27
4.1.2 Efek gangguan pada wire
No Pemasalahan Indikasi Permasalahan

1 Produksi macet Pada saat penggantian wire yang baru proses proses
produksi jadi terhambat
2 Mudah Putus Kurangnya pelumasan mengakibatkan gesekan
berat diarea tertentu
3 Tidak Imbang Pada saat bucket mengangkat batu bara wire tidak
imbang sebelah

Tabel 4.4 Efek Gangguan pada wire

4.1.3 Penyebab kerusakan pada wire


1. Keausan
Ada dua macam keausan pada tali kawat, yaitu keausan dalam
dan keausan luar yang mengakibatkan berkurangnya diameter.
Keausan dalam terjadi karena gesekan di antara sesama kawat
penyusun tali, sedangkan keausan luar adalah aus yang disebabkan
kontak antara tali kawat dengan drum, sheave, guide wheel, dan
lain-lain, serta keausan karena korosi.
Apabila alur sheave aus secara tidak merata, tali kawat tidak
akan aus merata dalam arah melingkar (keausan konsentris), dan
kadang kala hanya satu sisi tali yang aus (keausan eksentris), yang
mana meningkatkan kelemahannya, dan pengurangan beban
putusnya menjadi maksimum (gampang putus).Untuk mencegah
keausan, bukan saja dengan memberi minyak pelumas pada tali
kawat, tetapi harus berusaha memelihara trek, guide wheel, sheave
dan lain-lain.

28
2. Korosi
Secara garis besar korosi dibagi menjadi korosi luar dan korosi
dalam, di mana korosi luar disebabkan oleh terlepas atau
melelehnya lapisan minyak pelumas karena kelembaban, air hujan
atau gas beracun, sehingga permukaan logam kawat terbuka.
Sedangkan, apabila kandungan minyak pelumas kawat inti
berkurang, air akan merembes masuk menggantikan minyak
pelumas, dan mengakibatkan keausan dalam. Ada kalanya diameter
tali kawat berkurang banyak oleh keausan dalam dan korosi,
walaupun keausan luarnya kecil.
Pada umumnya, tali kawat menjadi lemah terhadap korosi
dengan bertambah besarnya kekuatan tarik. Untuk tali kawat
dengan diameter yang sama, ketahanan terhadap korosi menjadi
rendah dengan mengecilnya diameter kawat.
Untuk mencegah korosi sudah barang tentu harus menghindari
air, gas dan penyebab lainnya, tetapi adalah sulit melakukannya
secara sempurna, sehingga korosi ditangggulangi dengan plating
(pelapisan) dan pengolesan minyak pelumas. Pelapisan yang umum
dilakukakan adalah galvanisasi. Sebagai minyak pelumas terdapat
pelumas tali hitam dan pelumas tali merah. Yang pertama
digunakan untuk tali kawat polos dan yang kedua digunakan untuk
tali kawat yang berlapisan.
Pelumas tali kawat harus memenuhi kondisi sebagai berikut:
1. Tidak mengandung asam atau basa (alkali) yang beracun atau air.
2. Tidak larut dalam air.
3. Tidak berubah sifat oleh cairan asam dan cairan basa.
4. Tidak mudah menguap (volatile).

29
5. Harus tahan cuaca, tidak kehilangan fleksibilitas dan juga tidak
berubah sifat serta dapat mempertahankan viskositas, walaupun
terbuka terhadap udara luar dalam waktu lama.
6. Mudah meresap masuk ke dalam celah kawat inti dan tali kawat.
7. Mudah melekat dan tidak mudah terlepas.
8. Memiliki viskositas yang mudah untuk dioles.
9. Tidak mudah retak atau terlepas walaupun temperatur tali turun.
10. Tidak mudah meleleh dan mengalir walaupun temperatur tali
naik.
Karena pelumas harus memenuhi kondisi seperti yang
ditunjukkan di atas yang kadang saling bertolak belakang, maka
biasanya pelumas dipanaskan dulu, sebelum dimasukkan ke dalam
bak celup atau dioles dengan kuas. Dalam hal ini, batas pemanasan
adalah 60ºC, dan telah diketahui, bahwa hasil yang lebih baik
dicapai oleh pelumas yang dapat dioles pada temperatur yang lebih
rendah dari 60ºC.
3. KelelahanTekuk
Terjadinya tali yang putus oleh kelelahan tekuk disebabkan
tekukan tali itu sendiri oleh sheave atau drum (tekukan primer),
kemudian tekukan yang disebabkan kawat yang tertekan oleh lapisan
dalam di bawah ketika kawat bersilangan dengan lapisan dalam
(tekukan sekunder), dan tekukan lokal atau tekukan berulang lokal
yang disebabkan deformasi atau mengambangnya kawat (tekukan
tersier). Dahulu, tekukan primer saja yang dianggap penting, sehingga
tali kawat yang terdiri dari kawat halus dianggap lebih baik terhadap
kelelahan tekuk. Tetapi, sekarang, telah diketahui, bahwa kadang kala
tekukan sekunder dan tersier demikian besar, sehingga tidak dapat
diabaikan. Tali 6´19 dengan jalinan kontak titik, lebih lemah terhadap
kelelahan tekuk dari pada tali 6´7 dengan kawat besar yang jalinan

30
kontak garis. Hal ini disebabkan, jalinan kontak titik lebih kuat
menerima tekukan sekunder. Berdasarkan alasan ini, dapat diketahui
urutan ketahanan tali tehadap tekukan mulai dari yang lemah ke kuat
adalah jalinan kontak titik, jalinan kontak garis dan jalinan kontak
bidang.
Hentakan Dan Kelelahan Apabila drum dijalankan atau direm
secara mendadak, atau kecepatannya diubah mendadak, atau diberi
sentakan pada tali yang gulungan di drumnya tidak teratur, maka tali
akan bergetar, yang bukan saja menyebabkan tali menghantam drum,
tetapi kadang kala menghantam juga benda-benda di dekatnya. Kalau
proses ini berulang-ulang, kawat akan tertekan penyok dan mengalami
kelelahan. Terutama pada tali yang tua, energi yang menyerap gaya
sentakan (tumbukan), yakni regangan maksimumnya (berkurang
karena kelelahan) telah berkurang, sehingga harus hati-hati. Persentase
regangan pada uji potong tali kawat baru, untuk tali 6´7 adalah sekitar
3,8~4,5%, dan untuk tali konsentris sekitar 3,9~4,9%. Dari berbagai
eksperimen diketahui, bahwa tali yang persentase regangan uji
potongnya telah turun menjadi sekitar 2%, kekuatan sisanya tinggal
80%, sehingga lebih baik dihentikan penggunaannya dan disingkirkan.
Selain itu, ada hasil eksperimen lain, yaitu tali bekas pakai yang
luas penampang efektifnya telah berkurang 10~15%, regangan dan
ketahanan tumbukannya menjadi setengah.

Tabel 4.5 Penyebab kerusakan pada wire

No Permasalahan Indikasi Permasalahan

31
1 Human eror Kesalahan pada saat pengoperasionalan bucket

2 Gesekan wire diarea tertentu Pada saat loading terjadi gesekan wire dengan pully
pada waktu pengangkatan bucket
3 Wire Loncat dari Pully Pada saat waktu operator menjalakan bucket ada
hentakan yang ditimbulkan pada wire
4 Tacing Pada saat pengambilan batu bara didalam palka
waktu pengangkatan bucket wire berbenturan
dengan bibir palka

4.2 Analisa Perhitungan wire rope grab

Dalam perhitungan berat muatan yang diangkat 30 ton. Karena pada


pengangkatan dipengaruhi beberapa factor, seperti overload, keadaan
dinamis dalam operasi, maka diperkirakan penambahan beban 10% dari
beban semula sehingga berat muatan yang diangkat menjadi :

Q = 30.000 +(10% x 30.000)

= 33.000 Kg

Tegangan tali maksimum dari sistem tali puli dihitung dengan rumus :

𝐐
S =
𝐧ɳɳ𝟏

Dimana :

S = Tegangan tali maksimum

Q = 33.000 kg

n = Jumlah tali menggantung = 4

32
ɳ = Efisiensi Puli = 0,971

ɳ1 = Efisiensi yang disebabkan kerugian tali akibat kekakuan akibat


menghitung pada drum yang diasumsikan 0,98

Maka :

𝐐
S =
𝐧ɳɳ𝟏

33.000
=
4 𝑥 0,971 𝑥 0,98

33.000
= = 8.669,7 Kg
3.806

Dimana kekuatan putus tali sebenarnya.

P = S.K

Dengan :

S = 8.669,7 Kg

K = factor keamanan (k= 5,5)

Maka :

P = S.K

= 8.669,7 x 5,5

= 47.683,3 Kg

Tipe tali baja yang digunakan adalah Type warrington-seale yaitu 6 x 41

Dengan : (Lampiran 1)

33
 Beban patah : Pb : 59.900 Kg
 Tegangan patah : 𝜎𝑏 : 180 Kg/mm2
 Berat tali : W : 3,710 Kg/m
 Diameter tali : d : 32 mm

Maka tegangan maksimum tali yang diizinkan :

𝑷𝒃
Sizin =
𝑲

59.900
=
5,5

= 10.890,9

Tegangan tarik yang diizinkan :

𝝈𝒃
𝝈𝒊𝒛𝒊𝒏 =
𝑲

180
=
5,5

= 32,73 Kg/mm2

Luas penampang tali baja dapat dihitung dengan rumus :

𝑺
A = 𝝈𝒃 𝒅
− 𝒙𝟓𝟎𝟎𝟎𝟎
𝑲 𝑫𝒎𝒊𝒏

Dengan :

𝒅 𝟏
=
𝑫𝒎𝒊𝒏 𝟐𝟖

Maka :

34
𝟏𝟎.𝟒𝟔𝟕
A = 𝟏𝟖𝟎𝟎𝟎 𝟏
− 𝒙𝟓𝟎𝟎𝟎𝟎
𝟓,𝟓 𝟐𝟖

10.467
=
163.633

= 6,3 cm

Tegangan tarik yang terjadi pada tali baja adalah :

𝑆
𝜎𝑡 =
𝐴

8.669,7
= = 1.376,1 Kg/cm = 13,76 Kg/mm
6,3

Ketahanan tali baja ditentukan berdasarkan umur operasi dari


tali baja tersebut. Umur tali baja tergantung dari jumlah lengkungan,
factor kontruksi tali baja, factor operasi dan factor keausan serta
material baja tersebut. Factor keausan tali baja didapat dari rumus
berikut :

𝐴
M:
𝜎.𝑐.𝑐1 𝑐2

Dimana :

A = D/d perbandingan diameter drum atau puli dengan diameter tali

M = factor yang tergantung pada lengkungan berulang talisecara


periode keausannya sampai tali tersebut rusak.

𝜎𝑡 = tegangan tarik sebenarnya pada tali (13,76)

C = fakor yang memberi karakteristik kontruksi tali dan kekuatan


tarik maksimum bahan kawat C = 0,5

35
𝑐1 = faktor tergantung dari diameter tali = 1,16

𝑐2 = faktor yang menentukan faktor produksi dan operasi


tambahan yang tidak diperhitungkan oleh faktor C dan c1 = 1,4

Maka :

𝟐𝟖
M=
𝟏𝟑,𝟕𝟔 .(𝟎,𝟓).(𝟏,𝟏𝟔).(𝟏,𝟒)

𝟐𝟖
=
𝟏𝟏.𝟏𝟕𝟑

=2,50

Dengan bantuan faktor m (lampiran 2)

Didapat harga-harga untuk m (2,27) sebesar 340.000, m (2,42)


sebesar 450.000. dengan melakukan interpolasi harga-harga ini
dapat dicari nilai Z, yaitu :

2,50−2,27
Z1 = [2,42−2,27] (450.000 - 340.000) + 340.000

= 508.666

Didapat Z1 = 508.666 lengkungan berulang yang menyebabkan


kerusakan.

Umur tali baja dicari dengan rumus :

𝑧1
N =(
𝑎 𝑥 𝑧2 𝑥𝛽 𝑥𝜑)
Dimana :

Z1 = jumlah lengkungan berulang yang menyebabkan kerusakan tali

36
A = jumlah siklus rata-rata perbulan

Z2 = jumlah siklus berulang persiklus

Dimana : a = 9.600

Z2= 9

𝛽 = 0,2

𝜑 = 2,5

Maka nilai N (umur tali baja) ditentukan sebagai berikut

𝑍
N =(
𝑎 𝑥 𝑧2 𝑥𝛽 𝑥𝜑)

508.666
=
(9600 𝑥 9 𝑥0,2 𝑥2,5)
508.666
=
43.200

= 11,7 bulan

4.3 Solusi penggunaan wire rope


Dari data perhitungan wire rope di atas menghasilkan umur yaitu
11,7 bulan. dan solusi kepada perusahaan agar memperhatikan
perawatan wire rope secara terus-menerus sama memperhatikan cara
pengoperasionalan ship unloader dengan sesuai SOP. Dengan
memperhatikan umur wire rope yang lebih lama dan nilai ekonomis
perusahaan hendaknya mencoba mempertimbangkan lagi mana yang
lebih ekonomis jika tetap dilakukan penggantian.

37
4.4 Perawatan Wire Rope Grab

4.4.1 Pelumasan

Para pelumasan tali kawat dalam pelayanan adalah salah


satu tahap dari prosedur pemeliharaan yang tidak pernah bisa
diabaikan. Pelumasan yang baik melindungi tali terhadap korosi,
membantu untuk menjaga kabel berlapis, menjaga inti sehingga
keausan dan gesekan diminimalkan dan mengurangi keausan
dengan puli katrol dan peralatan drum yang dimana tali
beroperasi.

Korosi harus dihindari jika kekuatan dan keselamatan tali


kawat adalah untuk dipertahankan. Tali berkarat berkurang dalam
kekuatan karena beberapa daerah logamnya telah hilang. Namun,
tidak seperti pengurangan yang terjadi sebagai akibat dari
penggunaan normal dan kabel rusak, efeknya adalah mustahil
untuk memperkirakan. Karena itu perlu bagi kekuatan tali kawat
dikenal dalam tingkat akurasi yang adil setiap saat selama
hidupnya, tidak adanya korosi yang paling penting. Hal ini
terutama berlaku di mana kegagalan tali akan mengakibatkan
hilangnya nyawa atau kerusakan mahal.

Selain itu fungsi utama, pelumasan yang baik memberikan


kontribusi terhadap perekonomian operasi. Ketika kita
menganggap bahwa tali kawat harus membungkuk sheave yang
bebas dan berbagai elemen tali juga harus bergerak bebas,
kebutuhan pelumasan yang tepat dapat segera terlihat. Tali kawat
juga akan mengerahkan pasukan yang cukup besar terhadap drum
dan film minyak antara tali dan puli katrol juga bermanfaat.

38
4.4.2 Pekerjaan Perawatan Wire Rope
4.4.2.1 Wire rope
 Permasalahan :
 Gesekan yang sangat kuat dikarenakan grease
kurang atau mengeras dan bisa mengakibatkan
putus
 Perawatan :
 Pembersihan dengan menggunakan kain untuk
mehilangkan grease yang mengeras
 Pengecekan pada wire dengan meneliti bagian yang
putus
 Setelah dicek dilanjutkan dengan pemberian grease
pada wire rope, pengegreasean ini dilakukan setiap
12 jam sekali selama ada kapal
 Pengujian :
 Wire rope di up sampe bucket terangkat, kalau tidak
ada bunyi gesekan dan bucket tidak miring pertanda
wire sudah siap untuk bekerja lagi
 Jenis perawatan;
 Jenis perawatan untuk wire rope pada bucket
adalah perawatan preventive, karena dilakkukan
secara harian setiap ada kapal untuk mencegah
terjadinya kerusakan selama beroperasi

39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Menurut hasil analisa dapat disimpulkan bahwa kekuatan wire rope yang
digunakan pada ship unloader di PLTU jepara Jawa Tengah, Nilai
keamaan dari nilai kekuatan wire rope apabila dibandingkan dengan bobot
yang diangkat memiliki faktor keamanan sebesar 2 kalinya dari bobot yang
diangkat.

2. Faktor kondisi lingkungan yang mempengaruhi kerusakan pada wire rope


yang di gunakan pada ship unloader di PLTU jepara Jawa Tengah, masih
dalam konteks suatu hal yang wajar karena pada dasarnya kondisi
lingkungan di suatu Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang terjadi pada
umumnya seperti itu pada kebanyakan.

5.2 Saran

1. Untuk seorang petugas maintenance sebaiknya dalam pengecekan pada


komponen - komponen yang terdapat pada Ship Unloader di cek sesuai list
pada job card yang ada secara menyeluruh dan teliti.

40
DAFTAR PUSTAKA

http://fisikazone.com/tegangan-stress/

http://velascoindonesia.com/kekuatan-wire-rope/

http://operatorcrane.blogspot.com/2011/06/tali-kawat-baja-steel-wire-rope-bag-
2.html

http://jagoangkat.com/product/tali-baja/

https://id.wikipedia.org/wiki/Kekuatan_tarik

http://hendrisagung.blogspot.com/2008/07/kerusakan-wire-rope.html

https://rakhman.net/power-plants-id/fungsi-dan-prinsip-kerja-pltu/

Manurung Fernando, Perancangan overhead traveling crane dengan kapasitas


angkat 120 ton, dan perhitungan bahan crane pada pembangkit tenaga air,
2009

Manual Book operation and maintenance, Tanjung jati B coal fired sream
power plat unit 1 & 2 (2 x 660 MW)

Margono Bsc, Setujo Ir. Slamet, 1980. “MESIN DAN INSTRUMENTASI 1”,
U. Suryadi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia

syamsir A Muin, Ir, 1990, PESAWAT-PESAWAT PENGANGKAT, edisi


pertama PT Raja grafindo persada, Jakarta

41
LAMPIRAN

Lampiran 1. Tegangan tarik maksimum berbagai diameter tali dan beban patah
untuk tali baja tipe : 6 x 41warrington seale + 1 fibre core

Diameter tali Berat Per beban patah actual (kg)


(mm) meter (kg) 140/158 160/179 180/199
2 2
(kg/mm ) (kg/mm ) (kg/mm2)
12,4 0,540 6900 7900 8800
13,4 0,660 8100 9200 10300
14,4 0,770 9500 10800 12100
15,4 0,860 11100 12600 14100
16,5 1.010 12500 14200 15800
17,5 1.120 13900 15900 17700
18,5 1.270 15800 18000 20200
19,6 1.400 17500 19900 22300
20,6 1.570 19400 22100 24700
21,6 1.740 21800 24800 27800
23,7 2.080 26200 29800 33400
25,8 2.420 30500 34700 38900
27,8 3.810 35500 40400 45200
29,9 3.240 41000 46700 52300
32,0 3.710 47000 53500 59900
34,0 4.150 52700 60000 67200
36,0 4.710 59900 68200 76300
38,1 5.220 66500 75700 84800
40,2 5.820 73900 84100 94200

Lampiran 2 Harga factor m

Z dalam ribuan M 30 50 70 90 110 130 150


0,25 0,41 0,56 0,70 0,83 0,95 1,07
Z dalam ribuan M 170 190 210 230 255 260 310 340
1,18 1,29 1,40 1,50 1,62 1,74 1,87 2,00
Z dalam ribuan M 370 340 450 500 550 600 650 700
2,12 2,27 2,42 2,60 2,77 2,94 310 3,17

42
Lampiran 3 Harga factor C

𝜎2 KONTRUKSI WIRE
Kg/mm2 6 x 7 = 42 8 x 19 = dan sat as 6 x 37 = 222
Dan satu poros Biasa Warrington Seale Dan satu poros
Berpoton

Berpoton

Berpoton

Berpoton

Berpoton
Sejajar

Sejajar

Sejajar
sejajar

sejajar
Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi

Posisi
gan

gan

gan

gan

gan
130 1,31 1,13 1,08 0,9 0,96 0,61 0,81 0,69 1,12 0,99
1
160 1,22 1,04 1,00 0,8 0,63 0,54 0,75 0,62 1,06 0,93
3
180 1,16 0,98 0,95 0,7 0,59 0,50 0,70 0,57 1,02 0,89
8

Lampiran 4 Harga factor C1

Diameter tali Kurang dari 5,5- 8,5-10 11- 15- 18- 19,5- 25- 30- 37-
5 8 14 17,5 19 24 28 34,5 43,5
C1 O,83 0,85 0,89 0,93 0,97 1,00 1,04 1,09 1,16 1,24.

Lampiran 5 Harga factor C2

BAHAN SERABUT WIRE C2


Baja Karbon; 0,55% C; 0,57% Mn; 0,25% Si; 0,09% Ni; 0,08% Cr; 0,02% dan 0,02 % P 1
Baja Karbon; 0,70% C; 0,61% Mn; 0,09% Si; 0,021% S dan 0,028% P 0,9
Baja Pearlitic; 0,40% C; 0,52% Mn; 0,25% Si; 0,25% Ni; 1,1% Cr; 0,025% S dan 0,025% P 1,37
Baja Stainles; 0,09% C; 0,35% Mn; 0,3% Si; 8,7% Ni ; 17,4% Cr; 0,02% S dan 0,02 P 0,67
Baja open hearth 1
Baja open hearth yang disebut dengan arang besi dan dibersihkan dengan skrep 0,63
Serat yang terbuat dari batang logam seluruh 1
Serat yang terbuat dari batang logam sebagian 0,92

43
Lampiran 6 Harga a, Z2 dan 𝛽

Kondisi a Metode Z2 𝛽

kerja per

kerja per

Tinggi h
Operasi

Jumlah
harian

siklus
bulan
Operasional suspense

Hari

hari
jam

(m)
depan

Penggerak 8 2 16 400 Suspense 2 - 0,7


Tangan 5 sederhana
Kerja 8 2 40 1000 Satu puli bebas 4 2 0,5
Ringan 5
Penggerak daya

Kerja 1 2 13 3400 2x2 3 2 0,4


Sedang 6 5 6 2x3 5 3 0,3

Majemuk
Kerja 2 3 32 9600 2x4 7 4 0,5
Berat 4 0 0 2x5 9 5 0,2
Dan
sangat
berat

𝐷𝑚𝑖𝑛
Lampiran 7 Sebagai fungsi jumlah lengkungan
𝑑

Jumlah 𝐷𝑚𝑖𝑛 Jumlah 𝐷𝑚𝑖𝑛 Jumlah 𝐷𝑚𝑖𝑛 Jumlah 𝐷𝑚𝑖𝑛


lengkungan 𝑑 lengkungan 𝑑 lengkungan 𝑑 lengkungan 𝑑
1 16 5 26,5 9 32 13 36
2 20 6 28 10 33 14 37
3 23 7 30 11 34 15 37,5
4 25 8 31 12 35 16 38

Lampiran 8 Efisiensi puli

Puli tunggal Puli ganda Daya guna (efficiency)


untuk
Jlh Jlh puli z Jlh Jlh puli z Gelincir Golong
suspensi n suspensi n (sliding) ∈ (rolling) ∈
= 1,05 = 1,051
2 1 2 2 0,951 0,971
3 2 4 4 0,906 0,945
4 3 6 6 0,861 0,918
5 4 8 8 0,823 0,892
6 5 10 10 0,784 0,873

44