Anda di halaman 1dari 19

HALAMAN PENGESAHAN

JURNAL SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR KEJADIAN RENITIS ALERGI PADA ANAK DI


POLI THT RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN

M. HASYIM B
NIM : 1624201070

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Abdul Muhith, S.Kep.,Ns.,MMKes. Anndy Prasetya,S.Kep.,Ns.,M,Kep.

PERNYATAAN
Dengan ini kami selaku Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit
Mojokerto :

Nama : M. Hasyim B
NIM : 1624201070
Program Studi : S1 Ilmu Keperawatan

Setuju naskah jurnal ilmiah yang disusun oleh oleh yang bersangkutan setelah
mendapat arahan dari Pembimbing, dipublikasikan dengan mencantumkan nama
tim pembimbing sebagai co-author.

Demikian harap maklum.

Mojokerto, 10 Juli 2017


Nama : M. Hasyim B
NIM : 1624201070

Mengetahui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Abdul Muhith, S.Kep.,Ns.,MMKes. Anndy Prasetya,S.Kep.,Ns.,M,Kep.


ANALISIS FAKTOR KEJADIAN RENITIS ALERGI PADA ANAK DI
POLI THT RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN

M. Hasyim B
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Stikes Majapahit Mojokerto
M. Hasyim B@gmail.com

Abdul Muhith
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Stikes Majapahit Mojokerto
cua_muhith@yahoo.co.id

ABSTRAK

Alergi adalah salah satu penyakit yang sangat mengganggu. Masyarakat masih
menganggap bahwa penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Pada
kenyataannya, penyakit ini dapat hilang setelah diobati, kemudian timbal lagi
setelah obatnya habis. Artinya, alergi adalah sebuah penyakit kambuhan yang
tidak dapat diobati. Penelitian ini bertujuan faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian Renitis Alergi pada anak di Poli THT RSUD Dr. Soegiri Lamongan.
Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Hipotesis yang
diajukan adalah ada pengaruh Penyakit asma, riwayat atopi dalam keluarga,
pajanan asap rokok, memelihara kucing atau anjing, kondisi sosial-ekonomi,
indeks masa tubuh, konsumsi parasetamol atau aspirin terhadap kejadian Renitis
Alergi pada anak di Poli THT RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Variabel bebasnya
adalah Penyakit asma, riwayat atopi dalam keluarga, pajanan asap rokok,
memelihara kucing atau anjing, kondisi sosial-ekonomi, indeks masa tubuh,
konsumsi parasetamol atau aspirin, sedangkan variabel tergantungnya adalah
kejadian Renitis Alergi. Populasi penelitian ini sejumlah 24 orang, dengan sampel
sebanyak 23 orang. Analisis data menggunakan uji Chisquare. Hasil penelitian
didapatkan hasil bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadain rinitis alergi
adalah Riwayat Asma, Riwayat Penyakit Keluarga, Pajanan Asap Rokok,
Memelihara hewan dan mengkonsumsi Parasetamol. Sedangkan faktor yang tidak
berhubungan adalah Status Sosial Ekonomi dan Indeks Masa Tubuh (IMT). Bagi
pasien maupun keluarga pasien dapat mencegah atau mengurangi angka kejadian
rinitis alergi dengan memperhatikan faktor risiko yang ada dan dapat dicegah
seperti tidak merokok didepan anak yang mengalami riwayat Rinitis alergi,
menjauhkan hewan peliharaan dari jangkauan pasien

Kata kunci : Penyakit asma, riwayat atopi dalam keluarga, pajanan asap rokok,
memelihara kucing atau anjing, kondisi sosial-ekonomi, indeks masa tubuh,
konsumsi parasetamol atau aspirin, Renitis Alergi
ABSTRACT

Allergy is one of the most disturbing diseases. People still think


that this disease can heal by itself. In fact, this disease can
disappear after treatment, then lead again after the drug runs
out. That is, allergies are a recurrence disease that can not be
cured. This study aims at factors that influence the incidence of
allergic Renitis in children in ENT Drs. Soegiri Lamongan. This
research design use cross sectional approach. The hypothesis
proposed is the effect of asthma, history of atopy in the family,
exposure to cigarette smoke, raising cats or dogs, socio-
economic conditions, body mass index, consumption of
paracetamol or aspirin to the incidence of allergic Renitis in
children in ENT. Soegiri Lamongan. The independent variables
are asthma, family history of atopy, exposure to cigarette smoke,
nursing cats or dogs, socioeconomic conditions, body mass
index, paracetamol or aspirin consumption, while the dependent
variable is the incidence of allergic Renitis. The population of this
study is 24 people, with a sample of 23 people. Data analysis
using Chisquare test. The results showed that factors related to
allergic rhinitis maladies were history of asthma, family illness
history, cigarette smoke exposure, raising animals and
consuming paracetamol. While the unrelated factors are the
Socioeconomic Status and Body Period Index (BMI). For patients
and families of patients can prevent or reduce the incidence of
allergic rhinitis by taking into account existing and preventable
risk factors such as not smoking in front of children who have a
history of allergic rhinitis, keep pets out of the reach of patients

Keywords: Asthma, family history of atopy, exposure to cigarette


smoke, nursing cats or dogs, socioeconomic conditions, body
mass index, paracetamol or aspirin consumption, Allergic Renitis

A. PENDAHULUAN
Alergi sudah menjadi penyakit umum dalam masyarakat. Hal ini disebabkan
penyebabnya ada dimana-mana, tidak disadari datangnya, dan kurang
diperhatikan masyarakat. Padahal alergi adalah salah satu penyakit yang sangat
mengganggu. Masyarakat masih menganggap bahwa penyakit ini dapat sembuh
dengan sendirinya. Pada kenyataannya, penyakit ini dapat hilang setelah diobati,
kemudian timbal lagi setelah obatnya habis. Artinya, alergi adalah sebuah
penyakit kambuhan yang tidak dapat diobati (Wijaya, 2014).
Ada tiga jenis atau golongan alergi, yakni alergi pada hidung (rinitis), pada
saluran napas bagian bawah (asma), dan pada kulit (eksimikaligata). Dari seluruh
penyakit akibat alergi, angka kejadian rinitis diperkirakan lebih kurang sebanyak
20%, asma antara 2-10% dan eksim 1-2% (Wijaya, 2014).Prevalensi rinitis alergi
di Amerika Utara mencapai 10-20%, di Eropa sekitar 10-15%, di Thailand sekitar
20% dan Jepang 10%. Prevalensi rinitis alergi di Indonesia mencapai 1,5-12,4%
dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya (Rambe, 2013).
Berdasarkan data di Poli THT RSUD Dr. Soegiri Lamongan pada tahun 2016
diperoleh informasi bahwa kejadian rinitis alergi pada anak sebanyak 125
kejadian, dimana terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai
111 kejadian.
Penyakit rinitis alergi ini terjadi pada keluarga berpenyakit alergi, seperti
asma dan eksim. Kadang-kadang dibutuhkan pemaparan berbulan-bulan sebelum
IgE cukup terbentuk dan menimbulkan gejala. Penyakit ini ditemukan sepanjang
tahun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan debu di dalam rumah, bulu-bulu
binatang, asap rokok, kabut, tepung sari (pollen), dan makanan. Penyakit ini dapat
mengalami komplikasi dengan infeksi saluran pernapasan, asma bronkial,
sinusitis, dan polip hidung (Wijaya, 2014).Rinitis alergi dapat terjadi pada semua
golongan umur, terutama anak dan dewasa, namun berkurang dengan
bertambahnya usia. Faktor herediter mempengaruhi terjadinya rinitis alergi,
sedangkan jenis kelamin, golongan etnis dan ras tidak berpengaruh terhadap
kejadian rinitis alergi (Nisa,2017). Penyebab tersering rinitis alergi adalah alergen,
seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga, dan cuaca dingin. Pada anak-anak
sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan.
Diperberat oleh faktor nonspesifik, seperti asap rokok, bau yang merangsang,
perubahan cuaca, dan kelembapan yang tinggi (Librianty, 2015)
Berdasarkan pada penelitian mengenai Health-Related Quality of Life
(HRQL) terhadap penderita rinitis alergi kelompok usia remaja oleh para ahli di
berbagai negara, rinitis alergi mempengaruhi kinerja anak-anak dan remaja di
sekolah serta memiliki korelasi dengan gangguan ansietas dan depresi yang dapat
mempengaruhi prestasi dalam belajar dan berkurangnya produktifitas (Rafi,
2015). Untuk pertolongan bagi penderita rinitis alergi adalah dengan menghindari
faktor pencetus (alergen) (Librianty, 2015), sedangkan untuk pengobatan dapat
menggunakan antihistamin untuk rinitis ringan. Pada rinitis berat antihistamin
hanya mampu mengurangi gejala bersin dan mengurangi lendir. Obat-obat lain
berupa steroid dan adrenalin harus di bawah pengawasan dokter (Wijaya, 2014)
Penelitian ini bertujuan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Renitis
Alergi pada anak di Poli THT RSUD Dr. Soegiri Lamongan.

B. METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Hipotesis
yang diajukan adalah ada pengaruh Penyakit asma, riwayat atopi dalam keluarga,
pajanan asap rokok, memelihara kucing atau anjing, kondisi sosial-ekonomi,
indeks masa tubuh, konsumsi parasetamol atau aspirin terhadap kejadian Renitis
Alergi pada anak di Poli THT RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Variabel bebasnya
adalah Penyakit asma, riwayat atopi dalam keluarga, pajanan asap rokok,
memelihara kucing atau anjing, kondisi sosial-ekonomi, indeks masa tubuh,
konsumsi parasetamol atau aspirin, sedangkan variabel tergantungnya adalah
kejadian Renitis Alergi. Populasi penelitian ini sejumlah 24 orang, dengan sampel
sebanyak 23 orang. Analisis data menggunakan uji Chisquare.

C. HASIL PENELITIAN
1. Hubungan Antara Riwayat Asmadengan Kejadian Rinitis Alergi

Tabel 1. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Riwayat


Asmadengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Riwayat Asma Tidak Ya Total
n % n % n %
Tidak 6 60 4 40 10 100
Ya 2 15,4 11 84,6 13 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 4,960 p = 0,026 (p < 0,05)

Tabulasi silang antara Riwayat Asmadengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli


THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 13responden yang
memiliki Riwayat Asmasebagian besar mengalami kejadian rinitis alergi yaitu
sebanyak 11 orang (84,6%). Berdasarkan hasil uji statistik (Chi Square)
didapatkan hasil = 4,960 dengan p = 0,026(p < 0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Riwayat AsmadenganKejadian
Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.

2. Hubungan Antara Riwayat Penyakit Keluarga dengan Kejadian


Rinitis Alergi

Tabel 2. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Riwayat


Penyakit Keluarga dengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Riwayat Penyakit
Tidak Ya Total
Keluarga
n % n % n %
Tidak 6 66,7 3 33,3 9 100
Ya 2 14,3 12 85,7 14 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 6,626 p = 0,010 (p < 0,05)

Tabulasi silang antara Riwayat Penyakit Keluarga dengan Kejadian Rinitis


Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 14responden
yang memiliki Riwayat Penyakit Keluarga sebagian besar mengalami kejadian
rinitis alergi yaitu sebanyak 12orang (85,7%). Berdasarkan hasil uji statistik (Chi
Square) didapatkan hasil = 6,626 dengan p = 0,010 (p < 0,05), maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Riwayat Penyakit
Keluarga denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.

3. Hubungan Antara Pajanan Asap Rokok dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Tabel 3. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Pajanan Asap


Rokokdengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Pajanan Asap Rokok Tidak Ya Total
n % n % n %
Tidak 6 75 2 25 8 100
Ya 2 13,3 13 86,7 15 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 8,746 p = 0,003 (p < 0,05)

Tabulasi silang antara Pajanan Asap Rokokdengan Kejadian Rinitis Alergi di


Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 15responden yang
mengalami Pajanan Asap Rokoksebagian besar mengalami kejadian rinitis alergi
yaitu sebanyak 13 orang (86,7%). Berdasarkan hasil uji statistik (Chi Square)
didapatkan hasil = 8,746 dengan p = 0,003(p < 0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Pajanan Asap
RokokdenganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.

4. Hubungan Antara Memelihara Hewan dengan Kejadian Rinitis Alergi

Tabel 4. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Memelihara


Hewandengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Memelihara Hewan Tidak Ya Total
n % n % n %
Tidak 8 53,3 7 46,7 15 100
Ya 0 0 8 100 8 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 6,542 p = 0,011 (p < 0,05)

Tabulasi silang antara Memelihara Hewandengan Kejadian Rinitis Alergidi


Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 15responden yang
tidak memelihara hewan sebagian besar tidak mengalami kejadian rinitis alergi
yaitu sebanyak 8 orang (53,3%). Berdasarkan hasil uji statistik (Chi Square)
didapatkan hasil = = 6,542 dengan p = 0,011 (p < 0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Memelihara
HewandenganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.

5. Hubungan Antara Kondisi Sosial Ekonomi dengan Kejadian Rinitis


Alergi
Tabel 5. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Kondisi Sosial
Ekonomi dengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Kondisi Sosial
Tidak Ya Total
Ekonomi
n % n % n %
Dibawah UMR 3 30 7 70 10 100
Di Atas UMR 5 38,5 8 61,5 13 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 0,178 p = 0,673 (p > 0,05)

Tabulasi silang antara Kondisi Sosial Ekonomi dengan Kejadian Rinitis


Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 13 responden
yang memiliki Kondisi Sosial Ekonomidi atas UMR sebagian besar mengalami
kejadian rinitis alergi yaitu sebanyak 8 orang (61,5%). Berdasarkan hasil uji
statistik (Chi Square) didapatkan hasil = 0,178 dengan p = 0,673 (p > 0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara Kondisi Sosial EkonomidenganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD
Dr Soegiri Lamongan.

6. Hubungan Antara Indek Masa Tubuh (IMT) dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Tabel 6. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Indek Masa


Tubuh (IMT)dengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Indek Masa Tubuh
Tidak Ya Total
(IMT)
n % n % n %
Underweight 5 62,5 3 37,5 8 100
Normal 2 18,2 9 81,8 11 100
Overweight 1 25 3 75,0 4 100
Jumlah 8 34,8 15 65,2 23 100
Chi Square = 4,214 p = 0,122 (p > 0,05)

Tabulasi silang antara Indek Masa Tubuh (IMT)dengan Kejadian Rinitis


Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 11responden
yang memiliki Indek Masa Tubuh (IMT) dalam kategori normal sebagian besar
mengalami kejadian rinitis alergi yaitu sebanyak 9 orang (81,8%). Berdasarkan
hasil uji statistik (Chi Square) didapatkan hasil = 4,214 dengan p = 0,122 (p >
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara Indek Masa Tubuh (IMT)dengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD
Dr Soegiri Lamongan.

7. Hubungan Antara Konsumsi Parasetamol dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Tabel 7. Tabulasi Silang Frekuensi Responden berdasarkan Konsumsi


Parasetamoldengan Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
LamonganTahun 2018
Kejadian Rinitis Alergi
Konsumsi
Tidak Ya Total
Parasetamol
n % n % n %
Tidak 7 53,8 6 46,2 13 100
Ya 1 10 9 90 10 100
Jumlah 11 36,7 19 66,3 23 100
r = 4,790 p = 0,029 (p < 0,05)

Tabulasi silang antara Konsumsi Parasetamol dengan Kejadian Rinitis


Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan,diperoleh hasil dari 13 responden
yang tidakKonsumsi Parasetamol sebagian besar tidak mengalami kejadian rinitis
alergi yaitu sebanyak 7 orang (53,8%). Berdasarkan hasil uji statistik (Chi Square)
didapatkan hasil = 4,790 dengan p = p = 0,029(p < 0,05), maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Konsumsi
Parasetamol denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
Lamongan.

8. Rangkuman hasil analisis Chi Square


Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas, maka dapat dibuatkan rangkuman
sebagai berikut :
Tabel 4.18. Rangkuman hasil analisis Chi Square Faktor Kejadian Rinitis
Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan tahun 2018
Chi
No Variabel p value p Keterangan
Square
1 Riwayat Asma 4,960 0,026 p< 0,05 Signifikan
2 Riwayat Penyakit 6,626 0,010 p< 0,05 Signifikan
Keluarga
3 Pajanan Asap 8,746 0,003 p< 0,05 Signifikan
Rokok
4 Memelihara hewan 6,542 0,011 p< 0,05 Signifikan
5 Status Sosial 0,178 0,673 p> 0,05 Tidak Signifikan
Ekonomi
6 Indeks Masa Tubuh 4,214 0,122 p> 0,05 Tidak Signifikan
(IMT)
7 Parasetamol 4,790 0,029 p< 0,05 Signifikan

Berdasarkan hasil rangkuman tersebut diketahui bahwa faktor yang


berhubungan dengan kejadain rinitis alergi adalah Riwayat Asma, Riwayat
Penyakit Keluarga, Pajanan Asap Rokok, Memelihara hewan dan mengkonsumsi
Parasetamol. Sedangkan faktor yang tidak berhubungan adalah Status Sosial
Ekonomi dan Indeks Masa Tubuh (IMT)

D. PEMBAHASAN
1. Hubungan Antara Riwayat Asma dengan Kejadian Rinitis Alergi

Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui bahwa dari 13 responden yang memiliki


Riwayat Asma sebagian besar mengalami kejadian rinitis alergi yaitu sebanyak 11
orang (84,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara Riwayat Asma denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD
Dr Soegiri Lamongan (Chi Square= 4,960 dengan p = 0,026 atau p < 0,05).
Penyakit rinitis alergi ini terjadi pada keluarga berpenyakit alergi, seperti
asma dan eksim. Kadang-kadang dibutuhkan pemaparan berbulan-bulan sebelum
IgE cukup terbentuk dan menimbulkan gejala. Penyakit ini ditemukan sepanjang
tahun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan debu di dalam rumah, bulu-bulu
binatang, asap rokok, kabut, tepung sari (pollen), dan makanan. Penyakit ini dapat
mengalami komplikasi dengan infeksi saluran pernapasan, asma bronkial,
sinusitis, dan polip hidung (Wijaya, 2014).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit
asma memiliki risiko mengalami kejadian rinitis alergi. Riwayat memiliki
penyakit alergi atau atopi merupakan faktor risiko rinitisalergi. Penelitian ini
mendapatkan hasil bahwa riwayat penyakit asma memiliki hubungan terhadap
kejadian rinitis alergi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yangdilakukan
oleh Penaranda dkk (2012), di Kolumbia mengatakanbahwa riwayat mengalami
asma dan eksim dalam 12 bulan terakhir memilikihubungan dengan kejadian
rinitis alergi. Demikian juga penelitian yang dilakukan olehNugraha (2011) yang
menyetakan bahwa sampel yang menderita asma dapat mengalami peningkatan
kejadian RA(p< 0,001; RP = 4,608 ; IK 95% 2,424 – 8,760). Oleh karenanya,
menderita asmamerupakan faktor risiko terjadinya RA (p<0,05).
Riwayat atopi yang diderita oleh seseorang akan meningkatkan risiko
terjadinya penyakit alergi lain, termasuk rinitis alergi. Penyakit ini sangat
berhubungan dengan riwayat atopi, baik di keluarga maupun dalam dirinya
sendiri, seperti riwayat penyakit asma dan eksim. Sekitar 40% pasien yang
mengalami rinitis akan mengalami asma, begitu pula pada kurang lebih 70%
pasien yang mengalami asma memiliki penyakit rinitis alergi. Riwayat asma dan
kejadian rinitis alergi dihubungkan dengan kejadian alergi kronik pada sistem
pernapasan, dimana asma merupakan alergi kronik pada sistem pernapasan bagian
bawah dan rinitis alergi merupakan bagian dari kelainan alergi sistem pernapasan
bagian atas (Kholid, 2013).
Berdasarkan paparan data dan teori yang dikemukakan makna menurut
peneliti riwayat penyakit asma pada responden menjadi faktor penyebab kejadian
rinitas alergi, sebab asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan
yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang
menimbulkan sesak atau sulit bernapas, sehingga dapat menyebabkan terjadinya
peradangan pada rongga hidung yang dapat memicu munculnya rinitis alergi.

2. Hubungan Antara Riwayat Penyakit Keluarga dengan Kejadian


Rinitis Alergi

Data Tabel 4.12. menunjukkan bahwa dari 14 responden yang memiliki


Riwayat Penyakit Keluarga sebagian besar mengalami kejadian rinitis alergi yaitu
sebanyak 12 orang (85,7%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara Riwayat Penyakit Keluarga denganKejadian
Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan (Chi Square= 6,626
dengan p = 0,010 atau p < 0,05).
Faktor herediter mempengaruhi terjadinya rinitis alergi, sedangkan jenis
kelamin, golongan etnis dan ras tidak berpengaruh terhadap kejadian rinitis alergi
(Nisa,2017).Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko yang
memberikan dampak terhadap kejadian rinitis alergi. Perkembangan sistem imun
sudah dimulai sejak dalam kandungan, tidak berbeda halnya dengan kepekaan
sistem imun menghadapi benda yang dianggap alergen oleh sistem imun orang
tua. Hal ini dihubungkan dengan kromosom 5q. Dalam beberapa referensi
disebutkan bahwa jika salah satu orang tua mengalami alergi maka anaknya
memiliki kecenderungan 25-40% akan mengalami alergi pula. Namun jika kedua
orang tuanya mengalami alergi maka makin meningkat pula risiko anaknya akan
mengalami alergi pula, yaitu 50%-70%.
Orangtua yangatopi biasanya akan mempunyai anak yang atopi juga, dan
reaksi alergi merekacenderung lebih hebat daripada anak dengan orangtua yang
tidak mempunyairiwayat atopi. Seorang anak mempunyai angka resiko terjadi RA
sebesar 70% jikakedua orangtua mereka mempunyai riwayat atopi. Risiko ini
menurun menjadi50% jika hanya salah satu orangtua yang atopi (Nugroho, 2011).
Berdasarkan data dan kajian teori tersebut menurut peneliti faktor riwayat
penyakit orang tua menjadi faktor yang mempengaruhi kejadian, sebab orang tua
yang memiliki penyakit rinitis alergi lebih besar faktor risikonya dibandingkan
mereka yang tidak memiliki riwayat penyakit rinitis alergi untuk diturunkan
kepada anaknya.

3. Hubungan Antara Pajanan Asap Rokok dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Tabel Tabel 4.13 menunjukkan bahwa dari 15 responden yang mengalami


Pajanan Asap Rokok sebagian besar mengalami kejadian rinitis alergi yaitu
sebanyak 13 orang (86,7%). Berdasarkan hasil uji Chi Squaredidapatkan hasil =
8,746 dengan p = 0,003(p < 0,05), artinya ada hubungan yang bermakna antara
Pajanan Asap Rokok denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
Lamongan.
Asap rokok dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit alergi,
tidak terkecuali rinitis alergi. Pajanan berupa asap rokok juga dapat menyebabkan
bangkitan status asmatikus seseorang yang menderita asma. Pada penelitian yang
dilakukan menggunakan tikus, asap rokok yang dipajankan kepada tikus tersebut
menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular yang terdapat dalam saluran
pernapasan sehingga menyebabkan gejala yang sama, sedangkan efek tidak
langsung dapat mempengaruhi respon inflamasi yang diperantarai oleh IgE
(Kholid, 2013). Penyakit rinitis alergi ini disebabkan debu di dalam rumah, bulu-
bulu binatang, asap rokok, kabut, tepung sari (pollen), dan makanan. Penyakit ini
dapat mengalami komplikasi dengan infeksi saluran pernapasan, asma bronkial,
sinusitis, dan polip hidung (Wijaya, 2014).
Asap rokok merupakan jenis indoor allergen dimana responden
yangterpapar asap rokok, khususnya pada mukosa hidung dapat
menyebabkanpeningkatan respon inflamasi lokal daerah tersebut. Pajaran asap
rokok dalam penelitian ini dapat diperoleh dari orang tua, pengasuh,teman,
anggota keluarga lain memilikihubungan terhadap kejadian rinitis alergi.
4. Hubungan Antara Memelihara Hewan dengan Kejadian Rinitis
Alergi

Berdasarkan Tabel 4.14diperoleh hasil dari 15 responden yang tidak


memelihara hewan sebagian besar tidak mengalami kejadian rinitis alergi yaitu
sebanyak 8 orang (53,3%), sedangkan hasil uji Chi Squaredidapatkan hasil =
6,542 dengan p = 0,011 (p < 0,05), artinya ada hubungan yang bermakna antara
Memelihara Hewan denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
Lamongan.
Penyebab tersering rinitis alergi adalah alergen, seperti debu, bulu binatang,
serbuk bunga, dan cuaca dingin. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain,
seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Diperberat oleh faktor nonspesifik,
seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca, dan kelembapan yang
tinggi (Librianty, 2015). Seseorang yang memiliki hewan peliharaan berupa
kucing atau anjing memiliki keterkaitan dengan kejadian rinitis alergi atau
penyakit alergi lainnya. Alergen yang diperoleh dari hewan peliharaan ini dapat
berupa aeroalergen yaitu dari hewan tersebut.Faktor risiko berupa alergen dari
hewan peliharaan baik kucing atau anjingyang banyak dipelihara masyarakat
Indonesia dapat menjadi faktor risikountuk meningkatkan kejadian rinitis alergi.
Pada penelitian ini didapatkanbahwa memelihara kucing atau anjing memiliki
hubungan terhadap kejadianrintis alergi. Kontak terhadap kucing
memilikihubungan terhadap kejadian rinitis alergi (Nugroho, 2011).
Berdasarkan pembahsan tersebut maka dapat dijelaskan bahwa orang yang
memelihara hewan seperti kucing atau anjing memiliki risiko mengalami kejadian
rinitis alergi, sebagaimana diketahui dalam penelitian ini sebagian besar dari
mereka yang tidak memelihara binatang tidak mengalami kejadian rinitas alergi,
berdasarkan dat yang ada seluruh responden yang memelihara hewan dalam
penelitian ini mengalami rinitas alergi. Oleh karena itu penderita rinitis alergi
sebaiknya tidak memelihara kucing atau anjing, karena dapatmeningkatkan risiko
kekambuhan penyakit ini, walaupun memelihara kucingdapat memberi manfaat
bagi penderita.

5. Hubungan Antara Kondisi Sosial Ekonomi dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Tabulasi silang pada tabel Tabel 4.15,diperoleh hasil bahwa dari 13


responden yang memiliki Kondisi Sosial Ekonomi di atas UMR sebagian besar
mengalami kejadian rinitis alergi yaitu sebanyak 8 orang (61,5%). Hasil uji Chi
Squaredidapatkan hasil = 0,178 dengan p = 0,673 (p > 0,05), artinya tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara Kondisi Sosial Ekonomi
denganKejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.
Pada kota-kota metropolitan di negara maju dijumpai kejadian rinitis alergi
lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah yang kondisi sosial-ekonominya
rendah. Hal ini dikarenakan pada kota- kota metropolitan di negara maju dijumpai
banyak kejadian obesitas, inaktifitas fisik, banyaknya konsumsi minuman
berkarbonasi atau diet tak sehat. Selain dilihat dari gaya hidup yang tidak sehat
yang telah disebutkan di atas, kerentanan terhadap stress dan kesehatan yang
berhubungan dengan kejiwaan seperti ADHD dan gangguan kejiwaan lainnya
sangat mempengaruhi peningkatan kejadian rinitis alergi pada anak-anak. Namun
ada penelitian yang mengatakan bahwa negara dengan pendapatan rendah-
menengah memiliki jumlah penderita lebih besar (Kholid, 2013).
Pada penelitian ini kondisi sosial ekonomi pasien tidak berhubungan dengn
kejadian rinitis alergi, artinya tinggi rendahnya status sosial ekonomi seseorang
yang dalam penelitian ini menggunakan standar upah minimal regional kabupaten
Lamongan tahun 2018 yaitu sebesar Rp 1.850.000,- tidak dapat dijadikan
indikator untuk melihat kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri
Lamongan.

6. Hubungan Antara Indek Masa Tubuh (IMT) dengan Kejadian


Rinitis Alergi

Indek Masa Tubuh (IMT)tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan


Kejadian Rinitis Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan. Hal ini
menunjukkan bahwa pada penelitian Indek Masa Tubuh (IMT) tidak dapat
dijadikan sebagai faktor risiko untuk kejadian Rinitis Alergi di Poli THT RSUD
Dr Soegiri Lamongan.
Keadaan overweight atau berat badan berlebih memiliki risiko terhadap
penyakit alergi, baik asma atau rinitis alergi. Namun dalam penelitian tersebut
mengatakan bahwa rentang usia yang memiliki keterkaitan dengan peningkatan
kejadian rinitis pada anak dengan indeks masa tubuh berlebih hanya pada anak
yang berusia lebih dari 7 tahun. Hal ini masih dikarenakan banyak faktor, namun
faktor yang dikatakan berperan penting dalam patogenesis perjalanan rinitis alergi
pada anak dengan indeks masa tubuh berlebih adalah peningkatan kadar leptin.
Dengan meningkatnya kadar leptin serum dapat meningkatkan respon inflamasi
dalam tubuh (Magnuson, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa indek masa tubuh
seseorang tidak mendukung untuk dijadikan faktor risiko terjadinya Rinitis Alergi
di Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan. Hal ini dapat disebabkan karena
sebagian besar mereka yang mengalami Rinitis Alergi indek masa tubuhnya dalam
kategori normal. Namun demikian bagi mereka yang memiliki indek masa tubuh
Overweightjuga perlu hati-hati sebab dari data penelitian mereka yang
Overweight sebagian besar adalah penderita Rinitis Alergi (75%)

7. Hubungan Antara Konsumsi Parasetamol dengan Kejadian Rinitis


Alergi

Berdasarkan Tabulasi silang Tabel 4.17,diperoleh hasil bahwa dari 13


responden yang tidak Konsumsi Parasetamol sebagian besar tidak mengalami
kejadian rinitis alergi yaitu sebanyak 7 orang (53,8%) dan berdasarkan hasil uji
Chi Squaredidapatkan hasil = 4,790 dengan p = p = 0,029(p < 0,05), artinya ada
hubungan yang bermakna antara Konsumsi Parasetamol denganKejadian Rinitis
Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.
Parasetamol merupakan obat penghilang rasa sakit (analgetik) serta
obatpenurun panas yang dapat digunakan pada semua usia dan dijual bebas
dipasaran. Penggunaanparasetamol merupakan faktor risiko yang penting dalam
perkembanganpenyakit alergi termasuk rinitis alergi. Sebuah postulat mengatakan
bahwa hubungan penggunaan parasetamol terhadap kejadian rinitis alergi adalah
dengan menurunkan kadar enzim glutation pada saluran napas sehingga
menyebabkan proteksi antioksidan pada saluran napas akan inadekuat. Hal ini
juga dapat meningkatkan respon T helper sebagai respon terhadap inflamasi
(Kholid, 2013). Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian
Kholid (2013), yang disimpulkan bahwa penggunaan parasetamol selama 12
bulan terakhir tidak berhubungan dengan Kejadian Rinitis Alergi. Hal ini mungkin
disebabkanfrekuensi penggunaan parasetamol yang jarang sehingga belum cukup
untukmeningkatkan risiko perkembangan rinitis alergi, karena penelitian ini
tidakmenganalisis seberapa sering responden menggunakan parasetamol dalam
12bulan terakhir.
Berdasarkan hasil kajian tersebut menurut peneliti penggunaan parasetamol
memiliki peran yang penting dalam meningkatkan risiko rinitis alergi, sebab
parasetamol merupakan obat penghilang rasa sakit (analgetik), yang jika
penggunaannya sangat sering maka dapat meningkatkan risiko Kejadian Rinitis
Alergidi Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas maka faktor risiko
Kejadian Rinitis Alergi di Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan adalah faktor
Riwayat Asma, Riwayat Penyakit Keluarga, Pajanan Asap Rokok, Memelihara
hewan dan mengkonsumsi Parasetamol. Sedangkan faktor yang tidak
berhubungan adalah Status Sosial Ekonomi dan Indeks Masa Tubuh (IMT).

E. PENUTUP
Simpulan penelitian ini adalah faktor risiko Kejadian Rinitis Alergi pada
anak di Poli THT RSUD Dr Soegiri Lamongan adalah faktor Riwayat Asma,
Riwayat Penyakit Keluarga, Pajanan Asap Rokok, Memelihara hewan dan
mengkonsumsi Parasetamol. Sedangkan faktor yang tidak berhubungan adalah
Status Sosial Ekonomi dan Indeks Masa Tubuh (IMT)
Bagi pasien maupunkeluarga pasien dapat mencegah atau mengurangi angka
kejadian rinitis alergi dengan memperhatikan faktor risiko yang ada dan dapat
dicegah seperti tidak merokok didepan anak yang mengalami riwayat Rinitis
alergi, menjauhkan hewan peliharaan dari jangkauan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Basyir, P.B.S., Madiadipoera, T. & Lasminingrum, L. (2014). Angka Kejadian dan
Gambaran Rinitis Alergi dengan Komorbid Otitis Media di Poliklinik
Rinologi Alergi Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RS Dr. Hasan
Sadikin. Naskah Publikasi. SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Bandung

Irawati N, Kasakeyan E dan Rusmono N (2007). Rinitis alergi. Dalam:Soepardi


EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (eds). Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Ke 6.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pp: 128-134.
Librianty, N. (2015). Menjadi Dokter Pertama : Panduan Mandiri Melacak
Penyakit. Jakarta : Lintas Kata

Magnus MC, Haberg SE, Stigum H. (2011). Delivery by Caesarean section and
early childhood respiratory symptoms and disorders: the Norwegian
mother and child cohort study. Am J Epidemiol. 2011; 174: 1275-1285.

Muhith, A. (2014). Pengembangan Mutu Asuhan Keperawatan (Berdasarkan


Analisis Kinerja Perawat Dan Kepuasan). Yogyakarta : CV.
Threepreneur.

Nasir, A., Muhith, A. & Ideputri (2011), Metodologi Penelitian Kesehatan.


Yogyakarta : Mulia Medika.

Nisa, R. (2017). Kejadian Rinitis Alergi dengan Komplikasi Otitis Media Akut
pada Anak Usia 5 Tahun. J Medula Unila Volume 7 Nomor 1 Januari
2017 halaman 54-59

Pawankar R, Canonica GW, Holgate ST, Lockey RF. (2011). Introduction and.
Executive Summary: Establishing the need to treat Allergic Diseases as
a. Global Public Health issue. In: WAO White Book on Allergy. ;
2011:11-20.

Rafi, M., Adnan, A. & Masdar, H. (2015). Gambaran Rinitis Alergi Pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau Angkatan 2013-2014.
Jom FK Volume 2 No.2 Oktober 2015 halaman 1-11.

Rambe, A.Y.M.F., Munir, D., Haryuna,T.S.H. & Eyanoer, P.C. (2013). Hubungan
rinitis alergi dan disfungsi tuba Eustachius dengan menggunakan
timpanometri. ORLI Vol. 43 No.1. Tahun 2013 halaman 80-89.

Usman, I., Chundrayetti, E. & Khairsyaf, O. (2015). Faktor Risiko dan Faktor
Pencetus yang Mempengaruhi Kejadian Asma pada Anak di RSUP Dr.
M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2015; 4(2) halaman 392-
397

Wijaya. (2014). Mencegah & Mengatasi Alergi & Asma pada Balita. Jakarta :
Kawan Pustaka

Wistiani & Notoatmojo, H. (2011). Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian


Alergi pada Anak. Sari Pediatri 2011;13(3):185-90.