Anda di halaman 1dari 108

Seminar K3L

Program Studi Farmasi


Universitas Gunadarma

PENGAWASAN
LINGKUNGAN KERJA
Erma Triawati Ch
22 Maret 2018
Pengertian Pengawasan Lingkungan Kerja

Pengawasan Lingkungan Kerja adalah


serangkaian kegiatan pengawasan dari semua
tindakan yang dilakukan oleh pegawai
pengawas ketenagakerjaan atas pemenuhan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan
atas objek pengawasan Lingkungan Kerja.

Lingkungan kerja adalah istilah generik yang


mencakup identifikasi dan evaluasi faktor-faktor
lingkungan yang memberikan dampak pada
kesehatan tenaga kerja (ILO)
FAKTOR-FAKTOR
FAKTOR-FAKTOR ANCAMAN
ANCAMAN
RESIKO
RESIKO KECELAKAAN
KECELAKAAN KERJA
KERJA

TENAGA
KERJA
PAK Kec. Kerja
KESEHATAN KESELAMATAN

PROSES

BAHAN ALAT
POLUSI
LINGKUNGAN
NAB
Objek pengawasan Lingkungan
Kerja meliputi :

 Faktor-faktor bahaya Lingkungan Kerja


 Hygiene Perusahaan
 Pengendalian bahaya besar
 Pestisida
 Bahan kimia berbahaya
 Sanitasi lingkungan
 Alat pelindung diri (APD)
 Limbah industri
t
Ruang Lingkup Pengawasan
Lingkungan Kerja
1. Penanganan Bahan Kimia
Berbahaya.
2. Pemeriksaan Lingkungan Kerja
3. Pemeriksaan Penggunaan Pestisida
4. Pemeriksaan Limbah Industri di
tempat kerja
5. Pemeriksaan Hygiene Industri
6. Pemeriksaan Alat Pelindung Diri

ts@utps-k3
Dasar Hukum Pengawasan
Lingkungan Kerja.
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
pasal 2, pasal 3 ayat 1, f, g, i, j, k, l, m pasal 5,
pasal 8, pasal 9 dan pasal 14.
2. UU No. 3 tahun 1969 tentang persetujuan
Konvensi ILO No.120 mengenai Hygiene dalam
Perniagaan dan Kantor-kantor pasal 7
3. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964
tentang syarat kesehatan, kebersihan serta
penerangan dalam tempat kerja.
4. Permenaker No. 3/Men/1985 tentang
keselamatan dan kesehatan kerja Pemakaian
asbes.
Reward Discipline

t
5. Permenaker No. 03/Men/1986 tentang syarat
keselamatan dan kesehatan di tempat kerja
yang mengelola Pestisida
6. Permenaker No. 13/Men/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di
Tempat Kerja
7. Kepmenaker No. 187/Men/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di
Tempat Kerja.

Reward Discipline
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja
 Syarat-syarat keselamatan kerja berisi
lebih 50% berkaitan dengan syarat-
syarat kesehatan kerja
 Melindungi pekerja, orang lain dan
bahan serta alat produksi
 Mencegah dan mengurangi kecelakaan
dan PAK
 Menciptakan lingkungan kerja aman
 Pemantauan dan evaluasi lingkungan
kerja
Undang-undang No. 1 tahun 1970
Syarat-syarat Keselamatan Kerja dikaitkan dengan
Pengawasan Lingkungan Kerja (Psl. 3 ayat 1) :
 Mencegah & mengurangi kecelakaan
 Mencegah & mengurangi bahaya peledakan
 Memberikan alat2 perlindungan diri pada para pekerja
 Mencegah & mengendalikan timbul atau menyebar
luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, gas,
hembusan
 Mencegah & mengendalikan timbulnya PAK baik physik
maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan
 Memperoleh penerangan yg cukup & sesuai
 Menyelenggarakan suhu & lembab udara yg baik
 Menyelenggarakan penyegaran udara yg cukup
 Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
 Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, lingkungan,
cara & proses kerjanya
2. UU No. 3 tahun 1969
tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120
Mengenai Hygiene Dalam Perniagaan dan
Kantor-kantor

 Ventilasi
 Penerangan
 Suhu
 Susunan tempat duduk
 Penyediaan air
 Sanitair
 Tempat duduk yang cukup dan sesuai
 Confine space
 APD dan sarana perlindungan
 Pengendalian lingkungan kerja (bising, getaran)
 Penyediaan apotik dan pelaksanaan P3K
Asas-asas Umum UU No. 3 tahun 1969

Semua bangunan yg digunakan oleh pekerja


& perlengkapannya harus :
 Dipelihara baik & dijaga kebersihannya
 Memp. ventilasi yg cukup & sesuai (alami atau
buatan atau ke-dua2nya)
 Memp. penerangan yg cukup & sesuai
 Mempertahankan suhu yg nyaman
 Semua tempat kerja disusun serta semua tempat
duduk hrs diatur sedemikian shg tdk ada
pengaruh yg berbahaya bagi kesehatan kerja
 Memp. persediaan air minum yg cukup & sehat
 Memp. perlengkapan utk mencuci & saniter
 Memp. tempat duduk yg cukup & sesuai
Asas-asas Umum UU No. 3 tahun 1969

Semua bangunan yg digunakan oleh


pekerja & perlengkapannya harus :
 Tersedia fasilitas yg sesuai utk mengganti, menyimpan
dan mengeringkan pakaian yg tdk dipakai pd waktu
bekerja
 Memenuhi standar hygiene yg baik terutama bagi
bangunan dibawah tanah atau tdk berjendela
 Dikurangi sebanyak mungkin pengaruh2 yg berbahaya
akibat kegaduhan dan getaran2 yg mungkin terjadi
 Tersedia apotik atau pos PPPK sendiri
 Tersedia lemari, kotak atau perlengkapan PPPK

ts@utps-k3
3. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7
Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan Serta Penerangan Dalam
Tempat Kerja.
 Pencegahan kebakaran
 Pencegahan keracunan, penularan penyakit dan PAK
 Housekeeping
 Penerangan
 Suhu
 Kadar udara
 Bangunan
 Sampah
 Ruang udara dan ruang kerja
 Kakus
 Dapur
 Air,
 Penyelenggaraan makanan bagi TK
 Ergonomi dll
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Kesehatan

Setiap bangunan perusahaan memenuhi


syarat untuk : (psl 2)
 Menghindarkan kemungkinan bahaya kebakaran
dan kecelakaan
 Menghindarkan kemungkinan bahaya keracunan,
penularan peny. atau timbulnya peny. jabatan
 Memajukan kebersihan & ketertiban
 Mendpt penerangan yg cukup & memenuhi
syarat utk melakukan pekerjaan
 Mendpt suhu yg layak & peredaran udara yg
cukup
 Menghindarkan gangguan debu, gas, uap dan
bauan yg tdk menyenangkan
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Kebersihan

 Halaman hrs bersih, teratur & tdk becek


 Jalan di halaman tdk blh berdebu
 Hrs cukup saluran yg kuat & bersih utk keperluan aliran air
(riolering)
 Saluran air yg melintasi halaman hrs tertutup
 Sampah2 & buangan lainnya hrs terkumpul pd suatu
tempat yg rapi & tertutup
 Sampah hrs dibuang pd waktunya atau dibakar
 Tempat pengumpulan sampah tdk blh menjadi sarang lalat
atau binatang/serangga yg lain
 Lantai, dinding, loteng & atap hrs selalu berada dlm
keadaan terpelihara & bersih serta tdk basah & lembab
 Tersedia tempat mandi, tempat cuci muka & tangan, tempat
ludah, tempat pakaian menurut kepentingan masing2 bagi
tempat kerja yg dianggap perlu
 Lantai hrs dibersihkan pd waktu2 tertentu, sehingga selalu
dlm keadaan bersih
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Kebersihan

 Lantai tempat kerja hrs terbuat dr bhn yg keras, tahan air & bhn
kimia yg merusak, datar & tdk licin
 Alat & bhn hrs selalu disusun atau disimpan secara rapi & tertib
 Susunan tsb hrs sedemikian rupa shg tdk menimbulkan bahaya
tertimpa atau mungkin menyebabkan buruh terjatuh
 Buruh/tenaga kerja dlm perusahaan2 tertentu dpt diwajibkan
memakai pakaian kerja menurut syarat2 yg ditetapkan &
disediakan oleh majikan
 Dapur, kmr makan & alat keperluan makan hrs selalu bersih &
rapi
 Dapur & kmr makan serta kakus tdk blh berhubungan langsung
dgn tempat kerja & letaknya hrs dinyatakan jelas
 Alat2 makan atau masak sesudah dipakai hrs dibersihkan dgn
sabun & air panas & dikeringkan. Alat2 tsb hrs dibuat dr bahan2
yg mudah dibersihkan
 Kakus-kakus hrs selalu bersih terutama lantai & dinding serta
dibersihkan oleh pegawai tertentu

t
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Khusus
 Gedung hrs kuat buatannya & tdk blh ada bagian yg
mungkin rubuh
 Tangga hrs kuat buatannya, aman & tdk blh licin & hrs
cukup kuat
 Setiap tempat kerja hrs dibuat & diatur sedemikian rupa,
sehingga tiap org yg bekerja dlm ruangan mendpt ruang
udara (cubic space) yg sedikit-dikitnya 10m – 15m
 Tinggi tempat kerja paling sedikit 3 m
 Luas tempat kerja hrs sedemikian rupa shg tiap pekerja
paling sedikit mendpt 2m utk bergerak secara bebas
 Atap tempat kerja hrs dibuat sedemikian rupa shg dpt
memberikan perlindungan yg baik kepada pekerja dr
panas & hujan. Atap tdk blh bocor dan berlobang
 Dinding tidak boleh basah atau lembab
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Khusus

 Makanan yg disediakan utk buruh hrs menurut menu yg


memenuhi syarat2 kesehatan
 Air yg digunakan utk makan dan minum hrs memenuhi
syarat2 sbb :
 Air tdk blh berbau & hrs segar
 Air tdk blh berwarna & berasa
 Air tdk blh mengandung binatang atau bakteri yg berbahaya
 Semua pegawai yg mengerjakan & melayani makanan &
minuman hrs bebas dr salah satu penyakit menular & selalu
hrs menjaga kebersihan badannya
 Kakus-kakus hrs disediakan utk buruh & terbuat dr bhn yg
kuat
 Kakus-kakus hrs terpisah utk laki-laki & perempuan sehingga
tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesusilaan
 Dinding kakus setinggi 1,5 meter dr lantai hrs terbuat dr bhn
yg mudah dibersihkan
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Khusus

 Jumlah kakus adalah sebagai berikut :


 Untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus
 Untuk 16 – 30 orang buruh = 2 kakus
 Untuk 31 – 45 orang buruh = 3 kakus
 Untuk 46 – 60 orang buruh = 4 kakus
 Untuk 61 – 80 orang buruh = 5 kakus
 Untuk 81 – 100 orang buruh = 5 kakus
Dan selanjutnya untuk tiap 100 orang = 6 kakus
 Jumlah kakus disesuaikan juga dengan jumlah buruh laki2
atau perempuan
 Kakus yg bersih ialah yg memenuhi syarat sbb :
 Tidak blh berbau & ada kotoran yg terlhat
 Tidak blh ada lalat, nyamuk atau serangga yg lain
 Hrs selalu tersedia air bersih yg cukup
 Hrs dpt dibersihkan dgn mudah dan paling sedikit 2 – 3x sehari
Syarat Khusus Penetapan WC Sesuai OSHA
– 29 CFR
Sanitasi – 1910.141(c)(1)(i)

 Jumlah kakus / WC adalah sebagai berikut :


 Untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus
 Untuk 16 – 35 orang buruh = 2 kakus
 Untuk 36 – 55 orang buruh = 3 kakus
 Untuk 56 – 80 orang buruh = 4 kakus
 Untuk 81 – 110 orang buruh = 5 kakus
 Untuk 111 – 150 orang buruh = 6 kakus
Dan selanjutnya jika buruh lebih dari 150 orang
maka pada setiap kelipatan 40 orang ditambah 1
kakus
PMP 7 tahun 1964 : Syarat Khusus
 Hrs disediakan tempat duduk bagi buruh yg bekerja
sambil duduk
 Bagi buruh yg bekerja sambil berdiri, berjalan merangkak,
jongkok, atau berbaring hrs disediakan tempat duduk pd
waktu ia membutuhkan
 Tempat duduk tsb hrs memenuhi syarat2 sbb :
 Hrs memenuhi ukuran yg sesuai dgn tubuh orang
Indonesia umumnya dan cocok utk buruh yg memakainya
 Hrs memberi kesenangan duduk & menghindari
ketegangan otot2
 Hrs memudahkan gerak-gerik utk bekerja
 Hrs ada sandaran utk punggung
 Jika mempergunakan banyak tenaga kerja wanita hrs
diadakan beberapa tempat istirahat & berhias yg cukup
luas, memenuhi syarat2 kebersihan, penerangan&
peredaran udara utk dipergunakan pd waktu2 yg
diperlukan
PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja

 Setiap tempat kerja hrs mendapat penerangan yg cukup


utk melakukan pekerjaan
 Jarak antara gedung2 atau bangunan2 lainnya hrs
sedemikian rupa shg tdk mengganggu masuknya cahaya
siang ketempat kerja
 Jendela2, lobang2 atau dinding gelas yg dimaksudkan
utk memasukkan cahaya hrs selalu bersih & luas
seluruhnya hrs 1/6 dr pd luas lantai kerja & minimum 1/10
luas lantai kerja serta dibuat sedemikian rupa shg
memberikan penyebaran cahaya yg merata
 Bila ada penyinaran matahari langsung menimpa para
pekerja hrs diadakan tindakan2 utk menghalangi
 Apabila jendela sbg jalan cahaya matahari, mk jarak
antara jendela & lantai tdk blh melebihi 1,2 meter
 Jendela2 hrs ditempatkan sedemikian rupa shg
dimungkinkan cahaya siang mencapai dinding tempat
kerja yg terletak diseberang
PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja

 Jika cahaya matahari tdk mencukupi atau tdk dpt dipergunakan


mk hrs diadakan penerangan dgn jln lain sbg pengganti cahaya
matahari
 Jika pekerjaan dilakukan pd malam hari, mk hrs diadakan
buatan yg aman & cukup intensitasnya, tdk menyebabkan
panas yg berlebihan atau merusak susunan udara serta tdk
melebihi 320 C
 Sumber cahaya yg dipergunakan hrs menghasilkan kadar
penerangan yg tetap & menyebar serata mungkin, tdk blh
berkedap-kedip, tdk menyilaukan atau menimbulkan bayangan
contrast yg mengganggu buruh
 Dapur & kmr makan serta kakus-kakus hrs mendpt penerangan
yg baik dan peredaran udara yg cukup
 Tiap tempat kerja yg dipakai pd malam hari hrs menyediakan
alat2 penerangan darurat yg mempunai sumber tenaga yg
bebas dr instalasi umum, ditempatkan pd tempat2 yg tdk
mungkin menimbulkan bahaya
 Jalan2 keluar spt pintu, gang2 dll hrs mempunyai alat
penerangan darurat & diberi tanda pengenal dgn cat luminous,
bahan2 reflectie atau bahan2 fluorescence
PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja

 Kadar penerangan diukur dgn alat2 pengukur cahaya yg


baik setinggi tempat kerja atau setinggi perut utk
penerangan umum (+ 1 meter)
 Kekuatan penerangan ditentukan untuk :
 Darurat min. 5 lux (0,5 foot candles)
 Halaman2 & jalan2 dlm lingkungan perusahaan min. 20 lux
(2 foot candles)
 Pekerjaan2 yg hanya membedakan barang kasar min. 50
lux (5 foot candles)
 Pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil sepintas lalu
min. 100 lux (10 foot candles)
 Pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil agak teliti min.
200 lux (20 foot candles)
 Pekerjaan2 pembedaan yg teliti drpd barang2 kecil min.
300 lux (30 foot candles)
 Pekerjaan membeda2kan barang2 halus dgn contras yg
sedang & dlm waktu yg lama min. 500 sampai 1000 lux (50
sampai 100 foot candles)
 Pekerjaan membeda2kan barang yg sangat halus dgn
contrast yg sangat kurang utk waktu yg lama min. 1000 lux
(100 foot cadles)
PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja

 Jenis pekerjaan2 yg hanya membedakan barang kasar


spt :
 Mengerjakan bahan2 yg kasar
 Mengerjakan arang atau abu
 Menyisihkan barang2 yg besar
 Mengerjakan bahan tanah atau batu
 Gang2, tangga didlm gedung yg selalu dipakai
 Gudang2 utk menyimpan barang2 besar & kasar
 Jenis pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil sepintas
lalu spt :
 Mengerjakan barang2 besi & baja yg ½ selesai
 Pemasangan yg kasar
 Penggilingan padi
 Pengupasan/pengambilan & penyisihan bahan kapas
 Mengerjakan bahan2 pertanian lain
 Kamar mesin & uap
 Alat pengangkut orang & barang
 Ruang2 penerimaan & pengiriman dgn kapal
 Tempat menyimpan barang2 sedang & kecil

PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jenis pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil agak
teliti spt :
 Pemasangan alat2 yg sedang (tdk besar)
 Pekerjaan mesin & bubut yg kasar
 Pemeriksaan atau percobaan kasar terhadap barang2
 Menjahit tekstil atau kulit yg berwarna muda
 Pemasukan & pengawetan bahan2 makanan dlm kaleng
 Pembungkusan daging
 Mengerjakan kayu
 Melapis perabot
 Jenis pekerjaan2 pembedaan yg teliti drpd barang2 kecil
spt :
 Pekerjaan mesin yg teliti
 Pemeriksaan yg teliti
 Percobaan2 yg teliti & halus
 Pembuatan tepung
 Penyelesaian kulit & penenunan bahan2 katun atau wol
berwarna muda
 Pekerjaan kantor yg berganti2, menulis & membaca,
pekerjaan arsip & seleksi surat2
PMP 7 tahun 1964
: Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jenis pekerjaan2 membeda2kan barang2 halus dgn
contras yg sedang & dlm waktu yg lama spt :
 Pemasangan yg halus
 Pekerjaan2 mesin yg halus
 Pemeriksaan yg halus
 Penyemiran yg halus & pemotongan gelas kaca
 Pekerjaan kayu yg halus (ukir-ukiran)
 Menjahit bahan2 wol yg berwarna tua
 Akuntan, pemegang buku, pekerjaan steno, mengetik atau
pekerjaan kantor yg lama & teliti
 Jenis pekerjaan2 membeda2kan barang yg sangat halus
dgn contrast yg sangat kurang utk waktu yg lama spt :
 Pemasangan yg ekstra halus (arloji dll)
 Pemeriksaan yg ekstra halus (ampul obat)
 Percobaan alat2 yg ekstra halus
 Tukang mas & intan
 Penilaian & penyisihan hasil2 tembakan
 Penyusunan huruf & pemeriksaan copy dlm percetakan
 Pemeriksaan & penjahitan bahan pakaian berwarna tua
t
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
Sesuai OSHA – 29 CFR
* Illumination. - 1926.56
 Untuk pekerjaan2 konstruksi maka ditentukan tersendiri kekuatan
penerangan yaitu :
 General construction area lighting min. 50 lux (5 foot candles)
 General construction areas, concrete placement, excavation and
waste areas, access ways, active storage areas, loading platforms,
refueling, and field maintenance areas. min. 30 lux (3 foot candles)
 Indoors: warehouses, corridors, hallways, and exitways min. 50 lux
(5 foot candles)
 Tunnels, shafts, and general underground work areas: (Exception:
minimum of 10 foot-candles is required at tunnel and shaft heading
during drilling, mucking, and scaling. Bureau of Mines approved
cap lights shall be acceptable for use in the tunnel heading) min. 50
lux (5 foot candles)
 General construction plant and shops (e.g., batch plants, screening
plants, mechanical and electrical equipment rooms, carpenter
shops, rigging lofts and active store rooms, mess halls, and indoor
toilets and workrooms.) min. 100 lux (10 foot candles)
 First aid stations, infirmaries, and offices min. 300 lux (30 foot
candles)
t
4.Permenaker
 No. 3/Men/1985
ASBES ADALAH tentang
SERAT YANG keselamatan
BELUM TERIKAT
dan kesehatan
OLEH SEMEN kerja
ATAUPemakaian asbes.
BAHAN LAIN

 NILAI AMBANG BATAS ASBES ADALAH ANGKA


YANG MENUNJUKKAN KONSENTRASI SERAT
ASBES DI UDARA TEMPAT KERJA, DIMANA
DENGAN KONSENTRASI DIBAWAH ANGKA INI
ORANG YANG TERPAPAR DALAM WAKTU 8 JAM
SEHARI DAN 40 JAM SEMINGGU TIDAK AKAN
MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN DAN
KENYAMANAN KERJA
PENGGUNAAN ASBES
 ASBES ATAU BAHAN YANG
MENGANDUNG ASBES TIDAK
BOLEH DIGUNAKAN DENGAN CARA
MENYEMPROT
 DILARANG MENGGUNAKAN ATAU
MEMAKAI ASBES BIRU
( CROSIDOLIT) PADA SETIAP
PROSES ATAU PEKERJAAN
 KANTONG FILTER ALAT VENTILASI
DITARUH DI TEMPAT TERTUTUP
 FILTER HARUS DIBERSIHKAN DAN
DIGANTI
 TEMPAT KERJA DAN PERALATAN HARUS
SELALU BERSIH DAN TERBEBAS DARI
DEBU ASBES
 PEMBERSIHAN DEBU ASBES HARUS
DENGAN CARA BASAH ATAU DIHISAP
 PETUGAS PEMBERSIHAN HARUS
MEMAKAI APD DAN RESPIRATOR
 PEMBUNGKUS/KANTONG ASBES HARUS TIDAK
DAPAT DITEMBUS DEBU ASBES
 SAMPAH ASBES YANG TELAH TERIKAT TIDAK
BOLEH DISIMPAN, DIKIRIM, ATAU
DIDISTRIBUSIKAN TANPA WADAH TERTUTUP
SEMPURNA
 SEMUA WADAH YANG MENGANDUNG ASBES
HARUS DIBERI TULISAN :
“ BAHAN ASBES TIDAK BOLEH DIHIRUP ”
 PEMBUNGKUS /KANTONG HARUS DIBUANG
SEHINGGA TDK DIPAKAI LAGI
 SAMPAH ASBES DIBUANG DENGAN
MENYEBARKAN RATA DITANAH DAN DITIMBUN
SETEBAL ± 25 CM
KEBERSIHAN LINGKUNGAN KERJA
ASBES
 SETIAP RUANG KERJA WAJIB DIPASANG
ALAT VENTILASI
 ALAT VENTILASI WAJIB DIHIDUPKAN
PADA WAKTU PROSES PRODUKSI
 ALAT VENTILASI HARUS DIPERIKSA
MINIMAL 3 BULAN SEKALI DAN DICATAT
 DILAKUKAN PERAWATAN DAN
PERBAIKAN
5. : SEMUA
Permenaker
PESTISIDA ZAT KIMIAtentang
No. 03/Men/1986 DAN BAHAN
syaratLAIN
SERTA JASAD
keselamatan danRENIK DANdi
kesehatan VIRUS YANG
tempat kerja yang
DIGUNAKAN
mengelola UNTUK :
Pestisida
 MEMBERANTAS/MENCEGAH HAMA DAN

PENYAKIT YANG MERUSAK TANAMAN DAN


HASIL PERTANIAN
 MEMBERANTAS RERUMPUTAN

 MEMATIKAN/MENCEGAH PERTUMBUHAN YANG

TDK DIINGINKAN
 MENGATUR / MERANGSANG PERTUMBUHAN
TANAMAN
 MEMBERANTAS / MENCEGAH HAMA PADA
HEWAN DAN TERNAK
 MEMBERANTAS / MENCEGAH HAMA AIR
 MEMBERANTAS / MENCEGAH BINATANG DAN
JASAD RENIK
 MEMBERANTAS / MENCEGAH BINATANG YANG
DAPAT MENYEBABKAN PENYAKIT PADA
MANUSIA DAN HEWAN
KETENTUAN² TENAGA KERJA
YANG MENGELOLA PESTISIDA
 PEMAPARAN TIDAK BOLEH LEBIH DARI 5
JAM SEHARI DAN 30 JAM SEMINGGU
 MEMAKAI APD YANG SESUAI
 MENJAGA KEBERSIHAN BADAN, APD,
PERALATAN, TEMPAT KERJA
 DILARANG MEMAKAI PESTISIDA DALAM
BENTUK DEBU
 TIDAK BOLEH DLM KEADAAN MABUK
 TIDAK BOLEH BILA MEMILIKI LUKA ATAU
PENYAKIT KULIT
 TIDAK BOLEH BILA TK HAMIL / MENYUSUI
 PEMASANGAN TANDA² PERINGATAN
BAHAYA PADA TEMPAT TERTENTU
 TANDA YANG DIPASANG HARUS
DIMENGERTI DAN MUDAH DIBACA
 PEMASANGAN GAMBAR APD PADA
TEMPAT KERJA YANG SESUAI
 TEMPAT KERJA HARUS BERSIH DAN
BEBAS DARI TUMPAHAN ATAU CECERAN
PESTISIDA
 KADAR PESTISIDA DI TEMPAT KERJA
TIDAK BOLEH MELEBIHI NAB YANG
DITENTUKAN
6. PERMENAKER No. PER-13/Men/X/2011
* NAB Faktor Fisika & Kimia di Tempat Kerja
 NAB adl std faktor tempat kerja yg dpt diterima
tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau
gangguan kesehatan dlm pekerjaan utk waktu
tdk melebihi 8 jam sehari & 40 jam seminggu
 Faktor fisika adl faktor didlm tempat kerja yg
bersifat fisika terdiri dari iklim kerja, kebisingan,
getaran, gelombang mikro & sinar ultra ungu
 Iklim kerja adl hsl perpaduan antara suhu,
kelembaban, kecepatan gerakan udara & panas
radiasi dgn tkt pengeluaran panas dr tubuh
tenaga kerja sbg akibat pekerjaannya
 Kebisingan adl semua suara yg tdk dikehendaki
yg bersumber dr alat2 proses produksi atau
alat2 kerja yg pd tkt tertentu dpt menimbulkan
gangguan pendengaran
 Getaran adl gerakan yg teratur dr benda
atau media dgn arah bolak-balik dr
kedudukan keseimbangannya
 NAB iklim kerja menggunakan parameter
ISSB
 ISBB (Indeks Suhu Basah & Bola) adl
parameter utk menilai tkt iklim kerja yg
merupakan hsl perhitungan antara suhu
udara kering, suhu basah alami & suhu
bola
 Radiasi frekuensi radio & gelombang mikro
(mikrowave) adl radiasi elektromagnetik dgn
frek. 30 khz – 300 Ghz
 Radiasi ultra ungu (ultraviolet) adl radiasi
elektromagnetik dgn panjang gelombang 180 –
400 nm
 Suhu kering (dry bulb temp) adl suhu yg
ditunjukkan oleh termometer kering
 Suhu basah alami (natural wet bulb temp) adl
suhu yg ditunjukkan oleh termometer bola
basah alami
 Suhu bola (globe temp) adl suhu yg ditunjukkan
oleh termometer bola
 NAB kebisingan = 85 dBA
 NAB getaran alat kerja yg kontak langsung
maupun tdk langsung pd lengan & tangan tk = 4
m/det2
 NAB radiasi frekuensi radio & gel mikro (lht
lamp IV)
 NAB radiasi sinar ultra ungu = 0,1 mikro watt
per centimeter persegi (uw/cm2)
 Pengukuran & penilaian faktor fisika di tempat
kerja dilaksanakan oleh Pusat dan atau Balai
Hyperkes atau pihak2 lain yg ditunjuk
 Hasil pengukuran & penilaian disampaikan
kepada pengusaha atau pengurus dan Kantor
Dinas Tenaga Kerja setempat
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &
TRANSMIGRASI
NOMOR : PER-13/MEN/X/2011, NAB IKLIM KERJA
ISBB (0 C)

Beban Kerja
Pengaturan Waktu Kerja
Setiap Jam
Ringan Sedang Berat

75 % - 100 % 31,0 28,0 -

50 % - 75 % 31,0 29,0 27,5

25 % - 50 % 32,0 30,0 29,0

0 % - 25 % 32,2 31,0 30,5


NILAI AMBANG BATAS ( NAB )

NAB. UNTUK KEBISINGAN DI


INDUSTRI MENURUT
PERMENAKERTRANS NO. 13
/MEN/X/2011 ADALAH 85 dB(A)
SELAMA 8 JAM PER-HARI Dan 40
JAM PER MINGGU.
Waktu Pemaparan Per hari Intensitas Kebisingan dalam (dBA)

8 Jam 85
4 88
2 91
1 94

30 Menit 97
15 100
7,5 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112

28,12 Derik 115


14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011, NAB Getaran
Lengan Tangan
Jumlah Waktu Pemaparan Per Nilai Percepatan pada Frekuensi
hari kerja Dominan

Meter per detik Gravitasi


kuadrat (m/det2)
4 jam dan kurang dari 8 jam 4 0,40

2 jam dan kurang dari 4 jam 6 0,61

1 jam dan kurang dari 2 jam 8 0,81

Kurang dari 1 jam 12 1,22


Catatan : 1 Gravitasi = 9,81 m/det2

NAB Getaran yang kontak langsung maupun tidak langsung


ditetapkan = 0,5 m/det2)
Faktor-faktor Bahaya Lingkungan
Kerja

Terdapat lima faktor penyebab


kecelakaan dan penyakit akibat kerja
yaitu :
1. Faktor fisika
2. Faktor kimia
3. Faktor biologi
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
5. Faktor psikologi
Lanjutan…
Faktor-faktor Bahaya Lingkungan Kerja
1. Faktor fisika
 Kebisingan, iklim kerja/temperatur,
pencahayaan, radiasi, getaran, dan tekanan
2. Faktor kimia
 Padat, cair, gas, fume, mist dll
3. Faktor biologi
 Serangga, bakteri, virus, parasit dll.
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
 Cara kerja, alat
5. Faktor psikologi
 Upah, kerja monoton, lokasi kerja yang
terpencil dll

t
Sumber bahaya lingkungan kerja di
Industri
 Temperatur : tanur, cold storage, perkantoran.
 Tekanan udara : keg. penyelaman, konstruksi.
 Penerangan : perkantoran, pekerjaan yang teliti.
 Kebisingan : konstruksi, mesin press, bubut dll.
 Radiasi : pengelasan, rumah sakit, telekomunikasi ,
kantor.
 Faktor kimia : industri kimia, tekstil, baterai, sepatu,
migas.
 Faktor biologi : makanan, kehutanan, pertanian.
 Faktor ergonomi : perkantoran, konstruksi.
 Faktor psikologi : mercusuar, pengawas gunung api,
tambang.
1. Faktor Fisika
- Faktor Kebisingan
 Kebisingan adl bunyi yg didengar sbg suatu rangsangan pd telinga &
manakala bunyi2 tsb tdk dikehendaki
 Kualitas bunyi dtentukan oleh frekuensi dan intensitasnya
 Intensitas bunyi adl besarnya tekanan yg dipindahkan oleh bunyi
satuan desibel (dB)
 Frekuensi adl jlh getaran per detik (hertz) yaitu jlh gel yg diterima
oleh telinga setiap detiknya. Range yg bisa didengar adl 20 s/d 20.000
hz dan frekuensi manusia berkomunikasi adl 250 s/d 3000 hz
 Kebisingan berdasarkan sifat bunyi :
 Kebisingan continue
 Kebisingan impulsif
 Kebisingan terputus-putus
 Kebisingan impaktif
 Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja &
lingkungan :
 Pengaruh terhadap alat pendengaran yaitu Tuli
konduktif & Tuli perseptif
 Efek kebisingan kepada daya kerja
 Alat pengukur intensitas kebisingan adl
“Sound Level Meter”
 Pengendalian kebisingan utk mengurangi
tingkat intensitas kebisingan atau lamanya
pemaparan selama kerja dgn cara :

Menurunkan pada sumbernya dgn
menempatkan alat peredam pd sumber getaran
 Menempatkan penghalang pd jln transmissi
dgn mengisolasi mesin atau tenaga kerja
 Menggunakan APD yi sumbat telinga (ear plug)
atau tutup telinga (ear muff)
 Mengatur waktu kerja
- Iklim Kerja
 Kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara,
kecepatan gerakan udara & suhu radiasi pd
suatu tempat kerja
 Suhu udara sekitar 24 – 26 oC dengan selisih
suhu diluar & didalam tdk lebih dari 5 oC
 Faktor-faktor yg menyebabkan pertukaran
panas antara tubuh dgn sekitarnya :
 Konduksi  antara tubuh dgn benda atau
lingkungan sekitarnya melalui kontak
langsung
 Konveksi  gerakan molekul2 gas/cairan dgn
suhu yg rendah
 Radiasi  energi gelombang dr kedua benda
akan saling berpengaruh
 Evaporasi/penguapan  keringat yg dihasilkan
pd permukaan kulit melalui pelepasan uap air
 Faktor yg mempengaruhi toleransi tubuh
terhadap panas
 Aklimatimasi

Ukuran badan
 Umur
 Jenis kelamin
 Kesegaran jasmani
 Suku bangsa
 Suhu yg tinggi dpt menyebabkan penyakit a.l.
heat cramps, heat exchaustion, heat stroke
dan miliana
 Pencegahan panas dpt dilakukan dgn cara :
 Memperbaiki aliran udara atau sistem ventilasi
yg lbh sempurna
 Mereduksi tek. panas dilingkungan kerja yg
ada sumber panasnya
 Menerapkan teknologi pengendalian & teknis
perlindungan
 Memelihara kesegaran jasmani
 Menyediakan air minum yg cukup
 Menyesuaikan berat ringan pekerjaan
- Pencahayaan
 Pencahayaan/penerangan merupakan salah satu
komponen yg dpt mempengaruhi lingkungan
kerja
 Faktor yg mempengaruhi intensitas penerangan :
 Sumber cahaya  lampu pijar, lampu neon atau
lampu penerangan darurat (flourscent tube)
 Daya pantul (reflektivitas) 
 Permukaan kasar & hitam mk semua cahaya
diserap
 Permukaan halus & mengkilap mk cahaya akan
dipantulkan sejajar
 Permukaan tdk rata mk cahaya akan dipantulkan
diffus
 Ketajaman penglihatan  dpengaruhi beberapa
faktor yi :
 Ukuran obyek/benda
 Cahaya pantul benda (brightness)
 Kontras – waktu pengamatan
 Pencahayaan/penerangan ruangan yg baik
memungkinkan pekerja melihat pekerjaan dgn
teliti, cepat, jelas serta membantu menciptakan
lingkungan kerja yg nikmat & menyenangkan
 Sifat-sifat penerangan ditentukan oleh:
 Pembagian lumenisasi dlm lapangan penglihatan
 Pencegahan kesilauan
 Arah sinar
 Warna & panas
 Pedoman yg perlu diperhatikan :
 Permukaan dr semua bidang & obyek memp kecerahan
yg merata
 Kontras & kecerahan permukaan dr bgn pusat & tengah
bid visual tdk blh melampaui rasio 1 : 3
 Kontras bgn pusat & pelatarannya atau didlm bgn luar dr
bid visual tdk blh melampaui rasio 1 : 10
 Permukaan yg cerah hrs berada di pusat bid visual &
menggelap kearah pinggiran
 Kontras akan lbh mengganggu jika melampaui bgn
bawah atau samping bid visual dan lbh baik pd bgn atas
 Hrs dihindari jendela yg terang sekali, papan
hitam yg menempel pd dinding putih atau benda-
benda yg memantulkan/mengkilap
 Pengukuran intensitas penerangan dgn
menggunakan lux meter
 Pencegahan kesilauan dilakukan dgn :
 Pemilihan lampu yg tepat
 Penempatan sumber2 cahaya terhdp meja atau mesin
serta memperhitungkan letak jendela
 Penggunaan alat pelapis yg mengkilat atau tidak
 Penyaringan sinar matahari langsung
 Pengaruh pencahayaan terhdp kesehatan :
 Kelelahan mata  berkurang daya & efisiensi kerja
 Kelelahan mental
 Keluhan pegal didaerah mata & sakit kepala disekitar
mata
 Kerusakan indera mata
 Meningkatnya kecelakaan kerja
- Tekanan Udara Tinggi & Rendah
- Getaran Mekanis
 Getaran seluruh badan (Whole Body
Vibration)
 Getaran terhadap lengan (Tool hand
vibration)
 Getaran terhadap kesehatan

Kelainan peredaran darah & syaraf

Kerusakan pd persendian & tulang
 Pencegahan dgn :
 Isolasi sumber getaran
 Isolasi pekerja atau operator

Mengurangi pemaparan

Melengkapi peralatan mekanis

Pemeriksaan kesehatan
2. Faktor Kimia
- Bahan kimia berbahaya yg dipakai dlm industri :
1. Bhn kimia yg mdh terbakar  benzene, aseton, eter &
hexan
2. Bhn kimia yg mdh meledak ammonium nitrat,
nitrogliserin
3. Bhn kimia beracun  asam klorida
4. Bhn kimia korosif  asam klorida
5. Bhn kimia yg bersifat oksidator  peroksida organik
6. Bhn kimia yg peka/reaktif terhdp air  natrium hibrida,
karbit
7. Bhn kimia yg bersifat asam kuat
8. Bhn kimia yg disimpan dlm tek tinggi spt gas nitrogen
diokside, hydrogen klorida didlm sylinder penyimpan
9. Bhn kimia yg bersifat radioaktif
- Bentuk fisik bahan kimia
 Padat spt debu atau partikel
 Cair spt liquid
 Gas spt O2, N2, CO2, H2S
 Uap spt pelarut cat, pelarut perekat, pelarut pencuci
dipercetakan dll
- Sifat fisik bahan kimia :
1. Bhn bersifat partikel (awan, asap, kawat
& fume) spt :

Perangsang (kapas, sabun)

Toksik (partikel Pb, As,Mn)

Penyebab fibrosisi (deu asbes, quarst)

Penyebab demam (fume)

Inert (Al, kapur dll)
2. Bhn non partikel (gas & uap) spt :
 Aspisian (N2, CO2)
 Perangsang (HCl, H2S)
 Racun organik & anorganik (Nikel, carbonyl)
 Bhn kimia yg mdh menguap
 Merusak alat2 tubuh
 Berefek anaestesia
 Merusak susunan darah (benzene)
 Merusak syaraf
 Iritan & bahan2 korosif terhdp jaringan
PENGUSAHA ATAU PENGURUS :

WAJIB MENGENDALIKAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA


DI TEMPAT KERJA UNTUK --> MENCEGAH TERJADINYA
KECELAKAAN KERJA & PENYAKIT AKIBAT KERJA
7. Kepmenaker No. 187/Men/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat
Kerja.
● SIFAT BAHAYA - Interaksi dengan lingkungan :
● Uap air : hidrolisa eksoterm
- ”Inherent” ● Oksigen : kebakaran
 Beracun (piroforik)
 Korosif ● Panas : terbakar
 Mudah ● Tumbukan : gesekan
terbakar mekanik
 Eksplosif

- Interaksi antara bahan


● Oksidator dan reduktor
● Logam dan asam

BAHAYA TERHADAP :
Pabrik, Pekerja, Masyarakat dan Lingkungan
KLASIFIKASI BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Umum:

1. Bahan Kimia Beracun (Toxic Agents)


2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive Chemicals)
3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable Substances)
4. Bahan Mudah Meledak (Explosives)
5. Bahan Oksidator (Oxidation Agents)
6. Bahan Reaktif terhadap Air (Water Sensitive
Substances)
7. Bahan Reaktif terhadap Asam (Acid Sensitive Substances)
8. Gas Bertekanan (Compressed Gases)
9. Bahan Radioaktif ( Radio Actives)
Catatan :
Bahan Kimia berbahaya : mempunyai 1 (satu) atau lebih sifat
di atas
PENGENDALIAN BAHAN
KIMIA BERBAHAYA

 Penyediaan Lembar Data Keselamatan


Bahan (LDKB) dan Label
 Penunjukan Petugas K3 Kimia dan Ahli
K3 Kimia
Lembar Data Keselamatan Bahan
berisikan keterangan :
 Identitas Bahan dan Perusahaan
 Komposisi Bahan
 Identifikasi Bahaya
 Tindakan P3K
 Tindakan Penanggulangan Kebakaran
 Tindakan Mengatasi Kebocoran & Tumpahan
 Penyimpanan & Penanganan Bahan
 Pengendalian Pemajanan & APD
 Sifat Fisika dan Kimia
 Stabilitas dan Reaktifitas Bahan
 Informasi Toksikologi
 Informasi Ekologi
 Pembuangan Limbah
 Pengangkutan Bahan
 Informasi Perat.Peruu yang berlaku
 Informasi Lain yang Diperlukan.
LABEL
berisikan tentang :
 Nama produk
 Identifikasi Bahaya
 Tanda Bahaya dan Artinya
 Uraian Risiko dan Penanggulangannya
 Tindakan Pencegahan
 Instruksi apabila Terkena atau Terpapar
 Instruksi Kebakaran
 Instruksi Tumpahan atau Bocoran
 Instruksi Pengisian dan Penyimpanan
 Referensi
 Nama, Alamat dan No. Telp. Pabrik
Pembuat atau Distributor
PENEMPATAN :
Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB)
Label

 Ditempatkan pada tempat yang mudah


diketahui oleh :
 Tenaga Kerja
 Pegawai Pengawas
PENETAPAN
POTENSI BAHAYA INSTALASI (I)
 Pengusaha atau Pengurus wajib menyampaikan :
 Daftar Nama

Sifat

Kuantitas
Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja
Kepada Dinas Tenaga Kerja Setempat
 Dinas Tenaga Kerja setelah 14 hari menerima daftar,
sifat dan kuantitas BKB harus meneliti kebenaran data
tersebut
 Berdasarkan hasil penelitian ditetapkan kategori potensi
bahaya perusahaan/industri ybs.
PENETAPAN
POTENSI BAHAYA INSTALASI (II)
 POTENSI BAHAYA terdiri dari :
 Bahaya Besar
 Bahaya Menengah
 KATEGORI POTENSI BAHAYA berdasarkan
:
 Nama
 Kriteria
 Nilai Ambang Kuantitas (NAK)
KRITERIA
BAHAN KIMIA BERBAHAYA
 Bahan beracun
 Bahan sangat beracun
 Cairan mudah terbakar
 Cairan sangat mudah terbakar
 Gas mudah terbakar
 Bahan mudah meledak
 Bahan reaktif
 Bahan oksidator
KRITERIA
BAHAN BERACUN
 Ditetapkan dengan memperhatikan sifat kimia, fisika
dan toksik sbb. :
 Mulut :

LD 50 > 25 atau < 200 mg/kg berat badan


 Kulit :

LD 50 > 25 atau < 400 mg/kg berat badan


 Pernafasan :

LC 50 > 0.5 atau < 2 mg/l


KRITERIA
SANGAT BERACUN
 Ditetapkan dengan memperhatikan sifat
kimia, fisika dan toksik sbb. :
 Mulut :
 LD 50 < 25 mg/kg berat badan
 Kulit :
 LD 50 < 25 mg/kg berat badan
 Pernafasan :
 LC 50 < 0.5 mg/l
KRITERIA
Cairan Mudah Terbakar, Cairan Sangat
Mudah Terbakar dan Gas Mudah Terbakar
Cairan Mudah Cairan Sangat Gas Mudah
Terbakar : Mudah Terbakar : Terbakar :

Berdasarkan Berdasarkan sifat Berdasarkan sifat


sifat kimia dan kimia dan fisika : kimia dan fisika :
fisika : Titik nyala :  Titik didih :
 Titik nyala: < 210 C < 20 0 C
>210 C dan < 550 C  Titik didih : > Pada tek. 1 atm
Pada tek. 1 atm 200C
Pada tek. 1atm
KRITERIA
MUDAH MELEDAK

 Apabila Reaksi Kimia Bahan tsb


menghasilkan :
 Gas dalam jumlah yang besar
 Tekanan yang besar
 Suhu yang tinggi
Menimbulkan kerusakan disekelilingnya
KRITERIA REAKTIF
Apabila bahan tsb.bereaksi dengan :

 Air mengeluarkan panas dan gas


yang mudah terbakar
 Asam mengeluarkan panas dan

gas yang mudah terbakar atau


beracun atau korosif
KRITERIA OKSIDATOR

 Apabila reaksi kimia atau


penguraiannya menghasilkan :
 Oksigen yang dapat menyebabkan
kebakaran
NILAI AMBANG KUANTITAS
(NAK)

 Kriteria Beracun
 Kriteria Sangat Beracun
 Kriteria Mudah Meledak
 Kriteria Reaktif
Ditetapkan dalam Lampiran III
Kep.Mennaker No. Kep.187/MEN/1999
NILAI AMBANG KUANTITAS (NAK) :
Beracun (I)
No. Nama Bahan Kimia NAK
1. Aceton Cyanohydrin (2-Cyanopropan-2-1) 200 ton
2. Acrolein (2-propenal) 200 ton
3. Acrylonitrile 20 ton
4. Allyl alcohol (2-propen-1-1) 200 ton
5. Allyamine 200 ton
6. Ammonia 100 ton
7. Bromine 10 ton
8. Carbon disulphide 200 ton
9. Chlorine 10 ton
10. Diphenil methane di-isocyanate (MDT) 200 ton
11. dst
NILAI AMBANG KUANTITAS (NAK)
Sangat Beracun (II)
No. Nama Bahan Kimia NAK
1. Aldicarb 100 kg
2. 4-Aminodiphenil 1 kg
3. Amiton 1 kg
4. Anabasine 100 kg
5. Arsenic pentoxide 500 kg
6. Arsenic trioxide 100 kg
7. Arsine ( Arsenic hydride) 10 kg
8. Azinphos – ethyl 100 kg
9. Benzidine 1 kg
10. Beryllium (powder compounds) 10 kg
11. Dst.
NILAI AMBANG KUANTITAS (NAK)
Sangat Reaktif (III)
No. Nama Bahan Kimia NAK
1. Acethylene 50 ton
2. Ammonium nitrate 500 ton
3. Ethylene oxide 50 ton
4. Ethylene nitrate 50 ton
5. Hydrogen 10 ton
6. Oxygen 500 ton
7. Paracetic Acid (Concent. >60%) 50 ton
8. Propylene Oxide 50 ton
9. Sodium Chlorate 20 ton
10. Dst.
NILAI AMBANG KUANTITAS (NAK)
Mudah Meledak (IV)
No. Nama Bahan Kimia NAK
1. Barium Azide 50 ton
2. Chlorotrinitrobenzene 50 ton
3. Cellulose nitrate (contain.>12.6% nitrogen) 50 ton
4. Cyclotetramethylene-trinitramine 50 ton
5. Diazodinitrophenol 10 ton
6. Diethylene glycol dinitrate 10 ton
7. Hydrazine nitrate 50 ton
8. Lead Azide 50 ton
9. Mercury Fluminate 50 ton
10. Dst
NAK DAPAT PULA DITETAPKAN
SBB :
No. Kriteria Bahan Kimia Berbahaya NAK
1. Beracun 10 ton
2. Sangat Beracun 5 ton
3. Reaktif 50 ton
4. Mudah Meledak 10 ton
5. Oksidator 10 ton
6. Cairan Mudah Terbakar 200 ton
7. Cairan Sangat Mudah Terbakar 100 ton
8. Gas Mudah Terbakar 50 ton
POTENSI BAHAYA BESAR

Apabila :

Kuantitas Bahan Kimia Berbahaya yang


digunakan MELEBIHI atau LEBIH BESAR
dari Nilai Ambang Kuantitas (NAK)
POTENSI BAHAYA MENENGAH

 Apabila :
Kuantitas Bahan Kimia
Berbahaya yang Digunakan
SAMA atau LEBIH KECIL dari
Nilai Ambang Kuantitas (NAK)
DOKUMEN PENGENDALIAN POTENSI
BAHAYA BESAR
Berisikan :
 Identifikasi Bahaya, Penilaian dan
Pengendalian Risiko
 Kegiatan Tehnis, Rancang Bangun,
Konstruksi, Pemilihan Bahan Kimia,
Pengoperasian dan Pemeliharaan
Instalasi
 Kegiatan Pembinaan Tenaga Kerja

 Rencana dan Prosedur


Penanggulangan Keadaan Darurat
 Prosedur Kerja Aman
DOKUMEN PENGENDALIAN POTENSI
BAHAYA MENENGAH
Berisikan :

Identifikasi Bahaya, Penilaian dan


Pengendalian Risiko
Kegiatan Tehnis, Rancang Bangun,

Konstruksi, Pemilihan Bahan Kimia,


Pengoperasian dan Pemeliharaan
Instalasi
Kegiatan Pembinaan Tenaga Kerja

Prosedur Kerja Aman


HYGIENE PERUSAHAAN
1. Hygiene perusahaan adalah ilmu
pengenalan, penilaian dan pengendalian
faktor-faktor bahaya, sehingga masyarakat
tenaga kerja dan masyarakat terhindar dari
efek sampingan kemajuan teknologi.

2. Konsep hygiene perusahaan terdiri dari 3


tahapan kegiatan, yaitu :
 Pengenalan lingkungan
 Penilaian lingkungan
 Pengendalian lingkungan
Pengenalan terhadap bahaya faktor-
faktor lingkungan kerja

Pengenalan terhadap bahaya faktor-faktor


yang ada di lingkungan kerja yang timbul
sebagai akibat penggunaan terhadap teknologi
proses produksi akan meliputi pengetahuan
dan pengertian tentang berbagai jenis bahaya
dan pengaruh atau akibat yang dapat
ditimbulkan kepada kesehatan tenaga kerja.
Untuk Pengenalan Lingkungan
perlu mempelajari
 Flow diagram dari kegiatan proses dan
operasi.
 Kondisi operasi tiap tahap dalam rangkaian
operasi dan proses.
 Bahan baku, bahan pembantu, hasil antara,
hasil samping, hasil ( produk ) dan sisa
produksi atau bahan buangan.
 Jurnal – jurnal teknik
 Keluhan dari tenaga kerja
DALAM PENGENALAN LINGKUNGAN PERLU
DIPERHATIKAN :

1. Alat – alat teknis penanggulangan apa yang


sudah tersedia / dipergunakan
2. Bentuk bahan baku yang dipergunakan dan
bagaimana digunakan
3. Jumlah orang yang terpapar dan bekerja
disetiap tahapan proses
Penilaian lingkungan dimaksudkan
untuk mengetahui secara kualitatif
Penilaian Lingkungan
tingkat bahaya dari suatu faktor bahaya
lingkungan yang timbul dengan Metoda
pengukuran, pengambilan sample serta
analisa dilaboratorium, kemudian
dibandingkan dengan Standar baku.
Manfaat dari penilaian lingkungan
adalah :

 Dasar utk menyatakan kondisi lingkungan kerja

 Penerapan teknik pengendalian dan penanggulangan


merupakan dasar utama.

 Perencanaan alat – alat penanggulangan

 Dokumen untuk inspeksi


Pengendalian
Lingkungan
 Penerapan metode teknik tertentu untuk
menurunkan tingkat faktor bahaya
lingkungan sampai batas yang masih dapat
ditolerir oleh manusia dan lingkungannya
dengan Nilai Ambang Batas (NAB).

 Nilai Ambang Batas Bahan Kimia adalah


kadar rata-rata dari bahan kimia dalam
lingkungan kerja agar tenaga kerja yang
bekerja paling lama 8 jam perhari dan 40 jam
perminggu tidak mengalami gangguan
kesehatan atau gangguan kenyamanan kerja.
PERMENAKER No. 13/men/x/2011
* NAB Faktor Fisika &Kimia di Udara Lingk Kerja

 Kategori :
 NAB rata2 selama jam kerja  8 jam/hari

atau 40 jam/minggu dpt terpajan bhn kimia


berulang-ulang tanpa mengakibatkan
gangguan kesehatan maupun PAK
 NAB batas pemaparan singkat (PSD=
pemajanan singkat yg diperkenankan)  15
menit & tdk lbh dr 4 kali pemejanan per hari
kerja tanpa menderita gangguan iritasi,
kerusakan/perubahan jaringan yg kronis
serta efek narkosis
 NAB tertinggi (KTD= kadar tertinggi yg
diperkenankan)
 Kegunaan NAB
 Sbg kadar standar utk perbandingan

 Sbg pedoman utk perencanaan produksi &

perencanaan teknologi pengendalian bahaya


 Menentukan substitusi bahan proses produksi

terhdp bhn yg lbh beracun dgn bhn yg kurang


beracun
 Membantu menentukan diagnosis gangguan

kesehatan, timbulnya penyakit2 & hambatan2


efisiensi kerja akibat faktor kimiawi dgn
bantuan pemeriksaan biologik
METODE –METODE TEKNIS
PENGENDALIAN LINGKUNGAN

 PENGENDALIAN TEKNIS

 PENGENDALIAN ADMINISTRASI

 ALAT PELINDUNG DIRI


Pengendalian Lingkungan

 Metode pengendalian lingkungan


 Substitusi
 Ventilasi
 Perubahan proses
 Pengeluaran setempat (lokal
exhauster)
 Pemencilan proses/proteksi
perorangan
Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri (APD)

Adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi


seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga
kerja dari bahaya di tempat kerja

Dasar Hukum :
• UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
• Permenakertrans No. Per. 08/Men/2010

Kelemahan Penggunaan APD :


• Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna
• Sering APD tidak dipakai karena kuirang nyaman
Alat Pelindung Diri

Jenis APD :
• Alat Pelindung Kepala
• Alat Pelindung Muka dan
Mata
• Alat Pelindung Telinga
Syarat-syarat APD :
• Alat Pelindung Pernapasan
• Enak dipakai
• Pakaian Kerja
• Tidak mengganggu kerja
• Sarung Tangan
• Memberikan perlindungan
• Alat Pelindung Kaki yang efektif sesuai dengan
jenis bahaya di tempat kerja
Alat Pelindung Diri

Manajemen APD :
(Pemilihan, Penggunaan, Pemeliharaan dan Penyimpanan)
Dipilih sesuai tujuan perlindungan
Dipilih yang memenuhi standar / telah diuji
Dipilih yang sesuai pekerja Indonesia
Digunakan yang benar agar dapat melindungi pekerja
Memeriksa secara rutin
Dirawat secara rutin agar dapat memberikan perlindungan
Melaporkan kerusakan
Membuat catatan pemeliharaan dan kerusakan
Memperbaiki atau mengganti yang rusak
Disimpan pada tempat yang sesuai
Alat Pelindung Diri

102
Sanitasi Lingkungan
Sanitasi adalah usaha kesehatan yang menitikberatkan
pada pengawasan terhadap berbagai faktor
lingkungan yang mempengaruhi atau mungkin
mempengaruhi derajat kesehatan manusia.

Tujuan upaya sanitasi lingkungan:


1. Melakukan koreksi, yakni memperkecil dan
memodifikasi terjadinya bahaya dari lingkungan
2. Melakukan pencegahan, dalam arti mengefisienkan
pengaturan sumber-sumber lingkungan

t
Sanitasi Lingkungan

Ruang lingkup :
1. Penyediaan air bersih dpt diminum &
cukup
2. Menjamin kebersihan penyediaan makanan
3. Pencegahan & pembasmian serangga &
binatang mengerat
4. Ketatarumahtanggaan yg baik di industri
5. Limbah industri
6. Sarana sanitasi/kakus dan lain2
Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat
dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena
tidak mempunyai nilai ekonomis

Klasifikasi :
• Nilai Ekonomi : dengan proses lanjut akan memberikan nilai tambah
• Nilai Non Ekonomi : diolah dengan proses bentuk apapun tidak akan
memberikan nilai tambah kecuali mempermudah sistem
pembuangan
Limbah

Jenis Limbah :
• Limbah Gas : limbah yang aliran
keluarnya berupa bahan gas
• Limbah Cair : limbah yang aliran
keluarnya berupa bahan cair
• Limbah Padat : limbah yang aliran
keluarnya berupa bahan padat
Limbah

Pengelolaan Limbah :
• Secara fisik : Clarification / sedimentasi,
Flotation, Oil Water Sparation.
• Secara kimiawi : Coagulation, Precipitation,
Neutralization.
• Secara Biologi : Aerobic Suspended Process,
Aerobic Attached Growth Process, Aerobic
Lagoons, Anerobic Lagoons
TERIMA KASIH

108

Anda mungkin juga menyukai