Anda di halaman 1dari 16

TUGAS AKHIR MODUL 2 PROFESIONAL IPA

KLASIFIKASI DAN KEANEKAGARAMAN MAKHLUK HIDUP, EKOLOGI DAN ILMU


PENGETAHUAN

OLEH :
Nama : Fenny Khadriana, S.Si
NPM : 19020509710775

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) DALAM JABATAN


ANGKATAN 4
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
TAHUN 2019
Tugas Akhir : MODUL 2

Nama : Fenny Khadriana, S.Si

NPM : 19020509710775

Universitas : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Tugas:
Dampak-dampak pemanasan global kian nyata dan mengancam kehidupan. Meski tak
bisa dihentikan secara total, tetapi dengan upaya kolektif, kita bisa memperlambatnya.
Jika bukan kita yang merawat planet ini, siapa lagi?
Strategi atau solusi apa yang akan Anda terapkan untuk mengatasi permasalahan
tersebut? Kemukakan pernyataan Anda dengan pendekatan prinsip pemecahan
masalah (problem solving) yang meliputi:
 Memahami masalah (Understanding the Problem), meliputi:
o Problem apa yang dihadapi?
o Apa yang diketahui?
o Apa yang ditanya?
o Apa kondisinya?
o Bagaimana memilah kondisi-kondisi tersebut?
 Menyusun rencana pemecahan (Devising a Plan)

Menemukan hubungan antara data dengan hal-hal yang belum diketahui, atau
mengaitkan hal-hal yang mirip secara analogi dengan masalah.

 Melaksanakan rencana (Carrying out the Plan)

Menjalankan rencana untuk menemukan solusi, melakukan dan memeriksa setiap


langkah apakah sudah benar, bagimana membuktikan bahwa perhitungan, langkah-
langkah dan prosedur sudah benar.

 Memeriksa kembali (Looking Back)


Melakukan pemeriksaan kembali terhadap proses dan solusi yang dibuat untuk untuk
memastikan bahwa cara itu sudah baik dan benar. Selain itu untuk mencari apakah
dapat dibuat generalisasi, untuk menyelesaikan masalah yang sama, menelaah untuk
pendalaman atau mencari kemungkinan adanya penyelesaian lain.

Rubrik Penilaian
Komponen Bobot
Memahami masalah (Understanding the Problem)
25%
Menyusun rencana pemecahan (Devising a Plan)
25%
Melaksanakan rencana (Carrying out the Plan)
25%
Memeriksa kembali (Looking Back)
25%

Total 100%
Selanjutnya Anda diharapkan dapat mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah (problem solving) dalam menanggapi informasi-indormasi yang berhubungan
dengan sains dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Anda dapat
membelajarkan keterampilan memecahkan masalah (problem solving) pada peserta
didik di sekolah.
*Tugas ini dikembangkan dengan keterampilan memecahkan masalah (problem
solving) yang mengacu pada George Polya (1973).

JAWAB :

1. MEMAHAMI MASALAH (Understanding the Problem)

A. PROBLEM YANG DIHADAPI

Planet Bumi terus memanas, dari kutub utara hingga selatan. Sejak 1906, suhu rata-
rata permukaan planet ini terus meningkat antara 1,1 dan 1,6 derajat Fahrenheit (0,6
hingga 0.9 derajat Celsius)- bahkan lebih di daerah kutub.
Pemanasan global bisa diartikan sebagai menghangatnya permukaan Bumi selama
beberapa kurun waktu karena temperatur yang terus meningkat. Organisasi Meteorologi
Dunia menyatakan bahwa tahun 2016 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Suhu
atmosfer Bumi rata-rata dalam setahun naik 1,1oC. Kenaikan suhu dan konsentrasi gas
rumah kaca menyebabkan es di Kutub Utara dan Selatan meleleh lebih cepat. Kenaikan
suhu di Kutub Utara dua kali lebih cepat. Kenaikan suhu dan melelehnya es di kutub
memicu perubahan cuaca, iklim, dan pola sirkulasi laut di belahan dunia lain.

Dampak-dampak kenaikan suhu ini tak harus menunggu lama untuk muncul, karena
tanda-tanda dampak pemanasan global mulai terlihat saat ini. Pemanasan melelehkan
gletser dan lautan es, mengubah pola curah hujan, dan menyebabkan pergerakan
hewan-hewan. Bumi telah mengalami penderitaan dari beberapa dampak pemanasan
global. Berikut dampak-dampak perubahan iklim yang tampak semakin jelas:

 Es meleleh di seluruh dunia, terutama di kutub-kutub Bumi. Pelelehan ini mencakup


gletser- gletser pegunungan, lapisan es yang menyelimuti Antarktika Barat dan
Greenland, serta es lautan Arktik.
 Banyak spesies yang telah terdampak kenaikan suhu. Misalnya, peneliti bernama Bill
Fraser, telah melacak penurunan populasi penguin Adelie di Antarktika, yang
jumlahnya menyusut dari 32.000 pasangan menjadi 11.000 dalam 30 tahun.
 Permukaan laut meningkat lebih cepat selama abad terakhir.
 Beberapa spesies kupu-kupu, rubah dan tanaman alpin telah berpindah lebih jauh ke
utara atau ke daerah yang lebih tinggi dan dingin.
 Presipitasi (hujan dan salju) telah meningkat secara rata-rata di seluruh dunia.
 Beberapa spesies invasive berkembang pesat. Misalnya, populasi kumbang kulit
cemara meledak di Alaska berkat 20 tahun musim panas yang hangat. Serangga ini
telah mengunyah lebih dari 4 juta hektar pohon cemara.

Jika pemanasan terus berlanjut, dampak-dampak berikut ini akan terjadi di Bumi.

 Permukaan laut diperkirakan naik antara 18 hingga 59 cm di akhir abad dan pelelehan
es di kutub yang berlanjut dapat menambah kenaikan antara 10 hingga 20 cm.
 Angin topan dan badai-badai lainnya cenderung menjadi lebih kuat.
 Banjir dan kekeringan akan menjadi lebih umum. Curah hujan di Ethiopia, yang pada
dasarnya telah sering dilanda kekeringan, bisa turun hingga 10 persen selama 50
tahun ke depan.
 Krisis air tawar akan marak terjadi. Jika tudung es Quelccaya di Peru terus mengalami
pelelehan pada tingkat seperti saat ini, tudung es tersebut akan hilang pada 2100.
Akibatnya, ribuan orang yang bergatung pada es Quelccaya akan kehilangan sumber
untuk memenuhi kebutuhan minum dan energi listrik.

Beberapa penyakit akan mewabah, seperti malaria dan virus zika. Ekosistem akan
berubah, beberapa spesies akan bergerak lebih jauh ke utara atau berhasil bertahan
hidup, namun ada pula yang tak bisa menyelamatkan diri dan pada akhirnya akan
punah.

B. APA YANG DIKETAHUI

Pemanasan global (bahasa Inggris: Global warming) adalah suatu proses


meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global
pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus
tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan
bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-
20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah
dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua
akademi sains nasional dari negara-negara G8.

Gambar 1 . Suhu rata rata bumi tahun 1999-2008


Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

Pemanasan pada permukaan bumi dikenal dengan istilah ‘Efek Rumah Kaca’
atau Greenhouse Effect. Efek rumah kaca merupakan naiknya suhu bumi yang
disebabkan oleh adanya perubahan komposisi pada atmosfer. Hal itu menyebabkan
sinar matahari tetap berada di bumi, dan tidak dipantulkan dengan sempurna untuk
keluar dari atmosfer tersebut.

Gambar 2. Efek Rumah Kaca

Source : https://greatedu.co.id/greatpedia/efek-rumah-kaca

C. APA YANG DITANYA

Strategi atau solusi apa yang akan diterapkan untuk mengatasi permasalahan dampak-
dampak pemanasan global yang kian nyata dan mengancam kehidupan.

D. APA KONDISINYA

Terjadinya perubahan Komposisi Atmosfer. Banyaknya aktivitas manusia yang


menghasilkan berbagai ragam produk limbah gas dapat menyebabkan perubahan
mendasar dalam komposisi atmosfer dan dalam interaksinya dengan bagian lain
biosfer. Permasalahan yang mendesak dan yang berhubungan dengan siklus nutrien
adalah peningkatan kadar karbondioksida di atmosfer. Sejak Revolusi Industri,
konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar
fosil dan pembakaran sejumlah besar kayu yang diambil dari penebangan hutan.
Peningkatan produktivitas oleh vegetasi merupakan suatu konsekuensi peningkatan
kadar CO2 yang dapat diprediksi. Pada kenyataannya, ketika konsentrasi CO2
dinaikkan dalam ruang percobaan seperti rumah kaca, sebagian besar tumbuhan
merespons dengan peningkatan pertumbuhan. Sebagai contoh pada gambar 2 grafik
peningkatan konsentrasi CO2 di Moana Loa.

Gambar 3. Peningkatan konsentrasi CO 2 di atmosfer Moana Loa

Source:https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mauna_Loa_CO2_monthly_mean_concent
ration.svg

Satu faktor yang memperumit prediksi mengenai pengaruh jangka panjang peningkatan
konsentrasi CO2 atmosfer adalah kemungkinan pengaruhnya pada neraca panas Bumi.
Banyak radiasi Bumi yang mencapai planet ini dipantulkan kembali ke ruang angkasa.
Meskipun CO2 dan uap air pada atmosfer tembus terhadap cahaya tampak, CO2 dan
uap air menangkap dan menyerap banyak radiasi inframerah yang dipantulkan, yang
kemudian memantulkan kembali ke arah Bumi. Proses ini menahan sebagian panas
matahari. Jika bukan karena efek rumah kaca (greenhouse effect) ini, rata-rata suhu
udara pada permukaan Bumi akan menjadi -18°C. peningkatan berarti dalam konsentrasi
CO2 atmosfer selama 150 tahun terakhir mengkhawatirkan para ahli ekologi dan ahli
lingkungan karena pengaruh potensialnya pada suhu global.
Suatu peningkatan hanya 1,3°C akan membuat dunia ini lebih hangat dari kapanpun
dalam 100.000 tahun belakangan. Suatu skenario paling buruk menyatakan bahwa
pemanasan akan terjadi paling besar di dekat kutub; pencairan es di daerah kutub dapat
mengakibatkan naiknya permukaan laut degan taksiran sekitar 100 m, yang secara
perlahan-lahan akan merendam daerah pantai 150 km atau lebih ke daratan dari garis
pantai saat ini. New York, Miami, Los Angeles, dan beberapa kota lainnya kemudian akan
berada di bawah permukaan air. Suatu kecenderungan pemanasan juga akan mengubah
persebaran geografis presipitasi, yang membuat daerah pertanian utama di Amerika
Serikat telah menjadi kering.
Batu bara, gas alam, bensin, kayu dan bahan bakar organik lainnya yang pokok dalam
kehidupan modern tidak dapat dibakar tanpa melepaskan CO2. Pemanasan planet yang
sesungguhnya sedang berlangsung saat ini sebagai akibat penambahan CO2 ke
atmosfer, adalah suatu permasalahan dengan akibat yang tidak pasti dan tanpa solusi
sederhana. Dengan pentingnya penggunaan bahan bakar pada masyarakat ini,
stabilisasi emisi CO2 akan memerlukan upaya internasional yang serentak dan terpadu,
serta penerimaan perubahan yang dramatis dalam gaya hidup personal maupun dalam
proses industri.
Kehidupan di Bumi terlindungi dari pengaruh radiasi ultraviolet (UV) yang membahayakan
melalui suatu lapisan pelindung molekul ozon (O3) yang terdapat di dalam lapisan
stratosfer yang lebih rendah antara 17 dan 25 km di atas permukaan Bumi. Ozon
menyerap radiasi UV, yang mencegah banyak radiasi UV tersebut mencapai kontak
dengan organisme yang berada di biosfer. Kajian satelit pada atmosfer menyatakan
bahwa lapisan ozon secara perlahan-lahan telah menipis sejak tahun 1975, dan
penipisan tersebut terus berlangsung dengan laju yang semakin meningkat. Perusakan
ozon atmosfer kemungkinan terutama disebabkan oleh akumulasi klorofluorokarbon, zat
kimia yang digunakan untuk lemari es, sebagai bahan bakar dalam kaleng aerosol, dan
dalam proses pabrik tertentu. Ketika produk perombakan dari zat kimia ini mencapai
stratosfer, klorin yang terkandung pada bahan kimia ini mencapai stratosfer, klorin yang
terkandung pada bahan kimia tersebut bereaksi dengan ozon, yang mereduksinya
menjadi O2 molekuler. Reaksi kimia berikutnya membebaskan klorin tersebut, yang
memungkinkannya bereaksi dengan molekul ozon lainnya dalam suatu reaksi berantai
katalitik. Pengaruh itu paling jelas terlihat di atas Antartika, di mana suhu musim dingin
memudahkan terjadinya reaksi atmosfer ini.
Para saintis pertama kali menjelaskan “lubang ozon” di atas Antartika pada tahun 1985
dan sejak itu telah didokumentasikan bahwa hal tersebut adalah peristiwa musiman yang
mengembang dan mengkerut dalam suatu siklus tahunan. Akan tetapi, besaran
penipisan ozon dan ukuran lubang ozon kadang-kadang meluas sampai sejauh bagian
paling selatan Australia, Selandia Baru, dan Amerika Selatan. Pada daerah dengan
lintang tengah yang sangat padat penduduknya, lapisan ozon telah turun 2% sampai 10%
selama 20 tahun yang lalu.
Akibat hilangnya ozon bagi kehidupan di Bumi bisa sangat hebat. Beberapa saintis
memperkirakan peningkatan kanker kulit baik yang letal maupun yang tidak letal dan juga
katarak pada manusia, dan juga pengaruh yang tidak dapat diperkirakan pada tanaman
dan komunitas alamiah, khususnya fitoplankton yang bertanggung jawab pada sebagian
besar produktivitas primer di Bumi. Bahaya yang ditimbulkan oleh penipisan ozon adalah
sedemikian besarnya, sehingga banyak negara telah sepakat untuk mengakhiri produksi
klorofluorokarbon dalam waktu satu dekade. Sayangnya, meskipun semua
klorofluorokarbon dilarang saat ini, molekul klorin yang telah ada di atmosfer akan terus
mempengaruhi konsentrasi ozon atmosfer paling tidak selama satu abad.
Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih panas, para
ilmuwan memprediksi akan banyak orang meninggal karena gelombang panas seperti
yang terjadi pada musim panas Eropa pada tahun 2003 yang lalu, dimana tercatat sekitar
35.000 orang meninggal dunia. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit
yang biasa ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemungkinan dapat
berpindah tempat ke daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti Eropa dan
Amerika.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang keempat
di dunia sepanjang 95.181 km, menjadi pertemuan dari tiga lempeng tektonik besar:
Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik serta dilalui dua jalur
atau rangkaian gunung berapi, yaitu : Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania.
Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi rentan terhadap bencana alam yang
disebabkan oleh pemanasan global – perubahan iklim. Pada tahun 2015 nanti,
diperkirakan jumlah orang yang hidup di daerah rentan dan terkena dampak bencana
alam pemanasan global (perubahan iklim) di dunia meningkat 54 persen mencapai 375
juta orang per tahunnya. Tingkat ekonomi, kemiskinan, kurangnya tindakan
penanggulangan bencana menyebabkan persentase korban jiwa di negara miskin dan
berkembang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara maju.
Kalimantan, pulau yang terbilang “relatif” aman dibanding kepulauan lain di
Indonesia karena tidak dilewati rangkaian gunung berapi aktif dan lempengan tektonik
yang aktif bergerak, ternyata tidak lepas dari masalah bencana akibat perubahan iklim
itu. Banjir, tanah longsor, ombak yang tinggi, kekeringan, dan kebakaran hutan menjadi
bencana yang harus siap dihadapi penduduk yang bermukim di Kalimantan. Panas yang
panjang diikuti oleh curah hujan tinggi setelahnya, rentan menyebabkan banjir dan tanah
longsor. Ombak yang tinggi menyapu permukiman di pesisir pantai. Dan bencana yang
datang lebih sering dengan skala lebih besar itu, juga terasa di Kota Balikpapan.
Kebakaran hutan adalah bencana paling populer yang dihadapi Kalimantan.
Kebakaran terbesar yang pernah terjadi di Kalimantan Timur terjadi pada tahun
1997/1998 setelah kebakaran besar pada tahun 1982/1983 akibat fenomena iklim El
Nino, tingginya temperatur suhu yang disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan
global, perubahan iklim, tingginya temperatur yang dijawab dengan perilaku lalai akan
menyebabkan kebakaran hutan menjadi hal riskan untuk terjadi di Kalimantan.

E. BAGAIMANA MEMILAH MILAH KONDISI TERSEBUT

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa gas-gas penyebab efek rumah
kaca jumlahnya meningkat di setiap tahun. Gas-gas tersebut juga memiliki waktu tinggal
di atmosfir yang sangat lama sampai bertahun-tahun. Jika gas-gas tersebut tidak di
minimalisir jumlahnya dari sekarang, maka akan meningkatkan jumlah gas tersebut di
atmosfer dan mengakibatkan kerusakan pada lapisan ozon bumi kita. Berikut penjelesan
beberapa kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global jika tidak
segera diatasi:
 Dampak pemanasan global pada perubahan iklim
Dampak pemanasan global akan meningkatkan suhu didalam bumi karena
terperangkapnya gas-gas rumah kaca tersebut, maka dampaknya tumbuhan dan
hewan tidak dapat beradapatasi akbatnya kepunahan massal.

 Dampak pemanasan global terhadap penyakit


Adanya gas-gas rumah kaca menyebabkan kerusakan pada lapisan ozon.
Kerusakan pada lapisan ozon bumi akan berdampak mudahnya masuk sinar
ultraviolet yang berbahaya bagi tubuh. Akan timbul banyak penyakit sehingga manusia
banyak yang meninggal akibat kanker kulit.

 Dampak pemanasan global terhadap munculnya bencana


Pemanasan global mengakibatkan banyak terjadi bencana di Indonesia dan dunia
secara umumnya. Bencana alam seperti kekeringan, kebakaran hutan, kebanjiran,
dan bencana lainnya, semakin banyak terjadi

2. MENYUSUN RENCANA PEMECAHAN (Devising a Plan)

Rencana pemecahan sebagai berikut :


1. Pemanasan Global terhadap iklim
 Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan
penghijauan di lahan – lahan kritis.
 Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif, guna mengurangi
penggunaan energi bahan bakar fosil.
 Daur ulang

2.Pemanasan Global terhadap penyakit


Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan
pemahaman dan penerapan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Dimensi manusia
Manusia berperan sebagai pengguna, perusak, dan pelestari alam.
Manusia harus diberi kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupannya.
b. Penegakan hukum dan keteladanan
Pelanggaran atas tindakan manusia yang merusak lingkungan harus
mendapat ganjaran.
c. Keterpaduan
Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya pelestarian
lingkungan dan sumber daya alam serta penegakan hukumnya. Upaya ini
harus dilakukan secara komprehensif dan lintas sektor.

3. MELAKSANAKAN RENCANA (Carring out the Plan)

Setelah Menyusun Rencana Pemecahan langkah selanjutnya yaitu melaksanakan


rencana. Langkah-langkah penyelesaian dimulai dari merubah kebiasaan hidup dari diri
kita sendiri. Adapun pelaksanaan rencana sebagai berikut:

1. Hemat Energi

 Mematikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda
stand by menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik yang berarti
masih turut serta mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer.
 Memilih perlengkapan elektronik yang hemat energi.

2. Hemat Air

 Mematikan kran saat menggosok gigi


 Menggunakan air bekas cucian sayur dan beras, atau air hujan untuk
menyiram tanaman.
 Memperbaiki kran yang bocor dengan segera.
 Mandi dengan menggunakan shower karena mandi berendam merupakan
cara mandi yang boros air.
 Menghindari penggunaan selang atau gunakanlah kaleng penyiram tanaman
atau ember untuk mencuci mobil/motor.
 Menyiram tanaman pada sore hari agar air mudah meresap kedalam akar.
 Biarkan rumput di halaman rumah tumbuh lebih tinggi karena hal ini akan
mengurangi konsumsi air bagi tanaman

3. Membantu Mengurangi Tumpukan Sampah Dunia

 Menghemat pemakaian kertas. Selalu menggunakan kertas di kedua sisinya


dan menggunakan kembali amplop
 bekas atau membuat amplop dari kertas bekas. Jika kita hemat dalam
menggunakan kertas berarti kita juga menghemat kayu dan mengurangi
tumpukan sampah dari kertas.
 Selalu menggunakan prinsip ”3 R” (Reduce, Reuse, Recycle) dan melakukan
penanaman tanaman (Replanting) di pekarangan rumah.
 Memilih produk yang dapat digunakan secara berulang kali.
 Jangan membeli produk yang menggunakan kemasan berlebihan.
 Membeli produk yang dapat didaur ulang atau produk daur ulang, misalnya
tisu toilet, alat tulis dan lain-lain.
 Membawa kantong belanjaan sendiri atau gunakan plastik bekas pakai ketika
berbelanja.
 Membeli barang dalam jumlah besar lebih menghemat pengepakan, uang dan
transportasi.
 Membeli/mengkonsumsi buah dan sayur yang sedang musim untuk
mengurangi biaya transportasi. Import buah dan sayur yang tidak sedang
musim membutuhkan transportasi yang brlebihan. Hal ini berarti penggunaan
bahan bakar fosil lebih banyak, sehingga akan mengemisikan gas rumah
kaca lebih banyak pula.
 Menggunakan produk pembersih yang biodegradable, sehingga bahan kimia
yang terkandung, akan memberikan dampak minimal pada sistem tanah dan
air kita.
 Menggunakan transportasi publik, bersepeda atau berjalan kaki daripada
menggunakan mobil untuk berangkat kantor.
 Jika berkendaraan untuk berangkat ke kantor, usahakan untuk berangkat
bersama dengan teman yang tinggal berdekatan atau sekantor.
Menggunakan satu mobil untuk beberapa penumpang akan lebih ramah
lingkungan daripada menggunakan mobil masing-masing.

4. MEMERIKSA KEMBALI (LOOKING BACK)

ANGKET PENGAMATAN
Berikan tanda check list (√) dari pilihan jawaban berikut ini.
No Pertanyaan Pilihan Jawaban
1 Apakah sumber sampah  Kertas
terbanyak di rumah ?  Plastic
 Kaca
 Kaleng
 Sisa makanan
2 Adakah tempat sampah  Ada
organik dan anorganik di  Tidak
rumah ?
3 Bagaimana cara mengelola  Dibakar
sampah organik ?  Ditimbun
 Dibiarkan menumpuk
 Dibuang ke sungai
 Didaur ulang
 Lain-lain……………..
4 Bagaimana cara mengelola  Dibakar
sampah anorganik ?  Ditimbun
 Dibiarkan menumpuk
 Dibuang ke sungai
 Didaur ulang
 Lain-lain……………..
5 Darimana sumber pakan  Sisa makanan
hewan ternak yang  Produk jadi
digunakan?
No Pertanyaan Pilihan Jawaban
 Memanfaatkan lingkungan
6 Pernahkan mengelola zat  Pernah
sisa ternak ?  Tidak
7 Berapa jumlah kendaraan  Tidak punya
bermotor di rumah?  < 3 (kurang dari 3)
 >3 (lebih dari 3)
8 Pernahkan menanam  Pernah
tanaman hijau disekitar ?  Tidak
9 Seberapa sering  Sering
mengkonsumsi daging?  Jarang
 Tidak pernah
10 Alat elektronik di rumah  TV
 Kulkas
 Penanak nasi elektrik
 Dispensee
 Pemanas air
 AC
 Kipas angin
 Lain-lain……………..
11 Pemakaian air  Mandi
 Menyiram tanaman
 Memasak
 Mencuci
 Lain- lain….

Demgan memberikan angket pengamatan akan memberi kesadaran lebih pada warga
sektar untuk mengatasi permasalahan Pemanasan Global.
Literatur

1. Modul 2 IPA KLASIFIKASI DAN KEANEKAGARAMAN MAKHLUK


HIDUP, EKOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN.
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
3. https://greatedu.co.id/greatpedia/efek-rumah-kaca
4. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mauna_Loa_CO2_monthly_mean_co
ncentration.svg
5. https://www.bencana-kesehatan.net/index.php/13-berita/berita/1255-
efek-pemanasan-global-bagi-peningkatan-bencana-alam
6. https://sekitarkita.syaldi.web.id/langkah-langkah-untuk-mengurangi-
pemanasan-global/