Anda di halaman 1dari 25

PERPINDAHAN PANAS

“BOILER”

DISUSUN OLEH :

1. Anhar (061740421543)
2. Dadang S Manaf (061740421548)
3. Ratu Aqso Has (061740421549)
4. Umi Nopitasari (061740421557)

KELAS : 4 KIA
DOSEN PENGAMPU : Dr. Ir.Leila Kalsum, M.T.

PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mata
kuliah Perpindahan Panas dengan judul “Boiler” ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada seluruh
pihak, terutama kepada Ibu Dr. Ir. Leila Kalsum, M.T. selaku dosen mata kuliah
Perpindahan Panas Politeknik Negeri Sriwijaya yang telah berkontribusi dalam
menyelesaikan tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Boiler . Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat.

Palembang, Juni 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................................i
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Tujuan .........................................................................................................1
1.3 Manfaat .......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Boiler dan Perpindahan Panasnya………………………………………...3
2.2 Jenis – Jenis Boiler…………………………………………………….......5
2.3 Neraca Massa dan Panas pada Boiler………………………………........12
2.4 Desain Reboilers …………………………...…………………………...17

BAB III KESIMPULAN ......................................................................................21


DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu bentuk energi yang digunakan pada pengilangan minyak adalah
energi panas. Energi panas ini diperlukan dalam proses dan didapatkan dari hasil
pembakaran bahan bakar. Proses pembakarannya memerlukan udara yang
disupply dari luar, sebagian besar dari udara ini merupakan nitrogen, yang tidak
turut terbakar, tetapi keluar dari ruang pembakaran bersama sama gas hasil
pembakaran.
Boiler adalah suatu bejana tertutup yang terbuat dari baja yang digunakan
untuk menghasilkan uap. Didalam dapur (furnace), energi kimia dari bahan bakar
diubah menjadi panas melalui proses pembakaran. Dan panas yang dihasilkan
sebagian besar diberikan kepada air yang berada didalam boiler dan air akan
berubah menjadi uap. Uap yang dihasilkan dari sebuah boiler dapat digunakan
scbagai fluida kerja atau media pemanas untuk bermacam keperluan.
Boiler menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesin yang mudah
meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga
dengan sangat baik. Pemahaman terhadap prinsip sampai kekurangan alat Boiler
harus dipahami agar pengoperasian Boiler dapat berjalan secara optimal.

1.2 Tujuan
1. Memberikan pemahaman tentang proses Heat Transfer pada Boiler
2. Menguraikan jenis-jenis Boiler
3. Menjelaskan neraca massa dan neraca panas pada Boiler
4. Menjelaskan standar standar design pada Boiler

1
1.3 Manfaat
1. Dapat memberikan pemahaman tentang proses Heat Transfer pada Boiler
2. Dapat menguraikan jenis-jenis Boiler
3. Dapat menjelaskan neraca massa dan neraca panas pada Boiler
4. Dapat menjelaskan standar standar design pada Boiler

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Boiler dan Perpindahan Panasnya


2.1.1 Pengertian Boiler
Boiler adalah suatu bejana tertutup yang terbuat dari baja yang
digunakan untuk menghasilkan uap. Didalam dapur (furnace), energi kimia
dari bahan bakar diubah menjadi panas melalui proses pembakaran. Dan panas
yang dihasilkan sebagian besar diberikan kepada air yang berada didalam
boiler dan air akan berubah menjadi uap. Uap yang dihasilkan dari sebuah
boiler dapat digunakan scbagai fluida kerja atau media pemanas untuk
bermacam keperluan. Boiler mengacu kepada peraturan-peraturan sebagai
berikut :
 Undang-undang uap / peraturan uap tahun 1930
 Undang-undang No I 1970 tentang Keselamatan Kerja
Boiler yang digunakan pada Unit utilitas PS-Il jenis package boiler.
Disebut package boiler sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap. Pada
saat dikirim ke pabrik, hanya memerlukan pipa uap, pipa udara, suplai bahan
bakar dan sambungan listrik untuk dapat beroperasi.
Adapun prinsip kerja dari boiler adalah sebagai berikut : Panas yang
dihasilkan dari pembakaran (padat, cair maupun gas) yang terjadi di dalam
dapur (furnace), kemudian panas tersebut dipindahkan melalui suatu
perantara logam untuk selanjutnya panas ini dipindahkan ke air dalam boiler
secara konveksi, sehingga air tersebut mengubah fase cair menjadi fase uap
pada tekanan dan suhu yang dikehendaki.
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air
adalah media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu
proses. Jika air dididihkan sampai menjadi steam, volumnya akan meningkat
sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang

3
mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan
dijaga dengan sangat baik.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem
bahan bakar.
a) Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai
dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan
perawatan dan perbaikan.
b) Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam
boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada
keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau
dengan alat pemantau tekanan.
c) Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk
menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis
bahan bakar yang digunakan pada sistem.
Air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air
umpan. Dua sumber air umpan adalah:
 Kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses
 Air makeup (air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari
luar ruang boiler dan plant proses.
Untuk mendapatkan efisiensi boiler yang lebih tinggi, digunakan
economizer untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas
pada gas buang.

2.1.2 Proses Pembentukan Uap


1 Kg air pada suhu 0°C dimasukkan ke dalam tabung silinder piston
yang tersusun dengan beban, piston dan beban menjaga tekanan di dalam
silinder tetap sebesar 1 Atm (1.033 kg / cm). Jika air didalam tabung tersebut
dipanaskan, temperaturnya akan naik terus menerus sampai mencapai titik
didihnya. Titik didih udara pada tekanan 1 Atm adalah 100 °c, tetapi titik
didih itu akan naik jika tekanan dalam tabung silinder naik di atas 1 Atm. Jika
titik didih sudah dicapainya dan temperatur tidak berubah pada tekanan yang

4
konstan, maka menguaplah air di dalam tabung dan mendorong piston keatas
sebagai akibat terjadinya ekspansi karena berubahnya air menjadi uap. Dengan
demikian dapat dikatakan pula bahwa volume spesifik uap naik, suhu pada
saat air mendidih atau terjadi penguapan pada tekanan yang diberikan dikenal
sebagai saturation (suhu jenuh), dan tekanannya dikenal sebagai saturation
pressure (tekanan jenuh).
Panas yang diserap oleh air dari titik beku sampai titik didihnya, yakni
dari 0°C - 100°C dikenal sebagai sensible heat of liquif (panas sensible
cairan). Juga disebut sebagai total heat of water. Pada tingkatan ini, air tidak
berubah menjadi uap secara keseluruhan, tetapi masih ada beberapa partikel
air dalam bentuk suspensi.
Panas yang dibutuhkan untuk merubah air pada titik didihnya sehingga
menjadi uap dikenal sebagai latent of vaporation (panas laten penguapan).
Karena panas laten yang belum diserap semuanya, maka uap yang terbentuk
belum dapat dikatakan uap kering. Jika uap basah dipanaskan lebih lanjut pada
temperature jenuhnya, maka partikel-partikel yang tersuspensi akan diuapkan
secara sempurna. Dengan demikian uap yang tebentuk disebut dry steam atau
saturated steam (uap kering atau uap jenuh). Uap jenuh sesunggunya
mempunyai sifat seperti gas sempurna.
Jika uap jenuh dipanaskan lebih lanjut pada tekanan konstan maka
temperaturnya akan anik, atau dengan kata lain jika uap yang temperaturnya
berada diatas temperature jenuhnya pada tekanan tertentu maka ia disebut uap
lewat jenuh (Superhated Steam). Selama tekanannya konstan, maka volume
spesidiknya akan menajdi lebih besar dan kandungan panasnya menjadi lebih
tinggi.

2.2 Jenis – Jenis Boiler


Bagian ini menerangkan tentang berbagi jenis boiler: Fire tube boiler,
Water tube boiler, Paket boiler, Fluidized bed combustion boiler, Atmospheric
fluidized bed combustion boiler, Pressurized fluidized bed combustion boiler,
Circulating fluidized bed combustion boiler, Stoker fired boiler, Pulverized
fuel boiler, Boiler pemanas limbah (Waste heat boiler) dan and Pemanas

5
fluida termis.

2.2.1 Fire Tube Boiler


Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler
ada didalam shell untuk dirubah menjadi steam. Fire tube boilers biasanya
digunakan untuk kapasitas steam yang relative kecil dengan tekanan steam
rendah sampai sedang. Sebagai pedoman, fire tube boilers kompetitif untuk
kecepatan steam sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2.
Fire tube boilers dapat menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau
bahan bakar padat dalam operasinya. Untuk alasan ekonomis, sebagian besar
fire tube boilers dikonstruksi sebagai “paket”boiler (dirakit oleh pabrik) untuk
semua bahan bakar.
Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa
masuk kedalam drum. Air yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakar
membentuk steam pada daerah uap dalam drum. Boiler ini dipilih jika
kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada kasus boiler
untuk pembangkit tenaga
Water tube boiler yang sangat modern dirancang dengan kapasitas steam
antara 4.500 – 12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak water
tube boilers yang dikonstruksi secara paket jika digunakan bahan bakar
minyak bakar dan gas. Untuk water tube yang menggunakan bahan bakar
padat, tidak umum dirancang secara paket.
Karakteristik water tube boilers sebagai berikut:
 Forced, induced dan balanced
 draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran
 Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan
air.
 Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi.

2.2.2 Paket Boiler


Disebut boiler paket sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap.
Pada saat dikirim ke pabrik, hanya memerlukan pipa steam, pipa air, suplai

6
bahan bakar dan sambungan listrik untuk dapat beroperasi. Paket boiler
biasanya merupakan tipe shell and tube dengan rancangan fire tube dengan
transfer panas baik radiasi maupun konveksi yang tinggi.

Burne

Gambar. Jenis Paket Boiler 3 Pass, bahan bakar Minyak (Spirax Sarco)

Ciri-ciri dari packaged boilers adalah:


a) Kecilnya ruang pembakaran dan tingginya panas yang dilepas
menghasilkan penguapan yang lebih cepat.
b) Banyaknya jumlah pipa yang berdiameter kecil membuatnya memiliki
perpindahan panas konvektif yang baik.Sistim forced atau induced draft
menghasilkan efisiensi pembakaran yang baik.
c) Sejumlah lintasan/pass menghasilkan perpindahan panas keseluruhan yang
lebih baik.
d) Tingkat efisiensi thermisnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan boiler
lainnya.
Boiler tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah passnya yaitu berapa
kali gas pembakaran melintasi boiler. Ruang pembakaran ditempatkan sebagai
lintasan pertama setelah itu kemudian satu, dua, atau tiga set pipa api. Boiler
yang paling umum dalam kelas ini adalah unit tiga pass/ lintasan dengan dua
set fire-tube / pipa api dan gas buangnya keluar dari belakang boiler.

7
2.2.3 Boiler Pembakaran dengan Fluidized Bed (FBC)
Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) muncul sebagai alternatif yang
memungkinkan dan memiliki kelebihan yang cukup berarti dibanding sistim
pembakaran yang konvensional dan memberikan banyak keuntungan
rancangan boiler yang kompak, fleksibel terhadap bahan bakar, efisiensi
pembakaran yang tinggi dan berkurangnya emisi polutan yang merugikan
seperti SOx dan NOx. Bahan bakar yang dapat dibakar dalam boiler ini adalah
batubara, barang tolakan dari tempat pencucian pakaian, sekam padi, bagas &
limbah pertanian lainnya. Boiler fluidized bed memiliki kisaran kapasitas ya
ng luas yaitu antara 0.5 T/jam sampai lebih dari 100 T/jam.
Bila udara atau gas yang terdistribusi secara merata dilewatkan keatas
melalui bed partikel padat seperti pasir yang disangga oleh saringan halus,
partikel tidak akan terganggu pada kecepatan yang rendah. Begitu kecepatan
udaranya berangsur-angsur naik, terbentuklah suatu keadaan dimana partikel
tersuspensi dalam aliran udara – bed tersebut disebut “terfluidisasikan”.
Dengan kenaikan kecepatan udara selanjutnya, terjadi pembentukan
gelembung, turbulensi yang kuat, pencampuran cepat dan pembentukan
permukaan bed yang rapat. Bed partikel padat mena mpilkan sifat cairan
mendidih dan terlihat seperti fluida - “bed gelembung fluida/ bubbling
fluidized bed”.
Jika partikel pasir dalam keadaan terfluidisasikan dipanaskan hingga ke
suhu nyala batubara, dan batubara diinjeksikan secara terus menerus ke bed,
batubara akan terbakar dengan cepat dan bed mencapai suhu yang seragam.
Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) berlangsung pada suhu sekitar 840OC
hingga 950OC. Karena suhu ini jauh berada dibawah suhu fusi abu, maka
pelelehan abu dan permasalahan yang terkait didalamnya dapat dihindari.
Suhu pembakaran yang lebih rendah tercapai disebabkan tingginya
koefisien perpindahan panas sebagai akibat pencampuran cepat dalam
fluidized bed dan ekstraksi panas yang efektif dari bed melalui perpindahan
panas pada pipa dan dinding bed. Kecepatan gas dicapai diantara kecepatan
fluidisasi minimum dan kecepatan masuk partikel. Hal ini menjamin operasi
bed yang stabil dan menghindari terbawanya partikel dalam jalur gas.

8
2.2.4 Atmospheric Fluidized Bed Combustion (AFBC) Boiler
Kebanyakan boiler yang beroperasi untuk jenis ini adalah Atmospheric
Fluidized Bed Combustion (AFBC) Boiler. Alat ini hanya berupa shell boiler
konvensional biasa yang ditambah dengan sebuah fluidized bed combustor.
Sistim seperti telah dipasang digabungkan dengan water tube boiler/ boiler
pipa air konvensional.
Batubara dihancurkan menjadi ukuran 1 – 10 mm tergantung pada
tingkatan batubara dan jenis pengumpan udara ke ruang pembakaran. Udara
atmosfir, yang bertindak sebagai udara fluidisasi dan pembakaran,
dimasukkan dengan tekanan, setelah diberi pemanasan awal oleh gas buang
bahan bakar. Pipa dalam bed yang membawa air pada umumnya bertindak
sebagai evaporator. Produk gas hasil pembakaran melewati bagian super
heater dari boiler lalu mengalir ke economizer, ke pengumpul debu dan
pemanas awal udara sebelum dibuang ke atmosfir.

2.2.5 Pressurized Fluidized Bed Combustion (PFBC) Boiler


Pada tipe Pressurized Fluidized bed Combustion (PFBC), sebuah
kompresor memasok udara Forced Draft (FD), dan pembakarnya merupakan
tangki bertekanan. Laju panas yang dilepas dalam bed sebanding dengan
tekanan bed sehingga bed yang dalam digunakan untuk mengekstraksi
sejumlah besar panas. Hal ini akan meningkatkan efisiensi pembakaran dan
peyerapan sulfur dioksida dalam bed. Steam dihasilkan didalam dua ikatan
pipa, satu di bed dan satunya lagi berada diatasnya. Gas panas dari cerobong
menggerakan turbin gas pembangkit tenaga. Sistim PFBC dapat digunakan
untuk pembangkitan kogenerasi (steam dan listrik) atau pembangkit tenaga
dengan siklus gabungan/ combined cycle. Operasi combined cycle (turbin gas
& turbin uap) meningkatkan efisiensi konversi keseluruhan sebesar 5 hingga 8
persen.

2.2.6 Atmospheric Circulating Fluidized Bed Combustion Boilers (CFBC)


Dalam sistim sirkulasi, parameter bed dijaga untuk membentuk padatan
melayang dari bed. Padatan diangkat pada fase yang relatif terlarut dalam

9
pengangkat padatan, dan sebuah down-comer dengan sebuah siklon
merupakan aliran sirkulasi padatan. Tidak terdapat pipa pembangkit steam
yang terletak dalam bed. Pembangkitan dan pemanasan berlebih steam
berlangsung di bagian konveksi, dinding air, pada keluaran pengangkat/ riser.

Gambar 5. CFBC Boil (Thermax Babcock dan Wilcock Ltd)

Boiler CFBC pada umumnya lebih ekonomis daripada boiler AFBC,


untuk penerapannya di industri memerlukan lebih dari 75 – 100 T/jam steam.
Untuk unit yang besar, semakin tinggi karakteristik tungku boiler CFBC akan
memberikan penggunaan ruang yang semakin baik, partikel bahan bakar lebih
besar, waktu tinggal bahan penyerap untuk pembakaran yang efisien dan
penangkapan SO2 yang semakin besar pula, dan semakin mudah penerapan
teknik pembakaran untuk pengendalian NOx daripada pembangkit steam
AFBC.

2.2.7 Stoker Fired Boilers


Stokers diklasifikasikan menurut metode pengumpanan bahan bakar ke
tungku dan oleh jenis grate nya. Klasifikasi utama nya adalah spreader stoker
dan chain-gate atau traveling-gate stoker.

10
2.2.8 Pulverized Fuel Boiler
Kebanyakan boiler stasiun pembangkit tenaga yang berbahan bakar
batubara menggunakan batubara halus, dan banyak boiler pipa air di industri
yang lebih besar juga menggunakan batubara yang halus. Teknologi ini
berkembang dengan baik dan diseluruh dunia terdapat ribuan unit dan lebih
dari 90 persen kapasitas pembakaran batubara merupakan jenis ini.
Untuk batubara jenis bituminous, batubara digiling sampai menjadi
bubuk halus, yang berukuran +300 micrometer (µ m) kurang dari 2 persen dan
yang berukuran dibawah 75 microns sebesar 70-75 persen. Harus diperhatikan
bahwa bubuk yang terlalu halus akan memboroskan energi penggilingan.

Gambar 8: Pembakaran tangensial untuk bahan bakar halus

Sebaliknya, bubuk yang terlalu kasar tidak akan terbakar sempurna pada
ruang pembakaran dan menyebabkan kerugian yang lebih besar karena bahan
yang tidak terbakar.
Batubara bubuk dihembuskan dengan sebagian udara pembakaran masuk
menuju plant boiler melalui serangkaian nosel burner. Udara sekunder dan
tersier dapat juga ditambahkan. Pembakaran berlangsung pada suhu dari 1300
- 1700 °C, tergantung pada kualitas batubara. Waktu tinggal partikel dalam
boiler biasanya 2 hingga 5 detik, dan partikel harus cukup kecil untuk
pembakaran yang sempurna.
Sistim ini memiliki banyak keuntungan seperti kemampuan membakar
berbagai kualitas batubara, respon yang cepat terhadap perubahan beban
muatan, penggunaan suhu udara pemanas awal yang tinggi dll.
Salah satu sistim yang paling populer untuk pembakaran batubara halus

11
adalah pembakaran tangensial dengan menggunakan empat buah burner dari
keempat sudut untuk menciptakan bola api pada pusat tungku.

2.2.9 Boiler Limbah Panas


Dimanapun tersedia limbah panas pada suhu sedang atau tinggi, boiler
limbah panas dapat di pasangsecara ekonomis. Jika kebutuhan steam lebih dari
steam yang dihasilkan menggunakan gas buang panas, dapat digunakan
burner tambahan yang menggunakan bahan bakar. Jika steam tidak langsung
dapat digunakan, steam dapat dipakai untuk memproduksi daya listrik
menggunakan generator turbin uap. Hal ini banyak digunakan dalam
pemanfaatan kembali panas dari gas buang dari turbin gas dan mesin diesel.

2.3 Neraca Massa dan Panas pada Boiler


2.3.1 Neraca Massa
Rata-rata akumulasi = laju alir masuk – laju alir keluar

Dimana A adalah luas penampang pada alat. Jika kita mengasumsi


densitas air konstan maka persamaan neracanya yaitu :

2.3.2 Neraca Panas


Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk
diagram alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang
bagaimana energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi
dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi.
Panah tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran
masing-masing.

12
Gambar 2.1. Diagram neraca energi (panas) boiler
Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler
terhadap yang meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar
berikut memberikan gambaran berbagai kehilangan yang terjadi untuk
pembangkitan steam.

Gambar 2.2. Kehilangan pada Boiler yang Berbahan Bakar Batubara


Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak atau
dapat dihindarkan. Tujuan dari Produksi Bersih dan/atau pengkajian energi
harus mengurangi kehilangan yang dapat dihindari, dengan meningkatkan
efisiensi energi. Kehilangan berikut dapat dihindari atau dikurangi:
1) Kehilangan gas cerobong:
 Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung
dari teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).
 Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan
(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler).

13
2) Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan
abu (mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang
lebih baik).
3) Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang
kondensat).
4) Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat).
5) Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang
lebih baik).

2.3.3 Efisiensi Boiler


Efisiensi termis boiler didefinisikan sebagai “persen energi (panas)
masuk yang digunakan secara efektif pada steam yang dihasilkan.”
Terdapat dua metode pengkajian efisiensi boiler:
1) Metode Langsung: energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam)
dibandingkan dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler.
2) Metode Tidak Langsung: efisiensi merupakan perbedaan antara
kehilangan dan energi yang masuk.

a. Metode langsung dalam menentukan efisiensi boiler


Dikenal juga sebagai ‘metode input-output’karena kenyataan bahwa
metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas
masuk/input (bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini dapat
dievaluasi dengan menggunakan rumus:

Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan


metode langsung adalah:
 Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam
 Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam
 Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (oC), jika ada

14
 Suhu air umpan (oC)
 Jenis bahan bakar dan nilai panas kotor bahan bakar (GCV) dalam
kkal/kg bahan bakar
Dimana
o hg –Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam
o hf –Entalpi air umpan dalam kkal/kg air

Keuntungan metode langsung


 Pekerja pabrik dapat dengan cepat mengevaluasi efisiensi boiler
 Memerlukan sedikit parameter untuk perhitungan
 Memerlukan sedikit instrumen untuk pemantauan
 Mudah membandingkan rasio penguapan dengan data benchmark

Kerugian metode langsung


 Tidak memberikan petunjuk kepada operator tentang penyebab dari
efisiensi sistim yang lebih rendah.
 Tidak menghitung berbagai kehilangan yang berpengaruh pada berbagai
tingkat efisiensi.

b. Metode tidak langsung dalam menentukan efisiensi boiler


Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas.
Efisiensi dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas
dari 100 sebagai berikut:
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)
Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang
diakibatkan oleh:
 Gas cerobong yang kering
 Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar
 Penguapan kadar air dalam bahan bakar
 Adanya kadar air dalam udara pembakaran
 Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash
 Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash

15
 Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan
yang disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar,
dan tidak dapat dikendalikan oleh perancangan. Data yang diperlukan untuk
perhitungan efisiensi boiler dengan menggunakan metode tidak langsung
adalah:
 Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)
 Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang
 Suhu gas buang dalam oC (Tf)
 Suhu ambien dalam oC (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara
kering
 GCV bahan bakar dalam kkal/kg
 Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar
padat)
 GCV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar padat).

Keuntungan metode tidak langsung


 Dapat diketahui neraca bahan dan energi yang lengkap untuk setiap
aliran, yang dapat memudahkan dalam mengidentifikasi opsi-opsi
untuk meningkatkan efisiensi boiler.

Kerugian metode tidak langsung


 Perlu waktu lama
 Memerlukan fasilitas laboratorium untuk analisis

16
2.4 Desain Reboilers
2.4.1 Desain Thermosyphon Reboilers
Pada desain thermosyphon reboilers, Laju sirkulasi, laju perpindahan panas
dan penurunan tekanan semuanya saling terkait, dan prosedur desain berulang
harus digunakan. Cairan akan bersirkulasi pada tingkat di mana kehilangan
tekanan dalam sistem hanya diimbangi oleh kepala hidrostatik yang
tersedia. Penukar, basis kolom dan perpipaan dapat dianggap sebagai dua kaki
tabung-U: Gambar dibawah ini. Tenaga penggerak untuk putaran sirkulasi sistem
adalah perbedaan kepadatan kaki "dingin" (dasar kolom dan perpipaan saluran
masuk) dan cairan dua fase di kaki "panas" (tabung penukar dan pipa keluar).
Untuk menghitung laju sirkulasi, perlu membuat keseimbangan tekanan di
sekitar cairan dalam sistem.

Prosedur desain tipikal akan mencakup langkah-langkah berikut:


1. Hitung laju penguapan yang diperlukan dari tugas yang ditentukan
2. Perkirakan area penukar; dari nilai yang diasumsikan untuk koefisien
keseluruhan. Tentukan tata letak penukar dan dimensi perpipaan
3. Asumsikan nilai untuk tingkat sirkulasi melalui penukar.
4. Hitung penurunan tekanan dalam pipa saluran masuk (fase tunggal).
5. Bagi tabung penukar menjadi beberapa bagian dan hitung bagian penurunan
tekanan ke atas tabung. Gunakan metode yang cocok untuk bagian di
mana rendah adalah dua fase. Sertakan kehilangan tekanan karena
percepatan fluida saat laju uap meningkat. Untuk reboiler horisontal,

17
hitung penurunan tekanan di shell, menggunakan metode yang cocok
untuk aliran dua fase
6. Hitung penurunan tekanan di pipa outlet (dua fase).
7. Bandingkan penurunan tekanan yang dihitung dengan head diferensial yang
tersedia; yang akan tergantung pada voidage uap, dan karenanya laju
sirkulasi diasumsikan. Jika saldo yang memuaskan telah tercapai,
lanjutkan. Jika tidak, kembali ke langkah 3 dan ulangi perhitungan dengan
laju sirkulasi yang diasumsikan baru
8. Hitung koefisien perpindahan panas dan laju perpindahan panas bagian-
demi-bagian ke atas tabung. Gunakan metode yang sesuai untuk bagian di
mana pendidihan terjadi seperti metode Chen
9. Hitung laju penguapan dari total laju perpindahan panas, dan bandingkan
dengan nilai yang diasumsikan dalam langkah 1. Jika nilainya cukup
dekat, lanjutkan . Jika tidak, kembali ke langkah 2 dan ulangi perhitungan
untuk desain baru.
10. Pastikan fluks panas kritis tidak melebihi titik di atas tabung
11. Ulangi prosedur lengkap yang diperlukan untuk mengoptimalkan desain

Dapat dilihat bahwa untuk mendesain suatu reboiler thermosyphon dengan


menggunakan perhitungan tangan akan menjadi sifat iteratif dari prosedur cocok
untuk solusi yang membosankan dan memakan waktu. Sifat prosedur yang iteratif
cocok untuk sol Sarma et al. (1973) membahas pengembangan program komputer
untuk desain reboiler thermosyphon vertikal, dan memberikan algoritma dan
persamaan desain Pekerjaan yang luas pada kinerja dan desain thermosyphon
reboilers telah dilakukan oleh HTFS dan HTRI, dan program desain berpemilik
tersedia dari ini oleh komputer.
Organisasi Dengan tidak adanya akses ke program komputer, metode desain
yang ketat diberikan oleh Fair (1960, 1963) atau Hughmark (1961, 1964, 1969)
dapat digunakan untuk termosyphon vertikal reboiler. Collins (1976) dan Fair and
Klip (1983) memberikan metode untuk desain horizonal, thermoyphon reboilers.
Desain dan kinerja reboiler jenis ini juga ditinjau dalam makalah oleh
Yilmaz (1987). Metode perkiraan dapat digunakan untuk desain awal. Fair (1960)

18
dan Kern (1950) memberikan metode di mana perpindahan panas dan penurunan
tekanan dalam tabung didasarkan pada rata-rata kondisi saluran masuk dan
saluran keluar. Ini menyederhanakan langkah 5 dalam prosedur desain tetapi
perhitungan coba-dan-kesalahan masih diperlukan untuk menentukan laju
sirkulasi. Frank dan Prickett (1973) memprogram metode desain ketat Fair untuk
solusi komputer dan menggunakannya, bersama dengan data operasi pada penukar
komersial, untuk memperoleh korelasi umum dari laju perpindahan panas dengan
penurunan suhu untuk reboiler termosifon vertikal. Korelasi mereka, dikonversi
ke unit SI, ditunjukkan pada Gambar .



2.4.2 Design dari Kettle Reboiler
Desain ketel reboiler dan peralatan bundel terendam lainnya, pada dasarnya
adalah perangkat mendidih kolam, dan desain mereka didasarkan pada data untuk
mendidih nukleat.
Dalam sebuah tabung bundel uap naik dari baris bawah tabung melewati
baris atas. Ini memiliki dua efek yang berlawanan: akan ada kecenderungan uap
naik untuk menyelimuti tabung atas, terutama jika jarak tabung dekat, yang akan
mengurangi laju perpindahan panas; tapi ini diimbangi oleh turbulensi yang
meningkat yang disebabkan oleh naiknya gelembung-gelembung uap. Palen dan
Small (1964) memberikan prosedur terperinci untuk desain keto reboiler di mana
koefisien perpindahan panas yang dihitung dengan menggunakan persamaan
untuk mendidih pada tabung tunggal dikurangi dengan faktor bundel tabung

19
turunan secara empiris, untuk memperhitungkan efek selimut uap. Kemudian
bekerja oleh Heat Transfer Research Inc, dilaporkan oleh Palen et al. (1972
menunjukkan bahwa koefisien untuk bundel biasanya lebih besar dari yang
diperkirakan untuk tabung tunggal. Pada keseimbangan, itu wajar untuk
menggunakan korelasi untuk tabung tunggal untuk memperkirakan koefisien
untuk bundel tabung tanpa menerapkan koreksi apapun (kutipan 12.62 atau
12.63).
Namun, fluks panas maksimum untuk mendidih nukleat stabil akan lebih
sedikit untuk bundel tabung daripada tabung tunggal. Palen dan Small (1964)
menyarankan memodifikasi persamaan Zuber untuk tabung tunggal (persamaan
12.64) dengan faktor kerapatan tabung. didukung oleh Palen et al. (1972)

20
BAB III
KESIMPULAN

1. Boiler adalah suatu bejana tertutup yang terbuat dari baja yang digunakan
untuk menghasilkan uap. Didalam dapur (furnace), energi kimia dari bahan
bakar diubah menjadi panas melalui proses pembakaran. Dan panas yang
dihasilkan sebagian besar diberikan kepada air yang berada didalam boiler
dan air akan berubah menjadi uap. Uap yang dihasilkan dari sebuah boiler
dapat digunakan scbagai fluida kerja atau media pemanas untuk bermacam
keperluan.
2. Jenis-Jenis boiler: Fire tube boiler, Water tube boiler, Paket boiler, Fluidized
bed combustion boiler, Atmospheric fluidized bed combustion boiler,
Pressurized fluidized bed combustion boiler, Circulating fluidized bed
combustion boiler, Stoker fired boiler, Pulverized fuel boiler, Boiler pemanas
limbah (Waste heat boiler) dan and Pemanas fluida termis.
3. Neraca massa dan panas boiler pada dasarnya menyatakan bahwa massa dan
panas masuk sama dengan massa dan panas keluar.
Dimana, rata-rata akumulasi = laju alir masuk – laju alir keluar

4. Pada desain thermosyphon reboilers, laju sirkulasi, laju perpindahan panas


dan penurunan tekanan semuanya saling terkait, dan prosedur desain berulang
harus digunakan ,sedangkan desain ketel reboiler dan peralatan bundel
terendam lainnya, pada dasarnya adalah perangkat mendidih kolam, dan
desain mereka didasarkan pada data untuk mendidih nukleat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Considine, Douglas M. Energy Technology Handbook. McGraw Hill Inc, New


York. 1977. Department of Coal Publications, Government of India.
Fluidised Bed Coal-Fired Boilers

Jackson, J. James. 1980. Steam Boiler Operation. New Jersey : Prentice-Hall


Inc.,

Payne, F.W., Thomson, R.E., 1950. Efficient Boiler Operations Sourcebook,


Fourth edition. US : The Fairmont Press

Pincus, Leo I. 1962. Practical Boiler Water Treatment. New York : McGraw
Hill Inc.

Shields, Carl D. 1961. Boilers. USA : McGraw Hill Book Company.

22