Anda di halaman 1dari 22

REFERAT RADIOLOGI

SPONDILOLISTHESIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kepanitraan Klinik Stase Radiologi


RSAL Mintohardjo, Jakarta

Pembimbing:
dr. Hawari, Sp. Rad

Disusun oleh :
Stefanus
030.12.262

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


UNIVERSITAS TRISAKTI
RSAL Mintohardjo
JAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Spondylolisthesis merupakan suatu pergeseran ke depan satu korpus


vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya. Umumnya
diklasifikasikan ke dalam lima bentuk: kongenital atau displastik, isthmus,
degeneratif, traumatik, dan patologis.
Spondylolisthesis mengenai 5-6% populasi pria, dan 2-3% wanita. Kira-
kira 82% kasus isthmic spondylolisthesis terjadi di L5-S1. Spondylolisthesis
kongenital (tipe displastik) terjadi 2 kali lebih sering terjadi pada perempuan
dengan permulaan gejala muncul pada usia remaja.
Etiologi spondylolisthesis adalah multifaktorial. Predisposisi kongenital
tampak pada spondylolisthesis tipe 1 dan tipe 2, dan postur, gravitasi, tekanan
rotasional dan stres/tekanan kosentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting
dalam terjadinya pergeseran tersebut.
Gambaran klinis spondylolisthesis sangat bervariasi dan bergantung pada
tipe pergeseran dan usia pasien. Gejala jarang berhubungan dengan derajat
pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan dengan instabilitas segmental
yang terjadi. Pasien dengan spondylolisthesis degeneratif biasanya pada orang tua
dan muncul dengan nyeri tulang belakang (back pain), radikulopati, klaudikasio
neurogenik, atau gabungan beberapa gejala tersebut.
Diagnosis ditegakkan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan radiologis. Nyeri punggung (back pain) pada regio yang terkena
merupakan gejala khas. Pada banyak pasien, lokalisasi nyeri disekitar defek dapat
sangat mudah diketahui bila pasien diletakkan pada posisi lateral dan meletakkan
kaki mereka keatas seperti posisi fetus (fetal position).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Columna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah
struktur yang lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra
atau ruas tulang belakang. Diantara tiap dua ruas tulang pada tulang belakang
terdapat bantalan tulang rawan. Panjang rangkaian tulang belakang pada orang
dewasa dapat mencapai 57 – 67 cm. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24
buah diantaranya adalah tulang-tulang terpisah dari 19 ruas sisanya bergabung
membentuk 2 tulang. Columna vertebra terdiri dari 7 vertebra servikal atau
ruas tulang leher, 12 vertebra thorakal atau ruas tulang punggung, 5 vertebra
lumbal atau ruas tulang pinggang, 5 vertebra sacrum atau ruas tulang
Selangkang, 4 vertebra coxcygeus.1

Gambar 1. Columna Vertebra


Dilihat dari samping kolumna vertebralis memperlihatkan 4 (empat)
kurva atau lengkung. Di daerah vertebra servikal melengkung ke depan,

3
daerah thorakal melengkung ke belakang, daerah lumbal melengkung ke
depan, dan di daerah pelvis melengkung ke belakang.
Anatomi yang akan diuraikan dalam referat ini merupakan anatomi yang
berhubungan dengan pemeriksaan Lumbosakral yang terdiri atas vertebra
lumbal dan sakrum.
Vertebralis lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang terbesar.
Badannya lebih besar dibandingkan badan vertebra lainnya dan berbentuk
seperti ginjal. Prosesus spinosusnya lebar, tebal, dan berbentuk seperti kapak
kecil. Prosesus transversusunya panjang dan langsing. Apophyseal joint dari
lumbal lebih ke posterior dari coronal plane, artikulasi ini dapat dilihat dengan
posisi oblik. Foramen intervertebralis dari lumbal berada ditengah dari sagital
plane. Vertebra lumbal terdiri dari dua komponen, yaitu komponen anterior
yang terdiri dari korpus, sedangkan komponen posterior yaitu arkus vertebralis
yang terdiri dari pedikel, lamina, prosesus transverses, prosesus spinosus dan
prosesus artikularis. Setiap dua korpus vertebra dipisahkan oleh discus
intervertebralis dan ditahan serta dihubungkan satu dengan yang lain oleh
ligamentum. Foramina vertebralis lumbalis berbentuk segitiga, ukurannya
sedikit lebih besar dari milik vertebra thorakalis tapi lebih kecil dari vertebra
servikalis. Bagian bawah dari medulla spinalis meluas sampai foramen
vertebra lumbalis satu, foramen vertebra lumbal lima hamya berisi kauda
equina dan selaput – selaput otak. 2
Prosesus transversus berbentuk tipis dan panjang kecuali pada vertebra
lumbal lima yang kuat dan tebal. Berukuran lebih kecil daripada yang terdapat
pada vertebra thorakalis. Prosesus spinosus berbentuk tipis, lebar, tumpul
dengan pinggir atas mengarah ke arah bawah dan ke arah dorsal. Prosesus ini
dapat diketahui kedudukannya dengan cara meraba atau palpasi.
Prosesus artikularis superior meripakan fasies artikularis yang sekung
dan menghadap posteromedial, sebaliknya fasies artikularis inferiornya
cembung dan menghadap ke anterolateralis.1,2

4
Gambar 2. Penampang columna vertebra

Gambar 3. Anatomi Vertebra lumbal

Sakrum berbentuk segitiga dan terletak pada bagian bawah kolumna


vertebralis, terjepit diantara kedua tulang inominata (atau tulang koxa) dan
membentuk bagian belakang rongga pelvis (panggul). Dasar dari sacrum
terletak di atas dan bersendi dengan vertebra lumbalis kelima dan membentuk
sendi intervertebral yang khas. Tepi anterior dari basis sacrum membentuk
promontorium sakralis. Kanalis sakralis terletak dibawah kanalis vertebralis

5
(saluran tulang belakang) dan memang lanjutan daripadanya. Dinding kanalis
sakralis berlubang-lubang untuk dilalui saraf sacral. Prosesus spinosus yang
rudimenter dapat dilihat pada pandangan posterior dari sacrum. Permukaan
anterior sacrum adalah cekung dan memperlihatkan empat gili-gili melintang,
yang menandakan tempat penggabungan kelima vertebra sakralis, disetiap sisi
terdapat lubang-lubang kecil untuk dilewati aliran saraf. Lubang-lubang ini
disebut foramina. Apex dari sacrum bersendi dengan tulang cocxygeus. Di
sisinya, sacrum bersendi dengan tulang ileum dan membentuk sendi sakro-
iliaka kanan dan kiri.3

Gambar 4. Anatomi vertebra sacrum

B. Definisi
Spondylolisthesis menunjukkan suatu pergeseran ke depan satu
korpus vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya.
Umumnya terjadi pada pertemuan lumbosacral (lumbosacral joints) dimana
L5 bergeser (slip) diatas S1, akan tetapi hal tersebut dapat terjadi pada
tingkatan yang lebih tinggi. Umumnya diklasifikasikan ke dalam lima bentuk:
kongenital atau displastik, isthmus, degeneratif, traumatik, dan patologis. 1,2

C. Epidemiologi
Spondylolisthesis mengenai 5-6% populasi pria, dan 2-3% wanita.
Karena gejala yang diakibatkan olehnya bervariasi, kelainan tersebut sering
ditandai dengan nyeri pada bagian belakang (low back pain), nyeri pada paha
dan tungkai. Sering penderita mengalami perasaan tidak nyaman dalam

6
bentuk spasme otot, kelemahan, dan ketegangan otot betis (hamstring
muscle). 3
Meskipun demikian, banyak penelitian menyebutkan bahwa terdapat
predisposisi kongenital dalam terjadinya spondilolisthesis dengan prevalensi
sekitar 69% pada anggota keluarga yang terkena. Lebih lanjut, kelainan ini
juga berhubungan dengan meningkatnya insidensi spina bifida sacralis
Kira-kira 82% kasus isthmic spondylolisthesis terjadi di L5-S1.
11.3% terjadi di L4-L5. Kelainan kongenital, seperti spina bifida occulta
berkaitan dengan munculnya isthmic spondylolisthesis.3
Degeneratif spondylolisthesis terjadi lebih sering terjadi seiring
bertambahnya usia. Vertebrae L4-L5 terkena 6-10 kali lebih sering dibanding
lokasi lainnya. Sakralisasi L5 sering terlihat pada degenerative
spondylolisthesis L4-L5. Tipe ini biasanya muncul 5 kali lebih sering pada
wanita dibanding pria, dan sering pada usia lebih dari 40 tahun.
Spondylolisthesis kongenital (tipe displastik) terjadi 2 kali lebih
sering terjadi pada perempuan dengan permulaan gejala muncul pada usia
remaja. Tipe ini biasanya terjadi sekitar 14-21% dari semua kasus
spondylolisthesis.

D. Etiologi dan klasifikasi


Etiologi spondylolisthesis adalah multifaktorial. Predisposisi
kongenital tampak pada spondylolisthesis tipe 1 dan tipe 2, dan postur,
gravitasi, tekanan rotasional dan stres/tekanan kosentrasi tinggi pada sumbu
tubuh berperan penting dalam terjadinya pergeseran tersebut.4
Terdapat lima tipe utama spondylolisthesis:
a. Tipe I disebut dengan spondylolisthesis displastik (kongenital) dan terjadi
akibat kelainan kongenital pada permukaan sacral superior dan
permukaan L5 inferior atau keduanya dengan pergeseran vertebra L5.
b. Tipe II, isthmic atau spondilolitik, dimana lesi terletak pada bagian
isthmus atau pars interartikularis, mempunyai angka kepentingan klinis
yang bermakna pada individu di bawah 50 tahun. Jika defeknya pada pars

7
interartikularis tanpa adanya pergeseran tulang, keadaan ini disebut
dengan spondilolisis. Jika satu vertebra mengalami pergeseran kedepan
dari vertebra yang lain, kelainan ini disebut dengan spondylolisthesis.
Tipe II dapat dibagi kedalam tiga subkategori:
- Tipe IIA yang kadang-kadang disebut dengan lytic atau stress
spondilolisthesis dan umumnya diakibatkan oleh mikro-fraktiur
rekuren yang disebabkan oleh hiperekstensi. Juga disebut dengan
stress fracture pars interarticularis dan paling sering terjadi pada laki-
laki.
- Tipe IIB umumnya juga terjadi akibat mikro-fraktur pada pars
interartikularis. Meskipun demikian, berlawanan dengan tipe IIA, pars
interartikularis masih tetap intak akan tetapi meregang dimana fraktur
mengisinya dengan tulang baru.
- Tipe IIC sangat jarang terjadi dan disebabkan oleh fraktur akut pada
bagian pars interartikularis. Pencitraan radioisotope diperlukan dalam
menegakkan diagnosis kelainan ini.

Gambar 5. Tiga Subkategori Tipe II

c. Tipe III, merupakan spondylolisthesis degeneratif, dan terjadi sebagai


akibat degenerasi permukaan sendi lumbal. Perubahan pada permukaan
sendi tersebut akan mengakibatkan pergeseran vertebra ke depan atau ke
belakang. Tipe spondylolisthesis ini sering dijumpai pada orang tua. Pada
tipe III, spondylolisthesis degeneratif pergeseran vertebra tidak melebihi
30%.

8
d. Tipe IV, spondylolisthesis traumatik, berhubungan dengan fraktur akut
pada elemen posterior (pedikel, lamina atau permukaan/facet)
dibandingkan dengan fraktur pada bagian pars interartikularis.
e. Tipe V, spondylolisthesis patologik, terjadi karena kelemahan struktur
tulang sekunder akibat proses penyakit seperti tumor atau penyakit tulang
lainnya

E. Patofisiologi
Sekitar 5-6% pria dan 2-3% wanita mengalami spondylolisthesis.
Pertama sekali tampak pada individu yang terlibat aktif dengan aktivitas fisik
yang berat seperti angkat besi, senam dan sepak bola. Pria lebih sering
menunjukkan gejala dibandingkan dengan wanita, terutama diakibatkan oleh
tingginya aktivitas fisik pada pria. Meskipun beberapa anak-anak dibawah
usia 5 tahun dapat mengalami spondylolisthesis, sangat jarang anak-anak
tersebut didiagnosis dengan spondylolisthesis. Spondylolisthesis sering terjadi
pada anak usia 7-10 tahun.1,2
Peningkatan aktivitas fisik pada masa remaja dan dewasa sepanjang
aktivitas sehari-hari mengakibatkan spondylolisthesis sering dijumpai pada
remaja dan dewasa.5
Spondylolisthesis dikelompokkan ke dalam lima tipe utama dimana
masing-masing mempunyai patologi yang berbeda. Tipe tersebut antara lain
tipe displastik, isthmik, degeneratif, traumatik, dan patologik.
Spondylolisthesis displatik merupakan kelainan kongenital yang terjadi karena
malformasi lumbosacral joints dengan permukaan persendian yang kecil dan
inkompeten. Spondylolisthesis displastik sangat jarang terjadi, akan tetapi
cenderung berkembang secara progresif, dan sering berhubungan dengan
defisit neurologis berat. Sangat sulit diterapi karena bagian elemen posterior
dan prosesus transversus cenderung berkembang kurang baik, meninggalkan
area permukaan kecil untuk fusi pada bagian posterolateral.
Spondylolisthesis displatik terjadi akibat defek arkus neural pada
sacrum bagian atas atau L5. Pada tipe ini, 95% kasus berhubungan dengan
spina bifida occulta. Terjadi kompresi serabut saraf pada foramen S1,

9
meskipun pergeserannya (slip) minimal. Spondylolisthesis isthmic merupakan
bentuk spondylolisthesis yang paling sering. Spondylolisthesis isthmic (juga
disebut dengan spondylolisthesis spondilolitik) merupakan kondisi yang
paling sering dijumpai dengan angka prevalensi 5-7%. Ketika pergeseran
terjadi, jarang berkembang progresif, meskipun suatu penelitian tidak
mendapatkan hubungan antara progresifitas pergeseran dengan terjadinya
gangguan diskus intervertebralis pada usia pertengahan. Telah dianggap
bahwa kebanyakan spondylolisthesis isthmik tidak bergejala, akan tetapi
insidensi timbulnya gejala tidak diketahui. Secara kasar 90% pergeseran
ishmus merupakan pergeseran tingkat rendah (low grade: kurang dari 50%
yang mengalami pergeseran) dan sekitar 10% bersifat high grade ( lebih dari
50% yang mengalami pergeseran). Sistem pembagian/grading untuk
spondylolisthesis yang umum dipakai adalah sistem grading Meyerding untuk
menilai beratnya pergeseran. Kategori tersebut didasarkan pengukuran jarak
dari pinggir posterior dari korpus vertebra superior hingga pinggir posterior
korpus vertebra inferior yang terletak berdekatan dengannya pada foto x ray
lateral. Jarak tersebut kemudian dilaporkan sebagai panjang korpus vertebra
superior total:
- Grade 1 adalah 0-25%
- Grade 2 adalah 25-50%
- Grade 3 adalah 50-75%
- Grade 4 adalah 75-100%
- Spondiloptosis- lebih dari 100%

10
Gambar 6. Grade Spondylolisthesis

Faktor biomekanik sangat penting perannya dalam perkembangan


spondilosis menjadi spondylolisthesis. Tekanan/kekuatan gravitasional dan
postural akan menyebabkan tekanan yang besar pada pars interartikularis.
Lordosis lumbal dan tekanan rotasional dipercaya berperan penting dalam
perkembangan defek litik pada pars interartikularis dan kelemahan pars
inerartikularis pada pasien muda. Terdapat hubungan antara tingginya aktivitas
selama masa kanak-kanak dengan timbulnya defek pada pars interartikularis.2,3
Pada tipe degeneratif, instabilitas intersegmental terjadi akibat
penyakit diskus degeneratif atau facet arthropaty. Proses tersebut dikenal
dengan spondilosis. Pergeseran tersebut terjadi akibat spondilosis progresif
pada 3 kompleks persendian tersebut. Umumnya terjadi pada L4-5, dan wanita
usia tua yang umumnya terkena.
Pada tipe traumatik, banyak bagian arkus neural yang
terkena/mengalami fraktur, sehingga menyebabkan subluksasi vertebra yang
tidak stabil. Spondylolisthesis patologis terjadi akibat penyakit yang mengenai
tulang, atau berasal dari metastasis atau penyakit metabolik tulang, yang
menyebabkan mineralisasi abnormal, remodeling abnormal serta penipisan
bagian posterior sehingga menyebabkan pergeseran (slippage). Kelainan ini
dilaporkan terjadi pada penyakit Pagets, tuberkulosis tulang, Giant Cell
Tumor, dan metastasis tumor.2,3

11
F. Gambaran Klinis
Gambaran klinis spondylolisthesis sangat bervariasi dan bergantung
pada tipe pergeseran dan usia pasien. Selama masa awal kehidupan, gambaran
klinisnya berupa back pain yang biasanya menyebar ke paha bagian dalam dan
pantat, terutama selama aktivitas tinggi. Gejala jarang berhubungan dengan
derajat pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan dengan instabilitas
segmental yang terjadi. Tanda neurologis berhubungan dengan derajat
pergeseran dan mengenai sistem sensoris, motorik dan perubahan refleks
akibat dari pergeseran serabut saraf (biasanya S1). Progresifitas listesis pada
individu dewasa muda biasanya terjadi bilateral dan berhubungan dengan
gambaran klinis/fisik berupa:2
- Terbatasnya pergerakan tulang belakang.
- Kekakuan otot hamstring
- Tidak dapat mengfleksikan panggul dengan lutut yang berekstensi penuh.
- Hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal.
- Hiperkifosis lumbosacral junction.
- Pemendekan badan jika terjadi pergeseran komplit (spondiloptosis).
- Kesulitan berjalan
Pasien dengan spondylolisthesis degeneratif biasanya pada orang tua
dan muncul dengan nyeri tulang belakang (back pain), radikulopati,
klaudikasio neurogenik, atau gabungan beberapa gejala tersebut. Pergeseran
tersebut paling sering terjadi pada L4-5 dan jarang terjadi L3-4. Cabang akar
saraf L5 sering terkena dan menyebabkan kelemahan otot ekstensor hallucis
longus. Penyebab gejala klaudikasio neurogenik selama pergerakan adalah
bersifat multifaktorial. Nyeri berkurang ketika pasien memfleksikan tulang
belakang dengan duduk. Fleksi memperbesar ukuran kanal/saluran dengan
menegangkan ligamentum flavum, mengurangi overriding lamina dan
pembesaran foramen. Hal tersebut mengurangi tekanan pada cabang akar
saraf, sehingga mengurangi nyeri yang timbul.4

G. Diagnosis

12
Diagnosis ditegakkan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan radiologis.
a. Gambaran klinis
Nyeri punggung (back pain) pada regio yang terkena merupakan
gejala khas. Umumnya nyeri yang timbul berhubungan dengan aktivitas.
Aktivitas membuat nyeri makin bertambah buruk dan istirahat akan dapat
menguranginya. Spasme otot dan kekakuan dalam pergerakan tulang
belakang merupakan ciri spesifik.
Gejala neurologis seperti nyeri pada bokong dan otot hamstring
tidak sering terjadi kecuali jika terdapatnya bukti adanya subluksasi
vertebra. Keadaan umum pasien biasanya baik dan masalah tulang
belakang umumnya tidak berhubungan dengan penyakit atau kondisi
lainnya.4
b. Pemeriksaan fisik
Postur pasien biasanya normal, bilamana subluksasio yang terjadi
bersifat ringan. Dengan subluksasi berat, terdapat gangguan bentuk postur.
Pergerakan tulang belakang berkurang karena nyeri dan terdapatnya
spasme otot.4
Penyangga badan kadang-kadang memberikan rasa nyeri pada
pasien, dan nyeri umumnya terletak pada bagian dimana terdapatnya
pergeseran/keretakan, kadang nyeri tampak pada beberapa segmen distal
dari level/tingkat dimana lesi mulai timbul.
Ketika pasien diletakkan pada posisi telungkup (prone) di atas
meja pemeriksaan, perasaan tidak nyaman atau nyeri dapat diidentifikasi
ketika palpasi dilakukan secara langsung diatas defek pada tulang
belakang.
Nyeri dan kekakuan otot adalah hal yang sering dijumpai. Pada
banyak pasien, lokalisasi nyeri disekitar defek dapat sangat mudah
diketahui bila pasien diletakkan pada posisi lateral dan meletakkan kaki
mereka keatas seperti posisi fetus (fetal position). Defek dapat diketahui
pada posisi tersebut.3,4
Fleksi tulang belakang seperti itu membuat massa otot paraspinal
lebih tipis pada posisi tersebut. Pada beberapa pasien, palpasi pada defek
tersebut kadang-kadang sulit atau tidak mungkin dilakukan.

13
Pemeriksaan neurologis terhadap pasien dengan spondilolistesis
biasanya negatif. Fungsi berkemih dan defekasi biasanya normal,
terkecuali pada pasien dengan sindrom cauda equina yang berhubungan
dengan lesi derajat tinggi.
c. Pemeriksaan radiologis
Foto polos vertebra lumbal merupakan modalitas pemeriksaan
awal dalam diagnosis spondilosis atau spondilolistesis. X ray pada pasien
dengan spondilolistesis harus dilakukan pada posisi tegak/berdiri. Film
posisi AP, Lateral dan oblique adalah modalitas standar dan posisi lateral
persendian lumbosacral akan melengkapkan pemeriksaan radiologis.5
Posisi lateral pada lumbosacral joints, membuat pasien berada
dalam posisi fetal, membantu dalam mengidentifikasi defek pada pars
interartikularis, karena defek lebih terbuka pada posis i tersebut
dibandingkan bila pasien berada dalam posisi berdiri.
Gambaran radiologi pada spondilolisthesis adalah terplesetnya
vertebra paling baik diperlihatkan pada proyeksi lateral dari tulang
belakang lumbal dan mungkin ditemukan rongga diskus yang hilang,
paling sering terjadi setinggi L4/L5 dan L5/S1. CT atau MRI dapat menilai
adanya penyempitan kanal tulang.

Teknik Pemeriksaan Lumbosakral


a. Proyeksi Anteroposterior
1. Tujuan: Untuk melihat patologi lumbal, fraktur dan scoliosis.
2. Posisi Pasien: Pasien tidur supine, kepala di atas bantal, knee fleksi.
3. Posisi Obyek :
(a) Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan
(b) Letakkan kedua tangan diatas dada.
(c) Tidak ada rotasi tarsal / pelvis.

14
Gambar 7. Posisi dan hasil proyeksi Anteroposterior

b. Proyeksi Lateral
1. Tujuan: Untuk melihat fraktur, spondilolistesis dan osteoporosis.
2. Posisi Pasien: Pasien lateral recumbent, kepala di atas bantal, knee
fleksi, di bawah knee dan ankle diberi pengganjal.
3. Posisi Obyek :
(a) Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan
(b) Pelvis dan tarsal true lateral
(c) Letakkan pengganjal yang radiolusent di bawah pinggang agar
vertebra lumbal sejajar pada meja (palpasi prosessus spinosus).

15
Gambar 8. Posisi dan hasil proyeksi Lateral

Spondilolistesis dibagi berdasarkan derajatnya berdasarkan


persentase pergeseran vertebra dibandingkan dengan vertebra di dekatnya,
yaitu:
1. Derajat I: pergeseran kurang dari 25%
2. Derajat II diantara 26-50%
3. Derajat III diantara 51-75%
4. Derajat IV diantara 76-100%
5. Derajat V, atau spondiloptosis terjadi ketika vertebra telah terlepas dari
tempatnya.

Gambar 9. Pengukuran Derajat Spondilolisthesis

16
Gambar 10. Spondilolisthesis Grade I

17
Gambar 11. Spondilolisthesis Grade II

Gambar 12. CT scan Spondilolisthesis Grade II

Gambar 17. Spondilolisthesis Grade IV

18
Gambar 13. Spondilolisthesis Grade IV

Gambar 14. Spondilolistesis grade V

CT scan dapat menggambarkan abnormalitas pada tulang dengan baik,


akan tetapi MRI sekarang lebih sering digunakan karena selain dapat
mengidentifikasi tulang juga dapat mengidentifikasi jaringan lunak (diskus, kanal,
dan anatomi serabut saraf) lebih baik dibandingkan dengan foto polos.6

19
Gambar 15. MRI Spondylolisthesis

Pada beberapa kasus tertentu studi pencitraan seperti Bone scan atau CT
scan dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Pasien dengan defek pada pars
interartikularis sangat mudah terlihat dengan CT scan.
Bone scan bermanfaat dalam diagnosis awal reaksi stress/tekanan pada
defek pars interartikularis yang tidak terlihat baik dengan foto polos. Scan positif
menunjukkan bahwa proses penyembuhan tulang telah dimulai, akan tetapi tidak
mengindikasikan bahwa penyembuhan yang definitif akan terjadi.
CT scan dapat menggambarkan abnormalitas pada tulang dengan baik, akan
tetapi MRI sekarang lebih sering digunakan karena selain dapat mengidentifikasi
tulang juga dapat mengidentifikasi jaringan lunak (diskus, kanal, dan anatomi
serabut saraf) lebih baik dibandingkan dengan foto polos.4,5

H. Penatalaksanaan
1. Terapi konservatif
Terapi konservatif ditujukan untuk mengurangi gejala dan juga termasuk:
- Modifikasi aktivitas, bedrest selama eksaserbasi akut berat.
- Analgetik (misalnya NSAIDs).
- Latihan dan terapi penguatan dan peregangan.
2. Terapi pembedahan

20
Terapi pembedahan hanya direkomendasikan bagi pasien yang
sangat simtomatis yang tidak berespon dengan perawatan non-bedah dan
dimana gejalanya menyebabkan suatu disabilitas.
Sebelum operasi dipertimbangkan pada pasien dewasa dengan
spondylolisthesis degeneratif, tanda neurologis minimal, atau hanya nyeri
punggung mekanik (mechanical back pain), terapi konservatif harus
diberikan pertama sekali, dan pertimbangan faktor psikososial dan sosial
harus dipertimbangkan.3,4

BAB III
KESIMPULAN

Spondylolisthesis menunjukkan suatu pergeseran ke depan satu korpus


vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya. Kira-kira
82% kasus isthmic spondylolisthesis terjadi di L5-S1. 11.3% terjadi di L4-L5.
Terdapat lima tipe utama spondylolisthesis yaitu tipe I disebut dengan
spondylolisthesis displastik (kongenital), tipe II isthmic atau spondilolitik, tipe III
merupakan spondylolisthesis degenerative, tipe IV spondylolisthesis traumatic,
tipe V spondylolisthesis patologik.
Progresifitas listesis pada individu dewasa muda biasanya terjadi bilateral
dan berhubungan dengan gambaran klinis/fisik berupa: terbatasnya pergerakan
tulang belakang, kekakuan otot hamstring, tidak dapat mengfleksikan panggul
dengan lutut yang berekstensi penuh, hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal,
hiperkifosis lumbosacral junction, pemendekan badan jika terjadi pergeseran
komplit (spondiloptosis), kesulitan berjalan.
Diagnosis ditegakkan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan radiologis. Penatalaksanaan spondylolisthesis dibagi menjadi terapi
konservatif dan terapi bedah.

21
Foto polos vertebra lumbal merupakan modalitas pemeriksaan awal
dalam diagnosis spondilosis atau spondylolisthesis. X ray pada pasien dengan
spondylolisthesis harus dilakukan pada posisi tegak/berdiri. Film posisi AP,
Lateral dan oblique adalah modalitas standar dan posisi lateral persendian
lumbosacral akan melengkapkan pemeriksaan radiologis. Posisi lateral pada
lumbosacral joints, membuat pasien berada dalam posisi fetal, membantu dalam
mengidentifikasi defek pada pars interartikularis, karena defek lebih terbuka pada
posisi tersebut dibandingkan bila pasien berada dalam posisi berdiri.

DAFTAR PUSTAKA

1. R.Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Wim de Jong. Edisi ke-2. EGC.
2005.
2. Syaanin, Syaiful. Neurosurgery of Spondylolisthesis. Padang: RSUP. Dr.
M. Djamil/FK-UNAND Padang.2008.
3. Linda J. Vorvick, MD.Spondylolisthesis.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002240/
4. Vookshoor A, Spondilolisthesis, spondilosis and spondilysis Dalam:
http://emedicine.medscape.com/article/1266860-overview.
5. Mc Donald J, Management of Spondilolysthesis Dalam:
www.bmjjournals.com
6. Jason CE,MD. Spondylolisthesis. Dalam http://www.medicinenet.com/
spondylolisthesis/article.htm

22