Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KELOMPOK

KEPERAWATAN KRITIS “SEPSIS”

Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Kritis

Dosen Mata Ajar : Ns. Ainnur Rahmanti., M.Kep

Di Susun Oleh kelompok 9 :

1. Rini Setyaningsih (17.074)


2. Rury Apriyani P (17.076)
3. Satria Tri Nugroho (17.077)
4. Supembri (17.085)

AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV DIPONEGORO

SEMARANG

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.yang mana atas berkat, rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “MAKALAH SEPSIS” untuk
menyelesaikan tugas Keperawatan Kritis.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak lepas dari hambatan yang penulis hadapi, namun
penulis menyadari kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat dorongan, bantuan, dan
bimbingan semua pihak, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Ns.Ainnur Rahmanti, M.Kep., selaku dosen mata kuliah Manajement Pelayanan Rumah
Sakit
2. Orangtua yang senantiasa mendukung terselesaikannya makalah ini
3. Rekan kelompok yang telah bekerjasama dalam penyusunan makalah ini
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan,
mengingat akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh penulis. Untuk itu kritik dan saran
sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penyusunan makalah yang akan datang.

Semarang, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ...................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................. 2
C. TUJUAN........................................................................................................................... 2
D. MANFAAT ...................................................................................................................... 2
BAB II KONSEP DASAR
A. DEFINISI SEPSIS ............................................................................................................ 4
B. ETIOLOGI SEPSIS ......................................................................................................... 5
C. MANIFESTASI KLINIS ................................................................................................. 6
D. PATOFISIOLOGI SEPSIS .............................................................................................. 7
E. PATHWAY SEPSIS ........................................................................................................ 8
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................................................................... 9
G. KOMPLIKASI SEPSIS ........................................................................................................... 9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN ............................................................................................................... 10
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN.................................................................................... 14
C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN ............................................................... 14
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN .............................................................................................................. 18
B. SARAN .......................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sepsis merupakan respon host terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan merusak
yang dapat mengarah pada sepsis berat (disfungsi organ akut pada curiga infeksi) dan
syok septik (keadaan sepsis yang disertai hipotensi). Sepsis berat dan syok septik
adalah masalah kesehatan utama, yang mempengaruhi kesehatan jutaan orang di
seluruh dunia setiap tahun, menewaskan satu dari empat orang (dan sering lebih)
(Dellinger, 2012).
Sepsis terjadi pada sekitar 2% dari semua pasien rawat inap di negara maju. Hasil
penelitian yang dilakukan Vincent (2012) menunjukkan sepsis terjadi 6-30% dari 150
Intensif Care Unit (ICU). Kejadian sepsis berat telah diidentifikasi antara 50-100 kasus
per 100.000 orang dalam populasi di sebagian besar negara maju. Sepertiga sampai
setengah dari semua pasien sepsis meninggal dunia. Sepsis menyumbang 60-80% dari
semua kematian di negara berkembang yang membunuh lebih dari 6 juta bayi dan anak
kecil serta 100.000 ibu yang melahirkan anak pertama setiap tahunnya. Setiap 3-4 detik,
seseorang di dunia meninggal karena sepsis (Global Sepsis Alliance, 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Phua (2011) pada pasien sepsis berat di 150 unit
pelayanan intensif (ICU) di 16 Negara Asia didapatkan hasil angka mortalitas di rumah
sakit mencapai 44,5%. Dalam penelitian di sebuah rumah sakit pendidikan di
Yogyakarta, Indonesia, ada 631 kasus sepsis pada tahun 2012, dengan angka kematian
sebesar 48,96% (Pradipta, 2013). Berdasarkan data rekam medis selama bulan Juni–
Agustus 2017 di Ruang ICU RSUP Dr. Kariadi Semarang, didapatkan jumlah pasien
sepsis dengan observasi hipertermi rata-rata dalam tiga bulan sebanyak 34 pasien dan
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada bulan Juni 2017 sebanyak 30
pasien sepsis dengan hipertermi, bulan Juli 2017 sebanyak 33 pasien, dan bulan
Agustus 2017 sebanyak 39 pasien.
Salah satu manifestasi klinis pada pasien sepsis adalah demam tinggi (hipertermi).
Beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh adalah kecepatan
metabolisme basal, rangsangan saraf simpatis, hormon pertumbuhan, hormon tiroid,
hormon kelamin, proses peradangan, status gizi, aktivitas, gangguan organ, dan
lingkungan (Latifin & Kusuma, 2014). Demam merupakan salah satu respon inflamasi

1
sistemik akibat bakteri pathogen serta kerusakan organ, sehingga mengakibatkan
keadaan yang melatarbelakangi sindrom sepsis (Bakta & Suastika, 2012).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi Sepsis ?
2. Bagaimana etiologi Sepsis ?
3. Bagaimana manifestasi klinik sepsis ?
4. Bagaimana patofisiologi Sepsis ?
5. Bagaimana patway Sepsis ?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang Sepsis ?
7. Bagaimana komplikasi pada Sepsis ?
8. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien Sepsis ?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen sebagai pemenuhan tugas
materi “ SEPSIS” dalam mata kuliah “Keperawatan Kritis”.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi Sepsis.
b. Untuk mengetahui etiologi Sepsis.
c. Untuk mengetahui manifestasi klinik sepsis.
d. Untuk mengetahui patofisiologi Sepsis.
e. Untuk mengetahui patway Sepsis.
f. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Sepsis.
g. Untuk mengetahui komplikasi pada Sepsis.
h. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien Sepsis.

3. MANFAAT

a. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi
perkembangan ilmu keperawatan dan praktek pekerjaan perawat serta dapat
menambah kajian ilmu keperawatan khususnya pasien selama di ICU.

2
b. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dan dapat mengaplikasikan
teori yang telah di dapat.
b. Bagi Pasien
Sebagai informasi kepada keluarga pasien tentang penanganan pasien selama
di ruang ICU.
c. Bagi Institusi pendidikan
Sebagai salah satu pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
penanganan pasien diruang ICU.

3
BAB II

KONSEP TEORI

A. DEFINISI

Sepsis adalah suatu kondisi dimana terjadi reaksi peradangan sistemik


(inflammatory sytemic rection) yang dapat disebabkan oleh invansi bakteri, virus,
jamur atau parasit. Selain itu, sepsis dapat juga disebabkan oleh adanya kuman-kuman
yang berproliferasi dalam darah dan osteomyelitis yang menahun. Efek yang sangat
berbahaya dari sepsis adalah terjadinya kerusakan organ dan dalam fase lanjut akan
melibatkan lebih dari satu organ.

Sepsis adalah SIRS (systemic inflamatory response syndrome) ditambah tempat


infeksi yang diketahui (ditentukan dengan biakan positif terhadap organisme dari
tempat tersebut). Sepsis adalah kumpulan gejala sebagai manifestasi respon sistematik
terhadap infeksi. Respons inflamasi sistematik adalah keadaan yang melatarbelakangi
sindrom sepsis. Respon ini tidak hanya disebabkan oleh adanya bakterikimia, tetapi
juga oleh sebab-sebab lain. Pendapat ini sangat kontras dengan pendapat sebelumnya
yang menganggap bahwa keadaan sindrom sepsis ini semata-mata ditentukan oleh
adanya bakteri dalam darah. Sekarang diketahui bahwa kerusakan dan disfungsi organ
bukanlah disebabkan infeksinya, tetapi respon tubuh terhadap infeksi dan beberapa
kondisi lain yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada sindrom sepsis tersebut.
Pada keadaan normal, respon dapat beradaptasi, tetapi pada sepsis respon tersebut
menjadi berbahaya. Sebagai contoh : reaksi dari mediator leukotriene dan PAF adalah
untuk merangsang neutrofil yang mengadakan agregasi disekitar sumber pelepas
mediator ini. Akibatnya akan meningkatkan kemampuan neutrofil untuk membunuh
bakteri yang difagositosis. Normalnya hal ini sangat menguntungkan. Tapi pada sepsis
sebagian dari molekul realatif akan dilepaskan langsung pada sel endotel permukaan.
Hal ini merupakan salah satu penyebab dari kerusakan endotel yang khas terjadi pada
sepsis,dan berakibat kerusakan organ.

4
B. ETIOLOGI
Penyebab dasar dari sepsis dan syok septik yang paling sering adalah infeksi
bakteri. Pada era sebelum pemkaiain antibiotik meluas, penyebab tersering adalah
bakteri gram positif terutama dari spesies streptokokus dan stafilokokus. Tetapi setelah
antibiotik poten (kuat) berspektrum luas mulai tersedia, maka sepsis sering timbul
sebagai akibat infeksi nosokomial oleh bakteri bakteri gram negatif. Sekarang
keadaanya kurang lebih seimbang antara gram positif dan negatif.
Penyebab dari sepsis terbesar adalah bakteri gram (-) dengan presentase 60 sampai
70% kasus, yang menghasilkan berbagai produk dapat menstimulasi sel imun, beberapa
disebabkan oleh infeksi-infeksi jamur, dan sangat jarang disebabkan oleh penyebab-
penyebab lain dari infeksi atau agen-agen yang mungkin menyebabkan SIRS. Agen-
agen infeksius, biasanya bakteri-bakteri, mulai menginfeksi hampir segala lokasi organ
atau alat-alat yang ditanam (contohnya, kulit, paru, saluran pencernaan, tempat operasi,
kateter intravena, dll.). Agen-agen yang menginfeksi atau racun-racun mereka (atau
kedua-duanya) kemudian menyebar secara langsung atau tidak langsung kedalam aliran
darah. Ini mengizinkan mereka untuk menyebar ke hampir segala sistim organ lain.
Kriteria SIRS berakibat ketika tubuh mencoba untuk melawan kerusakan yang
dilakukan oleh agen-agen yang dilahirkan darah ini. Sepsis bisa disebabkan oleh
mikroorganisme yang sangat bervariasi, meliputi bakteri aerobik, anareobik, gram
positif, gram negatif, jamur, dan virus
Bakteri gram negative yang sering menyebabkan sepsis adalah E. Coli, Klebsiella
Sp. Pseudomonas Sp, Bakteriodes Sp, dan Proteus Sp. Bakteri gram negative
mengandung liposakarida pada dinding selnya yang disebut endotoksin. Apabila
dilepaskan dan masuk ke dalam aliran darah, endotoksin dapat menyebabkan bergabagi
perubahan biokimia yang merugikan dan mengaktivasi imun dan mediator biologis
lainnya yang menunjang timbulnya shock sepsis.
Organisme gram positif yang sering menyebabkan sepsis adalah staphilococus,
streptococcus dan pneumococcus. Organime gram positif melepaskan eksotoksin yang
berkemampuan menggerakkan mediator imun dengan cara yang sama dengan
endotoksin.

5
C. MANIFESTASI KLINIK
Dikatakan sepsis jika mengalami dua atau lebih gejala di bawah ini:
1. Suhu badan > 380 C atau < 360 C
2. Denyut jantung > 90 denyut/menit
3. Respirasi >20 x/menit atau PaCO2 < 32 mmHg
4. Leukosit > 12.000/mm3 atau < 4.000/mm3 atau 10% bentuk sel muda
Gejala klinis sepsis biasanya tidak spesifik, biasanya didahului oleh tanda-tanda sepsis
non spesifik, meliputi demam, menggigil, dan gejala konstitutif seperti lelah,
kebingungan, dan gelisah. Gejala tersebut tidak khusus untuk infeksi dan dapat
dijumpai pada banyak macam kondisi.
Gejala klinis sepsis (De La Rosa et al, 2009) :
1. Variabel Umum
a. Suhu badan inti > 380 C atau <360 C
b. Heart Rate >90 denyut/menit
c. Takipnea
d. Penurunan status mental
e. Edema atau balance cairan yang positif > 20ml/kg/24 jam
f. Hiperglikemia > 120 mg/dl pada pasien yang tidak diabetes.
2. Variable Inflamasi
a. WBC > 12.000/mm3 atau < 4.000/mm3 atau 10% bentuk immature
b. Peningkatan plasma C-reactive protein
c. Peningkatan plasma procalcitonin
3. Variabel Hemodinamik
a. Sistolik < 90 mmHg atau penurunan sistolik > 40 mmHg dari sebelumnya.
b. MAP < 70 mmHg
c. SpO2 > 70%
d. Cardiak Indeks > 3,5 L/m/m3
4. Variable Perfusi Jaringan
a. Serum laktat > 1 mmol/L
b. Penurunan kapiler refil
5. Variable Disfungsi Organ
a. PaO2 / Fi O2 < 300
b. Urine output < 0,5 ml/kg/jam
c. Peningkatan creatinin > 0,5 mg/dl

6
d. INR >1,5 atau APTT > 60 detik
e. Ileus
f. Trombosit < 100.000mm3
g. Hiperbilirubinemia (plasma total bilirubin > 4mg/dl)

D. PATOFISIOLOGI
Septikimia karena hasil gram negatif infeksi ekstrapulmonal merupakan faktor
penyebab penting edema paru karena peningkatan permeabilitas kapiler paru. Edema
paru difus dapat terjadi tanpa multiplikasi aktif mikroorganisme dalam paru.
Edema paru adalah gambaran yang sering dijumpai pada syok sepsis. Hal ini jelas
tidak berhubungan dengan hipotensi saja, karena hal ini juga dapat timbul pada klien
dengan sepsis tanpa syok. Sepsis sering ditemukan pada klien yang diduga menderita
insufisiensi paru pasca trauma sehingga diperkirakan sebahai faktor penyebab kecuali
pada luka bakar, lesi intrakranial, atau kontusio paru.

7
E. PATH WAY

8
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Bervariasinya gejala klinik dan gambaran klinis yang tidak seragam menyebabkan
kesulitan dalam menentukan diagnosis pasti. Untuk itu pemeriksaan penunjang baik
pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan khusus sering dipergunakan dalam
membantu menegakkan diagnosis. Upaya ini tampaknya masih belum adapt
diandalkan. Saat ini pemeriksaan laboratorium tunggal yang memiliki sensitifitas dan
spesifitas tinggi sebagai indicator sepsis belum ditemukan. Berikut beberapa
pemeriksaan penunjang.
1. Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan
akibat infeksi, adanya lekositosis atau lekopenia, neutropenia, peningkatan rasio
netrofil imatur total lebih dari 0,2.
2. Peningkatan protein akut (C-reactive protein), peningkatan IgM.
3. Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur dan pengecatan Gram pada sampel
darah, urin, dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan kuman.
4. Analisa gas darah: hipoksia, asidosis metabolic, asidosis laktat.
5. Pada pemeriksaan serebrospinal ditemukan peningkatan jumlah leukosit terutama
PMN, jumlah leukosit > 20/ml.
6. Gangguan metabolic hipoglikemi atau hiperglikemi, asidosis metabolic.
7. Peningkatan kadar bilirubin.

G. KOMPLIKASI
Gejala sepsis akan menjadi lebih berat saat memasuki usia lanjut, penderita
diabetes, kanker, gagal organ utama, dan pasien dengan granulosiopenia, yang sering
diikuti gejala MODS sampai terjadinya syok sepsis.
Tanda MODS :
1. Sindrom distress pernafasan pada dewasa
2. Koagulasi intravaskuler
3. Gagal ginjal akut
4. Perdarahan usus
5. Gagal hati
6. Disfungsi system saraf pusat
7. Gagal jantung
8. Kematian

9
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas
2) Keluhan Utama
3) Riwayat Penyakit sekarang
4) Riwayat Penyakit Dahulu
5) Riwayat Keluarga
b. Pengkajian Primer
menggunakan pendekatan CABDE

1) Circulation : kaji denyut jantung, >100 kali per menit merupakan tanda
signifikan, monitoring tekanan darah, tekanan darah, periksa waktu pengisian
kapiler, pasang infuse dengan menggunakan canul yang besar, berikan cairan
koloid – gelofusin atau haemaccel, pasang kateter, lakukan pemeriksaan darah
lengkap, siapkan untuk pemeriksaan kultur, catat temperature, kemungkinan
pasien pyreksia atau temperature kurang dari 36Oc, siapkan pemeriksaan urin
dan sputum, berikan antibiotic spectrum luas sesuai kebijakan setempat.
2) Airway : yakinkan kepatenan jalan napas, berikan alat bantu napas jika perlu
(guedel atau nasopharyngeal), jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera
kontak ahli anestesi dan bawa segera mungkin ke ICU.
3) Breathing: kaji jumlah pernasan lebih dari 24 kali per menit merupakan gejala
yang signifikan, kaji saturasi oksigen, periksa gas darah arteri untuk mengkaji
status oksigenasi dan kemungkinan asidosis, berikan 100% oksigen melalui
non re-breath mask, auskulasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di dada,
periksa foto thorak.
4) Disability: Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien sepsis
padahal sebelumnya tidak ada masalah (sehat dan baik). Kaji tingkat kesadaran
dengan menggunakan AVPU.

10
5) Exposure : Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan
tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya.
c. Pengkajian Sekunder
1) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum penderita
Kesadaran : Dapat menurun, letargi
Suhu : Dapat hipertermi/hipotermi
Nadi : Takhikardi/Bradi kardi, nadi cepat kecil
RR : Frekuensi nafas meningkat, apneu
b) Kepala
Mata : Sklera icterus
Konjungtiva : Pucat
Hidung : Sekret, pernafasan cuping hidung
Bibir : Cyanosis, mucus bibir kering
Leher :Adanya pemeriksaan otot Bantu nafas,
stermokledomastoid
c) Thorak
Paru : Nafas sesak, Apnea, tak teratur, Takhipnea (60x / menit)
Jantung : Takhikardi (>160x/menit)
d) Abdomen
Perut kembung, hepatomegali
e) Neurologi
Lethargi, kejang, irritable
f) Muskuloskeletal
hipotomi
g) Integumen
Ikterus, turgor, kelembaban, sianosis.

2) Pola fungsi kesehatan

a) Aktivitas dan istirahat

 Subyektif : Menurunnya tenaga/kelelahan dan insomnia

b) Sirkulasi

11
 Subyektif : Riwayat pembedahan jantung/bypass cardiopulmonary,
fenomena embolik (darah, udara, lemak)
 Obyektif : Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya
hipoksemia), hipotensi terjadi pada stadium lanjut (shock)
 Heart rate : takikardi biasa terjadi
 Bunyi jantung : normal pada fase awal, S2 (komponen pulmonic) dapat
terjadi disritmia dapat terjadi, tetapi ECG sering menunjukkan normal
 Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin. Cyanosis biasa
terjadi (stadium lanjut)

c) Integritas Ego

 Subyektif : Keprihatinan/ketakutan, perasaan dekat dengan kematian


 Obyektif : Restlessness, agitasi, gemetar, iritabel, perubahan mental.

d) Makanan/Cairan

 Subyektif : Kehilangan selera makan, nausea


 Obyektif : Formasi edema/perubahan berat badan, hilang/melemahnya
bowel sounds

e) Neurosensori

 Subyektif atau Obyektif : Gejala truma kepala, kelambatan mental,


disfungsi motorik

f) Respirasi

 Subyektif : Riwayat aspirasi, merokok/inhalasi gas, infeksi pulmolal


diffuse, kesulitan bernafas akut atau khronis, “air hunger”
 Obyektif : Respirasi : rapid, swallow, grunting

g) Rasa Aman

 Subyektif : Adanya riwayat trauma tulang/fraktur, sepsis, transfusi


darah, episode anaplastik

12
h) Seksualitas

 Subyektif atau obyektif : Riwayat kehamilan dengan komplikasi


eklampsia

13
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan b.d penurunan curah jantung


2. Hipertermi b.d dehidrasi, peningkatan metabolisme
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan secara aktif
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d asupan diet kurang

C. RENCANA KEPERAWATAN

No HARI DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI TTD


TGL/JAM KEPERAWATAN HASIL
1. Resiko Perfusi jaringan (0422) Monitor tanda-tanda
ketidakefektifan Definisi: kecukupan aliran vital (6680)
perfusi jaringan b.d darah melalui organ tubuh Definisi: kumpulan dan
penurunan curah untuk berfungsi pada analisis data
jantung tingkat sel dengan kriteria kardiovaskular,
hasil : pernafasan dan suhu
1.
1. (042206) aliran darah tubuh untuk mrnrntukan
melalui pembuluh dan mencegah
darah jantung komplikasi.
ditingkatkan dari 1. Monitor tekanan
skala 2(deviasi yang darah, nadi, suhu,
cukup besar dari dan pernafasan
kisaran normal) ke dengan tepat
skala 5(tidak ada 2. Auskultasi tekanan
deviasi dari kisaran darah: lengan dan
normal) bandingkan
2. (042208) aliran darah 3. Periksa berkala
melalui pembuluh keakuratan
darah cerebral instrumen yang
ditingkatkan dari digunakan untuk
skala 2(deviasi yang perolehan data
cukup besar dari pasien
kisaran normal) ke 4. Identifikasi

14
skala 5(tidak ada kemungkinan
deviasi dari kisaran penyebab perubahan
normal) tanda-tanda vital
3. ((042209) aliran darah 5. Monitor sianosis
melalui pembuluh sentral dan perifer
perifer ditingkatkan
dari skala 2(deviasi
yang cukup besar dari
kisaran normal) ke
skala 5(tidak ada
deviasi dari kisaran
normal)
2. Hipertermi b.d Termoregulasi (0800) Pengaturan suhu (3900)
dehidrasi, Definisi: keseimbangan Definisi: mencapai atau
peningkatan antara produksi panas, dan memelihara suhu tubuh
metabolisme (00007) kehilangan panas dengan dalam batas normal.
kriteria hasil : 1. Monitor suhu dan
1. (080018) penurunan warna kulit
suhu kulit 2. Monitor tekanan
ditingkatkan dari darah, nadi, dan
skala 2(cukup berat) respirasi sesuai
ke skala 5(tidak ada) dengan kebutuhan
2. (080019) hipertermia 3. Tingkatkan intake
ditingkatkan dari dan nutrisi adekuat
skala 2(cukup berat 4. Sesuaikan suhu
ke skala 5(tidak ada) lingkungan untuk
3. (080014) dehidrasi kebutuhan klien
ditingkatkan dari 5. Berikan pengobatan
skala 2(cukup berat) antipiretik
ke skala 5(tidak ada)

3. Resiko kekurangan Keseimbangan cairan Manajemen cairan


volume cairan b.d (0601) (4120)

15
kehilangan cairan Definisi: keseimbangan Definisi: meningkatkan
secara aktif cairan didalam ruang keseimbangan cairan dan
intreselular dan pencegahan komplikasi
ekstraselular tubuh dengan yang dihasilkan dari
kriteria hasil : tingkat cairan tidak
1. (060116) turgor kulit normal atau tidak
ditingkatkan dari diinginkan.
skala 2(banyak 1. Jaga intake atau
terganggu) ke skala asupan yang akurat
5(tidak terganggu) dan catat output
2. (060117) kelembaban 2. Berikan cairan
membran mukosa dengan tepat
ditingkatkan dari 3. Distribusikan
skala 2(banyak asupan cairan
terganggu) ke skala selama 24 jam
5(tidak terganggu) 4. Dukung pasien dan
3. (060115) kehausan keluarga untuk
ditingkatkan dari membantu dalam
skala 2(cukup berat) memberikan makan
ke skala 5(tidak ada) dengan baik
5. Monitor tanda-tanda
vital pasien

4. Ketidakseimbangan Status nutrisi (1004) Manajemen nutrisi


nutrisi : kurang dari Definisi: sejauhmana (1100)
kebutuhan tubuh b.d nutrisi dicerna dan diserap Definisi: menyediakan
asupan diet kurang untuk memenuhi dan meningkatkan intake
kebutuhan metabolik nutrisi yang seimbang
dengan kriteria hasil : 1. Tentukan status gizi
1. (100401) asupan gizi pasien dan
diitingkatkan dari kemampuan untuk
skala 2(banyak memenuhi
menyimpang dari kebutuhan gizi

16
rentang normal) ke 2. Tentukan jumlah
skala 5(tidak kalori dan jenis
menyimpang dari nutrisi yang
rentang normal) dibutuhkan untuk
2. (100402) asupan memenuhi
makanan persyaratan gizi
diitingkatkan dari 3. Ajurkan pasien
skala 2(banyak terkait dengan
menyimpang dari kebutuhan diet
rentang normal) ke untuk kondisi sakit
skala 5(tidak 4. Monitor kalori dan
menyimpang dari asupan makanan
rentang normal) 5. Monitor
3. (100408) asupan kecenderungan
cairan diitingkatkan terjadinya
dari skala 2(banyak penurunan dan
menyimpang dari kenaikan berat
rentang normal) ke badan
skala 5(tidak
menyimpang dari
rentang normal)

17
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sepsis adalah suatu kondisi dimana terjadi reaksi peradangan sistemik
(inflammatory sytemic rection) yang dapat disebabkan oleh invansi bakteri, virus,
jamur atau parasit.
Penyebab dasar dari sepsis dan syok septik yang paling sering adalah infeksi
bakteri. Pada era sebelum pemkaiain antibiotik meluas, penyebab tersering adalah
bakteri gram positif terutama dari spesies streptokokus dan stafilokokus.
Septikimia karena hasil gram negatif infeksi ekstrapulmonal merupakan faktor
penyebab penting edema paru karena peningkatan permeabilitas kapiler paru. Edema
paru difus dapat terjadi tanpa multiplikasi aktif mikroorganisme dalam paru.
Bervariasinya gejala klinik dan gambaran klinis yang tidak seragam menyebabkan
kesulitan dalam menentukan diagnosis pasti. Untuk itu pemeriksaan penunjang baik
pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan khusus sering dipergunakan dalam
membantu menegakkan diagnosis.
Gejala sepsis akan menjadi lebih berat saat memasuki usia lanjut, penderita
diabetes, kanker, gagal organ utama, dan pasien dengan granulosiopenia, yang sering
diikuti gejala MODS sampai terjadinya syok sepsis.

B. SARAN
1. Hendaknya kalangan medis dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai sepsis
dengan mengikuti perkembangan patofisiologi dan teknik pengobatannya,
mengingat patofisiologi sepsis yang selalu mengalami perubahan.
2. Karena infeksi nosokomial merupakan penyebab utama sepsis maka sebaiknya
penggunaan instrumen invasif pada pasien dikurangi baik frekuensi maupun
durasinya, monitoring dan penggantian instrumen harus benar-benar diperhatikan,
mengingat sepsis hanya akan memperburuk keadaan pasien.
3. Mengingat masih terdapat banyaknya kegagalan terapi sepsis dengan menggunakan
sediaan yang dapat memodifikasi respon inflamasi, maka penelitian lebih lanjut
mengenai cara kerja sediaan, dosis dan waktu pemberian yang tepat sangatlah
dibutuhkan, karena berbagai sediaan bekerja sangat spesifik hanya pada mediator
tertentu, dosis yang masih bervariasi dan sempitnya masa jendela yang dimiliki oleh
sebagian mediator.
18
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Ediai 8. Jakarta :

EGC.

Doenges, Marilyn E.dkk. 2015. Rencana Perawatan. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif dkk. 2016. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta :

Media Aesculapius FK UI.

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2016. Ilmu Kesehatan. Jakarta : Info

Medika Jakarta.

Muttaqin, Arif. 2015. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem

Pernapasan : Salemba

http://repository.unimus.ac.id diunduh pada tanggal (15 april 2019 pukul 15.00 WIB)

Irvan. 2018. Sepsis dan Tata Laksana Berdasar Guideline Terbaru. Jakarta.

Volume X, Nomor 1, Tahun 2018

19