Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Gagal napas adalah masalah yang relatif sering terjadi, yang biasanya,meskipu
n tidak selalu, merupakan tahap akhir dari penyakit kronik pada sistempernapasan.
Keadaan ini semakin sering di temukan sebagai komplikasi daritrauma akut,
septikemia, atau syok. Gagal napas, seperti halnya kegagalan pada sistem organ
lainnya, dapat dikenali berdasarkan gambaran klinis atau pemeriksaan laboratorium.
Tetapi harusdi ingat bahwa pada gagal napas, hubungan antara gambaran klinis
dengankelainan dari hasil pemeriksaan laboratorium pada kisaran normal adalah tidak
langsung.

Kegagalan pernapasan merupakan salah satu indikasi pasien dirawat di


ruangan intensive care unit (ICU). Kegagalan pernapasan merupakan salah satu
penyebab meningkatnya mortalitas dan morbiditas. Setiap tahunnya diperkirakan 1
juta orang dirawat di ICU karena gagal nafas (Wunsch, et al, 2010). Di Amerika
Serikat kejadian gagal nafas meningkat dari 1.007.549 orang pada tahun 2001
menjadi 1.917.910 pada tahun 2009 (Stefan, et al, 2013). Penelitian yang dilakukan
oleh Franca et al (2011) pada 12 ruangan ICU yang ada di Brazil didapatkan 843
orang (49%) di rawat di ruangan ICU karena gagal nafas akut dan 141 orang
menderita gagal nafas setelah dirawat di ICU, dari total penderita gagal nafas akut
tersebut sebanyak 475 orang meninggal di ruangan ICU dan 56 orang meninggal
setelah keluar dari ICU. Dibutuhkan suatu penanganan khusus untuk mengatasi
kegagalan pernapasan. Salah satu penatalaksanaan untuk mengatasi gagal nafas
adalah pemberian bantuan pernafasan melalui ventilator yang berfungsi untuk
membantu fungsi paru dalam pemenuhan oksigen tubuh. Jurnal Riset Kesehatan, 6
(1), 2017, 33 – 39.

Perawat harus melakukan perawatan gagal nafas di icu karena gagal nafas
merupakan kondisi dimana kadar oksigen yang masuk kedalam paru sangat rendah
sehingga menghambat kerja jantung dan otak yang memerlukan darah yang kaya
oksigen dan gagal nafas juga memerlukan penanganan segera serta pengawasan.

1
B. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi dari Gagal Nafas


2. Untuk mengetahui Etiologi dari Gagal Nafas
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Gagal Nafas
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari Gagal Nafas
5. Untuk mengetahui Pathway dari Gagal Nafas
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Gagal Nafas
7. Untuk mengetahui komplikasi dari Gagal Nafas
8. Untuk mengetahui Proses pengkajian pada kasus Gagal Nafas
9. Untuk mengetahui diagnose pada kasus Gagal Nafas
10. Untuk mengetahui intervensi pada Gagal Nafas
11. Untuk mengetahui evaluasi pada Gagal Nafas
C. Manfaat
Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam
pengembangan ilmu yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan
masalah gagal nafas dan bisa digunakan sebagai sumber pembelajaran

2
BAB II
KONSEP TEORI
A. Definisi
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan
pertukaran oksigen dan karbondioksida yang dapat mengakibatkan gangguan pada
kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2009). Gagal napas merupakan kondisi di
mana kadar oksigen yang masuk ke dalam darah melalui paru sangat rendah.
Sementara itu, untuk bekerja dengan baik, organ tubuh seperti jantung dan otak
memerlukan darah yang kaya oksigen. Tak hanya itu, gagal napas juga terjadi lantaran
kadar karbon dioksida dalam darah lebih tinggi dari pada kadar oksigen. Gagal napas
terjadi karena adanya kegagalan dalam proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida
di kantung-kantung udara kecil di paru-paru (alveoli), atau ketidakmampuan paru-
paru untuk melakukan tugas dalam proses pertukaran gas. Pertukaran gas yang
dimaksud adalah mengirim oksigen dari udara yang dihirup ke dalam darah dan
menyingkirkan karbon dioksida dari darah ketika mengembuskan napas. Gagal napas
juga dapat disebabkan oleh gangguan pada pusat pernapasan di otak, atau pun
kegagalan otot-otot pernapasan untuk mengembangkan paru-paru.
B. Etiologi
a. Kelainan di luar paru-paru
1) Penekanan pusat pernapasan
2) Takar lajak obat (sedative, narkotik)
3) Trauma atau infark selebral
4) Poliomyelitis bulbar
b. Kelainan neuromuscular
1) Trauma medulaspinalis servikalis
2) Sindroma guilainbare
3) Sklerosis amiotropik lateral
4) Miastenia gravis
5) Distrofi otot
c. Kelainan Pleura dan Dinding Dada
1) Cedera dada (fraktur iga multiple)
2) Pneumotoraks tension
3) Efusi leura
4) Kifoskoliosis (paru-paru abnormal)

3
5) Obesitas: sindrom Pickwick
d. Kelainan Intrinsic Paru-Paru
1) Kelainan Obstruksi Difus
2) Emfisema, Bronchitis Kronis (PPOM)
3) Asma, Status asmatikus
4) Fibrosis kistik
e. Kelainan Restriktif Difus
1) Fibrosis interstisial akibat berbagai penyebab (seperti silica, debu batu barah)
2) Sarkoidosis
3) Scleroderma
4) Edema paru-paru
5) Kardiogenik
6) Nonkardiogenik (ARDS)
7) Atelektasis
8) Pneumoni yang terkonsolidasi
f. Kelainan Vaskuler Paru-Paru
1) Emboli paru-paru
C. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis dari gagal nafas sebagai berikut :
a. Gagal nafas total
b. Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan
c. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikula dan sela iga serta
tidak ada pengembangan dada pada inspirasi
d. Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan
e. Gagal nafas parsial
f. Terdenganr suara nafas tambahan gurgling, snoring, dan wheezing
g. Ada retraksi dada
h. Hiperkapnia, yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
i. Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)
D. Patofisiologi
Indikator gagal nafas adalah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital,
frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari 20x/mnt tindakan yang
dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi

4
sehingga timbul kelelahan. Kapasitas vital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20
ml/kg).
Penyebab terpenting dari gagal nafas adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana
terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan
terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi,
cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia
mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi
lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan
tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan dengan efek yang dikeluarkan
atau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiod. Penemonia atau dengan
penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

5
E. Pathway

F. Data penunjang
a. Laboratorium
1) Analisis gas darah (pH meningkat, HCO3- meningkat, PaCO2 meningkat,
PaO2 menurun) dan kadar elektrolit (kalium).
2) Pemeriksaan darah lengkap : anemia bisa menyebabkan hipoksia jaringan,
polisitemia bisa trejadi bila hipoksia tidak diobati dengan cepa.
3) Fungsi ginjal dan hati: untuk mencari etiologi atau identifikasi komplikasi
yang berhubungan dengan gagal napas.
4) Serum kreatininin kinase dan troponin1: untuk menyingkirkan infark miokard
akut.

6
b. Radiologi:
1) Rontgen toraks membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab gagal
nafas seperti atelektasis dan pneumoni.
2) EKG dan Ekokardiografi : Jika gagal napas akut disebabkan olehcardiac.
3) Uji faal paru : sangat berguna untuk evaluasi gagal napas kronik (volume tidal
< 500ml, FVC (kapasitas vital paksa) menurun,ventilasi semenit (Ve)
menurun (Lewis, 2011).
G. Komplikasi
Paru
·Komplikasi yang sering terjadi adalah emboli paru, barotraumas, fibrosis paru, dan
komplikasi sekunder akibat alat mekanis yang digunakan
·Pasien juga rentan terhadap pneumonia nosokomial
·Fibrosis paru dapat terjadi pasca acute lung injury yangterkait acute respiratory
distress syndrome (ARDS)
Kardiovaskular
·Komplikasi yang sering terjadi pada gagal napas akut adalah hipotensi,
menurunnya kardiak aoutput, aritmia, perikarditis, dan infark miokard akut
·Komplikasi ini terkait dengan penyakit yang mendasari, ventilasi mekanik, atau
pemakaian kateter arteri pulmonaris
Gastrointestinal
·Komplikasi yang utama pada gastrointestinal akibat gagal napas akut adalah
perdarahan, distensi lambung, ileus, diare, dan pneumoperitoneum
·Stress ulcer sering terjadi pada gagal napas akut
Infeksi
Infeksi nosokomial sering terjadi, seperti pneumonia, infeksi saluran
kemih, catheter-related sepsis
Ginjal
·Acute Renal Failure (ARF) dan abnormalitas elektrolit dan homeostasis asam basa
sering terjadi
·ARF pada gagal napas akut berkaitan dengan buruknya prognosis dan tingginya
mortalitas. ARF ini terjadi akibat hipoperfusi renal dan penggunaan obat
nefrotoksik, termasuk bahan kontras radiologi

Nutrisi
7
·Malnutrisi akibat nutrisi enteral dan parenteral
·Komplikasi akibat nasogastric tubes yaitu distensi lambung dan diare
·Komplikasi akibat nutrisi parenteral dapat berupa infeksi, ataupun komplikasi
metabolik (hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit)

H. Tipe Gagal Nafas

Gagal Napas Tipe 1

Pada tipe ini, kelainan berupa hipoksemia, sehingga disebut gagal napas hipoksemik.
Tekanan parsial oksigen di arteri (PaO2) kurang dari 60 mmHg. Pasien telah
mendapatkan oksigenasi dengan fraksi oksigen (FiO2) minimal 0.60. Terjadi akibat
kegagalan difusi oksigen dari alveolus ke sirkulasi.

Gejala yang tampak pada penderita gagal napas tipe 1 adalah sebagai berikut:

 Sesak napas

Pada awal tahapan gagal napas, gejala yang dominan terlihat adalah sesak napas.
Sesak napas ini terjadi akibat rendahnya kadar oksigen.

 Bibir, kuku dan kulit pucat

Rendahnya kadar oksigen ini menyebabkan bibir, kuku, dan kulit penderitanya
terlihat pucat.

 Penurunan kesadaran

Bila tidak segera tertangani, rendahnya kadar oksigen akan membuat otak tidak
dapat bekerja baik. Otak sendiri merupakan pusat kesadaran dan pada akhirnya
pusat kesadaran ini yang akan dikorbankan.

 Irama jantung tidak teratur (aritmia)

Kekurangan oksigen pada otak akan menyebabkan penurunan kesadaran,


sedangkan pada jantung mengakibatkan ketidakteraturan irama jantung.

Gagal Napas Tipe 2

Kelainan berupa hiperkapnia, sehingga disebut gagal napas hiperkapnik. Tekanan


parsial karbondioksida di arteri (PaCO2) lebih dari 45 mmHg. Terutama terjadi
akibat kegagalan fungsi ventilasi atau pompa udara pada saluran napas. Dapat
disertai hipoksemia, umumnya disertai asidosis respiratorik.

Penyebab paling sering gagal napas tipe 2 adalah penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK) dan asma. Penyebab lain yang lebih jarang di antaranya adalah
bronkitis kronik, kelainan bentuk dada, dan kelemahan otot pernapasan pada

8
sindrom Guillain-Barre. Selain itu penurunan fungsi pusat pernapasan di otak,
misalnya karena overdosis obat terlarang, juga bisa menyebabkan gagal napas
tipe 2.

Gejala

Gejala yang umumnya terlihat pada pasien dengan gagal napas tipe 2 adalah
sebagai berikut:

 Sesak napas dan pucat. Sesak napas terjadi akibat rendahnya kadar oksigen
dalam darah. Akibatnya kulit dan bibir serta kuku akan terlihat lebih pucat.
 Napas cepat. Peningkatan frekuensi napas terjadi sebagai usaha tubuh dalam
mengeluarkan karbondioksida yang berlebih di dalam darah.
 Penurunan kesadaran. Bila tidak segera tertangani, rendahnya kadar oksigen
akan membuat otak tidak dapat bekerja baik. Otak sendiri merupakan pusat
kesadaran dan pada akhirnya pusat kesadaran ini yang akan dikorbankan.
 Irama jantung tidak teratur (aritmia). Kekurangan oksigen pada otak akan
menyebabkan penurunan kesadaran, sedangkan pada jantung mengakibatkan
ketidakteraturan irama jantung.

9
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
1. Circulation
a) Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
b) Sakit kepala
c) Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
d) Papiledema
e) Penurunan haluaran urine
2. Airway
a) Peningkatan sekresi pernapasan
b) Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi
3. Breathing
a) Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu,
retraksi.
b) Menggunakan otot aksesori pernapasan
c) Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis
b. Pengkajian Sekunder
1. Pemeriksaan fisik
a) System pernafasaan
Inpeksi : kembang kembis dada dan jalan nafasnya
Palpasi : simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan pernafasaan
tertinggal
Perkusi : suara nafas ( sonor, hipersonor atau pekak)
Auskultasi : suara abnormal (wheezing dan ronchi)
b) System Kardiovaskuler
Inspeksi : adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar dari daerah
trauma
Palpasi : bagaimana mengenai kulit, suhu daerah akral
Auskultasi : suara detak jantung menjauh atau menurun dan adakah denyut
jantung paradok
c) System neurologis
Inpeksi : gelisah atau tidak gelisah, adakah jejas di kepala

10
Palpasi : kelumpuhan atau laterarisasi pada anggota gerak. Bagaimana
tingkat kesadaran yang dialami dengan menggunakan Glasgow
Coma Scale
d) Aktifitas
Gejala : kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup menetap.
Tanda : takikardi, dispnea pada istirahat atau aktifitas
e) Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah
tekanan darah, diabetes mellitus, gagal nafas.
Tanda : tekanan darah dapat normal / naik / turun, perubahan postural
dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri, nadi dapat normal ,
penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan
pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia), bunyi
jantung ekstra S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung
atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel, bila ada
menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung, irama
jantung dapat teratur atau tidak teratur, edema, pucat atau
sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir.
f) Eliminasi
Tanda : bunyi usus menurun.
g) Integritas ego
Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati,
perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan,
khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga.
Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah,
marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma
nyeri.
h) Makanan atau cairan
Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar
Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah,
perubahan berat badan
i) Hygiene
Gejala atau tanda : kesulitan melakukan tugas perawatan
j) Neurosensori

11
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau
istrahat
Tanda : perubahan mental, kelemahan
k) Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala : nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak
berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat
atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan
viseral)

l) Pernafasan
Gejala : dispnea tanpa atau dengan kerja, dispnea nocturnal, batuk
dengan atau tanpa produksi sputum, riwayat merokok, penyakit
pernafasan kronis.
Tanda : peningkatan frekuensi pernafasan, nafas sesak / kuat, pucat,
sianosis, bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum.
m) Interkasi sosial
Gejala : stress, kesulitan koping dengan stressor yang ada missal :
penyakit, perawatan di RS
Tanda : kesulitan istirahat dengan tenang, respon terlalu emosi ( marah
terus-menerus, takut ), menarik diri. (Doengoes, E. Marylinn.
2000)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d asupn garam tinggi, kurang
pengetahuan tentang proses penyakit, kurang pengetahuan tentang faktor yang
dapat diubah, gaya hidup kurang gerak, merokok( definisi: ketidakmampuan
membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk
mempertahankan bersihan jalan napas)
2. Hambatan pertukaran gas faktor yang behubungan akan dikembangkan,
kondisi terkait ,perubahan membran alveolar-kapiler, ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi (definisi: kelebihan atau defisit oksigenasi dan/atau eliminasi
karbon dioksida pada memban alveolar-kapiler)
3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d benda asing dalam jalan nafas,
mukus berlebihan, terpajan asap, sekresi yang tertahan, perkok pasif,perokok (

12
definisi : ketidak mampuan membersihkan sekresi atu obstrksi dari saluran
nafas untuk mempertahankan bersihan jalan nafas)
4. Ketidakefektifan pola nafas b.d ansietas, posisi tubuh yang menghambat
ekspansi paru, keletihan, hiperventilasi, obesitas, nyeri, keletihan otot
pernafasan ( definisi : inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberi
ventilasi adekuat)

C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan NOC NIC


Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Perawatan gawat darurat 6200
perfusi jaringan perifer keperawatan selama 3x24 jam 1. Aktifkan sistem medis darurat
b.d asupan garam ketidakefektifan perfusi 2. Mulai tindakan penyelamatan pada
tinggi, kurang jaringan perifer teratasi pasien dengan penyakit yang
pengetahuan tentang dengan kriteria hasil: paling kritis pada kasus dengan
proses penyakit, kurang Perfusi jaringan :perifer beberapa korban(sekaligus)
pengetahuan tentang (0407) 3. Evaluasi setiap pasien yang tidak
faktor yang dapat 040730 kekuatan denyut nadi berespon untk menentukan
diubah, gaya hidup karotis(kanan) dari skala tindakan yang tepat
kurang gerak, 3(deviasi sedang dari kisaran 4. Buat atau mempertahankan jalan
merokok( definisi: normal) ditingkatkan ke skala napas terbuka
ketidakmampuan 5( tidak ada deviasi dari
membersihkan sekresi kisaran normal)
atau obstruksi dari 040731 kekuatan denyut nadi
saluran nafas untuk karotis(kiri) dari skala
mempertahankan 3(deviasi sedang dari kisaran
bersihan jalan napas) normal) ditingkatkan ke skala
5( tidak ada deviasi dari
kisaran normal)

Hambatan pertukaran Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas 3140


gas faktor yang keperawatan selama 3x24 jam 1. Buka jalan nafas dengan
behubungan akan Hambatak pertukaran gas teknik chin lift atau jaw

13
dikembangkan, kondisi teratasi dengan kriteria hasil: thrust, sebagaimana mestinya
terkait ,perubahan Status pernafasan: pertukaran 2. Masukan alat nasopharyngeal
membran alveolar- gas (0415) airway(NPA)atau
kapiler, 041501 frekuensi pernafasan oropharyngeal airway (OPA)
ketidakseimbangan dari skala 3(deviasi sedang , sebagimana mestinya
ventilasi-perfusi dari kisaran normal ) 3. Auskultasi suara nafas, catat
(definisi: kelebihan ditingkatkan ke skala 5( tidak area yang ventilasinya
atau defisit oksigenasi ada deviasi dari kisaran menurun atau tidak ada dan
dan/atau eliminasi normal) adanya suara tambahan
karbon dioksida pada 041532 kepatenan jalan nafas 4. Lakukan penyedotan melalui
memban alveolar- dari skala 3(deviasi sedang endotrakea atau nasotrakea,
kapiler) dari kisaran normal ) sebagaimana mestinya
ditingkatkan ke skala 5( tidak 5. Kelola pemberian
ada deviasi dari kisaran bronkodilator, sebagaimana
normal) mestinya
041507 kapasitas vital dari
skala 3(deviasi sedang dari
kisaran normal ) ditingkatkan
ke skala 5( tidak

Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Terapi oksigenasi


bersihan jalan nafas b.d keperawatan selama 3 x 24 1. Bersihkan
benda asing dalam jam ketidak efektifan mulut,hidung,dan sekresi
jalan nafas, mukus bersihan jalan nafas teratai trakea dengan tepat
berlebihan, terpajan dengan kriteria hasil : 2. Pertahankan kepatenan
asap, sekresi yang Status pernafasan: kepatenan jalan nafas
tertahan, perkok jalan nafas 0401 3. Monitor aliran oksigen
pasif,perokok ( definisi 041015 dipsneu saat istirahat 4. Berikan oksigen tambahan
: ketidak mampuan dari skala 3(cukup) seperti yang diperintahkan
membersihkan sekresi ditingkatkan ke skala 5( tidak
atu obstrksi dari saluran ada)
nafas untuk 041016 dipsneu dengan
mempertahankan aktivitas ringan dari skala

14
bersihan jalan nafas) 3(cukup) ditingkatkan ke
skala 5( tidak ada)

Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan tindakan Monitor pernafasan (3350)


nafas b.d ansietas, keperawatan selama 3x24 jam
posisi tubuh yang ketidakefektifan pola nafas 1. Monitor
menghambat ekspansi teratasi dengan kriteria hasil: kecepatan,irama,kedalama
paru, keletihan, Status pernafasan(0415) n,dan kesulitan bernafas
hiperventilasi, obesitas, 041501 frekuensi pernafasan 2. Catat pergerakan daa,catat
nyeri, keletihan otot dari skala 3( deviasi kisaran ketidaksimetrisan,
pernafasan ( definisi : normal) ditingkatkan ke skala penggunaan otot-otot
inspirasi dan/atau 5(tidak ada deviasi dari bantu nafas dan retraksi
ekspirasi yang tidak kisaran normal) pada otot supraclaviculas
memberi ventilasi 0415532 kepatenan jalan dan interkosta
adekuat) nafas dari skala 3( deviasi 3. Monitor suara nafas
kisaran normal) ditingkatkan tambahan
ke skala 5(tidak ada deviasi 4. Monitor pola nafas
dari kisaran normal) 5. Monitor saturasi oksigen
041508 saturasi oksigen dari
skala 3( deviasi kisaran
normal) ditingkatkan ke skala
5(tidak ada deviasi dari
kisaran normal)

D. Evaluasi
Fase terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan
yang diberikan dengan melihat perkembangan masalah klien sehingga dapat diketahui
tingkatan/tingkatan keberhasilan intervensi. Evaluasi hasil perencanaan keperawatan dari

15
masing-masing dignosa keperawatan dapat dilihat pada kriteia hasil intervensi
keperawatan

16
BAB IV
JURNAL PENDUKUNG

PERBANDINGAN PENGUKURAN STATUS SEDASI RICHMON


AGITATION SEDATION SCALE (RASS) DAN RAMSAY
SEDATION SCALE (RSS) PADA PASIEN GAGAL NAFAS
TERHADAP LAMA WEANINGVENTILATORDIGICU
RSUPDr.HASAN SADIKIN BANDUNG
Hellena Deli* ; Muhammad Zafrullah Arifin ; Sari Fatimah
Magister Keperawatan Konsentrasi Keperawatan Kritis ; Universitas Padjadjaran Bandung
Jl.Raya Bandung-Sumedang Km. 21 ; Jatinangor ; Sumedang

Abstrak
Untuk mencegah pemberian sedasi yang berlebih dibutuhkan satu alat ukur yang yang
mampu mengukur status sedasi pasien dengan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis perbedaan pengukuran status sedasi Richmond Agitation Sedation Scale
(RASS) dan Ramsay Sedation Scale (RSS) pada pasien gagal nafas terhadap lama weaning
ventilator. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan
kohort prospektif yang terdiri dari satu kelompok dependen dengan jumlah responden 13
orang. Pengukuran status sedasi dilakukan dengan dua alat ukur yaitu RASS dan RSS
kemudian akan diamati hingga pasien berhasil weaning ventilator ke modus CPAP atau PS
CPAP dengan PS 5-8 CmH2O dan PEEP 5 cmH2O. Hasil penelitian ini menunjukkan
pengukuran status sedasi dengan RASS dan RSS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
lama weaning ventilator dengan nilai p<0,05. Berdasarkan hasil analisis terdapat perbedaan
yang bermakna antar pengukuran status sedasi yang diukur dengan RASS dan RSS pada
pasien gagal nafas terhadap lama weaning ventilator dengan nilai p<0,05, dan hasil post hoc
analisis menunjukkan terdapat perbedaan pada setiap pengukuran sedasi dengan nilai p<0,05.
Pengukuran status sedasi dengan RASS lebih baik dalam mengurangi lama weaning
ventilator dibandingkan dengan RSS.
Kata kunci: Gagal nafas ; lama weaning ; RASS ; RSS

Abstract
[COMPARATIVE MEASUREMENT STATUS SEDASI RICHMON AGITATION
SEDATION SCALE (RASS) AND RAMSAY SEDATION SCALE (RSS) IN
RESPIRATORY FAILURE PATIENT AGAINST TIME WEANING VENTILATOR
IN GICU Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG] To prevent over sedation need an
instrument can measure accurately the status of sedation. This study aimed to analyze the
differences between Richmond Agitation Sedation Scale (RASS) and the Ramsay Sedation
Scale (RSS) in measuring the status of sedation for respiratory failure patient against time
weaning ventilator. This study is observational analytic with prospective cohort study. This
study was conducted in 13 respiratory failure patient and use mechanical ventilator. Sampling
is done by non probability sampling method with consecutive sampling that received sedation
therapy in GICU RSUP Dr Hasan Sadikin, Bandung. Samples will be measured with two
sedation instrument they are RASS and RSS. Patient will be observed until the patient is
successfully weaning ventilator mode CPAP or CPAP PS with PS 5-8 cmH2O and PEEP 5
cmH2O. These results indicate the measurement status withRASS sedation and RSS have a

17
significant impact on weaning ventilator time with a value of p<0,05. Based on analysis
results there is a significant difference between the measurement of sedation status by RASS
and RSS for respiratory failure patient and weaning ventilator time with p<0,05, and the post
hoc analysis shows that there are differences in each measurement sedation with p<0,05.
Measurement status with RASS sedation better in reducing the length of ventilator weaning
compared to RSS.
Keywords: Respiratory failure ; Duration of weaning ; RASS ; RSS

Pendahuluan
Kegagalan pernapasan merupakan salah satu indikasi pasien dirawat di ruangan
intensive care unit (ICU). Kegagalan pernapasan merupakan salah satu penyebab
meningkatnya mortalitas dan morbiditas. Setiap tahunnya diperkirakan 1 juta orang dirawat
di ICU karena gagal nafas (Wunsch, et al, 2010). Di Amerika Serikat kejadian gagal nafas
meningkat dari 1.007.549 orang pada tahun 2001 menjadi 1.917.910 pada tahun 2009
(Stefan, et al, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Franca et al (2011) pada 12 ruangan ICU
yang ada di Brazil didapatkan 843 orang (49%) di rawat di ruangan ICU karena gagal nafas
akut dan 141 orang menderita gagal nafas setelah dirawat di ICU, dari total penderita gagal
nafas akut tersebut sebanyak 475 orang meninggal di ruangan ICU dan 56 orang meninggal
setelah keluar dari ICU. Dibutuhkan suatu penanganan khusus untuk mengatasi kegagalan
pernapasan. Salah satu penatalaksanaan untuk mengatasi gagal nafas adalah pemberian
bantuan pernafasan melalui ventilator yang berfungsi untuk membantu fungsi paru dalam
pemenuhan oksigen tubuh
Tindakan pemasangan alat bantu pernafasan dapat menimbulkan ketidaknyamanan
dan nyeri bagi pasien, yang tidak jarang mengakibatkan terjadinya agitasi pada pasien. Selain
itu agitasi dapat terjadi akibat ketidaknyamanan terhadap lingkungan dan suara bising yang
ditimbulkan oleh alat-alat. Agitasi merupakan suatu keadaan dimana pasien terlihat gelisah,
ketidaknyamanan ditandai oleh gerakan motorik yang tidak terkendali yang dapat
mengakibatkan cedera dan ekstubasi (Brandl et al, 2001; Sessler et al, 2002).
Penatalaksanaan farmakologis yang dilakukan untuk mengatasi agitasi pada pasien gagal
nafas adalah dengan menggunakan obat-obatan sedasi dan analgetik.
Pemberian obat sedasi pada pasien gagal nafas bertujuan untuk menginduksi
anxiolysis, mencegah terjadinya agitasi, memfasilitasi manipulasi ventilator dan mencegah
terjadinya asynchrony ventilator (Ennis & Brophy, 2011). Pemberian sedasi yang berlebihan
berbahaya dan memiliki efek samping diantaranya dapat mengakibatkan penekanan sistem
pernapasan, bradikardi, hipotensi, ketergantungan penggunaan ventilator, mengaburkan
pemeriksaan neurologis, meningkatkan lama hari rawat, penggunaan sedasi berkepanjangan

18
dapat mengganggu pola tidur, mengakibatkan kelelahan, yang mengarah kepada penggunaan
sedasi yang berlebihan (Sessler et al, 2002; Triltsch et al, 2005; Girard et al, 2008). Sedasi
memiliki efek terhadap pusat napas, relaksasi terhadap jalan nafas, hipoperfusi batang otak
dan peningkatan retensi jalan nafas. Penggunaan sedasi yang berlebihan dapat mengakibatkan
pengembalian fungsi paru menjadi lebih lambat, sehingga weaning ventilator menjadi lebih
lambat (Conti, Mantz, Longrois, & Tonner, 2014). Pasien dengan status sedasi dalam, pada
48 jam pertama perawatan dapat meningkatkan lama waktu ektubasi dan mortalitas pasien
(Shehabi et al, 2012).
Keputusan untuk mengatasi agitasi pada pasien dengan memberikan obat sedasi
membutuhkan pengukuran yang konsisten, pemberian obat sedasi dengan dosis yang tidak
pantas dapat membahayakan pasien (Triltsch et al, 2005; Grap et al, 2012). Keselamatan
pasien dalam penggunaan obat-obatan sedasi merupakan hal penting dan telah dijadikan
standar oleh joint commicion acreditation (The Joint commicion, 2012). Pemahaman tentang
obat yang umum digunakan adalah penting untuk merumuskan rencana sedasi untuk setiap
pasien, dengan penggunaan sedasi dan analgetik yang tepat dapat meningkatkan kualitas
pelayanan dan dapat mengurangi lama penggunaan ventilator (Brattebo et al, 2002).

Keputusan untuk memberikan obat sedasi merupakan wewenang dokter dan perawat
memiliki peran untuk mengelolanya dengan tepat. Penggunaan sedasi untuk mengatasi nyeri
dan agitasi tidak hanya membutuhkan hubungan yang baik antara perawat dan dokter, namun
penilaian sedasi agitasi pasien juga membutuhkan penilaian independen dari perawat.
Perawat memiliki peranan penting dalam penilaian sedasi secara terus menerus.

Disamping itu perawat memiliki peran sebagai advokat untuk memastikan bahwa
pasien dan keluarga telah diinformasikan dan dididik mengenai resiko yang mungkin muncul
akibat penggunaan analgetik dan sedasi dan memastikan bahwa terapi yang diberikan dokter
sesuai dengan kondisi yang dialami oleh pasien (Walker &, Gillen, 2006). Perawat dituntut
untuk mampu melaporkan status sedasi pasien dengan tepat, sehingga perawat perlu memiliki
pemahaman yang baik mengenai manajemen, pengelolaan analgetik dan sedasi, dan penilaian
status sedasi pasien yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan terkait pemberian
analgetik dan sedasi (Randen & Bjork, 2010). Perawat juga harus mampu berkolaborasi
dengan dokter dalam penilaian status sedasi pasien untuk pengambilan keputusan yang tepat
(Taylor, 2006).

Kriteria waktu dalam weaning ventilator merupakan hal yang sangat penting, semakin
cepat pelaksanaan weaning ventilator semakin baik, namun bila proses weaning ventilator
terlalu cepat dilakukan maka akan mengakibatkan proses adaptasi terhadap fungsi pernapasan
juga semakin cepat, sehingga sering menimbulkan intubasi ulang (Boles et al, 2007).
Weaning ventilator mampu melatih kemampuan pasien untuk beradaptasi dan mampu
mengembalikan fungsi fisiologis pernafasan pasien. Pengukuran status sedasi merupakan
suatu keterampilan klinis yang juga harus dimiliki oleh perawat. Penilaian terstruktur sedasi
dan agitasi berguna untuk titrasi obat penenang, untuk mengevaluasi perilaku gelisah dan

19
kedalaman status sedasi pasien (Sesler, et al, 2002). Ketepatan dalam penilaian kondisi pasien
dapat mengurangi kemungkinan yang dapat membahayakan pasien. Sehingga dibutuhkan alat
ukur yang akurat untuk mampu mengukur status sedasi pasien terpasang ventilator.

Pengukuran status agitasi harus dilakukan secara subjektif dan objektif. Penilaian ini
dibutuhkan untuk mencegah terjadinya perbedaan persepsi diantara petugas kesehatan.
Penilaian subjektif dilakukan dengan observasi aktivitas fisik pasien, ekspresi wajah dan
respon fisiologis yang muncul. Observasi yang dilakukan untuk menilai agitasi dapat
menimbulkan perbedaan persepsi antara tim kesehatan (Hernandez-Gancedo et al, 2006),
dengan tidak adanya standarisasi yang diterapkan dalam pengukuran mengakibatkan
pemberian obat sedasi dan analgetik berdasarkan pengalaman klinis dokter tanpa pengawasan
yang ketat mengenai intensitas pemberian sedasi (Sessler et al, 2002; Ely et al, 2003; Triltsch
et al, 2005).
Pengukuran status agitasi harus dilakukan secara subjektif dan objektif. Penilaian ini
dibutuhkan untuk mencegah terjadinya perbedaan persepsi diantara petugas kesehatan.
Penilaian subjektif dilakukan dengan observasi aktivitas fisik pasien, ekspresi wajah dan
respon fisiologis yang muncul. Observasi yang dilakukan untuk menilai agitasi dapat
menimbulkan perbedaan persepsi antara tim kesehatan (Hernandez-Gancedo et al, 2006),
dengan tidak adanya standarisasi yang diterapkan dalam pengukuran mengakibatkan
pemberian obat sedasi dan analgetik berdasarkan pengalaman klinis dokter tanpa pengawasan
yang ketat mengenai intensitas pemberian sedasi (Sessler et al, 2002; Ely et al, 2003; Triltsch
et al, 2005).mata dalam menanggapi rangsangan verbal, sehingga meningkatkan sensitivitas.
Menurut Sessler et al (2002) RASS memiliki 4 poin nilai untuk menilai status agitasi dan 5
poin untuk menilai status sedasi, dan nilai 0 menunjukkan pasien tidak tersedasi.

Ramsay sedation scale (RSS) merupakan alat ukur sedasi yang banyak digunakan saat
ini. RSS terdiri dari dua kelompok yaitu untuk penilaian level 1,2,3 merupakan penilaian
untuk kondisi pasien terjaga, dan level 4,5,6 merupakan penilaian pada pasien tersedasi.
Tingkatan dari skala RSS memungkinkan penilaian visual agitasi sedasi pada pasien yang
responsif terhadap penilaian tersebut. Skala ini dapat digunakan oleh dokter dan perawat
untuk menilai status sedasi pasien, digunakan sebagai alat untuk membimbing mereka untuk
memastikan kebutuhan perubahan dosis serta obat-obatan sedasi yang digunakan, namun
RSS tidak mampu menentukan tingkat kedalaman sedasi pasien (Dawnson, Fintel, & Nairn,
2010).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status sedasi yang diukur dengan
Richmond Agitation Sedation Scale (RASS) dan Ramsay Sedation Scale (RSS) pada pasien
gagal nafas terhadap lama weaning ventilator di general intensive care unit (GICU) RSUP Dr
Hasan Sadikin Bandung.

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cohort


study prospektif, peneliti akan menguji perbandingan dua instrumen penilaian status sedasi
pada pasien gagal nafas terhadap lama weaning ventilator, dimana peneliti akan memulai
penelitian dengan meneliti variabel independen pada sampel. Penilaian terhadap status sedasi
pasien dilakukan pada hari pertama pasien masuk dan atau hari pertama pasien terpasang

20
ventilator dan mendapat terapi sedasi, kemudian pasien akan diikuti hingga modus ventilator
CPAP atau PS CPAP dengan PEEP 5 cmH2O dan PS 5-8 cmH2O. Penelitian ini
menggunakan pendekatan tekhnik matching berdasarkan jenis sedasi yang digunakan yaitu
midazolam.
Subjek penelitian ini adalah pasien yang dirawat di GICU RSUP dr Hasan Sadikin
Bandung pada bulan Maret hingga Mei 2015 yang memenuhi kriteria penelitian. Kriteria
inklusi pada penelitian ini adalah pasien gagal nafas dengan rentang usia 15 - 65 tahun, GCS
≥ 8, terpasang ventilator dan mendapat terapi Subjek penelitian ini adalah pasien yang
dirawat di GICU RSUP dr Hasan Sadikin Bandung pada bulan Maret hingga Mei 2015 yang
memenuhi kriteria penelitian. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien gagal nafas
dengan rentang usia 15 - 65 tahun, GCS ≥ 8, terpasang ventilator dan mendapat terapi
midazolam. Kriteria ekslusi adalah pasien dengan pemasangan ventilator <48 jam, pasien
yang mendapat obat relaksasi otot, pasien dengan gangguan pada cervical 1- 3, pasien dengan
gangguan pada sistem saraf pusat, pasien dengan riwayat gangguan penglihatan dan
pendengaran, pasien dengan gangguan otot pernapasan. Kriteria drop out pada penelitian ini
adalah pasien yang meninggal sebelum weaning ventilator.

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini dilakukan pada 13 orang pasien yang dirawat di GICU RSUP Dr Hasan
Sadikin Bandung yang terpasang ventilator mekanik dan mendapat terapi sedasi yang telah
memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik responden pada penelitian ini mayoritas usia
responden berada pada rentang 21-40 tahun dan 41-60 tahun masing-masing sebanyak 5
responden, dengan diagnosis medis pasien masuk ke ruangan GICU adalah pasien post
operasi sebanyak 12 orang (92,3%). Sebagian besar responden mendapatkan dosis sedasi 3
mg sebanyak 6 orang (46,2%). Mayoritas kadar Hb responden ≥ 9,5 g/dl sebanyak 7 orang
(53,8%) dan kadar albumin ≥ 2,6 g/dl sebanyak 9 orang (60,9%). Berdasarkan status sedasi,
mayoritas skor RASS awal -3 sebanyak 6 orang (46,2%), skor akhir RASS 0 sebanyak 8
orang (61,5%), skor awal RSS 4 sebanyak 6 orang (46,2%), dan seluruh responden memiliki
skor akhir RSS 2. Seluruh responden yang diukur memiliki karakteristik yang homogen atau
tidak berbeda secara signifikan dengan P value > 0,05 (Tabel 1).

21
Analisis statistik yang digunakan untuk melihat perbedaan rerata skor status sedasi
yang diukur dengan RASS dan RSS pada pasien gagal nafas terhadap lama weaning
ventilator adalah dengan uji wilcoxon dikarenakan data tidak berdistribusi normal. Hasil
penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor pengukuran sedasi dengan
menggunakan RASS pada awal dan akhir dengan nilai significancy 0,001 dan terdapat
perbedaan pengukuran sedasi awal dan akhir yang diukur dengan menggunakan RSS
terhadap lama weaning ventilator dengan nilai significancy 0,002 (p<0,05) dengan alfa 5%
(tabel 2). Berdasarkan hasil tersebut dapat diputuskan bahwa secara statistik terdapat
perbedaan yang bermakna pengukuran status sedasi awal dan akhir yang diukur dengan
RASS pada pasien gagal nafas terhadap lama weaning ventilator.

Analisis perbandingan pengukuran status sedasi Richmond Agitation Sedation Scale dan
Ramsay Sedation Scale pada pasien gagal nafas terhadap lama weaning ventilator dengan
menggunakan uji Friedman. Uji ini dilakukanuntuk menjawab hipotesis penelitian.
Berdasarkan tabel 3 didapatkan nilai p < 0,001 (p lebih kecil dari 0,05) dengan alfa 5% dan
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai pengukuran status sedasi, sehingga
hipotesis penelitian diterima dan dapat disimpulkan bahwa pengukuran tingkat sedasi dengan

22
menggunakan RASS lebih baik dalam mengurangi lama weaning ventilator dibandingkan
RSS. Untuk melihat perbedaan pada masing-masing penilaian maka dilakukan uji post hoc
dengan uji wilcoxon dan didapatkan bahwa terdapat perbedaan pada setiap pengukuran status
sedasi antara skor awal RASS, skor akhir RASS, skor awal RSS dan skor akhir RSS dengan
nilai signifikansi pada setiap pengukuran < 0,05, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan pada setiap pengukuran status sedasi.

Pemantauan status sedasi pada pasien yang terpasang ventilator merupakan suatu
komponen penting untuk meningkatkan pelayanan di rumah sakit. Pemberian sedasi sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan weaning ventilator dan telah dibuktikan oleh beberapa
penelitian. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa pengukuran status sedasi pada awal dan
akhir penggunaan sedasi dengan menggunakan RASS sebagai salah satu alat ukur untuk
menilai status sedasi memiliki perbedaan yang signifikan terhadap lama weaning dengan nilai
P = 0,001 dibandingkan penilaian status sedasi dengan menggunakan RSS (P = 0,002)
dengan alfa 5%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan skala ukur RASS dalam mengukur
status sedasi memiliki perbedaan yang lebih signifikan terhadap lama weaning ventilator
dibandingkan RSS. Pada tabel 3 menunjukkan hasil analisis bivariat dengan uji Friedman
didapatkan perbandingan pengukuran status sedasi dengan menggunakan RASS dan RSS
terhadap lama weaning ventilator memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai p < 0,001.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima yaitu pengukuran status
sedasi menggunakan RASS lebih baik dalam mengurangi lama weaning ventilator
dibandingkan dengan RSS.
Hasil uji post hoc terhadap kedua alat ukur ini menunjukkan terdapat perbedaan pada
setiap pengukuran dengan kedua alat ukur dengan nilai signifcancy p <0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa penggunaan RASS sebagai salah satu alat ukur yang digunakan untuk
memantau status sedasi lebih baik dalam mengurangi lama weaning ventilator dibandingkan
RSS. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Ely et al (2003) dan
Mendes et al (2008). Penelitian yang dilakukan oleh Ely et al (2003) terhadap pasien yang
terventilator didapatkan pasien dengan status sedasi -3 hingga 0 berada pada status sedasi
sedang hingga minimal sehingga pada skor ini pasien dapat dilakukan weaning ventilator dan
ekstubasi. Tindakan weaning ventilator dan ekstubasi pada pengukuran status sedasi dengan
menggunakan RSS dapat dilakukan pada skor 2, yang menunjukkan pasien berada pada dosis
tersedasi minimal ataupun tidak tersedasi (Girard et al, 2008).
Menurut Ely et al (2003) pengukuran status sedasi dengan RASS mampu memisahkan

23
respon verbal dan stimulasi fisik sehingga status agitasi dan sedasi dapat dipisahkan
berdasarkan potensi dari stimulus yang diberikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Mendes et al (2008) terdapat korelasi yang bermakna antara skor RASS dan RSS. RASS
memungkinkan penilaian yang lebih spesifik dikarenakan memiliki tingkatan yang jelas.
Level sedasi yang adekuat pada RSS berada pada skor 2 hingga 4, sedangkan pada RASS
berada pada skor 0 hingga -3. Level sedasi yang adekuat memiliki korelasi positif dengan
probabilitas kehidupan. Skor sedasi RSS ≥ 5 dan RASS ≥ 4 memiliki korelasi yang positif
terhadap kematian dengan nilai AUC > 0,78.
Menurut Ismaeil et al (2014), kejadian gagal ekstubasi pada pasien yang tersedasi
terjadi pada pasien dengan skor >2. Hal ini terjadi sebagai akibat dari belum berfungsinya
sistem pernapasan dengan baik sebagai akibat dari pemberian sedasi. Menurut Jakob et al
(2007), status sedasi sangat berpengaruh terhadap lama penggunaan ventilator, kejadian VAP
dan dapat meningkatkan lama hari rawat.
RSS memiliki kekurangan yaitu kurangnya level pengukuran agitasi yang berpengaruh
terhadap penentuan pemberian dosis sedasi, selain itu level status sedasi pada RSS tidak
memiliki level yang jelas terhadap status sedasi, sehingga status sedasi pasien tidak dapat
terpantau dengan baik (Ramsay et al, 2002; Walsh, Ramsay, & Kinnunen, 2008). RASS
mampu mengukur kualitas serta tingkat sedasi dikarenakan RASS memiliki nilai psikometrik
interrater reliability dan validity yang paling tinggi dibandingkan skala sedasi yang lain serta
mampu membedakan tingkatan sedasi pada berbagai kondisi klinis (Barr et al, 2013). RASS
memiliki tingkatan khusus dalam mengukur status sedasi, sehingga dapat dijadikan dasar
untuk titrasi sedasi (Seidabady, et al, 2014). RASS memiliki penilaian yang lebih spesifik
terhadap status sedasi sehingga dapat mempersempit penilaian subjektif yang dihasilkan oleh
tim penilai (Rassinet al, 2007).
Menurut Seidabady et al (2014), RSS lebih sering digunakan karena memiliki 6
tingkatan untuk mengukur status agitasi sedasi. Namun RSS memiliki kelemahan karena
tidak mampu mengukur level atau kedalaman sedasi, sehingga tidak dapat dijadikan dasar
yang pasti untuk melakukan titrasi sedasi. Hal ini berarti penilaian RSS lebih subjektif
dibandingkan RASS, sehingga RASS lebih baik digunakan untuk menilai status sedasi pada
pasien yang terpasang ventilator. RASS dirancang dengan cara memiliki definisi yang tepat
dan jelas untuk status sedasi dan tergantung kepada evaluasi kesadaran dengan menilai reaksi
sederhana yang muncul meliputi respon membuka mata, kontak mata dan gerakan fisik,
sedangkan pengukuran status sedasi dengan menggunakan RSS tidak menunjukkan respon
yang cukup jelas terhadap penilaian yang dilakukan (Tadrisi et al, 2009). RASS menunjukkan
nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi dalam mengukur status sedasi pada pasien yang
mendapat terapi sedasi continuous yang telah diuji pada beberapa kelompok pasien ICU yang
terpasang ventilator mekanik (Sessler et al, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Prottengeier, Moritz, Heinrich, Gall, & Schmidt (2014), pada
pasien yang mendapat terapi sedasi didapatkan skor RASS memiliki korelasi yang sangat
baik terhadap bispectral indeks (BIS) EEG dengan nilai sensitifitas 0,97 (CI 0,89-1,00) dan
nilai positive predictive value 0,59 (CI 0,45-0,71). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
Consales, Chelazzi, Rinaldi, & De Gaudio (2006) pada pasien yang mendapat terapi sedasi
didapatkan bahwa skor RSS memiliki korelasi yang baik dengan BIS EEG dengan nilai
sensitifitas 0,75. Hal ini menunjukkan bahwa RASS memiliki korelasi yang lebih baik
terhadap penilaian BIS EEG dibandingkan RSS. Adanya korelasi yang sangat baik antara
RASS dan BIS menunjukkan bahwa RASS dapat dijadikan salah satu alat ukur yang paling
tepat dan akurat untuk mengukur status sedasi pasien gagal nafas yang terpasang ventilator.
RASS memiliki korelasi yang sangat baik dengan nilai Glasgow Comma Scale (GCS)
dengan nilai r 0,91, nilai GCS < 9 berkorelasi dengan skor RASS -3 sampai dengan -5 dan
nilai GCS ≥ 9 berkorelasi dengan skor RASS -2 sampai dengan 0 (Ely et al, 2003; Rassin el

24
al, 2007). Sehingga penggunaan RASS sebagai salah satu alat ukur status sedasi dapat
dijadikan suatu indikator status kesadaran pasien. Evaluasi yang sistematis dari status sedasi
dan analgetik merupakan dasar dari pengobatan dan perawatan pada pasien kritis (Martin et
al, 2010; Lutz & Spies, 2011). Pemantauan status sedasi dengan menggunakan RASS dapat
mengurangi lama penggunaan ventilator dan lama hari rawat di ICU (Martin et al, 2010).
Pengkajian status sedasi pada pasien yang terpasang ventilator merupakan salah satu
komponen penting, selain itu pengukuran status sedasi memiliki peranan yang sangat penting
dalam komunikasi antara tim kesehatan yang berada di ICU. Hal ini penting untuk mencegah
penggunaan sedasi yang berlebih, serta meminimalisir ketidaknyamanan dan nyeri, selain itu
pengkajian status sedasi juga dijadikan sebagai salah satu indikator weaning ventilator
(Conti et al, 2014).

Simpulan dan Saran


Pengukuran status sedasi dengan RASS lebih baik dalam mengurangi lama weaning
ventilator dibandingkan dengan RSS.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang,


Ketua Jurusan, Ketua Prodi, keluarga, mitra sejawat, responden, dan semua pihak yang
terlibat dalam penelitian ini.
American Association of Nurse Anaesthetists. (2008). Scope and standards for nurse
anesthesia practice.

Barr, J., Fraser, G. L., Puntillo, K., Ely, E. W., Gélinas, C., Dasta, J. F., ... & Jaeschke, R.
(2013). Clinical practice guidelines for the management of pain, agitation, and delirium
in adult patients in the intensive care unit: Executive summary. Am J Health Syst Pharm,
70(1), 53-58.
Boles, J. M., Bion, J., Connors, A., Herridge, M., Marsh, B., Melot, C., ... & Welte, T.
(2007). Weaning from mechanical ventilation. European Respiratory Journal, 29(5), 1033
1056.

Brandl, K. M., Langley, K. A., Riker, R., Dork, L. A., Qualls, C. R., & Levy, H. (2001).
Confirming the Reliability of the Sedation‐Agitation Scale Administered by ICU Nurses
without Experience in Its Use. Pharmacotherapy: The Journal of Human Pharmacology and
Drug Therapy, 21(4), 431-436.

Brattebo, G., Hofoss, D., Flaatten, H., Muri, A. K., Gjerde, S., & Plsek, P. E. (2002). Quality
improvement report: Effect of a scoring system and protocol for sedation on duration of
patients' need for ventilator support in a surgical intensive care unit. BMJ: British Medical
Journal, 324(7350), 1386.

Consales, G., Chelazzi, C., Rinaldi, S., & De Gaudio, A. R. (2006). Bispectral Index
compared to Ramsay score for sedation monitoring in intensive care units. Minerva
anestesiologica, 72(5), 329-336.

Conti, G., Mantz, J., Longrois, D., & Tonner, P. (2014). Sedation and weaning from
mechanical ventilation: time for ‘best practice’to catch up with new
realities?. Multidisciplinary respiratory medicine, 9(1), 45.

25
Dawson, R., Fintel, N. V., & Nairn, S. (2010). Sedation assessment using the Ramsay scale:
Rachel Dawson and colleagues review the reliability of tools for assessing sedation and how
these differ from methods of measuring consciousness. Emergency Nurse, 18(3), 18-20.

Ely, W. E., Truman, B., Shintani, A., Thomason, J. W., Wheeler, A. P., Gordon, S., et al.
(2003). Monitoring Sedation Status Over Time in ICU Patients. Intensive Care medicine,
289(22). doi:10.1001/jama.289.22.2983.

Franca, S. A., Toufen Junior, C., Hovnanian, A. L. D., Albuquerque, A. L. P., Borges, E. R.,
Pizzo, V. R., & Carvalho, C. R. R. (2011). The epidemiology of acute respiratory failure in
hospitalized patients: a Brazilian prospective cohort study. Journal of critical care, 26(3),
330-e1.

Grap, M. J., Munro, C. L., Wetzel, P. A., Best, A. M., Ketchum, J. M., Hamilton, V. A., ... &
Sessler, C. N. (2012). Sedation in adults receiving mechanical ventilation: Physiological and
comfort outcomes. American Journal of Critical Care, 21(3).

Hernandez-Gancedo, C., Pestana, D., Pena, N., Royo, C., Perez-Chrzanowska, H., & Criado,
A. (2006). Monitoring sedation in critically ill patients: bispectral index, Ramsay and
observer scales. European journal of anaesthesiology, 23(08), 649-653.

Ismaeil, M. F., El-Shahat, H. M., El-Gammal, M. S., & Abbas, A. M. (2014). Unplanned
versus planned extubation in respiratory intensive care unit, predictors of outcome. Egyptian
Journal of Chest Diseases and Tuberculosis,63(1), 219-231.

Jakob, S. M., Lubszky, S., Friolet, R., Rothen, H. U., Kolarova, A., & Takala, J. (2007).
Sedation and weaning from mechanical ventilation: effects of process optimization outside a
clinical trial. Journal of critical care, 22(3).

Lutz, A., & Spies, C. (2011). ICU delirium: Consequences for management of analgesia and
sedation in the critically ill. Anasthesiologie, Intensivmedizin, Notfallmedizin,
Schmerztherapie: AINS, 46(9), 568-572.

Martin, J., Heymann, A., Bäsell, K., Baron, R., Biniek, R., Bürkle, H., ... & Spies, C. (2010).
Evidence and consensus-based German guidelines for the management of analgesia, sedation
and delirium in intensive care– short version. GMS German Medical Science, 8.

Prottengeier, J., Moritz, A., Heinrich, S., Gall, C., & Schmidt, J. (2014). Sedation assessment
in a mobile intensive care unit: a prospective pilot-study on the relation of clinical sedation
scales and the bispectral index. Critical Care, 18(6), 615

Randen, I., & Bjørk, I. T. (2010). Sedation practice in three Norwegian ICUs: a survey of
intensive care nurses’ perceptions of personal and unit practice.Intensive and Critical Care
Nursing, 26(5), 270-277.

Seidabady, M., Mofrad, M. N., & Zayeri, F. (2014). A Study of Correlation between Ramsay

26
“Sedation Level” Scale and Richmond “Agitation–Sedation”Scale and Physiological
Parameters to Determine the Need for Sedation in Patients Undergoing Mechanical
Ventilation. Biosciences Biotechnology Research
Asia. Vol. 11(2)

Tadrisi, S. D., Madani, S. J., Farmand, F., Ebadi, A., Karimi Zarchi, A. A., Saghafinia, M., ...
& Motahedian, T. E. (2009). Richmond Agitation-Sedation Scale Validity And Reliability In
Intensive Care Unit Adult Patients; Persian Version. Iranian Journal of Critical Care
Nursing (IJCCN).

Walker, N & Gillen, P. (2006). Investigating nurses’ perceptions of their role in managing
sedation in intensive care: an exploratory study. Intensive Crit Care Nurs ;22:338—45.

27
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan


pertukaran oksigen dan karbondioksida yang dapat mengakibatkan gangguan pada
kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2009). Gagal napas merupakan kondisi di
mana kadar oksigen yang masuk ke dalam darah melalui paru sangat rendah.
Sementara itu, untuk bekerja dengan baik, organ tubuh seperti jantung dan otak
memerlukan darah yang kaya oksigen. Penyebab terpenting dari gagal nafas adalah
ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas.

B. Saran

Dalam melakukan penanganan gagal nafas, terutama dalam penanganan A


(mempertahankan jalan nafas) harus diperhatikan posisi tidur pasien, yaitu dalam
posisi sniffing position, dengan cara posisi terlentang dengan meletakkan ganjalan
dibawah bahu. Posisi yang tepat dapat dapat mencegah jatuhnya lidah kebelakang
sehingga dapat menekan dinding farink bagian belakang yang akan menutupi jalan
nafas.

Dalam penanganan B (pemberian bantuan pernafasan) harus diperhatikan


cara memberikan VTP secara tepat, yaitu tekanan positif diberikan sesuai dengan
irama pernafasan penderita, yaitu saat terjadinya inspirasi.

28
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Nurarif Huda Amin dan Hardhi Kusuma . 2015 Aplikasi Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis NANDA&NIC-NOC. Jogjakarta:Mediaction Jogja

Herdman Heater. T dan Shigemi Kamitsuru. 2018 . NANDA International nursing


diagnoses: definitions and classification 2018-2010. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC

Right Global Elseiver dan Langford Lane 2016 . Nursing Intervention Classification (NIC).
Singapore : Elseiver Singapore Pte Ltd

Right Global Elseiver dan Langford Lane 2016 . Nursing Outcomes Classification (NOC).
Singapore : Elseiver Singapore Pte

Delli . H, arifin.M.Z dan Fatimah.S .2017 Perbandingan Pengukuran Status Sedasi Richmon
Agitation Sedation Scale (Rass) dan Ramsay Sedation Scale (Rss) Pada Pasien Gagal Nafas
Terhadap Lama Weaning ventilator di gicu RSUP dr.Hasan Sadikin bandung. Jurnal Risel
Kesehatan. 6 (1), 32 - 39

Grippi MA, Elias JA, Fishman JA, Kotloff R, Pack AI, Senior RM. Fishman’s Pulmonary
Diseases and Disorders. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 2015

29