Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN HASIL PRAKTIK INDUSTRI PADA

PT.CENDANA MAKMUR MANDIRI

DISUSUN OLEH :

NAMA : SALALLUDIN .A
NIS : 2037
KELAS : XI TM
TAHUN PELAJARAN : 2010/2011

YAYASAN PENDIDIKAN MUTIARA


SMK MUTIARA 2 NATAR
LAMPUNG SELATAN
2010
LAPORAN HASIL PRAKTIK INDUSTRI PADA
PT.CENDANA MAKMUR MANDIRI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) pada SMK
Mutiara 2 Natar

DISUSUN OLEH :

NAMA : SALALLUDIN .A
NIS : 2037
KELAS : XI TM
TAHUN PELAJARAN : 2010/2011

YAYASAN PENDIDIKAN MUTIARA


SMK MUTIARA 2 NATAR
LAMPUNG SELATAN
2010
i
LAPORAN HASIL PRAKTIK INDUSTRI PADA
PT.CENDANA MAKMUR MANDIRI

NAMA : SALALLUDIN ALAYUBI


NIS : 2037
KELAS : XI TM
TAHUN PELAJARAN : 2010/2011

TELAH DISAHKAN DAN DIUJI


Pada Hari :………………………….
Tanggal :………………………2010

Pembimbing Laporan Koordinator Praktik Industri/PSG

( nurana ) (…………………….)

Mengetahui
Kepala SMK Mutiara 2 Natar

JONI SULAIMAN DARONI, ST.

ii
LAPORAN HASIL PRAKTIK INDUSTRI PADA
PT.CENDANA MAKMUR MANDIRI

DISUSUN OLEH :

NAMA : SALALLUDIN .A
NIS : 2037
KELAS : XI TM
TAHUN PELAJARAN : 2010/2011

Pembimbing I Pembimbing II

(…………………….) (………………)

YAYASAN PENDIDIKAN MUTIARA


SMK MUTIARA 2 NATAR
LAMPUNG SELATAN
2010
iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah swt yang telah memberikan rahmat
dan hidayahnya kepada kami sehingga sampai saat ini kami masih dapat menghirup
dan melihat alam semesta ini,dan atas nikmt kesehantanNYA baik jasmani maupun
rohani sehigga kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan tanpa kendala.
Tujuan penyusunan buku pedoman ini adalah untuk mempermudah dan
memperlancar pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda melalui Praktik Industri.
Dengan adanya buku ini diharapkan para siswa, guru pembimbing, pembimbing
industri mempunyai misi yang sama, sehingga keterkaitan dan kesesuaian antara
SMK dan dunia usaha / industry dapat di selaraskan guna menghasilkan Sumber
Daya Manusia yang memenuhi selera pasar.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat langsung dalam
penyiapan dan penyusunan buku ini. Kritik dan saran sangat da harap kan demi
pelaksanaan Praktik Industri (PI).
Laporan ini disusun berdasarkan hasil praktek yang telah dilaksanakan di PT
Sunter Inti Megah Pada kesempatan ini saya mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Joni Sulaiman Daroni ST selaku kepala SMK Mutiara 2 Natar dan
selaku ketua program keahlian teknik mesin produksi.
2. Ibu Nurana Selaku guru pembimbing penulisan laporan SMK Mutiara 2
Natar.
3. Bapak Dulaga pandiangan yang telah menerima kami dan mengizinkan
kami untuk belajar mengenai permesinan
4. Bapak Rusmin selaku pembimbing dibengkel PT Sunter Inti Megah yang
telah memperkenankan kami melaksanakan praktik industri di
5. Para karyawan PT cendana makmur mandiri yang telah bekerja sama dan
memberikan pengetahuan yang berguna bagi kami dalam melaksanakan
praktik industri.
6. Segenap dewan guru yang telah mendukung sehingga laporan ini dapat
tersusun.
7. Segenap rekan-rekan yang telah memberikan masukan. Yang positif

iv
MOTTO

� “ jangan pernah melakukan kesalahan yang sudah


kita lakukan untuk yang ke dua kalinya

�“ Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.


Maka apabila kamu telah salesai (dari suatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap “
(QS : Al Insyiqaaq : 6 - 8)

�janganlah kita menyelesaikan masalah selalu dengan


kekerasan,karena sesungguhnya tidak selamanya
kekerasan dapat menyelesaikan masalah,bersikaplah
sabar n tawakal dalam menghadapi masalah

v
IDENTITAS SISWA

NAMA LENGKAP : YULIZMAN


NIS : 2042
AGAMA : ISLAM
SEKOLAH : SMK MUTIARA 2 NATAR
JURUSAN : TEKNIK MESIN
ALAMAT SEKOLAH : Jln.raya natar desa pemanggilan
LAMPUNG SELATAN

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A Latar Belakang Pelaksanaan PI

Pelaksanaan apraktik industri (PI) sebagai wujud kebijakan link and match,
proses di laksanakan pada dua tempat, aspek normatife kurikulum SMK akan di
pelajari oleh peserta didik di sekolah. Sedangkan aspek produktife yang lebih ditekan
pada orientasi pasar dilakasanakan didunia usaha / industriDU / DI.

Upaya ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu SMK dan


tamatannya, sehingga tercapai relevansi serta adanya pendidikan dengan lembaga
yang membutuhkan tenaga kerja.

Penyelenggaraan praktik di industri diupayakan agar siswa SMK memiliki


kemampuan yang diharapkan dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia
(SDM), kemampuan yang dimaksud meliputi pengorganisasian dan implementasi
pekerjaan, komunikasi dan kerjasama, penerapan teknik dan metode kerja serta
kemandirian dan tanggung jawab.

Untuk mendeteksi perkembangan siswa yang mengikuti praktik industry


diperlukan suatu perangkat yang dapat memberikan informasi kepada siswa,
pembimbing industry .

B. Tujuan Pelaksanaan PI

Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaksanaan PI itu banyak tujuanya,baik it


yang bersifat umum maupun bersifat khusus.Tujuan pelaksanaan PI adalah untuk
memberikan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap bidang / keahlian yang telah
dipelajari disekolah.Selain itu pelaksanaan PI juga bertujuan untuk :
1. Menambah wawasan
2. Lebih creative
3. Lebih mandiri
4. Lebih bertanggung jawab
5. Lebih disiplin
6. Untuk memberikan motivasi
7. Menambah mental, dan
8. Menjadi siswa yang lebih siap untuk bersaing didunia industry

1
BAB II
KEGIATAN PELAKSANAAN PI

A.Program Umum

1.Sejarah Singkat perusahaan

Pt.Cendana makmur mandiri berdiri pada tahun 2007 dijalan soekarno hatta
no.16 Bandar Lampung oleh Bapak Juprius,Ibu surya maryati, dan Bapak Yazid
sebagai pemilik saham perusahaan PT. Cendana Makmur Mandiri

2
2.managemen umum perusahaan
Presiden Komisaris
H.JUPRIUS SE
a.struktur organisasi`
Komisaris
H.Yazid SAS

Direktur
H.Surya Maryati SE
Sekretaris
Yusron Syaihidia

General Manager
H.Yazid SAS

Adm/keuangan Gudang Air Marketing Service Fabrikasi


Ferti Riyana,Amd
Yusnaini 1.Ferti riyana 1.Sugiri ST Budi Santoso suharno
2.Yusnaini 2.Yusran Syahida
3.sukirman
Personalia Satpam 4.Heri Mekanik Operator
Yusnaini SE 1.suparlan 1.Budi Santoso 1.suhamo
2.Ali mastam 2.Aminudin 2.Manimbul
3.sarmadi 3.Andreas
Perpajakan 4.suraja 4.Yulianto
Mujiman SE 5.Hery Driver 5.Supriyanto
6.Thamrin 1.Rohim 6.Syamsudin
2.Zulkifli 7.Edi Irawa
Kasir 3.Paroni
Ferti Riyana,Amd
Maintenance
Tranggono
b.sistem penerimaan kerja

PT Cendabna Makmur Mandiri memiliki sistempenerimaan kerja yang


sangat ketat,dimana para karyawan harus mengikuti beberapa prosedur dan
persyaratan yang berlaku,seperti :
a.Mengikuti tes
b.melampirkan foto kopy identitas
c.harus mematuhi tata tertib yang berlaku
d.harus mempunyai skil dan kreativitas dalam bekerja
e.harus mempunyai tanggung jawab yang besar dalam
menjakankan tugasnya
f.harus bekerjasama dengan karyawan lain

4
c. bengkel

2 3 4 5
11

1 6

12
9 8 7

13 10
Pintu in -
out

Keterangam :
1.mesin bubut
2.mesin bubut 2
3.mesin bubut 3
4.mesin tres
5.mesin tres
6.mesin bubut 4
7.mesin bubut
8.mesin las
9.mesin las
10.mesin bor
11.ruang ganti
12.wc
13.gudang

5
c.denah situasi bengkel

bunderan raden intan

tanjung karang Jln.raya natar

panjang

UNILA

LOKASI

6
d.Identitas alat bengkel

PT cendana makmur mandiri memiliki alat hamper semuanya produk


ekspor,tp ada juga yang sebagian produk impor.seperti software atau perangkat lunak
itu ada yang dari import dan ada juga yang eksport

7
jenis mesin fris;

1. Fris tangan

Jenis ini paling sederhana dari mesin Fris, karena dapat dioperasikan dengan
tangan. Digunakan untuk operasi Fris ringan dan sederhana

2. Fris datar

Mesin ini mirip dengan mesin Fris tangan kecuali bahwa konstruksinya lebih
kuat dan dilengkapi dengan mekanisme hantaran daya.

3. Fris Universal

Merupakan mesin ruang perkakas yang dikonstruksikan untuk pekerjaan


sangat teliti.Mesin ini mirip mesin fris datar.

4. Fris vertical

Mesin ini mempunyai perjalanan aksial yang pendek untuk memudahkan


pengefrisan bertingkat.

5. Fris jenis penyerut

Mesin ini sesuai dengan namanya mirip dengan penyerut, dimana dibawa
pada meja panjang yang hanya mempunyai gerakan longitudinal, dan dihantarkan
terhadap pemotong putar pada kecepatan yang sesuai.

6. Fris dari jenis bangku tetap

Adalah mesin produksi dari konstruksi yang kasar. Bangkunya adalah benda
cor yang kaku dan berat, fungsinya penyangga meja kerja. Mesin ini hanya memiliki
gerakan longitudinal.
7. Pusat permesinan

Adalah mesin yang dirancang untuk produksi barang kecil sampai besar.
Mesin ini meskipun mahal namun dapat menggantikan mesin yang lain. Kendali
numeris memberikan sedikit dampak pada permesinan sesungguhnya.

8. Fris meja putar

Mesin ini operasinya kontinu dan terdapat waktu yang luas bagi operator
untuk menaikkan dan menurunkan putaran mesin selama pengefrisan.

9. Fris planet

Digunakan untuk memfris luas maupun dalam dan permukaan dari ulir
pendek. Pada benda kerja dipegang stasioner dan semua gerakan yang diperlukan
untuk memotong dilakukan oleh pemotong Fris.

10. Fris profil

Fris profil tangan mempunyai pemotong putar, gerakannya dikendalikan oleh


gerakan tangan dari meja. Gerakan ini dipandu dengan menggerakkan meja sehingga
pena pemandu bersinggungan dengan suatu bentuk atau pola.

11. Fris duplikat

Mesin ini memproduksi sebuah suku cadang dan sebuah model tanpa
pengecilan atau pembesaran ukuran. Model atau pola yang digunakan dalam
pekerjaan ini terbuat dari kayu keras, plester pernis, lilin atau bahan lain yang mudah
dikerjakan.
12. Fris ulir panthograf

Mesin ini menggunakan sambungan panthograf, digunakan untuk


memproduksi dari sebuah pola pada skala yang diperbesar atau diperkecil. Operator
mmengendalikan mesin melalui tekanan ringan dari jari-jari kepada jarum sayat
pencari jejak. Setiap gerakan dari jarum pencari jejak ditirukan tepat sama kepada
benda kerja.

perlengkapan fris;

* Arbor

adalah tempat memasang/memegang pisau frais pada setiap mesin, sepanjang


arbor dibuat alur pasak yang sama ukurannya dengan alur pasak yang terdapat pada
ring penjepit pahat yang juga sesuai dengan alur pasak yang terdapat pada pahat frais,
arbor juga dinamakan poros frais yaitu perlengkapan yang berguna sebagai tempat
kedudukan pisau frais dan ditempatkan pada sumbu mesin, bentuk alat ini bulat
panjang dan sepanjang badannya diberi alur spie (pasak), bagian ujungnya berbentuk
tirus dan ujung lainnya berulir, poros ini dilengkapi dengan cincin (ring penekan)
yang dinamakan collar.

* cutter (pisau)

Pisau ini mempunyai bermacam-macam bentuk disesuaikan dengan


kebutuhan sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kegunaannya,
misalnya pisau frais roda gigi yaknipisau khusus untuk memfrais alur-alur roda-roda
gigi, pisau frais mantel di mana sisi-sisi pemotongnya hanya terdapat pada mantel
(keliling)nya saja, pisau frais jari yakni pisau frais yang kecil dan ramping bertangkai
kecil dipasang pada ujungnya pada mesin frais vertikal. Fisau frais kepala hampir
serupa dengan pisau mantel yang sisi pemotongnya ditambah pada salah satu muka
dan lubang arbornya di bagian yang bersisi pemotong dibuat bertingkat. Pisau frais
sudut di mana sisi-sisi pemotongnya membentuk sudut yang lebih kecil dari 900 atau
disebut juga pisau sudut. Pisau frais cekung dan cembüng berbentuk cekung dan
cembung, untuk membuat alur setengah bulat (menonjol dan berbentuk alur), pisau
frais gergaji untuk membuat alur-alur pada benda kerja. Macam-macam bentuk pisau
frais adalah sebagai berikut:
* Kepala lepas

Pekerjaan yang akan dikerjakan pada mesin frais dapat diikat dengan cekam
seperti halnya pada mesin bubut atau ditempelkan pada meja frais dengan jalan
mengklem pada alur meja dengan menggunakan baut-baut berkepala segi empat.
sedangkan untuk memfrais alur pasak. roda gigi urus, alur helix atau segi banyak
beraturan, benda kerjanya dipegang antara dua senter, salah satu antaranya pada
kepala lepas

* Kepala pembagi

Benda kerja dapat dipasang antara dua senter, satu senter dipasang dalam
lubang dalam spindel kepala pembagi dan senter lainnya dipasang pada kepala
lepas,.untuk menahan benda kerja yang panjang biasanya digunakan kepala lepas.
Untuk membuat roda-roda gigi segi banyak beraturan, alur-alur poros digunakan
kepala pembagi kebanyakan roda cacing yang terdapat pada kepala pembagi bergigi
40 dan poros cacing berulir tunggal sehingga untuk memutar satu putaran benda kerja
memerlukan engkol diputar 40 kali. Kepala pembagi ini berfungsi untuk membuat
pembagian atau mengerjakan benda kerja yang berbidang-bidang tadi dalam sekali
pemakaian. Macam kepala pembagi ada 4 yakni: pembagian langsung, pembagian
sederhana, pembagian sudut, pembagian diferensial

* Meja Putar

Untuk mesin frais tegak/vertikal digunakan meja putar sebagai kepala


pembaginya. Dalam alat ini dibuat alur T untuk menambahkan/menjepit benda kerja
atau perkakas lain dengan bantuan baut jepit. Meja putar keliling dapat di kokohkan
di atas meja penambat mesin frais dengan bantuan baut penjepit.

* Ragum (penjepit BK)

Ragum digunakan untuk menjepit benda kerja, karena ukuran dan bentuk
benda kerja berbeda-beda maka disediakan juga bermacam-macam ragum. Ragum
datar dipakai untuk pekerjaan ringan, ragum pelat dipakai untuk pekerjaan berat pada
mesin besar, ragum busur pada alas ragum terdapat skala indeks sudut, sudut rahang
benda kerja dapat disetel dalam arah horisontal sebesar sudut tertentu. Ragum
universal sudut rahangnya dapat distel dalam arah horisontal dan vertikal sebesar
sudut tertentu
prinsip kerja fris

Milling (Fris) adalah proses menghilangkan/pengambilan fatal-fatal dari


bahan atau benda kerja dengan pertolongan dari alat potong yang berputar dan
mempunyai sisi potong, kecuali pahat potong yang bersisi tunggal yang juga
digunakan.

Mesin Milling adalah mesin perkakas untuk mengerjakan atau menyelesaikan


suatu benda kerja dengan mempergunakan pisau Milling (cutter) sebagai pahat
penyayat yang berputar pada sumbu mesin. Mesin Milling termasuk mesin perkakas
yang mempunyai gerak utama yang berputar, Pisau Fris dipasang pada
sumbu/arbormesin yang didukung dengan alat pendukung arbor, jika arbor mesin
berputar melalui suatu putaran motor listrik maka pisau Fris akan ikut berputar, arbor
mesin dapat ikut berputar kekanan dan kekiri sedangkan banyaknya putaran dapat
diatur sesuai kebutuhan.

Prinsip kerja dari mesin Fris yaitu pahat potong/pemotong Fris melakukan
gerak rotasi dan benda kerja dihantarkan pada pemotong Fris tersebut.

CARA KERJA MESIN SEKRAP

Pengertian Mesin sekrap

Mesin sekrap (Shaping Machine) adalah mesin perkakas yang mempunyai


gerak utama bolak-balik horizontal dan berfungsi untuk merubah bentuk dan ukuran
benda kerja sesuai dengan yang dikehendaki, (Amstead, 1955). Pahat bekerja pada
saat gerakan maju, dengan gerakan ini dihasilkan pekerjaan, seperti :
a.Meratakan bidang : baik bidang datar, bidang tegak maupun bidang miring.
b.Membuat alur : alur pasak, alur V, alur ekor burung, dsb.
c.Membuat bidang bersudut atau bertingkat.
d.Membentuk : yaitu mengerjakan bidang-bidang yang tidak beraturan.
Macam-macam Mesin Sekrap :

Berikut ini macam-macam dari mesin sekrap.

a.Menurut cara kerjanya :

1). Mesin sekrap biasa, dimana pahat sekrap bergerak mundur maju menyayat benda
kerja yang terpasang pada meja mesin.
2).Planer, dimana pahat (diam) menyayat benda kerja yang dipasang pada meja mesin
dan bergerak bolak-balik.
3).Sloting, dimana gerakan pahat adalah vertical (naik-turun), digunakan untuk
membuat alur pasak pada roda gigi dan pully.

b.Menurut tenaga penggeraknya :

1).Mesin sekrap engkol : gerak berputar diubah menjadi gerak bolak-balik dengan
engkol.
2).Mesin sekrap hidrolik : gerak bolak-balik lengan berasal dari tenaga hidrolik.

Ukuran-ukuran Utama Mesin Sekrap

Ukuran utama sebuah mesin sekrap ditentukan oleh :

a.Panjang langkah maksimum.


b.Jarak maksimum gerakan meja mesin arah mendatar.
c.Jarak maksimum gerkan meja mesin arah vertical (naik turunnya meja).

Cara Kerja Mesin Sekrap

Pada mesin sekrap, gerakan berputar dari motor diubah menjadi gerak
lurus/gerak bolak-balik melalui blok geser dan lengan penggerak. Possisi langkah
dapat diatur dengan spindle posisi dan untuk mengatur panjang langkah dengan
bantuan blok geser.

Nama-nama Bagian Mesin Sekrap

1.Support/eretan tegak
2.Pelat pemegang pahat
3.Tool post/penjepit pahat
4.Ragum
5.Meja
6.Penjepit
7.Tuas kedudukan eretan
8.Tuas kedudukan langkah
9.Lengan
10.Rangka
11.Tombol On-Off
12.Tuas penjalan
13.Tuas pengtur kecepatan
14.Pengatur jarak langkah
15.Motor
16.Eksentrikpenggerak
17.Eretan meja arah
18.Eretan meja arah tegak

Definisi
3.1 Mikrometer luar Alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar dengan
cara
membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu sebuah
muka ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan
sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat
bergerak tegak lurus terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan
thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle.

3.2 Mikrometer dalam jenis tubular (mikrometer dalam dua-titik) Alat ukur
yang
dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua muka
ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang
terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak
pada ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan
dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai
dengan pergerakan spindle.

3.3 Kepala mikrometer Alat ukur yang dapat mengukur pergerakan spindle-
nya
yang bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi dengan sleeve dan
thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle
serta dilengkapi bagian dudukan.

3.4 Kesalahan penunjukan Nilai penunjukan mikrometer dikurangi nilai


sesungguhnya.
3.5 Setting bar Batang logam dengan dua permukaan rata sejajar, atau
dua
permukaan sferis, dengan panjang tertentu di antara kedua permukaannya,
Halaman 1yang digunakan untuk mengatur posisi pengukuran minimum sebuah
mikrometer luar yang nilai pengukuran minimumnya lebih besar dari 0 mm.

4 Komponen
4.1 Nama bagian-bagian utama mikrometer diuraikan dalam Gambar 4.1, 4.2, dan
4.3

[gambar mikrometer dalam]


Gambar 2. Mikrometer Dalam
[gambar kepala mikrometer]
Gambar 3. Kepala Mikrometer

5 Prinsip Kalibrasi
5.1 Pengukuran kerataan muka ukur dilakukan dengan perbandingan
terhadap
sebuah standar kerataan optis (optical flat) dengan menggunakan prinsip
interferensi cahaya.

5.2 Pengukuran kesejajaran muka ukur dapat dilakukan dengan dua cara:
dengan
perbandingan terhadap standar kesejajaran (optical parallel), atau dengan
sebuah balok ukur yang dipindah-pindah posisinya.

5.3 Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer dilakukan dengan


perbandingan terhadap seperangkat balok ukur (gauge block).
6 Persyaratan Kalibrasi
6.1 Kalibrasi dilakukan dalam suhu 20 °C ± 1 °C dan kelembaban relatif 55

10 %

6.2 Untuk pemeriksaan digunakan optical flat atau optical parallel


dengan
kerataan kurang dari 0,1 μm.

6.3 Untuk pemeriksaan kesejajaran digunakan optical parallel dengan


keratann
kurang dari 0,1 μm dan kesejajaran kurang dari 0,2 μm, dan/atau gauge block
Kelas 0 atau Kelas 1 (ISO3650) atau yang setara.

6.4 Untuk pengukuran kesalahan penunjukan digunakan balok ukur Kelas 0


atau
Kelasi 1 (ISO 3650) atau yang setara.

7 Prosedur Kalibrasi

7.1 Pengukuran kerataan muka ukur mikrometer luar dan


mikrometer
kepala

7.1.1 Letakkan sebuah optical flat atau optical parallel pada permukaan
ukur.
Hitung banyaknya garis interferensi merah yang timbul dari cahaya putih pada
permukaan kontak muka ukur. Satu garis merah dapat diasumsikan sama
dengan 0,3 μm.

7.1.2 Lakukan pemeriksaan kerataan pada kedua muka ukur.

Pengukuran kesejajaran muka ukur mikrometer luar

Menggunakan Optical Parallel

7.2.1.1 Letakkan sebuah optical parallel, atau gabungan sebuah balok


ukur yang
diapit dua optical parallel, pada muka ukur tetap sedemikian sehingga pola
interferensi menjadi satu warna saja atau timbul pola kurva tertutup.
Kemudian putar ratchet hingga muka ukur spindle merapat pada permukaan
optical flat. Hitung banyaknya garis interferensi merah yang timbul dari
cahaya putih pada permukaan kontak muka ukur spindle.

7.2.1.2 Lakukan pemeriksaan di atas sedikitnya pada empat nilai ukur,


masing-masing
terpaut ¼ putaran spindle.
Menggunakan Balok Ukur

7.2.2.1 Letakkan sebuah balok ukur di tengah kedua muka ukur dan putar
ratchet,
lakukan pembacaan. Berikutnya lakukan hal yang sama, dengan posisi balok
ukur di empat tepi muka ukur. Hitung selisih pembacaan yang terbesar.

Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer luar

7.3.1 Putar ratchet hingga spindle berada pada posisi ukur terkecil1. Atur
posisi
sleeve agar penunjukannya sesuai dengan nilai ukur tersebut. Letakkan balok
ukur atau gabungan balok ukur di antara kedua muka ukur, lalu putar ratchet
hingga muka ukur berhimpit dengan balok ukur2. Hitung selisih antara
penunjukan mikrometer dengan panjang balok ukur.

7.3.2 Lakukan pengukuran pada Klausul 7.3.1 dengan beberapa ukuran


balok ukur
atau gabungan balok ukur. Ukuran balok ukur atau gabungan balok ukur yang
digunakan harus dipilih agar dapat mengukur kesalahan yang terjadi bukan
hanya pada posisi ukur yang merupakan kelipatan bilangan bulat dari putaran
spindle, melainkan juga posisi-posisi di antaranya. Sebagai contoh, balok ukur
1 Pengaturan posisi ukur minimum dapat dilakukan dengan acuan setting bar ataupun
balok ukur.
Lihat Klausul 11 mengenai pelaporan.
2 Balok ukur sebaiknya diletakkan sedemikian sehingga titik tengah balok ukur berhimpit
dengan
titik tengah muka ukur mikrometer. Jika pengukuran dilakukan berulang, posisi balok ukur
terhadap muka ukur mikrometer harus kira-kira sama.
atau gabungan balok ukur dengan nilai nominal 2,5 mm, 5,1 mm, 7,7 mm,
10,3 mm, 12,9 mm, 15 mm, 17,6 mm, 20,2 mm, 22,8 mm 25 mm dapat
digunakan.

Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer dalam

Susun balok ukur atau gabungan balok ukur dengan nilai nominal sama
dengan
nilai ukur terkecil mikrometer dalam di antara dua jaw tipe rata menggunakan
penjepit balok ukur. Lakukan pengaturan posisi nol mikrometer dalam
menggunakan susunan balok ukur tersebut. Lakukan pengukuran kesalahan
penunjukan dengan menambahkan balok-balok ukur dan menghitung selisih
penunjukan mikrometer dalam dan panjang balok ukur. Lihat Klausul 7.3.2
untuk menentukan panjang balok ukur yang digunakan.

Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer kepala

Pasangkan mikrometer kepala pada rangka kalibrasi. Putar ratchet


sehingga
muka ukur spindle berhimpit dengan bola baja, lakukan penyetelan nol.
Lakukan pengukuran kesalahan penunjukan dengan menambahkan balok-balok
ukur di antara bola baja dan muka ukur spindle dan menghitung selisih
penunjukan mikrometer kepala dan panjang balok ukur. Lihat Klausul 7.3.2
untuk menentukan panjang balok ukur yang digunakan.

8 Evaluasi Ketidakpastian Pengukuran

8.1 Model Matematis

Kesalahan penunjukan mikrometer dihitung dengan model seperti pada


Persamaan 8.1.

9 Laporan Kalibrasi
9.1 Jika nilai hasil pengukuran kerataan atau kesejajaran muka ukur
melebihi
batas yang diijinkan dalam standar spesifikasi yang diacu, laporan kalibrasi
sebaiknya mencantumkan hasil pengukuran kerataan dan kesejajaran muka
ukur, serta menyebutkan batas yang diijinkan dan acuan kepada standar
spesifikasi tersebut.

9.2 Hasil pengukuran kesalahan penunjukan dapat ditampilkan sebagai nilai


kesalahan pengukuran, atau sebagai nilai koreksi penunjukan dengan tanda
(+/-) yang berlawanan dengan nilai kesalahan penunjukan.
9.3 Untuk mikrometer luar dengan nilai ukur terkecil lebih besar dari 0 mm,
laporan harus menyebutkan jenis dan identitas alat yang dipakai untuk
menentukan posisi nilai ukur terkecil (misalnya setting bar atau balok ukur).

10 Referensi
10.1 Japanese Standards Association, JIS B 7502 Micrometer Callipers, 1994
10.2 ISO, Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement, 1993
Halaman

SUB KOMPETENSI
MEMERIKSA KOMPONEN YANG DIKERJAKAN

a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran


Peserta diklat dapat :
1.) Mengidentifikasi Alat-alat Ukur Yang Diperlukan
2.) Memilih Alat-alat Ukur Yang Diperlukan
3.) Mengkalibrasi Alat Ukur Yang Akan Digunakan
4.) Mengukur Benda kerja
5.) Mencatat Hasil Pengukuran
6.) Membandingkan Hasil Pengukuran Dengan Spesifikasi
Teknis Yang Dipersyaratkan
7.) Melaporkan Hasil Pemeriksaan Benda kerja

b. Uraian Materi
1) Mengidentifikasi Alat-alat Ukur Yang Diperlukan
Alat-alat yang digunakan untuk memeriksa dan mengukur benda kerja
antara lain :
a) Alat-alat Pemeriksa :

Gambar 2.186. Inside Calipers


Inside Calipers, digunakan untuk memeriksa kesejajaran atau lebar lubang
benda kerja .

2.187. Spring Calipers


Spring Calipers, dengan baud dan mur yang digunakan untuk mengatur jarak
pada ujung pemeriksa.
Digunakan untuk memeriksa kesejajaran atau lebar lubang benda
kerja .

Gambar 2.188. Jangka kaki.


Jangka kaki, digunakan untuk memeriksa kesejajaran atau lebar bagian luar
benda kerja .

Gambar 2.189. Jangka kaki dengan baud pengikat.


Jangka kaki, dengan baud dan mur yang digunakan untuk mengatur jarak pada
ujung pemeriksa
Digunakan untuk memeriksa kesejajaran atau lebar bagian luar benda
kerja .

Gambar 2.190. Batang mal ulir


Batang mal ulir, untuk memeriksa ukuran ulir dalam

Gambar 2.191. Mal ulir luar


Mal ulir luar, untuk memeriksa ukuran ulir luar

Gambar 2.192. Mal mata bor


Mal mata bor, untuk memeriksa sudut dan lebar ujung mata bor..

Gambar 2.193. Limit plug gauge


Untuk memeriksa kesesuaian lubang hasil mereamer.

Gambar 2.194. Taper gauge.


Untuk memeriksa lubang tirus hasil mereamer tirus.

Gambar 2.195. Mal lubang dan poros tirus.


Pemeriksa lubang atau poros tirus, untuk memeriksa ukuran tirus benda
kerja
Selain alat pemeriksa yang disebutkan tadi, dipergunakan pula alat
pemeriksa lainnya seperti busur derajat dan mal ulir.
b ) Alat-alat Ukur
Alat-alat ukur yang digunakan antara lain jangka sorong, micrometer
luar dan micrometer dalam.

2) Memilih Alat-alat Ukur Yang Diperlukan

Pemilihan akat ukur yang akan digunakan didasarkan kepada :


a) Bentuk benda yang akan diukur.
b) Besar kecilnya atau panjang pendeknya benda yang akan diukur
c) Ketelitian ukuran yang diinginkan

3) Mengkalibrasi Alat Ukur Yang Akan Digunakan

a) Mengkalibrasi jangka sorong


- Rapatkan kedua permukaan rahang ukur
- Longgarkan baud pada pelat skala nonius
- Tepatkan garis nol skala nonius dengan garis nol pada batang
utama jangka sorong
- Kencangkan kembali baud pada pelat skala nonius
b) Mengkalibrasi micrometer luar
- Rapatkan kedua permukaan ujung pengukur, dengan cara
memutar batang rechet sampai terdengar bunyi giginya.
- Longgarkan rumah skala nonius
- Tepatkan garis nol pada rumah skala nonius dengan garis nol
pada batang utama
- Kencangkan kembali rumah skala nonius

4) Mengukur Benda kerja


Pada pelaksanaan pengukuran perlu diperhatikan beberapa hal
antara lain :
a) Prosedur penggunaan alat-alat ukur yang sesuai dengan manual
operasi pengukuran yang dikeluarkan pabrik pembuat alat ukur
tersebut.
b) Tempat pengukuran yang tepat
c) Posisi pengukuran yang dilakukan petugas
d) Pembacaan ketelitian pada saat pengukuran

Gambar 2.196. Bidang yang diukur dengan jangka sorong


Jangka sorong, digunakan untuk mengukur dimensi luar dan dalam benda kerja
sampai ketelitian 0,02 mm

Gambar 2.197. Bidang yang diukur dengan micrometer luar


Mikrometer luar, digunakan untuk mengukur bagian luar benda kerja sampai
ketelitian 0,001 mm.

Gambar 2.198. Bidang yang diperiksa dengan jangka kaki


Jangka kaki, digunakan untuk memeriksa kesejajaran dua bidang luar dari
benda kerja
Gambar 2.199. Bidang yang diperiksa dengan inside calipers
Inside calipers, digunakan untuk memeriksa dan mengukur kesejajaran
dua bidang di bagian dalam benda kerja .

5) Mencatat hasil pengukuran

Setiap hasil pengukuran atau pemeriksaan terhadap benda kerja dicatat


sebagai bahan untuk membandingkan dengan ukuran benda yang diinginkan.

6) Membandingkan hasil pengukuran dengan spesifikasi teknis yang


dipersyaratkan

Hasil pemeriksaan atau pengukuran benda kerja yang telah dicatat


kemudian dibandingkan dengan ukuran yang tertera pada gambar atau pada
lembaran kerja.
Setiap hasil perbandingan disimpulkan, apakah sesuai atau tidak antara hasil
pengukuran dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan dan dicatat berapa
besar penyimpangannya apabila terjadi ketidak samaan.

7) Melaporkan hasil pemeriksaan benda kerja

Catatan hasil pemeriksaan benda dicatat sebagai bahan laporan termasuk


letak ukuran mana yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang
dipersyaratkan.

c. Rangkuman
Pada kegiatan belajar 4, dilakukan kegiatan belajar yang menyang kut :
1) Identifikasi alat-alat ukur yang diperlukan, antara lain alat-alat
pemeriksa dan alat-alat ukur.
2) Memilih alat-alat ukur Yang diperlukan sesuai dengan bentuk
dan dimensi benda kerja yang akan diperiksa atau diukur.
3) Mengkalibrasi alat ukur yang akan digunakan, dilakukan
terhadap alat ukur yang tidak tepat dan dimaksudkan agar pengukuran
dapat dilakukan secara lebih teliti.
4) Mengukur benda kerja , dilakukan dengan prosedur yang
benar, tempat dan posisi pengukuran yang tepat, serta pembacaan
ketelitian yang akurat oleh petugas.
5) Mencatat hasil pengukuran.
6) Membandingkan hasil pengukuran dengan spesifikasi teknis
yang dipersyaratkan.
7) Melaporkan hasil pemeriksaan benda kerja kepada atasan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PENGUJIAN iii
KATA PENGANTAR iv
MOTTO v
IDENTITAS SISWA vi
DAFTAR ISI vii

BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar Belakang Pelaksanaan PI 1
B.Tujuan Pelaksanaan PI 1

BAB II KEGIATAN PELAKSANAAN PI 2


A.Program Umum 2
1.Sejarah Singkat Perusahaan 2
2.Managemen Umum Perusahaan 3
a. Struktur Organisasi 3
c. Sistem Penerimaan Kerja 4
d. Bengkel 5
e. Denah Situasi Bengkel 6
f. Identitas Alat Bengkel 7
BAB III PROGRAM KHUSUS 7
1.Proses Pembubutan 8
2. Landasan Teori 8
2.1.jenis pengerjaan pada mesin bubut 9
2.2.klasifikasi proses permesinan 10
2.3.mesin bubut (turning) 11
1.pembubut kecepatan 12
2.pembubut mesin 12
3.pembubut bangku 12
4.pembubut ruang perkakas 12
2.4. macam – macam mesin bubut 13
a.mesin bubut turet 13
b.mesin bubut otomatis 13
2.5. Bagian utama mesin bubut 13
3.faktor untuk menentukan spesifikasi performa pembubutan 14
4.Elemen – elemen dasar pemotongan 15
4.1.kecepatan potong 16
4.2.kecepatan gerak pemakanan 17
4.3.kedalaman pemakanan 17
4.4.waktu pemotongan 18
5.Material pahat 18
5.1.pahat HSS 19
a.karbida 20
vii
b.keramik 20
c.CBN 21
d.intan 21
5.2.Tabel nilai UHP 22
BAB IV PENUTUP 23
1.Kesimpulan 23
2.Saran 23
3.Daftar Pustaka 24
4.Lampiran-Lampiran 25