Anda di halaman 1dari 5

19

B. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Kasus Abortus Imminens


1. Pengkajian Keperawatan
a. Karakterisktik pasien
Abortus yang terjadi pada usia kehamilan < 20 minggu umumnya
dialami oleh kelompok wanita usia 20 – 40 tahun. Abortus spontan
umumnya terjadi pada usia kehamilan 1 – 3 minggu setelah kematian
embrio atau janin (Reeder, 2011).
b. Riwayat kesehatan
1. Keluhan Utama
Pasien dengan abortus spontan biasanya masuk ke rumah sakit
dengan keluhan perdarahan bercak hingga sedang pada usia
kehamilan <20 minggu, kram bagian bawah abdomen memilin
karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali (Maryunani & Eka,
2013).
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya pasien dengan abortus mengalami perdarahan
ringan hingga berat yang terjadi selama beberapa minggu dan dapat
disertai/tidak nyeri pada abdomen bawah (Reeder, 2011).

Menurut Reeder (2011) dan Maryunani & Eka (2013) Ibu hamil
dengan abortus biasanya mengalami perdarahan pervaginam atau
flek-flek darah, sehingga pasien dianjurkan untuk istirahat baring,
karena dengan ini dapat menambah aliran darah ke uterus tindakan
keperawatan yang dapat dilakukan yaitu memeriksa jumlah
perdarahan dan karakteristik perdarahan.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien yang mengalami abortus spontan biasanya mempunyai
riwayat abortus sebelumnya. Ibu hamil dengan abortus sering
terjadi pada usia wanita kurang dari 30 tahun dan lebih dari usia 40
tahun (Reeder, 2011).
Menurut Maryunani & Eka (2013) dan Prawirohardjo (2014)
pengaruh lingkungan akibat radiasi, virus, paparan asap rokok
maupun penyakit kronis yang dialami ibu hamil seperti diabetes
mellitus, hipertensi dan herpes dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Poltekkes Kemenkes Padang
20

Kemungkinan anggota keluarga yang pernah memiliki riwayat


abortus. Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh faktor
genetik. Paling sedikit kejadian abortus pada trimester pertama
merupakan kelainan sitogenetik sehingga hasil konsepsi dapat
menyebabkan janin meninggal atau mengalami kecacatan pada
kehamilan muda (Prawirohardjo, 2014).

c. Riwayat Menstruasi
Riwayat menstruasi dikaji untuk mengetahui menarche pasien, siklus
haid teratur atau tidak, banyaknya darah yang keluar sewaktu haid,
rasa nyeri/tidak pada saat menstruasi dan HPHT untuk mengetahui
usia kehamilan (Wiknjosastro, 2008).
d. Riwayat obstetri
Riwayat obstetri perlu dikaji untuk mengetahui apakah sebelumnya
pernah hamil atau belum, hasil akhir yang muncul serta penangannya.
Biasanya abortus spontan terjadi karena adanya kelainan bawaan pada
hasil konsepsi (Wiknjosastro, 2008).
e. Personal Hygiene
Personal hygiene yang dikaji pada wanita dengan abortus untuk
mengetahui kebersihan dirinya terutama pada daerah genitalia untuk
mencegah terjadinya infeksi. Infeksi microplsma pada tracture
genetalis dapat menyebabkan abortus (Sulistyawati, 2012).

f. Aktivitas harian
Biasanya pada ibu hamil dengan abortus imminens harus beristirahat
total untuk menghentikan perdarahan dan meminimalisir terjadinya
kematian pada janin. Pasien dianjurkan untuk tidak melakukan
aktifitas berat dan tidak melakukan hubungan seksual sampai lebih
kurang 2 minggu. Ibu hamil dengan abortus imminens akan sulit
untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan aktifitas dibantu oleh suami
atau keluarga (Ratnawati, 2016).

Ibu hamil yang bekerja cenderung untuk terkena abortus karena ibu
hamil yang bekerja lebih banyak melakukan aktiftas yang berlebih
Poltekkes Kemenkes Padang
21

ditambah beban kerja yang dialami ibu hamil cukup menguras tenaga
dan waktu dan tidak dapat membagi waktu kapan harus beristirahat
sehingga dapat berisiko terhadap kehamilannya (Hutapea, 2017).
g. Riwayat psikologis
Wanita yang mengalami abortus juga akan mengalami risiko
psikologis seperti merasa cemas, tertekan, ragu-ragu dalam
mengambil keputusan dan merasa tidak berhak memilih. Gejalanya
dapat ditandai dengan harga diri rendah, malu, putus asa, sering
menjerit, dan disertai dengan usaha bunuh diri (Maryunani & Eka,
2013).
h. Riwayat spiritual
Wanita dengan abortus cenderung memiliki perasaan tidak percaya
dengan keselamatan kehamilannya, keyakinan religius atau spiritual
yang kurang. Paien merasa takut kondisi janin yang dikandungnya
terancam meninggal.

i. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Ibu hamil dengan abortus cenderung terlihat lemah karena
perdarahan yang dialami, kemungkinan kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat (Padilla,
2015).
2) Kepala dan wajah
Rambut ibu hamil dengan abortus kumungkinan tidak ada
perubahan. Pada wajah biasanya akan tampak pucat, ada/tidak
cloasma gravidarum, edema pada wajah tidak ditemukan.
Konjungtiva pada mata nampak anemis, sklera tidak ikterik, dan
palpasi pembesaran kelenjar getah bening pada leher biasanya
tidak ditemukan kelainan.
3) Payudara
Kemungkinan pada ibu hamil dengan abortus imminens payudara
akan membesar, lebih padat dan lebih keras, puting menonjol
Poltekkes Kemenkes Padang
22

areola menghitam dan membesar dan permukaan pembuluh darah


menjadi lebih terlihat.
4) Abdomen
Pada ibu hamil dengan abortus biasanya akan ditemukan
umbilikus menonjol keluar, dan membentuk suatu area berwarna
gelap di dinding abdomen, serta akan ditemukan linea alba dan
linea nigra. Pada ibu tampak perut membesar.
5) Genitalia
Ibu hamil dengan abortus biasanya mengalami perdarahan
pervaginam mulai dari ringan hingga berat mungkin disertai
dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi (Padila, 2015).

6) Ekstremitas
Ibu hamil dengan abortus kemungkinan tidak ditemukan masalah
pada ekstremitas.

j. Pemeriksaan Ginekologi
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan
hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau
sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau
tidak jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Pemeriksaan dalam vagina : porsio masih terbuka atau sudah
tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus
sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada adneksa, cavum douglas tidak menonjol
dan tidak nyeri (Padila, 2015)

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan


Menurut NANDA 2015–2017 dan SDKI 2016, diagnosa yang mungkin
muncul pada ibu dengan abortus adalah:
1) Risiko cedera janin berhubungan dengan masalah kontraksi.
2) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan program
pembatasan gerak.
3) Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis.

Poltekkes Kemenkes Padang


23

4) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang


penyakit.
5) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif.
6) Ketidakefektifan koping berhubungan dengan krisis situasi.

Poltekkes Kemenkes Padang