Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH PENDAHULUAN FISIKA ZAT PADAT

KISI RESIPROK

Diajukan Dalam Rangka Menyelesaikan Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pendahuluan Fisika Zat Padat

OLEH
KELOMPOK
NUR INSANA (A1K1 16 043)
WAODE HARYATI (A1K1 16 077)
WAODE NELKINAGINA (A1K1 16 079)
SRI QODRIA NINGSIH J (A1K1 16 095)
ANI YULIYANI (A1K1 16 107)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah dengan judul “Kisi Resiprok”. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas final mata kuliah pendahuluan fisika zat padat
Dalam penyusunan makalah ini, penulis berusaha seoptimal mungkin demi
sempurnanya makalah ini. Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Untuk itu diharapkan kritik dan saran yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini. Harapannya semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca, untuk kedepannya dapat
memperbaiki bentuk maupun maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih
baik lagi.

Kendari, 18 April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover ...................................................................................................................i
Kata Pengantar ....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
Daftar Gambar .....................................................................................................iv
Daftar Tabel ........................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1
A. Latar Belakang .........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................4
A. Pendahuluan ............................................................................................4
B. difraksi gelombang oleh kristal ................................................................6
C. kisi resiprokal ...........................................................................................10
D. keadaan difraksi........................................................................................13
E. zona brillouin ...........................................................................................17
F. teknik-teknik difraksi kristal .....................................................................18
BAB III PENUTUP ............................................................................................23
A. Kesimpulan ..............................................................................................23
B. Saran .........................................................................................................23
Daftar Pustaka .....................................................................................................24

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Eksperimen Bragg ............................................................................. 7


Gambar 2 Relasi Vektor Kristal dan Vektor Resiprok. ...................................... 11
Gambar 3 (a)SC, (b) FCC dan (c) BCC ............................................................. 13
Gambar 4 Kondisi Difraksi ............................................................................... 13
Gambar 5 Sinar Datang pada Kondisi Difraksi ................................................ 13
Gambar 6 Sinar Pantul pada Kondisi Difraksi .................................................. 14
Gambar 7 sel Weigner Seitz.............................................................................. 18
Gambar 8 Metode Transmisi............................................................................. 19
Gambar 9 Metode Pemantulan Balik ................................................................ 19
Gambar 10 Metode kristal berputar .................................................................... 20
Gambar 11 Metode Serbuk ................................................................................. 21

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kisi Resiprok SC, FCC dan BCC ............................................................ 12

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar materi zat Padat adalah Kristal Dan elektron
didalamnya. Dari beberapa jenis zat diantaranya zat padat, cair dan gas
ternyata dan keunikan tersendiri dari susunan zat ini.Disini kita mengkerucut
membahas tentang zat padat, di mana zat padat ini terdiri dari atom-atom, ion
atau molekul yang sangat bedekatan dan menempati kedudukan tertentu
disekitar posisi keseimbangannya. Secara umum zat padat itu memiliki sifat
bentuk dan volume yang sukar berubah. . Zat padat yang kita bahas kali ini
adalah berhubungan dengan Kristal.
Zat Padat mulai dikembangkan awal abad ke- 20, mengikuti
penemuan difraksi sinar-x oleh kristal. Sejarah mengenai difraksi sinar-x telah
berjalan hampir satu abad ketika tulisan ini disusun. Tahun 1912 adalah awal
dari studi intensif mengenai difraksi sinar-x. Dimulai dari pertanyaan M. van
Laue kepada salah seorang kandidat doktor P.P. Ewald yang dibimbing
A.Sommerfeld, W. Friedrich (asisten riset Sommerfeld) menawarkan
dilakukannya eksperimen mengenai 'difraksi sinar-x'. Pada saat itu eksperimen
mengenai hamburan sinar-x sudah dilakukan oleh Barkla.Laue mengawali
pekerjaannya dengan menuliskan hasil pemikiran teoretiknya dengan mengacu
pada hasil eksperimen Barkla. Laue berargumentasi, ketika sinar-x melewati
sebuah kristal, atom-atom pada kristal bertindak sebagai sumber-
sumbergelombang sekunder,layaknya garis-garis pada geritan optik (optical
grating). Efek-efek difraksi bisa jadi menjadi lebih rumit karena atom-atom
tersebut membentuk pola tiga dimensi. Eksperimen difraksi sinar-x yang
pertama dilakukan oleh Herren Friedrich danKnipping menggunakan kristal
tembaga sulfatdan berhasil memberikan hasil pola difraksipertama yang
kemudian menjadi induk perkembangan difraksi sinar-x selanjutnya Difraksi
sinar-x merupakan proses hamburan sinar-x oleh bahan kristal.

1
Sebuah Kristal Ideal disusun oleh satuan-satuan struktur yang
identik secara berulang-ulang yang tak hingga didalam ruang. Semua struktur
kristal dapat digambarkan atau dijelaskan dalam istilah Lattice (kisi) dan
sebuah Basis yang ditempelkan pada setiap titik lattice (titik kisi).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rita Prasetyowati pada
tahun 2012 yang mana dalam penelitiannya di ungkapkan bahwa Struktur
kristal mempunyai 2 kisi, yaitu kisi Kristal dan kisi resiprok. Jika Kristal
disinari dengan sinar x, maka akan dihasilkan pola dipraksi yang merupakan
peta kisi resiprok Kristal tersebut. Bila sinar x mengenai Kristal sebagai kisi
nyata, maka dihasilkan pola dipraksi yang berbentuk kisi resiprok. Jika suatu
Kristal terdiri dari atom-atom yang tersusun secara teratur dan periodik dalam
ruang dan jarak anatar atom hampir sama dengan panjang gelombang sinar x,
maka Kristal tersebut dapat berfungsi sebagai kisi-kisi yang menghamburkan
cahaya. Sinar x mempunyai panjang gelombang yang mendekati jarak antar
atom, maka difraksi dapat terjadi kalau Kristal dikenai oleh sinar x..
Dengan demikian, kisi resiprok yang mana didalamnya memuat
pembahasan mengennai difraksi sinar-x adalah topik lanjut di bidang fisika
yang memerlukan pengetahuan dasar yang cukup banyak dan komplek.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang didapat dari permasalahan di atas adalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan difraksi gelombang oleh kristal ?
2. Apa yang dimaksud dengan kisi resiprok ?
3. Bagaimana keadaan difraksi?
4. Bagaimana zona brilloun?
5. Apa saja teknik-teknik difraksi kristal ?

2
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui difraksi gelombang oleh kristal
2. Dapat mengetahui kisi resiprok
3. Dapat mengetahui keadaan difraksi
4. Dapat mengetahui zona brilloun
5. Dapat mengetahui teknik-teknik difraksi kristal

3
BAB II
DIFRAKSI KRISTAL DAN KISI RESIPROKAL

A. Pendahuluan

Para ilmuan dalam mempelajari suatu material terlebih dahulu


mempelajari struktur material tersebut. Difraksi pada Kristal adalahpenggunaan
gelombang radiasidengan panjang gelombang yangseorde dengan jarak antar atom
dalamkristal (dalam angstrom) guna untuk mempelajari struktur Kristal tersebut.
Terdapat tiga sumber radiasi yang dapat digunakan untuk proses difraksi kristal
yakni sinar X, elektron dan neutron.
1. Sinar X
a. Gelombangnya mendekati 1 ÅPanjang gelombang dari sinar Xmemiliki
besar yang sama dengankonstanta kisi Kristal dan itulah yang
membuat sinar X berguna pada analisisunsure struktur Kristal.
b. Radiasi sinar X dibangkitkan oleh tabungsinar X.Spektrum keseluruhan
dari sinar Xbersifat polikhromatis (spektrum malardan karakteristik).
c. Untuk keperluan difraksi digunakanspektrum karakteristik dengan
intensitasyang terkuat, biasanya spektrum Kα.
d. Untuk menjamin agar berkas sinar Xbenar-benar monokhromatis
diperlukanfilter.
e. Bahan filter bergantung pada panjanggelombang spektrum Kα yang akan
dipakainya
2. Elektron
a. Berkas elektron dihasilkan dari bedil elektron (elektron gun).
b. Pemilihan panjang gelombang elektron dilakukan dengan
mengatur tegangan pemercepatnya (energi elektron),menurut
persamaan :
ℎ 12
𝜆= = 𝑎𝑛𝑔𝑠𝑡𝑟𝑜𝑚 (2.1)
𝑝 (𝐸(𝑒𝑉)1⁄2

4
c. Salah satu kekurangan elektron sebagai sumber radiasi untuk
difraksi kristal, adalah karena elektron merupakan partikel
bermuatan.
d. Sebagai pertikel bermuatan, elektron mudah diserap oleh bahan,
sehingga daya tembusnya kurang. Dengan demikian, difraksi
elektron hanya memberikan informasi tentang permukaan bahan
saja.
3. Neutron
a. Berkas neutron dihasilkan dari reaksi inti, yang dapat
berlangsung di dalam reaktor atom (melalui reaksi fisi)dan dalam
generator neutron.
b. Dalam reaktor atom, reaksi fisi diawali denganpenembakan neutron termal
yang diarahkan pada intiberat, misal uranium (92U235), sehingga
terjadipembelahan inti (fisi) yang disertai denganpemancaran neutron
(dalam jumlah yang banyak) danpembebasan energi sampai 200 MeV,
menurut reaksi :

c. berkas neutron dapat dihasilkan melalui penembakan partikel cepat ke arah


intiatom, dan memberikan hasil reaksi berupa neutron dan inti hasil
reaksi.Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

d. Berkas neutron, yang dihasilkan oleh reaksi inti umumnya memiliki


energyyang tinggi (neutron cepat).
e. Agar neutron tersebut memiliki panjang gelombang sekitar 1 angstrom,
makaenerginya harus diturunkan menurut hubungan
ℎ 0,28
𝜆= = 𝑎𝑛𝑔𝑠𝑡𝑟𝑜𝑚 (2.2)
𝑝 (𝐸(𝑒𝑉)1⁄2

5
dengan λ panjang gelombang neutron (de Broglie), h tetapan planck dan p
momentum neutron, serta E enrgi neutron dalam eV
f. Untuk menurunkan energi neutron perlu langkah termalisasi, dengan cara
melewatkan berkas neutron pada moderator (air, grafit, air berat : D2O).
g. Neutron termal (λ sekitar 1 angstrom) masih memerlukan upaya
penyelesaianagar berkas neutron bersifat monokhromatis (tepatnya
monoergis), dan sebagaimonokhomator umumnya dipakai kristal grafit

B. Difraksi Gelombang oleh Kristal


1. Hukum Bragg
W. L. Bragg memperkenalkan tafsiran sederhana tentang difraksi
cahaya dari sebuah kristal. Derivasi Bragg adalah sederhana tetapi cukup
meyakinkan karena menghasilkan pendapat yang benar. Dugaan bahwa
peristiwa gelombang adalah direfleksikan secara spekular dari lintasan paralel
atom dalam kristal, yang mana setiap lintasan hanya merefleksikan sebuah
fraksi radiasi yang sangat kecil, seperti merefleksi sebuah perak ringan.Dalam
kelipatan bulatrefleksi sudut tingkat kejadian menghasilkan sudut refleksi.
Difraksi cahaya ditemukan ketika pemantulan dari lintasan paralel atom
berinterferensi secara konstruktif (saling menguatkan). Seperti pada Gambar 1.
berikut.Ketikaberkas sinar-x monokromatik datang padapermukaankristal,
terjadi refleksihanya ketikasudutdatang memilikinilai-nilai tertentu. Nilai-nilai
initergantung padapanjang gelombangdankonstantakisikristal, dan untuk
menjelaskanreflektifitasselektifdalam halefek interferensi, seperti
dalamoptikfisik. Pemantulan oleh kisi kristal terjadi apabila gelombang sinar-x
lebih kecil dari 2 kali jarak antara bidang pemantul dalam kisi kristal.
Pemantulan spekular merupakan pemantulan dengan sudut berkas yang masuk
sama dengan sudut berkas yang keluar, yaitu 𝜃 = 𝜃 ′
Untuk mendapatkan hukum Bragg, kita mulai dengan
mengasumsikan bahwatiap tiap bidang dari atom secara parsial
merefleksikangelombang datang. Sinar xtidak benar benar direfleksikan, tetapi
dihamburkan, pada bidang ini kitamenyebutnya “bidang refleksi” dan

6
gelombang pantulan disebut gelombang“gelombang refleksi”, puncak puncak
yang terlihat dalam pola difraksi sinar x disebutRefleksi.

Gambar 1 Eksperimen Bragg


Berdasarkan Gambar 1 di atas, secara matematis dapat diuraikan sebagai
berikut :
Beda lintasan (Δ) = AB + BC
= 𝑑 sin 𝜃 + 𝑑 sin 𝜃
= 2𝑑 sin 𝜃 (2.3)
Interferensi maksimum terjadi jika beda lintasan sama dengan kelipatan
bilangan bulat panjang gelombang sinar (syarat Hukum Bragg) :
2𝑑 sin 𝜃 = 𝑛𝜆 (2.4)
𝑛 = 1, 2, 3, . . .
Persamaan ini disebut Hukum Bragg, dimana bisa cukup memadai untuk
panjang gelombang λ ≤ 2d, olehnya itu tiak dapat menggunakan cahaya kasat
mata.
Meskipun pemantulan dari setiap lintasan adalah kelipatan bulat,
hanya saja untuk suatu nilai akan terefleksi dari semua lintasan paralel
periodik dijumlahkan dalam fase untuk memberikan sebuah sinar yang
terrefleksi kuat. Jika setiap lintasan terrefleksi secara sempurna, hanya
pasangan lintasan pertama paralel yang akan terlihat radiasi, dan setiap panjang
gelombang akan terefleksi. Tetapi, setiap lintasan berefleksi 10−3 hingga 10−5
peristiwa radiasi, sehingga 103 hingga 105 lintasan dapat dikontribusikan ke
formasi sinar refleksi Bragg dalam kristal sempurna. Refleksi oleh lintasan
tunggal atom dijelaskan pada chapter 17 pada bagian pertama.Hukum Bragg

7
adalah sebuah konsekuensi periodisasi kisi. Perhatian bahwa hukum Bragg
tidak menyebutkan komposisi basis atom yang berasosiasi dengan setiap titik
kisi. Sedangkan komposisi basis menentukan intensitas relatif berbagai orde
difraksi yang diberikan dari sepasang lintasan paralel.
Modelini telah digunakan dalam hukum Bragg yang disederhanakan.
Mengingat fakta bahwa hamburan sinar-x disebabkan oleh atom diskrit sendiri,
seseorang mungkin menolak mewakili bidang atom oleh satu set cermin
mencerminkan terus menerus. Perlakuan yang tepat harus dipertimbangkan
terhadap berkas difraksi yang terjadi karena interferensi sinar parsial yang
tersebar oleh semua atom dalam kisi. Artinya, seseorang harus memperlakukan
kisi sebagai kisi difraksi tiga-dimensi. Dalam menambahkan kontribusi dari
sinar parsial, seseorang harus membayar perhatian khusus pada fase sinar ini,
seperti dalam optik analog Program ini, yang dikembangkan dalam bagian-
bagian berikut, membawa kita kembali kehukum Bragg, tapi kami akan
mendapatkan apresiasi yang lebih mendalam dari proses difraksi analog.
Model yang dikemukakan di atas terlalu sederhana. Fakta
menunjukkan bahwa hamburan berkas sinar-X disebabkan oleh atom diskrit
kristal yang bersangkutan. Oleh karena itu bahasan berikut menelaah hukum
Bragg melalui proses hamburan. Model yang dikemukakan di atas terlalu
sederhana. Fakta menunjukkan bahwa hamburan berkas sinar-X disebabkan
oleh atom diskrit kristal yang bersangkutan. Oleh karena itu bahasan berikut
menelaah hukum Bragg melalui proses hamburan.
2. Penyebaran Amplitudo Gelombang
Bragg menderivasikan keadaan difraksi pers. (2.4) memberikan
laporan kondisi rapi untuk memperkuat interferensi gelombang hamburan dari
titik kisi. Kita membutuhkan analisis mendalam untuk membedakan intensitas
hamburan dari basis atom yang berarti dari distribusi ruang elektron dalam
setiap sel.

8
Analisis Fourier
Dengan memandang sebuah kristal adalah invarian terhadap translasi
apapun bentuk 𝑻 = 𝒖𝟏 𝒂𝟏 + 𝒖𝟐 𝒂𝟐 + 𝒖𝟑 𝒂𝟑 , dimana 𝑢1 , 𝑢2 , 𝑢3 adalah
bilangan bulat dan 𝑎1 , 𝑎2 , 𝑎3 adalah sumbu kristal. Dimana pun sifat fisik
kristal, seperti menghidupkan konsentrasi, kerapatan bilangan elektron, atau
kerapatan megnetik sesaat, adalah bentuk yang sama di bawah T. Yang
terpenting bagi kita adalah bahwa kerapatan bilangan elektron n(r) adalah
fungsi periodik r, dengan periode 𝑎1 , 𝑎2 , 𝑎3 dalam arah tiga sumbu kristal,
secara berturut-turut, sehingga :
N (r +T) = n (r) (2.5)
Seperti perioditas menciptakan sebuah keadaan ideal untuk analisis Fourier.
Yang lebih menarik perhatian sifat-sifat kristal adalah langsung
berhubungan dengan komponen Fourier kerapatan elektron.Pertama-tama
kita menganggap fungsi n(x) adalah satu dimensi dengan periode a dalam
sumbu-x. Kita kembangkan n(x) dalam deret Fourier sinus dan kosinus :
𝑛(𝑥) = 𝑛𝑜 + ∑𝑝>0⌊𝐶𝑝 cos(𝑝𝑥) + 𝐶𝑞 sin(𝑝𝑥)⌋ (2.6)
Dimana p adalah bilangan bulat positif dan 𝐶𝑝 , 𝐶𝑝 adalah konstanta real,
disebut koefisien Fourier ekspansi. Faktor 2ᴨ/a merupakan sebuah
pernyataan yang memastikan bahwa n(x) memiliki periode a :
2𝜋 2𝜋
𝑛(𝑥) = 𝑛𝑜 + ∑𝑝>0 ⌊𝐶𝑝 cos( 𝑎 𝑝𝑥) + 𝐶𝑞 sin( 𝑎 𝑝𝑥)⌋ (2.7)
2𝜋 2𝜋 2𝜋 2𝜋
𝑛(𝑥 + 𝑎) = 𝑛𝑜 + ∑ ⌊𝐶𝑝 cos( 𝑝𝑥 + 𝑝𝑎) + 𝐶𝑞 sin( 𝑝𝑥 + 𝑝𝑎)⌋
𝑎 𝑎 𝑎 𝑎
𝑝>0

2𝜋 2𝜋
𝑛(𝑥 + 𝑎) = 𝑛𝑜 + ∑ ⌊𝐶𝑝 cos( 𝑝𝑥 + 2𝜋𝑝) + 𝐶𝑞 sin( 𝑝𝑥 + 2𝜋𝑝)⌋
𝑎 𝑎
𝑝>0
2𝜋 2𝜋
𝑛(𝑥 + 𝑎) = ∑𝑝>0 ⌊𝐶𝑝 cos ( 𝑎 𝑝𝑥) + 𝐶𝑞 sin ( 𝑎 𝑝𝑥)⌋ = 𝑛(𝑥) (2.8)

Kita mengatakan bahwa 2ᴨ/a sebagai titik dalam kisi resiprokal atau jarak
Fourier kristal. Dalam satu dimensi titik-titik ini menipu dalam garis. Titik
kisi resiprokal memberitahukan kita diperbolehkan syarat dalam deret
Fourier (4) atau (5). Satu syarat diperbolehkan jika konsisten dengan
periodesitas kristal, seperti pada gambar 5, titik lainnya dalam jarak

9
resiprokal tidak diperbolehkan dalam Fourier ekspansi fungsi periodik.
Persamaan (2.8) dapat ditulis menjadi :
𝑛(𝑥 + 𝑎) = ∑𝑝>0 𝐶 exp(𝑖2𝜋𝑝𝑥⁄𝑎) (2.9)
Dimana jumlah seluruh bilangan bulat p : positif, negatif, dan nol. Koefisien
𝑛𝑝 bilangan kompleks. Untuk memastikan bahwa n(x) adalah fungsi real,
kita mempersyaratkan :

𝑛−𝑝 = 𝑛𝑝 (2.10)
Untuk selanjutnya jumlah keadaan dalam p dan –p adalah real. Tanda

asterik pada 𝑛−𝑝 mengindikasikan konjugat kompleks 𝑛𝑝 .Dengan φ =
2ᴨpx/a, jumlah keadaan dalam p dan –ppada (2.9) adalah real jika (2.10)
memenuhi syarat. Penjumlahannya adalah :
𝑛𝒑 (𝒄𝒐𝒔 𝝋 + 𝒊 𝒔𝒊𝒏 𝝋) + 𝒏−𝒑 (𝒄𝒐𝒔 𝝋 − 𝒊 𝒔𝒊𝒏 𝝋) = (𝒏𝒑 + 𝒏−𝒑 )𝒄𝒐𝒔 𝝋 +
(𝒏𝒑 − 𝒏−𝒑 )𝒊 𝒔𝒊𝒏 𝝋 (2.11)
Jika diputar akan menghasilkan fungsi real
2𝑅𝑒(𝑛𝑝 ) cos 𝜑 − 2𝑖𝑚(𝑛𝑝 ) sin 𝜑 (2.12)
Jika memenuhi. disini Re {𝑛𝑝 } dan Im {𝑛𝑝 }adalah real dan
mengindikasikan bagian real dan imajiner 𝑛𝑝 . Sehingga kerapatan bilangan
n(x) adalah fungsi real, seperti yang diinginkan.Perluasan analisis Fourier
untuk fungsi periodik n(r) dalam tiga dimensi telah terbuka. Kita harus
menemukan sepasang vektor G sebagaimana bahwa :
𝑛(𝑟) = ∑𝐺 𝑛𝐺 exp(𝑖𝐺 ∙ 𝑟) (2.13)

C. Kisi Resiprokal
Setiap struktur kristal memiliki 2 kisi, yaitu kisi kristal dan resiprok.
Saat kristal dikenai sinar-X, akan dihasilkan pola difraksi yang merupakan peta
kisi resiprok kristal tersebut. Representasi kisi kristal melalui kisi resiproknya.
Perangkat baru dapat digunakan untuk menelaah difraksi dan interaksi antara
kisi dan radiasi elektromagnet.Andaikan vektor basis dalam ruang nyata a1, a2,
a3 dan vektor kisi resiprok b1, b2, b3 Maka dibataskan basis vektor resiprok
sebagai berikut

10
Gambar 2 Relasi Vektor Kristal dan Vektor Resiprok
Dimana :
b1, a2, a3 saling tegak lurus
b2, a1, a2 saling tegak lurus
b3, a1, a2 saling tegak lurus
maka sumbu kisi resiprok adalah :
2𝜋 𝑎2 × 𝑎3 2𝜋 𝑎1 × 𝑎3 2𝜋 𝑎1 × 𝑎2
𝑏1 = ( ) 𝑏2 = ( ) 𝑏3 = ( ) (2.14)
𝑎1 . 𝑎2 × 𝑎3 𝑎2 . 𝑎1 × 𝑎3 𝑎3 . 𝑎1 × 𝑎2
Karena 𝑎1 . (𝑎2 × 𝑎3 ) = 𝑎2 . (𝑎1 × 𝑎3 ) = 𝑎3 . (𝑎1 × 𝑎2 )Maka sumbu kisi resiprok
dapat dituliskan :
2𝜋 𝑎2 × 𝑎3 2𝜋 𝑎1 × 𝑎3 2𝜋 𝑎1 × 𝑎2
𝑏1 = ( ) 𝑏2 = ( ) 𝑏3 = ( ) (2.15)
𝑎1 . 𝑎2 × 𝑎3 𝑎1 . 𝑎2 × 𝑎3 𝑎1 . 𝑎2 × 𝑎3
Basis vektor resiprok ini:
a. Dimensinya adalah kebalikan dari panjang atau [l]-1; sama dengan dimensi
bilangan gelombang.
b. Bahwa b1 tegak lurus terhadap bidang a2 dan a3; dan demikian pula permutasi
siklisnya.
c. Bahwa𝑎1 . (𝑎2 × 𝑎3 ) = 𝑎2 . (𝑎1 × 𝑎3 ) = 𝑎3 . (𝑎1 × 𝑎2 ) mempresentasikan
  
volume benda yang rusuk-rusuknya dibentuk oleh vektor a , b , dan c .

11
Jadi hubungan antara kisi kristal dan kisi resiprok adalah :

𝑏1 . 𝑎2 = 𝑏1 . 𝑎3 𝑏1 𝑎1
=0 = 2𝜋
𝑏2 . 𝑎1 = 𝑏2 . 𝑎3 𝑏2 𝑎2
=0 = 2𝜋
𝑏3 . 𝑎1 = 𝑏3 . 𝑎2 𝑏2 𝑎2
=0 = 2𝜋
Vektor pada ruang kisi resiprok adalah :
𝐺⃗ = 𝑣1 ⃗⃗⃗⃗
𝑏1 + 𝑣2 ⃗⃗⃗⃗⃗
𝑏2 + 𝑣3 ⃗⃗⃗⃗⃗
𝑏3 (2.16)
Setiap struktur kristal memiliki dua kisi yang berasosiasi dengannya,
yaitu kisi kristal dan kisi resiprokal. Pola difraksi sebuah kristal adalah seperti
sebuah denah kisi resiprokal kristal. Sebuah gambar mikroskop, jika dapat
menguraikan dalam skala yang cukup memadai, adalah sebuah sebuah denah
struktur kristal dalam ruang real. Dua kisi dihubungkan Sehingga ketika kita
memutar sebuah kristal dalam sebuah pemegang, kita memutar kedua kisi
langsung dan kisi resiprokal.
Vektor dalam kisi lurus memiliki dimensi (panjang) ; vektor dalam
kisi resiprok memiliki dimensi (1/panjang). Kisi resiprokal adalah sebuah kisi
dalam ruang Fourier yang berasosiasi dengan kristal. Panjang vektor selalu
digambarkan dalam ruang Fourier, maka setiap posisi dalam ruang Fourier dapat
memiliki makna sebagai gambaran sebuah gelombang, tetapi ada sebuah
signifikansi spesial untuk titik-titik yang dijabarkan oleh sepasang asosiasi G
dengan sebuah struktur kristal.
Kisi resiprokal untuk SC, FCC dan BCC dapat dilihat pada Tabel
berikut :
Tabel 1 Kisi Resiprok SC, FCC dan BCC

12
Gambar 3(a)SC, (b) FCC dan (c) BCC

D. Keadaan Difraksi
Kondisi difraksi kristal dapat dilihat pada Gambar 4 berikut :

Gambar 4 Kondisi Difraksi


Gambar 4 di atas dapat dibagi menjadi dua bagian yakni sinar datang dan sinar
pantul. Sinar datang dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 5 Sinar Datang pada Kondisi Difraksi


Beda lintasan antara kedua sinar datang adalah :
∆ = 𝑟 sin 𝜑 (2.16)

13
Beda sudut fase antara kedua sinar datang adalah :
𝛿 = 𝑘∆ (2.17)
2𝜋
= 𝑟 sin 𝜑
𝜆
⃗⃗ ∙ 𝑟⃗ = 𝑘. 𝑟 cos(90 − 𝜑)
𝑘
2𝜋
= 𝑟 cos(90 − 𝜑)
𝜆
2𝜋
⃗⃗ ∙ 𝑟⃗ =
𝑘 𝑟 sin 𝜑 = 𝛿
𝜆

⃗⃗ ∙ 𝑟⃗ = 𝛿
𝑘 (2.18)
Sinar pantul dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 6 Sinar Pantul pada Kondisi Difraksi


Beda sudut fase antara kedua sinar pantul adalah :
𝛿 = +𝑘∆ (2.19)
2𝜋
=+ 𝑟 sin 𝜑
𝜆
⃗⃗ ′ ∙ 𝑟⃗ = −𝑘′. 𝑟 cos(90 − 𝜑)
−𝑘
2𝜋
=− 𝑟 cos(90 − 𝜑)
𝜆
2𝜋
=− 𝑟 sin 𝜑 = 𝛿
𝜆
⃗⃗ ′ ∙ 𝑟⃗ = 𝛿
−𝑘 (2.20)

14
Maka beda fase antara kedua sinar datang dan sinar pantul adalah :
𝛽 = 𝛿 + 𝛿′
⃗⃗ ∙ 𝑟⃗ + (−𝑘
=𝑘 ⃗⃗ ′ ∙ 𝑟⃗)

⃗⃗ − 𝑘
= (𝑘 ⃗⃗ ′ ) ∙ 𝑟⃗ (2.21)
Sehingga gelombang atau sinar difraksi dari element volume dV mempunyai
faktor fase :
⃗⃗ − 𝑘
exp 𝑖𝛽 = exp[( 𝑘 ⃗⃗ ′ ) ∙ 𝑟⃗ (2.22)

Difraksi amplitudo gelombang dari elemen volume dV berbanding lurus dengan


konsentrasi elektron lokal 𝑛(𝑟⃗) dan elemen volume dV dan amplitudo total (F)
⃗⃗ ′ adalah :
dari gelombang terdifraksi dari arah 𝑘

⃗⃗ − 𝑘
𝐹 = ∫ 𝑑𝑉 𝑛(𝑟⃗) exp[( 𝑘 ⃗⃗(2.23)

) ∙ 𝑟⃗]

⃗⃗ = 𝑘
Jika ∆𝑘 ⃗⃗ ′ − 𝑘
⃗⃗
Maka :

⃗⃗(2.24)
𝐹 = ∫ 𝑑𝑉 𝑛(𝑟⃗) exp[ −𝑖∆𝑘 ∙ 𝑟⃗]

Karena 𝑛(𝑟⃗) = ∑𝐺 𝑛𝐺 exp(𝑖𝐺⃗ ∙ 𝑟⃗)


Maka persamaan (2.24) menjadi :

⃗⃗ ∙ 𝑟⃗]
𝐹 = ∫ 𝑑𝑉 ∑ 𝑛𝐺 exp(𝑖𝐺⃗ ∙ 𝑟⃗) exp[ −𝑖∆𝑘
𝐺

⃗⃗ ) . 𝑟⃗]
𝐹 = ∫ 𝑑𝑉 ∑ 𝑛𝐺 exp[𝑖(𝐺⃗ − ∆𝑘 (2.25)
𝐺

15
⃗⃗ sama dengan vektor kisi resiprok,
Jika vektor hambatan ∆𝑘

𝐺⃗ = ⃗⃗⃗⃗ ⃗⃗
𝑘′ − 𝑘 (2.26)
Maka :
𝐹 = 𝑉 𝑛𝐺 exp 0
𝐹 = 𝑉 𝑛𝐺 (2.27)
Dimana V adalah volume kristal
Untuk hamburan atau difraksi elastik, energi foton datang (ħ𝜔) = energi foton
pantul (ħ𝜔′), maka :
⃗⃗ |2 = |𝑘
|𝑘 ⃗⃗ ′|2

Dengan demikian kondisi difraksi dapat dituliskan :


⃗⃗
𝐺⃗ = ∆𝑘
⃗⃗ ′ − 𝑘
=𝑘 ⃗⃗
⃗⃗ = 𝑘
𝐺⃗ + 𝑘 ⃗⃗ ′ (2.28)
Sehingga :
⃗⃗ )2 = (𝑘
(𝐺⃗ + 𝑘 ⃗⃗ ′ )2
⃗⃗ 2 + 2𝑘
𝐺⃗ 2 + 𝑘 ⃗⃗ 𝐺⃗ = (𝑘
⃗⃗ ′ )2
⃗⃗ 𝐺⃗ = 𝐺⃗ 2
2𝑘 Kondisi Difraksi (2.29)

16
E. Zona Brillouin

Brillouin memberikan pernyataan kondisi difraksi bahwa penggunaan


yang lebih luas pada fisika zat padat, yang berarti dalam deskripsi teori kelompok
energi elektron dan tipe-tipe eksitasi elementer lainnya. Zona Brillouin
digambarkan sebagai sel primitif Wigner-Seitz pada kisi resiprokal. Zona
Brillouin memberikan interpretasi geometri yang jelas kondisi difraksi yang
dinyatakan dalam persamaan :
⃗⃗ 𝐺⃗ = 𝐺⃗ 2
2𝑘
1 1
⃗⃗ 𝐺⃗ = 𝐺⃗ 2
𝑘 (2.30)
2 2
Sekarang pembahasan kita tentang jarak resiprokal, jarak k’s dan
G’s.Pilih sebuah vektor G dari asalnya untuk titik kisi resiprokal. Konstruk
normal plane untuk vektor G ini pada titik tengahnya. Plane ini berbentuk
sebagian zona berbatas. Seberkas sinar-x pada kristal akan terdifraksi jika
gelombang vektor k memiliki besaran dan arah Difraksi sinar akan selanjutnya
berada di arah k – G, dengan ∆k = -G. Sehingga konstruksi Brillouin
menunjukkan semua vektor gelombang k yang dapat berefleksi Bragg oleh kristal.
Sepasang plane tersebut tegak lurus pembagi dua vektor kisi resiprok
adalah kepentingan umum dalam teori perambatan gelombang pada kristal.
Sebuah gelombang yang vektor gelombang digambarkan dari terminal asalnya
pada berbagai plane ini akan memenuhi kondisi difraksi. Celah plane ini jarak
Fourier kristal ke dalam fragment untuk medan kisi. Medan pusat adalah sel
primitif kisi resiprok. Ini adalah sel Wigner-Seitz kisi resiprok.Sel pusat dalam
kisi resiprok adalah pentingnya spesial dalam teori zat padat, dam kita
menyebutnya sebagai zona pertama Brillouin. Zona pertama Brillouin adalah
volume terkecil tertutup sepenuhnya oleh plane bahwa pembagi dua tegak lurus
vektor kisi resiprok yang digambarkan dari asal. Secara historis, zona Brillouin
adalah bukan bagian pembahasan dari analisis difraksi sinar-x struktur kristal,
tetapi zona adalah bagian esensial analisis energi ikat elektronik struktur kristal.

17
Menggambarkan sel Weigner – Seitz dari ruang kisi resiprok :
• Hubungkan antara titik kisi resiprok dengan tetangga terdekatnya
• Buatlah garis tegak lurus pada tengah-tengah garis penghubung tadi,
perpotongan garis-garis tersebut akan membentuk sebuah kisi persegi
• Segi empat ini merupakan sel Weigner Seitz dari sebuah kisi resiprok.

Gambar 7 sel Weigner Seitz


Daerah segi empat yang diarsir adalah sel primitif dari kisi resiprok atau
merupakan sel Weigner Seitz dari sebuah kisi resiprok atau sering disebut derah
brillouin pertama.

F. Teknik – Teknik Difraksi Kristal


Pada dasarnya terdapat tiga teknik atau metode difraksi kristal, yakni
Metode rotasi kristal, metode Laue, dan metode bubuk. Ketiga metode ini
digunakan untuk mengkaji struktur kristal.
a. Metode Laue
Metode ini tidak menggunakan sinar monokromatik. Agar sudut
difraksinya bernilai konstan maka digunakan kristal tunggal sebagai
spesimennya. Hukum bragg dapat terpenuhi jika sinar X mendifraksi sesuai
dengan panjang gelombangnya pada bidang dari kristal tunggal. Metode
Laue ini terbagi menjadi dua yaitu metode transmisi dan metode pemantulan
balik.

18
i. Metode transmisi
Metode ini menggunakan film foto yang terletak dibagian belakang
kristal sehingga berkas sinar difraksi yang ditransmisikan dapat langsung
direkam

Gambar 8 Metode Transmisi


ii. Metode pemantulan balik
Lain halnya dengan metode transmisi di atas, metode pemantulan
balik ini, film fotonya ditempatkan diantara sinar datang dan kristal
sehingga yang terakam adalah berkas sinar yang dipantulkan kembali
oleh kristal.

Gambar 9 Metode Pemantulan Balik


b. Metode kristal berputar
. Kristal yang berdiameter sekitar 2 mm ditempatkan pada ujung suatu
sumbu vertical yang berputar. Suatu berkas sinar-X yang monokromatik

19
dijatuhkan pada Kristal yang berputar tersebut. Arah berkas adalah tegak
lurus terhadap sumbu perputaran. Arah daripada berkas sinar-X yang
dihambur (interferensi yang saling menguatkan) terekam sebagai
penghitaman kertas film yang ditempatkan secara konsentris terhadap
sumbu perputaran. Metode kristal berputar berbeda dengan metode Laue
yang mana dalam metode Laue tidak menggunakan berkas sinar
monokromatik akan tetapi yang digunakan adalah spectrum yang kontinu,
sedangkan untuk metode kristal berputar ini terjadi ketika kristal dari
sampel dari sampel uji disinari sinar X dan sinar X tersebut mengelilingi
kristal sehingga pada orientasi tertentu akan dihasilkan berkas difraksi
kemudian direkam oleh film foto

Gambar 10 Metode kristal berputar


Kristal yang digunakan dalam metode ini adalah Kristal tunggal.
Perputaran Kristal menyebabkan perubahan sudut 2θ, jadi yang berarti
perubahan posisi berbagai bidang untuk dapat memenuhi syarat refleksi
Bragg. Pada pola bintik-bintik hitam di film dapat dikatakan hal berikut:
a. Bahwa berkas sinar-X yang direfleksikan oleh semua bidang Kristal yang
letaknya sejajar dengan sumbu rotasi akan memberikan bintik-bintik
hitam yang terletak pada suatu bidang horizontal. Bidang horizontal
termaksud adalah tegak lurus terhadap sumbu perputaran (yang vertical),
dan memuat berkas sinar-X yang datang.

20
b. Bahwa bidang-bidang Kristal yang tidak sejajar dengan sumbu
perputaran akan memberikan bintik-bintik yang letaknya di bawah atau
di atas bidang horizontal tersebut.

c. Metode serbuk
Cara ini paling lazim dipergunakan, karena tidak rumit dan mudah
dalam analisisnya. Untuk cara ini tidak perlu dipergunakan kristal tunggal,
cukup dengan serbuk halus kristal. Serbuk halus tersebut membuat kita
berhadapan dengan banyak sekali Kristal-kristal kecil dengan orientasi
Kristal yang serba acak, atau randomly distributed crystal orientation. Pada
metode ini, suatu berkas sinar-X yang monokromatik ditujukan pada sampel
yang berbentuk serbuk iniDalam metode ini, kristal yang diamati dalam
bentuk serbukan dimana setiap butir serbuk berlaku sebagai kristal
berukuran kecil dengan orientasi acak dan diputar tidak melalui satu sumbu
saja

Gambar 11 Metode Serbuk


Berkas sinar-X monokromatik mengenai cuplikan serbuk kristal yang
ditempatkan pada ujung sumbu di tengah-tengah kamera.Serbuk kristal yang
orientasinya kebetulan dengan syarat difraksi Bragg memberikan pantulan
dengan sudut hamburan 2θ. Berkas yang dihamburkan ini memberikan
penghitaman pada film yang secara silindrik mengelilingi sampel. Silinder

21
film tersebut konsentrik terhadap sumbu sampel. Tempat dengan intensitas
tinggi memberikan penghitaman yang lebih pekat dibandingkan dengan
tempat dimana intensitas sinar-X yang sampel di film tidak begitu tinggi.
Derajat penghitaman diukur dengan suatu densitometer. Dalam sistem-
sistem yang telah maju tidak lagi dipergunakan film. Intensitas direkam
dengan suatu system.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Hamburan berkas sinar-X disebabkan oleh atom diskrit kristal yang
bersangkutan. Oleh karena itu bahasan berikut menelaah hukum Bragg
melalui proses hamburan. Model yang dikemukakan di atas terlalu
sederhana. Fakta menunjukkan bahwa hamburan berkas sinar-X
disebabkan oleh atom diskrit kristal yang bersangkutan. Oleh karena
itu bahasan berikut menelaah hukum Bragg melalui proses hamburan.
2. Setiap struktur kristal memiliki 2 kisi, yaitu kisi kristal dan resiprok.
Saat kristal dikenai sinar-X, akan dihasilkan pola difraksi yang
merupakan peta kisi resiprok kristal tersebut. Representasi kisi kristal
melalui kisi resiproknya.
3. Menggambarkan sel Weigner – Seitz dari ruang kisi resiprok :
a. Hubungkan antara titik kisi resiprok dengan tetangga terdekatnya
b. Buatlah garis tegak lurus pada tengah-tengah garis penghubung
tadi,
c. perpotongan garis-garis tersebut akan membentuk sebuah kisi
persegi
d. empat ini merupakan sel Weigner Seitz dari sebuah kisi resiprok.
4. Pada dasarnya terdapat tiga teknik atau metode difraksi kristal, yakni
Metode rotasi kristal, metode Laue, dan metode bubuk.
B. Saran

23
DAFTAR PUSTAKA
Guinier, A. (1963), X-ray diffraction in crystals, imperfect crystals and
amorphous bodies,W.H. Freeman, San Francisco.
http://openstorage.gunadarma.ac.id/handouts/S1_TEKNIKINFORMATIKA
/Fisika%20zat%20padat.doc
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Rita%20Prasetyowati,%2
0M.Si./DIFRAKSI%20KRISTAL%20DAN%20KISI%20RESIPRO
K.pdf
https://attachment.fbsbx.com/file_download.php?id=400339686727935&eid=
ASukLfheqr7idpmgMAtNqXFNHW9nMUEQKCI85QbQ9HfjBHR
kGMHvv_4bFGy5q5fBkE&ext=1448019616&hash=ASsvJ_DnYY1k
5S6P
Rahman, Syaiful. 2016. Rancangan Eksperimen Analisis Struktur Mikro
Sampel dengan Prinsip XRD Menggunakan Metode Kristal
Berputar. JRKPF UAD Vol 3 No 1
Warren, B. E. (1969), X-ray diffraction, Addison-Wesley Pub. Co,
Massachussetts.

24