Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Middle Range Theory


Dikemukakan oleh sosiolog America Robert Merton dalam “Social Theory and Social
Structure (1957)” untuk menghubungkan pemisah diantara hipotesis-hipotesis terbatas dari
study empirisme dan teori-teori besar yang diciptakan Talcott Parson.
1. Pengertian Middle Range Theory
Middle Range Theory adalah serangkaian ide/gagasan saling berhubungan dan
berfokus pada suatu dimensi terbatas yaitu pada realitas keperawatan. Teori ini
menjelaskan fenomena spesifik dan telah diuji dalam penelitian dan digunakan untuk
memandu praktek keperawatan. Kajian analis teori transendensi diri menjelaskan
bagaimana penuaan atau mendorong kerentanan manusia melampaui batas-batas untuk
intra pribadi fokus pada makna kehidupan.
2. Ciri-ciri Middle Range Theory
a. Menurut Mc. Kenna H.P. (1997)
 Bisa digunakan secara umum pada berbagai situasi
 Sulit mengaplikasikan konsep kedalam teori
 Tanpa indikator pengukuran
 Masih cukup abstrak
 Konsep dan proposisi yang terukur
 Inklusif
b. Menurut Meleis A.I. (1997)
 Ruang lingkup yang terbatas
 Memiliki sedikit abstrak
 Membahas fenomena / konsep yang lebih spesifik
 Merupakan cerminan praktik (administrasi, klinik, pengajaran)
c. Menurut Whall (1996)
 Konsep dan proposisi spesifik tentang keperawatan
 Mudah diterapkan
 Bisa diterapkan pada berbagai situasi
 Proposisi bisa berada dalam suatu rentang hubungan sebab akibat

3. Kegunaan Middle Range Theory


a. Dalam bidang praktik dan penelitian mudah diaplikasikan dan cukup abstrak secara
ilmiah. Tingkatnya menengah diorganisasi dalam lingkup terbatas, variabel terbatas,
serta dapat diuji secara langsung.
b. Mampu menstimulasi dan mengembangkan pemikiran rasional dari penelitian.
c. Membimbing dalam penelitian variabel dan pernyataan dalam penelitian.
d. Membantu praktik dengan memfasilitasi pemahaman terhadap perilaku klien.

4. Tindakan Keperawatan
Secara langsung berfokus pada sumber yang berasal dari dalam diri seseorang
terhadap transendensi / berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang
mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan keadaan baik/sehat.
5. Perkembangan Middle Range Theory
a. Teori induktif yang membangun teori melalui riset.
b. Teori deduktif yang berasal dari Grand Theory.
c. Kombinasi dari teori keperawatan dan non keperawatan.
d. Sintesa teori yang berasal dari penelitian yang telah terpublikasikan.
e. Mengembangkan teori dari pedoman praktik klinik.

6. Kontroversi tentang Middle Range Theory


Identifikasi Middle Range Theory telah cukup jelas. Dalam analisis dasar Middle
Range Theory pertanyaan tentang Middle Range Theory bukanlah merupakan suatu
pernyataan hitam dan putih namun memiliki definisi yang jelas. Middle Range Theory
mengandung nilai abstrak, tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu sempit tetapi berada
pada kondisi pertengahan.

7. Perbandingan dengan yang Lain


Cukup spesifik untuk memberikan petunjuk riset dan praktik. Cukup umum pada
populasi klinik dan mencakup fenomena yang sama. Dapat diuji dalam pemikiran empiris,
mempresentasikan bidang keperawatan yang lebih spesifik / terbatas dan lebih dapat
diaplikasikan secara langsung dalam tatanan praktek.

8. Contoh tindakan keperawatan


 Fisioterapi napas, batuk & suction
 Memberikan sonde susu 200 cc + extra telur 1 butir +Bisolvon 1tab
 Memberikan : inj. Cefotaxime 1 gr/IV
Inj. Gastridin 1 amp/IV
Inj. Bicombion 1 amp/IV
Inj. Jayacin 200 mg/IV drif
 Melakukan oral hygien
 Melakukan mobilisasi mika/miki
 Melakukan observasi TTV & kesadaran tiap jam
 Membantu melakukan setting pada ventilator
 Melakukan fisioterpai napas & suction
 Memberikan sonde susu 200 cc + Bisolvon 1 tab
 Membantu klien BAB
 Memberikan Albumin 25 % 100 cc/infuse
 Memonitor produk urine tiap jam
 Memberikan inf. KAEN MG 3 20 tts/mnt
 T= 104/70 mmHg,Nadi=120 x/mnt,RR=32 x/mnt,Suhu= 37,70c,kesadaran compos
mentis, Produksi urine/7 jam= 640 cc.
BAB II
PEMBAHASAN

Middlle Range Teori

A. Kasus

An.S seorang wanita umur 9 tahun sejak kecil mengalami Retardasi mental
sekarang dia sekolah di SLB kelas III, kemajuan yang didapat belum menunjukkan hal-
hal lebih baik, masih harus dibantu oleh keluarga terutama ibunya dalam hal berpakaian,
makan, toilet, mandi belum bisa mandiri masih harus dibantu. Ibunya kadang dengan
senang hati membantu anaknya, namun kadang merasa jenuh, marah-marah, kadang
menyesal mempunyai anak seperti bila An.S susah untuk diatur, apalagi sekarang An.S
telah mengalami menarche tentu saja perawatan ketika haid harus diberikan tetapi
namanya An.S emang susah untuk diatur ibunya semakin khawatir dengan keadaan
tersebut takut terjadi apa-apa, khawatir dengan pergaulannya, kebersihannya apalagi
sekarang ibunya sering mengalami migrain, kadang tekanan darah naik.

B. Analisis Teori Chronic Sorrow


Teori ini menghubungkan konsep dasar chronic sorrow yang murni dari
Olshansky dengan model stress adaptasi dari Lazarus dan Folkman.

1. Tingkat Kejelasan (Clarity)

Teori ini secara jelas menggambarkan fenomena yang terjadi pada area klinik
ketika terjadi kehilangan. Diagnosa keperawatan Chronic sorrow juga terdapat pada
nursing textbook yang diartikan sebagai sesuatu yang berkelanjutan, berulang (kambuh)
dan potensial menjadi progresif. Kondisi yang muncul pada teori ini konsisten dengan
apa yang ada pada teori. Konsep kunci dan hubungan antar konsep juga diartikan secara
jelas. Hubungan antar konsep juga berdasarkan intuisi. Sebagai contoh, jelas bahwa
manajemen yang efektif baik internal maupun eksternal, akan menghasilkan kenyamanan
dan sebaliknya manajemen yang tidak efektif akan meningkatkan ketidaknyamanan dan
intensitas dari duka cita yang kronis. Sebagai kelompok middle range, wilayah teori
dibatasi pada penjelasan satu fenomena, respon kehilangan dan hal ini sesuai dengan
pengalaman praktik klinik. Seperti yang dinyatakan oleh Eakes, keunggulan dari middle
range teori ini memberi penjelasan secara benar bagi praktisi perawat, pelajar/
mahasiswa perawat dan pendidik sebagai bukti komunikasi yang berkelanjutan secara
nasional dan internasional

Satu aspek yang belum jelas dari teori ini adalah penjelasan tentang mengapa
tidak semua individu dengan ketidakmampuan mengatasi kehilangan mengalami chronic
sorrow. Beberapa, sekalipun pandangan, wawancara NCRCS tidak berpengalaman dalam
menjelaskan gejala chronic sorrow. Tidak ada data lebih jauh yang bisa membuktikan
tentang individu yang tidak mengalami kronik sorrow ini, apakah mereka memiliki
karakteristik kepribadian yang berbeda, misalnya memiliki ketabahan, atau mereka
menerima intervensi yang berbeda saat mengalami kehilangan? Apa data yang
diinginkan dari individu terkait koping dengan kehilangan yang terus menerus. Konsep
lain yang perlu dilakukan klarifikasi adalah perkembangan (progress) dari chronic
sorrow. Meskipun digambarkan bahwa chronic sorrow potensial berkembang, apa
perkembangannya dan apakah perkembangannya secara alami menjadi patologis?

Perlu klarifikasi strategi manajemen internal. Dalam hal ini belum jelas
perbedaan problem oriented dengan cognitive strategies. Demikian juga emotive-
cognitive, emotional dan strategi interpersonal belum digambarkan secara jelas.
Beberapa overlap yang nyata antara manajemen internal dan eksternal terjadi ketika kata
“interpersonal” digunakan untuk menggambarkan bantuan professional

Teori ini memiliki kesamaan dengan teori lainnya, yakni memandang bahwa
fokus dari perawatan adalah individu, keluarga (caregiver), kelompok (peer group),
hanya kurang memandang masyarakat yang dalam kondisi chonic sorrow ini bisa
dijadikan sebagai support system (manajemen eksternal), teori ini hanya memandang
profesi kesehatan sebagai sumber manajemen eksternal Keperawatan untuk
meningkatkan kenyamanan melalui peran empatik, pengajaran, caring dan memberikan
asuhan yang profesional.
2. Tingkat Kesederhanaan (SIMPLICITY)

Model teori Chronic Sorrow memperjelas pemahaman hubungan antara variabel.


Melalui model ini, jelas bahwa chronic sorrow terjadi terus menerus secara alami,
menyebar dan potensial berkembang. Lebih jauh dengan subkonsep internal versus
manajemen eksternal dan manajemen inefektif versus manajemen efektif, ini jelas apa
tipe pengkajian dan intervensi yang tepat oleh perawat dan pemberi pelayanan kesehatan
lainnya, apa yang terbaik untuk mencegah chronic sorrow menjadi progressif. Dengan
jumlah variabel yang terbatas, teori ini lebih mudah dimengerti. Sebagai kelompok
middle range, teori ini berguna untuk panduan praktik dan desain penelitian selanjutnya

3. Tingkat Generalitas

Konsep chronic sorrow dimulai dengan studi pada orang tua dengan anak yang
mengalami gangguan fisik atau kognitif. Melalui pembuktian secara empiris, teori
diperluas untuk memasukkan berbagai pengalaman dari kehilangan. Teori ini
menerapkan secara jelas bagaimana rentang kehilangan dan dapat diaplikasikan untuk
mempengaruhi individu seperti halnya pemberi perawatan. Sebagai tambahan, teori ini
berguna untuk berbagai praktisi pelayanan kesehatan. Dengan konsep ini keunikan yang
alami dari pengalaman digambarkan kurang luas seperti halnya pemicu. Pemicu dan
strategi manajemen unik pada setiap situasi individu dan bisa diaplikasikan pada situasi
yang lebih beragam

4. Ringkasan Empiris

Karakteristik dari middle range teori, wilayahnya yang terbatas akan lebih mudah
bagi peneliti untuk mempelajari fenomena. Dengan jumlah variabel yang terbatas, peneliti
dapat melakukan generalisasi hipotesa berhubungan dengan studi pada intervensi
keperawatan yang meningkatkan efektivitas Keperawatan strategi manajemen pada
chronic sorrow. Hasil dari studi ini dapat menambah kekuatan dasar pada praktik
berdasarkan hasil pembuktian (evidence based practice).
Karena teori ini berasal dari pembuktian secara empiris, maka kegunaannya jelas
untuk penelitian lebih lanjut. Definisi yang jelas dari chronic sorrow membuat hal ini
dapat dipelajari pada individu dengan kehilangan yang beragam dan situasi yang
umumnya menghasilkan chronic sorrow. Melalui penelitian yang lebih lanjut, peneliti
dapat memikirkan alat pengkajian untuk perawat klinik.

5. Konsekuensi Yang Diperoleh

Sebagai konsekuensi dari penelitian, penomena dari chronic sorrow dapat diterima
lebih luas dapat dibuktikan pada diagnosa NANDA. Perawat dan pemberi pelayanan
kesehatan profesional lain menemukan validitas pada pengalaman kehilangan pada area
klinik.Eakes menyatakan “chronic sorrow sama halnya dengan pengalaman hamil ini
merupakan proses normal dimana klien mendapatkan keuntungan bantuan dan support
dari tenaga kesehatan profesional (G.Eakes, personal communication, December
2004).Secara lebih jauh Eakes bahwa pengalaman ini unik pada masing- masing individu
dan pada masing- masing situasi.

C. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Tahap perkembangan ;
- An.S berada pada umur 9 tahun mengalami penurunan pada perkembangan
mental
- An.S sudah memgalami Menarche
- Ibunya berada dalam chronic sorrow selama 9 tahun
b. Kebudayaan/ kebiasaan-kebiasaan ; Kebutuhan sehari - hari dibantu oleh ibunya
c. Kepercayaan/ spiritual; Ibunya memang sudah pasrah kepada Tuhan
yang Maha esa, namun kadang merasa putus asa dan menyesal
mempunyai anak seperti itu. Kondisi sosial ekonomi sebagai support sistem ;
Keluarga An.S orang
yang cukup berada terbukti An.S disekolahkan di SLB
d. Kondisi psikologis :
- Ibu mengalami chronic sorrow, merasa jenuh, kadang menyesal dengan
keadaan anaknya
- Ibunya ketakutan terhadap An.S karena sudah mengalami menarche, takut dan
khawatir terhadap kebersihan ketika datang bulan dan pergaulannya
2. Diagnosa Keperawatan
a. Tidak efektif koping keluarga
b. Kurang pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak
berhubungan dengan kurangnya informasi
3. Rencana Tindakan
a.Tidak efektif koping keluarga;
- Bantu keluarga mengenal masalah yang terjadi dalam keluarga
- Bantu keluarga mengidentifikasi cara menelesaikan masalah yang Sudah
dilakukan
- Bantu keluarga memilih alternatif pemecahan masalah secara sehat
- Latih keterampilan keluarga dalam manajemen konflik
- Komunikasi terbuka dan memenuhi kebutuhan anggota keluarga
yang bermasalah
b. Kurang Pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak berhubungan dengan
kurangnya informasi
Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak
Berikan pendidikan kesehatan tentang tumbuh kembang anak
Libatkan orang tua dalam meningkatkan kesehatan anak
Bantu klien dalam memperoleh pengetahuan
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyakit kronis dapat didefinisikan sebagai kondisi sakit yang menimbulkan berkurang
atau hilangnya fungsi sehari-hari lebih dari 3 bulan dalam 1 tahun atau mengalami
hospitalisasi lebih dari 1 bulan dalam 1 tahun. (Hockenberry, 2007). Hal ini menjadikan
individu/ anak dengan penyakit kronik mengalami berbagai masalah keterbatasan
sehingga individu/ anak tersebut mempunyai kebutuhan akan perawatan khusus,
komprehensif dan berkelanjutan.

Penderitaan kronis tidak akan membuat individu melemah bila efektif dalam mengatur
perasaan bisa secara internal maupun ekternal. Strategi manajemen perawatan diri diatur
melalui strategi koping internal. NCRCS ditunjuk lebih lanjut untuk mengatur strategi
koping internal seperti tindakan, kognitif, interpersonal dan emosional

Mekanisme tindakan koping digunakan untuk semua subjek individu dengan kondisi
kronis dan pemberi perawatannya. (Eakes , 1993, 1995, Eakes at al., 1993, 1999;
Hainsworth et al., 1995; Lindgren, 1996),

Strategi emosional contohnya menangis atau ekspresi emosi lainnya (Eakes, et al., 1998;
Hainsworth, 1995). Manajemen eksternal adalah intervensi yang diberikan oleh tenaga
kesehatan (Eakes et al., 1998). Pelayanan kesehatan yang diberikan secara profesional
dapat membantu memberikan rasa nyaman bagi mereka, caring dan tenaga profesional
yang kompeten lainnya.

B. SARAN
1. Orang tua harus memahami kondisi anak yang mengalami suat penyakit kroniis salah
satunya adalah meningkatkan fungsi keluarga dimana keluarga akan mendapatkan tugas
keluarga yang lebih kompleks, tanggung jawab yang lebih besar, perhatian yang lebih
besar, tugas

Grand Theory dan Middle-Range Theory


Grand theory adalah setiap teori yang dicoba dari penjelasan keseluruhan dari
kehidupan sosial, sejarah, atau pengalaman manusia. Pada dasarnya berlawanan dengan
empirisme, positivisme atau pandangan bahwa pengertian hanya mungkin dilakukan
dengan mempelajari fakta-fakta, masyarakat dan fenomena. Bersumber dari: Quentin
Skinner, ed., The Return of Grand Theory in the Human Sciences (Cambridge, 1985)

Grand theory, istilah yang diciptakan oleh C. Wright Mills dalam ‘The sociological
imagination (1959)’ yang berkenaan dengan bentuk abstrak tertinggi suatu peneorian
yang tersusunan atas konsep-konsep yang diprioritaskan atas dapat mengerti dunia
sosial.

Grand Theory menekankan pada konsep keseimbangan, pengambilan keputusan,


sistem dan bentuk komunikasi sebagai sarana dasar perangkat pengatur (central
organizing devices) untuk mengkaji hubungan internasional.

Peletak dasar utama grand theory dalam politik internasional , adalah Hans. J.
Morgenthau melalui buku klasiknya “Politics Among Nations”(1948). Morgenthau
menunjukan dan membuktikan bahwa berbagai data politik internasional bisa
dipadukan dalam model power politics.sumbangan pemikirannya bagi studi hubungan
internasional menunjukan bahwa:

1. Bidang studi hubungan internasional harus mencoba menyusun generalisasi, dan


tidak terpaku pada peristiwa yang unik.
2. Hubungan internasional pada hakekatnya menunjukan pola perilaku yang selalu
berulang .
3. Pokok bahasan (core subjects) dikaji untuk menelusuri sumber perilaku negara dalam
mendapatkan power serta menetapkan pola hubungan tertentu seperti pertimbangan
kekuatan.

Dari referensi yang tersedia, menurut hemat saya, Grand theory adalah teori keseluruhan
atau yang secara garis besar berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau kasus.
Middle-Range Theory
Middle-range theory dikemukakan oleh sosiolog amerika Robert Merton dalam ‘Social
theory and social Structure’ (1957) untuk menghubungkan pemisah diantara hipotesis-
hipotesis terbatas dari studi empirisme dan teori-teori besar yang abstrak yang diciptakan
Talcott Parson. Dia menjelaskan middle-range theory sebagai teori yang berbohong
diantara minor-minor tapi diperlukan hipotesis yang berkembang dalam keadaan yang
berlimpah dalam penelitian selama berhari-hari hingga diperlukan usaha-usaha sistematis
untuk mengembangkan teori gabungan yang akan menjelaskan seluruh penelitian yang
seragam dari perilaku sosial, organisasi dan perubahan sosial. Banyak konsep tang
dikembangkan dari mid-range theories telah menjadi bagian dari kosakata dasar sosiologi
: retreatisme, ritualisme, manifest dan latent functions, opportunity structure, paradigma,
reference group, role-sets, self-fulfilling propechy dan unintended concequence.
Pemikira middle-range theory secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi
pandangan sosiolog atas pekerjaan mereka.

Teori ini dipergunakan sebagai hipotesis yang patut diuji, bukan sebagai perangkat
pengatur studi hubungan internasional. Objek yang ditelusuri jauh diluar bidang
perhatian kelompok tradisional, perhatian lebih jauh ditujukan pada hukum internasional,
organisasi internasional, serta peristiwa yang sedang berlangsung.

Mid-range theory disepakati sebagai suatu bidang yang relatif luas dari suatu fenomena,
tapi tidak membahas keseluruhan fenomena dan sangat memperhatikan kedisiplinan
(Chinn and Kramer, 1995, p 216).

Beberapa mid-range theories didasari oleh grand theories. Hal ini ditegaskan pernyataan
Smith (1994), bahwa fungsi utama grand theories adalah sebagai sumber utama yang
selanjutnya akan dikembangkan oleh middle-range theories

Menurut saya sendiri, Middle-range theory itu sendiri adalah pembahasan yang lebih
fokus dan mendetail atas suatu grand theory.

Beberapa dari peneliti teori ini membuktikan bahwa maksud utama analisis ilmiah tidak
hanya menjelaskan masalah, tetapi mampu memprediksi atau meramalkan sesuatu.
Mereka menyatakan bahwa ramalan yang dapat dipercaya bisa dibuat jika nariabel utama
yang memperngaruhi perilaku politik telah diidentifikasikan dan hubungan antara
variabel lain telah ditetapkan. Dengan kata lain mereka meramalkan sekelompok
kejadian berdasarkan variabel yang telah diidentifikasi dan ditetapkan; mereka tidak akan
melakukan ramalan jika hanya ditopang oleh satu kejadian khusus.
DAFTAR PUSTAKA

https://rockypermata.wordpress.com/2012/02/01/grand-theory-dan-middle-range-theory/

https://www.scribd.com/doc/22920596/Middlle-Range-Teori