Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Biologi Hutan Tropika

KEANEKARAGAMAN JENIS HEWAN SERASAH


DI KAWASAN DESA CUCUM, KOTA JANTHO,
KABUPATEN ACEH BESAR

Diajukan untuk memenuhi tugas dan

memenuhi syarat guna menyelesaikan praktikum

mata kuliah Biologi Hutan Tropika

Oleh:
Kelompok 1

Rabiatul Adawiyah 1608104010002


Nabila Humaira 1608104010018
Munira Ulfa 1608104010044
Maulinasari 1608104010024
Zahratul Aini 1608104010030
Miftahus Sururah 1508104010062
Alfira Oksalina Shinta 1508104010065
M. Aidiel Fitra 1608104010036

LABORATORIUM BIOLOGI HUTAN TROPIKA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
MEI, 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di
permukaan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genesis dan lingkungan, yakni bahan
induk, iklim, organisme, topografi dan kurun waktu sangat panjang, yang dapat
dibedakan dari ciri-ciri bahan induk aslinya baik secara fisik, kimia, biologi maupun
morfologinya (Winarso, 2005). Menurut Agus et al (2008) contoh tanah merupakan
suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah dengan cara
tertentu disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti secara lebih detail di
laboratorium. Contoh tanah yang di ambil dari beberapa tempat dan digabung untuk
menilai tingkat kesuburan tanah disebut contoh tanah komposit.
Fauna tanah yang sering ditemukan di dalam atau di atas permukaan tanah
adalah semut, cacing, ular, kumbang, laba-laba, tikus, jangkrik, lipan, dan
sebagainya. Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain
mikroba (bakteri, fungi, aktinomycetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna
tanah. Masing-masing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus. Dalam
kaitannya dengan tanaman, mikoba berperan dalam membantu pertumbuhan
tanaman melalui penyediaan hara (mikroba penambat N, pelarut P), membantu
penyerapan hara (cendawan arbuskulura), memacu pertumbuhan tanaman
(penghasil hormon), dan pengendali penyakit hama penyakit (penghasil antibiotik,
antipatogen). Demikian pula fauna tanah, setiap grup fauna tanah memepynyai
fungsi ekologis yang khusus.
Ekosistem hutan sangatlah kompleks, pohon-pohon dan tanaman hijau
lainnya membutuhkan sinar matahari untuk memproses makanan yang diambil dari
udara, air dan mineral dari dalam tanah. Tanaman memberi makan pada beberapa
binatang tertentu. Binatang pemakan tumbuhan ini dimakan oleh binatang
pemangsa daging. Tanaman dan binatang yang mati diurai oleh bakteri dan
organisme lainnya seperti protosoa dan jamur. Proses ini mengembalikan mineral
ke dalam tanah, yang dapat digunakan lagi oleh tumbuhan untuk berfotosintesis.
Berdasarkan uraian tersebut, mendata dan menganalisis keragaman fauna serasah
menjadi salah satu cara diketahuinya komposisi, nutrisi dan ekosistem suatu kawasan
sampel. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan data
hewan serasah Hutan Cucum Jantho Aceh Besar.

1.2. TUJUAN PENELITIAN


Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fauna tanah dan mendata keragaman
jenis hewan serasah di kawasan Hutan Cucum kota Jantho Kabupaten Aceh Besar.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia ini dan memiliki


sumber daya alam yang melimpah. Indonesia juga merupakan salah satu negara
yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia terutama pada jenis satwa
dan tumbuhan. Bahkan, sebagian dari kekayaan hayati Indonesia tersebut tidak
dijumpai di belahan bumi mana pun Oleh sebab itu Indonesia termasuk ke dalam
daftar negara mega- biodiversity (Widayati, 2007).

Hewan dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu hewan tidak bertulang
belakang (invertebrata) dan hewan bertulang belakang (vertebrata). Hewan tidak
bertulang belakang terdiri dari beberapa golongan, yaitu: hewan bersel satu
(protozoa), hewan cacing (vermes), hewan lunak (moluska), hewan berongga
(selenterata), hewan berkulit duri (ekinodermata), dan hewan berbuku-buku
(antrhopoda). Sedangkan jenis hewan bertulang belakang yaitu ikan, amfibi
,reptilia, burung (aves) dan mamalia (Waluyo dan Irianto, 2010).

Menurut Suyanto dan Semiadi (2004), Mamalia merupakan salah satu hewan
dari kelas vertebrata yang memiliki sifat homoetherm atau disebut juga dengan
berdarah panas. Ciri khas mamalia mempunyai kelenjar susu, melahirkan anak serta
memiliki rambut., berdasarkan ukurannya, mamalia dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu mamalia besar dan mamalia kecil. International Biological Program
mendefinisikan mamalia kecil sebagai jenis-jenis mamalia yang memiliki ukuran
berat badan dewasa kurang dari 5 kg seperti tikus, bajing, dan tupai.

Kehidupan hewan tanah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan biotik dan
abiotik. Faktor lingkungan biotik adalah adanya organisme lain yang berada di
habitat yang sama, seperti mikroflora, tumbuh- tumbuhan dan golongan hewan
lainnya. Faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap keberadaan hewan
tanah, terutama adalah pH tanah, suhu tanah, aerasi, dan kadar air tersedia.Tanah
asam ataupun tanah alkalin umumnya kurang disukai hewan tanah, terutama
disebabkan karena tanaman yang dapat hidup pada tanah-tanah tersebut hanya
sedikit. Hal ini menyebabkan hewan tanah akan kekurangan sumber makanan.
(Suin, 2006).

Penyebaran serangga dibatasi oleh faktor-faktor geologi dan ekologi yang


cocok, sehingga terjadi perbedaan keragaman jenis serangga. Perbedaan ini
disebabkan adanya perbedaan iklim, musim, ketinggian tempat, serta jenis
makanannya. Adanya aliran sungai yang melintasi kawasan hutan diduga
berpengaruh terhadap jumlah jenis serangga yang mengunjungi habitat ini dengan
variasi lebih beragam yang merupakan makanan serangga. Kehadiran suatu jenis
serangga dalam suatu habitat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan antara lain
kemampuan serangga untuk menyebar, seleksi habitat, kondisi suhu udara,
kelembaban udara, kelembaban tanah, cahaya, curah hujan, vegetasi, dan
ketersediaan makanan (Subekti, 2012).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1. ALAT DAN BAHAN


Alat- alat yang digunakan pada praktikum ini adalah botol sampel, baki,
sekop, pinset, dan tali.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alkohol 70% dan
formalin.

3.2. CARA KERJA


Plot dibuat dengan menarik tali sepanjang 1x1 meter. Kemudian tanah
diambil menggunakan sekop dengan ketebalan ±10 mm. Tanah kemudian diletakan
di dalam baki, setelah itu hewan serasah yang dijumpai diambil menggunakan pinset.
Ciri- ciri morfologi yang tampak dicatat, kemudian dimasukan ke dalam botol
sampel yang telah diisi alkohol dan formalin.
BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 4.1. Keanekaragaman Hewan Serasah pada plot 1x1
No. Nama Spesies Famili Individu Pi(ni/N) Ln Pi Pi Ln Pi H'
1 Pholcus phalangoides Pholcidae 2 0,11765 -2,14007 -0,25177
2 Discus rotundatus Discidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
3 Parasteatoda tepidarium Theridiidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
4 Camponotus pennsylvanicus Formicidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
5 Nasutitermes triiodide Termitidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
6 Spesies 1 (Formicidae) Formicidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
7 Oxychilus sp. Oxychilinae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
8 Valanga nogrocornis Acrididae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
9 Cheiracanthium inclusum Eutichuridae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667 2,67012
10 Dysdercus cingulatus Pyrrhocoridae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
11 Scolopendra morsitans Scolopendridae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
12 Cheiracanthium spp. Eutichuridae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
13 Macrotermes gilvus Termitidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
14 Pheidole sp. Formicidae 2 0,11765 -2,14007 -0,2518
15 Neotibicen linnei Cicadidae 1 0,05882 -2,83321 -0,1667
Jumlah 17 1 -41,11190 -2,67012
Indeks Keragaman (H') : 2,67012

Tabel 4.2. Faktor Abiotik Lingkungan


Parameter Ulangan Rata-rata
Plot
pengukuran I II III
Titik N 05° 16’ 37,37’’
koordinat E 095° 32’ 43,54’’
5
Ketinggian 233 mdpl 233 mdpl 233 mdpl 233 mdpl
Suhu udara 29,2º C 30,2º C 29,8º C 29,7 C
Kelembapan
84% 84% 85% 84,30%
udara
Suhu tanah 25,2º C 25,5ºC 25,0ºC 25,23
pH tanah 6,5 6,2 6,4 6,4
Kelembapan
82% 85% 79% 82
tanah
Intensitas
31600 x 42,20 x 2.107.242.00
cahaya 441 x 2.000
200.000 20.000 0 lux
matahari
230°N05°1’38,68’’
Titik E0
koordinat
95°32’43,97’’
Ketinggian 220 mdpl 220 mdpl 220 mdpl 220 mdpl
Suhu udara 25°C 29,2°C 26,3°C 268.333
Kelembapan
82% 83% 83% 826.667
udara
6
Suhu tanah 25°C 25°C 25,4°C 251.333
pH tanah 6,8 5,9 6,4 63.667
Kelembapan
100% 95% 98% 976.667
tanah
Intensitas
762x2000 0.13x2000 431.3767x
cahaya 532x20000
0 0 2000
matahari

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diketahui jenis-


jenis spesies hewan serasah yang ditemukan pada 3 plot yang berbeda yakni plot 4, 5
dan 6. Ukuran plot untuk pengambilan sampel hewan serasah ialah 1x1 m.
Keankaragaman jenis jewan serasah yang ditemukan berkaitan erat dengan faktor
abiotik pada lokasi pengambilan sampel. Data faktor abiotik juga diambil pada dua
plot yang berbeda sebagai ulangan data. Rata-rata nilai faktor abiotik yang
didapatkan dapat dilihat pada tabel 4.2. Faktor abiotik lingkungan sangat
mempengaruhi kehadiran serta kelimpahan dari hewan-hewan serasah tersebut.
Berikut adalah uraian dari keanekaragaman jenis hewan-hewan serasah yang
ditemukan serta kaitannya dengan faktor abiotik lingkungan. Sampel yang diambil
dilapangan diletakkan didalam botol sampel yang telah diberi formalin. Fungsi dari
formalin ialah untuk mengawetkan sampel dalam jangan waktu yang lama.
Semut adalah serangga sosial yang berasql dari famili Formicidae yang
termasuk ke dalam ordo Hymenoptera. Semut yang ditemukan pada plot 4 kawasan
cucum belum teridentifikasi jenisnya. Namun, secara umum semut memiliki peranan
penting bagi ekosistem. Semut merupakan pemangsa utama beberapa invertebrata
kecil. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang di lakukan oleh Arifin (2014) yang
menyebutkan bahwa semut dapat menjaga aerasi dan pencampuran tanah sehingga
dapat emningkatkan infiltrasi air yang menyebabkan tanah tetap sehat. Oleh
karenanya famili Formicidae ini banyak ditemukan sebagai hewan serasah. Mengacu
pada penelitian Hashimoto (2003) menyatakan bahwa familiy Formicidae ini
merupakan tipe yang kosmopolitan karena memiliki variase makan yang lebih
banyak, sehingga tidak terlalu bergantung pada pakan yang lain.
Jumlah family Formicidae yang ditemukan ialah satu ekor dan semut ini
hanya ditemukan pada plot 4. Hal ini diduga disebabkan oleh faktor abiotik pada
lingkungan tersebut. Menurut Noor (2008) kehadiran famili Formicidae dipengaruhi
oleh temperatur dan kelembaban. Famili ini hidup di kawasan yang temperatur tinggi
yakni 18ºC dan kelembaban rendah yaitu kurang dari 80%. Jika temperatur kawasan
lingkungannya rendah dan kelembaban tinggi maka hal ini dapat mengurangi
aktivitas dari semut. Hal ini sesuai dengan faktor abiotik yang terukur dimana
kelembaban tanah yang didapat melebihi 80% dan suhu tanah 25,2ºC.
Parasteatoda tepidarium merupakan jenis laba-laba yang hidup pada daerah
yang cuacanya dingin dan gelap. Laba-laba jens ini juga dapat berkembang biak
dengan cepat. Jenis ini didapatkan di plot 4 dengan jumlah individu satu ekor.
Menurut Nurlaela (2017), laba-laba jenis ini merupakan salah satu hewan serasah
yang dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama tanpa tersedianya makanan.
Berdasarkan pengukuran faktor abiotik yang dilakukan dapat diketahui bahwa
kondisi lingkungan daerah Cucum mendukung pertumbuhan dari laba-laba tersebut
karena curah hujan yang tinggi serta tempat ditemukannya laba-laba ini intensitas
cahaya mataharinya rendah. Hal ini dapat dilihat dari kondisi hutan yang gelap.
Pholcus phalagoides juga termasuk kedalam famili Pholcidae atau laba-laba.
Spesies ini memiliki ciri khas kaki yang bewarna belang-belang putih di detiap
segmen atau ruas. Menurut Asriani et al., (2011) laba-laba jenis ini ditemukan pada
daerah yang intensitas cahayanya rendah bahkan adapula yang ditemukan di bawah
tanha, bawah batu dan di gua. Hal ini sejalan dengan hasil praktikum yang didapat
dimana hewan ini ditemukan di serasah bagian bawah tanah dan di kawasan yang
intensitas cahayanya rendah.
Valanga nigricornis merupakan hewan serasah yang tergolong hama polifag
yang memiliki banyak inang. Karena inang yang banyak maka
perkembangbiakannya juga sangat pesat. Menurut Prakoso (2017) keanekaragaman
belalang lebih stabil pada ekosistem yang tidak terganggu dan beberapa faktor
ekologis seperti curah hujan, suhu, kelembaban, jenis tanah dan struktur vegetasi
tanah. Vegetasi sangat mempengaruhi komposisi dan keberadaan spesies belalang
ini. Semakin tinggi keanekaragaman vegetasi pada suatu habitat maka semakin tinggi
pula sumber pakan bagi belalang tersebut sehingga keberadaannya melimpah. Suhu
dan kelembaban merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kelimpahan belalang
jenis ini. Hasil pengukuran rata-rata suhu yang didapatkan ialah 25,2ºC dan rata-rata
kelembaban yang didapatkan 82%. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Prakoso (2017) yang menyebutkan bahwa belalang jenis ini hidup
baik pada suhu 14-26ºC dan pada kelembaban 70-81.4%.
Nasutitermes triiodide merupakan jenis rayap. Tubuh rayap ini lunak dan
umumnya dikenal sebagai semut putih. Morfologi rayap berbeda-beda sehingga
memiliki sistem pembagian tugas yang berbeda. Menurut Kuswanto et al., (2017)
ratu memiliki ukuran yang lebih besar untuk menghasilkan anak sedangkan rayap
prajurut memiliki mulut bertipe penggigit dengan capit yang lebih besar. N. Triiodida
ini masuk kedalam famili termitidae. Mayoritas famili ini memakan kayu, rumput
maupun lumut. Inilah yang menyebabkan rayap jenis ini banyak ditemukan di
serasah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kuswanto dan Anisa
(2012) menyatakan bahwa rayap dengan genus Nasutitermes ini hidup dengan baik
pada suhu yang berkisar dari 22-26ºC dan dengan kelembaban yang berkisar dari 80-
88%. Hal ini sesuai dengan pengukuran abiotik yang telah dilakukan.
Macrotermes gilvus merupakan hewan serasah berupa rayap tanah. Ukuran
populasi dari rayap ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti curah hujan,
suhu dan kelembaban, jenis tanah dan umur ratu. Rayap ini memiliki peranan yang
penting dalam ekosistem hutan. Menurut Subekti (2010) rayap ini melakukan
simbiosis dengan mikroorganisme tanah dalam melakukan perombakan bahan
organik di tanah. Melalui peningkatan air tanah, rayap ini memberikan peluang untuk
masuknya fauna tanah, mikroorganisme lain dan mempermudah penyebaran akar-
akar tanaman. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa Microtermes
gilvus ini merupakan bioprospektor yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah. Oleh karena itu rayap ini beroeran dalam menjaga stabilitas dan siklus
nutrisi dalam ekosistem hutan alam.
Dysdercus cingulatus merupakan hewan serasah yang tergolong pada family
Pyrrhocoridae. Menurut Ermawati dan Utami (2007) hewan jenis ini termasuk
kedalam hama pada tumbuhan. Hewan ini menjadi hama bagi tumbuhan dengan
menghisap cairan tanaman inangnya. Hewan ini juga tersebar hampir di seluruh
dunia. Menurut Ranny (2015) Pheidole sp. merupakan jenis semut yang termasuk
kedalam hewan serasah. Semut jenis ini dapat dijadikan bioindikator kestabilan tanah
dan kandungan unsur dalam tanah. Semut jenis ini dapat mengindikasikan
keberadaan pestisida yang terkandung di dalam tanah. Hal ini sesuai dengan lokasi
pengambilan sampel yang terletak di daerah perkebunan cabai. Sehingga jumlahnya
pun melimpah.
Cheiracanthium inclusum merupakan jenis hewan kelas Araneae dengan
siklus hidup metamorfosis tidak sempurna, dimana fase hidup dari Cheiracanthium
inclusum hanya terdiri atas lima tahapan instar yang dimulai dari telur, instar satu
hingga instar kelima. Menurut Pfannenstiel (2008), Cheiracanthium inclusum jantan
mencapai tahap instar lima sebanyak 84,6 % dalam siklus hidupnya, sedangkan
Cheiracanthium inclusum betina individu yang mencapai tahap instar hanya 66,7 %
dalam siklus hidupnya. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dewasa pada individu
ini menurut penelitian Pfannenstiel (2008), adalah dua hingga empat hari. Makanan
utama yang dimnangsa oleh Cheiracanthium inclusum adalah telur-telur serangga
dan Cheiracanthium inclusum aktif mengkonsumsi air.
Cheiracanthium inclusum hanya ditemukan satu ekor pada plot kedua, hal ini
berhubungan dengan faktor abiotik seperti suhu udara, kelembaban udara, pH tanah
dan lainnya. Menurut Pfannenstiel (2008), suhu udara yang paling optimal untuk
kehidupan Cheiracanthium inclusum adalah berkisar di rentang 20 - 25ºC. Fase instar
satu akan dimulai apabila suhu mulai rendah dibawah 20ºC dan instar akan terus
aktif mencari makan hingga mencapai fase dewasa pada kisaran suhu ±25 ºC.
Discus rotundatus merupakan siput tanah dari filum molusca dan famili
Discidae, siput tanah ini khas berasal dari wilayah Euro-Mediterania dan hampir
tersebar luas diseluruh dunia. Menurut (Arbi, 2014) famili Discidae hidup pada
substrat di sekitar perakaran pohon dibawah kanopi yang rapat, sehingga jenis siput
ini sangat cocok hidup pada suhu tanah yang relatif rendah. Namun, beberapa spesies
memiliki kecenderungan untuk memanjat pohon Perilaku memanjat tersebut
berkaitan erat dengan respon terhadap keberadaan genangan air dan suhu
tanah.Spesies yang memanjat adalah jenis-jenis spesies yang tidak menyukai suhu
tanah hangat saat terjadinya perubahan. Jumlah individu Discus rotundatus yang
ditemukan adalah hanya satu ekor dan terdapat pada plot satu. Kelembaban tanah
yang didapat pada plot tersebut adalah 83 % sehingga sesuai dengan keadaan
lingkungan yang dibutuhkan oleh jenis siput Discus rotundatus.
Scolopendra morsitans mempunyai tubuh pipih dan bersegmen- segmen.
Scolopendra morsitans ditemukan pada plot kedua dengan jumlah spesies sebanyak
satu spesies. Scolopendra morsitans merupakan karnivora pemakan insekta,
berhubungan dengan pencernaan arthropoda. Arthropoda memiliki sistem
pencernaan yang sempurna dengan dilengkapi alat pencernaan lengkap yang
terdiri dari mulut, kerongkongan, usus, dan anus. Mulut dilengkapi dengan alat-alat
mulut dan anus terdapat di segmen posterior. Mulut diadaptasikan untuk mengunyah,
menjilat atau menusuk.
Karakteristik dari genus Camponotus adalah antena terdiri dari 12 segmen;
mandibula dengan tipe subtriangular; antennal sockets terpisah dari clypeus; mata
majemuk terletak di bagian atas dari garis tengah kepala; petiole dengan nodus yang
tegak; tergite pada segmen pertama dari gaster biasanya ramping dan panjang
daripada segmen kedua Hashimoto (2003), Menurut Dahelmi et al (2015),
Camponotus pennsylvanicus mempunyai panjang tubuh 6,0-7,0 mm; lebar kepala
1,3-1,4 mm; panjang alitrunk 2,3-2,4 mm. Karakteristik dari jenis ini adalah frontal
carinae lurus, antennal socket terlihat jelas, thorak dilihat dari bagian lateral, sisi
dorsal sedikit mencembung, kepala, thorak dan gaster di tutupi oleh rambut-rambut
halus serta kaki berwarna kuning. Camponotus pennsylvanicus yang ditemukan
hanya pada plot pertama sebanyak satu individu. Camponotus pennsylvanicus
merupakan salah satu jenis semut hitam tanah besar. Menurut (Jasin, 1987)
Camponotus pennsylvanicus merupakan jenis hewan filum arthropoda dan ordo
orthoptera yang memeiliki alat mulut mengigit, sayap muka agak sempit, dari bahan
perkamen dan bervena, sebagian besar pemakan tanam-tanaman.
Pholcus phalangoides merupakan salah satu jenis hewan kelas Araneae.
Pholcus phalangoides digolongkan kedalam laba-laba berkaki panjang. Jenis laba-
laba ini terdistribusi secara luas di daerah subtropis dan daerah beriklim diseluruh
dunia. Menurut Hawkeswood (2003), Laba-laba merupakan organisme yang dapat
ditemukan hampir di seluruh permukaan bumi dari daerah kutub hingga daerah
padang pasir yang kering. Laba-laba umumnya ditemukan berlimpah di tempat
dengan vegetasi rapat karena merupakan tempat ideal untuk bersarang dan lebih
banyak terdapat sumber makanan. Laba-laba ini termasuk laba-laba pasif yang
bermain di ruang bawah.
Pholcus phalangoides ditemukan pada plot pertama dan plot kedua, masing-
masing dari setiap plot terdapat satu individu. Laba-laba famili ini ditemukan pada
vegetasi yang didominasi pohon besar dengan tutupan hutan yang rapat dengan
cahaya yang minim. Hasil pengamatan tersebut sesuai dengan pernyataan Scharff &
Coddington (1997), bahwa sebagian besar laba-laba dari Famili Araneidae senang
berada di tempat yang gelap. Hal tersebut disebabkan laba-laba famili ini merupakan
predator nokturnal yang lebih aktif di malam hari dan akan memilih beristirahat di
tengah sarang ketika siang hari, sehingga memilih tempat yang minim cahaya untuk
bersarang. Laba-laba Famili Araneidae dikenal sebagai laba-laba pemintal yang
membuat sarang berbentuk lingkaran. Pada beberapa spesies laba-laba ini membuat
jaring dengan pola zig-zag pada bagian tengah sarang yang disebut dengan
stabilimentum (Levi, 1990).
Laba-laba dari famili Araneidae memiliki 8 buah mata yang tersusun menjadi
2 baris dengan mata lateral terpisah jauh dengan mata median. Hutan di desa cucum
merupakan hutan yang memiliki vegetasi rapat sehingga merupakan tempat tinggal
yang ideal bagi Invertebrata, khususnya laba-laba. Kawasan hutan di desa cucum
memiliki kondisi lingkungan yang berbeda pada setiap strata ketinggian, sehingga
mempengaruhi suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Kondisi
lingkungan yang berbeda dapat mempengaruhi karakter anggota tubuh untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan beberapa laba-
laba dari kelas yang sama memiliki bentuk morfologi yang berbeda.
Oxychilus sp. Merupakan jenis siput famili Discidae yang berasal dari Eropa,
Afrika Utara dan bagian Timur Tengah. Persebaran Oxychilus sp. Diperkirakan oleh
aktivitas perdagangan internasional pada masa lampau. Karakteristik yang dimiliki
oleh siput jenis ini adalah bagian tubuh yang transparan dengan cangkang yang
berulir menyerupai spesies Discus rotundatus. Perbedaan utama antara kedua jenis
siput ini ialah warna tubuh, sedangkan corak eksoskeleton yang hampir sama. Tubuh
Discus rotundatus berwarna gelap sedangkan tubuh Oxychilus sp berwarna terang
dan transparan.
Neotibicen linnei biasa disebut dengan jangkrik linnei, Neotibicen linnei
merupakan jenis jangkrik tahunan yang bertubuh besar dengan warna tubuh
berwartna hitam. Neotibicen linnei dengan genus Neotibicen diidentifikasi
berdasarkan garis tepi tubuh dari sel radial dan operkula yang terpotong miring
hingga bagian eksremitas. Neotibicen linnei hanya ditemukan pada plot ketiga
dengan jumlah yang ditemukan hanya satu jenis. Kelimpahan dan keanekaragaman
hewan serasah yang ditemukan sangat bergantung dengan faktor abiotik lingkungan
tersebut.
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Plot yang digunakan untuk mengukur hewan serasah berukuran 1 × 1 m.
2. Jumlah hewan serasah yang didapatkan pada 3 plot berbeda ialah 17 ekor.
3. Hewan serasah yang ditemukan berasal dari 12 famili dan didominasi oleh
famili Formicidae.
4. Hewan serasah yang ditemukan ada yang bertindak sebagai detritivor, hama
maupun predator.
5. Kelimpahan dan keanekaragaman hewan serasah sangat bergantuk pada
faktor abiotik lingkunga.
6. Nilai indeks keanekaragaman hewan serasah ialah 2,67012.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arbi, Y. U. (2014). Taksonomi dan Filogeni Keong Famili Potamididae (Gastropoda


:Mollusca) di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi. Tesis. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Arifin, I. (2014). Keanekaragaman Semut (Hymenoptera:Formicidae) pada Berbagai


Subzona Hutan Pegunungan di Sepanjang Jalur Pendakian Cibodas, Taman
Nasional Gunung Gede. Jurnal Bioma. 10(2):1-10.

Asriani., Eddy, S. Syahribullan., dan Ambeng. 2011. Jenis Laba-Laba (Araneae) di


Desa Data, Kecamatan Dua Ampa Nua Kabupaten Pinarang, Sulawesi
Selatan. Jurnal Unhas. 4(5):78-90.

Agus. et. al. (2008). Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah. Fakultas Kehutanan UGM,
Yogyakarta

Dahelmi, Siti, S dan Indah, P (2015). Kupu-Kupu (Butterflies) di Pulau Marak,


Kabupaten Pesisir, Sumatera Barat. Prosiding Seminar dan Rapat Tahunan
BKS-PTN Wilayah Barat ke 21.

Ermawati., dan Utami. (2007). Identifikasi Keanekaragaman Serangga pada


Perkebunan Jeruk Pamelo di Desa Bandar, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten
Magetan. Jurnal BioSains. 3(2):24-60.

Hashimoto, P. (2003). Serangga. Terjemahan dari The Insects oleh S. Timan.


Pustaka Time-Life, Jakarta.

Hawkeswood, J.T. (2003). Spider Of Australia: An Introduction to Their


Calssification, Biology and Distribution. Pensoft, Moscow.

Jasin, M. (1987). Zoologi Invertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya.

Kuswanto, E. Fatimatuzzahra, dan Darwisah. (2017). Kajian Perilaku Agonistik


Intraspesifik Nasutitermes sp. (Isoptera:Termitidae) di Pulau Sebesi
Lampung. Jurnal Biosfer. 8(2):102-114.
Kuswanto, E., dan Anisa, A.S.P. (2012). Sebaran dan Ukuran Koloni Sarang Rayap
Pohon Nasutitermes sp. (Isoptera : Termitidae) di Pulau Sebesi Lampung
Sebagai Sumber Belajar Biologi). Jurnal Bioedukasi. 3(2): 70-80.

Levi, H,W. (1990). Spider and Their Kin. Golden Press, New York.

Noor, M.F. (2008). Diversitas Semut (Hymenoptera, Formicidae) di beberapa


Ketinggian Vertikal di kawasan Cagar Alam Telaga Warna Jawa Barat.
(Tugas Akhir). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Nurlaela. (2017). Keragaman Jenis Laba-Laba (Arthropoda : Araneae) di Kelurahan


Samata, Kabupaten Gowa. (Tugas Akhir). Universitas Negeri Alauddin,
Makassar.

Pfannestiel, R. (2008). Development of the Cursorial Spider, Cheiracanthium


inclusum (Aranea:Miturgidae) on Eggs of the Helicoverpa zea. Journal of
Entomological Science. 10 (8) : 414-418.

Prakoso, B. (2017). Biodiversitas belalang (Acrididae: ordo Orthoptera) pada


Agroekosistem (Zea mays L.) dan Ekosistem Hutan Tanaman di Kebun Rya
Baturaden, Banyumas. Jurnal Biosfera. 34(2): 80-88.

Ranny. (2015). Inventarisasi Semut yang Ditemukan pada Perkebunan Buah Naga
Lubuk Minturun, Kota Padang dan Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman,
Sumatra Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 4(1):57-64.

Scharff & Coddington (1997). A Phylogenetic Analysis of the Orb-Weaving Spider


family Araneidae. Zoological Journal of the Linnean Society. 120 (7) : 355-
434.

Suin, N. M. (2012). Ekologi hewan tanah. Cetakan IV. Jakarta: Bumi Aksara
& Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati ITB.

Subekti, N. (2010). Kelimpahan, Sebaran dan Arsitektur Sarang Serta Ukuran


Populasi Rayap Tanah Macrotermes gilvus (Blattodea:Termitidae) di Cagar
Alam Yanlappa, Jawa Barat. (Tugas Akhir). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Subekti, N. (2012). Keanekaragaman Jenis Serangga Di Kawasan Hutan


Tinjomoyo Semarang Jawa Tengah. Vol 01. Halaman 21-31.

Suyanto, A dan Semiadi, G. (2004).Keragaman mamalia kecil di sekitar Daerah


Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun, Kecamatan Cipanas,
Kabupaten Lebak. Berita Biologi 7 (1).

Widayati, HE, 2007. Satwa dan Tumbuhan Langka. Penerbit Caraka Darma
Aksara, Mataram Nusa Tenggara Barat

Winarso S. (2005). Kesuburan Tanah : Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gava
Media, Yogyakarta

Waluyo.K. dan Irianto. K. 2010 Memahami Sains Zoologi. Penerbit PT Sarana


IlmuPustaka, Bandung
LAMPIRAN

Lampiran 1 Menuju lokasi plot 1

Lampiran 2 Analisis Serasah


Lampiran 3 Pencuplikan sampel analisis vegetasi

Lampiran 4 Pembuatan herbarium