Anda di halaman 1dari 5

Bab 5

KONSEP SISTEM PENGORGANISASIAN, TAKTIK


DAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEBAKARAN
DAN PENYELAMATAN KORBAN

5.1 KAJIAN LINGKUP SOP PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN


PENYELAMATAN KORBAN KOTA TANGERANG

Dalam penyusunan SOP Penanganan Kebakaran dan Penyelamatan Korban


untuk Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangerang diidentifikasi beberapa dokumen
dan literatur yang terkait dengan penanganan kebakaran dan penyelamatan korban
sebagai bahan materi penyusunan SOP. Identifikasi terhadap dokumen tersebut
diantaranya adalah :

1. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

UU No. 24 tahun 2007 mengatur tentang penanggulangan bencana di Indonesia


yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Usaha dan
Lembaga Internasional dalam upaya mengurangi dampak resiko bencana bagi
masyarakat. Salah satu tujuan penanggulangan bencana yang menjadi acuan
dalam penyusunan SOP adalah menjamin terselenggaranya penanggulangan
bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh (Pasal 4, poin
c). Usaha untuk melaksanakan penanggulangan bencana tersebut terbagi dalam
tiga (3) tahapan yang terintegrasi yaitu tahap pra-bencana, saat tanggap
darurat, dan pasca bencana (Pasal 33).

Tahap pra-bencana terbagi dalam (i) situasi tidak terjadi bencana, dan (ii) situasi
terdapat potensi terjadinya bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana
dalam situasi tidak terjadi bencana meliputi :

a. perencanaan penanggulangan bencana;

b. pengurangan risiko bencana;

c. pencegahan;

d. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;

e. persyaratan analisis risiko bencana;

f. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;

g. pendidikan dan pelatihan; dan

h. persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.

Sedangkan penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi terdapat


potensi bencana meliputi :

a. kesiapsiagaan;

b. peringatan dini; dan

c. mitigasi bencana.

LAPORAN AKHIR V-1


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN

Tahap tanggap darurat meliputi:

a. pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber
daya;

b. penentuan status keadaan darurat bencana;

c. penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;

d. pemenuhan kebutuhan dasar;

e. perlindungan terhadap kelompok rentan; dan

f. pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.

Sedangkan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap


pascabencana meliputi :

a. rehabilitasi; dan

b. rekonstruksi.

Dari tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana tersebut, terlihat bahwa


proses penanganan bencana dilakukan secara komprehensif dengan
memperhatikan seluruh aspek yang ada. Yang perlu ditekankan dalam hal ini
adalah adanya suatu perencanaan penanggulangan bencana pada saat tidak
terjadi bencana. Upaya tersebut diperlukan sebagai langkah persiapan untuk
mengantisipasi tindakan yang perlu dilakukan saat terjadi bencana.

Meskipun jenis bencana yang terdapat di UU tersebut tidak menyebutkan


bencana kebakaran, namun tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana
tersebut dapat diadopsi untuk menentukan substansi SOP penanggulangan
kebakaran dan penyelamatan korban.

2. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan


Penanggulangan Bencana

Peraturan ini mengatur tentang kemudahan akses dalam situasi tanggap darurat
bencana, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana yang terdapat
pada UU No. 24 tahun 2007. Seperti halnya UU No. 24 tahun 2007, Peraturan
Pemerintah ini tidak menyebutkan kejadian bencana kebakaran. Namun
demikian, penjelasan mengenai tahapan kegiatan dalam penanggulangan
bencana seperti tahap pra-bencana, tahap tanggap darurat, dan tahap pasca
bencana dapat dijadikan acuan sebagai pedoman penyusunan SOP di lingkungan
dinas Pemadam Kebakaran.

3. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No. 11/KPTS/2000


tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di
Perkotaan.

LAPORAN AKHIR V-2


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN

Kepmen ini memiliki tiga bagian penting yang dapat dikaji sebagai acuan
penyusunan SOP, yaitu :

a. Manajemen penanggulangan kebakaran kota yang diawali dengan penetapan


wilayah manajemen kebakaran (WMK), sarana dan prasarana
penanggulangan kebakaran kota, organisasi pelaksana, tata laksana
operasional, sumber day manusia dan peran serta satlakar masyarakat. Di
samping itu juga dimuat pengendalian dan pembinaan teknis penanggulangan
kebakaran kota.

b. Manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan terdiri dari penentuan


WMK, sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran lingkungan,
organisasi pelaksana, tata laksana operasional, sumber daya manusia, serta
kegiatan pembinaan dan pelatihan.

c. Manajemen penanggulangan kebakaran bangunan gedung. Bagian ini memuat


proteksi bahaya kebakaran dalam bangunan gedung, prasarana dan sarana
penanggulangan kebakaran dalam bangunan gedung, organisasi pelaksana,
tata laksana dan sumber daya manusianya.

4. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang No. 36


Tahun 1995 tentang Penanggulangan Bahaya Kebakaran dalam
Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang

Perda ini mengatur tentang penanggulangan bahaya kebakaran untuk bangunan


gedung secara teknis dan terperinci. Secara rinci, perda ini terbagi dalam
beberapa bagian, yaitu :

a. pencegahan kebakaran baik di lingkungan perumahan maupun di lingkungan


gedung dengan melakukan pengaturan terhadap tata letak sarana dan
prasarana bangunan dan lingkungan untuk mencegah terjadinya kebakaran.
Selain itu, juga diatur beberapa aturan sosial untuk menghindari terjadinya
kebakaran.

b. Proteksi Umum Kebakaran

Bagian ini mengatur sarana dan prasarana pemadam kebakaran pada setiap
bangunan, klasifikasi tingkat ketahanan struktur bangunan, tingkat mutu
bahan bangunan, jarak antar bangunan dan penentuan jalur penyelamatan.

c. Sarana Penyelamatan Jiwa

Sarana penyelamatan yang diatur berupa penentuan jalan keluar sebagai jalur
penyelamatan, ukuran jalan keluar, jarak tempuh dan sebagainya.

d. Penanggulangan kebakaran pada bangunan

Penanggulangan kebakaran pada bangunan terbagi menjadi bangunan rendah


(bangunan pabrik atau gedung, bangunan umum atau perdagangan,
bangunan perumahan, bangunan campuran), bangunan menengah dan
bangunan tinggi. Masing-masing jenis bangunan memiliki aturan masing-

LAPORAN AKHIR V-3


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN

masing untuk menanggulangi bahaya kebakaran yang disesuaikan dengan


fungsi dan karakter bangunan.

e. Kewenangan Penanggulangan Kebakaran hingga ke retribusi

Bagian ini mengatur pihak yang memiliki kewenangan dalam menangani


kebakaran dan penyelamatan korban, kegiatan pembinaan terhadap personel
pemadam kebakaran dengan melakukan program pelatihan pencegahan dan
pemadaman kebaran secara berkala dan teratur, pembayaran retribusi atas
pelayanan yang diberikan oleh Dinas Pemadam Kebakaran.

5. Rencana Induk Kebakaran (RIK) Kota Tangerang Tahun 2006

Rencana Induk Kebakaran Kota Tangerang disusun untuk mewujudkan tertib


pembangunan dan keandalan bangunan gedung dan lingkungan dari bahaya
kebakaran. Dokumen ini berisikan tentang rencana infrastruktur pemadam
kebakaran di perkotaan, jumlah pos kebakaran serta sarana dan prasarana
pemadam kebakaran, kelembagaan, struktur organisasi dan tupoksi serta jumlah
SDM yang dibutuhkan untuk menangani kebakaran di perkotaan.

RIK Kota Tangerang dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arahan bagi
pengelola kebakaran. Substansi RIK terdiri dari rencana pencegahan kebakaran,
rencana penanggulangan kebakaran dan penyelamatan.

Rencana pencegahan kebakaran terdiri dari pencegahan kebakaran yaitu


penyiagaan keandalan bangunan dan lingkungan terhadap bahaya kebakaran
dan pencegahan yang berupa penyiagaan unit kerja penanggulangan kebakaran.
Sedangkan upaya penanggulangan kebakaran terdiri dari upaya pemadaman
kebakaran dan penyelamatan ( rescue). Masing-masing rencana memiliki prioritas
untuk ditindaklanjuti berdasarkan hasil analisa SWOT terhadap kondisi wilayah
kota Tangerang akan bahaya kebakaran.

Berdasarkan kajian kebijakan pemerintah di atas maka dapat ditentukan substansi


SOP Penanganan Kebakaran dan Penyelamatan Korban adalah sebagai berikut :
1. Tahap pra-kejadian

1.1 Prosedur Personel

1.2 Kegiatan Apel

2. Tahap saat kejadian kebakaran

2.1 Pelaporan Kejadian Kebakaran

2.2 Operasi Pemadaman dan Penyelamatan

2.3 Tahap Pemberangkatan Lanjut

3. Tahap pasca kejadian kebakaran

3.1 Kegiatan Apel pasca operasi pemadaman

5.2 Kerangka Logis

LAPORAN AKHIR V-4


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN

Kerangka logis merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk


membantu mengidentifikasi elemen strategis dan hubungan sebab akibat atau
kausalitik dalam rangka mencapai kondisi yang diharapkan. Dalam konsep
penyusunan SOP penanganan kebakaran ini, kondisi yang diharapkan tertuang
dalam tujuan penyusunan SOP penanganan bencana kebakaran yaitu mewujudkan
tertib operasi penanganan bencana kebakaran dan penyelamatan korban oleh
petugas pemadam kebakaran, khususnya untuk mencegah kesalahan-kesalahan
dalam melakukan operasi penanganan bencana kebakaran.

Kerangka logis dalam penyusunan SOP ini digunakan untuk mengidentifikasi


tujuan-tujuan antara yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan utama di atas,
seperti diperlihatkan pada gambar 5.1. Dalam rangka mencapai tujuan utama
tersebut, ditetapkan dua tujuan antara yang hendak dicapai yang meliputi :

a. Terwujudnya kesiapsiagaan para personel dan peralatan yang digunakan

b. Tersusunnya taktik dan strategi pemadaman dan penyelamatan

Dalam tahapan selanjutnya, tujuan-tujuan antara tersebut diuraikan kembali


ke dalam sejumlah sasaran, dan demikian seterusnya hingga hirarki yang terendah.

Terwujudnya tertib operasi penanganan


bencana kebakaran dan penyelamatan
korban

Terwujudnya kesiapsiagaan Tersusunnya taktik dan


para personel dan peralatan strategi pemadaman dan
yang digunakan penyelamatan

Terciptanya prosedur Terwujudnya Prosedur tanggap Tata operasional


personel pemadam kesiapan kendaraan darurat yang baik lapangan yang tertib
kebakaran dan peralatan

GAMBAR 5.1
KERANGKA LOGIS SOP PENANGGULANGAN KEBAKARAN
DAN PENYELAMATAN KORBAN

Untuk setiap tujuan antara tersebut selanjutnya diidentifikasi data/ informasi yang
dibutuhkan melalui :
a. pemahaman terhadap sistem organisasi pemadam kebakaran yang berlaku
b. jenis data/ informasi yang dibutuhkan
c. pemahaman terhadap SOP yang dijadikan acuan.
Penjabaran dan rincian dari kerangka logis tersebut kemudian disusun menjadi SOP
penanggulangan kebakaran dan penyelamatan korban. SOP Penanggulangan
Kebakaran dan Penyelamatan Korban dapat dilihat pada Lampiran

LAPORAN AKHIR V-5