Anda di halaman 1dari 6

Pengertian CMC (Carboxhy Methil

Cellulose)
CMC (Carboxy Methyl Cellulose) adalah turunan dari selulosa dan ini sering dipakai dalam industri
makanan untuk mendapatkan tekstur yang baik. Fungsi CMC adabeberapa terpenting yaitu sebagai
pengental, stabilisator, pembentuk gel, sebagai pengemulsi, dan dalam beberapa hal dapat
merekatkan penyebaran antibiotik (Winarno, 1985).
Peran CMC sebagai pengemulsi, baik digunakan untuk memperbaiki kenampakan
tekstur dari produk berkadar gula tinggi. Sebagai pengental, CMC mampu mengikat air sehingga
molekul-molekul air terperangkap dalam struktur gel yang dibentuk oleh CMC (Minifie, 1989).
CMC mempunyai kemampuan sebagai zat pengemulsi yang hidrofilik mampu mengikat air, sehingga
tidak terjadi endapan. Selain itu CMC juga sebagai penjernih pada larutan sehingga minuman madu
yang diberi penambahan CMC memiliki warna yang lebih cerah. Karboksimetil selulosa merupakan
bahan penstabil yang memiliki daya ikat yang kuat dan berperan untuk meningkatkan kekentalan dan
tekstur produk makanan, seperti jelli, salad dan produk es (Siskawardani, dkk., 2013).
CMC bersifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang larut
dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, stabil pada rentang pH 2 – 10, bereaksi dengan
garam, logam berat membentuk film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi
dengan senyawa organik (Wayan, 2009).

CMC dalam bentuk Na-CMC akan terdispersi dalam air, kemudian butirbutir Na-CMC yang bersifat
hidrofilik akan menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula dan
bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih mantap dan
terjadi peningkatan viskositas (Fennema, dkk., 1996).

Molekul karboksimetil selulosa sebagian besar meluas atau memanjang pada konsentrasi rendah
tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi molekulnya bertindih dan menggulung, kemudian pada
konsentrasi yang lebih tinggi lagi membentuk benang kusut menjadi gel. Meningkatnya kekuatan
ionik dan menurunnya pH dapat menurunkan viskositas karboksimetil selulosa akibat polimernya
yang bergulung. Saat ini, karboksimetil selulosa telah banyak dan bahkan memiliki peranan yang
penting dalam berbagai aplikasi. Khusus di bidang pangan, karboksimetil selulosa dimanfaatkan
sebagai bahan penstabil, thickener, adhesive dan pengemulsi (Deviwings, 2008).
Pemberian bahan penstabil CMC dapat memperbaiki cita rasa, warna, dan konsistensi sari
buah. CMC juga memiliki beberapa kelebihan yang lain, diantaranya kapasitas mengikat air yang
lebih besar, mudah larut dalam adonan es krim, serta harganya yang relatif murah (Kusbiantoro, dkk.,
2005).

More from my site

 Pengertian Jahe (Zingiber Offcinale)


 Pengertian Agar-Agar

 Pengertian Permen Jelly

 Gom Arab

 Karagenan

 Pengertian Santan

Gum alami adalah polisakarida dari alam yang mampu meningkatkan viskositas secara drastis
pada sebuah larutan, bahkan dalam konsentrasi yang sedikit. Dalam industri makanan, gum alami
digunakan sebagai bahan pengental, pengemulsi, dan penstabil (lihat aditif makanan). Dalam
industri lain, gum alami juga digunakan sebagai perekat, eksipien, pencegah pembentukan kristal,
bahan penjernih pada industri bir, pembuat kapsul, bahan flokulasi, dan sebagainya. Gum alami
banyak ditemukan sebagai getah pada batang tanaman berkayu. dan pada kulit biji.
Gum alami diklasifikasikan berdasarkan sumbernya dan sifat elektrolitnya (bermuatan atau berion
(polielektrolit)) Gum alami memiliki nomor Etertentu karena digunakan sebagai bahan tambahan
makanan:

 Gum alami yang didapatkan dari rumput laut:


 Polielektrolit:
 Agar (E406);
 Asam alginat (E400) dan Sodium alginat (E401);
 Karagenan (E407);
 Gum alami yang didapatkan dari sumber non-laut:
 Polielektrolit:
 Gom arab (E414), dari getah pohon Acacia
 Anogeissus latifolia
 Tragacanth (E413), dari getah semak Astragalus
 Gum karaya (E416), dari getah pohon Sterculia
 Tidak bermuatan:
 Guar gum (E412), dari kacang guar
 Gum kacang locust (E410), dari biji pohon Ceratonia siliqua
 Beta-glucan, dari bekatul oat dan barley
 Manilkara chicle
 Dammar, dari getah pohon Dipterocarpaceae
 Glucomannan (E425), dari tanaman konnyaku
 Gum dari Pistacia lentiscus,
 Kelobot biji psyllium, dari tanaman Plantago
 Gum spruce, dari pohon spruce
 Gum dari Caesalpinia spinosa (E417)

 Gum alami diproduksi dari fermentasi bakteri:


 Polielektrolit:
 Gum gellan (E418)
 Tidak bermuatan:
 Gum xanthan (E415)

Hasil hutan non-kayu

 Rambut hewan

Hewan dan Produk hewan Madu

 Hewan buruan

 huckleberry

Buah buni dan Buah pohon Blueberry

 Garcinia gummi-gutta

 Jamur

 chantarelle

 matsutake

 morels

Sayuran dan akar Paku

 Madhuca longifolia

 Sagu

 Cycas circinalis

 Sassafras
 root beer

 Ginseng

 Pimenta dioica

 Daun salam

 Pinang

 Lada

 Kacang brasil
Buah geluk dan rempah-
 Kayu manis
rempah
 Cengkih

 Sterculia lychnophora

 Pala

 Kacang pinus

 Vanilla

 Copernicia prunifera

 Lemak kakao

 Eukaliptol

 Minyak kayu putih

Minyak nabati dan malam Madhuca longifolia

 Minyak sawit

 Minyak inti kelapa sawit

 Vitellaria paradoxa

 Melaleuca alternifolia'

 Kemenyan jawa

 Birch-tar

 Kapur barus
Ekstraksi resin
 Kreosot

 Kemenyan arab

 Garcinia gummi-gutta
 Pistacia lentiscus

 Myrrh

 Tar pinus

 Pitch

 Gondorukem

 Terpentin

 Pernis

 Birch syrup

 Chicle

 chewing gum

 Gom arab

 Getah perca

 Kino
Getah, gum, lateks.
 Sirup mapel

 Gula kelapa

 Nira/Tuak

 akpeteshie

 ogogoro

 Karet

 Kulit kayu Birch

 Bir Birch

 Gabus

 Paku

Lainnya Pakan

 Gambir

 Kina

 Lumut daun

 Pewarna alami
 Pacar kuku

 Gambut

 Rotan

 Shellac

 Genus bertan-bertanan

 Daun Diospyros melanoxylon

 Kulit kayu Dedalu


Kategori:
 Gum alami
 Aditif makanan
 Permen karet
 Bahan pengental makanan
 Polisakarida


bed

• Similar to fixed bed dryer but operating hot air velocity is higher to ensure the particles are suspended
in the air stream. • Large contacting surface areas between the drying medium and the material
compared with fixed bed dryer. • Conventional fluidized bed is not suitable for drying fine powders (due
to channeling and slugging) and coarse particles (due to formation of big bubbles). • However, modified
FBD, such as vibrating FBD, agitating FBD, etc., can be used to dry difficult-tofluidize particles. • If the
materials are polydispersed, the hot air stream may carry over some fine particles. • A cyclone is used to
separate the fine particles from the gas stream.

• Effect of particle moisture content/poly-dispersity on fluidization hydrodynamics, agglomeration, heat,


and mass transfer. • Effect of agitation, vibration, pulsation, acoustic, radiation on drying kinetics and
characteristics. • Design of internal heat exchangers. • Classification of particle type based on
fluidization quality at varying particle moisture content and stickiness. • Mathematical modeling on
fluidization hydrodynamics, heat, and mass transfer by taking into account agitation, vibration,
pulsation, internal heat exchanger, varying particle moisture content, etc.

(continued