Anda di halaman 1dari 2

PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

DAN
AHLI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

A. DASAR HUKUM / REGULASI


1. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
2. PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja;
3. Permenaker No. 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja;
4. Permenaker No. 2 Tahun 1992 tentang Tata Cara Penunjukan Kewajiban dan Wewenang Ahli
Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
5. Surat Edaran Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja No. B.1442/PNK3/V/2019.

B. DEFINISI
1. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disebut P2K3 adalah
badan pembantu di tempat kerja yang merupakan wadah kerjasama antara pengusaha dan
pekerja untuk mengembangkan kerjasama saling pengertian dan partisipasi efektif dalam
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (Permenaker No. 4 Tahun 1987 Pasal 1 Butir d);
2. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga tehnis berkeahlian khusus dari luar
Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi
ditaatinya Undang-Undang Keselamatan Kerja (Permenaker No. 2 Tahun 1992 Pasal 1 Butir a)

C. KETENTUAN REGULASI
1. P2K3 wajib dibentuk oleh pengusaha atau pengurus yang memperkerjakan 100 orang atau
lebih dan/atau tempat kerja yang memiliki resiko yang besar terhadap keselamatan dan
kesehatan kerja (Permenaker No. 4 Tahun 1987 Pasal 2);
2. Keanggotaan P2K3 terdiri dari unsur pengusaha dan pekerja yang susunannya terdiri dari
Ketua, Sekretaris, dan Anggota (Permenaker No. 4 Tahun 1987 Pasal 3 Ayat 1);
3. Sekretaris P2K3 adalah Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari perusahaan yang
bersangkutan (Permenaker No. 4 Tahun 1987 Pasal 3 Ayat 2);
4. P2K3 ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuknya (Permenaker No. 4 Tahun 1987
Pasal 3 Ayat 3);
5. Pengurus wajib melaporkan laporan tentang kegiatan P2K3 kepada Menteri melalui Kantor
Departemen Tenaga Kerja setempat sekurang-kurangnya tiga bulan sekali (Permenaker No. 4
Tahun 1987 Pasal 12);
6. Penunjukan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan ditetapkan berdasarkan
permohonan tertulis dari pengurus atau pimpinan instansi kepada Menteri Tenaga Kerja atau
pejabat yang ditunjuk (Permenaker No. 2 Tahun 1992 Pasal 4 Ayat 1);
7. Surat Keputusan Penunjukan (SKP) Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan berlaku
untuk jangka waktu tiga tahun (Permenaker No. 2 Tahun 1992 Pasal 7 Ayat 1);
8. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan berkewajiban memberikan laporan kepada
Menteri Tenaga Kerja atau pejabat yang ditunjuk mengenai hasil pelaksanaan satu kali dalam
tiga bulan, kecuali ditentukan lain (Permenaker No. 2 Tahun 1992 Pasal 9 Ayat 1 Butir b);
9. Syarat penerbitan SKP Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan adalah telah
mengikuti pembinaan dan dinyatakan lulus dengan bukti Sertifikat Ahli Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan
Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Surat Edaran Direktorat Jenderal
Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja No.
B.1442/PNK3/V/2019 Poin Ketiga);
10. SKP Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan dapat diperpanjang dengan syarat tidak
lebih dari satu tahun dari habisnya masa berlaku, lebih dari 1 tahun dilakukan pembinaan ulang
(Surat Edaran Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja No. B.1442/PNK3/V/2019 Poin Keempat);
11. Tanpa adanya SKP Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja, personil yang telah lulus pembinaan
dan memiliki Sertifikat Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja belum dapat dinyatakan sebagai
Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja di perusahaan yang bersangkutan (Surat Edaran
Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja No. B.1442/PNK3/V/2019 Poin Ketujuh).

D. KETENTUAN LAINNYA (DISNAKER SETEMPAT)


1. P2K3 perusahaan wajib disahkan oleh Kepala Disnaker setempat;
2. Pengesahan P2K3 perusahaan berlaku untuk jangka waktu tiga tahun, kecuali ditentukan lain;
3. Susunan P2K3 untuk perusahaan yang memiliki tenaga kerja 100 orang atau lebih adalah
sekurang-kurangnya berjumlah dua belas orang anggota yang terdiri dari enam orang yang
mewakili pengusaha atau pengurus perusahaan dan enam orang yang mewakili tenaga kerja
atau untuk perusahaan yang memiliki tenaga kerja kurang dari 100 orang, sekurang-kurangnya
berjumlah 6 orang anggota yang terdiri dari tiga orang yang mewakili pengusaha atau pengurus
perusahaan dan tiga orang yang mewakili tenaga kerja, kecuali ditentukan lain berdasarkan
hasil konsultasi dengan Disnaker setempat.

Anda mungkin juga menyukai